Kajian Islam

Hukum menyentuh, membawa dan membaca Al-Qur'an bagi wanita Haidh dan nifas

Hukum Menyentuh, Membawa dan Membaca Al-Qur’an bagi Wanita Haidh dan Nifas

Wanita haidh/nifas diharamkan untuk menyentuh mushaf dan membawanya. Berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta'ala : لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ Artinya: “Tidak menyentuhnya (mushaf) kecuali orang-orang yang...
Kalam Ulama - Sambutan Sebelum Pemakaman Jenazah yang akan diberangkatkan ke pemakaman, sudah lazim di lingkungan kita ada sambutan dari tokoh yang mewakili keluarga. Rupanya hal semacam ini sudah dilakukan sejak masa ulama salaf: ﻗﺎﻝ ﺟﺮﻳﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﻳﻮﻡ ﻣﺎﺕ اﻟﻤﻐﻴﺮﺓ ﺑﻦ ﺷﻌﺒﺔ، ﻗﺎﻡ ﻓﺤﻤﺪ اﻟﻠﻪ ﻭﺃﺛﻨﻰ ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﻗﺎﻝ: ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺑﺎﺗﻘﺎء اﻟﻠﻪ ﻭﺣﺪﻩ ﻻ ﺷﺮﻳﻚ ﻟﻪ، ﻭاﻟﻮﻗﺎﺭ، ﻭاﻟﺴﻜﻴﻨﺔ، ﺣﺘﻰ ﻳﺄﺗﻴﻜﻢ ﺃﻣﻴﺮ، ﻓﺈﻧﻤﺎ ﻳﺄﺗﻴﻜﻢ اﻵﻥ. ﺛﻢ ﻗﺎﻝ: اﺳﺘﻌﻔﻮا ﻷﻣﻴﺮﻛﻢ، ﻓﺈﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻳﺤﺐ اﻟﻌﻔﻮ Jarir bin Abdullah berkata saat wafatnya Mughirah bin Syu'bah (Gubernur Kufah dimasa Bani Umayyah, 50 H), setelah ia memuji kepada Allah: "Tetaplah kalian bertakwa kepada Allah, yang maha esa tidak ada sekutu bagi Allah. Tetap semangat dan tenang, hingga datang pemimpin baru. Mintalah ampunan kepada Allah untuk Mughirah, karena ia (dahulu) senang memaafkan" ﺛﻢ ﻗﺎﻝ: ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ، ﻓﺈﻧﻲ ﺃﺗﻴﺖ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﻠﺖ: ﺃﺑﺎﻳﻌﻚ ﻋﻠﻰ اﻹﺳﻼﻡ ﻓﺸﺮﻁ ﻋﻠﻲ: «ﻭاﻟﻨﺼﺢ ﻟﻜﻞ ﻣﺴﻠﻢ» ﻓﺒﺎﻳﻌﺘﻪ ﻋﻠﻰ ﻫﺬا، ﻭﺭﺏ ﻫﺬا اﻟﻤﺴﺠﺪ ﺇﻧﻲ ﻟﻨﺎﺻﺢ ﻟﻜﻢ، ﺛﻢ اﺳﺘﻐﻔﺮ ﻭﻧﺰﻝ Jarir berkata: "Sungguh aku mendatangi Nabi shalla Allahu alaihi wasallam dan saya berbaiat atas Islam. Maka Nabi memberi syarat kepada saya untuk menasehati sesama Muslim. Saya terima baiat itu. Demi Allah pemilik masjid ini, sungguh aku memberi nasehat kepada kalian". Kemudian ia beristighfar lalu turun (Sahih Bukhari sebelum Bab Ilmu) Ustadz Ma'ruf Khozin Subscribe Channel Kalam Ulama TV : https://www.youtube.com/c/KalamUlamaOfficial Semoga bermanfaat dan berkah, jangan lupa bagikan!!!

Ustadz Ma’ruf Khozin : Sambutan Sebelum Pemakaman

Kalam Ulama - Sambutan Sebelum Pemakaman Jenazah yang akan diberangkatkan ke pemakaman, sudah lazim di lingkungan kita ada sambutan dari tokoh yang mewakili keluarga. Rupanya...
Kajian Islam (Kalam ulama). Keutamaan laki-laki atas perempuan Segala puji bagi Allah yang telah meneciptakan lelaki pemimpin bagi perempuan. Allah berfirman dalam surat an-Nisa ayat 34 : الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ. “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.”  Kata الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء mengandung maksud : Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, maksutnya laki-laki itu penguasa atas adab (tingkah laku) perempuan. Seakan-akan Allah menjadikan lelaki pemimpin bagi perempuan dan pelaksana hukum dalam hak-hak perempuan. Seperti dalam kitab “Mafatihu al-Ghoib” juz 10 halaman 80. Dalam kitab “Mafatihul Ghoib” juz 10 halaman 80-81 : “Sesungguhnya Allah telah menetapkan laki-laki sebagai pemimpin perempuan dan pelaksana urusan perempuan. Hal itu disebabkan oleh dua perkara : Firman Allah : oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Ketahuilah seungguhnya keutamaan lelaki atas perempuan itu dari berbagai bentuk. Sebagian sifat haqiqiyyah dan sebagian lagi ahkamul syar’iyyah (hukum-hukum syariat). Adapun sifat haqiqiyyah kembali kepada dua perkara : ilmu dan kemampuan. Tak diragukan lagi bahwa akal dan ilmu lelaki lebih banyak. Tak diragukan pula kemampuan melakukan pekerjaan yang berat lebih sempurna. Oleh karena itu dua sebab inilah yang menjadikan keutamaan lelaki atas perempuan. Dalam hal lain yaitu akal, pengambilan keputusan, keuataan, tulis-menulis pada umumnya, tunggang-menunggang kuda, dan panahan. Sungguh nabi-nabi dan ulama dari kaum lelaki. Pemimpin besar maupun kecil juga dari kaum lelaki, jihad, adzan, khutbah, i’tikaf, saksi dalam hudud, qishoh dengan kesepakatan. Adapun dalam hal pernikahan kata imam syafi’i yaitu tambahan bagian dalam hal warisan, tangungan diyat dalam hal pembunuhan dan kesalahan, perwalian dalam pernikahan, talak, rujuk, jumlah istri, dan nasab. Semuanya adalah keutamaan lelaki atas perempuan. Sebab kedua yaitu fadhilah firman Allah : karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Maksutnya, lelaki lebih utama dari pada perempuan karena lelaki memberi mahar dan menafkahinya (perempuan). Dalam tafir “al-Baghawi” : memberikan mahar dan nafkah, diriwatkan dari Muad bin Jabal RA berkata: Rasulullah SAW bersabda : لو كنت امرا أحدا أن يسجد لاحد لامرت المرأة أن تسجد لزوجها “ Ketika saya menjadi seseorang penyuruh seseorang untuk bersujud, maka sungguh aku perintahkan perempuan (istri) bersujud kepada suaminya. Oleh : Hamzah Alfarisi

