Kajian Islam

Kalam Ulama - Bagian Pertama Khilafah Ajaran Islam atau Khilafah Kendaraan Oponturir Islam Oleh : Ustadz Khotimi Bahri (PC LBM-NU Kota Bogor) Kata الخلافة (al khilâfah) berasal dari akar kata خلف (khalfun) yang arti asalnya “belakang” atau lawan kata “depan”. Dari akar kata khalfun berkembang menjadi kata khilfatan, khilâfah, khalîfah, khalâif, khulafâ; ikhtilâf,istikhlâf. Kata kerja kha-la-fa (خلف), ikh-ta-la-fa (إختلف) is-takh-la-fa ( استخلف) begitu seterusnya. Di dalam al-Qur’an terdapat sekurang-kurangnya 127 ayat yang menyebut kata yang berakar dari kata khalfun. Sedangkan Kata khalifah (secara khusus) kadang disebut dalam bentuk tunggal, kadang juga dalam bentuk plural. Dalam bentuk tunggal hanya disebut dua kali yaitu dalam surat al-Baqoroh ayat 30 dan dalam surat as-Shad ayat 26. Berikut sebagian contoh ayat-ayat tersebut yang akar katanya kholfun, diantaranya : Pertama, kata khalfun dalam pengertian “generasi pengganti yang berperilaku buruk”. Disebutkan dua kali yaitu pada surat al A’raf ayat 169 dan surat Maryam ayat 59. Pada surat Maryam dikatakan: “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (khalfun) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan” (QS; Maryam:59) Kedua, kata khulafâ yang berarti generasi baru atau kaum pengganti yang mewarisi bumi dari kaum sebelumnya yang binasakan karena mereka tidak beriman. Contoh : “Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (khulafa’) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan” (Al-A’raf:69) Ketiga, Al Khalâif yang berarti kaum yang datang untuk menggantikan kaum yang lain. Contoh: “ Dan Dialah yang menjadikan kalian semua khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al-An’am 165) Keempat, dalam bentuk kata kerja Istakhlafa, yang artinya menjadikan seseorang atau satu kaum sebagai khalifah, pemimpin, pelanjut dan pengatur bumi setelah kaum yang lain. “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa (tidak dalam arti pemimpin politik) dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa,”(An-Nur : 55) Kelima, Sedangkan kata Khalifah dalam makna tunggal disebut dua kali, yaitu surat al-Baqoroh ayat 30 dimaksudkan kedudukan Nabi Adam sebagai kholifah diatas dunia ini. Allah berfirman : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." Sedangkan surat as-Shod ayat 26 maksudnya adalah Nabi Daud yang memiliki kekuasaan politik untuk memerintah Bani Israil. Allah berfirman : “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”. Ada persamaan antara tugas-tugas kekhalifahan Nabi Adam dengan tugas-tugas kekhalifahan Nabi Daud, yaitu sama-sama mengemban amanat sebuah pengelolaan. Namun ada perbedaan antara keduanya. Coba perhatikan model bahasanya. Allah berfirman : Inni Ja’ilun fil ardl kholifah yang artinya “Aku jadikan dia (Adam) diatas bumi ini kholifah. Sedangkan kepada Nabi Daud Allah berfirman : Ya Daud, Inna Ja’alnakan kholifatan fil-ardl : Kami menjadikanmu di dunia ini kholifah. Terkait Nabi Adam, Allah menggunakan kata tunggal “Inni” dan isim fail “Ja’ilun” sdangkan untuk Nabi Daud menggunakan kata plural “Inna” dan kata kerja “ Ja’alnaka”. Perbedaan ini tentu mengandung makna berbeda. Dalam kaidah ilmu tafsir dijelaskan bahwa ketika Allah menggunakan kata plural, itu berarti ada keterlibatan pihak lain dalam proses dan prosedurnya. Dengan demikian kekhalifahan Nabi Adam adalah misi suci manusia diatas dunia ini untuk mengelola, menata dan menciptakan keadilan dalam hidup. Sedangkan kekhalifahan Nabi Daud disamping anugerah Allah juga melibatkan masyarakat sebagai unsur kepemimpinannnya, baik yang dipimpinnya sekaligus yang mengangkatnya. Dari sini kita memahami bahwa ketika Allah berbicara tentang kehalifahan Nabi Adam, maknanya adalah potensi dan aksi yang diamanatkan kepada Nabi Adam untuk mengelola alam semesta bukan dalam arti kekuasaan politik. Modal dasar yang diberikan kepada Nabi Adam adalah pengetahuan akan segala sesuatu baik potensi maupun aksinya ( Wa ‘allama adamal asma’a kulaaha). Maka wajar kalau dari generasi-kegerasi yang melanjutkan misi Nabi Adam tidak pernah bersentuhan dengan kekuasaan praktis. Nabi Syst, Nabi Idris, Nabi Nuh adalah pelanjut kekhalifahan Nabi Adam tapi tidak diperintahkan untuk mengelola sebuah pemerintahan. Bahkan Nabi Ibarahim tidak diperintah merebut dan mengelola kekuasaan Namrudz, tapi dimintanya untuk mengajak Namrudz menyembah Allah dan menegakkan keadilan diatas dunia. Demikian juga Nabi Musa tidak diminta untuk mengambil alih kekuasaan Fir’aun, tapi diminta berdakwah kepada Fir’aun agar kembali kejalan yang benar dan memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan dalam pemerintahannya. Padahal misi Nabi Ibarahim dan Nabi Musa juga meneruskan misi Nabi Adam sebagai kholifah diatas dunia. Sedangkan kekhalifahan Nabi Daud memang benar berbentuk kekuasaan secara politik. Yaitu sebuah kekuasaan untuk memimpin kaum Yahudi dan berpusat di Palestina setelah sebelumnya mengalahkan penguasa dzalim Jalud. Karena itulah maka modal dasar yang diberikan kepada Nabi Daud memang modal dasar memimpin. Oleh karena itu Allah menegaskan :” Allah memberinya kekuasaan/kerajaan dan hikmah serta mengajarkan apa yang Dia Kehendaki….”. Kekuasaan ini mencapai puncaknya pada masa Nabi Sulaiman putra Nabi Daud. Walapun Nabi-Nabi sesudahnya seperti Nabi Zakariya, Nabi Yahya, Nabi Isa yang nota-benenya dari Bangsa Israil tidak lagi mengemban amanat kekuasaan/kerajaan. Dari uraian ini dijelaskan bahwa khalifah memiliki beragam makna dan beragam konteks serta tidak bisa hanya diterjemahkan sebagai sebuah doktrin politik Islam kaku. Kesalahan sebagian orang adalah mengambil satu makna dalam al-qur’an dengan menafikan makna lainnya. Celakanya makna yang diambil ditempatkan sebagai sebuah doktrin yang tauqifi, mutlak dan kaku. Ketika dijadikan doktrin tauqifi dan mutlak maka konsekwensi hukumnya hanya dua, yaitu Wajib atau Haram. Wajib menerapkan makna yang dipahami dan intoleran dengan pemahaman dan pemaknaan orang lain. Dan jika ada yang memahami dan memaknai dengan sebuah konsepsi yang berbeda dengan dirinya, Haram hukumnya. Ketika itu terjadi, maka khilafah yang sebenarnya konsep luwes, moderat, dan kontekstual berubah wajah menjadi kaku, eksklusif bahkan intoleran. Lebih celaka lagi kalau pemaknaan orang lain terhadap konsep khilafah dianggap tidak syar’ie, toghut, tidak Islami, dan khilafah harus dimurnikan dari semua itu, tidak mustahil jiwa manusia akan menjadi taruhannya.

Bagian Pertama : Khilafah Ajaran Islam atau Khilafah Kendaraan Oponturir Islam

Kalam Ulama - Bagian Pertama Khilafah Ajaran Islam atau Khilafah Kendaraan Oponturir Islam Oleh : Ustadz Khotimi Bahri (PC LBM-NU Kota Bogor) Kata الخلافة (al khilâfah)...
Kalam Ulama - Besok Rabu tanggal 7 November 2018M Bertepatan dengan 29 Safar 1440H Kita Semua memasuki Suatu Hari yang dikenal dengan Istilah Rabu Pungkasan atau Rabu Kasan atau Rabu Wekasan Rabu Wekasan atau disebut Pungkasan adalah Rabu yang terakhir dibulan Safar sebelum Memasuki Bulan Maulid atau Mulud atau Rabbiul Awal Kaum Tsamud mendapatkan siksa seperti yang terdapat dalam QS Al Qamar 19, menurut sebagian ulama terjadi pada hari Rabu di akhir bulan Shafar. Keyakinan inilah yang terus diwariskan oleh orang-orang pra Islam. Kita tidak boleh meyakini hari Rabu akhir bulan Shafar sebagai hari sial atau turunnya bala'. Kalaupun kita percaya dengan kasyaf ulama yang melihat hari itu ada bala' diturunkan. Asalkan kita tancapkan dalam hati bahwa yang memberi manfaat dan madlarat hanya Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bagaimana kalau di malam / hari tersebut bermunajat kepada Allah dengan mengajak orang-orang untuk meminta ampunan dan bertaubat kepada Allah? Syekh Abdurrauf Al-Munawi berkata: ﻭﻳﺠﻮﺯ ﻛﻮﻥ ﺫﻛﺮ اﻷﺭﺑﻌﺎء ﻧﺤسا ﻋﻠﻰ ﻃﺮﻳﻖ اﻟﺘﺨﻮﻳﻒ ﻭاﻟﺘﺤﺬﻳﺮ ﺃﻱ اﺣﺬﺭﻭا ﺫﻟﻚ اﻟﻴﻮﻡ ﻟﻤﺎ ﻧﺰﻝ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ اﻟﻌﺬاﺏ ﻭﻛﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ اﻟﻬﻼﻙ ﻭﺟﺪﺩﻭا ﻟﻠﻪ ﺗﻮﺑﺔ ﺧﻮﻓﺎ ﺃﻥ ﻳﻠﺤﻘﻜﻢ ﻓﻴﻪ ﺑﺆﺱ ﻛﻤﺎ ﻭﻗﻊ ﻟﻤﻦ ﻗﺒﻠﻜﻢ Boleh menyebut Rabu sebagai hari sial dengan tujuan untuk menakut-nakuti, yaitu “Hindarilah hari Rabu terakhir karena pernah ada azab dan kebinasaan. Bertaubatlah kepada Allah agar tidak ditimpa azab seperti kaum terdahulu” (Faidl Al-Qadir 1/61) ﻭاﻟﺤﺎﺻﻞ ﺃﻥ ﺗﻮﻗﻲ ﻳﻮﻡ اﻷﺭﺑﻌﺎء ﻋﻠﻰ ﺟﻬﺔ اﻟﻄﻴﺮﺓ ﻭﻃﻦ اﻋﺘﻘﺎﺩ اﻟﻤﻨﺠﻤﻴﻦ ﺣﺮاﻡ ﺷﺪﻳﺪ اﻟﺘﺤﺮﻳﻢ ﺇﺫ اﻷﻳﺎﻡ ﻛﻠﻬﺎ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻻ ﺗﻀﺮ ﻭﻻ ﺗﻨﻔﻊ ﺑﺬاﺗﻬﺎ ﻭﺑﺪﻭﻥ ﺫﻟﻚ ﻻ ﺿﻴﺮ ﻭﻻ ﻣﺤﺬﻭﺭ ﻭﻣﻦ ﺗﻄﻴﺮ ﺣﺎﻗﺖ ﺑﻪ ﻧﺤﻮﺳﺘﻪ ﻭﻣﻦ ﺃﻳﻘﻦ ﺑﺄﻧﻪ ﻻ ﻳﻀﺮ ﻭﻻ ﻳﻨﻔﻊ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ ﻟﻢ ﻳﺆﺛﺮ ﻓﻴﻪ ﺷﻲء Kesimpulan: "Merasa sial dengan hari Rabu dengan meyakini prediksi peramal adalah haram, sangat diharamkan. Sebab semua hari milik Allah. Hari-hari tidak dapat memberi manfaat maupun madlarat dengan sendirinya. Kalau bukan karena di atas, maka tidak apa-apa dan tidak dilarang. Barang siapa yakin tidak ada yang memberi madlarat dan manusia kecuali Allah, maka tidak ada pengaruh baginya sedikitpun" (Faidl Al-Qadir 1/62) Ustadz Ma'ruf Khozin, Pengasuh Kajian Aswaja Majalah Aula NU Baca Juga : HADITS SHAHIH ANJURAN SHOLAT RABU WEKASAN (SHOLAT LIDAF'IL BALA' ATAU SHOLAT TOLAK BALA' Tata Cara Pelaksanaan Sholat Rabu Wekasan (Rebo Wekasan)

