Kajian Islam

KalamUlama.com - Awwalu Maa Nastaftihu - Kajian Maulid Diba (07) اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang أَوَّلُ مَا نَسْتَفْتِحُ بِـإِيْرَادِ حَدِيْثَيْنِ وَرَدَا عَنْ نَبِيٍّ كَانَ قَدْرُهٗ عَظِيْمًا Pertama kali kami awali hal ini dengan mengemukakan dua buah hadits datang dari Nabi yang berkedudukan agung. وَنَسَبُهٗ كَرِيْمًا وَصِرَاطُهٗ مُسْتَقِيْمًا Dan bernasab mulia serta lurus perjalanan hidupnya. قَالَ فِيْ حَقِّهٖ مَنْ لَّمْ يَزَلْ سَمِيْعًا عَلِيْمًا Alloh berfirman: Demi hak Muhammad. Dzat yang tiada terIepas dari sifat Maha Mendengar dan Maha Melihat, إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىٰ النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا Bahwasanya Alloh dan para malaikat-Nya selalu bersholawat untuk Nabi, wahai orang-orang yang beriman, mohonkan rahmat dan salam dengan kesungguhan untuknya. اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) --------------------------- Keterangan : Allohu subhanahu wata’ala bersholawat kepada hamba-hambaNya maksudnya adalah bahwa Alloh melimpahkan rahmat kepada mereka. Sedangkan sholawat dari malaikat adalah bahwa malaikat memohonkan pengampunan dosa-dosa untuk hamba kepada Alloh subhanahu wata’ala. Adapun sholawat dari manusia adalah berupa doa dan munajat kepada Alloh subhanahu wata’ala agar menambahkan kemuliaan kepada sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, makhluk yang paling dicintai Alloh subhanahu wata’ala. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا ( رواه مسلم ) “Barangsiapa yang bersholawat kepadaku satu kali, maka Alloh bersholawat kepadanya ( melimpahkan rahmat) sepuluh kali”. ( HR. Muslim) Sungguh ribuan sholawat dari kita tidak berarti dibanding dengan sholawat Alloh, bahkan jika seluruh alam semesta ini bersholawat maka hal itu tidak akan menyamai satu sholawat dari Alloh subhanahu wata’ala. Maka dari hadits tersebut terbukalah rahasia keagungan cinta Alloh subhanahu wata’ala kepada orang-orang yang mencintai nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Alloh subhanahu wata’ala akan bersholawat sepuluh kali untuk orang yang bersholawat kepada nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam satu kali. Hal ini menunjukkan sungguh besarnya sambutan Alloh subhanahu wata’ala kepada yang mencintai sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, satu kali cinta seseorang kepada sang nabi maka Alloh jawab dengan sepuluh kali cinta dari Alloh subhanahu wata’ala. Jadi mencintai nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam bukanlah perbuatan yang kultus atau syirik, namun mencintai nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam adalah merupakan anugerah besar dan akan berlanjut dengan limpahan anugerah yang lebih besar dari Alloh subhnahu wata’ala di dunia dan akhirat. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ “Barangsiapa yang bersholawat kepadaku satu kali, Alloh bersholawat untuknya sepuluh kali, dan dihapuskan darinya sepuluh kesalahan (dosa), dan ditinggikan baginya sepuluh derajat”. Adapun yang dimaksud dengan ditinggikan sepuluh derajat adalah didekatkan kepada Alloh subhanahu wata’ala sepuluh kali lebih dekat dari keadaan sebelumnya, maka seandainya seseorang yang hidup di saat ini ia bersholawat kepada nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasalam satu kali, maka ia akan mendapatkan sepuluh kali sholawat dari Alloh subhanahu wata’ala, dan dihapuskan darinya sepuluh dosa, serta ia terangkat sepuluh derajat lebih dekat kepada Alloh subhanahu wata’ala, sungguh betapa beruntungnya orang yang cinta kepada sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, betapa mulianya perkumpulan sholawat kepada sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Maka setelah bersholawat kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, pilihlah doa yang ingin diminta dan dipanjatkan kepada Alloh subhanahu wata’ala karena orang tersebut telah terangkat sepuluh derajat lebih tinggi, dan telah berjatuhan darinya sepuluh dosa, sehingga ia berada lebih dekat pada pintu terkabulnya doa-doa, demikian agungnya kemuliaan satu sholawat. Dan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda dan teriwayatkan dalam Mu’jam al-Kabiir oleh al-Imam at-Thobroni: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ عَشْرًا بِهَا مَلَكٌ مُوَكَّلٌ بِهَا حَتَّى يُبْلِغْنِيهَا “ Barangsiapa bersholawat kepadaku, Alloh bersholawat dan bersalam kepadanya sepuluh, dan sholawat itu ada malaikat yang membawanya hingga menyampaikannya kepadaku” Dalam hadits ini ditambahkan bahwa Alloh subhanahu wata’ala juga memberi salam kepada yang bersholawat kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam. Seseorang jika mendengar bahwa pak RW kirim salam kepadanya, tentu orang tersebut akan sangat gembira, terlebih jika yang memberi salam adalah lurah, bupati, gubernur, atau presiden, dan terlebih lagi jika yang bersalam adalah Robbul ‘alamin subhanahu wata’ala karena seseorang telah bersholawat kepada sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Maka beruntunglah orang-orang yang duduk dalam perkumpulan yang terang benderang dengan sholawat kepada sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Kahil : ياَ أَبَا كَاهِل أَنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ كُلَّ يَوْمٍ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ وَكُلَّ لَيْلَةٍ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ حُبًّا بِيْ وَشَوْقًا إِلَيَّ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يَغْفِرَ لَهُ ذُنُوْبَهُ تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَذَلِكَ الْيَوْم. “Wahai Aba Kahil, sesungguhnya barangsiapa yang bersholawat kepadaku di setiap siang hari 3 kali dan setiap malam 3 kali dengan penuh kecintaan kepadaku dan kerinduan kepadaku, sungguh Alloh akan mengampuni dosa-dosanya di malam itu dan di hari itu” Para pecinta dan yang rindu kepada sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam jika bersholawat kepada Rosululloh shollallohu ‘alihi wasallam maka Alloh subhanahu wata’ala akan menghapus dosa-dosanya di malam dan siang itu, yaitu dengan sholawat yang dipenuhi cinta dan rindu kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam sangat dimuliakan Alloh subhanahu wata’ala, begitu juga dengan orang-orang yang mencintai beliau shollallohu ‘alaihi wasallam. Demikian dengan yang bersholawat kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, semoga diantara sholawat itu ada yang menjadi penghapus dosa-dosa kita dan juga orang-orang yang mencintai dan rindu kepada sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. wAllohu a’lam Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi Narasumber: al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa, pada pembahasan kalimat وَصَلَّى اللهُ “Washolla Allohu” dalam kitab Risalatul Jami’ah karya al-Imam al-Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi ‘alaihi rohmatulloh.

