Kajian Islam

Kajian ASWAJA #07 : Ulama Sejagat Membolehkan Tabarruk (Ngalap Berkah) di Kuburan Orang Sholeh

31. Al-Imam an-Nawawi (wafat 676 H). Beliau adalah seorang ulama yang sudah tidak diragukan lagi keimamannya. Beliau telah mencapai derajat Hujjatul Islam,...

Kajian Safinah Najah #07: “Tafsir Sholawat dan Sejarah Nama Muhammad”

 Oleh: Roby Mohamad بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ * وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُـحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِـيِّـيْنَ * “Bismillahir...
KalamUlama.com - Maulid Diba #06: Lirik Sholatullahima lahat Kawakib & Tsumma Arudduhu اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) ثُمَّ أَرُدُّهٗ مِنَ الْعَرْشِ. قَبْلَ أَنْ يَّبْرُدَ الْفَرْشُ. وَقَدْ نَالَ جَمِيْعَ الْمَاٰرِبِ. فَإِذَا شُرِّفَتْ طُرْبَةَ طَيْبَةَ مِنْهُ بِأَشْرَفِ قَالَبٍ. سَعَتْ إِلَيْهِ أَرْوَاحُ الْمُحِبِّيْنَ عَلىٰ الْأَقْدَامِ وَالنَّجَآئِبِ Kemudian Aku kembalikan dia dari ‘Arsy, dingin alas tidurnya benar-benar telah memperoleh menjadi tujuannya. ketika tanah suci Makkah dimuliakan karena sebab kemuliaan Nabi yang merubahnya. Terbentang keleluasaan untuk tujuan ke Makkah bagi jiwa-jiwa yang mencintainya, baik yang berjalan kaki maupun yang berkendaraan. .******************************. اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) صَلاَةُ اللهِ مَالاَحَــــــتْ كَوَاكِبْ # عَلىٰ احْمَدْ خَيْرِ مَنْ رَّكِبَ النَّجَآئِبْ Selagi bintang masih bercahaya, semoga rahmat Alloh tercurah. Kepada Nabi Muhammad sebaik-baiknya pengendara unta. حَدٰى حَادِى السُّرٰى بِاسْمِ الْحَبَائِبْ # فَهَزَّالشُّكْرُاَعْـــــــــطَافَ الرَّكَائِبْ Selama pengiring unta menyanyikan lagu menyebut nama kekasih terindu. Unta mengangguk-angguk menari gembira terbawa irama lagu penunggangnya اَلَمْ تَرَهَا وَقَدْ مَــــدَّتْ حُـــــطَاهَا # وَسَالَتْ مِنْ مَّدَامِعِـــــهَا سَحَآئِبْ Tidakkah engkau lihat, semakin cepat langkah unta? Bercucuran deras dari matanya air mata bagaikan awan tiba. وَمَالَتْ لِلْـــــحِمٰى طَرَبًا وَحَنَّتْ # إِلٰى تِلْكَ الْمَعَالِمِ وَ اْلمَــــــــلاَعِبْ Semakin condong langkah untuk kegembiraan merindukan Menuju kandang gembalaan pengembaraannya. فَدَعْ جَذْبَ الزِّمَامِ وَلَا تَسُــــقْهَا # فَقَائِدُ شَــــــوْقِهَا لِلْــــحَيِّ جَاذِبْ Biarkan, jangan kau tarik kendali dan penggiringnya. Maka penggembala merasa kesepian merindukan Nabi kemudian menariknya. فَهِمْ طَــــــرَبًا كَمَا هَــــامَــــتْ وَاِلاَّ # فَإِنَّكَ فِى طَـــرِيقِ الْحُـــبِّ كَاذِبْ Tunjukkanlah rasa cintamu sebagaimana cintanya unta dan jikalau tidak, Maka jalan cintamu pada nabi adalah dusta. اَمَّا هٰذَا الْعَقِيْــــــــقُ بَدَا وَهٰذِيْ # قِبَابُ الْحَيِّ لاَحَتْ وَالْمَــضَارِبْ Perhatikan, kota Aqiq telah nampak dan inilah Qubah Nabi, gemerlapan cahayanya menyilaukan وَتِلْكَ الْقُبَّةُ الْخَـــــــــــضْرَا وَفِيْهَا # نَبِـــــيٌّ نُوْرُهٗ يَجْـــلُوْ الْغَـــــــيَاهِبْ Itulah qubah hijau dan nabi bermakam di dalamnya. Seorang Nabi yang nur-nya menerangi kegelapan. وَقَــــدْ صَحَّ الرِّضَى وَدَنَا التَّلَاقِي # وَقَدْجَاءَ الْهَنَا مِنْ كُلِّ جَـــــــانِبْ Dan sungguh jelas keridhoan Alloh, dan pertemuan pun telah dekat Dan sungguh telah datang kegembiraan dari segala penjuru فَقُلْ لِّلنَّفْسِ دُوْنَكِ وَالتَّمَــــــــلِّى # فَمَادُوْنَ الْحَبِيْبِ الْيَوْمَ حَــــاجِبْ Maka bisikkan ke dalam hati, tiada seorang pun kucondongkan rasa cinta. Maka tiada satupun hari ini kepada kekasih, penghalangnya تَمَلَّى بِالْحَبِيْبِ بِكُلِّ قَصْــــــــــدٍ # فَقَدْحَصَلَ الْهَنَا وَالضِـــــدُّ غَائِبْ Condongkanlah rasa cinta kepada kekasih di segala tujuan, Maka sungguh memperoleh kesenangan dan lenyaplah kedukaan. نَبِيُّ اللهِ خَيْرُ الْخَلْقِ جَمْـــــــــــعَا # لَهٗ أَعْلَى الْمَنَاصِــــبِ وَالْمَــــرَاتِبْ Nabi Alloh sebaik-baik seluruh makhluk. Baginya keluhuran pangkat dan martabat tertinggi. لَهُ الْجَاهُ الرَّفِيْــــعُ لَهُ الْمَعَــــــــالِى # لَهُ الشَّرَفُ الْمَــؤَبَّدُ وَالْمَنَـــــاقِبْ Baginya ketinggian kedudukan, baginya segala keluhuran. Kemuliaannya diabadikan dan menjadi kenangan. فَـــــــــلَوْ أَنَّا سَعَيْنَــا كُلَّ يَــــــوْمٍ # عَلىٰ اْلاَحْدَاقِ لاَفَوْقَ النَّجَــــائِبْ Maka seandainya kami menuju tempat, berjalan setiap hari Di atas pandangan, bukan di punggung-punggung unta. وَلَوْ أَنَّا عَمِلْـــــنَا كُلَّ حِــــــــــيْنٍ # لِأَحْمَـــــدَ مَوْلِداً قَــدْ كَانَ وَاجِبْ Dan seandainya kami beramal setiap saat Pada peringatan kelahiran Ahmad, maka sungguh hukumnya wajib. عَلَيْــــهِ مِنَ الْمُــــهَيْـمِنِ كُلَّ وَقْتٍ # صَلاَةٌ مَّا بَدَا نُـــــوْرُ الْكَـــوَاكِبْ Setiap waktu kumohonkan untuknya dari Alloh. Rahmat selama bintang-bintang masih bercahaya. تَعُــــــــمُّ اْلاٰلَ وَالْأَصْحَــــابَ طُرًّا # جَمِـــــــــــــيْعَهُمْ وَعِتْرَتَهُ الْأَطَايِبْ Kepada keluarga dan para sahabat semuanya. Serta semua keturunannya yang baik-baik lagi mulia. اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) ============================= Keterangan : Diriwayatkan di dalam tafsir Imam At-Thobary ‘alaihi rohmatulloh bahwa ketika salah seorang sahabat dari kalangan baduwi (orang dusun) mendengar rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam membaca surat al-Insan sampai ayat terakhir. Surat ini lebih banyak menceritakan tentang kenikmatan dan keindahan surga. Maka berkatalah seorang baduwi itu kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rosululloh, apakah mataku ini akan memandangmu kelak di surga?, engkau sudah menceritakan keindahan surga tapi apakah mataku ini akan memandangmu disana, keindahan surga tidak aku pedulikan karena jika aku tidak memandang wajahmu maka percuma aku masuk ke dalam surga” Karena cintanya kepada nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam terdiam, dan ia pun mengulang pertanyaannya: “Wahai Rosululloh, apakah mataku akan memandangmu di surga?” maka Rosululloh berkata: “ya, kau akan melihat aku kelak di surga”, maka orang baduwi itu terjatuh pingsan karena cinta dan tangisnya, gembira karena telah dijanjikan oleh sang nabi untuk berjumpa dengan nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, dan melihat wajah beliau shollallohu ‘alaihi wasallam. Demikian cintanya kepada nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, hingga ketika orang ini wafat, Rosul SAW pun memanjakannya, Rosul SAW yang menurunkan jenazahnya ke dalam kubur, lalu Rosul SAW memangkunya, sesaat kemudian beliau SAW membaca ayat: إِنَّ هَذَا كَانَ لَكُمْ جَزَاءً وَكَانَ سَعْيُكُمْ مَشْكُوْرًا ( الإنسان : 22 ) “Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)” ( Al-Insan:22) Maka sayyidina Abdulloh bin Umar berkata: “Wahai Rosululloh, siapa orang ini? Dia bukanlah orang yang menonjol diantara para sahabat sehingga kau membacakan ayat ini dan kau sangat memanjakan dia, apa yang dia lakukan? Perjelas wahai Rosul”, maka Rosul SAW berkata: “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya (Alloh), sungguh orang itu saat ini sedang diberdirikan di hadapan Alloh subhanahu wa ta’ala dan Alloh berkata: “Aku akan mensucikan dan menyinari wajahmu” Kenapa? Karena cintanya kepada sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Demikian dengan hewan-hewan, mereka pun mencintai Rosululloh SAW, sebagaimana yang telah disampaikan oleh al-Habib Salim bin Umar al-Hamid bagaimana Syeikh Abdurrahman Ad-Dibaa’i menjelaskan riwayat hamba-hamba yang cinta kepada Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam, maka ketika onta-onta mendekati Madinah al-Munawwaroh, berkata al-Imam Abdurrahman Ad-Dibaa’i: “Jangan kau pegangi onta yang sedang mengarah ke Madinah, karena onta itu bergegas dengan kencang dan jangan tahan kekencangannya karena yang mengendalikannya adalah rindunya kepada sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam”. Semua onta ketika memasuki Madinah al-Munawwaroh, onta-onta itu pun mengalirkan air mata hingga saat ini, kenapa? Karena mengetahui bahwa itu adalah kota sayyidina Muhammad, apakah hewan mengenal beliau SAW? Ya, hewan mengenal beliau, tumbuhan mengenal beliau, bebatuan mengenal beliau, langit dan bumi semuanya mengenal beliau, sebagaimana sabda nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam diriwayatkan dalam Shohih al-Bukhori : ‏ ‏إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا ‏جِبْرِيْلَ ‏فَقَالَ إِنِّيْ أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيْلُ ‏‏ثُمَّ يُنَادِيْ فِي السَّمَاءِ فَيَقُوْلُ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلّانًا فَأَحِبُّوْهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ “Sesungguhnya apabila Alloh mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku mencintai fulan maka cintailah dia! Jibril pun mencintainya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Alloh mencintai fulan, maka cintailah dia! Para penghuni langitpun mencintainya” Maka orang yang paling dicintai Alloh adalah sayyidina Muhammad (saw). Diriwayatkan dalam siroh (kitab sejarah nabi saw), ketika seekor onta besar yang mengamuk di Madinah al-Munawaroh, tentunya jika binatang mengamuk maka ia akan beringas, mulutnya akan berbusa karena marah, sehingga onta itu pun dijerat dalam suatu kandang, dilaporkan bahwa onta besar di Madinah mengamuk, maka sampailah kabar tersebut kepada Rosululloh. Maka Rosululloh berkata: “Tunjukkan aku pada onta itu, maka sahabat berkata: “onta itu dijerat dalam kandang ini wahai Rosululloh”, Rosululloh berkata: “Bukalah pintunya”, maka sahabat pun berkata: “ wahai Rosululloh, onta itu sedang mengamuk dan beringas, nanti ia akan melukaimu”, Rosululloh berkata: “Bukakan pintunya!” Semua hewan dan tumbuhan dan semua makhluk Alloh mengenal Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam. Ketika pintu kandang dibukakan, onta yang berada jauh dari pintu itu kelihatan sedang beringas, merah matanya, dan berbusa mulutnya, tetapi ketika melihat wajah nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, ia pun tertunduk-tunduk lari mendekat mencium kaki Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, melihat wajah sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, wajah makhluk yang paling indah dari semua makhluk ciptaan Alloh, orang yang paling ramah dan tenang, onta itu pun tahu bahwa inilah pimpinan seluruh manusia, orang yang paling dicintai Alloh. Kita bisa bayangkan seekor binatang yang sedang mengamuk, mungkin disini kita jarang melihat onta, jika kita melihat kuda atau kerbau yang mengamuk saja tentunya kita akan risau, padahal onta jika berdiri tingginya dua kali lebih tinggi dari kerbau, bayangkan saja jika mengamuk maka seperti apa buasnya, dalam keadaan seperti itu ia berlari tertunduk-tunduk mendekat menciumi kaki Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, hilang marahnya ketika memandang wajah sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Inilah semulia-mulia idola kita, maka jangan memilih idola yang lain, apalagi orang yang tidak pernah sujud kepada Alloh, apabila kita menjadikannya idola, maka itu akan menjadikan musibah kelak di hari kiamat, di dalam Atsar sahabat dijelaskan bahwa: “Walaupun seorang hamba beribadah ratusan tahun di hadapan Ka’bah, tetap ia tidak akan dikumpulkan kecuali bersama dengan orang yang ia cintai”. Ucapan ini diperkuat dengan riwayat Shohih al-Bukhori dan Shohih Muslim: اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ “ Seseorang bersama dengan orang yang dicintainya” Jika ada yang berkata “seorang seperti aku ini belum pantas cinta kepada Rosululloh”, kalau belum pantas mencintai Rosul, maka tidak terpilih menjadi ummatnya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam. Semua ummat Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam sudah dihalalkan oleh Alloh untuk mencintai nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, bahkan mereka yang masuk Islam pun karena mengenal dan mencintai Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Semoga kita semua tetap menjadikan sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam sebagai idola, hingga kita wafat dan dibangkitkan dalam kelompok orang-orang yang cinta pada beliau (saw) sebagaimana dalam sabdanya: “Seseorang bersama dengan orang yang dicintainya”. Wallohua’lam. Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi Narasumber: Al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa pada Jalsatul Itsnain Majelis Rasulullah SAW, Senin 01 Maret 2010.