Rabu Wekasan, Antara Hari Sial atau Tidak? (Ikhtisar Kajian Aswaja Majalah NU Aula)

Kalam Ulama - Besok Rabu tanggal 7 November 2018M Bertepatan dengan 29 Safar 1440H Kita Semua memasuki Suatu Hari yang dikenal dengan Istilah Rabu...
Kalam Ulama - Tata Cara Sholat Rabu Wekasan adalah:  Niat shalatnya adalah shalat sunnah mutlak 4 raka'at, atau bisa dengan niat shalat Li daf'il bala' 4 raka'at satu kali salam boleh, tanpa tahiyyatul awwal, dua kali salam juga boleh, bacaan yang biasa diniatkan ketika pelaksanaan shalat di Ma'had Malang berikut ini : أُصَلِّى سُنَّةً لِدَفْعِ اْلبَلاَء أْرْبَعَ رَكَعَاتٍ إِمَاًمًا \مَأْمُوْمًا لِلّٰهِ تَعَالَى أَللهُ أَكْبَرْ "Aku niat shalat sunnah sebanyak empat raka'at agar dijauhkan dari malapetaka karena Allah Ta’ala." Setelah selesai membaca al-Fatihah pada tiap-tiap rakaat membaca surat al-Kautsar 17 kali, surat al-Ikhlas 5 kali dan surat al-Mu’awwidzatain 1 kali. Lalu membaca doa shalat sunnah Rebo Wekasan sebagai berikut: أَللَّهُمَّ يَا شَدِيْدَ اْلقَوِىِّ وَيَاشَدِيْدَ اْلمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّلْتَ بِعِزَّتِكَ جَمِيْعَ خَلْقِكَ إِكْفِنِىْ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَامُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ أَللَّهُمَّ بَسِّرْ اْلحَسَنَ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ إِكْفِنِىْ شَرَّ هَذَا اْليَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيَ الْمُهِمَّاتِ يَا دَافِعَ اْلبَلِيَاتِ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ اْلوَكِيْلُ وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّابِاللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ اَللَّهُمَّ إِعْصِمْنَا مِنْ جَهْدِ اْلبَلاَءِ وَدَرْكِ الشَّقَاءِ وَسُوْءِ اْلقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ اْلأَعْدَاءِ وَمَوْتِ اْلفُجْأَةِ وَمِنْ شَرِّ السَّامِ وَالْبَرْسَامِ وَالْحُمَى وَاْلبَرَصِ وَاْلجُذَامِ وَاْلأَسْقَامِ وَمِنْ جَمِيْعِ اْلأَمْرَاضِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى َسِّيدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ . Menurut sebagian ulama' Al Arif Billah: "Bala' atau malapetaka yang ditakdirkan oleh Allah Swt akan terjadi selama satu tahun itu semuanya diturunkan dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia pada malam atau hari Rabu terakhir bulan Shafar. Maka barangsiapa yang bersedia menulis 7 ayat di bawah ini kemudian dilebur dengan air lalu diminum, maka orang tersebut akan dijauhkan dari malapetaka. Ayatnya adalah sebagai berikut: سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ , سَلَامٌ عَلَى نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ , سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ , سَلَامٌ عَلَى مُوسَى وَهَارُونَ سَلَامٌ عَلَى إِلْ يَاسِينَ , سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ , سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ Semoga kita semuanya di jaga di lindungi dan dihindarkan oleh Allah SWT dari berbagai macam musibah dan bencana aamiin aamiin aamiin ya rabbal aalamiin bisirri asrari Al Fatihah... Wallahu 'A'lamu bis shawaab. (Baca Juga : HADITS SHAHIH ANJURAN SHOLAT RABU WEKASAN (SHOLAT LIDAF'IL BALA' ATAU SHOLAT TOLAK BALA')

Tata Cara Pelaksanaan Sholat Rabu Wekasan (Rebo Wekasan)

Kalam Ulama - Tata Cara Sholat Rabu Wekasan adalah:  Niat shalatnya adalah shalat sunnah mutlak 4 raka'at, atau bisa dengan niat shalat Li daf'il...
Kalam Ulama - HADITS SHAHIH ANJURAN SHOLAT RABU WEKASAN (SHOLAT LIDAF'IL BALA' ATAU SHOLAT TOLAK BALA') - Hadits ini sering dikeluarkan oleh Maha Guru saya di Malang ketika acara shalat tolak bala' Rabu wekasan setiap tahunnya, beliau Samahatul Ustadz Ad Da'i Ilallah Al Habib Muhammad Bilfaqih pernah mendengar dari yang Mulia Samahahatul Imam Al Hafidz Al Musnid Al Quthub Al Habib Abdullah Bilfaqih Radhiyallahu Anhum dari Al IMAMUL HABR Radhiyallahu Anhu bahwasanya setiap tahun pada akhir Rabu bulan shafar Allah SWT menurunkan 720.000 ribu bala', barang siapa yang shalat empat raka'at dihari itu, insya Allah dijauhkan dari Mala petaka dan Musibah aamiin aamiin aamiin ya rabbal aalamiin... عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال ؛ قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلّم : " مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ يُصَلُّوْنَ فِيْ آخِرِ الْأَرْبِعَاءِ مِنْ صَفَرَ إِلاَّ نَجَّاهُمُ اللّٰهُ مِنَ الْكَوَارِثِ (هذا الحديث حسن صحيح) ← اَلْكَوَارِثُ اي اَلْبَلَايَا Artinya :" Dari Abi Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam bersabda :" Tidaklah berkumpul suatu kaum mereka shalat dihari akhir Rabu dari bulan Shafar terkecuali Allah SWT menyelamatkan mereka dari malapetaka-malapetaka/musibah2". وقد كتبت هذا الحديث عن بعض المعلمين ، وهو سمع من سماحة الأستاذ الإمام رضي اللَّه عنه قال ؛ واللّفظ للقضاعي من طريق ابن زكريا عن يحيى بن عياض عن أبي الدبّوس عن صالح بن أبي زكريا بن شميل عن أبيه عن جدّه قال ؛ قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلّم : " إِنَّ اللّٰهَ يُنْزِلُ فِيْ آخِرِ أَرْبِعَاءَ مِنْ صَفَرَ ثَمَانَمِائَةِ أَلْفٍ وَعِشْرِيْنِ مِنَ الْبَلاَيَا فَمَنْ صَلَّى صَلَاتَهُ عَصَمَهُ اللّٰهُ مِنَ الْبَلاَيَا" (في رواية الإمام عبد الرزّاق في المسند ج ٢ ص: ٢٠٧ والإمام إبن زيد بن علي في المسند ج ١ ص: ٣٤ والقضائي في التّاريخ ج ٩ ص: ٢٠٣ ، أخرجاه شيخنا رضي اللَّه عنه أو كما قال) Artinya :" Saya mencatat hadits ini dari sebagian Mu'allimin di Ma'had, beliau mendengar hadits dari yang Mulia Samahatul Imam Radhiyallahu Anhu, Lafadz hadits ini dari Imam Al Qudha'i dari jalan sanad Thariq bin Zakariya dari Yahya bin 'Iyadz dari Abi Ad Dabbus dari Shalih bin Abi Zakariya bin Syumail Dari Ayahnya dari Kakeknya berkata, Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam bersabda : " Sesungguhnya Allah SWT menurunkan dihari akhir Rabu dari bulan Shafar 820.000 ribu dari bala' (musibah), Barangsiapa yang shalat dihari Rabu itu maka Allah SWT menjaganya dari pada bala'-bala' dan bencana-bencana/ malapetaka/musibah" (Diriwayatkan Imam Abdur Razzaq didalam Musnad Juz 2 hal: 208, dan Imam Ibnu Zaid bin Ali didalam Musnad Juz 1 hal: 34 dan Al Imam Al Qudha'i didalam Kitab Tarikh Juz 9 hal: 203). Didalam sebuah hadits lain yang diriwayatkan oleh Sayyidatuna Fathimah Ra. bahwa Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi wasallam bersabda: مَنْ صَلىَّ لَيْلَةَ اْلأَرْبِعَاءِ رَكْعَتَيْنِ يَقْرَاءُ فِى اْلأُوْلَى فَاتِحَةَ اْلكِتَابِ وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ اْلفَلَقْ عَشْرَ مَرَّاتٍ وَفِى الثَّانِيَّةِ قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ عَشْرَ مَرَّاتٍ ثُمَّ إِذَا سَلَمَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ عَشْرَمَرَّاتٍ ثُمَّ يُصَليِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَشْرَمَرَّاتٍ نَزَل َمِنْ كُلِّ سَمَاءٍ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ يَكْتُبُوْنَ ثَوَابَهُ إِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ Artinya :"Barangsiapa yang berkenan mengerjakan shalat 2 rakaat di malam Rabu, pada rakaaat pertama membaca surat al-Fatihah dan al-Falaq 10 kali dan pada rakaat kedua membaca al-Fatihah dan an-Nas 10 kali, kemudian setelah salam membaca istighfar 10 kali dan shalawat 10 kali maka 70 malaikat turun dari langit yang bertugas mencatatkan pahalanya sampai hari kiamat."

