Kajian Islam

Kajian Wanita Sholihah dan Lelaki Sholih #02: Pelayanan Perempuan Terhadap Suaminya

Oleh: Hamzah Al Farisi Assalamualaikum Wr. Wb. Setelah kemarin kita membahas tentang perempuan yang sholehah. Sekarang kita akan membahas tentang “Pelayanan Perempuan terhadap suaminya”. Sebagai seorang...
Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #16 : Menghargai Sesama  بسم الله الرحمن الرحيم  كتاب الأطعمة بَاب الْأَكْلِ مَعَ الْخَادِمِ  حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مُحَمَّدٍ هُوَ ابْنُ زِيَادٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَتَى أَحَدَكُمْ خَادِمُهُ بِطَعَامِهِ فَإِنْ لَمْ يُجْلِسْهُ مَعَهُ فَلْيُنَاوِلْهُ أُكْلَةً أَوْ أُكْلَتَيْنِ أَوْ لُقْمَةً أَوْ لُقْمَتَيْنِ فَإِنَّهُ وَلِيَ حَرَّهُ وَعِلَاجَهُ. (رواه البخاري)  Artinya: Dari Muhammad bin Ziyad al-Jamhi (w. 120 H) berkata: "Aku mendengar Abu Hurairah (w. 58 H) dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika pembantu salah seorang dari kalian datang dengan membawa hidangan makanan, jika kalian tidak mengajaknya duduk bersama (untuk makan), hendaklah diberikan untuknya satu atau dua suapan (porsi makan). Sebab ia telah merasakan panas dan lelah (ketika memasaknya)." HR Bukhari (w. 256 H) Baca Juga One Day One Hadits #15 : Berbakti Kepada Orang Tua Istifadah :  Islam sangat memuliakan dan menghargai sesama manusia hingga pada pembantu sekalipun. Karena dalam Islam semua manusia sama kedudukan di hadapan Allah Swt. Yang membedakan adalah siapa yang paling Takwa kepada Allah Swt.  Dalam hadis ini, setidaknya ada 3 pengertian tentang makan bersama pembantu: Menurut Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi, dianjurkan makan bersama pembantu jika memungkinkan. Jika tidak, berilah ia satu porsi dari makanan tersebut.  Dianjurkan makan bersamanya jika tidak merasa keberatan karna takut kehilangan wibawa.  Menurut riwayat Jabir dari Imam Ahmad, hendaknya makan bersamanya. Apabila salah seorang dari anggota keluarga tersebut tidak menyukai akan hal tersebut, maka berilah satu porsi dari makanan tersebut.  Hadis di atas membawa pesan kepada kita bahwa menghargai jerih payah seseorang meskipun berbeda kedudukan itu sangatlah penting. Oleh karena itu, hargailah seseorang jika ingin di hargai kembali. Sabtu, 05 Rabi'ul Akhir 1439 H/ 23 Desember 2017 M [Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-Sunnah]