Keutamaan Laki-Laki atas Perempuan

Kajian Islam (Kalam ulama). Keutamaan laki-laki atas perempuan Segala puji bagi Allah yang telah meneciptakan lelaki pemimpin bagi perempuan. Allah berfirman dalam surat an-Nisa ayat 34...
  Kajian Al Hikam (Kalam Ulama).  Siapa yang tak kenal dengan kitab Safinatun Najah? Kitab fiqh yang sangat ringkas dan mudah dipahami bagi para pemula dan masyarakat umum. Dalam dunia Pesantren, kitab ini tergolong kitab fiqh wajib yang biasa dipelajari di kelas Ibtida`iyyah, setingkat Sekolah Dasar (SD). Secara global, kitab ini mengupas dasar-dasar agama, tata cara bersuci, seperti “cebok” (istinja`), wudlu`, bagaiamana kita beribadah kepada Allah, seperti salat, dengan benar, serta mengajarkan jenis dan berapa harta yang wajib kita keluarkan sebagai zakat. Klimaksnya, kitab Safinah ini sangat diperlukan bagi siapa saja yang hendak mengamalkan ajaran Islam, tidak hanya dalam waktu yang cepat, tapi juga dengan tepat. Baca Juga : Kajian Safinah Najah #02 : Biografi Pengarang Kitab   Nah, tahukah Anda bahwa kitab kecil ini tidak hanya menjadi acuan fiqh umat Islam di Indonesia, tetapi juga di berbagai belahan dunia. Karena bahasanya sangat simple, kitab ini juga menjadi kiblat fiqh pertama bagi para pelajar sebagian negeri di Afrika dan Timur Tengah. Di Hadlramaut, Yaman, misalnya, hampir semua anak kecil diajari fiqh dengan kitab Safinah, baik di rumah maupun di lembaga pendidikan mereka. Di Makkah, jauh sebelum rezim Saudi berkuasa hingga sekarang, kitab Safinah selalu eksis sebagai mata pelajaran wajib di beberapa lembaga pendidikan, seperti Ash-Sholatiah, Darul ‘Ulum rintisan Syekh Yasin Al-Fadany, dan madrasah-madrasah lainnya.   Begitu juga di belahan benua Afrika seperti Ethiopia (Al-Habasyah), Tanzania, Shomalia, Kenya dan Nigeria, kitab Safinah sangat terkenal dan bermanfaat. Bahkan, di dunia Eropa kini, kitab ini menjadi media termudah untuk mengenalkan ilmu fiqh bagi para mu`allaf, orang-orang “bule” yang memeluk Islam. Tidah heran, kitab Safinah telah ditranslit ke berbagai bahasa lokal dan global, mulai dari bahasa Jawa, Sunda, Melayu, hingga bahasa-bahasa lokal Afrika, Inggris, Jerman, sampai bahasa China. Ini semua menunjukkan betapa dahsyatnya kemanfaatan kitab Safinah Najah bagi dunia Islam lintas era dan benua.   Di masa silam, banyak ulama yang sangat peduli dengan kitab mungil ini. Tidak sedikit yang menguraikan kata perkata dari setiap kalimat kitab ini dalam bentuk Syarh maupun Hasyiah. Dan juga, banyak yang menggubah bait-bait syi`ir dari kitab Safinah agar dilantunkan dengan indah dan dihafal dengan mudah oleh para pelajar pemula (mubtadi`). Disini kami lampirkan daftar enam nadzam/mandzumah dan delapan syarah-hasyiah sekaligus identitas penulis masing-masing sebagai berikut[1]:    Enam Nadzam Safinah   1. Nadzam karya Sayyid Abdullah bin ‘Ali Al-Haddad  2. Nadzam gubahan Sayyid Muhammad bin Ahmad Ba`aqiel 3. Nadzam Syekh Shiddiq bin Abdullah Lasem 4. Tanwirul Hija` nadzm Safinatun Naja Nadzam ini gubahan Syekh KH. Akhmad Qusyairi bin Siddiq lahir di Lasem dan tinggal di Pasuruan. Selesai menuntaskan nadzam ini pada tahun 1343 H, dengan penambahan bab Puasa, Haji-‘Umroh, dan ditutup dengan nasihat-nasihat. Nadzam ini dipelajari di banyak pondok pesantren Indonesia. 5. Al-Lu`lu`ah Ats-Tsaminah nadzm As-Safinah karya Syekh Muhammad bin Ali Zakin Al-Kindiy 6. As-Subhah Ats-Tsaminah nadzmis Safinah karya Sayyid Ahmad Masyhur bin Thaha Al-Haddad (1325-1416 H). Konon, beliau menggubah nadzam ini saat berusia 20 tahun atau lebih muda lagi.   Terlihat dari keenam nadzam diatas, dua dari Indonesia, dan lainnya dari penulis-penulis kebangsaan Hadlramaut-Yaman. Menunjukkan dua bangsa ini memiliki titik kesamaan: sangat kreatif mentransformasikan ilmu pengetahuan melalui sastra yang indah, agar para pelajar tak lelah menelaahnya.   Delapan Syarah-Hasyiah Safinah   1. Kasyifatus Saja` ‘ala Safinatin Naja karya Syekh Muhammad Nawawi Banten (1230-1314 H). Kitab ini merupakan syarah pertama bagi kitab Safinah dan tergolong paling lengkap. Di akhir kitab, Syekh Nawawi menambahi pembahasan Puasa, yang tak sempat ditulis oleh Syekh Salim bin Sumair, pengarang Safinah.   2. Ad-Durratust Tsaminah Hasyiah ‘alas Safinah karya Syekh Ahmad Al-Hadlrawi (1252-1327 H). Atas titah sang guru, beliau memulai karya ini di bumi Ethiopia-Afrika, dan menuntaskannya di Tha`if. Syekh Ahmad menambahkan bab Haji-Umroh plus Adab berziarah pada akhir kitab.   3. Nailur Raja` ‘ala Safinatin Naja karya Sayyid Ahmad bin Umar Asy-Syathiri (1312-1360 H), termasuk syarah yang sedang, tidak panjang, tapi juga tidak pendek. Isinya sangat sarat dan padat.   4. Inaratud Duja bi Tanwiril Hija` bi Nadzmi Safinatin Naja karya Syekh Muhammad Ali Al-Maliky (1287-1368 H). Meski menjabat sebagai Mufti Maliky di Makkah, perhatian beliau terhadap madzhab Syafi’i cukup luar biasa. Terbukti syarah Inarah ini merupakan syarah yang sangat mencerahkan dan luas wawasannya.   5. Wasilatur Raja` syarh Safinatin Naja karya Syekh Hasan Syirazi asal timur Afrika, usai ditulis tahun 1366 H.   6. Ad-Durratul Yatimah syarhus Subhatuts Tsaminah nadzm As-Safinah karya Al-Ustadz Muhammad bin Ali Ba’athiyyah lahir di Daw’an, Hadlramaut pada tahun 1382 H. Kitab ini merupakan syarah nadzm Safinah gubahan gurunya, Sayyid Ahmad Masyhur.   7. Ghayatul Muna syarh Safinatin Naja karya Syekh Muhammad bin Ali Ba’athiyyah juga. Syarh ini termasuk karya terbaru dan terluas, menyempurnakan syarh Kasyifatus Saja’ Syekh Nawawi Banten.   8. Sullamur Raja` bi Syarh Safinatin Naja karya Syekh Utsman bin Muhammad Sa`id kelahiran Jambi-Indonesia tahun 1320 H.   Dari keempat-belas karya monumental (total nadzam plus syarah-hasyiah) di atas, bisa kita lihat keberkahaan dan manfaat kitab Safinah ini. Meski mungil, tapi begitu mendunia. Dari negeri asal penulis, Yaman, hingga ke pelosok Nusantara dan Afrika, kitab ini terus dikaji dan diperkaya berbagai syarh dan gubahan syi’ir. Benar-benar seperti arti namanya, kitab ini bak Perahu Keselamatan yang melintasi berbagai madzhab fiqh, mengarungi lintas benua-samudera, dan menyelematkan setiap penumpangnya dari badai-ombak kehidupan yang suram menenggelamkan.               Akhir kata, kitab Safinah memuat intisari sebagian cara kita beragama dengan benar. Karenanya, mari kita mengaji-ulang sehingga mampu mengamalkannya. Tentu tidak hanya saklek, tapi pengajian ini akan kita perkaya dengan khazanah fiqh yang aktual dan dilengkapi dengan nilai-nilai hikmah di balik kajian yang kita angkat.   Semoga, melalui pengajian Safinah ini, kelak Allah Swt sudi mengantarkan ilham-Nya kepada kita sebagi sebuah ilmu yang dengannya kita mampu memahami segala titah dan larangan-Nya, dan menganugerahkan sebuah kesadaran yang mencerahkan kita, bagaimana mestinya kita ber-munajat kepada-Nya. Amiin Oleh : Roby Mohammad [1] Pengantar Sayyid Umar bin Hamid Al-Jaylani Hafidzahullah di Kitab Ad-Durratul Yatimah, 21-26, cet.