HADITS SHAHIH ANJURAN SHOLAT RABU WEKASAN (SHOLAT LIDAF’IL BALA’ ATAU SHOLAT TOLAK BALA’)

Kalam Ulama - HADITS SHAHIH ANJURAN SHOLAT RABU WEKASAN (SHOLAT LIDAF'IL BALA' ATAU SHOLAT TOLAK BALA') - Hadits ini sering dikeluarkan oleh Maha Guru...
Kalam Ulama - Inilah Hukum Sholat Jumat Yang Bertepatan Pada Hari Raya Idul Fitri - Ulama berbeda pendapat mengenai masalah kewajiban memunaikan salat jumat jika bertepatan dengan hari 'id. Seluruhnya didasarkan pada hadits-hadits shahih. Pendapat yang menggugurkan kewajiban salat jumat, diantaranya mazhab Imam Ahmad dan sebagian pendapat lemah dari mazhab Imam Asy-Syafi'i, berhujjah dengan hadits riwayat Imam Abu Daud, al-Nasai, Ibn Majah, dan al-Hakim dari Iyyas bin Abi Ramlah al-Syami bahwasanya ia berkata: شهدت معاوية بن أبي سفيان وهو يسأل زيد بن أرقم رضي الله عنهم: أشهدتَ مع رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم عيدين اجتمعا في يوم؟ قال: نعم، قال: كيف صنع؟ قال: صلى العيد ثم رخَّص في الجمعة فقال: «من شاء أن يصلي فليصلِّ». "Aku menyaksikan Muawiyah bin Abi Sufyan bertanya kepada Zaid bin Arqam radliyallahu 'anhum, ia berkata: Apakah engkau menyaksikan kejadian bertemunya dua hari raya (yakni 'id dan jumat) dalam satu hari dizaman Rasul? Zaid menjawab: Ya. Muawiyah pun bertanya kembali: Bagaimana cara beliau melaksanakan (keduanya)? Zaid kembali menjawab: Salatlah untuk 'id kemudian rukhsah bagi kamu untuk menunaikan jumat, sebab Rasulullah bersabda, barangsiapa yang menghendaki salat (jumat) maka salatlah." Juga riwayat Imam Abu Dawud, Ibn Majah, dan al-Hakim dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa alihi wa sallam bersabda: قد اجتمع في يومكم هذا عيدان فمن شاء أجزأه من الجمعة وإنَّا مجمِّعون. "Sungguh telah berkumpul dua hari raya pada hari kalian ini, barangsiapa yang ingin mengerjakan jumat maka ia mendapat pahala jumat dan sungguh kami termasuk orang yang mengumpulkan (jumat dan 'id)." Baca juga : Kehati-hatian Syaikhuna KH. Maimoen Zubair pada Lafadz Takbiran Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa salat 'id tidak menggugurkan kewajiban jumat. Berdasarkan keumuman dalil jumat yang wajib ditunaikan dihari jumat setiap pekan tanpa ada pengecualian. Masing-masing ibadah tersebut, baik jumat maupun 'id, mempunyai syiar tersendiri yang tidak bisa digantikan satu sama lain. Syiar jumat hanya bisa ditunaikan dengan ibadah jumat, sedang syiar hari raya hanya bisa ditunaikan dengan salat 'id. Ini pendapat Hanafiyah dan Malikiyah. Adapun pendapat jumhur, termasuk didalamnya pendapat kuat dalam mazhab Imam Asy-Syafi'i, mengambil jalan tengah, yakni salat jumat tetap wajib bagi penduduk suatu negeri yang memenuhi syarat wajib jumat, namun jika seseorang menemui kesulitan dan beban untuk mengerjakan salat jumat dihari 'id, seperti jarak yang jauh untuk bolak-balik ke masjid, maka boleh baginya untuk memilih. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwattha' bahwa Utsman bin Affan radliyallahu 'anhu berkata dalam khutbahnya: إنه قد اجتمع لكم في يومكم هذا عيدان، فمن أحب من أهل العالية أن ينتظر الجمعة فلينتظرها، ومن أحب أن يرجع فقد أذنتُ له. "Sungguh dihari ini telah berkumpul atas kalian dua hari raya, maka barangsiapa yang ingin memperoleh derajat yang tinggi dengan menunggu datangnya waktu jumat hendaknya ia menunggu, namun jika ia ingin pulang maka aku pun mengizinkan." Tak ada seorang sahabat pun yang mengingkari perkataan beliau ini, sehingga dapat dikatakan bahwa mereka telah ijma' secara sukuti (diam tanda setuju). Pendapat ini juga menganggap bahwa dalil rukhsah (keringanan) untuk meninggalkan salat jumat dihari 'id yang dikemukakan oleh mazhab Imam Ahmad di atas adalah ditujukan bagi orang-orang yang ditimpa kesulitan dan beban yang berat. Maka, hendaknya seseorang meluaskan pandangannya dalam masala khilafiyah (perbedaan pendapat) ini. Tidak menyerang sebuah mazhab dengan alasan mazhab lain. Untuk pengamalan, hendaknya seseorang melaksanakan salat jumat di masjid sebagai bentuk kehati-hatian dan menunaikan hukum asal salat jumat yang wajib. Namun, apabila dia berhajat meninggalkan salat jumat maka ia diperbolehkan mengikuti pendapat yang menyatakan bahwa kewajiban jumat gugur dihari 'id, dengan syarat melaksanakan sendiri atau berjamaah dirumah agar tidak menghalangi orang salat jumat di masjid atau menjadi fitnah bagi orang banyak. Wallahu a'lam. Bogor, 26 Agustus 2017 @adhlialqarni Baca juga : Menjawab Gugatan Bid'ah Atas Ucapan "Minal 'Aidin wal Faizin" dan "Mohon Maaf Lahir dan Batin"

Inilah Hukum Sholat Jumat Yang Bertepatan Pada Hari Raya Idul Fitri

Kalam Ulama - Inilah Hukum Sholat Jumat Yang Bertepatan Pada Hari Raya Idul Fitri - Ulama berbeda pendapat mengenai masalah kewajiban memunaikan salat jumat...
Kalam Ulama - Kejadian ini terjadi setahun yang lalu Setelah Isya di Musholla Al-Anwar ada takbiran. Para santri membaca takbir, dan ketika membaca: ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ، ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ، ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ، لَا ﺇِلَهَ ﺇِلَّا ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ، ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻭَﻟِﻠّﻪِ الْحَمْد ، ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻛَﺒِﻴْﺮًﺍ، ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّﻪِ ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ، ﻭَﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺑُﻜْﺮَﺓً ﻭَﺃَﺻِﻴْﻼً، لَا ﺇِﻟَﻪَ ﺇِلَّا ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَلَا ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﺇِلَّا ﺇِﻳَّﺎﻩُ، ﻣُﺨْﻠِﺼِﻴْﻦَ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦ، ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺮِﻩَ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭْﻥَ “Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar, Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar walillaahil hamd. Allaahu akbar kabiiroo, wal hamdulillaahi katsiiroo, wa subhaanallaahi bukrotaw wa ashiilaa, laa ilaaha illallaahu walaa na’budu illaa iyyaahu mukhlishiina lahuddiin, walaw karihal kaafiruun” Tepatnya pada kalimat: ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺮِﻩَ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭْﻥَ “walaw karihal kaafiruun” Sebagian dari mereka menambahi dengan: وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، وَلَوْ كَرِهَ الْمُنَافِقُوْنَ “walaw karihal kaafiruun, walaw karihal musyrikuun, walaw karihal munaafiquun” Syaikhuna yang waktu itu ada di ruang tamu mendengar hal itu, Beliau memanggil salah satu santri Ndalem kemudian beliau mengatakan: “Cong, sing moco takbir kandani, lafale iku cukup (Nak, yang membaca takbir diberi tahu, lafadnya cukup): ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺮِﻩَ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭْﻥَ “walaw karihal kaafiruun” Ojo muk tambahi (jangan ditambah): وَلَوْ كَرِهَ الْمُنَافِقُوْنَ “walaw karihal munaafiquun" Pada berbagai kesempatan, Kanthongumur bertanya tentang hal itu, dan Beliau menjawab: Yen pengen nambahi yo cukup ditambah (kalau ingin menambahi, cukup dengan ditambah): وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ “walaw karihal musyrikuun” Kerono sing kewarid nang qur’an iku mung loro, yoiku (karena yang ada di dalam Al-Qur'an itu hanya dua, yaitu): ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺮِﻩَ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭْﻥَ “walaw karihal kaafiruun” karo (dan) وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ “walaw karihal musyrikuun” Dene (adapun) lafadz: وَلَوْ كَرِهَ الْمُنَافِقُوْنَ “walaw karihal munaafiquun” Ora ono nang qur’an (tidak ada di dalam Al-Qur'an). Baca juga : Inilah Kadar Zakat Fitrah Tahun 2018 "Wong munafiq iku senajan haqiqote wong kafir, namung mlebu barisane wong islam lan ngetokake islame, kerono iku ojo dimungsuhi senajan gething. Yen dimungsuhi, lak podo dene mungsuhan karo podo islame". (Orang munafiq itu walaupun haqiqotnya orang kafir, namun masih termasuk barisan orang Islam dan mereka memperlihatkan islamnya, karena itu, jangan dimusuhi walaupun mereka memusuhi. Kalau dimusuhi, sama saja bermusuhan dengan sesama muslimnya). Dalam berbagai kesempatan beliau mengatakan (saya ungkapkan dengan bahasa indonesia dan dengan tata bahasa saya): Al-Qur'an memang memerintahkan untuk berjihad dan keras terhadap orang kafir dan munafiq. Tetapi Nabi pun mempunyai politik sehingga raja-raja kafir pada zaman itu mengirimkan hadiah berupa unta, kuda, bighol dan himar. Bahkan raja mesir Muqowqis mengirimkan hadiah berupa wanita cantik, Maria Al-Qibthiyyah yang kemudian menjadi istri Nabi. Pernikahan ini menurunkan seorang putra bernama Ibrohim. Sedangkan orang munafiq, ketika mereka ikut dalam sebuah peperangan, seperti perang badar, peperangan itu dimenangkan oleh pihak muslimin. Sedangkan saat perang uhud, dan orang-orang munafiq mengundurkan diri tidak mengikuti perang, pihak muslimin mengalami kekalahan, walaupun awwalnya menang. Hal itu pun disebabkan turunnya para pemanah dari bukit uhud, setelah melihat kemenangan dan mereka melihat ghonimah. Di saat sebagian shohabat mengatakan: "apakah tidak kami perangi orang-orang munafiq itu?". Nabi bersabda: لو قاتلتهم لقالوا ان محمدا قاتل اصحابه "Andaikan Saya memerangi mereka, niscya mereka berkata: sesungguhnya muhammad memerangi para shahabatnya". Bahkan Abdulloh bin ubay bin salul, pemimpin orang munafiq, setelah meninggal digali kuburnya dan diluluri dengan air liur Nabi serta dikafani dengan kain dari nabi. Hal itu dijelaskan dalam kitab Syajarotul Maarif. Tetapi Abdulloh bin Ubay tidak disholati oleh Nabi karena ada Larangan dari Al-Qur'an: ولا تصل على احد منهم مات ابدا ولا تقم على قبره (التوبة : 84) Syaikhuna Maimoen Zubair sangat hati-hati dalam hal ini, beliau mengatakan: Orang munafiq itu terkadang masih diampuni oleh ALLOH. Seperti dalam Al-Qur'an: Baca juga : Hidupkan Malam Hari Raya! Sebuah Wasiat dari Mbah Manab Lirboyo وأخرون مرجون لأمر الله اما يعذبهم وإما يتوب عليهم والله عليم حكيم "Dan ada (pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan ALLOH, adakalanya ALLOH akan mengazab mereka dan adakalanya ALLOH akan menerima taubat mereka. Dan ALLOH Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". Berikut lafadz Takbiran Id: ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ، ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ، ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ، لَا ﺇِلَهَ ﺇِلَّا ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ، ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻭَﻟِﻠّﻪِ الْحَمْد ، ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻛَﺒِﻴْﺮًﺍ، ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّﻪِ ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ، ﻭَﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺑُﻜْﺮَﺓً ﻭَﺃَﺻِﻴْﻼً، لَا ﺇِﻟَﻪَ ﺇِلَّا ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَلَا ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﺇِلَّا ﺇِﻳَّﺎﻩُ، ﻣُﺨْﻠِﺼِﻴْﻦَ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦ، ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺮِﻩَ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭْﻥَ، لَا ﺇِلَهَ ﺇِلَّا ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ، ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻭَﻟِﻠّﻪِ الْحَمْد “Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar, Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar walillaahil hamd. Allaahu akbar kabiiroo, wal hamdulillaahi katsiiroo, wa subhaanallaahi bukrotaw wa ashiilaa, laa ilaaha illallaahu walaa na’budu illaa iyyaahu mukhlishiina lahuddiin, walaw karihal kaafiruun, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar walillaahil hamd” ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻛَﺒِﻴْﺮًﺍ، ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّﻪِ ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ، ﻭَﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺑُﻜْﺮَﺓً ﻭَﺃَﺻِﻴْﻼً، لَا ﺇِﻟَﻪَ ﺇِلَّا ﺍﻟﻠﻪُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَاَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا ﺇِلَهَ ﺇِلَّا ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ، ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻭَﻟِﻠّﻪِ الْحَمْد “Allaahu akbar kabiiroo, wal hamdulillaahi katsiiroo, wa subhaanallaahi bukrotaw wa ashiilaa, laa ilaaha illallaahu wa’dah, shodaqo wa’dah, wanashoro ‘abdah, wa a’azza jundahuu, wa hazamal ahzaaba wahdah, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar walillaahil hamd” (Saat Idul Adlha Tahun 1436 H Syaikhuna Maimoen membaca takbir dengan shighot di atas, dan pada akhir takbir menambahkan sholawat, seperti ini): ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ، ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ، ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ، لَا ﺇِلَهَ ﺇِلَّا ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ، ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻭَﻟِﻠّﻪِ الْحَمْد ، ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻛَﺒِﻴْﺮًﺍ، ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّﻪِ ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ، ﻭَﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺑُﻜْﺮَﺓً ﻭَﺃَﺻِﻴْﻼً، لَا ﺇِﻟَﻪَ ﺇِلَّا ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَلَا ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﺇِلَّا ﺇِﻳَّﺎﻩُ، ﻣُﺨْﻠِﺼِﻴْﻦَ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦ، ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺮِﻩَ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭْﻥَ، لَا ﺇِلَهَ ﺇِلَّا ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ، ﻭَﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢ ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ “Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar, Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar walillaahil hamd. Allaahu akbar kabiiroo, wal hamdulillaahi katsiiroo, wa subhaanallaahi bukrotaw wa ashiilaa, laa ilaaha illallaahu walaa na’budu illaa iyyaahu mukhlishiina lahuddiin, walaw karihal kaafiruun, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, wa shollaahu ‘alaa Sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihii wa shohbihii wasallamallaahu akbar” ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻛَﺒِﻴْﺮًﺍ، ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّﻪِ ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ، ﻭَﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺑُﻜْﺮَﺓً ﻭَﺃَﺻِﻴْﻼً، لَا ﺇِﻟَﻪَ ﺇِلَّا ﺍﻟﻠﻪُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَاَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا ﺇِلَهَ ﺇِلَّا ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ، ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻭَﻟِﻠّﻪِ الْحَمْد، ﻭَﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢ ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ “Allaahu akbar kabiiroo, wal hamdulillaahi katsiiroo, wa subhaanallaahi bukrotaw wa ashiilaa, laa ilaaha illallaahu wa’dah, shodaqo wa’dah, wanashoro ‘abdah, wa a’azza jundahuu, wa hazamal ahzaaba wahdah, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, wa shollaahu ‘alaa Sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihii wa shohbihii wasallamallaahu akbar” Dan saya secara pribadi (admin) saat masih dipesantren (Ponpes Salaf Apik Kaliwungu) juga pernah mendengar sendiri Syaikhunaa KH.M.SHOLAHUDDIN HUMAIDULOH IRFAN melarang para santri menambahi lafadz ولو كره المنافقون saat takbiran. Semoga bermanfaat. Baca juga : Menjawab Gugatan Bid'ah atas Ucapan "Minal 'aidin wal Faizin" dan "Mohon Maaf Lahir dan Batin"

Kehati-hatian Syaikhuna KH. Maimoen Zubair Pada Lafadz Tabiran

Kalam Ulama - Kejadian ini terjadi setahun yang lalu Setelah Isya di Musholla Al-Anwar ada takbiran. Para santri membaca takbir, dan ketika membaca: ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ،...
Kalam Ulama - Puasa Ramadhan Dan Penetapan Awal Akhirnya. Puasa  adalah kewajiban yang di berikan Allah SWT kepada semua ummat sejak zaman Nabi Adam sampai Nabi Muhammad SAW, meski bentuk atau caranya yang berbeda sebagai mana sebelum tahun dua hijriyah ummat islam belum diwajibkan puasa Ramadhan tetapi sudah di wajibkan puasa A’asuro dan puasa tiga hari di tiap satu bulan, maka pada bulan sya’ban tahun dua hijriyah turun ayat yang memerintahkan puasa romadhon sehingga kewajiban puasa a’asyuro’ dan puasa tiga hari di tiap bulan di hapus menjadi sunah,(kitab Durrotun Nasi’in halaman,10) Ayat tersebut adalah : ياايها الذين امنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون(183) اياما معدودات فمن كان منكم مريضا او على سفر فعدة من ايام اخر وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين فمن تطوع خيرا فهو خيرله وان تصوموخيرلكم ان كنتم تعلمون(184) Artinya Hai orang-orang yang beriman di wajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana di wajibkan atas orang-orang sebelum kamu supaya kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu, maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang di tinggalkanya itu pada hari-hari yang lain, dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankanya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah (yaitu) memberi makan seorang miskin, barang siapa yang dengan rela melakukan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya,dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu menggetahui,    Sementara itu  di Indonesia yang merupakan muslim terbesar dunia baik jumlah orang muslimnya maupun luas wilayahnya,Negara yang bermacam-macam suku, budaya yang terbungkus dengan slogan ‘’Bhineka Tunggal Ika” ternyata juga perbedaan dalam ibadahpun sering terjadi di Negara kita ini,di antaranya adalah menggenai penetapan bulan Romadhon dan Syawal yang berpotensi pada perbedaan awal puasa Ramadhan dan akhir Ramadhan  (ibadah sholat Iedul fitri) Baca Juga : HARI RAYA IDUL FITRI TAHUN 2018, jatuh pada tanggal 15 JUNI 2018 M    Kaitanya dengan hal tersebut maka sedikit akan kami ulas menggenai penetapan awal dan akhir ramadhan, beserta referensi kitabnya, sebagaimana yang di tuntunkan oleh Rosulallah dan Salafuna Sholih, tetapi dalam referensi apapun yang kita sampaikan sebagai muslimin kita tetap menghargai pendapat yang lain dan tidak memaksa untuk menggikuti salah satu pendapat. Kitab Hujjah Ahlussunah Wal Jama’ah halaman 42 ان ائمة المذاهب الاربعة اجمعت على ان شهر رمضان لا يثبت الا بأحد امرين : رؤيةهلاله او اكمال شعبان اذا كان هناك مايمنع الرؤية من غيم او دخان او غبار او نحوها.   Sesungguhnya para imam madzhab 4 (Syafi’I, Maliki, Khanafi, Hambali) sepakat bahwa untuk menentukan bulan romadhon tidak bisa kecuali dengan dua cara yaitu melihat hilal atau menyempurnakan bulan sya’ban 30 hari. 2. Kitab Al-iqna’ halaman 202 ويجب صوم رمضان بأحد امرين باكمال شعبان ثلاثين يومااو رؤية الهلال ليلة الثلاثين من شعبان Dan wajib melakukan puasa romadhon atas dua perkara yaitu menyempurnakan sya’ban sebanyak 30 hari atau melihat hilal di malam 30 sya’ban (sehingga sa’ban hanya 29 hari dan besoknya sudah puasa ) 3. Kitab Tanwirul Qulub halaman 260-261 يجب صوم رمضان برؤية الهلال او استكمال شعبان ثلاثين يوما, او بتصديق من يثق به بأنه رأى الهلال او بثبوت رؤيته ولو بشهادة عدل, ولا يجب العمل بقول المنجم والحاسب ان اليلة من رمضان. وعليهما ان يعملابحسابهما وكذا من صدق هما Wajib puasa ramadhan dengan melihat hilal atau menyempurnakan jumlah bulan sya’ban sebanyak 30 hari,(karna dalam kalender hijriyah satu bulan tidak ada yang melebihi 30 hari) atau dengan mempercayai orang yg bisa di percaya bahwa sesungguhya dia melihat hilal, atau dia menggetahui hilal meski hanya dengan memakai satu orang saksi saja, dan tidak wajib puasa romadhon dengan memakai pedoman ahli perbintangan atau ahli hisab (ilmu falak) dan bagi mereka berdua boleh menggamalkan puasa atas dasar perbintangan dan falak (tidak boleh untuk isbat atau penetapan untuk umum )dan boleh bagi Orang yang mempercayai mereka, Dari semua keterangan di atas menggambil kesimpulan dari hadis Nabi Muhammad SAW yaitu: عن ابي هريرة ان النبي صلى الله عليه وسلم قال : صوموا لرؤيته وافطرولرؤيته فان غم عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين يوما Artinya : D:ari Abi Huroiro R.A Bahwa sesungguhnya nabi Muhammad SAW bersabda: Berpuasalah kalian semua jika telah melihat hilal, dan idul fitrilah kalian semua jika sudah melihat hilal,dan jika hilal tetutup oleh mendung maka sempurnakanlah hitungan sya’ban 30 hari عن ابن عمر رضي الله عنهما قال : تراء الناس الهلال فأخبرت رسول الله صلى الله عليه وسلم أني رايته فصام وامر الناس بصيامه " رواه ابو داوود وحاكم, وان حبان وصححاه  Artinya ; Dari Ibnu Umar RA berkata : manusia telah melihat hilal maka saya menyampaikan kejadian itu kepada Rosulullah SAW bahwa sesungguhnya saya telah melihat hilal, maka Nabi berpuasa dan menyuruh manusia untuk berpuasa.    Dari kerengan ini semua dapat di simpulkan bahwa menentukan awal dan ahir Romadhon (Isbat) yang bisa di informasikan untuk orang umum hanya bisa di lakukan dengan cara melihat hilal atau dengan cara menyempurnakan hitungan bulan 30 hari jika pada malam ke 30 hilal masih belum bisa terlihat Tetapi ada yang membolehkan dengan ilmu perbintangan dan hisab (ilmu falak) tetapi hanya boleh di gunakan secara pribadi tidak boleh di umumkan untuk masyarakat.    Adapun alasan lain selain karna memang cara ru’yah dan Istikmal merupakan cara yang di pakai Rosullalah SAW, adalah karna dalam menentukan hkum syar’I islam tidak boleh memakai dasar kira-kira tanpa adanya bukti yang jelas. Sementara kepastian adanya hilal itu bisa di pastikan kalau memang sudah benar-benar melihatnya. Sebagaimana di sabdakan oleh Rosullullah SAW “jika hilal tertutup mendung maka sempurnakanlah hitunggan sya’ban selama 30 hari. Hal ini sesuai dengan kaidah fiqih yang berbunyi نحن نحكم باالظواهر والله يتول السرائر Kami(syari’at) menghukumi sesuatu dengan dasar yang tampak (dhohirnya) adapun urusan batin itu urusanya dengan (Allah yang mengguasainya) Baca Juga : Inilah Kadar Zakat Fitrah Tahun 2018 ___________________________ Ustadz Mulyakin (Rijalul Anshor PAC Palang Tuban)

