Kajian Islam

  Sholawat #02: "Inna Fatahna"Maulid Ad-Dibai  بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ   Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang   إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا ، لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا ، وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًاعَزِيزًا   Sesungguhnya Kami (Allah) telah bukakan (memberikan kemenangan) kepada kamu, pembukaan (kemenangan) yang nyata.    Karena Alloh akan mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmat-Nya (Alloh) kepadamu, dan memberikan petunjuk padamu jalan yang lurus.   Dan Alloh akan memberikan pertolongan kepadamu dengan pertolongan yang nyata. (al-Fath: 1-3)   لَقَدْ جَآءَ كُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ   Telah datang kepada kamu seorang utusan Allah dari jenis kamu sendiri, ia merasakan apa penderitaanmu, lagi sangat mengharapkan akan keselamatanmu, kepada orang yang beriman senantiasa merasa kasih sayang.   إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَه‘ يُصَلُّوْنَ عَلىٰ النَّبِيِّ يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ امَٰنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا   Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya selalu bersholawat untuk Nabi, wahai orang-orang yang beriman! Bersholawat dan salamlah untuknya (Nabi Muhammad saw).     .******************************. baca juga tulisan sebelumnya Teks Maulid Ad-Dibai : Ya Rabbi Sholli Ala Muhammad   Keterangan tambahan:   Diriwayatkan dalam Shohih Al Bukhori, shohih Muslim dan lainnya, ketika Perjanjian Hudaibiyah pada tahun ke-6 H bulan Dzulqo’dah, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam keluar menuju Makkah Al Mukarromah bersama 1500 kaum muslimin muslimat dengan berpakaian ihrom, dan setelah mendekati kota Makkah, orang kuffar quraisy telah melihat bahwa nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam datang bersama 1500 orang muslimin menuju ke Makkah dan mereka pun mulai waspada, setelah kabar itu sampai kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dan melihat kaum quraisy tidak menerima mereka secara damai, maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dan para pengikutnya mencari jalan lain untuk menuju Makkah namun tetap saja kaum quraisy mengetahuinya dan menghalangi mereka.   Dan dalam perjalanan itu kaum muslimin kehabisan air, teriwayatkan di dalam Shohihul Bukhori bahwa ketika itu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam meminta air kemudian para sahabat membawakan air dalam bejana yang hanya tinggal sedikit, lalu para sahabat berkata bahwa persediaan air habis dan semua sumber air yangada disekitar pun kering, maka Rosululloh memasukkan tangan beliau ke dalam bejana yang berisi air sedikit itu lalu keluarlah air dari jari-jari beliau shollallohu ‘alaihi wasallam, kemudian mereka mulai minum sepuasnya dan berwudhu’ dari air tersebut, yang mana jumlah mereka di saat itu adalah 1500 orang, dan teriwayatkan dalam Shohih Al Bukhori bahwa jika jumlah mereka di saat itu adalah 100.000 orang maka air itu pun akan mencukupi untuk semua, karena airkeluar dari jari-jari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dengan derasnya dan tanpa berhenti.   Demikian mu’jizat nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, karena beliau tidak ingin melihat orang yang dicintainya kesusahan. Dan di saat itu datanglah Urwah sebagai utusan kaum quraisy sebelum ia masuk Islam, dia datang untuk membuat perjanjian yang disebut dengan perjanjian Hudaibiyah, maka Urwah berbicara kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, dan setiap kali Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam berbicara, urwah selalu memegang jenggot beliau shollallohu ‘alaihi wasallam, karena merasa geram ingin mencelakai Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, di saat itu ada salah seorang sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam yang berada di samping Rosululloh selalu memukul tangan Urwah setiap kali ingin memegang janggut Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam untuk berlaku sopan dihadapan beliau shollallohu ‘alaihi wasallam.   Dan diriwayatkan bahwa ketika Urwah berkata-kata, tidak satupun dari para sahabat yang mengangkat kepala untuk memandang wajah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam karena penghormatan mereka terhadap beliau shollallohu ‘alaihi wasallam.   Dan ketika Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam berwudhu, para sahabat berebut mengambil bekas air wudhu’ beliau shollallohu ‘alaihi wasallam, kemudian mengusapkan ke muka dan ke tangan mereka, adapun mereka yang tidak mendapatkan bagian air bekas wudhu’ Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam maka mereka mengambil dari bekas sahabat yang lain kemudian mengusapkan ke wajah mereka, dan air bekas wudhu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam itu wangi.   