Kajian Safinatun Najah #01 : Safinah Najah, Kitab Mungil yang Mendunia

Kajian Al Hikam (Kalam Ulama).  Siapa yang tak kenal dengan kitab Safinatun Najah? Kitab fiqh yang sangat ringkas dan mudah dipahami bagi para pemula dan masyarakat umum. Dalam dunia...
Kajian Islam (Kalam Ulama). Nasehat Pernikahan #4: Suami adalah Pengontrol Istri. Ada yang berpendapat bahwa cinta itu ada batasnya, sehingga cinta kepada orang yang kita cintai itu harus dibatasi dalam beberapa kasus. Diantaranya seperti, istri sedang sakit dan dilarang oleh dokter untuk memakan makanan tertentu. Maka terhadap orang yang kita cintai, kita harus melarangnya. Ini adalah bentuk cinta yang terbatas. Namun, menurut kami ini bukan cinta yang terbatas. Justru pelarangan itu adalah suatu bentuk ekspresi cinta dengan wajah yang lain (pelarangan) untuk memperoleh tujuan yang lebih tinggi, yaitu kesehatan. Karena cinta terkadang terlihat buruk di mata orang yang kita cintai, namun hakikatnya terbaik untuknya. Diantara bentuk ekspresi cinta dengan wajah yang lain adalah seyogyanya seorang suami tidak membiarkan istrinya mengikuti hawa nafsunya sampai melebihi batas dalam bersendau-gurau, sehingga merusak akhlaknya dan menjatuhkan martabat suami dihadapan istrinya. Namun, suami harus menjaga keseimbangan (mengontrol) dalam bersendau-gurau dan tidak meninggalkan kewibawaan, serta mencegahnya ketika melihat kemungkaran. Yang lebih penting, suami tidaklah menolong istri dalam kemungkaran. Apabila melihat kemungkaran, suami hendaknya membenci kemungkaran tersebut. (Baca juga: Nasehat Pernikahan #3: Candaan Mesra Rasulullah dengan Aisyah) Syaikh Hasan pernah berkata: “Tidaklah lelaki yang taat kepada istrinya dalam kemaksiatan kecuali Allah mengekangnya dalam neraka”. Perkataan Syaikh Hasan mengisyaratkan betapa buruknya lelaki yang menuruti istrinya dalam kemaksiatan. Sayyidina Umar RA juga berkata: “Berbedalah kalian dengan perempuan, karena sesungguhnya dalam menyelisihinya terdapat keberkahan” atau dalam riwayat lain “bermusyawarahlah dan berselisihlah dengannya”. Sayyidia Umar RA memberikan isyarat bahwa apabila perempuan sudah dibawah kendali hawa nafsunya, maka berbedalah dengannya. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Celaka, hambanya istri.” Nabi berkata demikian, karena apabila suami taat kepada istrinya dalam menuruti hawa nafsunya, maka ia adalah hambanya. Sungguh ia celaka, karena sesungguhnya Allah memberikan milik perempuan kepada suaminya, suami memilikinya, kemudian sugguh ia membalik keputusan itu dan ia mengikuti setan. Setan berkata: “Sungguh aku akan memerintahkah mereka, kemudian mereka menggantinya. Allah menciptakan, bahwa hak-hak lelaki adalah orang yang diikuti (Matbuu’), bukan orang yang mengikuti (Taabi’). Ayat al-Qur’an yang memperkuat karakter lelaki sebagai Matbu’ adalah firman Allah surat An-Nisa ayat 34: “Lelaki adalah pemimpin bagi para perempuan”, dan Allah dalam Al-Qur’an memberikan sebutan “sayyid” untuk suami, dalam firman Allah surat yusuf ayat 25: “…dan keduanya mendapati sayyid-nya (suami perempuan) itu di depan pintu…” Karakter perempuan itu bergantung karakter dirimu: Jika kamu melepas kendalinya sedikit, maka ia akan berbuat nakal banyak Jika kamu mengendorkan kendalinya sebentar saja, maka ia akan menarik berhasta-hasta ( 1 hasta = panjang dari siku sampai ujung jari) (jika dikendorkan sedikit, maka berbuatnya lebih banyak daripada kadar yang dikendorkan tersebut) Jika kamu mencegahnya dan mengikatkan kepada tanganmu di tempatnya, maka kamu memilikinya. Sehingga Imam As-Syafi’i mengilustrasikan karakter perempuan dalam perkataan beliau: “Ada tiga perkara, apabila kamu memuliakannya, maka mereka akan merendahkanmu, dan apabila kamu merendahkannya, mereka memuliakanmu, Mereka adalah (1) perempuan, (3) pembantu dan (4) orang yang menggarap sawah”. Maksud dari kata perkataan tersebut yaitu apabila kamu memurnikan kemuliaan dan kamu tidak mencampurkan kekasaranmu dengan kelembuatanmu. Perempuan bangsa Arab mengajarkan kepada anak-anak perempuannya tentang suami. Mereka berkata kepada anak perempuannya: “cobalah suamimu dengan maju dan berani. Cabutlah besi diujung tombaknya, apabila ia diam maka potonglah daging atas perisainya. Apabila ia diam maka pecahlah tulang belulang dengan pedangnya. Apabila dia diam, maka jadikanlah pelana atas punggungnya dan tunggangilah. Karena sesungguhnya ia adalah khimarmu”. Perkataan perempuan arab kepada anak perempuannya ini menggambarkan bahwa istri akan semakin berani dengan suami jika suami membiarkan/melonggarkannya. Apalagi dalam kata terakhir “Dia adalah khimarmu” menggambarkan bahwa suamimu adalah orang yang dapat ditunggangi dibawah kontrolnya. oleh : Hamzah Alfarisi

Nasehat Pernikahan #4: Suami adalah Pengontrol Istri

Kajian Islam (Kalam Ulama). Nasehat Pernikahan #4: Suami adalah Pengontrol Istri. Ada yang berpendapat bahwa cinta itu ada batasnya, sehingga cinta kepada orang yang kita...
KalamUlama.com - 5 Hal yang Penting Diketahui untuk Menyambut Bulan Ramadhan. Menyiapkan Diri Sejak Sya’ban Suasana menyambut bulan Ramadhan perlu disiapkan sejak sebelum datangnya Ramadhan untuk melatih dan membiasakan lebih dahulu menyiapkan diri sejak di bulan Sya’ban: وَلَمَّا كَانَ شَعْبَانُ كَالْمُقَدِّمَةِ لِرَمَضَانَ شُرِعَ فِيْهِ مَا يُشْرَعُ فِي رَمَضَانَ مِنَ الصِّيَامِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ “Ketika Sya’ban seperti mukaddimah (pendahuluan) bagi Ramadhan, maka disyariatkan di bulan Sya’ban hal-hal yang disyariatkan di bulan Ramadhan, seperti puasa dan baca al-Quran” (Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma’arif 1/138) Umat Islam sejak masa Sahabat telah mempersiapkan diri sejak Sya’ban dengan ibadah dan sedekah: عَنْ أَنَسٍ قَالَ : كَانَ الْمُسْلِمُوْنَ إِذَا دَخَلَ شَعْبَانُ انْكَبُّوْا عَلَى اْلمصَاحِفِ فَقَرَؤُهَا وَأَخْرَجُوْا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ تَقْوِيَّةً لِلضَّعِيْفِ وَالْمِسْكِيْنِ عَلَى صِيَامِ رَمَضَانَ Diriwayatkan dari Anas berkata “bahwa umat Islam ketika masuk bulan Sya’ban, maka senantiasa membaca al-Quran dan mengeluarkan zakat hartanya, sebagai bantuan untuk orang miskin dalam menghadapi puasa” (Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma’arif 1/138) Keterangan di atas menjelaskan dengan gamblang bahwa umat Islam ketika memasuki bulan Sya’ban senantiasa membaca Al-Qur’an, serta mengeluarkan zakat kepada fakir miskin agar mereka mampu menghadapi puasa. Marhaban Ya Ramadhan عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ» Dari Abu Hurairah bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Telah datang pada kalian, bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah wajibkan puasa Ramadhan. Pintu langit dibuka, pintu neraka ditutup, syetan dibelenggu. Di dalam-nya ada lailatul qadar” (HR Nasai) Perintah Rukyat Puasa diwajibkan manakala berhasil melakukan rukyat atau melihat bulan: صُوْمُوْا لرُؤْيتهِ وَأفطِروْا لرؤْيتهِ فإنْ غم عَليكُمْ فأكْمِلوْا عِدةَ شَعْبانَ ثلاثيَْْن {رواه البخارى ومسلم والنسائى عن أبى هريرة} Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Berpuasalah karena melihat hilal dan akhiripuasa karena melihat hilal. Jika terhalang maka sempurnakan Sya’ban 30 hari” (HR al-Bukhari, Muslim dan an-Nasai dari Abu Hurairah) Hisab Untuk Puasa dan Hari Raya Di masa Tabi’in sudah dikenal ada pendapat menggunakan hisab atau astronomi: وَرُوِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ إِذَا أُغْمِيَ الِْهلَالُ رُجِعَ إلَى الْحَسَابِ بِمَسِيِْرِ القَمَرِ وَالشَّمْسِ وَهُوَ مَذْهَبُ مُطَرِّفِ بْنِ الشِّخِّيْرِ، وَهُوَ مِنْ كِبَارِ التَّابِعِيْنَ ِDiriwayat dari sebagian ulama Salaf “bahwa jika hilal terhalang oleh mendung, maka dikembalikan kepada ilmu hisab (astrologi). Ini adalah madzhab Mutharrif bin Syikhir, salah satu Tabiin senior” (Bidayat al-Mujtahid 1/228) Dengan demikian ilmu Hisab bukan ilmu baru untuk dijadikan pedoman menentukan bulan, bahkan yang mengamalkan ilmu hisab adalah salah satu pendapat dalam madzhab Syafiiyah: الشافعِيةُ قالوْا : يُعْتَبَرُ قَولُ الْمُنجِمِ فِى حَقِ نَفْسِهِ وَحَقِ مَنْ صَدقهُ وَلَا يََِجبُ الصوْمُ عَلَى عمُوْم الناسِ بقَوْلهِ عَلَى الراجِحِ (الفقه على المذاهب الأربعة) Kalangan Madzhab Syafiiyah berkata “Pendapat ahli hisab dapat diterima bagi dirinya sendiri dan orang yang percaya padanya. Orang lain tidak wajib puasa berdasarkan pendapat yang kuat” (Madzahib al-Arba’ah 1/873) Wajib Mengikuti Itsbat [ketapan] Pemerintah قالَ سَهْلُ بنُ عَبْدِ اللِه التسْتُُرى اطِيعوْا السُّلْطانَ فِ سَبْعَةٍ ضَرْبِ الدراهِمِ وَالدنََانيِْْر وَالْمَكَاييْلِ وَالأوْزانِ وَالأَحْكَام وَالْْحجِ وَالْْجمْعَةِ وَالعِيْدَينِ وَالْْجهَادِ . تفسيْر القرطبي 5 /259 والبحر المحيط لاب حيان الاندلسي 3 / 696 Sahal bin Abdillah al-Tusturi berkata: “Patuhilah pemerintah dalam 7 hal: Pemberlakuan mata uang, ukuran dan timbangan, hukum, haji, salat Jumat, dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), dan jihad" (Tafsir al-Qurthubi V/259 dan Abu Hayyan dalam al-Bahr al-Muhith III/696)

Menyambut Bulan Ramadhan, 5 Hal yang Penting Diketahui!!!

