Thursday, August 13, 2020

Kajian Islam

Kajian Fiqih Manhaji #01 Mengenal Jarimah dan Jinayah dalam Islam Oleh Zuhal Qobili Kalam ulama - Satu di antara yang membedakan agama Islam dengan agama-agama lainnya adalah bahwa Islam tidak hanya agama yang ajarannya tentang akidah dan tata cara beribadah saja, tetapi juga mempunyai syariat yang mengatur kehidupan manusia dari segala sisinya. Mulai urusan jasmani dan rohani serta kehidupan sebagai seorang individu maupun sebagai anggota masyarakat (hubungan individu dengan individu lainnya). Sehingga ketika aturan – aturan tersebut di taati maka manusia akan hidup dalam tentram dan menentramkan. Baca Juga : Hukum Menyentuh, Membawa dan Membaca Al-Qur’an bagi Wanita Haidh dan Nifas Kendati demikian, banyak sekali kita saksikan apalagi akhir – akhir ini argumen – argumen yang menyatakan bahwa Islam adalah agama teroris, Islam aturan-aturannya banyak yang melanggar HAM (Hak Asasi Manusia) dan sebagainya. Padahal dalam kitab sucinya, dengan tegas al Qur’an menyatakan   وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين “Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” [al Anbiya : 107]. Nabi Muhammad, Nabi umat Islam diutus oleh Allah tidak hanya sebagai penebar rahmat bagi pemeluk agamanya saja, melainkan sebagai penebar rahmat untuk seluruh alam. Maka jika Islam memang agama yang benar, asli dari Tuhan semesta alam, tidak mungkin ada dalam ajaran-ajarannya yang tidak sesuai dengan akal sehat atau bersifat merugikan. Sehingga, kemungkinan kenapa banyak yang berargumen tidak jelas seperti di atas ada kalanya karena mereka tidak mengetahui lebih dalam ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya, atau karena mereka memang mempunyai kedengkian terhadap Islam. Dengan demikian membuat mereka tidak mau menggunakan akal yang jernih untuk mencari kebenaran melainkan mempelajari Islam dengan dangkal mencari hal-hal yang secara nampak luar buruk padahal tidak demikian, dan ini sangat membahayakan bagi pemeluk Islam yang masih awam.  Dengan latar belakang tersebut membuat kami ingin mengkaji tentang “JARIMAH DAN JINAYAH DALAM ISLAM”, karena permasalahan jarimah dan jinayah ketika hanya dilihat sekilas luarnya seakan-akan hukum-hukumnya kebanyakan melanggar HAM atau kejam. Walaupun kajian ini tidak akan mendalam maupun mendetail semoga bisa memberikan wawasan baru bagi yang belum pernah mempelajarinya dan menjadikan kita para pemeluk Islam semakin yakin bahwa Islam adalah agama yang rahmat penuh kasih sayang. Dan bagi non muslim agar tahu bahwa Islam tidak seperti yang para pendengki gambarkan. DEFINISI JARIMAH DAN JINAYAH   A. JARIMAH Jarimah (جريمة) secara etimologi bermakna ذنب (dosa) atau perbuatan yang tidak sesuai dengan keadilan. Allah berfirman : ولا يجرمنكم شنآن قوم على ألا تعدلوا اعدلوا هو أقرب للتقوى “Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa” [al Maidah : 8]. Sedangkan secara terminologi ulama fikih, jarimah mempunyai dua makna : Bermakna umum, yaitu segala sesuatu perbuatan yang melanggar perintah Allah atau larangannya. Sehingga dengan definisi ini kata jarimah mencakup seluruh perbuatan maksiat kepada Allah. Bermakna khusus, yaitu segala sesuatu perbuatan yang melanggar perintah Allah atau larangannya yang memiliki hukuman dunia dilaksanakan oleh seorang hakim. B. JINAYAH Jinayah (جناية) secara etimologi bermakna perbuatan buruk. Sedangkan secara terminologi, jinayah adalah perbuatan-perbuatan yang dilarang berkaitan dengan pembunuhan atau melukai anggota badan. Namun ada juga sebagian ulama yang mendefinisikan jinayah semakna dengan jarimah, yaitu segala sesuatu perbuatan yang melanggar perintah Allah atau larangannya yang memiliki hukuman dunia dilaksanakan oleh seorang hakim.   MACAM-MACAM JARIMAH      Jarimah mempunyai pembagian-pembagian jika di tinjau dari berbagai sudut : 1. Niat Pelaku Macam-macam jarimah ditinjau dari niat pelakunya terbagi menjadi dua : a.       Sengaja, yaitu perbuatan terlarang yang dilaksanakan oleh seseorang dengan kehendaknya sendiri dan dia tahu bahwa perbuatan tersebut di larang yang akan membuatnya di hukum. b.      Tidak sengaja, yaitu perbuatan terlarang yang dilaksanakan oleh seseorang tidak dengan kehendaknya sendiri atau dengan kehendaknya sendiri tetapi dia tidak tahu kalau perbuatan tersebut dilarang.         2. Hukuman Macam-macam jarimah di tinjau dari hukuman akibat melakukan jarimah tersebut terbagi menjadi tiga : a.  Jarimah hudud, yaitu jarimah yang hukumannya sudah ditentukan bentuk dan kadarnya oleh Allah, sehingga tidak akan kurangmaupun lebih dari yang ditetapkan. b. Jarimah qishas dan diyat, yaitu jarimah berupa pembunuhan atau melukai anggota badan. Hukumannya adalah di qishas (di balas sesuai jarimah yang dilaksanakan) atau membayar diyat. c.   Jarimah takzir, yaitu jarimah yang hukumannya atas dasar kebijaksanaan hakim karena tidak terdapat di dalam al Qur’an dan Hadis, tidak seperti jarimah hudud dan jarimah qishas.          3. Objek Jarimah Macam-macam jarimah ditinjau dari objek jarimahnya terbagi menjadi dua : a.    Jarimah terhadap hak Allah, yaitu jarimah yang berkaitan dengan kemaslahatan umat, bukan individu tertentu. b. Jarimah terhadap hak hamba, yaitu jarimah yang objeknya adalah individu tertentu. Demikian kajian pertama tentang “jarimah dan jinayah dalam Islam”, mengenai definisi jarimah dan jinayah serta macam-macam bentuknya. Insya Allah kajian ke depan akan lebih fokus tentang pembagian kedua, yaitu macam-macam jarimah ditinjau dari hukumannya serta hikmah yang terkandung di dalamanya. Adapun minggu depan akan membahas tentang macam-macambentuk hukuman jarimah, karakteristik dan tujuannya. Wallahu A’lam..   Baca Juga tulisan selanjutnya : Kajian Fiqih Manhaji #02 “Macam-Macam Hukuman dalam Syariat Islam”   Sumber : kitab لجناية على النفس وما دونها فى الفقه الإسلامي karya Dr. Abdul Fattah dan Dr. Al-Mursi Abdul Aziz, diktat fikih komparasi tingkat tiga Universitas al Azhar tahun akademik 2014/2015.