Diriwayatkan dalam kitab As-Syifaa oleh Al-Imam Qodhi ‘Iyadh bahwa ketika Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam melewati sebuah sumur, lalu para sahabat berkata bahwa air di sumur itu rasanya pahit, maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam mengatakan : “tidak demikian, air di sumur ini rasanya enak dan baunya wangi”, kemudian Rosululloh meminta untuk diambilkan air dari sumur itu kemudian beliau berkumur dengan air itu lalu memuntahkan air itu ke dalam sumur, dan ternyata air itu baunya lebih wangi daripada bau misik, karena telah tercampur dengan air ludah sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Sungguh segala sesuatu yang tersentuh atau disentuh oleh sang nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam maka akan dimuliakan oleh Alloh subhanahu wata’ala, maka terlebih lagi jika itu adalah hati yang mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.   Maka di saat itu Suhail yang juga merupakan utusan musyrikin membuat perjanjian bersama Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, kemudian Rosululloh memerintahkan kepada sayyidina Ali Kw untuk memulai dan menuliskan “Bismillahirrohmaanirrohiim”, namun Suhail menolak dan meminta untuk menulis “Bismika Allohumma”, Rosululloh terdiam dan kemudian memerintahkan untuk mengikuti kemauan musyrikin akan hal itu, lalu Rosululloh memerintahkan untuk menulis “Min Muhammad Rosululloh (dari Muhammad utusan Alloh)”, maka kaum musyrikin tidak menerimanya dan meminta untuk menghapus kalimat “Rosululloh”, karena mereka tidak meyakini bahwa nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam adalah Rosululloh, namun tangan sayyidina Ali tidak mampu untuk menghapusnya kemudian Rosululloh sendiri yang menghapusnya seraya berkata :   وَاللهِ إِنِّيْ لَرَسُوْلُ اللهِ وَإِنْ كَذَّبْتُمُوْنِيْ اُكْتُبْ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ   “ Demi Alloh, sungguh aku adalah utusan Alloh walaupun kalian mengingkariku, tulislah -Muhammad bin Abdillah- “. Kemudian ditulislah : “Min Muhammad bin Abdillah (dari Muhammad putra Abdulloh)”. Dan butir perjanjian berikutnya amat mengagetkan muslimin, yaitu: jika ada orang muslim yang masuk Islam dari Makkah dan lari ke Madinah, maka harus dikembalikan kepada kaum musyrikin quraisy, para sahabat tidak menerima hal itu namun Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam hanya terdiam, para sahabat kebingungan, dan dalam keadaan seperti itu datanglah Jandal bin Suhal dan berkata: “Aku datang dari Makkah untuk masuk Islam”, maka Suhail berkata : “dialah orang yang pertama kali yang masuk Islam dan harus dikembalikan kepada kaum musyrikin”, lalu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam meminta kepada Suhail agar kaum muslimin tidak mengembalikannya ke Makkah, hingga tiga kali Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam memohon kepada Suhail namun Suhail tetap menolaknya.   Kemudian datang sayyidina Umar bin Khottob RA kepada Rosululloh, dan berkata : “wahai Rosululloh, bukankah Engkau adalah benar-benar utusan Alloh?”, Rosululloh menjawab : “iya betul aku adalah utusan Alloh”, kemudian sayyidina Umar berkata : “Bukankah kita kaum muslimin berada pada kebenaran dan mereka dalam kesesatan?”, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam menjawab : “iya benar”, sayyidina Umar berkata : “lantas mengapa kita harus menghinakan diri kepada orang-orang yang dalam kebathilan sedangkan kita dalam kebenaran?”, kemudian Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :   إِنِّيْ رَسُوْلُ اللهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِيَ اللهُ أَبَدًا   “ Sungguh aku adalah utusan Alloh, dan Alloh tidak akan mengecewakanku selama-lamanya”   Kemudian sayyidina Umar bin Khottob RA pun terdiam lalu mendatangi sayyidina Abu Bakr As Shiddiq dan menceritakan perbincangannya bersama Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam yang kemudian di akhir percakapan beliau shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:   إِنِّيْ رَسُوْلُ اللهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِيَ اللهُ أَبَدًا   “ Sungguh aku adalah utusan Alloh, dan Alloh tidak akan mengecewakanku selama-lamanya”   Kemudian sayyidina Abu Bakr As Shiddiq berkata : “jika demikian, maka sungguh beliau shollallohu ‘alaihi wasallam adalah utusan Alloh, dan Alloh tidak akan mengecewakannya”, maka sayyidina Umar bin Khottob pun terdiam mendengar jawaban sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA.   Setelah beberapa waktu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam keluar dari kemahnya dan beliau shollallohu ‘alaihi wasallam memerintahkan para sahabat untuk memotong rambut dan menyembelih hewan qurban, dan setelah itu beliau dan kaum muslimin kembali ke Madinah Al Munawwaroh tanpa memasuki Makkah, namun para sahabat tidak ada yang melaksanakan perintah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam hingga setelah beliau menerima pendapat Ummu Salamah untuk memulai mencukur rambut beliau dan menyembelih hewan qurban, kemudian para sahabat pun dari Muhajirin dan Anshar mengikuti langkah beliau karena cintanya kepada beliau shollallohu ‘alaihi wasallam.   