Lirik Sholatullahima lahat Kawakib & Tsumma Arudduhu

KalamUlama.com - Maulid Diba #06: Lirik Sholatullahima lahat Kawakib & Tsumma Arudduhu اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan...

Kajian Kifayatul Atqiya’ #05: Pujian dan Taufiq

Oleh : Ahmad Hanafi Seusai Muallif nadlom Hidayatul Adzkiya’, syekh Zainuddin bin Ali al Malibari membaca basmalah, beliau memulai nadlomnya dengan pujian kepada Allah....

Mengagungkan Ilmu dan Ahli Ilmu

1. Mengagungkan ilmu Seorang pelajar tidak akan memperoleh kesuksesan ilmu dan tidak pula ilmunya dapat bermanfaat, selain jika mau mengagungkan ilmu itu sendiri, ahli ilmu,...

Kajian I’anatun Nisa’ #01: Pendahuluan

Oleh : Abdul Hamid Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, tuhan seru sekalian alam. Dengan-Nya lah...

Kajian ASWAJA #06 : Ulama Sejagat Membolehkan Tabarruk (Ngalap Berkah) di Kuburan Orang Sholeh

        26.   Al-Imam al-Qodli asy-Syarif Abu ‘Ali al-Hasyimi al-Hanbali (wafat 428 H). Beliau adalah salah seorang perowi ‘aqidah Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau adalah pengarang kitab al-Fawa’id...

Kajian Wanita Sholihah dan Lelaki Sholih #06: Tatakrama Istri yang Bisa Mengantarkannya Menjadi Wanita...