Kajian Fiqih Manhaji #01 Mengenal Jarimah dan Jinayah dalam Islam

0
Kajian Fiqih Manhaji #01 Mengenal Jarimah dan Jinayah dalam Islam Oleh Zuhal Qobili Kalam ulama - Satu di antara yang membedakan agama Islam dengan agama-agama lainnya adalah bahwa Islam tidak...
kalamulama.com - Inilah Nasab Nabi Muhammad SAW Sampai Nabi Adam as. Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj dalam ceramahnya pernah mengatakan mengatakan: “Nasab Nabi Muhammad Saw. adalah jelas (melalui perkawinan yang sah atau tidak ada satupun dari hasil hubungan zina: 1. Nabi Muhammad Saw 2. bin Abdullah 3. bin Abdul Muthalib (Syaibah) 4. bin Hasyim (Amr) 5. bin Abdu Manaf (al-Mughirah) 6. bin Qushay (Zaid) 7. bin Kilab 8. bin Murrah 9. bin Ka’ab 10. bin Lu'ayy 11. bin Ghalib 12. bin Fihr (Quraisy) 13. bin Malik 14. bin Nadhr (Qais) 15. bin Kinanah 16. bin Khuzaimah 17. bin Mudrikah (Amir) 18. bin Ilyas 19. bin Mudhar 20. bin Nizar 21. bin Ma’ad 22. bin ‘Adnan 23. bin ‘Ad 24. bin Udad 25. bin Hamaisa’ 26. bin Salaman 27. bin Banat 28. bin Haml 29. bin Qidrah 30. bin Isma’il a.s. 31. bin Ibrahim a.s. 32. bin Târakh 33. bin Nakhur 34. bin Syarukh 35. bin Arghu 36. bin Falikh 37. bin Abir 38. bin Syalikh 39. bin Arfakhsyad 40. bin Sam 41. bin Nuh a.s. 42. bin Lamak 43. bin Matusyalikh 44. bin Akhnukh 45. bin Idris a.s. 46. bin Ilyarid 47. bin Mihlayil 48. bin Qinan 49. bin Anusy 50. bin Syits 51. bin Adam a.s.. Para ulama dan ahli sejarah sendiri berbeda pendapat perihal nasab Rasulullah di atas Adnan. Namun, nasab Rasulullah yang disepakati para ulama hanya nasab dari Abdullah sampai Adnan, sementara nasab dari Adnan ke atas, para ulama berbeda pendapat. Syekh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Buthi mengangatakan: "Adapun nasab Rasulullah di atas Adnan, para ulama berbeda pendapat, tidak ada yang bisa dianggap paling shahih. Namun, semua ulama sepakat bahwa Adnan merupakan keturunan dari Ismail, Nabi Allah putra Ibrahim Khalilullah 'alaihis salam.” (Syeikh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi)

Kelahiran Nabi Muhammad Ditinjau dari Berbagai Aspeknya

0
kalamulama.com- Kelahiran Nabi Muhammad Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Bagaimana kita hendak menjelaskan peristiwa kelahiran Nabi Muhammad Saw? Kita punya banyak cara melakukannya lewat berbagai perspektif. Ada...