Dan teriwayatkan, bahwa ketika Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam memotong rambut, tidak sehelai rambut pun yang terjatuh ke tanah kecuali telah berada di genggaman tangan para sahabat. Dan diriwayatkan dalam Shohih Al Bukhori bahwa salah seorang sahabat menyimpan sehelai rambut Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam yang berwarna hitam kemerah-merahan kemudian beliau menceritakan pada sahabat yang lainnya, maka sahabat itu berkata :   لِأَنْ تَكُوْنَ عِنْدِيْ شَعْرَةٌ مِنْهُ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا   “Jika aku memiliki sehelai dari rambut beliau (Rosululloh) hal itu lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya ”   Demikian cintanya para sahabat kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, dan setelah mereka selesai memotong rambut serta menyembelih hewan qurban, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam mengumpulkan kaum muslimin kemudian membai’at mereka di bawah sebuah pohon, sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala :   لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا   “Sesungguhnya Alloh telah ridho terhadap orang-orang mu'min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon , maka Alloh mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya) .” ( QS. Al Fath : 18 )   Dan firman Alloh subhanahu wata’ala dalam surat yang sama :   إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا   “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Alloh . Tangan Alloh di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Alloh, maka Alloh akan memberinya pahala yang besar.” ( QS. Al Fath : 10 )   Kemudian turun juga ayat tentang hal tersebut firman Alloh subhanahu wata’ala:   لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آَمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا   “Sesungguhnya Alloh akan membuktikan kepada Rosul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Alloh dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Alloh mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat .” (QS. Al Fath : 27 )   Setelah itu sahabat bersiap-siap untuk kembali ke Madinah Al Munawwaroh, tiba-tiba di suatu pagi sayyidina Umar bin Khottob dipanggil oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, maka sayyidina Umar bin Khottob merasa khawatir jika perkataannya kemarin telah menyinggung perasaan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam sehingga turun ayat sebagai teguran untuk sayyidina Umar bin Khattab, maka beliau datang menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, kemudian Rosululloh berkata : “Wahai Umar, semalam telah turun ayat yang mana ayat itu lebih aku cintai dari terbitnya matahari”, ayat itu adalah firman Alloh subhanahu wata’ala:   إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا ، لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا ، وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا   “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata , supaya Alloh memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni'mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Alloh menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” ( QS. Al Fath :1-3 )   Maka setelah mendengar hal itu, wajah sayyidina Umar bin Khattab menjadi cerah dan berkata : “wahai Rosululloh, apakah kelak kita akan masuk ke Masjidil Haram?”, Rosululloh menjawab : “iya betul wahai Umar”, maka dua tahun kemudian di bulan Romadhon tahun 8-H masuklah kaum muslimin ke kota Makkah dengan aman dan damai, dan tidak ada lagi kaum musyrikin yang bisa melawan atau menghalangi pasukan kaum muslimin yang berjumlah 10.000 dari golongan muhajirin dan anshor, dan tidak ada lagi gencatan senjata dan ketika itu Abu Sofyan pun kemudian menyerah dan masuk Islam dan berkata kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rosululloh, kuserahkan semua kekuasaan quraisy dan tidak ada lagi kekuasaan quraisy setelah hari ini”. Demikianlah kejadian perjanjian Hudaibiyyah pada tahun ke-6 bulan Dzulqo’dah.   Selanjutnya kita berdoa kepada Alloh subhanahu wata’ala semoga kita termasuk dalam kelompok ahli Hudaibiyyah yang bersumpah kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam untuk membantu sunnah beliau shollallohu ‘alaihi wasallam, dan cinta kepada beliau shollallohu ‘alaihi wasallam, membantu sunnah beliau shollallohu ‘alaihi wasallam semampunya, dan menjauhi larangan Alloh semampunya, serta mematuhi perintah Alloh semampunya, dan semoga Alloah subhanahu wata’ala memberikan kekuatan kepada kita untuk taat pada seluruh perintah Alloh dan untuk mampu menjauhi seluruh larangan Alloh, semoga Alloh mengangkat seluruh kesulitan kita yang sedang terjadi dan yang akan terjadi di dunia dan di akhiroh, semoga Alloh menjaga kita dari segala musibah yang akan terjadi Ya Rohman Ya Rohiim.   Wallohu a’lam.   Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi, Narasumber: Al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa pada Jalsatul Itsnain Majelis Rasulullah SAW, Senin 10 Oktober 2011. baca juga tulisan selanjutnya Kajian Maulid Diba’ #03: “Alhamdulillahil Qowiyyil Gholib”  

Inna Fatahna – Kitab Maulid Diba dan Terjemahannya (02)

KalamUlama.com - #02: "Inna Fatahna" Maulid Dibai بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ  Baca Juga : Kitab Maulid Diba dan Terjemahannya #01: Mengenal Pengarang Kitab Ad-Dibai Dengan nama Alloh yang...

Kajian Safinah Najah #02 : Biografi Pengarang Kitab

  Kehidupan Penulis Safinah, Syekh Salim bin Sumair (w. 1271 H/1855 M): Dari Bumi Hadlramaut menuju Tanah Abang-Batavia        Sangat disayagkan bila kita telah menikmati sebuah karya, namun...
 Kajian Kitab Aqidatul Awam #01 Sejarah kitab Aqidatul Awam Kalam Ulama - Segala puji milik Allah yeng telah memberikan nikmat atas hamba-Nya yang mukmin dengan cara memuliakannya berupa melihat-Nya di surga nanti. Sholawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada seorang hamba yang telah diutus untuk memberikan rahmat bagi seluruh manusia, seumpama tanpa beliau niscaya keadaan manusia lebih buruk daripada hewan,  atas keluarga nabi yang mulia, dan atas sahabat nabi yang menjadi lampu dalam kegelapan, serta para tabiin sampai hari dimana lisan terkunci dan semua anggota badan berbicara. Sebelum membahas kitab Aqidatul Awam, hendaknya sangat perlu diketahui latar belakang/sejarah ditulisnya kitab nadhom ini, yang telah dua abad lebih menjadi pedoman umat muslim sedunia. Suatu ketika nadhim kitab aqidatul awam yaitu Sayyid Ahmad Al-Marzuqi Al-Maliki bermimpi bertemu Rasulullah SAW dalam tidurnya di akhir malam Jum’at pada awal bulan Rajab hari ke tujuh tahun 1258 H. Pada saat itu, sahabat nabi sedang berdiri disekitar nadhim. Terjadi percakapan singkat sebagai berikut : Nabi SAW  bersabda : “Bacalah nadhom tauhid yang mana bila seseorang menghafalnya, maka akan masuk surga dan akan hasil maksudanya dari setiap kebaikan yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.” Nadhim bertanya : “apakah nadhoman itu ya Rasulullah?” Sahabat menyahut dan berkata kepada nadhim: “Dengarlah ! apa yang akan diucapkan oleh Rasulullah SAW” Rasulullah SAW berkata : “ katakanlah ! abda’u bismillahiwarrohmani...” Rasulullah SAW membacakan nadhom pertama yaitu “abdau bismillahiwarrohmani” hingga akhir nadhom yang berbunyi “washuhuful kholili wal kalimi # fiha kalamul hakamil alimi”. Kemudian nadhim membacakan nadhom tersebut dihadapan Rasulullah dan para sahabat.  Rasulullah pun mendengarkannya. Setelah bangun dari tidurnya maka nadhim membaca nadhom yang telah diajarkan oleh Rasulullah di dalam mimpinya. Atas izin Allah, nadhim telah hafal nadhom tersebut dari awal hingga akhir. Suatu ketika di malam Jum’at yaitu malam ke-18 bulan Dzul qo’dah, nadhim bermimpi bertemu Rasulullah untuk yang kedua kalinya di waktu sahur. Terjadi perbincangan singkat, Rasulullah berkata : “Bacalah ! apa yang telah kamu dapatkan sebelumnya” Kemudian nadhim membacanya (dalam hal ini hafal) dari awal hingga akhir. Pada saat itu posisi nadhim dalam keadaan berdiri di depan Rasulullah SAW. Sedangkan para sahabat berdiri diantaranya seraya berkata “Amiin” setelah dibacakan akhir setiap nadhom.  Setelah selesai membacanya, Rasul berkata kepada nadhim : “Allah akan memberikan pertolongan kepadamu terhadap apa yang telah Allah ridhoi  dan Semoga Allah menerimamu atas nadhom tersebut. Semoga Allah memberkahi atas kamu dan atas orang-orang mukmin. Semoga nadhoman  ini bermanfaat bagi hamba-hamba Allah”. Adapun bait selanjutnya yaitu dari bait “wakulluma ata bihirrasulu # fa haqquhuttaslimu wal qabulu” hingga akhir kitab, nadhim menambahkannya sendiri. Berikut sejarah ditulisnya nadhom aqidatul awam, penulis menyarankan kepada pembaca semuany untuk menghafal nadhom tersebut, insyaAllah akan mendapat manfaatnya seperti yang disabdakan Rasulullah dalam mimpi nadhim. Untuk pembahasan selanjutnya, setiap nadhom akan diberikan penjelasan dari Al-qur’an dan kitab kitab tauhid lainnya, seperti syarah aqidatul awam, nurudholam karya Syekh Nawawi al-Bantani, kemudian Jalailul afham karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-maliki. Semoga penulis diberikan kekuatan oleh Allah sehingga mampu menulis hingga akhir bait kitab aqidatul awam.   Wallahu a’lam bishowaab. Oleh: Hamzah Alfarisi   Keterangan: Nadhim : Pengarang kitab aqidatul awam.  Nadhom : Rangkaian kata dalam bahasa arab sehingga membentuk pola yang indah dan memiliki makna yang padat.