Oleh: Hamzah Alfarisi Pertanyaan  : Apa saja tatakrama istri yang bisa mengantarkanyna menjadi wanita                   sholehah? Jawab             : Tatakarama yang bisa menjadikan istri menjadi wanita sholihah diantaranya,  wanita tersebut...
 Kalamulama.com Kajian Maulid Diba' #05 "Yub'atsu min Tihamah"    اللهم صل وسلم وبارك عليه   Ya Allah tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad)    يُبْعَثُ مِنْ تِهَامَةَ بَيْنَ يَدَيِ الْقِيَامَةِ. فِيْ ظَهْرِهٖ عَلاَمَةٌ تُظِلُّهُ الْغَمَامَةُ تُطِيْعُهُ السَّحَآئِبُ. فَجْرِيُّ الْجَبِيْنِ لَيْلِيُّ الذَّوَآئِبِ. أَلْفِـيُّ الْأَنْفِ مِيْمِـيُّ الْفَمِ نُوْنِيُّ الْحَاجِبِ. سَمْعُهٗ يَسْمَعُ صَرِيْرَ الْقَلَمِ بَصَرُهٗ اِلٰى السَّبْعِ الطِّبَاقِ ثَاقِبٌ. قَدَمَاهٗ قَبَّلَهُمَا الْبَعِيْرُ فَأَزَالاَمَا اشْتَكَاهُ مِنَ الْمِحَنِ وَالنَّوَآئِبِ. اٰمَنَ بِهِ الضَّبُّ وَسَلَّمَتْ عَلَيْهِ الْأَشْجَارُ وَخَاطَبَتْهُ الْأَحْجَارُ وَحَنَّ إِلَيْهِ الْجِذْعُ حَنِيْنَ حَزِيْنٍ نَادِبٍ. يَدَاهُ تَظْهَرُ بَرَكَتُهُمَا فِي الْمَطَاعِمِ وَالْمَشَارِبِ. قَلْبُهٗ لاَيَغْفُلُ وَلاَ يَنَامُ وَلٰكِنْ لِلْخِدْمَةِ عَلىٰ الدَّوَامِ مُرَاقِبٌ. إِنْ أُوْذِيَ يَعْفُ وَلاَيُعَاقِبُ. وَإِنْ خُوْصِمَ يَصْمُتْ وَلاَيُجَاوِبُ. أَرْفَعُهٗ إِلىٰ أَشْرَفِ الْمَرَاتِبِ. فِي رَكْبَةٍ لاَتَنْبَغِـيْ قَبْلَهٗ وَلاَبَعْدَهٗ لِرَاكِبٍ. فِيْ مَوْكِبٍ مِنَ الْمَلَآئِكَةِ يَفُوْقُ عَلىٰ سَآئِرِ الْمَوَاكِبِ. فَإِذَا ارْتَقىٰ عَلىٰ الْكَوْنَيْنِ وَانْفَصَلَ عَنِ الْعَالَمَيْن وَوَصَلَ إِلىٰ قَابِ قَوْسَيْنِ كُنْتُ لَهٗ اَنَا النَّدِيْمَ وَالْمُخَاطِبَ ِ   Nabi SAW diutus oleh Allah di negeri Tihamah (Makkah) diantara saat menjelang datang hari kiamat. Pada punggungnya ada tanda  kenabian. Apabila berjalan, awan senantiasa melindunginya dan perintahnya dipatuhi oleh awan. Dahinya bercahaya cemerlang, rambutnya bagaikan malam gelap gulita atau hitam pekat. Bagaikan huruf alif bentuk mancung hidungnya, bagaikan huruf mim bulat mulutnya, bagaikan huruf nun lengkung alisnya. Pendengarannya dapat mendengar geritan qolam (di Lauhil Mahfuzh), penglihatannya sampai ke langit tujuh. Kedua telapak kakinya dicium unta, maka lenyaplah rasa sakit serta bala’ musibah yang diderita oleh unta itu. Binatang biawak dan lainnya beriman kepadanya dan bersalam kepadanya pepohonan, berbicara dengannya batu-batuan, batang kurma meratap kepadanya bagaikan rintihan kesedihan seorang pecinta. Kedua tangannya menatap menampakkan berkahnya pada makanan dan minuman. Hatinya tidak lalai dan tidak pula tidur, tetapi senantiasa mengabdi dan ingat kepada Alloh. Bila disakiti, beliau mengampuni dan tidak membalas dendam, Bila dihina, beliau hanya diam dan tidak menjawab, Allah mengangkatnya ke martabat yang lebih mulia atau tinggi, Dengan kendaraan yang tak pernah dipakai oleh siapapun, sebelum dan sesudahnya. Pada golongan malaikat, ketinggian derajatnya melebihi yang lain. Maka ketika Nabi naik melalui dua alam dan berpisah dari dua alam, sampailah ke tempat ketinggian yang bagaikan jarak dua busur panah, maka Aku-lah yang menghibur dan berbicara kepadanya.   اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad)    Baca Sebelumnya Kajian Maulid Diba' #04: "Qiila Huwa Adam" ========================   Keterangan : Dalam kitab KITAB AS SYAMAIL MUHAMMADIYAH IMAM TURMUDZI dijelaskan tentang ciri-ciri fisik Rosululloh SAW. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut: 1). Bentuk Tubuh Rasulullah.  «كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ليس بالطويل البائن، ولا بالقصير، ولا بالأبيض الأمهق، ولا بالآدم ولا بالجعد القطط ولا بالسبط، بعثه الله تعالى على رأس أربعين سنة، فأقام بمكة عشر سنين، وبالمدينة عشر سنين، وتوفاه الله تعالى على رأس ستين سنة، وليس في رأسه ولحيته عشرون شعرة بيضاء».  "Rasulullah SAW bukanlah orang yang berperawakan terlalu tinggi, namun tidak pula pendek. Kulitnya tidak putih bule juga tidak sawo matang. Rambutnya ikal, tidak terlalu keriting dan tidak pula lurus kaku. Beliau diangkat Allah (menjadi rasul) dalam usia empat puluh tahun. Beliau tinggal di Makkah (sebagai Rasul) sepuluh tahun dan di madinah sepuluh tahun. Beliau pulang ke Rahmatullah dalam usia permulaan enam puluh tahun. Pada kepala dan janggutnya tidak terdapat sampai dua puluh lembar rambut yang telah berwarna putih. "(diriwayatkan oleh Abu Raja' Qutaibah bin Sa'id, dari Malik bin Anas, dari Rabi'ah bin Abi `Abdurrahman yang bersumber dari Anas bin Malik r.a)  «ما رأيت من ذي لمة في حلة حمراء أحسن من رسول الله، له شعر يضرب منكبيه، بعيد ما بين المنكبين، لم يكنبالقصير ولا بالطويل». "Aku tak pernah melihat orang yang berambut panjang terurus rapi, dengan mengenakan pakaian merah, yang lebih tampan dari Rosululloh SAW. Rambutnya mencapai kedua bahunya. Kedua bahunya bidang. Beliau bukanlah seorang yang berperawakan pendek dan tidak pula terlampau tinggi." (diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki',dari Sufyan, Dari Abi Ishaq, yang bersumber dari al Bara bin `Azib r.a).  «لم يكن رسول الله بالطويل الممغط، ولا بالقصير المتردد، وكان ربعة من القوم، لم يكن بالجعد القطط، ولا بالسبط، كان جعدا رجلا، ولم يكن بالمطهم ولا بالمكلثم، وكان في وجهه تدوير أبيض مشرب، أدعج العينين، أهدب الأشفار، جليل المشاش والكتد، أجرد ذومسربة، شثن الكفين والقدمين، إذا مشى تقلع كأنما ينحط في صبب، وإذا التفت التفت معا، بين كتفيه خاتم النبوة، وهو خاتم النبيين، أجود الناس صدرا، وأصدق الناس لهجة، وألينهم عريكة، وأكرمهم عشرة، من رآه بديهة هابه، ومن خالطه معرفة أحبه، يقول ناعته: لم أر قبله ولا بعده مثله صلى الله عليه وسلم»  "Rasulullah SAW tidak berperawakan terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek. Beliau berperawakan sedang diantara kaumnya. Rambut tidak keriting bergulung dan tidak pula