Kajian Maulid Diba’ #21 : Falamma Roathu Halimah

اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) فَلَمَّا رَأَتْهُ حَلِيْمَةُ سَالِمًا مِنَ الْأَهْوَالِ Maka ketika Halimah...
Serba Serbi Islam (Kalam Ulama). Catatan ceramah KH. Abdul Qoyyum bin Manshur (Lasem) pada acara Haul al 'Alim al 'Arif billah KH. Abdul Hamid bin Abdullah bin Umar - Pasuruan (Selasa, 28 November 2017) Disebutkan dalam kitab Jami'us shoghir sebuah hadits Nabi Muhammad ﷺ, yakni : Wali Abdal ditengah-tengah ku ada 30 laki-laki, berhati Ibrohim dan setiap satu diantara mereka wafat maka Allah SWT memberi gantinya, wafat 3 orang wali abdal maka akan diganti 3 orang wali abdal lagi, untuk melengkapi 30 wali abdal yang berhati Nabi Ibrohim. Suatu saat ada ulama , yang 'alim, beliau mengarang kitab tafsir berbahasa arab, hanya sampai surat al - Kahfi. Pada suatu ketika beliau bertemu dengan KH. Abdul Hamid Pasuruan, Kyai Hamid melontarkan kata-kata spesifik tentang wali-wali tertentu. Kyai Hamid dawuh kepada beliau : "Kowe alim aku ". Kalau Nabi Ibrohim ingin mendoakan untuk ayah (atau pamannya dalam satu riwayat), tapi dilarang oleh Allah SWT setelah ayahnya dipastikan musyrik. Kyai Hamid dawuh ; Nabi Ibrahim hanya ingin menepati janjinya "إلا عن موعدة وعدها إياه". Janji yang berupa "Aku akan mintakan ampun bagimu kepada Rabbku." (Q.S. Maryam 47) (Baca Juga Rahasia Kekasih Allah) Samudra ilmu Kyai Hamid yang sangat dalam, luas tak bertepi, Nabi Ibrohim disebut 69 x dalam al Qur'an, Ibrohim memiliki arti abun rohim - Ayah yang penyayang (kitab tahqiq kalimatil qur'an). Maka seorang Wali Abdal adalah seorang wali yang memposisikan kasih sayang yang paling utama, Kholifah yang menjadi wali maka dia penuh kasih sayang, Bupati yang menjadi wali maka dia penuh kasih sayang. Diantara ciri-ciri seorang Wali Abdal yang berhati Ibrohim adalah : 1. ما كان ابراهم يهوديا و لا نصرانيا ولكن كان حنيفا مسلما Nabi Ibrahim bukan yahudi dan juga bukan nasrani, beliau condong pada sifat-sifat yang mulia, luhur, teguh dan taat pada aturan Allah SWT. Sayyidina Umar bin Khottob (dalam sunanul kubro lil baihaqi) ketika datang di Palestina, beliau dipersilahkan untuk masuk ke dalam gereja untuk jamuan makan, lalu beliau berkata :" kami tidak bisa masuk meskipun hanya untuk makan, disitu ada gambar-gambar yang tidak sesuai dengan syari'at) ajaran kami. Inilah tanda Wali Abdal. Kita memang tidak boleh mengganggu nasrani/yahudi, tidak diperkenankan menganiaya mereka, merusak tempat ibadah mereka, tapi menyampur adukkan ajaran juga tidak diperbolehkan. 2. و إبراهيم الذي وفّى Nabi Ibrahim tidak pernah ingkar janji. Kita semua semestinya menerapkan hal ini, yakni menepati janji. Siapapun orangnya, apakah itu pejabat, ulama atau ustadz juga semestinya menepati janji. Dalam kitab an Nawadir - al Qolyubi dikisahkan : Ada segerombolan perampok setelah melakukan aksinya, rombongan perampok ini mampir ke salah satu pesantren milik seorang ulama, begitu masuk rumah sang kyai, mereka mengucapkan salam ; "assalaamualaikum kyai, kami ini rombongan pejuang/mujahidin fi sabilillah". Mendengar pengakuan perampok sebagai mujahidin fii sabilillah maka mereka diterima dengan baik oleh kyai, diberi jamuan makan layaknya pejuang, disediakan fasilitas, tempat tidur. Kyai ini mempunyai seorang putra yang lumpuh, maka sang Kyai berdo'a, yaa Allah dengan wasilah para pejuang ini, tolong berikan kesembuhan kepada anak kami". Bahkan sisa air minum segerombolan perampok tersebut diambil semua, (tabarrukan), dibawa dan diberikan pada putranya, lalu dioleskan kepada tubuhnya, dan ternyata berbekal kemantaban hati dan berprasangka baik sang kyai bertawassul kepada perampok hingga putranya menjadi sembuh. Keesokan malamnya segerombolan perampok datang dan bermalam lagi di rumah kyai, begitu melihat putra sang kyai yang sudah berdiri, para perampok kaget, mereka bertanya ; "kyai dari mana anda mendapatkan obat untuk putra anda ini? Sang kyai menjawab ; "kami mengumpulkan sisa air anda semua kemaren dan kami ber-tabarruk dengan air itu, akhirnya sembuh lah putra kami. Seketika para perampok menangis, dan sekaligus meminta maaf kepada kyai, "wahai kyai kami ini bukan pejuang, kami murni perampok, cuman karen husnudzon kyai lah Allah mengabullkan doa kyai. Maka pandang lah seseorang dengan pandangan yang terbaik, insyaallah akan diberi kelebihan oleh Allah SWT. "Jangan sekali-sekali seorang ustadz punya kemantaban seraya menyatakan bahwa muridnya bodoh, para guru/ustadz harus mantab kalau muridnya jadi anak sholih & 'alim. 3. امة اى اماما قانة اي مطيعا لله Beliau menghiasi dirinya dengan 'nilai-nilai' ibadah, Kyai Hamid tidak pernah putus dari ibadah, baik yaqodhotan (terjaga) atau manaman (tidur fisik) beliau ibadah terus menerus. Apakah ada orang ibadah tapi tak bernilai? Ada. Bahkan ada dzikir yang hanya untuk berstrategi. Al jahit (mu'tazilah) menulis kitab "al hayawan" mengisahkan sebuah anekdot ; "ada seorang ustadz yang akan berceramah di sebuah masjid, sang ustadz ini kebanyakan makan buncis, sehingga dia menjadi sering keluar angin (kentut). Setelah imam selesai berjamaah, lalu sang ustadz maju kedepan untuk berpidato menghadap jamaah, sedang imam sholat yang sudah tua berada tepat dibelakangnya, kondisi masjidnya tertutup tirai, karena kebanyakan makan buncis, sang ustadz saat ditengah ceramahnya merasa ingin keluar angin (kentut), padahal dibelakanngnya pas terdapat imam jamaah, karena bingung bagaimana kentutnya supaya tak tedengar, maka sang ustadz mengajak para jamaah berteriak bersama mengucap 'laa ilaa ha illah', saat itulah dia kentut, dilanjutkannya lagi ceramah, tiba-tiba terasa mau kentut lagi maka dia mengulangi cara yang sama. Sampai pada kesekian kalinya imam jaaah tidak kuat menahan emosi, saat ustadz mau menhjak dzikir imam seketoka berdiri dan berkata ; "jangan mau, bisa-bisa mati saya". Ini lah contoh dzikir untuk strategi (ibadah yang tak bernilai). KH. Abdul hamid itu seseorang yang 'alim syari'ah sekaligus wali, tak sekedar wali. Seorang wali abdal karomahnya beda-beda, ada ulama/wali ikhlas tapi teruji seperti kisah Imam Bukhori RA, Imam Bukhori pernah menaiki sebuah kapal, lalu ada seorang lelaki yang iseng ingin kenalan dengan beliau, Imam Bukhori merasa senang hati nya saat bertemu dengan seseorang yang ingin berkenalan, taaruf dengan ulama. Saking senangnya Imam Bukhori, beliau menjamu lelaki tersebut. Akhirnya beliau bercerita, ; "pak kami alhamdulillah memiliki bekal 1000 dinar (kepingan emas) barangkali bapak mau membeli sesuatu bisa pakai uang ini, kami lebih dari cukup kalau sekedar untuk makan dan kebutuhan lainnya. Setelah jeda waktu lelaki itu teriak menangis, lalu dihampiri oleh pihak keamanan dan ditanya ; " ada apa pak ? Ia menjawab ; "uang kami hilang isinya 1000 dinar, berarti ada orang dikapal ini yang mengambil uang kami. Maka petugas menggeledah semua penumpang kapal, umtuk mencari uang 1000 dinar, termasuk Imam Bukhori. Imam bukhori lalu berkata ; "masyaallah ini ujian, kalau kami ditangkap bawa uang 1000 dinar maka nama kami yang tidak baik, kami ulama, di amanahi oleh Allah SWT berupa ilmu, sebagai pemimpin ulama, kalau kami diketahui membawa 1000 dinar maka kami dituduh sebagai pencuri. Akhirnya uang 1000 dinar tersebut dibuang ke laut, begitu Imam Bukhori digeledah maka tidak ditemukan uang 1000 dinar itu. Selesai penggeledahan, lelaki itu datang kembali kepada Imam Bukhori dan bertamya ;, "kamu sudah digeledah?" Sudah, uangnya saya buang" jawab Iam Bukhori. Maka seseorang bercerita kalau mempunyai uang itu bahaya, walaupun niatnya baik, itu beresiko. Lha orang sekarang kredit saja diceritakan. Wali abdal itu "وقورا" / tenang, "صدوقا" / jujur, "مهيبا" / wibawa, "صموتا" / pendiam. Maka dalam teori Wali Abdal ada beberapa catatan Imam Muhyiddin Ibn arobi ; "Wali Abdal itu berganti-ganti hatinya, kadang berjiwa Nabi Ibrohim yakni pengasih/penyayang, kadang berjiwa Nabi Musa (keras), kadang berjiwa Nabi Adam. Karena para Nabi sifat walayahnya itu, diberikan kepada auliya, maka ketika seorang Wali jika diberikan karomah bisa menghidupukan orang mati maka dia diberikan karomah lewat jalur Nabi Isa as, jika seorang Wali diberikan karomah bisa menguasai teknologi maka dia diberikan karomah lewat jalur Nabi Daud as, seorang Wali jika diberikan karomah bisa mengetahui semua nama-nama, maka dia diberikan karomah lewat jalur Nabi Adam, seorang Wali jika diberikan karomah bisa berbicara dengan hewan maka dia diberikan karomah lewat jalur Nabi Sulaiman as. Kita walau belum belum sampai sana (Wali Abdal), paling tidak kita cinta kepada mereka. Ada yang tanya, wali dan wartawan itu pinter mana? Wartawan dapat berita itu sangat cepat. Disebutkan dalam kitab Ihya' bahwa Imam ghozali pernah ditanya : "kenapa negara islam yang dijajah oleh orang kafir, walinya kok tidak pernah menampilkan diri ? Imam Ghozali menjawab : " Peraturan Wali itu berbeda, Wali ada yang disebut dengan "dairotul walayah" (zona walayah), misalkan ada seorang Wali dari Pasuruan ingin mengeluarkan karomahnya di wilayah lain, maka dia harus izin terlebih dahulu ke wali daerah tersebut, ada juga yang disebut "khirqotul walayah" (baju kewaliyan) , ada yang disebut dengan "qobdul walayah" (dijabut), pagi jadi wali malam nya tidak. Wali dapat haqiqoh itu diatur oleh Allah SWT. Adabul haqiqoh. Jangankan untuk perang, ada seorang wali yang mempunyai doa untuk perpanjangan waktu dunia, ada seorang wali jika berdo'a minta kiamat ditunda bakal ditunda. ( يمحو الله ما يشاء ويثبت) Ada seseorang wali yang dimintai doa oleh seseorang tetapi tidak dikabulkan oleh Allah SWT, karena yang meminta didoakan belum memenuhi syarat untuk diijabah. Misalkan, tidak pernah sholat minta didoakan agar bisa cepat berangkat haji. Maka wali akan mendoakan untuk yang lain. Wali abdal kita harus tiru yang kita bisa, baik itu memenuhi janji, akhlaqnya, atau ibadahnya. Imam Ghozali mempunyai kitab yang diberi judul "Sulwatil 'Arifin" : dikisahkan didalamnya ; "ada seorang majusi kalau anaknya makan disiang hari pas di bulan romadhon , maka seketika dipukul anaknya. Sekarang ada orang mengatakan jangan memaksa orang untuk berpuasa, ini kan tidak cocok. Ulama yang berjumpa KH. Abdul Hamid tadi mempunyai sholawat, tapi sholawat ini tidak bisa diartikan, bahkan ulama itu saya tanya langsung apakah tahu artinya? Beliau menjawab tidak tahu. Waktu di Tebuireng, beliau mimpi bertemu seseorang dan memberikan sholawat yang berbunyi "Allahumma solli alal khodiri almuhmali ba'du" Ketika beliau bicara tentang Kyai Hamid ; "Kyai Hamid itu kewaliannya semenjak anak-anak, umpama nabi itu punya irhas (tanda² jadi nabi). Yai hamid itu mujabub da'wah. Kyai Manshur Lasem (Abah Gus Qoyyum) pernah sakit yang sudah lama dan tak kunjung