Puasa Ramadhan Dan Penetapan Awal Akhirnya

Kalam Ulama - Puasa Ramadhan Dan Penetapan Awal Akhirnya. Puasa  adalah kewajiban yang di berikan Allah SWT kepada semua ummat sejak zaman Nabi Adam...
Kalam Ulama - Fatwa Abah Luthfi Seputar Zakat. Kiai Jaruddin menyampaikan kepada kami, dengan adaptasi bahasa dari saya, bahwa: Saya (KH. Ahmad) tadi malam di Duren Sawit meminta fatwa Abah Luthfi seputar zakat. Beliau memberi jawabab yang tegas. Masalah pertama: Apakah para kiai, guru mengaji, dan ustaz-ustaz bisa digolongkan Fi Sabilillah? Abah menjawab: Ya jelas, sebab hidup mereka tersebut digunakan untuk menghidupkan agama. Mereka membeli beras untuk makanan para santri, bahkan membeli gula dan teh untuk menyuguhi umat. Itu semua kalau bukan Fi Sabilillah terus apa namanya? Baca juga : Kalam Ulama #180: Al-Habib Salim bin Abdullah bin Umar asy-Syathiri tentang Zakat Masalah kedua: Bagaimana pendapat Abah mengenai zakat fitrah dengan uang? Abah menjawab: Kalo saya tidak sependapat. Zakat fitrah harus dengan beras (atau bahan makanan pokok sesuai daerah masing-masing). Masalah ada orang yang memaksa mengeluarkan zakat dengan uang, maka panitia harus mengantisipasi dengan menyiapkan beras untuk orang yang semacam itu tatkala mengeluarkan zakat. Masalah ketiga: Mengenai zakat profesi, apa pendapat Abah? Abah menjawab: Saya masih berpedoman dengan sabda Nabi shallallahu 'alahi wa alihi wa sallam dengan penjelasan ulama salaf mengenai macam-macam zakat. Macam-macam zakat terbatas hanya itu saja (sesuai yang dijabarkan ulama-ulama salaf), jangan ditambahi dengan jenis zakat lainnya agar nanti tidak menambah ruwet aturan dan kaidah dasar zakat. ____________ Demikian fatwa Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya, Rais 'Am Idarah Aliyah Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah, mengenai permasalahan zakat di zaman ini. Semoga bermanfaat! Jakarta, 20 Ramadan 1439 @adhlialqarni Baca Juga : 15 Hal Pengundang Bencana

Fatwa Habib Luthfi bin Yahya Seputar Zakat Fitrah dan Zakat Profesi

Kalam Ulama - Fatwa Abah Luthfi Seputar Zakat Fitrah dan Profesi.  Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (lahir di Kota Pekalongan, 10 November 1947;...
Kalam Ulama - Setiap bulan Ramadhan terdepat perdepatan diantara orang islam mengenai Keutamaan Tarawih. Ustadz Ma'ruf Khozin menjelaskan 1 Hadist Utama, Dalil tentang Keutamaan Tarawih. Berikut penjelasannya: ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ، ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻗﺎﻝ: «ﻣﻦ ﻗﺎﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺇﻳﻤﺎﻧﺎ ﻭاﺣﺘﺴﺎﺑﺎ، ﻏﻔﺮ ﻟﻪ ﻣﺎ ﺗﻘﺪﻡ ﻣﻦ ﺫﻧﺒﻪ» Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Barang siapa mendirikan ibadah malam Ramadlan karena Iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang dahulu akan diampuni" (HR Bukhari dan Muslim) Baca Juga : Keistimewaan Puasa Ramadhan Imam Nawawi yang ahli hadis dan pentarjih utama Madzhab Syafi'i berkata: ﻭاﻟﻤﺮاﺩ ﺑﻘﻴﺎﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺻﻼﺓ اﻟﺘﺮاﻭﻳﺢ ﻭاﺗﻔﻖ اﻟﻌﻠﻤﺎء ﻋﻠﻰ اﺳﺘﺤﺒﺎﺑﻬﺎ Yang dimaksud dengan ibadah malam Ramadlan adalah shalat Tarawih. Ulama sepakat bahwa Tarawih adalah sunah (Syarah Muslim 6/39) Bagi saya cukup hadis ini untuk menjelaskan keutamaan shalat Tarawih. Keutamaan ini tetap berlaku setiap malam di sepanjang bulan Ramadlan. Baca Juga : Tarhib Romadhon Bagaimana dengan keutamaan Tarawih yang terdapat dalam kitab Durrotun Nashihin? Saya tidak bisa memastikan apakah itu hadis atau bukan. Pro kontra sangat sengit setiap menghadapi Ramadlan. Hanya saja di masa sekarang sedang terjadi kritik tajam pada setiap hadis. Supaya aman, pastikan setiap hadis yang kita terima mencantumkan: Perawi dari golongan Shahabat, seperti Abu Hurairah, Abu Sa'id Al-Khudri, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan shahabat yang lain. Perawi hadis yang memiliki kitab induk, seperti Imam Bukhari, Muslim, Nasai, Ahmad, Abu Dawud dll, meskipun Hadisnya dlaif boleh diamalkan menurut mayoritas ulama.

1 Hadist Utama, Dalil tentang Keutamaan Tarawih

Kalam Ulama - Setiap bulan Ramadhan terdepat perdepatan diantara orang islam mengenai Keutamaan Tarawih. Ustadz Ma'ruf Khozin menjelaskan 1 Hadist Utama, Dalil tentang Keutamaan...
MANDZUMAH AL-BADRIYAH : Edisi Haul Ahlul Badar 1439 H. Kalam Ulama - Susunan syair, atau yang biasa disebut dengan istilah mandzumah, ini berjudul Jaliyatul Kadar Bi Zikri Asma Ahlil Badar Wa Syuhadai Uhud As-Sadatul Ghurar. Kebanyakan umat Islam menyebutnya dengan nama Al-Badriyah. Karya monumental ini ditulis oleh Al-Allamah Al-Muarrikh As-Sayyid Ja'far bin Hasan bin Abdul Karim Al-Barzanji. Baca Juga : Kisah Habib Jakfar Alkaff Kudus : Menyuruh Beli Mobil Fortuner dengan Uang 400 Ribu Syekh Dr. Ali Jum'ah dalam postingannya 19 jam yang lalu menulis faedah: كانت (البدرية) في مكة المكرمة والمدينة المنورة من العادات الحسنة، وكانوا يداومون على قراءتها كلما ألم بهم خطب، وكانت لا تخلو ليلة من الليالي إلاَّ وفي بيت من بيوت مكة بدرية، وكانت لها مشايخ يتداولونها شيخ عن شيخ، وكانوا يحفظونها عن ظهر قلب، وقد كان أهل مكة المكرمة في السنين الماضية، إذا عزم أحدهم على الزواج أول ما يبدأ به (البدرية) ليبارك الله له في حياته الزوجية . "Bahwa pembacaan Mandzumah Al-Badriyah ini merupakan salah satu kebiasaan baik di kota Mekah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah. Masyarakat kedua kota ini senantiasa membiasakan diri untuk terus-menerus membaca Mandzumah Al-Badriyah ketika ditimpa penyakit. Tidak ada satu malam pun yang berlalu kecuali pasti ada salah satu rumah di kota Mekah yang membaca Mandzumah Al-Badriyah. Bahkan Mandzumah ini diajarkan oleh para syekh yang diwariskan dari syekh sebelumnya dan diteruskan oleh syekh berikutnya. Para penduduk kota Mekah menghafalkan Mandzumah ini dan menjaganya dalam hati. Lebih dari itu, penduduk Mekah, setidaknya hingga beberapa tahun yang lalu, jika ingin melangsungkan pernikahan maka terlebih dahulu memulainya dengan membaca Mandzumah Al-Badriyah dengan harapan agar Allah memberkahi hidup dan rumah tangga mempelai." Syekh Ali melanjutkan: وإذا أحد جاءه مولود أول ما يبدأ (بالبدرية) ليبارك الله له في ولده وينبته نباتاً حسناً ، وإذا كان أحد لديه مريض يقرأون له (البدرية) بنية الشفاء له. "Jika ada anak yang lahir maka yang pertama kali dilakukan (sebagai ungkapan syukur) adalah membaca Mandzumah Al-Badriyah agar Allah memberkahi orang tuanya atas kehadiran anak tersebut. Juga dengan niat agar semoga anak tersebut tumbuh dengan baik. Selain itu, jika ada salah seorang yang sakit maka dibacakan untuknya Mandzumah ini dengan niat agar ia diberi kesembuhan." Mandzumah ini dapat diunduh di http://www.riyadhalelm.com/book/46/10_jalit_alkadar.pdf Jakarta, 18 Ramadan 1439 Ustadz Adhli Alqarni

Madzumah Al-Badriyah : Edisi Haul Ahlul Badar

Dalam rangka Haul Ahlul Badar 1439 H, kami akan memposting tulisan Syekh Dr. Ali. Jum'ah. Semoga Bermanfaat. Jangan lupa share, terimakasih MANDZUMAH AL-BADRIYAH : Edisi...