One Day One Hadits #16 : Menghargai Sesama

Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #16 : Menghargai Sesama  بسم الله الرحمن الرحيم  كتاب الأطعمة بَاب الْأَكْلِ مَعَ الْخَادِمِ  حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ...
Kajian Islam Al Hikam (Kalam Ulama). "Jangan sekali-kali dirimu ragu terhadap janji (Allah) yang belum terpenuhi, padahal Allah telah menetapkkan waktu pengabulannya, demikian itu supaya tidak menyebabkan buramnya mata hatimu (bashirah) dan padamnya rahasia batinmu (sirr)." لاَ يـُشَـكِّكَــنَّكَ فيِ الْـوَعْدِ عَدَمُ وُقُــوْعِ الْـمَـوْعُـوْدِ ، وَ إِنْ تَـعَـيَّنِ زَمَنُهُ ؛ لِئَـلاَّ يـَكُوْنَ ذَ لِكَ قَدْحًـا فيِ بَـصِيْرَ تِـكَ ، وَ إِخْمَـادً ا لِـنُورِ سَرِ يـْرَ تِـكَ Maqalah di atas menjelaskan bahwa manusia sering dihinggapi sikap ragu bahkan putus asa ketika keinginannya belum terkabulkan. Seperti manusia yg sedang menghadapi masalah lalu dia berdoa diiringi usaha dan ikhtiar, namun masalahnya tidak kunjung usai. Saat itu muncul sikap ragu terhadap janji Allah karena merasa masalahnya tidak ada solusinya. Padahal Allah sudah menetapkan solusi dan penyelesaian yang terbaik menurut Allah utk hamba2Nya. Sesungguhnya sikap ragu tersebut hanya letupan emosi sesaat. Karena itu, jangan biarkan sikap ragu tersebut muncul menguasi diri karena dapat menyebabkan buramnya mata hati dan pudarnya cahaya ilahiyah dalam hati. Maka dari itu, jangan pernah terbersit ragu terhadap janji Allah, karena sesungguhnya Allah pasti memenuhi janji-Nya. (Baca Juga Kajian Al Hikam (2) : Syahwat (Keinginan kepada Duniawi) dan Himmah (Keinginan menuju Allah) Nagrak Cikeas, 19 Januari 2017 Oleh : Dr. KH. Ali Abdillah, MA (al-Rabbani Islamic College)

Kajian Al Hikam (7) : Jangan Ragu dengan Janji Allah

Kajian Al Hikam (Kalam Ulama). "Jangan sekali-kali dirimu ragu terhadap janji (Allah) yang belum terpenuhi, padahal Allah telah menetapkkan waktu pengabulannya, demikian itu supaya tidak menyebabkan...
Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #17 : Muslim Yang Sempurna بسم الله الرحمن الرحيم كتاب الإيمان باب الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ. رواه الترمذي Artinya : Dari Abu Hurairah (w. 58 H) dia berkata, Rasulullah shalallah 'alaih wa sallam bersabda: "Muslim (yang sempurna) adalah seseorang yang selamat muslim yang lain dari gangguan lisan dan tangannya". H.R. al-Tirmidzi (w. 279 H) Baca Juga One Day One Hadits #16 : Menghargai Sesama Istifadah Hadits di atas menganjurkan bagi setiap muslim agar berbuat baik kepada muslim yang lainnya. Baik itu lewat lisan, ataupun lewat tangannya. Artinya seorang muslim harus sadar bahwa menyakiti muslim lainnya itu dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Baik itu menyakiti lewat lisan dengan ucapan-ucapan yang tidak baik, dan juga lewat perbuatan yang tidak baik. Minggu 06 Rabi'ul Akhir 1439 H/ 24 Desember 2017 M [Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-Sunnah]