sembuh, sampai akhirnya Kyai Hamid memerintah Kyai Manshur dengan ayat al Qur'an : إن الله يأمركم ان تذبحوا بقرة Lalu beliau menyemebelih seekor sapi dan (bi idznillah) beliau sembuh. Ada seorang ulama yang doanya diijabah oleh Allah SWT tapi dibatasi. Imam Ibnu Jauzi mengisahkan ; "Ada seorang wali dl yang dijatah oleh Allah dikabul doanya hanya 3x saja. Ulama ini memiliki istir yang jelek, sang istri tahu jika suaminya dijatah oleh Allah SWT ijabah 3x doa, lalu sang istri berkata : 'bah tolong doakan saya biar menjadi cantik, maka kyai ini memenuhi permintaan sang istri, selesai didoakan istrinya langsung berubah menjadi cantik. Doa yang tersisa tunggal 2. Setelah istri menjadi cantik, malah dia cinta kepada orang lain, maka sang ulama menjadi, akhirnya beliau berdo'a kembali, 'yaa Allah kami kecewa, kesal, jatah doa kami yang kedua tolong jadikan wajah istri kami seperti anjing, spontan langsung istrinya berubah menjadi anjing. Tersisa 1 doa. Istrinya menangis, anak-anaknya juga menangis, sang istri meminta maaf, dan memohon agar wajahnya kembali seperti semula, walaupun jelek, akhirnya suami berdoa untuk yang terakhir kalinya ; "Yaa aallah kembalikan istri kami seperti semula. Tidak cantik tapi tidak cinta kepada orang lain. (Zaadul masiir fi ilmit tafsir) Kyai Abdul Hamid, itu mujabud dakwahnya sewaktu-waktu, tak terbatas, banyak bahasa isyarah sulit dicerna tapi tidak mengada-ada. Beliau maksyuf (dibukakan mata batinnya oleh Allah SWT), bahrul haqiqoh (lautan hakikat) bahrus syari'ah (lautan syari'ah), masyhud (disaksikan orang banyak) diakui ulama'. Ibnu Qoyyim mengisahkan dalam kitab "Ighotsatul Lahwan" : Ada sebuah gereja, didalamnya ada patung perempuan, yang dari payudaranya keluar air susu, sehingga banyak orang yang datang berziaroh, akhirnya para peziarah memberi uang kepada juru kunci, jadilah juru kunci kaya raya, beberapa waktu kemudian diketahui ternyata air susu yang keluar itu berasal dari pipa yang dihubungkan ke dapur belakang, akhirnya dia tertangkap dan dihukum mati. Ini contoh bukan wali tapi gaya wali. Ada wali melayani pasang susuk, ini kan nggak pantes. Wali itu ketaatnya ditunjukkan namun tanpa dibarengi penyakit hati. Syekh Abdul Qodir al Jailani, awal-awal diberikan karomah berupa tashorrufan (wali diberi karomah dengan perubahan alam, misal pasir jadi gula pasir, kalau butuh makan, tangannya digenggamkan, dan hati merenung membayangkan apel, keluar lah apel). Syekh Abdul Qodir al Jailani 25 tahun karomah kewaliannya adalah tashorrufan, namun beliau tidak suka. Akhirnya beliau i'tidzar/mohon kepada Allah ; "yaa Allah saya kok begini, pasir jadi gula pasir, kenpa kami punya karomah seperti ini, kami khawatir tidak beradab kepada engkau yaa Allah, semestinya ini pasir kok menjadi gula pasir. Kami ingin biasa saja, pada akhirnya tashorrufan nya diambil sama Allah, atas permintaan beliau. Kyai Hamid didepan ulama beliau tunjukkan ahli ilmu nya, didepan orang awam beliau tunjukkan akhlaknya, bersuci dari hadats, sopan, didepan ahli kitab beliau tunjukkan keahliannya dalam kitab, dst. Adab berinteraksi dengan penguasa. Seorang ulama harus membatasi diri dengan penguasa. Menjaga kewibawaan ilmunya. Syekh Abdul Qodir al Jailani pernah tidur di dalam istana, akhirnya selama tidur itu beliau mimpi keluar sperma berkali-kali, dan mandi berkali-kali. Imam Sya'roni, mengisahkan dalam kitabnya Mizanul Kubro, ada seorang ulama yang bernama Muhammad bin Zain, beliau seorang yang ahli bertemu Nabi Muhammad ﷺ , bukan hanya bermimpi, jika beliau berziarah kepada Nabi Muhammad ﷺ, beliau mengucap salam kepada Nabi dan langsung dijawab oleh Nabi ﷺ, semua orang yang disana bisa mendengar dengan jelas. Suatu ketika ada orang yang meminta tolong kepadanya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya yang berkaitan dengan penguasa, masuk lah beliau di kantor pemerintahan, otomatis beliau dijamu dan menikmati beberapa fasilitas pemerintahan, setelah selesai permasalahnya, lalu beliau pulang ke rumah, dan semenjak itu lah beliau tidak bisa lagi berjumpa dengan Nabi ﷺ, sulit mimpi bertemu Nabi, sampai akhirmya diingatkan langsung oleh Nabi ﷺ ; "kamu sudah tidak bisa lagi bertemu aku, karena kamu menikmati primadani di istana". Imam Jalaluddin Assuyuti mempunyai sebuah surat untuk pemerintah yang isinya balasan surat ketika beliau dimintai tolong oleh pihak pemerintah agar datang ke istana untuk menyelesaikan sebuah masalah. Beliau membalas surat itu dengan penjelasan ; "Maaf kami ini ulama, ahli hadits, takhrij hadits kami langsung dengan Nabi Muhammad ﷺ , kalau kami masuk istana maka kami tidak bisa lagi mentakhrij hadits secara langsung kepada Nabi Muhmmad ﷺ . Sayyid Qutub pernah sakit, namun beliau tidak memiliki uang sama sekali untuk berobat. Tiba-tiba datang seorang tamu dengan membawa uang 1 koper yang diantar oleh diplomat, semua uang tersebut dihadiahkan kepada beliau. Tetapi beliau menolak, karena menjaga kewibawaan ulama. ,صحف ابراهيم و موسى Lembaran-lembaran ajaran Nabi Ibrohim dan Nabi Musa, diantaranya ; Imam al alusi dalam kitabnya Ruuhul ma'ani menyebutkan diantara isi suhufi Ibrohim ; - على العاقل ان يكون بصيرا لزمانه مقبلا على شأنه حافظا للسانه Orang yang cerdas dia bisa membaca dan melihat zamannya, mana yang berbahaya dan mana yang tidak, selalu menengok apa kewajibannya, displin atas urusannya, dan menjaga lisannya.