Medsos Kalam Ulama

4,662FansLike
14,952FollowersFollow
4FollowersFollow
1,879FollowersFollow
2,451SubscribersSubscribe

Popular Post

KalamUlama.com - Suara Sulthonul Qulub al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa saat membaca qosidah al-Imam al-Habib Umar Muhdhor bin Abdurrohman Assegaf. Qosidah Man Ana Laulakum ini juga sering beliau baca di hadapan Guru Mulia al-Musnid al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. Beliau awali dengan doa: بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" Berikut bait Qosidah "Man Ana" (Siapa Diriku): مَنْ أَنَا مَنْ أَنَا لَوْلَاكُم # كَيْفَ مَا حُبُّكُمْ كَيْفَ مَا أَهْوَاكُم Siapakah diriku, siapakah diriku kalau tiada bimbingan kalian (guru) Bagaimana aku tidak cinta kepada kalian dan bagaimana aku tidak menginginkan bersama kalian مَا سِوَيَ وَلَا غَيْرَكُم سِوَاكُم # لَا وَمَنْ فِى المَحَبَّةِ عَلَيَّ وُلَاكُم Tiada selain ku juga tiada selainnya terkecuali engkau, tiada siapapun dalam cinta selain engkau dalam hatiku أَنْتُم أَنْتُم مُرَادِي وَ أَنْتُم قَصْدِي # لِيْسَ احدٌ فِى المَحَبَّةِ سِوَاكُم عِنْدِي Kalianlah, kalianlah dambaanku dan yang kuinginkan, tiada seorangpun dalam cintaku selain engkau di sisiku كُلَّمَا زَادَنِي فِى هَوَاكُم وَجْدِي # قُلْتُ يَا سَادَتِي مُحْجَتِي تَفْدَاكُم Setiap kali bertambah cinta dan rindu padamu, maka berkata hatiku wahai tuanku semangatku telah siap menjadi tumbal keselamatan dirimu لَوْ قَطَعْتُمْ وَرِيْدِي بِحَدِّ مَا ضِي # قُلْتُ وَاللهِ أَنَا فِى هَوَاكُم رَاضِي Jika engkau menyembelih urat nadiku dengan pisau berkilau tajam, kukatakan demi Alloh aku rela gembira demi cintaku padamu أَنْتُمُ فِتْنَتِي فِى الهَوَا وَمُرَادِي # مَا ِرِضَايَ سِوَى كُلُ مَا يَرْضَاكُم Engkaulah yang menyibukkan segala hasrat dan tujuanku, tiada ridho yang aku inginkan terkecuali segala sesuatu yang membuat mu ridho كُلَّمَا رُمْتُ إِلَيْكُم نَهَوْ مَنْ أَسْلَك # عَوَقَتْنِيْ عَوَائِق أَكَاد أَنْ أَهْلِك Setiap kali ku bergejolak cinta padamu selalu terhalang untuk aku melangkah, mereka mengganjalku dengan perangkap yang banyak hampir saja aku hancur فَادْرِكُوا عَبْدَكُم مِثْلُكُمْ مَنْ أَدْرَكْ # وَارْحَمُوا بِا المَحَبَّةِ قَتِيْل بَلْوَاكُم Maka tolonglah budak kalian ini, dan yang seperti kalianlah golongan yang suka menolong, dan kasihanilah kami dengan cinta kalian, maka cinta kalian membunuh dan memusnahkan musibahku Sumber: Muhammad Ainiy

Man Ana Laulakum (Siapa Diriku) Lirik, Latin, dan Terjemahannya

KalamUlama.com - Suara Sulthonul Qulub al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa saat membaca qosidah al-Imam al-Habib Umar Muhdhor bin Abdurrohman Assegaf. Qosidah Man Ana Laulakum ini...
Kumpulan Doa dan Dzikir (Kalam Ulama) - Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta الفصل الأول : في الغزل وشكوى الغرام Bagian Pertama: Bercumbu dan Pengaduan Cinta مَوْلَايَ صَلِّي وَسَلِّـمْ دَآئِــماً أَبَـدًا ۞ عَلـــَى حَبِيْبِـكَ خَيْــرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ هُوَالْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ ۞ لِكُلّ هَوْلٍ مِنَ الْأِهْوَالِ مُقْتَحِـــــــمِ أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَــــلَــمٍ ۞ مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَيْ مِنْ مُقْلَةٍ بِـــدَمِ Apakah karena mengingat para kekasih di Dzi Salam[1] sana. Engkau deraikan air mata dengan darah duka. أَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَاظِمَـــةٍ ۞ وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِيْ الْضَمَآءِ مِنْ إِضَـمِ Ataukah karena hembusan angin terarah lurus berjumpa di Kadhimah[2]. Dan kilatan cahaya gulita malam dari kedalaman jurang idham [3]. فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَــا ۞ وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِـــــمِ Mengapa kedua air matamu tetap meneteskan airmata? Padahal engkau telah berusaha membendungnya. Apa yang terjadi dengan hatimu? Padahal engkau telah berusaha menghiburnya. أيَحَسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتـــِمٌ ۞ مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمضْطَــــرِمِ Apakah diri yang dirundung nestapa karena cinta mengira bahwa api cinta dapat disembunyikan darinya. Di antara tetesan airmata dan hati yang terbakar membara. لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمْعاً عَلَي طَـلَلٍ ۞ وَلاَ أرَقْتَ لِذِكْرِ الْبَانِ وَالْعَلـَـــمِ Andaikan tak ada cinta yang menggores kalbu, tak mungkin engkau mencucurkan air matamu. Meratapi puing-puing kenangan masa lalu berjaga mengenang pohon ban dan gunung yang kau rindu. فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُباًّ بَعْدَ مَا شَــهِدَتْ ۞ بِهِ عَلَيْكَ عُدُوْلُ الدَّمْعِ وَالسَّـــقَمِ Bagaimana kau dapat mengingkari cinta sedangkan saksi adil telah menyaksikannya. Berupa deraian air mata dan jatuh sakit amat sengsara. وَأَثْبَتَ الْوَجْدُ خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَّضَــنىً۞ مِثْلَ الْبَهَارِمِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَــــمِ Duka nestapa telah membentuk dua garisnya isak tangis dan sakit lemah tak berdaya. Bagai mawar kuning dan merah yang melekat pada dua pipi. نَعَمْ سَرَى طَيْفُ مَنْ أَهْوَى فَأَرّقَنِي ۞ وَالْحُبّ يَعْتَرِضُ اللّذّاتَ بِالَلَــــــمِ Memang benar bayangan orang yang kucinta selalu hadir membangunkan tidurku untuk terjaga. Dan memang cinta sebagai penghalang bagi siempunya antara dirinya dan kelezatan cinta yang berakhir derita. يَا لَا ئِمِي فِي الهَوَى العُذْرِيِّ مَعْذِرَةً ۞ مِنّي إِلَيْكَ وَلَوْ أَنْصَفْتَ لَمْ تَلُمِ Wahai pencaci derita cinta kata maaf kusampaikan padamu. Aku yakin andai kau rasakan derita cinta ini tak mungkin engkau mencaci maki. عَدَتْكَ حَـــالِـي لَاسِرِّيْ بِمُسْتَتِرٍ ۞ عَنِ الْوِشَاةِ وَلاَ دَائِيْ بِمُنْحَسِــمِ Kini kau tahu keadaanku, tiada lagi rahasiaku yang tersimpan darimu. Dari orang yang suka mengadu domba dan derita cintaku tiada kunjung sirna. مَحّضْتَنِي النُّصْحَ لَكِنْ لَّسْتُ أَسْمَعُهُ ۞ إَنّ الُحِبَّ عَنِ العُذَّالِ فِي صَمَمِ Begitu tulus nasihatmu, tapi aku tak mampu mendengar semua itu. Karena sesungguhnya orang yang dimabuk cinta tuli dan tak menggubris cacian pencela. إِنِّى اتَّهَمْتُ نَصِيْحَ الشّيْبِ فِي عَذَلِي ۞ وَالشّيْبُ أَبْعَدُ فِي نُصْحِ عَنِ التُّهَمِ Aku curiga ubanku pun turut mencelaku. Padahal ubanku pastilah tulus memperingatkanku. Baca Juga : Kisah Pangeran Diponegoro & Sholawat Burdah

Qasidah Burdah Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta

Kumpulan Doa dan Dzikir (Kalam Ulama) - Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta الفصل الأول : في الغزل وشكوى الغرام Bagian...
SYAIKHONA (Wahai Guru Kami) شَيْخَنَا مَعَ السَّلاَمَةَ فِی أَمَانِهْ شَيْخَنَا اَللهُ رَبِّ ارْحَمْ مُرَبِّی رُوْحِنَا… يَا رَبَّنَا Ma’as-salaamah fii amaanih Syaikhonaa Allaahu Robbi-rham murobbii ruuhinaa (Yaa Robbanaa) Selamat jalan semoga dalam keselamatan wahai guruku, Ya Allah Tuhanku, rahmatilah pendidik jiwa kami (wahai Tuhanku) عَيْنُ الْمُحِبِّ بِالدُمُوْعِ حَازِنَا رَوْعًا عَلَی افْتِرَاقِ مَنْ قَدْ أَحْصَنَا… يَا شْيْخَنَا ‘Ainul muhibbi biddumuu’i haazinaa Rou’an ‘alaa-ftirooqi man qod ahshonaa (Yaa Syaikhonaa) Mata penuh cinta dipenuhi air mata, sedih karena akan berpisah dari sosok yang memberi (kemuliaan) pada kami (wahai guru kami) رَوَضَّنَا بِأُسْوَةٍ مَحَاسِنَا شَرَفَهُ اللهُ فِی جَوَارِ نَبِيِّنَا… يَا رَبَّنَا Rowwadlonaa bi uswatin muhaasinan Syarrofahullaahu fii jiwaar nabiyyinaa (Yaa Robbanaa) Beliau mengajari kami dengan teladan-teladan yang baik, Semoga Allah memuliakannya berada bersama Nabi kami (wahai Tuhanku) وَنَتَبِعْ عَزْمَكْ وَکُنْتَ مُتْقِنَا أَرِحْ وَنَوْمًا گالعْرُوْسِ آمِنَا… يَا شَيْخَنَا Wa nattabi’ ‘azmak wa kunta mutqinaa Arih wa nauman kal ‘aruusi aaminaa (Yaa Syaikhonaa) Kami tunduk akan kehendakMu dan kau sosok yang dipatuhi, beristirahatlah dan tidurlah dengan tenang bak pengantin (wahai guru kami) فَاعْفُ إِذَا لَمْ تَرْضَ مِنْ أَعْمَانِنَا دَوْمًا دُعَاءً رَبَّنَا اغْفِرْ شَيْخَنَا… يَا رَبَّنَا Fa’fu idzaa lam tardlo min a’maaninaa Dauman du’aa-an robbanaa-ghfir syaikhonaa (Yaa Robbanaa) Maafkan kami bila ada yg tidak berkenan dihati selama masa belajar kami, kami senantiasa berdoa: Ya Tuhanku ampunilah guru kami (wahai Tuhanku) كُلُّ الْقُلُوْبِ اِلاَّلْحَبِيْبِى تَمِيْلُ * وَمَعِى بِذَلِكَ شَاهِدٌ وَدَلِيْلُ اَمّاَ الدَّلِيْلُ اِذَا ذَكَرْتُ مُحَمَّدًا * صَارَتْ دُمُوْعُ العَاشِقِيْنَ تَسِيْلُ