Kajian Kitab Aqidatul Awam #01 Sejarah kitab Aqidatul Awam

 Kajian Kitab Aqidatul Awam #01 Sejarah kitab Aqidatul Awam Kalam Ulama - Segala puji milik Allah yeng telah memberikan nikmat atas hamba-Nya yang mukmin dengan cara memuliakannya...
Kajian Fiqih Manhaji #01 Mengenal Jarimah dan Jinayah dalam Islam Oleh Zuhal Qobili Kalam ulama - Satu di antara yang membedakan agama Islam dengan agama-agama lainnya adalah bahwa Islam tidak hanya agama yang ajarannya tentang akidah dan tata cara beribadah saja, tetapi juga mempunyai syariat yang mengatur kehidupan manusia dari segala sisinya. Mulai urusan jasmani dan rohani serta kehidupan sebagai seorang individu maupun sebagai anggota masyarakat (hubungan individu dengan individu lainnya). Sehingga ketika aturan – aturan tersebut di taati maka manusia akan hidup dalam tentram dan menentramkan. Baca Juga : Hukum Menyentuh, Membawa dan Membaca Al-Qur’an bagi Wanita Haidh dan Nifas Kendati demikian, banyak sekali kita saksikan apalagi akhir – akhir ini argumen – argumen yang menyatakan bahwa Islam adalah agama teroris, Islam aturan-aturannya banyak yang melanggar HAM (Hak Asasi Manusia) dan sebagainya. Padahal dalam kitab sucinya, dengan tegas al Qur’an menyatakan   وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين “Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” [al Anbiya : 107]. Nabi Muhammad, Nabi umat Islam diutus oleh Allah tidak hanya sebagai penebar rahmat bagi pemeluk agamanya saja, melainkan sebagai penebar rahmat untuk seluruh alam. Maka jika Islam memang agama yang benar, asli dari Tuhan semesta alam, tidak mungkin ada dalam ajaran-ajarannya yang tidak sesuai dengan akal sehat atau bersifat merugikan. Sehingga, kemungkinan kenapa banyak yang berargumen tidak jelas seperti di atas ada kalanya karena mereka tidak mengetahui lebih dalam ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya, atau karena mereka memang mempunyai kedengkian terhadap Islam. Dengan demikian membuat mereka tidak mau menggunakan akal yang jernih untuk mencari kebenaran melainkan mempelajari Islam dengan dangkal mencari hal-hal yang secara nampak luar buruk padahal tidak demikian, dan ini sangat membahayakan bagi pemeluk Islam yang masih awam.  Dengan latar belakang tersebut membuat kami ingin mengkaji tentang “JARIMAH DAN JINAYAH DALAM ISLAM”, karena permasalahan jarimah dan jinayah ketika hanya dilihat sekilas luarnya seakan-akan hukum-hukumnya kebanyakan melanggar HAM atau kejam. Walaupun kajian ini tidak akan mendalam maupun mendetail semoga bisa memberikan wawasan baru bagi yang belum pernah mempelajarinya dan menjadikan kita para pemeluk Islam semakin yakin bahwa Islam adalah agama yang rahmat penuh kasih sayang. Dan bagi non muslim agar tahu bahwa Islam tidak seperti yang para pendengki gambarkan. DEFINISI JARIMAH DAN JINAYAH   A. JARIMAH Jarimah (جريمة) secara etimologi bermakna ذنب (dosa) atau perbuatan yang tidak sesuai dengan keadilan. Allah berfirman : ولا يجرمنكم شنآن قوم على ألا تعدلوا اعدلوا هو أقرب للتقوى “Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa” [al Maidah : 8]. Sedangkan secara terminologi ulama fikih, jarimah mempunyai dua makna : Bermakna umum, yaitu segala sesuatu perbuatan yang melanggar perintah Allah atau larangannya. Sehingga dengan definisi ini kata jarimah mencakup seluruh perbuatan maksiat kepada Allah. Bermakna khusus, yaitu segala sesuatu perbuatan yang melanggar perintah Allah atau larangannya yang memiliki hukuman dunia dilaksanakan oleh seorang hakim. B. JINAYAH Jinayah (جناية) secara etimologi bermakna perbuatan buruk. Sedangkan secara terminologi, jinayah adalah perbuatan-perbuatan yang dilarang berkaitan dengan pembunuhan atau melukai anggota badan. Namun ada juga sebagian ulama yang mendefinisikan jinayah semakna dengan jarimah, yaitu segala sesuatu perbuatan yang melanggar perintah Allah atau larangannya yang memiliki hukuman dunia dilaksanakan oleh seorang hakim.   MACAM-MACAM JARIMAH      Jarimah mempunyai pembagian-pembagian jika di tinjau dari berbagai sudut : 1. Niat Pelaku Macam-macam jarimah ditinjau dari niat pelakunya terbagi menjadi dua : a.       Sengaja, yaitu perbuatan terlarang yang dilaksanakan oleh seseorang dengan kehendaknya sendiri dan dia tahu bahwa perbuatan tersebut di larang yang akan membuatnya di hukum. b.      Tidak sengaja, yaitu perbuatan terlarang yang dilaksanakan oleh seseorang tidak dengan kehendaknya sendiri atau dengan kehendaknya sendiri tetapi dia tidak tahu kalau perbuatan tersebut dilarang.         2. Hukuman Macam-macam jarimah di tinjau dari hukuman akibat melakukan jarimah tersebut terbagi menjadi tiga : a.  Jarimah hudud, yaitu jarimah yang hukumannya sudah ditentukan bentuk dan kadarnya oleh Allah, sehingga tidak akan kurangmaupun lebih dari yang ditetapkan. b. Jarimah qishas dan diyat, yaitu jarimah berupa pembunuhan atau melukai anggota badan. Hukumannya adalah di qishas (di balas sesuai jarimah yang dilaksanakan) atau membayar diyat. c.   Jarimah takzir, yaitu jarimah yang hukumannya atas dasar kebijaksanaan hakim karena tidak terdapat di dalam al Qur’an dan Hadis, tidak seperti jarimah hudud dan jarimah qishas.          3. Objek Jarimah Macam-macam jarimah ditinjau dari objek jarimahnya terbagi menjadi dua : a.    Jarimah terhadap hak Allah, yaitu jarimah yang berkaitan dengan kemaslahatan umat, bukan individu tertentu. b. Jarimah terhadap hak hamba, yaitu jarimah yang objeknya adalah individu tertentu. Demikian kajian pertama tentang “jarimah dan jinayah dalam Islam”, mengenai definisi jarimah dan jinayah serta macam-macam bentuknya. Insya Allah kajian ke depan akan lebih fokus tentang pembagian kedua, yaitu macam-macam jarimah ditinjau dari hukumannya serta hikmah yang terkandung di dalamanya. Adapun minggu depan akan membahas tentang macam-macambentuk hukuman jarimah, karakteristik dan tujuannya. Wallahu A’lam..   Baca Juga tulisan selanjutnya : Kajian Fiqih Manhaji #02 “Macam-Macam Hukuman dalam Syariat Islam”   Sumber : kitab لجناية على النفس وما دونها فى الفقه الإسلامي karya Dr. Abdul Fattah dan Dr. Al-Mursi Abdul Aziz, diktat fikih komparasi tingkat tiga Universitas al Azhar tahun akademik 2014/2015.

Kajian Fiqih Manhaji #01 Mengenal Jarimah dan Jinayah dalam Islam

Kajian Fiqih Manhaji #01 Mengenal Jarimah dan Jinayah dalam Islam Oleh Zuhal Qobili Kalam ulama - Satu di antara yang membedakan agama Islam dengan agama-agama lainnya adalah bahwa Islam tidak...

Kajian Aswaja #01 : Ulama Sejagat Membolehkan Tabarruk (Ngalap Berkah) di Kuburan Orang...

 Kajian Aswaja #01 : Ulama Sejagat Membolehkan Tabarruk (Ngalap Berkah) di Kuburan Orang Sholeh Oleh : Muhammad AzkaBismillahirrohmanirrohim. Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala...
  Kajian Maulid Diba' (Kalam Ulama) #01: Mengenal Pengarang Kitab Ad-Dibai Oleh : Ahmad Ulul Azmi Satu karya maulid yang masyhur dalam Islam adalah maulid yang dikarang oleh seorang ulama besar dan ahli hadits, yaitu Imam Wajihuddin ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali bin Yusuf bin Ahmad bin ‘Umar ad-Diba`ie asy-Syaibani al-Yamani az-Zabidi asy-Syafi`i. Beliau dilahirkan pada 4 Muharram 866 H dan wafat pada hari Jumat 12 Rajab tahun 944H. Pada masanya, beliau adalah seorang ulama hadits yang terkenal dan tiada bandingannya. Beliau mengajar kitab Shohih Imam al-Bukhari lebih dari 100 kali khatam. Beliau mencapai darjat Hafidz dalam ilmu hadits yaitu seorang yang menghafal 100,000 hadits dengan sanadnya. Setiap hari beliau mengajar hadits dari masjid ke masjid. Guru-guru beliau di antaranya adalah Imam al-Hafidz as-Sakhawi, Imam Ibnu Ziyad, Imam Jamaluddin Muhammad bin Ismail, mufti Zabid, Imam al-Hafiz Tahir bin Husain al-Ahdal dan banyak lagi. Selain itu, beliau juga merupakan seorang muarrikh (yakni ahli sejarah). Adapun kitab karangannya  adalah sebagai berikut: “Taisirul Wusul ila Jaami`il Usul min Haditsir Rasul” yang mengandung himpunan hadits yang dinukil dari pada kitab hadits yang 6. “Tamyeezu at-Thoyyib min al-Khabith mimma yaduru ‘ala alsinatin naasi minal hadits” sebuah kitab yang membedakan hadits sohih dengan yang lainnya seperti dhoif dan maudhu. “Qurratul ‘Uyun fi akhbaril Yaman al-Maimun” “Bughyatul Mustafid fi akhbar madinat Zabid”. “Fadhail Ahl al-Yaman”.  Wallahua'lam

Kitab Maulid Diba dan Terjemahannya #01: Mengenal Pengarang Kitab Ad-Dibai

Kitab Maulid Diba dan Terjemahannya (Kalam Ulama) #01: Mengenal Pengarang Kitab Ad-Dibai Oleh : Ahmad Ulul Azmi Satu karya maulid yang masyhur dalam Islam adalah...
 Kajian Al Hikam (Kalam Ulama). Kajian Wanita Sholihah dan Lelaki Sholih #01 : Kajian Perempuan Sholehah dan Lelaki Sholeh   Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. Segala puji milik Allah yang berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia : “Kaum lelaki menjadi pemimpin terhadap kaum wanita oleh karena Allah telah melebihkan sebagian kamu atas lainnya dan juga karena mereka telah menafkahkan harta mereka. Maka wanita-wanita yang shalehah ialah yang taat lagi memelihara diri di balik belakang karena Allah telah memelihara mereka (Surah An-Nisa’ 34). Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan atas nabi kita Muhammad SAW yang bersabda “Barang siapa yang diberikan rizki oleh Allah berupa wanita yang sholihah maka sungguh Allah telah menolongnya atas separuh agamanya (HR. Hakim) dan atas keluarga, sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga hari kiamat. Amma ba’du,   Baca juga  Kajian Wanita Sholihah dan Lelaki Sholih #02: Pelayanan Perempuan Terhadap Suaminya   Tulisan ini insyaAllah akan menguraikan tentang “Permasalahan-permasalahan seputar wanita sholihah dan lelaki sholih” dari kitab “al-masail fi maratin sholihatin wa marin sholihin” yang menjelaskan perihal yang berhubungan dengan wanita sholihah dan lelaki sholih dengan penjelasan dari al-Qur’an, hadist-hadist dan perkataan ulama. Kitab ini dikarang oleh Ulama kita K.H Ahmad yasin asymuni. Sesuai hadist nabi diatas, maka mengetahui tentang ciri-ciri dan karakter seorang wanita sholihah sangatlah penting. Bagaimana seandainya kita menjawab pertanyaan : Siapa wanita yang sholihah?? Tentunya untuk menjawab ini bukan perkara mudah. Do’akan semoga risalah ini bisa istiqomah sehingga dapat dijelaskan secara gamblang siapa wanita yang sholihah itu sebenarnya. Risalah ini akan kami desain dengan bentuk Tanya jawab. Langsung saja, sebagai berikut :   Wanita Sholihah Pertanyaan : Siapa wanitah sholehah itu? Jawab : Wanita sholihah adalah wanita yang taat lagi memelihara diri di balik belakang karena Allah telah memelihara mereka (Surah An-Nisa’ 34).   Pertanyaan : Apa yang dimaksud dengan firman Allah “qonitatun” (taat)? Jawab : Yang dimaksud “qonitatun” (taat) adalah selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah ta’ala dan memenuhi hak-hak suaminya. Syaikh Abdullah bin Sholih al-fauzan al-Hanbali berkata Sesungguhnya istri yang sholehah yaitu istri yang bisa menjadi (1) penolong bagi suaminya atas terbentuknya keluarga yang baik, (2) membangun keluarga yang fadhil (utama), (3) penolong bagi suami atas urusan agama dan urusan dunianya, (4) menunjukkan sikap yang menyenangkan bagi suami, menenangkan dan membahagiakan dalam kehidupan suamiya.   Seperti dalam kitab “Mafaatihul ghoib” karya Imam Fahrur Rozi juz 10 halaman 71 ; “yang taat lagi memelihara diri di balik belakang ada dua wajah, yang pertama, “qonitatun” (taat) maksudnya mentaati Allah. Sedangkan “hafidzotun lil ghoib” (memelihara diri di balik belakang) maksudnya memenuhi hak-hak suami, tentunya dengan mendahulukan hak-hak Allah kemudian memenuhi hak-hak suami. Wajah yang kedua, keadaan perempuan itu adakalanya saat hadirnya suami dan saat tidak hadirnya suami. Adapun saat hadirnya suami seperti yang telah Allah berikan persifatan yaitu “qonitatun”, sedangan asal dari lafad “qunut” yaitu keberlanjutan (kontinyu) taat, yang secara makna berarti memenuhi hak suami. Dhohirnya ini adalah ikhbar (pemberitaan), kalaupun tidak sesungguhnya yang dimaksud ialah perintah untuk taat. Ketahuilah sesungguhnya tidak ada perempuan yang sholehah kecuali taat kepada suaminya, karena sesungguhnya Allah berfirman : “Wanita-wanita sholihah adalah wanita yang taat”   Pertanyaan : Apakah yang dimaksud dengan “hafidzotun lil ghoib” (memelihara diri di balik belakang)? Jawab : Yang dimaksud “hafidzotun lil ghoib” yaitu memelihara diri di balik belakang ada beberapa wajah, (1) menjaga dirinya dari zina, (2) menjaga harta suami dari kehilangan (3) menjaga rumah suami dari perkara yang tidak layak, (4) menjaga air suami (mani) dalam rahimnya dan tidak menggugurkannya, seperti dalam kitab “Mafaatihul ghoib” karya Imam Fahrur Rozi juz 10 halaman 71.   Pertanyaan : Apa yang dimaksud firman Allah “bima hafizhallah”? Jawab : Dalam kitab al-Hawi al-Kabir karya Imam Mawardi juz 9 halaman 596 : Lafad “bima hafizhallah” ada dua ta’wil, (1) yang dimaksud adalah penjagaan Allah atas wanita-wanita sholehah sehingga menjadi wanita-wanita sholehah, ini adalah perkataan ‘Atho. (2) Dengan perkara yang telah Allah wajibkan atas suami-suaminya berupa mahar dan nafkah, sehingga menjadi wanita-wanita yang terjaga, ini perkataan ar-Zajjaj.   Demikian pembahasan tentang wanita sholehah. Apabila ada kesalahan mohon koreksinya, karena manusia adalah tempat salah dan lupa. Adapaun pembahasan selanjutnya insyaAllah tentang “Pelayanan perempuan terhadap suaminya”.  Oleh : Hamzah Alfarisi  