Awwalu Maa Nastaftihu – Kajian Maulid Diba dan Terjemahnya (08)

KalamUlama.com - Awwalu Maa Nastaftihu - Kajian Maulid Diba (07) اللهم صل وسلم وبارك عليهYa Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi...

Kajian Kifayatul Atqiya’ #07: Keseimbangan Tiga Pilar Tasawwuf

Oleh: Ahmad Hanafi   Pada pertemuan sebelumnya Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatho telah menjelaskan tentang pentingnya taqwa dan bahayanya mengikuti hawa nafsu, pada pertemuan...

Kajian I’anatun Nisa’ #3: Istilah Lain Haid dan Hewan yang Haid

Oleh: Abdul Hamid Pada umumnya kita mengenal keluarnya darah dari farji seorang wanita setiap bulan dengan istilah haid atau menstruasi. Namun, perlu diketahui bahwa haid...

Kajian Wanita Sholihah dan Lelaki Sholih #08 : Tujuan menikahi wanita sholehah

Oleh   : Hamzah Alfarisi Assalamu alaikum, Pembaca yang dimulyakan oleh Allah. “Menikah” bukan sekedar atas rasa suka sama suka, namun menikah perlu dipertimbangkan empat aspek yang disabdakan oleh...

Kajian ASWAJA #08 : Ulama Sejagat Membolehkan Tabarruk (Ngalap Berkah) di Kuburan Orang Sholeh