lurus kaku, melainkan ikal bergelombang. Badannya tidak gemuk, dagunya tidak lancip dan wajahnya agak bundar. Kulitnya putih kemerah-merahan. Matanya hitam pekat dan bulu matanya lentik. Bahunya bidang. Beliau memiliki bulu lebat yang memanjang dari dada sampai ke pusat. Tapak tangan dan kakinya terasa tebal. Bila Beliau berjalan, berjalan dengan tegap seakan-akan Beliau turun ke tempat yang rendah. Bila Beliau berpaling maka seluruh badannya ikut berpaling. Diantara kedua bahunya terdapat Khotamun Nubuwah, yaitu tanda kenabian. Beliau memiliki hati yang paling pemurah diantara manusia. Ucapannya merupakan perkataan yang paling benar diantara semua orang. Perangainya amat lembut dan beliau paling ramah dalam pergaulan.  Barangsiapa melihatnya, pastilah akan menaruh hormat padanya. Dan barangsiapa pernah berkumpul dengannya kemudian kenal dengannya tentulah ia akan mencintainya. Orang yang menceritakan sifatnya, pastilah akan berkata: "Belum pernah aku melihat sebelum dan sesudahnya orang yang seistimewa Beliau SAW". (Diriwayatkan oleh Ahmad bin `Ubadah ad Dlabi al Bashri, juga diriwayatkan oleh `Ali bin Hujr dan Abu Ja'far bin Muhammad bin al Husein, dari `Isa bin Yunus, dari `Umar bin `Abdullah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari salah seorang putera `Ali bin Abi Thalib k.w. yang bersumber dari `Ali bin Abi Thalib k.w.). «عرض علي الأنبياء، فإذا موسى عليه السلام ضرب من الرجال، كأنه من رجال شنوءة، ورأيت عيسى ابن مريم عليه السلام، فإذا أقرب من رأيت به شبها عروة بن مسعود، ورأيت إبراهيم عليه السلام، فإذا أقرب من رأيت به شبها صاحبكم، يعني نفسه، ورأيت جبريل عليه السلام فإذا أقرب من رأيت به شبها دحية». "Telah diperlihatkan kepadaku para Nabi. Adapun Nabi Musa a.s. bagaikan seorang laki laki dari suku Syanu'ah*. Kulihat pula Nabi `Isa bin Maryam a.s. ternyata orang yang pernah kulihat mirip kepadanya adalah `Urwah bin Mas'ud**, Kulihat pula Nabi Ibranim a.s. ternyata orang yang mirip kepadanya adalah kawan kalian ini (yaitu Nabi SAW sendiri). Kulihat jibril ternyata orang yang pernah kulihat mirip kepadanya adalah Dihyah***." *) Suku Syanu'ah terdapat di Yaman perawakan mereka sedang.  **) Urwah bin Mas'ud al-Tsaqofi adalah sahabat Rosululloh SAW, ia memeluk islam pada tahun 9 H.  ***) Dihyah adalah seorang sahabat Rasulullah SAW yang mengikuti jihad fi sabilillah setelah perang Badar. Ia pun merupakan salah seorang pengikut Bai'atur Ridhwan yang bersejarah. (Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa'ad dari Laits bin Sa'id, dari Abi Zubair yang bersumber dari Jabir bin `Abdullah r.a.). «كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أفلج الثنيتين، إذا تكلم رئي كالنور يخرج من بين ثناياه». "Rasulullah mempunyai gigi seri yang renggang. Bila Beliau berbicara terlihat seperti ada cahaya yang memancar keluar antara kedua gigi serinya itu." (Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari Ibrahim bin Mundzir al Hizami, dari`Abdul `Aziz bin Tsabit az Zuhri, dari Ismail bin Ibrahim, dari Musa bin `Uqbah, dari Kuraib yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.).   