One Day One Hadits #17 : Muslim Yang Sempurna

Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #17 : Muslim Yang Sempurna بسم الله الرحمن الرحيم كتاب الإيمان باب الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ...
KalamUlama.com - Maulid Diba #06: Lirik Sholatullahima lahat Kawakib & Tsumma Arudduhu اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) ثُمَّ أَرُدُّهٗ مِنَ الْعَرْشِ. قَبْلَ أَنْ يَّبْرُدَ الْفَرْشُ. وَقَدْ نَالَ جَمِيْعَ الْمَاٰرِبِ. فَإِذَا شُرِّفَتْ طُرْبَةَ طَيْبَةَ مِنْهُ بِأَشْرَفِ قَالَبٍ. سَعَتْ إِلَيْهِ أَرْوَاحُ الْمُحِبِّيْنَ عَلىٰ الْأَقْدَامِ وَالنَّجَآئِبِ Kemudian Aku kembalikan dia dari ‘Arsy, dingin alas tidurnya benar-benar telah memperoleh menjadi tujuannya. ketika tanah suci Makkah dimuliakan karena sebab kemuliaan Nabi yang merubahnya. Terbentang keleluasaan untuk tujuan ke Makkah bagi jiwa-jiwa yang mencintainya, baik yang berjalan kaki maupun yang berkendaraan. .******************************. اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) صَلاَةُ اللهِ مَالاَحَــــــتْ كَوَاكِبْ # عَلىٰ احْمَدْ خَيْرِ مَنْ رَّكِبَ النَّجَآئِبْ Selagi bintang masih bercahaya, semoga rahmat Alloh tercurah. Kepada Nabi Muhammad sebaik-baiknya pengendara unta. حَدٰى حَادِى السُّرٰى بِاسْمِ الْحَبَائِبْ # فَهَزَّالشُّكْرُاَعْـــــــــطَافَ الرَّكَائِبْ Selama pengiring unta menyanyikan lagu menyebut nama kekasih terindu. Unta mengangguk-angguk menari gembira terbawa irama lagu penunggangnya اَلَمْ تَرَهَا وَقَدْ مَــــدَّتْ حُـــــطَاهَا # وَسَالَتْ مِنْ مَّدَامِعِـــــهَا سَحَآئِبْ Tidakkah engkau lihat, semakin cepat langkah unta? Bercucuran deras dari matanya air mata bagaikan awan tiba. وَمَالَتْ لِلْـــــحِمٰى طَرَبًا وَحَنَّتْ # إِلٰى تِلْكَ الْمَعَالِمِ وَ اْلمَــــــــلاَعِبْ Semakin condong langkah untuk kegembiraan merindukan Menuju kandang gembalaan pengembaraannya. فَدَعْ جَذْبَ الزِّمَامِ وَلَا تَسُــــقْهَا # فَقَائِدُ شَــــــوْقِهَا لِلْــــحَيِّ جَاذِبْ Biarkan, jangan kau tarik kendali dan penggiringnya. Maka penggembala merasa kesepian merindukan Nabi kemudian menariknya. فَهِمْ طَــــــرَبًا كَمَا هَــــامَــــتْ وَاِلاَّ # فَإِنَّكَ فِى طَـــرِيقِ الْحُـــبِّ كَاذِبْ Tunjukkanlah rasa cintamu sebagaimana cintanya unta dan jikalau tidak, Maka jalan cintamu pada nabi adalah dusta. اَمَّا هٰذَا الْعَقِيْــــــــقُ بَدَا وَهٰذِيْ # قِبَابُ الْحَيِّ لاَحَتْ وَالْمَــضَارِبْ Perhatikan, kota Aqiq telah nampak dan inilah Qubah Nabi, gemerlapan cahayanya menyilaukan وَتِلْكَ الْقُبَّةُ الْخَـــــــــــضْرَا وَفِيْهَا # نَبِـــــيٌّ نُوْرُهٗ يَجْـــلُوْ الْغَـــــــيَاهِبْ Itulah qubah hijau dan nabi bermakam di dalamnya. Seorang Nabi yang nur-nya menerangi kegelapan. وَقَــــدْ صَحَّ الرِّضَى وَدَنَا التَّلَاقِي # وَقَدْجَاءَ الْهَنَا مِنْ كُلِّ جَـــــــانِبْ Dan sungguh jelas keridhoan Alloh, dan pertemuan pun telah dekat Dan sungguh telah datang kegembiraan dari segala penjuru فَقُلْ لِّلنَّفْسِ دُوْنَكِ وَالتَّمَــــــــلِّى # فَمَادُوْنَ الْحَبِيْبِ الْيَوْمَ حَــــاجِبْ Maka bisikkan ke dalam hati, tiada seorang pun kucondongkan rasa cinta. Maka tiada satupun hari ini kepada kekasih, penghalangnya تَمَلَّى بِالْحَبِيْبِ بِكُلِّ قَصْــــــــــدٍ # فَقَدْحَصَلَ الْهَنَا وَالضِـــــدُّ غَائِبْ Condongkanlah rasa cinta kepada kekasih di segala tujuan, Maka sungguh memperoleh kesenangan dan lenyaplah kedukaan. نَبِيُّ اللهِ خَيْرُ الْخَلْقِ جَمْـــــــــــعَا # لَهٗ أَعْلَى الْمَنَاصِــــبِ وَالْمَــــرَاتِبْ Nabi Alloh sebaik-baik seluruh makhluk. Baginya keluhuran pangkat dan martabat tertinggi. لَهُ الْجَاهُ الرَّفِيْــــعُ لَهُ الْمَعَــــــــالِى # لَهُ الشَّرَفُ الْمَــؤَبَّدُ وَالْمَنَـــــاقِبْ Baginya ketinggian kedudukan, baginya segala keluhuran. Kemuliaannya diabadikan dan menjadi kenangan. فَـــــــــلَوْ أَنَّا سَعَيْنَــا كُلَّ يَــــــوْمٍ # عَلىٰ اْلاَحْدَاقِ لاَفَوْقَ النَّجَــــائِبْ Maka seandainya kami menuju tempat, berjalan setiap hari Di atas pandangan, bukan di punggung-punggung unta. وَلَوْ أَنَّا عَمِلْـــــنَا كُلَّ حِــــــــــيْنٍ # لِأَحْمَـــــدَ مَوْلِداً قَــدْ كَانَ وَاجِبْ Dan seandainya kami beramal setiap saat Pada peringatan kelahiran Ahmad, maka sungguh hukumnya wajib. عَلَيْــــهِ مِنَ الْمُــــهَيْـمِنِ كُلَّ وَقْتٍ # صَلاَةٌ مَّا بَدَا نُـــــوْرُ الْكَـــوَاكِبْ Setiap waktu kumohonkan untuknya dari Alloh. Rahmat selama bintang-bintang masih bercahaya. تَعُــــــــمُّ اْلاٰلَ وَالْأَصْحَــــابَ طُرًّا # جَمِـــــــــــــيْعَهُمْ وَعِتْرَتَهُ الْأَطَايِبْ Kepada keluarga dan para sahabat semuanya. Serta semua keturunannya yang baik-baik lagi mulia. اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) ============================= Keterangan : Diriwayatkan di dalam tafsir Imam At-Thobary ‘alaihi rohmatulloh bahwa ketika salah seorang sahabat dari kalangan baduwi (orang dusun) mendengar rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam membaca surat al-Insan sampai ayat terakhir. Surat ini lebih banyak menceritakan tentang kenikmatan dan keindahan surga. Maka berkatalah seorang baduwi itu kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rosululloh, apakah mataku ini akan memandangmu kelak di surga?, engkau sudah menceritakan keindahan surga tapi apakah mataku ini akan memandangmu disana, keindahan surga tidak aku pedulikan karena jika aku tidak memandang wajahmu maka percuma aku masuk ke dalam surga” Karena cintanya kepada nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam terdiam, dan ia pun mengulang pertanyaannya: “Wahai Rosululloh, apakah mataku akan memandangmu di surga?” maka Rosululloh berkata: “ya, kau akan melihat aku kelak di surga”, maka orang baduwi itu terjatuh pingsan karena cinta dan tangisnya, gembira karena telah dijanjikan oleh sang nabi untuk berjumpa dengan nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, dan melihat wajah beliau shollallohu ‘alaihi wasallam. Demikian cintanya kepada nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, hingga ketika orang ini wafat, Rosul SAW pun memanjakannya, Rosul SAW yang menurunkan jenazahnya ke dalam kubur, lalu Rosul SAW memangkunya, sesaat kemudian beliau SAW membaca ayat: إِنَّ هَذَا كَانَ لَكُمْ جَزَاءً وَكَانَ سَعْيُكُمْ مَشْكُوْرًا ( الإنسان : 22 ) “Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)” ( Al-Insan:22) Maka sayyidina Abdulloh bin Umar berkata: “Wahai Rosululloh, siapa orang ini? Dia bukanlah orang yang menonjol diantara para sahabat sehingga kau membacakan ayat ini dan kau sangat memanjakan dia, apa yang dia lakukan? Perjelas wahai Rosul”, maka Rosul SAW berkata: “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya (Alloh), sungguh orang itu saat ini sedang diberdirikan di hadapan Alloh subhanahu wa ta’ala dan Alloh berkata: “Aku akan mensucikan dan menyinari wajahmu” Kenapa? Karena cintanya kepada sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Demikian dengan hewan-hewan, mereka pun mencintai Rosululloh SAW, sebagaimana yang telah disampaikan oleh al-Habib Salim bin Umar al-Hamid bagaimana Syeikh Abdurrahman Ad-Dibaa’i menjelaskan riwayat hamba-hamba yang cinta kepada Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam, maka ketika onta-onta mendekati Madinah al-Munawwaroh, berkata al-Imam Abdurrahman Ad-Dibaa’i: “Jangan kau pegangi onta yang sedang mengarah ke Madinah, karena onta itu bergegas dengan kencang dan jangan tahan kekencangannya karena yang mengendalikannya adalah rindunya kepada sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam”. Semua onta ketika memasuki Madinah al-Munawwaroh, onta-onta itu pun mengalirkan air mata hingga saat ini, kenapa? Karena mengetahui bahwa itu adalah kota sayyidina Muhammad, apakah hewan mengenal beliau SAW? Ya, hewan mengenal beliau, tumbuhan mengenal beliau, bebatuan mengenal beliau, langit dan bumi semuanya mengenal beliau, sebagaimana sabda nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam diriwayatkan dalam Shohih al-Bukhori : ‏ ‏إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا ‏جِبْرِيْلَ ‏فَقَالَ إِنِّيْ أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيْلُ ‏‏ثُمَّ يُنَادِيْ فِي السَّمَاءِ فَيَقُوْلُ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلّانًا فَأَحِبُّوْهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ “Sesungguhnya apabila Alloh mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku mencintai fulan maka cintailah dia! Jibril pun mencintainya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Alloh mencintai fulan, maka cintailah dia! Para penghuni langitpun mencintainya” Maka orang yang paling dicintai Alloh adalah sayyidina Muhammad (saw). Diriwayatkan dalam siroh (kitab sejarah nabi saw), ketika seekor onta besar yang mengamuk di Madinah al-Munawaroh, tentunya jika binatang mengamuk maka ia akan beringas, mulutnya akan berbusa karena marah, sehingga onta itu pun dijerat dalam suatu kandang, dilaporkan bahwa onta besar di Madinah mengamuk, maka sampailah kabar tersebut kepada Rosululloh. Maka Rosululloh berkata: “Tunjukkan aku pada onta itu, maka sahabat berkata: “onta itu dijerat dalam kandang ini wahai Rosululloh”, Rosululloh berkata: “Bukalah pintunya”, maka sahabat pun berkata: “ wahai Rosululloh, onta itu sedang mengamuk dan beringas, nanti ia akan melukaimu”, Rosululloh berkata: “Bukakan pintunya!” Semua hewan dan tumbuhan dan semua makhluk Alloh mengenal Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam. Ketika pintu kandang dibukakan, onta yang berada jauh dari pintu itu kelihatan sedang beringas, merah matanya, dan berbusa mulutnya, tetapi ketika melihat wajah nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, ia pun tertunduk-tunduk lari mendekat mencium kaki Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, melihat wajah sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, wajah makhluk yang paling indah dari semua makhluk ciptaan Alloh, orang yang paling ramah dan tenang, onta itu pun tahu bahwa inilah pimpinan seluruh manusia, orang yang paling dicintai Alloh. Kita bisa bayangkan seekor binatang yang sedang mengamuk, mungkin disini kita jarang melihat onta, jika kita melihat kuda atau kerbau yang mengamuk saja tentunya kita akan risau, padahal onta jika berdiri tingginya dua kali lebih tinggi dari kerbau, bayangkan saja jika mengamuk maka seperti apa buasnya, dalam keadaan seperti itu ia berlari tertunduk-tunduk mendekat menciumi kaki Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, hilang marahnya ketika memandang wajah sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Inilah semulia-mulia idola kita, maka jangan memilih idola yang lain, apalagi orang yang tidak pernah sujud kepada Alloh, apabila kita menjadikannya idola, maka itu akan menjadikan musibah kelak di hari kiamat, di dalam Atsar sahabat dijelaskan bahwa: “Walaupun seorang hamba beribadah ratusan tahun di hadapan Ka’bah, tetap ia tidak akan dikumpulkan kecuali bersama dengan orang yang ia cintai”. Ucapan ini diperkuat dengan riwayat Shohih al-Bukhori dan Shohih Muslim: اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ “ Seseorang bersama dengan orang yang dicintainya” Jika ada yang berkata “seorang seperti aku ini belum pantas cinta kepada Rosululloh”, kalau belum pantas mencintai Rosul, maka tidak terpilih menjadi ummatnya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam. Semua ummat Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam sudah dihalalkan oleh Alloh untuk mencintai nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, bahkan mereka yang masuk Islam pun karena mengenal dan mencintai Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Semoga kita semua tetap menjadikan sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam sebagai idola, hingga kita wafat dan dibangkitkan dalam kelompok orang-orang yang cinta pada beliau (saw) sebagaimana dalam sabdanya: “Seseorang bersama dengan orang yang dicintainya”. Wallohua’lam. Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi Narasumber: Al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa pada Jalsatul Itsnain Majelis Rasulullah SAW, Senin 01 Maret 2010.