KalamUlama.com - 5 Hal yang Penting Diketahui untuk Menyambut Bulan Ramadhan. Menyiapkan Diri Sejak Sya’ban Suasana menyambut bulan Ramadhan perlu disiapkan sejak sebelum datangnya Ramadhan...
Kalam Ulama - Doa Malaikat untuk 12 Golongan 1. Orang yang tidur dalam keadaan suci. عن ابن عمر رضي الله عنْهما قال : قال رسوْل الله صلى الله عليْه وسلم : " منْ بات طاهرا ؛ بات في شعاره ملكٌ فلمْ يسْتيْقظْ إلا قال الملك:اللهـم اغْفـرْ لعبْـدك فـلان ؛ فـإنه بـات طـاهـرا " "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa: Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci." (HR. Imam Ibnu Hibban dari Abdullah bin Umar) 2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ : " إِنَّ أَحَدَكُمْ مَا قَعَدَ يَنْتَظِرُ الصَّلاةَ فَهُوَ فِي صَلاةٍ مَا لَمْ يُحْدِثْ ، تَدْعُو الْمَلائِكَةُ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ " . "Tidaklah salah seorang di antara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya: Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia." (HR Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Muslim 469) 3. Orang-orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah. عن البراء بن عازب رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((إن الله وملائكته يصلون على الصفوف الأول)) "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf-shaf terdepan." (Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib) 4. Orang-orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf). عن عائشة قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إن الله وملائكته يصلون على الذين يصلون الصفوف، ومن سدّ فرجة رفعه الله بها درجة)) "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf." (Para Imam, yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah) 5. Orang yang mengucapkan 'aamiin' ketika seorang Imam selesai membaca Al-Fatihah. إذا قال الإمام: {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ}، فقولوا آمين، فإنه من وافق قوله قول الملائكة، غفر له ما تقدم من ذنبه» "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu." (HR. Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari 782) 6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. عن أبي هريرة أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال : الملائكة تصلي على أحدكم ما دام في مصلاه الذي صلى فيه ما لم يحدث ، اللهم اغفر له اللهم ارحمه "Para malaikat akan selalu bershalawat (berdoa) kepada salah satu di antara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat di mana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata: Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia." (HR. Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106) 7. Orang-orang yang melakukan shalat Shubuh dan 'Ashar secara berjama'ah. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يتعاقبون فيكم ملائكة بالليل وملائكة بالنهار ويجتمعون في صلاة الصبح وصلاة العصر ثم يعرج الذين باتوا فيكم فيسألهم الله – وهو أعلم بهم – كيف تركتم عبادي؟ فيقولون تركناهم وهو يصلون “Para Malaikat dimalam dan siang hari silih berganti mengawasi kalian, dan mereka berkumpul pada saat shalat Subuh dan shalat Ashar, kemudian para malaikat yang mengawasi kalian semalam suntuk naik (ke langit). Allah menanyakan kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui dari mereka, “Dalam keadaan apakah kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?” Mereka menjawab, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mengerjakan shalat” (Muttafaqun ‘alaihi) 8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. عن أبي الدرداء عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((دعوة المرء المسلم لأخيه بظهر الغيب مستجابة، عند رأسه ملك، كلما دعا له بخير قال الملك الموكل به: آمين، ولك بمثل)) "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya,setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan." (HR. Imam Muslim dari Abi Darda', Shahih Muslim 2733) 9. Orang-orang yang berinfak. عن أبي هريرة -رضي الله تعالى عنه- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: (ما من يوم يصبح العباد فيه إلا ملكان ينزلان فيقول أحدهما: اللهم أعطِ منفقاً خلفاًً، ويقول الآخر: اللهم أعطِ ممسكاً تلفاً) "Tidak satu hari pun di mana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu di antara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit." (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari 1442 dan Shahih Muslim 1010) 10. Orang yang sedang makan sahur. عن ابن عمر رضي الله عنهما: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((إن الله تعالى وملائكته يصلون على المتسحرين)) "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa) kepada orang-orang yang sedang makan sahur. Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa sunnah." (HR. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, dari Abdullah bin Umar) 11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit. مَا مِنْ رَجُلٍ يَعُودُ مَرِيضًا مُمْسِيًا إِلَّا خَرَجَ مَعَهُ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَسْتَغْفِرُونَ لَهُ حَتَّى يُصْبِحَ وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ وَمَنْ أَتَاهُ مُصْبِحًا خَرَجَ مَعَهُ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَسْتَغْفِرُونَ لَهُ حَتَّى يُمْسِيَ وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ Tidaklah seseorang menjenguk orang sakit pada sore (malam) hari kecuali 70 ribu Malaikat keluar beristighfar untuknya sampai pagi hari dan ia berada di taman surga. Barangsiapa yang menjenguknya di waktu pagi 70 ribu Malaikat akan keluar beristighfar untuknya sampai sore (malam) hari dan ia berada di taman surga (H.R Abu Dawud, atTirmidzi) 12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. عن أبي أمامة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((فضل العالم على العابد كفضلي على أدناكم))، ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إن الله وملائكته، وأهل السموات والأرض، حتى النملة في جحرها، وحتى الحوت ليصلون على معلمي الناس الخير)). "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah di antara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain." (HR. Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily). Wallâhu A'lam.

Untuk Siapa Doa Malaikat untuk 12 Golongan?

Kalam Ulama - Doa Malaikat untuk 12 Golongan 1. Orang yang tidur dalam keadaan suci. عن ابن عمر رضي الله عنْهما قال : قال رسوْل الله...

Kajian Maulid Diba’ #21 : Falamma Roathu Halimah

اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) فَلَمَّا رَأَتْهُ حَلِيْمَةُ سَالِمًا مِنَ الْأَهْوَالِ Maka ketika Halimah...

Kajian Maulid Diba’ #12 “Ahdhiruu Quluubakum”

اللهم صل وسلم وبارك عليهYa Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) أَحْضِرُوْا قُلُوْبَكُمْ يَامَعْشَرَ ذَوِي الْأَلْبَابِ Hadirkanlah hati kalian, wahai golongan...
KalamUlama.com - Awwalu Maa Nastaftihu - Kajian Maulid Diba (07) اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang أَوَّلُ مَا نَسْتَفْتِحُ بِـإِيْرَادِ حَدِيْثَيْنِ وَرَدَا عَنْ نَبِيٍّ كَانَ قَدْرُهٗ عَظِيْمًا Pertama kali kami awali hal ini dengan mengemukakan dua buah hadits datang dari Nabi yang berkedudukan agung. وَنَسَبُهٗ كَرِيْمًا وَصِرَاطُهٗ مُسْتَقِيْمًا Dan bernasab mulia serta lurus perjalanan hidupnya. قَالَ فِيْ حَقِّهٖ مَنْ لَّمْ يَزَلْ سَمِيْعًا عَلِيْمًا Alloh berfirman: Demi hak Muhammad. Dzat yang tiada terIepas dari sifat Maha Mendengar dan Maha Melihat, إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىٰ النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا Bahwasanya Alloh dan para malaikat-Nya selalu bersholawat untuk Nabi, wahai orang-orang yang beriman, mohonkan rahmat dan salam dengan kesungguhan untuknya. اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) --------------------------- Keterangan : Allohu subhanahu wata’ala bersholawat kepada hamba-hambaNya maksudnya adalah bahwa Alloh melimpahkan rahmat kepada mereka. Sedangkan sholawat dari malaikat adalah bahwa malaikat memohonkan pengampunan dosa-dosa untuk hamba kepada Alloh subhanahu wata’ala. Adapun sholawat dari manusia adalah berupa doa dan munajat kepada Alloh subhanahu wata’ala agar menambahkan kemuliaan kepada sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, makhluk yang paling dicintai Alloh subhanahu wata’ala. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا ( رواه مسلم ) “Barangsiapa yang bersholawat kepadaku satu kali, maka Alloh bersholawat kepadanya ( melimpahkan rahmat) sepuluh kali”. ( HR. Muslim) Sungguh ribuan sholawat dari kita tidak berarti dibanding dengan sholawat Alloh, bahkan jika seluruh alam semesta ini bersholawat maka hal itu tidak akan menyamai satu sholawat dari Alloh subhanahu wata’ala. Maka dari hadits tersebut terbukalah rahasia keagungan cinta Alloh subhanahu wata’ala kepada orang-orang yang mencintai nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Alloh subhanahu wata’ala akan bersholawat sepuluh kali untuk orang yang bersholawat kepada nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam satu kali. Hal ini menunjukkan sungguh besarnya sambutan Alloh subhanahu wata’ala kepada yang mencintai sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, satu kali cinta seseorang kepada sang nabi maka Alloh jawab dengan sepuluh kali cinta dari Alloh subhanahu wata’ala. Jadi mencintai nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam bukanlah perbuatan yang kultus atau syirik, namun mencintai nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam adalah merupakan anugerah besar dan akan berlanjut dengan limpahan anugerah yang lebih besar dari Alloh subhnahu wata’ala di dunia dan akhirat. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ “Barangsiapa yang bersholawat kepadaku satu kali, Alloh bersholawat untuknya sepuluh kali, dan dihapuskan darinya sepuluh kesalahan (dosa), dan ditinggikan baginya sepuluh derajat”. Adapun yang dimaksud dengan ditinggikan sepuluh derajat adalah didekatkan kepada Alloh subhanahu wata’ala sepuluh kali lebih dekat dari keadaan sebelumnya, maka seandainya seseorang yang hidup di saat ini ia bersholawat kepada nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasalam satu kali, maka ia akan mendapatkan sepuluh kali sholawat dari Alloh subhanahu wata’ala, dan dihapuskan darinya sepuluh dosa, serta ia terangkat sepuluh derajat lebih dekat kepada Alloh subhanahu wata’ala, sungguh betapa beruntungnya orang yang cinta kepada sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, betapa mulianya perkumpulan sholawat kepada sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Maka setelah bersholawat kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, pilihlah doa yang ingin diminta dan dipanjatkan kepada Alloh subhanahu wata’ala karena orang tersebut telah terangkat sepuluh derajat lebih tinggi, dan telah berjatuhan darinya sepuluh dosa, sehingga ia berada lebih dekat pada pintu terkabulnya doa-doa, demikian agungnya kemuliaan satu sholawat. Dan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda dan teriwayatkan dalam Mu’jam al-Kabiir oleh al-Imam at-Thobroni: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ عَشْرًا بِهَا مَلَكٌ مُوَكَّلٌ بِهَا حَتَّى يُبْلِغْنِيهَا “ Barangsiapa bersholawat kepadaku, Alloh bersholawat dan bersalam kepadanya sepuluh, dan sholawat itu ada malaikat yang membawanya hingga menyampaikannya kepadaku” Dalam hadits ini ditambahkan bahwa Alloh subhanahu wata’ala juga memberi salam kepada yang bersholawat kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam. Seseorang jika mendengar bahwa pak RW kirim salam kepadanya, tentu orang tersebut akan sangat gembira, terlebih jika yang memberi salam adalah lurah, bupati, gubernur, atau presiden, dan terlebih lagi jika yang bersalam adalah Robbul ‘alamin subhanahu wata’ala karena seseorang telah bersholawat kepada sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Maka beruntunglah orang-orang yang duduk dalam perkumpulan yang terang benderang dengan sholawat kepada sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Kahil : ياَ أَبَا كَاهِل أَنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ كُلَّ يَوْمٍ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ وَكُلَّ لَيْلَةٍ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ حُبًّا بِيْ وَشَوْقًا إِلَيَّ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يَغْفِرَ لَهُ ذُنُوْبَهُ تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَذَلِكَ الْيَوْم. “Wahai Aba Kahil, sesungguhnya barangsiapa yang bersholawat kepadaku di setiap siang hari 3 kali dan setiap malam 3 kali dengan penuh kecintaan kepadaku dan kerinduan kepadaku, sungguh Alloh akan mengampuni dosa-dosanya di malam itu dan di hari itu” Para pecinta dan yang rindu kepada sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam jika bersholawat kepada Rosululloh shollallohu ‘alihi wasallam maka Alloh subhanahu wata’ala akan menghapus dosa-dosanya di malam dan siang itu, yaitu dengan sholawat yang dipenuhi cinta dan rindu kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam sangat dimuliakan Alloh subhanahu wata’ala, begitu juga dengan orang-orang yang mencintai beliau shollallohu ‘alaihi wasallam. Demikian dengan yang bersholawat kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, semoga diantara sholawat itu ada yang menjadi penghapus dosa-dosa kita dan juga orang-orang yang mencintai dan rindu kepada sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. wAllohu a’lam Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi Narasumber: al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa, pada pembahasan kalimat وَصَلَّى اللهُ “Washolla Allohu” dalam kitab Risalatul Jami’ah karya al-Imam al-Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi ‘alaihi rohmatulloh.