Kajian Wanita Sholihah dan Lelaki Sholih #01 : Kajian Perempuan Sholehah dan Lelaki Sholeh

 Kajian Al Hikam (Kalam Ulama). Kajian Wanita Sholihah dan Lelaki Sholih #01 : Kajian Perempuan Sholehah dan Lelaki Sholeh Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. Segala puji milik Allah yang berfirman...
  Kajian Al Hikam (Kalam Ulama).  Siapa yang tak kenal dengan kitab Safinatun Najah? Kitab fiqh yang sangat ringkas dan mudah dipahami bagi para pemula dan masyarakat umum. Dalam dunia Pesantren, kitab ini tergolong kitab fiqh wajib yang biasa dipelajari di kelas Ibtida`iyyah, setingkat Sekolah Dasar (SD). Secara global, kitab ini mengupas dasar-dasar agama, tata cara bersuci, seperti “cebok” (istinja`), wudlu`, bagaiamana kita beribadah kepada Allah, seperti salat, dengan benar, serta mengajarkan jenis dan berapa harta yang wajib kita keluarkan sebagai zakat. Klimaksnya, kitab Safinah ini sangat diperlukan bagi siapa saja yang hendak mengamalkan ajaran Islam, tidak hanya dalam waktu yang cepat, tapi juga dengan tepat. Baca Juga : Kajian Safinah Najah #02 : Biografi Pengarang Kitab   Nah, tahukah Anda bahwa kitab kecil ini tidak hanya menjadi acuan fiqh umat Islam di Indonesia, tetapi juga di berbagai belahan dunia. Karena bahasanya sangat simple, kitab ini juga menjadi kiblat fiqh pertama bagi para pelajar sebagian negeri di Afrika dan Timur Tengah. Di Hadlramaut, Yaman, misalnya, hampir semua anak kecil diajari fiqh dengan kitab Safinah, baik di rumah maupun di lembaga pendidikan mereka. Di Makkah, jauh sebelum rezim Saudi berkuasa hingga sekarang, kitab Safinah selalu eksis sebagai mata pelajaran wajib di beberapa lembaga pendidikan, seperti Ash-Sholatiah, Darul ‘Ulum rintisan Syekh Yasin Al-Fadany, dan madrasah-madrasah lainnya.   Begitu juga di belahan benua Afrika seperti Ethiopia (Al-Habasyah), Tanzania, Shomalia, Kenya dan Nigeria, kitab Safinah sangat terkenal dan bermanfaat. Bahkan, di dunia Eropa kini, kitab ini menjadi media termudah untuk mengenalkan ilmu fiqh bagi para mu`allaf, orang-orang “bule” yang memeluk Islam. Tidah heran, kitab Safinah telah ditranslit ke berbagai bahasa lokal dan global, mulai dari bahasa Jawa, Sunda, Melayu, hingga bahasa-bahasa lokal Afrika, Inggris, Jerman, sampai bahasa China. Ini semua menunjukkan betapa dahsyatnya kemanfaatan kitab Safinah Najah bagi dunia Islam lintas era dan benua.   Di masa silam, banyak ulama yang sangat peduli dengan kitab mungil ini. Tidak sedikit yang menguraikan kata perkata dari setiap kalimat kitab ini dalam bentuk Syarh maupun Hasyiah. Dan juga, banyak yang menggubah bait-bait syi`ir dari kitab Safinah agar dilantunkan dengan indah dan dihafal dengan mudah oleh para pelajar pemula (mubtadi`). Disini kami lampirkan daftar enam nadzam/mandzumah dan delapan syarah-hasyiah sekaligus identitas penulis masing-masing sebagai berikut[1]:    Enam Nadzam Safinah   1. Nadzam karya Sayyid Abdullah bin ‘Ali Al-Haddad  2. Nadzam gubahan Sayyid Muhammad bin Ahmad Ba`aqiel 3. Nadzam Syekh Shiddiq bin Abdullah Lasem 4. Tanwirul Hija` nadzm Safinatun Naja Nadzam ini gubahan Syekh KH. Akhmad Qusyairi bin Siddiq lahir di Lasem dan tinggal di Pasuruan. Selesai menuntaskan nadzam ini pada tahun 1343 H, dengan penambahan bab Puasa, Haji-‘Umroh, dan ditutup dengan nasihat-nasihat. Nadzam ini dipelajari di banyak pondok pesantren Indonesia. 5. Al-Lu`lu`ah Ats-Tsaminah nadzm As-Safinah karya Syekh Muhammad bin Ali Zakin Al-Kindiy 6. As-Subhah Ats-Tsaminah nadzmis Safinah karya Sayyid Ahmad Masyhur bin Thaha Al-Haddad (1325-1416 H). Konon, beliau menggubah nadzam ini saat berusia 20 tahun atau lebih muda lagi.   