Ya Syaikhona – Lirik Sholawat, Latin dan Terjemahnya

Kalam Ulama - TEKS SHOLAWAT DAN TERJEMAH YA SYAIKHONA (Wahai Guru Kami) شَيْخَنَا مَعَ السَّلاَمَةَ فِی أَمَانِهْ شَيْخَنَا اَللهُ رَبِّ ارْحَمْ مُرَبِّی رُوْحِنَا… يَا رَبَّنَا Ya Syaikhona Ma’as-salaamah fii amaanih...
KalamUlam.com - Kajian Maulid Diba #13 Fahtazzal arsyu tharaban was-tibsyâra, Waz-dâdal kursiyyu haibatan wa waqâra,  Wam-tala-atis samâwâtu anwâra, wa dhaj-jatil mala-ikatu tahlîlan wa tanjîdan was-tighfâra اللهم صل وسلم وبارك عليه   Ya Allah tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad).   فَاهْتَزَّ الْعَرْشُ طَرَبًا وَاسْتِبْشَارًا Maka bergoncanglah ‘Arsy karena gembira dengan adanya kabar gembira.   وَازْدَادَ الْكُرْسِيُّ هَيْبَةً وَوَقَارًا Dan kursi Allah bertambah wibawa dan tenang karena memuliakannya.   وَامْتَلَأَتِالسَّمٰوَاتُ أَنْوَارًا Dan langit penuh dengan cahaya.   وَضَجَّتِ الْمَلَآئِكَةُ تَهْلِيْلًا وَتَمْجِيْدًا وَاسْتِغْفَارًا ۩ serta bergemuruh suara malaikat membaca tahlil, tamjid dan istighfar   سُبْحَانَ اللهِ وَ اْلحَمْدُ للهِ وَلا اِلهَ الّا اللهُ وَ اللهُ اَكْبَر  Maha Suci Allah, limpahan puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dialah Allah yang Maha Besar (4x)   وَلَمْ تَزَلْأُمُّهٗ تَرٰى أَنْوَاعًا مِنْ فَخْرِهِ وَفَضْلِهِ إِلىٰ نِهَايَةِ تَمَامِ حَمْلِهِ  Dan ibunya tiada henti-hentinya melihat bermacam-macam keajaiban hingga dari keistimewaan dan keagungannya hingga sempurna masa kandungannya,   فَلَمَّا اشْتَدَّ بِهَا الطَّلْقُ بِـإِذْنِ رَبِّ الْخَلْقِ  Maka ketika ibunya telah merasakan sakit karena kandungannya akan lahir, dengan izin Tuhannya, Tuhan pencipta makhluk,   وَضَعَتِ الْحَبِيْبَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدًا شَاكِـرًا حَامِدًا كَأَنَّهُ الْبَدْرُ فِيْ تَمَامِهِ   Lahirlah kekasih Allah Muhammad SAW dalam keadaan sujud, bersyukur dan memuji, sedangkan wajahnya bagaikan bulan purnama dalam kesempurnaannya.   -------000--------   مَحَلُّ اْلقِيَامِ [irp posts="933" name="Kajian Maulid Diba' #14 : Teks dan Terjemah Mahallul Qiyam"]  Keterangan: Para Malaikat, Para Nabi, Para Wali, Para bidadari surga, seluruh makhluk-makhluk Allah SWT yang ada di daratan, di lautan, di angkasa, bahkan bumi, laut, udara, bintang-bintang, bulan, matahari, langit, kursiy dan Arasy, seluruhnya benar-benar meluapkan kegembiraan dan memuncakkan “Shalawat ta’dzhim” kepada Kekasih Allah SWT, Nabi Akhir Zaman, Baginda Nabi Muhammad SAW. Bahkan Ka’bah Baitulloh ikut bergetar selama 3 hari berturut-turut karena bahagia dan bangga menyambut kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW.           Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Maulid Ad-diba’iy Lil Imam Abdurrahman Ad-Diba’iy: فاهتز العرش طربا واستبشارا وازداد الكرسي هيبة ووقارا وامتلأت السموات أنوارا وضجت الملائكة تهليلا وتمجيدا واستغفارا Yang artinya kurang lebih: “Sesungguhnya (pada saat kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW), ‘Arasy seketika gentar hebat luar biasa meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya, dan Kursiy juga semakin tambah kewibawaan dan keagungannya, dan seluruh langit dipenuhi cahaya yang bersinar terang dan para malaikat seluruhnya serentak bergemuruh memanjatkan tahlil, tamjid, dan istighfar kepada Allah SWT dengan mengucapkan:  سبحان الله  والحمد لله  ولا إله إلا الله  والله أكبر أستغفر الله Yang artinya kurang lebih: “Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, saya beristighfar (memohon ampun) kepada Allah SWT.”           Sesungguhnya dengan keagungan baginda Nabi Muhammad SAW di sisi Allah SWT, maka Allah SWT telah memerintahkan kepada para malaikat-Nya yang agung yakni Malaikat Jibril, Malaikat Muqorrobin, Malaikat Karubiyyin, Malaikat yang selalu mengelilingi Arasy dan lainnya agar serentak berdiri pada saat detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW dengan memanjatkan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, dan Istighfar kepada Allah SWT.           Semua fenomena keajaiban-keajaiban agung yang terjadi pada detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW yang diwujudkan oleh  Allah SWT, semata-mata hanya menunjukkan kepada semua makhluk-makhluk-Nya Allah SWT bahwa baginda Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang paling dicintai-Nya, makhluk yang paling agung dan mulia derajatnya di sisi-Nya.           Dan riwayat-riwayat semua yang tersebutkan di atas, bukan sekedar cerita belaka, namun telah kami nukil data datanya dari kitab-kitab para ulama Ahlussunnah Waljama’ah yang sangat akurat dan otentik. Diantaranya adalah Kitab Al-Hawi lil Fatawi yang dikarang oleh Al-Imam Asy-Syaikh Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi yang telah mengarang tidak kurang dari 600 kitab yang dijadikan marja’ (pedoman) bagi para ulama ahlussunnah waljama’ah dalam penetapan hukum-hukum syariat Islam.Bahkan para ulama ahlussunnah waljama’ah telah sepakat menjuluki Beliau dengan gelar “Jalaaluddiin” yakni sebagai pilar keagungan agama Islam.           Bahkan tidak hanya dari kitab beliau, tetapi juga dari kitab-kitab para ulama Ahlussunnah Waljama’ah lainnya yang juga telah disepakati dan dijadikan sebagai sumber pedoman oleh para ulama. Diantaranya adalah Kitab Dalailun Nubuwwah lil Imam Al-Baihaqi, Kitab Dalailun Nubuwwah lil Imam Abu Na’im Al-Ashfahaniy, Kitab An-Ni’matul Kubro ‘Alal ‘Aalam lil Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitami, Kitab Sabiilul Iddikar lil Imam Quthbul Ghouts Wad-Da’wah Wal-Irsyad Al-Habib Abdullah bin ‘Alawi Al-Haddad, Kitab Al-Ghuror lil Imam Al-Habib Muhammad bin Ali bin Alawiy Khird Ba Alawiy Al-Husainiy, Kitab Asy-Syifa’ lil Imam Al-Qadli ‘Iyadl Abul Faidl Al-Yahshabiy, Kitab As-Siiroh An-Nabawiyyah lil Imam As-Sayyid Asy-Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al Hasaniy, Kitab Hujjatulloh ‘Alal ‘Aalamin lis Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhaniy, dan kitab-kitab lainya yang mu’tamad dan mu’tabar (diakui dan dijadikan pedoman oleh para ulama).           Bagi para Ulama shalihin Ahlussunnah Waljama’ah telah sepakat untuk berdiri pada saat bacaan Maulid Nabi Muhammad SAW telah tiba, yakni pada Mahallul Qiyam (detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW). Mereka serentak berdiri demi mengikuti jejak para Malaikat, jejak arwah para Nabi dan jejak arwah para Wali untuk ta’dzhim (mengagungkan) dan memuncakkan rasa cinta yang agung kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Mereka luapkan rasa syukur yang memuncak ke hadhirat Allah SWT atas nikmat atau anugerah paling agung yang telah Allah SWT limpahkan dengan mengutus Kekasih-Nya sebagai Rahmat (Belas Kasih Sayang-Nya) untuk seluruh alam semesta.  Mereka panjatkan puji-pujian yang agung kepada baginda Rasululloh SAW dengan bahasa sastra yang indah dan suara merdu yang dipenuhi dengan rasa rindu dan cinta yang tulus mulia kepada Baginda SAW.           Maka, sungguh sangat mulia sekali bagi kita sebagai umat yang sangat dicintainya untuk mengikuti jejak para ulama shalihin dengan serentak berdiri pada saat Mahallul Qiyam demi menyambut kedatangan Kekasih Allah SWT yang sangat mulia, Junjungan kita baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Bukankah Beliau adalah Nabi kita yang sangat kita cintai? Bukankah Beliau adalah yang kelak akan memberi pertolongan kepada kita sehingga selamat dari siksaan Allah SWT yang sangat pedih? Bukankah Beliau adalah yang akan memberi syafaat kepada kita sehingga kita bisa memperoleh keridloan Allah SWT yang agung dan masuk ke dalam surga-Nya yang dipenuhi dengan segala kenikmatan, keindahan dan kebahagiaan yang kekal abadi selama-lamanya? Karena Rasululloh  SAW adalah Kekasih Allah SWT yang mana Allah SWT telah berjanji untuk tidak menolak segala  permintaan Beliau dan akan mengabulkan segala permohonannya. Dan janji ini telah ditetapkan Allah SWT dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Surat Adh-Dhuha ayat  5:  ولسوف يعطيك ربك فترضى   Yang artinya kurang lebih: “Dan (sesungguhnya) kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu (Nabi Muhammad SAW), lalu (hati) kamu menjadi puas”. (Q.S. Adl-Dluha: 5) Sungguh sangat beruntung kita sebagai umat Islam yang benar-benar mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW dengan setulusnya. Maka, pada saat tiba ajal kita nanti, baginda Nabi Muhammad SAW yang sangat kita cintai akan menolong kita dengan memohon kepada Allah SWT agar ditetapkan iman kita, diampuni segala dosa-dosa kita yang pernah kita lakukan dan diberi kemudahan menghadapi sakaratul maut. Bukan sekedar itu saja, bahkan pada saat menghadapi pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam barzakh, Beliau akan menolong kita. Dan berkat pertolongannya, seketika Allah SWT akan menjadikan kuburan kita sebagai “Raudlotun Min Riyaadlil Jinaan”, yakni sebagai taman diantara taman-taman surga. Begitu pula pada saat di padang Mahsyar, kita akan dipersilahkan untuk meminum air telaganya dan bertemu dengan Beliau SAW beserta para ahli baitnya, para sahabatnya, dan juga bersama para wali Allah SWT, para orang-orang sholihin  dan bersama pula dengan orang-orang mukmin yang mencintainya. Seketika itu pula kita mendapati rasa aman. Demikian besarnya perhatian baginda Rasulullah SAW kepada kita, dan agungnya ketulusan mahabbah (Belas Kasih Sayang) yang sempurna kepada kita, sehingga kita bisa mendapati limpahan Rahmat (Belas Kasih Sayang) Allah SWT dan ampunan-Nya, adalah  sangat banyak sekali data-data atau dalilnya disebutkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Al-Hadits serta kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah. Sebagian diantara dalil-dalil tersebut adalah Firman Allah SWT dalam Al-Qur’anu Al-Kariim Surat At-Taubah  ayat 128:  لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رءوف رحيم   Yang artinya kurang lebih: “Sesungguhnya telah datang kepada kalian Seorang Rasul (Nabi Muhammad SAW), dari kaum kalian sendiri, (sungguh sangat) berat terasa olehnya (segala) penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin..” (Q.S. At-Taubah: 128).           Demikianlah anugerah-anugerah agung yang dilimpahkan Allah SWT kepada umat Islam yang benar-benar cinta kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Namun, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Qodli ‘Iyadl dalam kitabnya Asy-Syifa hal 158 bahwa orang yang benar-benar tulus mencintai baginda Rasul SAW, syaratnya harus mengikuti jejaknya, meneladani prilakunya, menghidupkan sunnah ajaran dan syiarnya, mencintai ahli baitnya dan menghormati seluruh shahabatnya. Semoga kita semua termasuk orang yang benar-benar cinta sejati dengan tulus kepada Baginda Nabi Muhammad SAW beserta seluruh ahli bait dan shahabatnya serta bisa meneladani prilaku dan jejak-jejak mereka.  Wallahu a’lam bishshowaab.  Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi melalui kitab Nurul Mushthofa yang dirangkum oleh Al-Habib Murtadho bin Abdullah Alkaf. Demikian pembahasan fasal fahtazzal arsyu      