      32.  Al-Imam ash-Shoghoni (wafat 650 H). Beliau adalah termasuk ulama yang getol memberantas bid’ah dan kesyirikan. Tapi, bagaimana perbuatan beliau sendiri ?? Perhatikan, beliau bercerita: “Abu...
KalamUlama.com - Fasubhana man Khoshshohu - Kajian Maulid Diba (07) اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) فَسُبْحَانَ مَنْ خَصَّهٗ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَشْرَفِ الْمَنَاصِبِ وَالْمَرَاتِبِ Maka Maha suci Alloh yang mengkhususkan Nabi Muhammad SAW dengan kemuliaan pangkat dan martabat أَحْمَدُهٗ عَلىٰ مَا مَنَحَ مِنَ الْمَوَاهِبِ Aku menyanjungkan pujian kepada-Nya, atas segala nikmat anugerah dan pemberian-Nya. وَأَشْهَدُ أَنْ لَآإِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهٗ لاَشَرِيْكَ لَهٗ رَبُّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبْ Dan aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Alloh yang Maha Esa lagi tiada sekutu bagi-Nya, pemilik arah timur dan barat. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلٰى سَآئِرِ الْأَعَاجِمِ وَالْأَعَارِبِ Dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya penghulu kami Nabi Muhammad itu adalah seorang hamba Alloh dan utusan-Nya yang diutus kepada semua bangsa ‘Ajam dan Arab. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلىٰ اٰلِهٖ وَأَصْحَابِهٖ أُوْلِى الْمَآَثِرِ وَالْمَنَاقِبِ Semoga rahmat Alloh dan salam-Nya tetap dilimpahkan kepada Nabi dan keluarga serta sahabatnya yang mempunyai perilaku agung dan sebutan nama baik. صَلاَةً وَسَلاَمًا دَآئِمَيْنِ مُتَلاَزِمَيْنِ يَاتِيْ قَآئِلُهُمَايَوْمَ الْقِيَامَةِ غَيْرَ خَآئِبِ Dengan rahmat dan salam yang kekal, keduanya merata kepada para pembacanya yang datang kelak di hari kiamat tanpa merugi. اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) ------------------------------------------ Keterangan : Salah satu kekhususan Nabi Muhammad SAW adalah membayar hutang setiap muslim yang meninggal dalam keadaan miskin. Diriwayatkan dalam Shohih Bukhori, Rosul SAW bersabda, “Ana awla bil mu’minina min anfusihim”, Aku (Nabi SAW) lebih awla (lebih utama didahulukan) daripada orang mukmin atas diri mereka sendiri. Kok bisa Rosul SAW mengatakan “aku lebih awla daripada orang-orang mukmin atas diri mereka sendiri”. Kenapa? Karena Firman Alloh SWT “Annabiyyu awla bil mu’minina min anfusihim” (QS. Al-Ahzab:6). Nabi SAW itu lebih utama, lebih patut didahulukan dari orang mukmin atas diri mereka sendiri, Kalau tidak kita ikuti sabda Beliau (SAW) yang selanjutnya, ucapan diatas terkesan 'sombong'. Aku (Nabi SAW) yang lebih utama dari orang mukmin atas diri mereka sendiri, tapi lihat ucapan (hadits beliau saw) selanjutnya, “...barangsiapa yang wafat masih meninggalkan hutang dan dia tidak punya uang atau harta untuk membayar hutangnya, aku (Nabi SAW) yang akan menyelesaikan hutangnya”. Setelah terjadinya fatah makkah, Rosul SAW mengatakan, “siapa yang punya hutang, datang padaku kalau tidak bisa bayar hutang”. Berapa banyak orang – orang muslimin yang wafat dan tidak mampu membayar hutangnya, mereka datang kepada Nabi SAW. Rosululloh SAW yang membayar hutang mereka. Subhanalloh! Inilah orang yang paling dermawan dari semua yang dermawan. Al-Imam Ibn Hajar Al-Asqolani di dalam kitabnya Fathul Bari bisyarah Shohih Bukhori menjelaskan, menukil beberapa hadits lainnya bahwa sebelum Fatah Makkah, Rosul SAW tidak mau menyolatkan jenazah yang masih punya hutang. Jadi kalau jenazah seseorang yang wafat, Rosul SAW bertanya, “ini masih punya hutang?”, kemudian dijawab “masih ada”. Maka Rosul SAW tidak mau sholat. Kalau sudah selesai hutangnya, atau ada orang yang bilang “aku yang menanggung”, baru Rosul SAW mau menyolatkannya. Ini bukan karena Rosul SAW benci atau menghina jenazah itu, tapi Rosul SAW tidak mau ada satu jenazah masuk ke dalam kuburnya masih membawa hutang, karena ia akan dihimpit oleh bumi. Demikian indahnya Nabiyyuna Muhammad SAW, tidak rela beliau ada satu jenazah yang masuk ke dalam kubur dihimpit oleh bumi. Ya Hanana bi Muhammad (Betapa Beruntungnya Kami dengan adanya Nabi Muhammad SAW). Allohumma Sholli wa Sallim wa Baarik 'Alaihi wa 'ala aalih. ADAPUN KEKHUSUSAN LAIN DARI PRIBADI AGUNG NABI MUHAMMAD SAW YANG TIDAK UNTUK UMATNYA ADA 4 (EMPAT) PERKARA, DIANTARANYA: 1. Kekhususan Nabi SAW dalam kewajiban, antara lain : Sholat dhuha Sholat witir Berkurban (udl-hiyyah) Siwak Bermusyawarah dalam setiap perkara, namun menurut Imam Syafi'i, ini tidak wajib mencegah kemungkaran yang Beliau lihat secara mutlak, bahkan menurut Imam Ghozali termasuk juga kemungkaran yang beliau tidak lihat. Membayar hutang setiap muslim yang meninggal dalam keadaan miskin. Namun menurut Al-Imam, ini apabila Beliau punya keluasan harta. Menceraikan diantara istri-istri Beliau yang memilih kehidupan dunia dan mempertahankan istri-istri Beliau yang memilih kehidupan akhirat Menasakh (menghapus) kewajiban sholat tahajud bagi Beliau. Roudlotut Tholibin VI / 238 - 241 Cetakan Beirut ----------------- 2. Kekhususan Nabi SAW dalam keharaman, antara lain : Menerima zakat dan sedekah, namun boleh menerima hadiah. Mengetahui tulisan dan lagu, Kanjeng Nabi adalah bergelar Al-Ummy. Beliau juga diharamkan meletakkan pedang-Nya sebelum peperangan usai. Ingin memiliki harta. Memandang bebas sana sini (jelalatan, red). Dan juga Beliau diharamkan untuk menahan (tidak menceraikan) istri yang tidak suka kepada Beliau. Roudlotut Tholib VI / 241 - 244 Cetakan Beirut -------------------- 3. Kekhususan dalam keringanan dan kebolehan, antara lain : Nabi SAW boleh menikah sampai sembilan, atau bahkan lebih, karena Beliau adalah sosok yang adil. Nabi SAW boleh menikah tanpa wali dan saksi. Nabi SAW boleh menikahi istrinya (ijab) dengan lafadl hibah, bukan ketika qobulnya (menjawab wali yang menikahkan) dan juga tanpa mahar. Wanita yang disukai oleh Nabi SAW wajib memenuhi apabila Beliau menginginkan, dan bagi suami dari wanita tersebut wajib menceraikannya apabila wanita itu diinginkan oleh beliau. Namun demikian dalam sejarah tidak pernah terjadi, hal ini semata-mata adalah karena kemuliaan dari akhlaq Beliau SAW. Nabi SAW boleh menikahi wanita yang Beliau suka tanpa sepengetahuan dari wanita itu sendiri dan juga tanpa sepengetahuan walinya. Nabi SAW diperbolehkan puasa wishol (bersambung terus menerus). Nabi SAW