Ceramah KH. Abdul Qoyyum bin Manshur (Lasem) pada acara Haul al ‘Alim al ‘Arif...

0
Serba Serbi Islam (Kalam Ulama). Catatan ceramah KH. Abdul Qoyyum bin Manshur (Lasem) pada acara Haul al 'Alim al 'Arif billah KH. Abdul Hamid...
KALAMULAMA.COM- Apa Yang Dilakukan Di Malam Tahun Baru? Masalah seperti ini sudah pernah disampaikan kepada Mufti Al-Azhar: ﻣﺎ ﺭﺃﻯ اﻟﺪﻳﻦ ﻓﻰ اﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﻌﺾ اﻟﺪﻭﻝ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩ ﻣﺜﻞ ﺃﻋﻴﺎﺩ اﻟﻨﺼﺮ ﻭﻋﻴﺪ اﻟﻌﻤﺎﻝ ﻭﻋﻴﺪ ﺭﺃﺱ اﻟﺴﻨﺔ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ؟ Apa pandangan Agama tentang perayaan hari kemerdekaan, hari buruh, tahun baru dan sebagainya? Mufti Al-Azhar, Syekh Athiyyah Shaqr menyampaikan penjelasan sangat luas. Bahwa perayaan dalam Islam ada yang dijelaskan dalam Agama seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Ada yang tidak dijelaskan secara langsung seperti Maulid Nabi, Isra Miraj dan sebagainya, yang memiliki 2 pendapat antara yang membolehkan dan membidahkan. Beliau melanjutkan: اﻟﺤﺪﻳﺚ ﻟﻢ ﻳﺤﺼﺮ اﻷﻋﻴﺎﺩ ﻓﻴﻬﻤﺎ، ﺑﻞ ﺫﻛﺮ ﻓﻀﻠﻬﻤﺎ ﻋﻠﻰ ﺃﻋﻴﺎﺩ ﺃﻫﻞ اﻟﻤﺪﻳﻨﺔ اﻟﺘﻰ ﻧﻘﻠﻮﻫﺎ ﻋﻦ اﻟﻔﺮﺱ، ﻭﻣﻨﻬﺎ ﻋﻴﺪ اﻟﻨﻴﺮﻭﺯ ﻓﻰ ﻣﻄﻠﻊ اﻟﺴﻨﺔ اﻟﺠﺪﻳﺪﺓ ﻓﻰ ﻓﺼﻞ اﻟﺮﺑﻴﻊ، ﻭﻋﻴﺪ اﻟﻤﻬﺮﺟﺎﻥ ﻓﻰ ﻓﻀﻞ اﻟﺨﺮﻳﻒ Hadis ini tidak sekedar membatasi hari raya Iedul Fitri dan Idul Adha saja. Hadis itu menjelaskan keutamaan keduanya dibanding hari perayaan penduduk Madinah yang mereka terima dari Persia. Diantaranya ada perayaan Nairuz dan Mahrajan di awal tahun musim dingin dan panas. ﻭﻟﻢ ﻳﺮﺩ ﻧﺺ ﻳﻤﻨﻊ اﻟﻔﺮﺡ ﻭاﻟﺴﺮﻭﺭ ﻓﻰ ﻏﻴﺮ ﻫﺬﻳﻦ اﻟﻌﻴﺪﻳﻦ Tidak ada dalil Nash yang melarang untuk ikut senang dan bahagia di selain Idul Fitri dan Idul Adha (Fatawa Al-Azhar 10/160) Mufti Al-Azhar ini tetap mensyaratkan perayaan tersebut tidak menyimpang dari koridor syariat Islam. Namun ada riwayat dari ulama Salaf kita berkenaan di malam Tahun Baru bangsa dan agama lain, seperti yang disampaikan oleh Imam Al-Baihaqi: ﻛَﺎﻥَ ﺯُﺑَﻴْﺪٌ اﻟْﻴَﺎﻣِﻲُّ ﻭَﻣَﻌَﻪُ ﺟَﻤَﺎﻋَﺔً ﺇِﺫَا ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻮْﻡُ اﻟﻨَّﻴْﺮُﻭﺯِ، ﻭَﻳَﻮْﻡُ اﻟْﻤِﻬْﺮَﺟَﺎﻥِ اﻋْﺘَﻜَﻔُﻮا ﻓِﻲ ﻣﺴﺎﺟﺪﻫﻢ، ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻟُﻮا: " ﺇِﻥَّ ﻫَﺆُﻻَءِ ﻗَﺪِ اﻋْﺘَﻜَﻔُﻮا ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻔْﺮِﻫِﻢْ، ﻭَاﻋْﺘَﻜَﻔْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻨَﺎ ﻓَﺎﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ " Zubaid Al-Yami dan jamaahnya melakukan itikaf di masjid mereka pada hari perayaan (tahun) Nairuz dan Mahrajan. Doanya: "Mereka beri'tikaf atas kekufuran mereka. Sementara kami beritikaf atas iman kami. Maka ampunilah kami" (Syuab Al Iman) Ustadz Ma'ruf Khozin

Ustadz Ma’ruf Khozin: Apa Yang Dilakukan Di Malam Tahun Baru?