Lirik Sholatullahima lahat Kawakib & Tsumma Arudduhu

KalamUlama.com - Maulid Diba #06: Lirik Sholatullahima lahat Kawakib & Tsumma Arudduhu اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan...
Kajian Islam (Kalam ulama). Siapakah diri kita hakikatnya ? Ada sebuah hadist qudsy yang artinya “Barangsiapa mengenal dirinya, maka sungguh ia telah mengenal Tuhannya”. Berdasarkan hadist di atas, sebagai makhluk Tuhan, sudah seharusnya kita mengenal betul siapakah Tuhan kita ? Namun, sebelum mengenal Tuhan, kita harus mengenal diri kita secara hakiki terlebih dahulu. Sehingga muncul pertanyaan, siapakah diri kita hakikatnya ? Untuk menjawab pertanyaan itu. Mari simak percakapan berikut, Umar : Assalamu alaikum, bakar Zaid : Waalaikum salam, umar Umar : Zaid, aku mau tanya sama kamu Ziad : Boleh, mau tanya apa emang ? Umar : Sebenarnya yang namanya Zaid itu mana sih ? Ziad : ini saya, zaid (sambil memegang dadanya) Umar : Serius, itu zaid ? Kalau kataku sih bukan, itu yang kamu tunjuk adalah dadamu Zaid : Bukan itu maksudku, mar ! Dasar kamu mah Umar : Lha terus bagaimana maksudmu ? Zaid : ini saya zaid (sambil menunjuk seluruh tubuhnya) Umar : Serius, itu kamu zaid ? kalau kataku sih bukan , itu badanmu Zaid : emmmm, maksudku ......(sambil mikir) Umar : Baik, coba simak penjelasanku baik-baik ya....... Coba kamu lihat Al-Qur'an QS. Al-insan (76) : 1 : "Bukankah telah datang atas insan suatu masa dari waktu, yang pada masa itu, ia belum menjadi sesuatu yang dapat dikenali?" "...Bukankah Aku Tuhanmu ? Betul Engkau (Tuhan kami), Kami menjadi saksi..." (QS. Al-A'raf (7): 172) Dalam ayat tersebut, Allah SWT telah menerangkan bahwa kita dahulu hakikatnya (pada zaman azaly) sudah ada, tapi kita tapi belum dapat dikenali. Disisi yang lain, Kita juga telah bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan kita. (Dengan muka kaget Zaid menyela) (Baca Juga : Kisah Sufi) Ziad : Bagaimana mungkin, kita diciptakan tapi belum dikenali? Bahkan sudah bersaksi. Memangnya kita diciptakan dalam bentuk apa ? dan saya kok gak ingat ya... Umar : Pertanyaan bagus, Mar. Kamu cerdas, aku lanjutin dulu ya. Dalam surat dan ayat yang lain Allah berfirman : "Sesungguhnya Aku menciptakan mansia dari sari pati tanah. ketika sudah Kusempurnakan lalu Kutiupkan ke dalamnya sebagian dari ruh-Ku (ruh koleksi Ku)..." (QS Shod : 71-72) "Demi diri dan apa-apa yang menyempurnakannya" (QS As-Syams (91) : 7) Sehingga dari ayat Alquran di atas dapat kita hubungkan bahwa hakikatnya kita sudah diciptakan dalam masa dari waktu (ini yang disebut zaman azaly, zaman ini diakhiri saat kita lahir di dunia) dan sudah bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan kita. Setelah itu, Allah menciptakan tubuh berupa basyar dari sari pati tanah (komponen kimia, Carbon, Hidrogen, Oksigen dll). Nah, yang kamu tunjukkan tadi itu adalah basyar. Kemudian Allah meniupkan sebagin dari ruh koleksi Allah kedalam tubuh tersebut. Inilah yang disebut sebagai insan kamil (manusia sempurna) yang terdiri ruh dan basyar. Apabila manusia sudah meninggal dan dikuburkan, maka basyar akan dihancurkan oleh pengurai. Dan ruh akan akan menghadap Allah. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa manusia hakikatnya itu adalah berbentuk Ruh. Zaid : oh, gitu ya ? Umar : yup, benar. Namun sebagian besar manusia lupa dan tidak menyadarinya kalau mereka sebenarnya adalah mahluk ruhani. Sehingga mereka sibuk mengurusi tubuhnya saja (basyar), namun ruhnya tidak dirawat. Maka sudah wajar mereka tidak mengenal Tuhannya seperti hadist qudsy : "Barang siapa telah mengenal dirinya, Maka ia telah mengenal Tuhannya" Ziad : Memang cara merawat ruh itu bagaimana ? Umar : Wah itu panjang lagi ceritanya, aku jelasin kalau ketemu lagi aja ya .... hehehe Zaid : Yah, dasar kamu. Oke dah ditunggu.......... OLeh : Hamzah Alfarisi