Awwalu Maa Nastaftihu – Kajian Maulid Diba dan Terjemahnya (08)

KalamUlama.com - Awwalu Maa Nastaftihu - Kajian Maulid Diba (07) اللهم صل وسلم وبارك عليهYa Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi...

Medsos Kalam Ulama

4,662FansLike
14,952FollowersFollow
4FollowersFollow
1,879FollowersFollow
2,451SubscribersSubscribe

Popular Post

KalamUlama.com - Suara Sulthonul Qulub al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa saat membaca qosidah al-Imam al-Habib Umar Muhdhor bin Abdurrohman Assegaf. Qosidah Man Ana Laulakum ini juga sering beliau baca di hadapan Guru Mulia al-Musnid al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. Beliau awali dengan doa: بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" Berikut bait Qosidah "Man Ana" (Siapa Diriku): مَنْ أَنَا مَنْ أَنَا لَوْلَاكُم # كَيْفَ مَا حُبُّكُمْ كَيْفَ مَا أَهْوَاكُم Siapakah diriku, siapakah diriku kalau tiada bimbingan kalian (guru) Bagaimana aku tidak cinta kepada kalian dan bagaimana aku tidak menginginkan bersama kalian مَا سِوَيَ وَلَا غَيْرَكُم سِوَاكُم # لَا وَمَنْ فِى المَحَبَّةِ عَلَيَّ وُلَاكُم Tiada selain ku juga tiada selainnya terkecuali engkau, tiada siapapun dalam cinta selain engkau dalam hatiku أَنْتُم أَنْتُم مُرَادِي وَ أَنْتُم قَصْدِي # لِيْسَ احدٌ فِى المَحَبَّةِ سِوَاكُم عِنْدِي Kalianlah, kalianlah dambaanku dan yang kuinginkan, tiada seorangpun dalam cintaku selain engkau di sisiku كُلَّمَا زَادَنِي فِى هَوَاكُم وَجْدِي # قُلْتُ يَا سَادَتِي مُحْجَتِي تَفْدَاكُم Setiap kali bertambah cinta dan rindu padamu, maka berkata hatiku wahai tuanku semangatku telah siap menjadi tumbal keselamatan dirimu لَوْ قَطَعْتُمْ وَرِيْدِي بِحَدِّ مَا ضِي # قُلْتُ وَاللهِ أَنَا فِى هَوَاكُم رَاضِي Jika engkau menyembelih urat nadiku dengan pisau berkilau tajam, kukatakan demi Alloh aku rela gembira demi cintaku padamu أَنْتُمُ فِتْنَتِي فِى الهَوَا وَمُرَادِي # مَا ِرِضَايَ سِوَى كُلُ مَا يَرْضَاكُم Engkaulah yang menyibukkan segala hasrat dan tujuanku, tiada ridho yang aku inginkan terkecuali segala sesuatu yang membuat mu ridho كُلَّمَا رُمْتُ إِلَيْكُم نَهَوْ مَنْ أَسْلَك # عَوَقَتْنِيْ عَوَائِق أَكَاد أَنْ أَهْلِك Setiap kali ku bergejolak cinta padamu selalu terhalang untuk aku melangkah, mereka mengganjalku dengan perangkap yang banyak hampir saja aku hancur فَادْرِكُوا عَبْدَكُم مِثْلُكُمْ مَنْ أَدْرَكْ # وَارْحَمُوا بِا المَحَبَّةِ قَتِيْل بَلْوَاكُم Maka tolonglah budak kalian ini, dan yang seperti kalianlah golongan yang suka menolong, dan kasihanilah kami dengan cinta kalian, maka cinta kalian membunuh dan memusnahkan musibahku Sumber: Muhammad Ainiy

Man Ana Laulakum (Siapa Diriku) Lirik, Latin, dan Terjemahannya

KalamUlama.com - Suara Sulthonul Qulub al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa saat membaca qosidah al-Imam al-Habib Umar Muhdhor bin Abdurrohman Assegaf. Qosidah Man Ana Laulakum ini...
Kumpulan Doa dan Dzikir (Kalam Ulama) - Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta الفصل الأول : في الغزل وشكوى الغرام Bagian Pertama: Bercumbu dan Pengaduan Cinta مَوْلَايَ صَلِّي وَسَلِّـمْ دَآئِــماً أَبَـدًا ۞ عَلـــَى حَبِيْبِـكَ خَيْــرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ هُوَالْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ ۞ لِكُلّ هَوْلٍ مِنَ الْأِهْوَالِ مُقْتَحِـــــــمِ أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَــــلَــمٍ ۞ مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَيْ مِنْ مُقْلَةٍ بِـــدَمِ Apakah karena mengingat para kekasih di Dzi Salam[1] sana. Engkau deraikan air mata dengan darah duka. أَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَاظِمَـــةٍ ۞ وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِيْ الْضَمَآءِ مِنْ إِضَـمِ Ataukah karena hembusan angin terarah lurus berjumpa di Kadhimah[2]. Dan kilatan cahaya gulita malam dari kedalaman jurang idham [3]. فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَــا ۞ وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِـــــمِ Mengapa kedua air matamu tetap meneteskan airmata? Padahal engkau telah berusaha membendungnya. Apa yang terjadi dengan hatimu? Padahal engkau telah berusaha menghiburnya. أيَحَسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتـــِمٌ ۞ مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمضْطَــــرِمِ Apakah diri yang dirundung nestapa karena cinta mengira bahwa api cinta dapat disembunyikan darinya. Di antara tetesan airmata dan hati yang terbakar membara. لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمْعاً عَلَي طَـلَلٍ ۞ وَلاَ أرَقْتَ لِذِكْرِ الْبَانِ وَالْعَلـَـــمِ Andaikan tak ada cinta yang menggores kalbu, tak mungkin engkau mencucurkan air matamu. Meratapi puing-puing kenangan masa lalu berjaga mengenang pohon ban dan gunung yang kau rindu. فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُباًّ بَعْدَ مَا شَــهِدَتْ ۞ بِهِ عَلَيْكَ عُدُوْلُ الدَّمْعِ وَالسَّـــقَمِ Bagaimana kau dapat mengingkari cinta sedangkan saksi adil telah menyaksikannya. Berupa deraian air mata dan jatuh sakit amat sengsara. وَأَثْبَتَ الْوَجْدُ خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَّضَــنىً۞ مِثْلَ الْبَهَارِمِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَــــمِ Duka nestapa telah membentuk dua garisnya isak tangis dan sakit lemah tak berdaya. Bagai mawar kuning dan merah yang melekat pada dua pipi. نَعَمْ سَرَى طَيْفُ مَنْ أَهْوَى فَأَرّقَنِي ۞ وَالْحُبّ يَعْتَرِضُ اللّذّاتَ بِالَلَــــــمِ Memang benar bayangan orang yang kucinta selalu hadir membangunkan tidurku untuk terjaga. Dan memang cinta sebagai penghalang bagi siempunya antara dirinya dan kelezatan cinta yang berakhir derita. يَا لَا ئِمِي فِي الهَوَى العُذْرِيِّ مَعْذِرَةً ۞ مِنّي إِلَيْكَ وَلَوْ أَنْصَفْتَ لَمْ تَلُمِ Wahai pencaci derita cinta kata maaf kusampaikan padamu. Aku yakin andai kau rasakan derita cinta ini tak mungkin engkau mencaci maki. عَدَتْكَ حَـــالِـي لَاسِرِّيْ بِمُسْتَتِرٍ ۞ عَنِ الْوِشَاةِ وَلاَ دَائِيْ بِمُنْحَسِــمِ Kini kau tahu keadaanku, tiada lagi rahasiaku yang tersimpan darimu. Dari orang yang suka mengadu domba dan derita cintaku tiada kunjung sirna. مَحّضْتَنِي النُّصْحَ لَكِنْ لَّسْتُ أَسْمَعُهُ ۞ إَنّ الُحِبَّ عَنِ العُذَّالِ فِي صَمَمِ Begitu tulus nasihatmu, tapi aku tak mampu mendengar semua itu. Karena sesungguhnya orang yang dimabuk cinta tuli dan tak menggubris cacian pencela. إِنِّى اتَّهَمْتُ نَصِيْحَ الشّيْبِ فِي عَذَلِي ۞ وَالشّيْبُ أَبْعَدُ فِي نُصْحِ عَنِ التُّهَمِ Aku curiga ubanku pun turut mencelaku. Padahal ubanku pastilah tulus memperingatkanku. Baca Juga : Kisah Pangeran Diponegoro & Sholawat Burdah