0
KALAMULAMA.COM- Apa Yang Dilakukan Di Malam Tahun Baru? Masalah seperti ini sudah pernah disampaikan kepada Mufti Al-Azhar: ﻣﺎ ﺭﺃﻯ اﻟﺪﻳﻦ ﻓﻰ اﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﻌﺾ اﻟﺪﻭﻝ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩ ﻣﺜﻞ...
Kajian Islam (Kalam Ulama). Nasehat Pernikahan #4: Suami adalah Pengontrol Istri. Ada yang berpendapat bahwa cinta itu ada batasnya, sehingga cinta kepada orang yang kita cintai itu harus dibatasi dalam beberapa kasus. Diantaranya seperti, istri sedang sakit dan dilarang oleh dokter untuk memakan makanan tertentu. Maka terhadap orang yang kita cintai, kita harus melarangnya. Ini adalah bentuk cinta yang terbatas. Namun, menurut kami ini bukan cinta yang terbatas. Justru pelarangan itu adalah suatu bentuk ekspresi cinta dengan wajah yang lain (pelarangan) untuk memperoleh tujuan yang lebih tinggi, yaitu kesehatan. Karena cinta terkadang terlihat buruk di mata orang yang kita cintai, namun hakikatnya terbaik untuknya. Diantara bentuk ekspresi cinta dengan wajah yang lain adalah seyogyanya seorang suami tidak membiarkan istrinya mengikuti hawa nafsunya sampai melebihi batas dalam bersendau-gurau, sehingga merusak akhlaknya dan menjatuhkan martabat suami dihadapan istrinya. Namun, suami harus menjaga keseimbangan (mengontrol) dalam bersendau-gurau dan tidak meninggalkan kewibawaan, serta mencegahnya ketika melihat kemungkaran. Yang lebih penting, suami tidaklah menolong istri dalam kemungkaran. Apabila melihat kemungkaran, suami hendaknya membenci kemungkaran tersebut. (Baca juga: Nasehat Pernikahan #3: Candaan Mesra Rasulullah dengan Aisyah) Syaikh Hasan pernah berkata: “Tidaklah lelaki yang taat kepada istrinya dalam kemaksiatan kecuali Allah mengekangnya dalam neraka”. Perkataan Syaikh Hasan mengisyaratkan betapa buruknya lelaki yang menuruti istrinya dalam kemaksiatan. Sayyidina Umar RA juga berkata: “Berbedalah kalian dengan perempuan, karena sesungguhnya dalam menyelisihinya terdapat keberkahan” atau dalam riwayat lain “bermusyawarahlah dan berselisihlah dengannya”. Sayyidia Umar RA memberikan isyarat bahwa apabila perempuan sudah dibawah kendali hawa nafsunya, maka berbedalah dengannya. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Celaka, hambanya istri.” Nabi berkata demikian, karena apabila suami taat kepada istrinya dalam menuruti hawa nafsunya, maka ia adalah hambanya. Sungguh ia celaka, karena sesungguhnya Allah memberikan milik perempuan kepada suaminya, suami memilikinya, kemudian sugguh ia membalik keputusan itu dan ia mengikuti setan. Setan berkata: “Sungguh aku akan memerintahkah mereka, kemudian mereka menggantinya. Allah menciptakan, bahwa hak-hak lelaki adalah orang yang diikuti (Matbuu’), bukan orang yang mengikuti (Taabi’). Ayat al-Qur’an yang memperkuat karakter lelaki sebagai Matbu’ adalah firman Allah surat An-Nisa ayat 34: “Lelaki adalah pemimpin bagi para perempuan”, dan Allah dalam Al-Qur’an memberikan sebutan “sayyid” untuk suami, dalam firman Allah surat yusuf ayat 25: “…dan keduanya mendapati sayyid-nya (suami perempuan) itu di depan pintu…” Karakter perempuan itu bergantung karakter dirimu: Jika kamu melepas kendalinya sedikit, maka ia akan berbuat nakal banyak Jika kamu mengendorkan kendalinya sebentar saja, maka ia akan menarik berhasta-hasta ( 1 hasta = panjang dari siku sampai ujung jari) (jika dikendorkan sedikit, maka berbuatnya lebih banyak daripada kadar yang dikendorkan tersebut) Jika kamu mencegahnya dan mengikatkan kepada tanganmu di tempatnya, maka kamu memilikinya. Sehingga Imam As-Syafi’i mengilustrasikan karakter perempuan dalam perkataan beliau: “Ada tiga perkara, apabila kamu memuliakannya, maka mereka akan merendahkanmu, dan apabila kamu merendahkannya, mereka memuliakanmu, Mereka adalah (1) perempuan, (3) pembantu dan (4) orang yang menggarap sawah”. Maksud dari kata perkataan tersebut yaitu apabila kamu memurnikan kemuliaan dan kamu tidak mencampurkan kekasaranmu dengan kelembuatanmu. Perempuan bangsa Arab mengajarkan kepada anak-anak perempuannya tentang suami. Mereka berkata kepada anak perempuannya: “cobalah suamimu dengan maju dan berani. Cabutlah besi diujung tombaknya, apabila ia diam maka potonglah daging atas perisainya. Apabila ia diam maka pecahlah tulang belulang dengan pedangnya. Apabila dia diam, maka jadikanlah pelana atas punggungnya dan tunggangilah. Karena sesungguhnya ia adalah khimarmu”. Perkataan perempuan arab kepada anak perempuannya ini menggambarkan bahwa istri akan semakin berani dengan suami jika suami membiarkan/melonggarkannya. Apalagi dalam kata terakhir “Dia adalah khimarmu” menggambarkan bahwa suamimu adalah orang yang dapat ditunggangi dibawah kontrolnya. oleh : Hamzah Alfarisi

Nasehat Pernikahan #4: Suami adalah Pengontrol Istri

0
Kajian Islam (Kalam Ulama). Nasehat Pernikahan #4: Suami adalah Pengontrol Istri. Ada yang berpendapat bahwa cinta itu ada batasnya, sehingga cinta kepada orang yang kita...
muslim masuk gereja

Gus Nadirsyah Hosen: Bolehkah Muslim Masuk ke Gereja?