Siapakah Diri Kita Hakikatnya ?

Kajian Islam (Kalam ulama). Siapakah diri kita hakikatnya ? Ada sebuah hadist qudsy yang artinya “Barangsiapa mengenal dirinya, maka sungguh ia telah mengenal Tuhannya”. Berdasarkan hadist...

Kajian Wanita Sholihah dan Lelaki Sholih #04: Keutamaan Wanita Sholeh

Oleh : Hamzah Alfarisi Assalamu alaikum Wr. Wb. Pembaca yang dirahmati Allah, sebelumnya kita telah membahas tentang “Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan”. Pada...
Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 26 : Menunda Amal " Menunda amal saat ada waktu luang, sebagai pertanda terpedaya hawa nafsu. " اِحالتكَ الاَعمالِ علىٰ وجودِ الفراغِ من رعوناتِ النـَّفـْسِ Maqalah diatas menjelaskan bahwa jangan sampai waktu kita terlewatkan tanpa aktifitas ibadah, sementara ada kesempatan. Seringkali nafsu memperdaya diri kita tanpa kita sadari, seperti menunda amalan-amalan yang bisa dikerjakan saat ada waku luang, namun kalah dengan rasa malas. Itu sbg pertanda bahwa diri kita masih terbelit oleh nafsu. Karena itu, jangan turuti godaan-godaan hawa nafsu yang akan terus membelit dan memperdaya diri kita supaya kita berpaling dari Allah. (Baca juga : Kajian al-Hikam 25 : Tanda Kebodohan terhadap Kehendak Allah) Mari kita lawan nafsu-nafsu yang membelit diri kita dengan sikap tegas dan disiplin dalam melaksanakan ibadah. Jangan dikasih ruang nafsu-nafsu untuk menguasai diri kita. Inilah sesungguhnya jihad kita yaitu melawan dominasi hawa nafsu dalam diri kita. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam perjuangan melawan hawa nafsu. Oleh : Dr KH Ali M Abdillah, MA al-Rabbani, 1 Mei 2017