Terlihat dari keenam nadzam diatas, dua dari Indonesia, dan lainnya dari penulis-penulis kebangsaan Hadlramaut-Yaman. Menunjukkan dua bangsa ini memiliki titik kesamaan: sangat kreatif mentransformasikan ilmu pengetahuan melalui sastra yang indah, agar para pelajar tak lelah menelaahnya.   Delapan Syarah-Hasyiah Safinah   1. Kasyifatus Saja` ‘ala Safinatin Naja karya Syekh Muhammad Nawawi Banten (1230-1314 H). Kitab ini merupakan syarah pertama bagi kitab Safinah dan tergolong paling lengkap. Di akhir kitab, Syekh Nawawi menambahi pembahasan Puasa, yang tak sempat ditulis oleh Syekh Salim bin Sumair, pengarang Safinah.   2. Ad-Durratust Tsaminah Hasyiah ‘alas Safinah karya Syekh Ahmad Al-Hadlrawi (1252-1327 H). Atas titah sang guru, beliau memulai karya ini di bumi Ethiopia-Afrika, dan menuntaskannya di Tha`if. Syekh Ahmad menambahkan bab Haji-Umroh plus Adab berziarah pada akhir kitab.   3. Nailur Raja` ‘ala Safinatin Naja karya Sayyid Ahmad bin Umar Asy-Syathiri (1312-1360 H), termasuk syarah yang sedang, tidak panjang, tapi juga tidak pendek. Isinya sangat sarat dan padat.   4. Inaratud Duja bi Tanwiril Hija` bi Nadzmi Safinatin Naja karya Syekh Muhammad Ali Al-Maliky (1287-1368 H). Meski menjabat sebagai Mufti Maliky di Makkah, perhatian beliau terhadap madzhab Syafi’i cukup luar biasa. Terbukti syarah Inarah ini merupakan syarah yang sangat mencerahkan dan luas wawasannya.   5. Wasilatur Raja` syarh Safinatin Naja karya Syekh Hasan Syirazi asal timur Afrika, usai ditulis tahun 1366 H.   6. Ad-Durratul Yatimah syarhus Subhatuts Tsaminah nadzm As-Safinah karya Al-Ustadz Muhammad bin Ali Ba’athiyyah lahir di Daw’an, Hadlramaut pada tahun 1382 H. Kitab ini merupakan syarah nadzm Safinah gubahan gurunya, Sayyid Ahmad Masyhur.   7. Ghayatul Muna syarh Safinatin Naja karya Syekh Muhammad bin Ali Ba’athiyyah juga. Syarh ini termasuk karya terbaru dan terluas, menyempurnakan syarh Kasyifatus Saja’ Syekh Nawawi Banten.   8. Sullamur Raja` bi Syarh Safinatin Naja karya Syekh Utsman bin Muhammad Sa`id kelahiran Jambi-Indonesia tahun 1320 H.   Dari keempat-belas karya monumental (total nadzam plus syarah-hasyiah) di atas, bisa kita lihat keberkahaan dan manfaat kitab Safinah ini. Meski mungil, tapi begitu mendunia. Dari negeri asal penulis, Yaman, hingga ke pelosok Nusantara dan Afrika, kitab ini terus dikaji dan diperkaya berbagai syarh dan gubahan syi’ir. Benar-benar seperti arti namanya, kitab ini bak Perahu Keselamatan yang melintasi berbagai madzhab fiqh, mengarungi lintas benua-samudera, dan menyelematkan setiap penumpangnya dari badai-ombak kehidupan yang suram menenggelamkan.               Akhir kata, kitab Safinah memuat intisari sebagian cara kita beragama dengan benar. Karenanya, mari kita mengaji-ulang sehingga mampu mengamalkannya. Tentu tidak hanya saklek, tapi pengajian ini akan kita perkaya dengan khazanah fiqh yang aktual dan dilengkapi dengan nilai-nilai hikmah di balik kajian yang kita angkat.   Semoga, melalui pengajian Safinah ini, kelak Allah Swt sudi mengantarkan ilham-Nya kepada kita sebagi sebuah ilmu yang dengannya kita mampu memahami segala titah dan larangan-Nya, dan menganugerahkan sebuah kesadaran yang mencerahkan kita, bagaimana mestinya kita ber-munajat kepada-Nya. Amiin Oleh : Roby Mohammad [1] Pengantar Sayyid Umar bin Hamid Al-Jaylani Hafidzahullah di Kitab Ad-Durratul Yatimah, 21-26, cet.

Kajian Safinatun Najah #01 : Safinah Najah, Kitab Mungil yang Mendunia

Kajian Al Hikam (Kalam Ulama).  Siapa yang tak kenal dengan kitab Safinatun Najah? Kitab fiqh yang sangat ringkas dan mudah dipahami bagi para pemula dan masyarakat umum. Dalam dunia...