0
kalamulama.com - Bolehkah Muslim Masuk ke Gereja? Jangan Emosi, Kita Ngaji Kitab Fiqh Yuk! Sahabat dan guru saya, Ustaz Yusuf Mansur meminta saya menjelaskan bagaimana...

Kajian Mausu’ah Ahsanil Kalam #01 “Dakwah dan Adabnya”

0
Oleh : Zuhal Qobili Dakwah atau menyerukan agama adalah sesuatu yang baik. Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 104 : وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ...

Kajian Qurrotul ‘Uyun #02 Keutamaan Shalawat dan Delapan Dzikir Seumur Hidup

0
Ada delapan dzikir yang begitu mulia, sampai sampai dihukumi wajib dalam mengucapkannya, meskipun sekali dalam seumur hidup. Delpan dzikir tersebut terangkum dalam nadzam berikut...
Menikah adalah Tabungan Surga ﻓﺮﻁ ﺑﻔﺘﺤﺘﻴﻦ ﻭﻣﻨﻪ ﻳﻘﺎﻝ ﻟﻠﻄﻔﻞ اﻟﻤﻴﺖ اﻟﻠﻬﻢ اﺟﻌﻠﻪ ﻓﺮﻃﺎ ﺃﻱ ﺃﺟﺮا ﻣﺘﻘﺪﻣﺎ Anak yang wafat sebelum usia baligh disebut farathan, yaitu pahala yang sudah ada di depan (Faidl Al Qadir). (Baca Juga : Syariat, Apa dan untuk Siapa? Di lingkungan kita biasa menyebut sebagai tabungan di surga. Hal ini berdasarkan hadis: ﻭﻋﻦ ﻗﺮﺓ ﺑﻦ ﺇﻳﺎﺱ «ﺃﻥ ﺭﺟﻼ ﻛﺎﻥ ﻳﺄﺗﻲ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻣﻌﻪ اﺑﻦ ﻟﻪ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: " ﺃﺗﺤﺒﻪ؟ " ﻗﺎﻝ: ﻧﻌﻢ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، ﺃﺣﺒﻚ اﻟﻠﻪ ﻛﻤﺎ ﺃﺣﺒﻪ. ﻓﻔﻘﺪﻩ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﺎﻝ: " ﻣﺎ ﻓﻌﻞ ﻓﻼﻥ ﺑﻦ ﻓﻼﻥ؟ " ﻗﺎﻟﻮا: ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، ﻣﺎﺕ. ﻓﻘﺎﻝ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻷﺑﻴﻪ: " ﺃﻻ ﺗﺤﺐ ﺃﻥ ﻻ ﺗﺄﺗﻲ ﺑﺎﺑﺎ ﻣﻦ ﺃﺑﻮاﺏ اﻟﺠﻨﺔ ﺇﻻ ﻭﺟﺪﺗﻪ ﻳﻨﺘﻈﺮﻙ؟ " ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺟﻞ: ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، ﺃﻟﻪ ﺧﺎﺻﺔ ﺃﻡ ﻟﻜﻠﻨﺎ؟ ﻗﺎﻝ: " ﺑﻞ ﻟﻜﻠﻜﻢ» ". Dari Qurrah bin Iyas bahwa seseorang datang kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam membawa anak. Nabi berkata: "Apakah Engkau mencintai anakmu?" Ia menjawab: "Ya, wahai Rasulullah". Nabi bersabda: "Semoga Allah mencintaimu seperti Allah mencintainya". Kemudian Nabi shalallahu alaihi wasallam tidak menjumpai dia. Nabi bertanya: Bagaimana Fulan bin Fulan? Mereka menjawab: "Anaknya meninggal". Lalu Nabi bersabda kepada bapaknya: "Tidakkah Engkau senang untuk memasuki pintu surga dan anakmu telah menunggumu?" Yang lain bertanya: "Apakah ini khusus untuk dia atau untuk kami semua?" Nabi bersabda: "Bahkan untuk kalian semua" ﺭﻭاﻩ ﺃﺣﻤﺪ، ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ ﺭﺟﺎﻝ اﻟﺼﺤﻴﺢ HR Ahmad, para perawinya adalah perawi hadis sahih Juga dipertegas oleh para sahabat diantaranya Ummul Mukminin, Hafsah binti Sayidina Umar: ﺃﺭاﺩ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺘﺰﻭﺝ ﺑﻌﺪ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻓﻘﺎﻟﺖ ﺣﻔﺼﺔ: «ﺃﻱ ﺃﺧﻲ ﺗﺰﻭﺝ ﻓﺈﻥ ﻭﻟﺪ ﻟﻚ ﻓﻤﺎﺕ ﻛﺎﻥ ﻟﻚ ﻓﺮﻃﺎ، ﻭﺇﻥ ﺑﻘﻲ ﺩﻋﺎ ﻟﻚ ﺑﺨﻴﺮ» Ibnu Umar ingin tidak menikah setelah wafatnya Nabi shalallahu alaihi wasallam. Lalu Hafsah berkata: "Wahai saudaraku, menikahlah. Jika engkau punya anak lalu wafat, maka anak itu menjadi tabungan bagimu. Jika anak itu hidup maka akan mendoakan kebaikan untuk mu" (Mushannaf Abdirrazzaq) Oleh : Ustadz Ma'ruf Khozin Sumber : hujjah NU

Menikah adalah Tabungan Surga

0
Menikah adalah Tabungan Surga ﻓﺮﻁ ﺑﻔﺘﺤﺘﻴﻦ ﻭﻣﻨﻪ ﻳﻘﺎﻝ ﻟﻠﻄﻔﻞ اﻟﻤﻴﺖ اﻟﻠﻬﻢ اﺟﻌﻠﻪ ﻓﺮﻃﺎ ﺃﻱ ﺃﺟﺮا ﻣﺘﻘﺪﻣﺎ Anak yang wafat sebelum usia baligh disebut farathan, yaitu pahala...