Qasidah Burdah Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta

Kumpulan Doa dan Dzikir (Kalam Ulama) - Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta الفصل الأول : في الغزل وشكوى الغرام Bagian...
SYAIKHONA (Wahai Guru Kami) شَيْخَنَا مَعَ السَّلاَمَةَ فِی أَمَانِهْ شَيْخَنَا اَللهُ رَبِّ ارْحَمْ مُرَبِّی رُوْحِنَا… يَا رَبَّنَا Ma’as-salaamah fii amaanih Syaikhonaa Allaahu Robbi-rham murobbii ruuhinaa (Yaa Robbanaa) Selamat jalan semoga dalam keselamatan wahai guruku, Ya Allah Tuhanku, rahmatilah pendidik jiwa kami (wahai Tuhanku) عَيْنُ الْمُحِبِّ بِالدُمُوْعِ حَازِنَا رَوْعًا عَلَی افْتِرَاقِ مَنْ قَدْ أَحْصَنَا… يَا شْيْخَنَا ‘Ainul muhibbi biddumuu’i haazinaa Rou’an ‘alaa-ftirooqi man qod ahshonaa (Yaa Syaikhonaa) Mata penuh cinta dipenuhi air mata, sedih karena akan berpisah dari sosok yang memberi (kemuliaan) pada kami (wahai guru kami) رَوَضَّنَا بِأُسْوَةٍ مَحَاسِنَا شَرَفَهُ اللهُ فِی جَوَارِ نَبِيِّنَا… يَا رَبَّنَا Rowwadlonaa bi uswatin muhaasinan Syarrofahullaahu fii jiwaar nabiyyinaa (Yaa Robbanaa) Beliau mengajari kami dengan teladan-teladan yang baik, Semoga Allah memuliakannya berada bersama Nabi kami (wahai Tuhanku) وَنَتَبِعْ عَزْمَكْ وَکُنْتَ مُتْقِنَا أَرِحْ وَنَوْمًا گالعْرُوْسِ آمِنَا… يَا شَيْخَنَا Wa nattabi’ ‘azmak wa kunta mutqinaa Arih wa nauman kal ‘aruusi aaminaa (Yaa Syaikhonaa) Kami tunduk akan kehendakMu dan kau sosok yang dipatuhi, beristirahatlah dan tidurlah dengan tenang bak pengantin (wahai guru kami) فَاعْفُ إِذَا لَمْ تَرْضَ مِنْ أَعْمَانِنَا دَوْمًا دُعَاءً رَبَّنَا اغْفِرْ شَيْخَنَا… يَا رَبَّنَا Fa’fu idzaa lam tardlo min a’maaninaa Dauman du’aa-an robbanaa-ghfir syaikhonaa (Yaa Robbanaa) Maafkan kami bila ada yg tidak berkenan dihati selama masa belajar kami, kami senantiasa berdoa: Ya Tuhanku ampunilah guru kami (wahai Tuhanku) كُلُّ الْقُلُوْبِ اِلاَّلْحَبِيْبِى تَمِيْلُ * وَمَعِى بِذَلِكَ شَاهِدٌ وَدَلِيْلُ اَمّاَ الدَّلِيْلُ اِذَا ذَكَرْتُ مُحَمَّدًا * صَارَتْ دُمُوْعُ العَاشِقِيْنَ تَسِيْلُ