Fahtazzal Arsyu – Kitab Maulid Diba dan Terjemahannya (03)

KalamUlam.com - Fasal Fahtazzal Arsyu ini merupakan fasal yang begitu luar biasa. Karena didalam fasal ini diceritakan bagaiamana kemulian Nabi Muhammad dan semua alam menyambut...
Maulid Diba dan Terjemahannya KalamUlama.com - Teks Maulid diba banyak sekali yang sehingga para pembaca bisa membuka link maulid diba full. tapi kami memohon maaf belum menyediakan maulid diba pdf. Sebagaimana kami ketahui, bahwa para ulama salaf banyak sekali yang menulis kitab, buku atau postingan singkat yang memuat bacaan shalawat. Hal itu dikerjakan untuk mewujudkan sebuah bukti kecintaan mereka kepada Nabi yang disanjungnya. Bacaan shalawat yang berupa buku atau kitab antara lain : shalawat Dala'il, shalawat Bakriyah, shalawat Diba'iyyah dan lain-lain. Sedangkan yang berupa postingan singkat antara lain shalawat Nariyah, shalawat Rajabiyah, shalawat Munjiyat, shalawat Fatih, shalawat Sa’adah. shalawat Badriyah dan lain- lain. Dari sekian banyak kitab yang memuat bacaan shalawat berikut tersedia yang palingterkenal dan sering dibaca yang diadakan oleh warga Nahdliyyin, antara lain adalah shalawat Diba’iyyah. Jadi pengertian Diba’an adalah : membaca kitab yang memuat bacaan shalawat dan riwayat hidup Nabi secara singkat yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahman ad-Diba’i. Pengarang Maulid Diba' Maulid Diba’ adalah satu karya maulid yang masyhur didalam Islam adalah maulid yang dikarang oleh seorang ulama besar dan ahli hadits, yaitu Imam Wajihuddin ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali bin Yusuf bin Ahmad bin ‘Umar ad-Diba`ie asy-Syaibani al-Yamani az-Zabidi asy-Syafi`i. Sebagaimana yang udah disebutkan, kitab ini sering dicetak dan dibukukan sejalan dengan dua kitab maulid di atas, Syaroful Anam dan Al-Barjanzi. Pengarangnya adalah Imam Wajihuddin Abdu Ar-Rahman bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Yusuf bin Ahmad bin Umar ad-Dibai (866H-944H), beliau berasal Zabid, keliru satu kota di Yaman. Selain ulama yang produktif mengarang kitab, beliau juga dikenal sebagai ahli hadits, bahkan mencapai derajat Al-Hafiz, yaitu hafal 100.000 hadits dengan sanadnya. Sanad Pengarang Maulid Diba Syaikh Abdurrahman Ad Dibai dilahirkan pada 4 Muharram 866 H dan wafat pada hari Jumat 12 Rajab tahun 944H. Pada masanya, beliau adalah seorang ulama hadits yang tenar dan tak ada bandingannya. Beliau mengajar kitab Shohih Imam al-Bukhari lebih dari 100 kali khatam. Beliau mencapai darjat Hafidz didalam pengetahuan hadits yaitu seorang yang menghafal 100,000 hadits dengan sanadnya dan setiah hari beliau mengajar para santrinya hadits dari masjid ke masjid. . Guru-guru beliau di antaranya adalah Imam al-Hafidz as-Sakhawi, Imam Ibnu Ziyad, Imam Jamaluddin Muhammad bin Ismail, mufti Zabid, Imam al-Hafiz Tahir bin Husain al-Ahdal dan banyak lagi. Selain itu, beliau juga merupakan seorang yakni ahli sejarah. Adapun kitab karangannya adalah sebagai berikut: “Taisirul Wusul ila Jaami`il Usul min Haditsir Rasul” yang memiliki kandungan himpunan hadits yang dinukil dari pada kitab hadits yang 6. “Tamyeezu at-Thoyyib min al-Khabith mimma yaduru ‘ala alsinatin naasi minal hadits” sebuah kitab yang membedakan 3. hadits sohih dengan yang lainnya seperti dhoif dan maudhu. “Qurratul ‘Uyun fi akhbaril Yaman al-Maimun” “Bughyatul Mustafid fi akhbar madinat Zabid”. “Fadhail Ahl al-Yaman”. Hukum Membaca Maulid Diba Membaca shalawat ad dibai atau shalawat yang lain menurut pendapat Jumhurul Ulama adalah sunnah Muakkad. Kesunatan membaca shalawat ini didasarkan pada lebih dari satu dalil, antara lain: Firman Allah SWT. Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah anda untuk Nabi dan sampaikanlan salatu penghormatan kepadanya. (QS. AI-Ahzab : 56) Sabda Nabi SAW.: صلوا علي، فإن الصلاة علي كفارة لكم وزكاة. [رواه ابن ماجه] Artinya : “Bershalawatlah anda untukku, karena membaca shalawat untukku bisa mengahapus dosamu dan bisa membersihkan pribadimu”. (HR. lbnu Majah) Sabda Nabi SAW. : زينوا مجالسكم بالصلاة علي، فإن صلاتكم علي نور لكم يوم القيامة Artinya: “Hiasilah tempat-tempat pertemuanmu dengan bacaan shalawat untukku, karena sesungguhnya bacaan shalwat untukku itu menjadi cahaya bagimu pada hari kiamat”. (HR. Ad-Dailami). Keutamaan Maulid Diba Seseorang yang ahli membaca shalawat bakal diberi anugerah oleh Allah, antaralain : Dikabulkan do’anya الدعاء كله محجوب حتى يكون أوله ثناء على الله عز وجل وصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يدعو فيستجاب له لدعاءه Artinya: “Setiap do’a adalah terhalanh, sehingga dimulai dengan memuji kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi, sesudah itu baru berdo'a dan bakal dikabulkan do’a itu”. (HR. Nasa’i). Peluang untuk mendapat syafa'at Nabi pada hari kiamat. Dihilangkan ada problem dan kesulitannya. Dan lain-lain. Cara Membaca Diba’iyyah Dibaca dengan kesungguhan dan keikhlasan hati dan juga diiringi rasa hormat dan mahabbah/cinta kepada Rasulullah SAW. Jelas sekali dalalah ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi berikut bahwa kami sebagai ummat Muhammad diperintahkan untuk membacakan shalawat kepada Nabi SAW. agar dapat mengagungkannya sekaligus mengharapkan barokahnya sewaktu kami masih hidup di dunia dan sehingga mendapat syafa’atul udzma dikala kami berada di alam mahsyar kelak. Tata Cara menghadiri Majlis Maulid Nabi SAW (Diringkaskan dari kitab Azzahrul Baasim karya Mufti Betawi zaman Hindia Belanda, al-Habib Utsman bin ‘Abdillah bin Yahya rohimahullohu ta’ala): Dilaksanakan pada tempat-tempat yang terhormat seperti masjid, musholla, majelis-majelis, atau perkumpulan mulia, dan sebagainya. Tidak boleh tersedia pada tempat berikut suatu patung-patung binatang atau manusia yang menjadi simbol pengagungan dan penyembahan terhadapnya (misal patung dewa, bunda maria, dan sejenisnya), karena hal berikut dibenci oleh beliau (SAW) dan para Malaikat. Ketika membaca shirohnya (sejarahnya) yang terkandung didalam Kitab Maulid, tidak boleh bercampur didalamnya antara laki-laki dengan perempuan. Kecuali adanya hijab (batas/dinding) yang mengatasi antara perempuan dan laki-laki, sehingga aman dari fitnah. Jangan pula tersedia pada tempat diselenggarakannya, suatu permainan yang HARAM (misal judi dan sejenisnya). Sebab, hal itu bakal mengantarkan pada kedurhakaan besar melanggar larangan Rosululloh SAW. Jangan pula tersedia pada tempat itu segala sesuatu yang beraroma busuk. Seperti rokok, cerutu, kandang binatang, dan sejenisnya. Maka hendaklah tersedia pada tempat itu segala sesuatu wewangian yang harum seperti dupa (gaharu bakar) atau bunga-bungaan. Hendaklah yang hadir pada tempat penyelenggaran itu membaca sholawat, dan janganlah satu sama lain saling bercerita, masing-masing “pasang” telinga mendengar kisah maulid yang dibacakan sambil membaca sholawat. Apabila nanti disebut bakal dzohir (lahir dan hadir)-nya sang Nabi SAW ke dunia, maka semua yang hadir bersegera untuk bangun dan berdiri. Bukan atas basic paksaan, tapi karena TAKDZIM (HORMAT), BAHAGIA, dan ANTUSIAS pada kehadiran beliau (SAW). Sehingga pada selanjutnya segenap hadirin yang mematuhi aturan-aturan berlaku, kelak bakal memperoleh syafa’at (pertolongan) dari beliau (SAW) di yaumil akhir dan juga memperoleh balasan yang berlipat ganda dunia wal-akhiroh. InsyaAlloh. اللهمّ صلّ على سيّدنا و شفيعنا محمّد وعلى آله وصحبه و سلّم واجعلنا من خيار امّته و من اهل شفاعته برحمتك يا ارحم الرّاحمين آمين “Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina wa Syafi’ina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi wa Sallim waj’alnaa min khiyaari ummatihi wa min ahli syafaa’atihi, birohmatika Yaa Arhamarrohimiin, aamiin“ (Yaa Alloh, limpahkanlah sholawat atas junjungan kami, Nabi kami yang memberi syafa’at bagi kami, yaitu Nabi Muhammad SAW dan atas keluarganya, dan sahabatnya, dan juga salam penghormatan atasnya, dan jadikanlah kami daripada umatnya yang paling baik dan yang mendapat syafa’atnya di hari sesudah itu dengan Rahmat-Mu wahai Tuhan yang punyai cii-ciri Kasih Sayang melebihi semua yang punyai cii-ciri kasih sayang, aamiin) Baca : Kitab Maulid Diba dan Terjemahannya #02: “Inna Fatahna”

Maulid Diba Full Lengkap dengan Teks Terjemah Bahasa Indonesia

KalamUlama.com - Teks Maulid diba banyak sekali yang sehingga para pembaca bisa membuka link yang ada dibawah. tapi kami memohon maaf belum menyediakan maulid...