diperbolehkan memilih harta rampasan perang sebelum dibagi dan juga khumusul khumus ghonimah dan barang faik (temuan), juga boleh mengambil 4/5 sisanya jika Beliau menginginkan, walaupun demikian Beliau tidak pernah mengambil yang 4/5. Nabi SAW diperbolehkan menghukumi suatu perkara berdasarkan ilmu Beliau dan juga menghukumi dan bersaksi untuk Beliau sendiri dan juga untuk putra-putri Beliau. Nabi SAW juga tidak batal wudlu sebab tidur. Dan lain lain masih banyak lagi. Namun demikian sebagian besar kebolehan ini Beliau SAW tidak melakukannya. (وَمُعْظَمُ هَذِهِ الْمُبَاحَاتِ لَمْ يَفْعَلْهُ) Roudlotut Tholib VI / 244 Cetakan Beirut. -------------------- 4. Keutamaan Nabi Muhammad SAW : Istri-istri Beliau yang telah diceraikan / ditinggal wafat, haram dinikahi oleh orang lain, sekaligus mulianya Istri-istri beliau mengalahkan wanita sedunia, Taubat dan siksa mereka dilipat gandakan, mereka adalah "ummahatul mukminin" Bagi wanita-wanita dilarang bertanya kepada beliau kecuali dari balik hijab / tabir. Beliau SAW bergelar "khotamun nabiyyin" nabi terakhir. Beliau SAW bergelar "sayyidu waladi Adam" tuan dari anak Adam. Beliau SAW adalah nabi pertama yang dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat. Beliau SAW adalah nabi yang pertama mengetuk pintu surga. Beliau adalah nabi yang pertama mensyafa'ati dan disyafa'ati. Umat beliau adalah sebaik-baik umat dibandingkan dengan umat nabi lain, umat yang selalu terhindar dari berkumpul dalam kesesatan, umat yang shofnya seperti shofnya para malaikat. Mu'jizat beliau tetap ada dan terjaga, yakni Al-Qur'an. Umat beliau dimuliakan dengan syafa'at istimewa. Beliau SAW diutus untuk seluruh alam. Hati Beliau tidak pernah tidur. Beliau SAW mengetahui orang yang ada di belakang tanpa menoleh. Ibadah Beliau sambil duduk sama dengan ibadah Beliau sambil berdiri nilai pahalanya Tidak diperkenankan meninggikan suara diatas suara Beliau SAW. Haram memanggil Beliau SAW dengan nama beliau. Dilarang memanggil dengan nama kuniyah Beliau SAW, yakni khusus pada zaman Beliau SAW masih hidup, adapun sekarang boleh, misal: Yaa Abal Qosim. Wajib memenuhi undangan/ panggilan Beliau SAW meskipun saat sholat, namun sholatnya tidak batal. Beliau SAW digunakan untuk “ngalap berkah” dan untuk mencari kesembuhan meskipun dengan kencing dan darah Beliau SAW. Orang yang berzina pada masa beliau dihukumi kafir. Semua putri Beliau bernasab kepada Beliau SAW. Beliau SAW diperbolehkan menerima hadiah, dan diharamkan bagi Beliau SAW zakat dan shodaqoh. Beliau SAW diberi keistimewaan mengerti semua bahasa. Beliau SAW ketika wafat dalam keadaan menerima wahyu, begitu juga dalam keadaan sadar / taklif. Beliau SAW tidak pernah gila / junun, begitu juga dengan para nabi lainnya Beliau SAW tidak pernah mimpi basah, karena mimpi basah berasal dari setan. Melihat Beliau SAW dalam mimpi adalah nyata dan benar adanya. Bumi tidak akan memakan jasad Beliau SAW dan juga para nabi lainnya. Berdusta atas nama Beliau SAW secara sengaja adalah dosa besar. Dan lain lain masih banyak lagi. Menceritakan keistimewaan Nabi Muhammad SAW adalah disunnahkan (وَذِكْرُ الْخَصَائِصِ مُسْتَحَبٌّ ), Bahkan disebutkan dalam kitan Roudloh Syaikh Imam Nawawi hukumnya mendekati wajib agar orang-orang awam mengerti keistiwaan keistimewaan Beliau SAW. Roudlotut Tholib VI / - Cetakan Beirut روض الطالب هامش أسنى المطالب للشيخ محمد الرملي ج ٦ ص ٢٣٨ ـ ٢٤٤ مكتبة دار الكتب العلمية بيروت النوع الأول من خصائص النبي الواجبات (وَفِيهِ أَبْوَابٌ) اثْنَا عَشَرَ : (الْأَوَّلُ فِي) بَيَانِ (خَصَائِصِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) وَإِنَّمَا ذَكَرُوهَا هُنَا ; لِأَنَّهَا فِي النِّكَاحِ أَكْثَرُ مِنْهَا فِي غَيْرِهِ وَالصِّيغَةُ الْمَذْكُورَةُ مُشْعِرَةٌ بِذِكْرِ جَمِيعِ خَصَائِصِهِ إذْ الْجَمْعُ الْمُضَافُ لِمَعْرِفَةٍ مُسْتَغْرِقٌ وَلَيْسَ مُرَادًا لِمَا سَيَأْتِي (وَهِيَ أَنْوَاعٌ أَرْبَعَةٌ: أَحَدُهَا الْوَاجِبَاتُ) وَخَصَّ بِهَا لِزِيَادَةِ الزُّلْفَى وَالدَّرَجَاتِ فَلَنْ يَتَقَرَّبَ الْمُتَقَرِّبُونَ إلَى اللَّهِ تَعَالَى بِمِثْلِ أَدَاءِ مَا افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ قَالَ فِي الرَّوْضَةِ. قَالَ الْإِمَامُ: هُنَا قَالَ بَعْضُ عُلَمَائِنَا الْفَرِيضَةُ يَزِيدُ ثَوَابُهَا عَلَى ثَوَابِ النَّافِلَةِ أَيْ الْمُمَاثِلَةِ لَهَا بِسَبْعِينَ دَرَجَةً (وَهِيَ الضُّحَى وَالْوِتْرُ وَالْأُضْحِيَّةَ) لِخَبَرِ [ثَلَاثٌ هُنَّ عَلَيَّ فَرَائِضُ وَلَكُمْ تَطَوُّعٌ النَّحْرُ وَالْوِتْرُ وَرَكْعَتَا الضُّحَى] رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ وَضَعَّفَهُ وَيُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّ الْوَاجِبَ عَلَيْهِ أَقَلُّ الضُّحَى لَا أَكْثَرُهُ وَقِيَاسُهُ فِي الْوِتْرِ كَذَلِكَ وَاسْتَشْكَلَ وُجُوبَ الثَّلَاثَةِ عَلَيْهِ بِضَعْفِ الْخَبَرِ وَبِجَمْعِ الْعُلَمَاءِ بَيْنَ أَخْبَارِ الضُّحَى الْمُتَعَارِضَةِ فِي سُنِّيَّتِهَا بِأَنَّهُ كَانَ لَا يُدَاوِمُ عَلَيْهَا مَخَافَةَ أَنْ تُفْرَضَ عَلَى أُمَّتِهِ فَيَعْجِزُوا عَنْهَا وَبِأَنَّهُ قَدْ صَحَّ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يُوتِرُ عَلَى بَعِيرِهِ وَلَوْ كَانَ وَاجِبًا عَلَيْهِ لَامْتَنَعَ ذَلِكَ وَقَدْ يُجَابُ عَنْ الْأَوَّلِ بِاحْتِمَالِ أَنَّهُ اعْتَضَدَ بِغَيْرِهِ وَعَنْ الثَّانِي بِأَنَّ صَلَاةَ الضُّحَى وَاجِبَةٌ عَلَيْهِ فِي الْجُمْلَةِ وَعَنْ الثَّالِثِ بِاحْتِمَالِ أَنَّهُ صَلاهَا عَلَى الرَّاحِلَةِ وَهِيَ وَاقِفَةٌ عَلَى أَنَّ جَوَازَ أَدَائِهَا عَلَى الرَّاحِلَةِ مِنْ خَصَائِصِهِ أَيْضًا (وَالسِّوَاكُ) لِكُلِّ صَلَاةٍ ; لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِهِ لِكُلِّ صَلَاةٍ رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَغَيْرُهُ (وَالْمُشَاوَرَةُ) لِذَوِي الْأَحْلَامِ فِي الْأَمْرِ قَالَ تَعَالَى {وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ} لَكِنْ نَصَّ الشَّافِعِيُّ عَلَى عَدَمِ وُجُوبِهَا عَلَيْهِ حَكَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي الْمَعْرِفَةِ عِنْدَ اسْتِئْذَانِ الْبِكْرِ (وَتَغْيِيرُ مُنْكَرٍ رَآهُ) قَالَ الْغَزَالِيُّ وَلَمْ يَعْلَمْ أَوْ يَظُنَّ أَنَّ فَاعِلَهُ يَزِيدُ فِيهِ عِنَادًا (مُطْلَقًا) عَنْ التَّقْيِيدِ بِعَدَمِ الْخَوْفِ (وَمُصَابَرَةُ الْعَدُوِّ وَإِنْ كَثُرَ) وَلَوْ زَادَ عَلَى الضِّعْفِ وَلَوْ مَعَ الْخَوْفِ ; لِأَنَّهُ مَوْعُودٌ بِالْعِصْمَةِ وَالنَّصْرِ (وَقَضَاءُ دَيْنِ مُسْلِمٍ مَاتَ مُعْسِرًا) لِخَبَرِ الصَّحِيحَيْنِ [أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ فَمَنْ تُوُفِّيَ مِنْهُمْ فَتَرَك دَيْنًا فَعَلَيَّ قَضَاؤُهُ] وَقَيَّدَهُ الْإِمَامُ بِمَا إذَا اتَّسَعَ الْمَالُ. (وَلَا يَجِبُ عَلَى الْإِمَامِ) بَعْدَهُ (قَضَاؤُهُ مِنْ) مَالِ (الْمَصَالِحِ) كَمَا جَزَمَ بِهِ صَاحِبُ الْأَنْوَارِ وَغَيْرُهُ وَقِيلَ يَجِبُ عَلَيْهِ بِشَرْطِ اتِّسَاعِ الْمَالِ وَفَضْلِهِ عَنْ مَصَالِحِ الْأَحْيَاءِ وَالتَّرْجِيحُ مِنْ زِيَادَتِهِ (وَتَخْيِيرُ نِسَائِهِ) بَيْنَ مُفَارَقَتِهِ طَلَبًا لِلدُّنْيَا وَاخْتِيَارِهِ طَلَبًا لِلْآخِرَةِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى {يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِك} الْآيَتَيْنِ وَلِئَلا يَكُونَ مُكْرِهًا لَهُنَّ عَلَى الصَّبْرِ عَلَى مَا آثَرَهُ لِنَفْسِهِ مِنْ الْفَقْرِ وَهَذَا لَا يُنَافِي مَا صَحَّ أَنَّهُ تَعَوَّذَ مِنْ الْفَقْرِ ; لِأَنَّهُ فِي الْحَقِيقَةِ إنَّمَا تَعَوَّذَ مِنْ فِتْنَتِهِ كَمَا تَعَوَّذَ مِنْ فِتْنَةِ الْغِنَى أَوْ تَعَوَّذَ مِنْ فَقْرِ الْقَلْبِ بِدَلِيلِ قَوْلِهِ [لَيْسَ الْغِنَى بِكَثْرَةِ الْعَرَضِ وَإِنَّمَا الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ] وَلَمَّا خَيَّرَهُنَّ وَاخْتَرْنَهُ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ التَّزَوُّجَ عَلَيْهِنَّ وَالتَّبَدُّلَ بِهِنَّ مُكَافَأَةً لَهُنَّ فَقَالَ {لَا يَحِلُّ لَك النِّسَاءُ مِنْ بَعْدُ} الْآيَةَ ثُمَّ نُسِخَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى {إنَّا أَحْلَلْنَا لَك} الْآيَةَ لِتَكُونَ لَهُ الْمِنَّةُ بِتَرْكِ التَّزَوُّجِ عَلَيْهِنَّ ذَكَرَهُ الْأَصْلُ. (وَلَا يُشْتَرَطُ الْجَوَابُ) مِنْهُنَّ لَهُ (فَوْرًا) لِمَا فِي خَبَرِ الصَّحِيحَيْنِ مِنْ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا نَزَلَتْ آيَةُ التَّخْيِيرِ بَدَأَ بِعَائِشَةَ وَقَالَ إنِّي ذَاكِرٌ لَك أَمْرًا فَلَا تُبَادِرِينِي بِالْجَوَابِ حَتَّى تَسْتَأْمِرِي أَبَوَيْك (فَلَوْ اخْتَارَتْهُ) وَاحِدَةٌ مِنْهُنَّ (لَمْ يَحْرُمْ) عَلَيْهِ طَلَاقُهَا كَلَّمَتْهُ (أَوْ كَرِهَتْهُ) بِأَنْ اخْتَارَتْ الدُّنْيَا (تَوَقَّفَتْ الْفُرْقَةُ عَلَى الطَّلَاقِ) فَلَا تَحْصُلُ بِاخْتِيَارِهَا لِقَوْلِهِ تَعَالَى {فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ} (وَهَلْ قَوْلُهَا اخْتَرْت نَفْسِي طَلَاقٌ وَهَلْ لَهُ تَزَوُّجُهَا بَعْدَ الْفِرَاقِ) إذَا لَمْ تَكْرَه تَزَوُّجَهُ (أَوْ) لَهُ (تَخْيِيرُهُنَّ) فِيمَا مَرَّ (قَبْلَ مُشَاوَرَتِهِنَّ) فِي كُلٍّ مِنْ الثَّلَاثَةِ (وَجْهَانِ) أَوْجَهُهُمَا لَا فِي الْأُولَى وَتَعُمُّ فِي الْأَخِيرَتَيْنِ وَذِكْرُهُ الْأَخِيرَةَ مِنْ زِيَادَتِهِ عَلَى الرَّوْضَةِ وَتَعْبِيرُهُ فِي الْأُولَى بِالطَّلَاقِ أَوْلَى مِنْ تَعْبِيرِ أَصْلِهِ بِقَوْلِهِ صَرِيحٌ فِي الْفِرَاقِ (وَنَسَخَ وُجُوبَ التَّهَجُّدِ عَلَيْهِ) كَمَا نَسَخَ وُجُوبَهُ عَلَى غَيْرِهِ وَدَلِيلُ وُجُوبِهِ قَوْله تَعَالَى {وَمِنْ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَك} وَدَلِيلُ النُّسَخِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ (لَا) وُجُوبَ (الْوِتْرِ) عَلَيْهِ فَلَمْ يُنْسَخْ وَهَذَا يَقْتَضِي أَنَّ الْوِتْرَ غَيْرُ التَّهَجُّدِ وَهُوَ مَا صَرَّحَ الْأَصْلُ بِتَرْجِيحِهِ هُنَا لَكِنَّهُ رَجَحَ فِيمَا مَرَّ فِي صَلَاةِ التَّطَوُّعِ أَنَّهُ تَهَجَّدَ وَتَقَدَّمَ ثَمَّ الْجَمْعُ بَيْنَ الْكَلَامَيْنِ wAllohu a’lam Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi Sumber: Mau’idzoh hasanah al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB Baca Juga : Kajian Maulid Diba #08 Awwalu Maa Nastaftihu