Ya Syaikhona – Lirik Sholawat, Latin dan Terjemahnya

Kalam Ulama - TEKS SHOLAWAT DAN TERJEMAH YA SYAIKHONA (Wahai Guru Kami) شَيْخَنَا مَعَ السَّلاَمَةَ فِی أَمَانِهْ شَيْخَنَا اَللهُ رَبِّ ارْحَمْ مُرَبِّی رُوْحِنَا… يَا رَبَّنَا Ya Syaikhona Ma’as-salaamah fii amaanih...
KalamUlam.com - Kajian Maulid Diba #13 Fahtazzal arsyu tharaban was-tibsyâra, Waz-dâdal kursiyyu haibatan wa waqâra,  Wam-tala-atis samâwâtu anwâra, wa dhaj-jatil mala-ikatu tahlîlan wa tanjîdan was-tighfâra اللهم صل وسلم وبارك عليه   Ya Allah tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad).   فَاهْتَزَّ الْعَرْشُ طَرَبًا وَاسْتِبْشَارًا Maka bergoncanglah ‘Arsy karena gembira dengan adanya kabar gembira.   وَازْدَادَ الْكُرْسِيُّ هَيْبَةً وَوَقَارًا Dan kursi Allah bertambah wibawa dan tenang karena memuliakannya.   وَامْتَلَأَتِالسَّمٰوَاتُ أَنْوَارًا Dan langit penuh dengan cahaya.   وَضَجَّتِ الْمَلَآئِكَةُ تَهْلِيْلًا وَتَمْجِيْدًا وَاسْتِغْفَارًا ۩ serta bergemuruh suara malaikat membaca tahlil, tamjid dan istighfar   سُبْحَانَ اللهِ وَ اْلحَمْدُ للهِ وَلا اِلهَ الّا اللهُ وَ اللهُ اَكْبَر  Maha Suci Allah, limpahan puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dialah Allah yang Maha Besar (4x)   وَلَمْ تَزَلْأُمُّهٗ تَرٰى أَنْوَاعًا مِنْ فَخْرِهِ وَفَضْلِهِ إِلىٰ نِهَايَةِ تَمَامِ حَمْلِهِ  Dan ibunya tiada henti-hentinya melihat bermacam-macam keajaiban hingga dari keistimewaan dan keagungannya hingga sempurna masa kandungannya,   فَلَمَّا اشْتَدَّ بِهَا الطَّلْقُ بِـإِذْنِ رَبِّ الْخَلْقِ  Maka ketika ibunya telah merasakan sakit karena kandungannya akan lahir, dengan izin Tuhannya, Tuhan pencipta makhluk,   وَضَعَتِ الْحَبِيْبَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدًا شَاكِـرًا حَامِدًا كَأَنَّهُ الْبَدْرُ فِيْ تَمَامِهِ   Lahirlah kekasih Allah Muhammad SAW dalam keadaan sujud, bersyukur dan memuji, sedangkan wajahnya bagaikan bulan purnama dalam kesempurnaannya.   -------000--------   مَحَلُّ اْلقِيَامِ [irp posts="933" name="Kajian Maulid Diba' #14 : Teks dan Terjemah Mahallul Qiyam"]  Keterangan: Para Malaikat, Para Nabi, Para Wali, Para bidadari surga, seluruh makhluk-makhluk Allah SWT yang ada di daratan, di lautan, di angkasa, bahkan bumi, laut, udara, bintang-bintang, bulan, matahari, langit, kursiy dan Arasy, seluruhnya benar-benar meluapkan kegembiraan dan memuncakkan “Shalawat ta’dzhim” kepada Kekasih Allah SWT, Nabi Akhir Zaman, Baginda Nabi Muhammad SAW. Bahkan Ka’bah Baitulloh ikut bergetar selama 3 hari berturut-turut karena bahagia dan bangga menyambut kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW.           Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Maulid Ad-diba’iy Lil Imam Abdurrahman Ad-Diba’iy: فاهتز العرش طربا واستبشارا وازداد الكرسي هيبة ووقارا وامتلأت السموات أنوارا وضجت الملائكة تهليلا وتمجيدا واستغفارا Yang artinya kurang lebih: “Sesungguhnya (pada saat kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW), ‘Arasy seketika gentar hebat luar biasa meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya, dan Kursiy juga semakin tambah kewibawaan dan keagungannya, dan seluruh langit dipenuhi cahaya yang bersinar terang dan para malaikat seluruhnya serentak bergemuruh memanjatkan tahlil, tamjid, dan istighfar kepada Allah SWT dengan mengucapkan:  سبحان الله  والحمد لله  ولا إله إلا الله  والله أكبر أستغفر الله Yang artinya kurang lebih: “Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, saya beristighfar (memohon ampun) kepada Allah SWT.”           Sesungguhnya dengan keagungan baginda Nabi Muhammad SAW di sisi Allah SWT, maka Allah SWT telah memerintahkan kepada para malaikat-Nya yang agung yakni Malaikat Jibril, Malaikat Muqorrobin, Malaikat Karubiyyin, Malaikat yang selalu mengelilingi Arasy dan lainnya agar serentak berdiri pada saat detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW dengan memanjatkan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, dan Istighfar kepada Allah SWT.           Semua fenomena keajaiban-keajaiban agung yang terjadi pada detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW yang diwujudkan oleh  Allah SWT, semata-mata hanya menunjukkan kepada semua makhluk-makhluk-Nya Allah SWT bahwa baginda Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang paling dicintai-Nya, makhluk yang paling agung dan mulia derajatnya di sisi-Nya.           Dan riwayat-riwayat semua yang tersebutkan di atas, bukan sekedar cerita belaka, namun telah kami nukil data datanya dari kitab-kitab para ulama Ahlussunnah Waljama’ah yang sangat akurat dan otentik. Diantaranya adalah Kitab Al-Hawi lil Fatawi yang dikarang oleh Al-Imam Asy-Syaikh Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi yang telah mengarang tidak kurang dari 600 kitab yang dijadikan marja’ (pedoman) bagi para ulama ahlussunnah waljama’ah dalam penetapan hukum-hukum syariat Islam.Bahkan para ulama ahlussunnah waljama’ah telah sepakat menjuluki Beliau dengan gelar “Jalaaluddiin” yakni sebagai pilar keagungan agama Islam.           Bahkan tidak hanya dari kitab beliau, tetapi juga dari kitab-kitab para ulama Ahlussunnah Waljama’ah lainnya yang juga telah disepakati dan dijadikan sebagai sumber pedoman oleh para ulama. Diantaranya adalah Kitab Dalailun Nubuwwah lil Imam Al-Baihaqi, Kitab Dalailun Nubuwwah lil Imam Abu Na’im Al-Ashfahaniy, Kitab An-Ni’matul Kubro ‘Alal ‘Aalam lil Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitami, Kitab Sabiilul Iddikar lil Imam Quthbul Ghouts Wad-Da’wah Wal-Irsyad Al-Habib Abdullah bin ‘Alawi Al-Haddad, Kitab Al-Ghuror lil Imam Al-Habib Muhammad bin Ali bin Alawiy Khird Ba Alawiy Al-Husainiy, Kitab Asy-Syifa’ lil Imam Al-Qadli ‘Iyadl Abul Faidl Al-Yahshabiy, Kitab As-Siiroh An-Nabawiyyah lil Imam As-Sayyid Asy-Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al Hasaniy, Kitab Hujjatulloh ‘Alal ‘Aalamin lis Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhaniy, dan kitab-kitab lainya yang mu’tamad dan mu’tabar (diakui dan dijadikan pedoman oleh para ulama).           Bagi para Ulama shalihin Ahlussunnah Waljama’ah telah sepakat untuk berdiri pada saat bacaan Maulid Nabi Muhammad SAW telah tiba, yakni pada Mahallul Qiyam (detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW). Mereka serentak berdiri demi mengikuti jejak para Malaikat, jejak arwah para Nabi dan jejak arwah para Wali untuk ta’dzhim (mengagungkan) dan memuncakkan rasa cinta yang agung kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Mereka luapkan rasa syukur yang memuncak ke hadhirat Allah SWT atas nikmat atau anugerah paling agung yang telah Allah SWT limpahkan dengan mengutus Kekasih-Nya sebagai Rahmat (Belas Kasih Sayang-Nya) untuk seluruh alam semesta.  Mereka panjatkan puji-pujian yang agung kepada baginda Rasululloh SAW dengan bahasa sastra yang indah dan suara merdu yang dipenuhi dengan rasa rindu dan cinta yang tulus mulia kepada Baginda SAW.           Maka, sungguh sangat mulia sekali bagi kita sebagai umat yang sangat dicintainya untuk mengikuti jejak para ulama shalihin dengan serentak berdiri pada saat Mahallul Qiyam demi menyambut kedatangan Kekasih Allah SWT yang sangat mulia, Junjungan kita baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Bukankah Beliau adalah Nabi kita yang sangat kita cintai? Bukankah Beliau adalah yang kelak akan memberi pertolongan kepada kita sehingga selamat dari siksaan Allah SWT yang sangat pedih? Bukankah Beliau adalah yang akan memberi syafaat kepada kita sehingga kita bisa memperoleh keridloan Allah SWT yang agung dan masuk ke dalam surga-Nya yang dipenuhi dengan segala kenikmatan, keindahan dan kebahagiaan yang kekal abadi selama-lamanya? Karena Rasululloh  SAW adalah Kekasih Allah SWT yang mana Allah SWT telah berjanji untuk tidak menolak segala  permintaan Beliau dan akan mengabulkan segala permohonannya. Dan janji ini telah ditetapkan Allah SWT dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Surat Adh-Dhuha ayat  5:  ولسوف يعطيك ربك فترضى   Yang artinya kurang lebih: “Dan (sesungguhnya) kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu (Nabi Muhammad SAW), lalu (hati) kamu menjadi puas”. (Q.S. Adl-Dluha: 5) Sungguh sangat beruntung kita sebagai umat Islam yang benar-benar mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW dengan setulusnya. Maka, pada saat tiba ajal kita nanti, baginda Nabi Muhammad SAW yang sangat kita cintai akan menolong kita dengan memohon kepada Allah SWT agar ditetapkan iman kita, diampuni segala dosa-dosa kita yang pernah kita lakukan dan diberi kemudahan menghadapi sakaratul maut. Bukan sekedar itu saja, bahkan pada saat menghadapi pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam barzakh, Beliau akan menolong kita. Dan berkat pertolongannya, seketika Allah SWT akan menjadikan kuburan kita sebagai “Raudlotun Min Riyaadlil Jinaan”, yakni sebagai taman diantara taman-taman surga. Begitu pula pada saat di padang Mahsyar, kita akan dipersilahkan untuk meminum air telaganya dan bertemu dengan Beliau SAW beserta para ahli baitnya, para sahabatnya, dan juga bersama para wali Allah SWT, para orang-orang sholihin  dan bersama pula dengan orang-orang mukmin yang mencintainya. Seketika itu pula kita mendapati rasa aman. Demikian besarnya perhatian baginda Rasulullah SAW kepada kita, dan agungnya ketulusan mahabbah (Belas Kasih Sayang) yang sempurna kepada kita, sehingga kita bisa mendapati limpahan Rahmat (Belas Kasih Sayang) Allah SWT dan ampunan-Nya, adalah  sangat banyak sekali data-data atau dalilnya disebutkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Al-Hadits serta kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah. Sebagian diantara dalil-dalil tersebut adalah Firman Allah SWT dalam Al-Qur’anu Al-Kariim Surat At-Taubah  ayat 128:  لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رءوف رحيم   Yang artinya kurang lebih: “Sesungguhnya telah datang kepada kalian Seorang Rasul (Nabi Muhammad SAW), dari kaum kalian sendiri, (sungguh sangat) berat terasa olehnya (segala) penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin..” (Q.S. At-Taubah: 128).           Demikianlah anugerah-anugerah agung yang dilimpahkan Allah SWT kepada umat Islam yang benar-benar cinta kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Namun, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Qodli ‘Iyadl dalam kitabnya Asy-Syifa hal 158 bahwa orang yang benar-benar tulus mencintai baginda Rasul SAW, syaratnya harus mengikuti jejaknya, meneladani prilakunya, menghidupkan sunnah ajaran dan syiarnya, mencintai ahli baitnya dan menghormati seluruh shahabatnya. Semoga kita semua termasuk orang yang benar-benar cinta sejati dengan tulus kepada Baginda Nabi Muhammad SAW beserta seluruh ahli bait dan shahabatnya serta bisa meneladani prilaku dan jejak-jejak mereka.  Wallahu a’lam bishshowaab.  Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi melalui kitab Nurul Mushthofa yang dirangkum oleh Al-Habib Murtadho bin Abdullah Alkaf. Demikian pembahasan fasal fahtazzal arsyu      

Fahtazzal Arsyu – Kitab Maulid Diba dan Terjemahannya (03)