Kajian Al-Hikam 26 : Menunda Amal Saat Luang, Perdaya Hawa Nafsu

Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 26 : Menunda Amal " Menunda amal saat ada waktu luang, sebagai pertanda terpedaya hawa nafsu. " اِحالتكَ الاَعمالِ علىٰ...
kalamulama.com- Mengutamakan Adab di Atas Perintah Saya tengah membaca kitab yang terbit tahun 2019 berjudul Tahqiq al-Mathlab bi Ta’rif Musthalah al-Mazhab karya Abdul Qadir bin Muhammad al-Malibari (Hanya 1 jilid dan

Mengutamakan Adab di Atas Perintah

kalamulama.com- Mengutamakan Adab di Atas Perintah Saya tengah membaca kitab yang terbit tahun 2019 berjudul Tahqiq al-Mathlab bi Ta’rif Musthalah al-Mazhab karya Abdul Qadir bin...
Kajian Islam (Kalam Ulama). Beliau seorang Nabi yang diciptakan dan telah menjadi Nabi sebelum Nabi yang pertama: عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ شَقِيقٍ ، عَنْ رَجُلٍ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ ، مَتَى جُعِلْتَ نَبِيًّا ؟ قَالَ : وَآدَمُ بَيْنَ الرُّوحِ وَالْجَسَدِ (رواه أحمد) Sahabat bertanya: “Wahai Rasul, sejak kapan Engkau menjadi Nabi?” Nabi menjawab: “Aku telah menjadi Nabi sementara Adam ada diantara ruh dan jasad” (HR Ahmad, para ulama menilai sahih). (Baca Juga Kenapa Engkau Tidak Mengenalku Wahai Rasulullah?) " كُنْتُ أَوَّل النَّبِيِّيْنً فِي الْخَلْقِ وَآخِرَهُمْ فِي الْبَعْثِ " ابن أبي حاتم في تفسيره وأبو نعيم في الدلائل من حديث أبي هريرة رضي الله عنه Hadis: “Aku adalah Nabi yang pertama diciptakan dan yang terakhir diutus” (HR Abu Nuaim, dinilai dhaif) Bagaimana Kepribadian Nabi Muhammad shalla Allahu alaihi wa sallama? Allah menjelaskan kepribadian Nabi-Nya yang mulia dengan sebaris ayat: لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ [التوبة/128] “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu'min.” (At-Taubah: 128) Berikut bukti penderitaan kita yang menjadi beban bagi Rasulullah, dan beliau teramat sayang pada umatnya: عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ لِى النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « اقْرَأْ عَلَىَّ » . قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ آقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ قَالَ « نَعَمْ » . فَقَرَأْتُ سُورَةَ النِّسَاءِ حَتَّى أَتَيْتُ إِلَى هَذِهِ الآيَةِ ( فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا ) قَالَ « حَسْبُكَ الآنَ » . فَالْتَفَتُّ إِلَيْهِ فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ (رواه البخارى) Rasulullah berkata kepada Ibnu Mas’ud: “Bacalah al-Quran untukku”. Aku berkata: “Apakah aku akan membacakan Quran kepadamu, padahal Quran diwahyukan kepadamu?” Nabi menjawab: “Ya”. aku baca al-Nisa hingga aku sampai ayat 41, Nabi berkata “Cukup”. Aku melihat Kedua mata Nabi menangis” (HR al-Bukhari) Inilah ayat yang menjadikan Rasulullah menangis saat dibacakan oleh Ibnu Mas’ud: ( فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا ) “Maka bagaimanakah apabila Kami mendatang-kan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatang-kan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). (al-Nisa: 41) Syekh Fuad Abd Baqi, pensyarah Sahih Bukhari berkata: وبكاؤه صلى الله عليه و سلم إشفاق على المقصرين من أمته لما تضمنته الآية من هول الموقف Nabi menangis karena kasihan terhadap umatnya yang berbuat dosa karena beratnya perjalanan di akhirat

Siapa Sosok yang Kita Peringati Kelahirannya (Maulid Nabi)?

Kajian Islam Maulid Nabi (Kalam Ulama). Beliau seorang Nabi yang diciptakan dan telah menjadi Nabi sebelum Nabi yang pertama: عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ شَقِيقٍ ، عَنْ رَجُلٍ...