Fasubhana man Khoshshohu – Kajian Maulid Diba dan Terjemahnya (07)

KalamUlama.com - Fasubhana man Khoshshohu - Kajian Maulid Diba (07) اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) فَسُبْحَانَ...

Kajian Fiqih Manhaji #02 “Macam-Macam Hukuman dalam Syariat Islam”

Oleh: Zuhal Qobili Dalam pembahasan sebelumnya kita telah mengetahui definisi jarimah dan jinayah dalam Islam serta macam-macamnya. Maka sesuai dengan skema, pembahasan kali ini adalah mengenai “Macam-Macam Hukuman...

Kajian Kifayatul Atqiya’ #06: Pengertian dan Kedudukan Taqwa dalam Tasawwuf

Oleh : Ahmad Hanafi Seorang salik atau pengembara pencari jalan meraih Wushul ilallah,selayaknya senantiasa melakukan hal-hal baik, kebaikan dunia, mapun kebaikan akherat. Kebaikan-kebaikan tersebut tentunya manusia tidak...

Kajian I’anatun Nisa’ #02: Pengertian dan Dasar Haid

Haid dalam segi bahasa artinya mengalir. Dalam kitab Fathul Qorib halaman 10 dijelaskan bahwa haid adalah darah yang keluar dari seorang wanita pada usia haid, yaitu...
Adab Istri Menjadikan Wanita Sholehah" (Lanjutan) - Kajian Wanita Sholihah dan Lelaki Sholih #07: Pertanyaan : Apa saja adab/tatakrama lain (selain

Adab Istri Menjadikan Wanita Sholehah” (Lanjutan)

kalamulama.com - Adab Istri Menjadikan Wanita Sholehah" (Lanjutan) - Kajian Wanita Sholihah dan Lelaki Sholih #07. Pertanyaan : Apa saja adab/tatakrama lain (selain pembahasan kemarin)...