KalamUlam.com - Fasal Fahtazzal Arsyu ini merupakan fasal yang begitu luar biasa. Karena didalam fasal ini diceritakan bagaiamana kemulian Nabi Muhammad dan semua alam menyambut...
Maulid Diba dan Terjemahannya KalamUlama.com - Teks Maulid diba banyak sekali yang sehingga para pembaca bisa membuka link maulid diba full. tapi kami memohon maaf belum menyediakan maulid diba pdf. Sebagaimana kami ketahui, bahwa para ulama salaf banyak sekali yang menulis kitab, buku atau postingan singkat yang memuat bacaan shalawat. Hal itu dikerjakan untuk mewujudkan sebuah bukti kecintaan mereka kepada Nabi yang disanjungnya. Bacaan shalawat yang berupa buku atau kitab antara lain : shalawat Dala'il, shalawat Bakriyah, shalawat Diba'iyyah dan lain-lain. Sedangkan yang berupa postingan singkat antara lain shalawat Nariyah, shalawat Rajabiyah, shalawat Munjiyat, shalawat Fatih, shalawat Sa’adah. shalawat Badriyah dan lain- lain. Dari sekian banyak kitab yang memuat bacaan shalawat berikut tersedia yang palingterkenal dan sering dibaca yang diadakan oleh warga Nahdliyyin, antara lain adalah shalawat Diba’iyyah. Jadi pengertian Diba’an adalah : membaca kitab yang memuat bacaan shalawat dan riwayat hidup Nabi secara singkat yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahman ad-Diba’i. Pengarang Maulid Diba' Maulid Diba’ adalah satu karya maulid yang masyhur didalam Islam adalah maulid yang dikarang oleh seorang ulama besar dan ahli hadits, yaitu Imam Wajihuddin ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali bin Yusuf bin Ahmad bin ‘Umar ad-Diba`ie asy-Syaibani al-Yamani az-Zabidi asy-Syafi`i. Sebagaimana yang udah disebutkan, kitab ini sering dicetak dan dibukukan sejalan dengan dua kitab maulid di atas, Syaroful Anam dan Al-Barjanzi. Pengarangnya adalah Imam Wajihuddin Abdu Ar-Rahman bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Yusuf bin Ahmad bin Umar ad-Dibai (866H-944H), beliau berasal Zabid, keliru satu kota di Yaman. Selain ulama yang produktif mengarang kitab, beliau juga dikenal sebagai ahli hadits, bahkan mencapai derajat Al-Hafiz, yaitu hafal 100.000 hadits dengan sanadnya. Sanad Pengarang Maulid Diba Syaikh Abdurrahman Ad Dibai dilahirkan pada 4 Muharram 866 H dan wafat pada hari Jumat 12 Rajab tahun 944H. Pada masanya, beliau adalah seorang ulama hadits yang tenar dan tak ada bandingannya. Beliau mengajar kitab Shohih Imam al-Bukhari lebih dari 100 kali khatam. Beliau mencapai darjat Hafidz didalam pengetahuan hadits yaitu seorang yang menghafal 100,000 hadits dengan sanadnya dan setiah hari beliau mengajar para santrinya hadits dari masjid ke masjid. . Guru-guru beliau di antaranya adalah Imam al-Hafidz as-Sakhawi, Imam Ibnu Ziyad, Imam Jamaluddin Muhammad bin Ismail, mufti Zabid, Imam al-Hafiz Tahir bin Husain al-Ahdal dan banyak lagi. Selain itu, beliau juga merupakan seorang yakni ahli sejarah. Adapun kitab karangannya adalah sebagai berikut: “Taisirul Wusul ila Jaami`il Usul min Haditsir Rasul” yang memiliki kandungan himpunan hadits yang dinukil dari pada kitab hadits yang 6. “Tamyeezu at-Thoyyib min al-Khabith mimma yaduru ‘ala alsinatin naasi minal hadits” sebuah kitab yang membedakan 3. hadits sohih dengan yang lainnya seperti dhoif dan maudhu. “Qurratul ‘Uyun fi akhbaril Yaman al-Maimun” “Bughyatul Mustafid fi akhbar madinat Zabid”. “Fadhail Ahl al-Yaman”. Hukum Membaca Maulid Diba Membaca shalawat ad dibai atau shalawat yang lain menurut pendapat Jumhurul Ulama adalah sunnah Muakkad. Kesunatan membaca shalawat ini didasarkan pada lebih dari satu dalil, antara lain: Firman Allah SWT. Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah anda untuk Nabi dan sampaikanlan salatu penghormatan kepadanya. (QS. AI-Ahzab : 56) Sabda Nabi SAW.: صلوا علي، فإن الصلاة علي كفارة لكم وزكاة. [رواه ابن ماجه] Artinya : “Bershalawatlah anda untukku, karena membaca shalawat untukku bisa mengahapus dosamu dan bisa membersihkan pribadimu”. (HR. lbnu Majah) Sabda Nabi SAW. : زينوا مجالسكم بالصلاة علي، فإن صلاتكم علي نور لكم يوم القيامة Artinya: “Hiasilah tempat-tempat pertemuanmu dengan bacaan shalawat untukku, karena sesungguhnya bacaan shalwat untukku itu menjadi cahaya bagimu pada hari kiamat”. (HR. Ad-Dailami). Keutamaan Maulid Diba Seseorang yang ahli membaca shalawat bakal diberi anugerah oleh Allah, antaralain : Dikabulkan do’anya الدعاء كله محجوب حتى يكون أوله ثناء على الله عز وجل وصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يدعو فيستجاب له لدعاءه Artinya: “Setiap do’a adalah terhalanh, sehingga dimulai dengan memuji kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi, sesudah itu baru berdo'a dan bakal dikabulkan do’a itu”. (HR. Nasa’i). Peluang untuk mendapat syafa'at Nabi pada hari kiamat. Dihilangkan ada problem dan kesulitannya. Dan lain-lain. Cara Membaca Diba’iyyah Dibaca dengan kesungguhan dan keikhlasan hati dan juga diiringi rasa hormat dan mahabbah/cinta kepada Rasulullah SAW. Jelas sekali dalalah ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi berikut bahwa kami sebagai ummat Muhammad diperintahkan untuk membacakan shalawat kepada Nabi SAW. agar dapat mengagungkannya sekaligus mengharapkan barokahnya sewaktu kami masih hidup di dunia dan sehingga mendapat syafa’atul udzma dikala kami berada di alam mahsyar kelak. Tata Cara menghadiri Majlis Maulid Nabi SAW (Diringkaskan dari kitab Azzahrul Baasim karya Mufti Betawi zaman Hindia Belanda, al-Habib Utsman bin ‘Abdillah bin Yahya rohimahullohu ta’ala): Dilaksanakan pada tempat-tempat yang terhormat seperti masjid, musholla, majelis-majelis, atau perkumpulan mulia, dan sebagainya. Tidak boleh tersedia pada tempat berikut suatu patung-patung binatang atau manusia yang menjadi simbol pengagungan dan penyembahan terhadapnya (misal patung dewa, bunda maria, dan sejenisnya), karena hal berikut dibenci oleh beliau (SAW) dan para Malaikat. Ketika membaca shirohnya (sejarahnya) yang terkandung didalam Kitab Maulid, tidak boleh bercampur didalamnya antara laki-laki dengan perempuan. Kecuali adanya hijab (batas/dinding) yang mengatasi antara perempuan dan laki-laki, sehingga aman dari fitnah. Jangan pula tersedia pada tempat diselenggarakannya, suatu permainan yang HARAM (misal judi dan sejenisnya). Sebab, hal itu bakal mengantarkan pada kedurhakaan besar melanggar larangan Rosululloh SAW. Jangan pula tersedia pada tempat itu segala sesuatu yang beraroma busuk. Seperti rokok, cerutu, kandang binatang, dan sejenisnya. Maka hendaklah tersedia pada tempat itu segala sesuatu wewangian yang harum seperti dupa (gaharu bakar) atau bunga-bungaan. Hendaklah yang hadir pada tempat penyelenggaran itu membaca sholawat, dan janganlah satu sama lain saling bercerita, masing-masing “pasang” telinga mendengar kisah maulid yang dibacakan sambil membaca sholawat. Apabila nanti disebut bakal dzohir (lahir dan hadir)-nya sang Nabi SAW ke dunia, maka semua yang hadir bersegera untuk bangun dan berdiri. Bukan atas basic paksaan, tapi karena TAKDZIM (HORMAT), BAHAGIA, dan ANTUSIAS pada kehadiran beliau (SAW). Sehingga pada selanjutnya segenap hadirin yang mematuhi aturan-aturan berlaku, kelak bakal memperoleh syafa’at (pertolongan) dari beliau (SAW) di yaumil akhir dan juga memperoleh balasan yang berlipat ganda dunia wal-akhiroh. InsyaAlloh. اللهمّ صلّ على سيّدنا و شفيعنا محمّد وعلى آله وصحبه و سلّم واجعلنا من خيار امّته و من اهل شفاعته برحمتك يا ارحم الرّاحمين آمين “Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina wa Syafi’ina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi wa Sallim waj’alnaa min khiyaari ummatihi wa min ahli syafaa’atihi, birohmatika Yaa Arhamarrohimiin, aamiin“ (Yaa Alloh, limpahkanlah sholawat atas junjungan kami, Nabi kami yang memberi syafa’at bagi kami, yaitu Nabi Muhammad SAW dan atas keluarganya, dan sahabatnya, dan juga salam penghormatan atasnya, dan jadikanlah kami daripada umatnya yang paling baik dan yang mendapat syafa’atnya di hari sesudah itu dengan Rahmat-Mu wahai Tuhan yang punyai cii-ciri Kasih Sayang melebihi semua yang punyai cii-ciri kasih sayang, aamiin) Baca : Kitab Maulid Diba dan Terjemahannya #02: “Inna Fatahna”

Maulid Diba Full Lengkap dengan Teks Terjemah Bahasa Indonesia

KalamUlama.com - Teks Maulid diba banyak sekali yang sehingga para pembaca bisa membuka link yang ada dibawah. tapi kami memohon maaf belum menyediakan maulid...