2). Bentuk Khotam (tanda atau cap) Nubuwwah «رأيت الخاتم بين كتفي رسول الله صلى الله عليه وسلم غدة حمراء مثل بيضة الحمامة». "Aku pernah melihat khotam (kenabian) Ia terletak antara kedua bahu Rasulullah SAW. Bentuknya seperti sepotong daging berwarna merah sebesar telur burung dara." (Diriwayatkan oleh Sa'id bin Ya'qub at Thalaqani dari Ayub bin Jabir, dari Simak bin Harb yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.). كان علي، إذا وصف رسول الله صلى الله عليه وسلم- فذكر الحديث بطوله- وقال: «بين كتفيه خاتم النبوة، وهو خاتم النبيين». "Ketika `Ali k.w. menceritakan sifat Rasulullah SAW. Maka ia akan bercerita panjang lebar dan ia akan berkata: `Diantara kedua bahunya terdapat Khotam kenabian, yaitu khotam para Nabi”. (Diriwayatkan oleh Ahmad bin `Ubadah ad Dlabi `Ali bin Hujr dan lainnya, yang mereka terima dari Isa bin Yunus dari `Umar bin `Abdullah, dari `Ibrahim bin Muhammad yang bersumber dari salah seorang putera `Ali bin Abi Thalib k.w.). قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: «يا أبا زيد، ادن مني فامسح ظهري»، فمسحت ظهره، فوقعت أصابعي على الخاتم قلت: وما الخاتم؟ قال: «شعرات مجتمعات». Dalam suatu riwayat, Alba' bin Ahmar al Yasykuri mengadakan dialog dengan Abu Zaid Amr bin Akhthab al Anshari r.a. sbb: "Abu Zaid berkata: Rasulullah SAW bersabda kepadaku: Wahai Abu Zaid mendekatlah kepadaku dan usaplah punggungku'. Maka punggungnya kuusap, dan terasa jari jemariku menyentuh Khotam. Aku (alba' bin Ahmar al Yasykuri) bertanya kepada Abu Zaid: Apakah Khotam itu?' Abu Zaid menjawab: kumpulan bulu-bulu.  (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Abu `Ashim dari `Uzrah bin Tsabit yang bersumber dari Alba'bin Ahmar al Yasykuri).   3). Rambut Rasulullah  عَنْ أنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: كَانَ شَعَرُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِلَى نِصْفِ أُذُنَيْهِ. "Rambut Rasulullah SAW mencapai pertengahan kedua telinganya." (Diriwayatkan oleh `Ali bin Hujr, dari Ismail bin Ibrahim, dari Humaid yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.). عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَرْبُوعًا، بَعِيدَ مَا بَيْنَ الْمِنْكَبَيْنِ، وَكَانَتْ جُمَّتُهُ تَضْرِبُ شَحْمَةَ أُذُنَيْهِ. "Rasulullah SAW adalah seorang yang berbadan sedang, kedua bahunya bidang, sedangkan rambutnya menyentuh kedua daun telinganya." (Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani', dari Abu Qathan, dari Syu'bah dari Abi Ishaq yang bersumber dari al Bara' bin Azib r.a.). عَنْ قَتَادَةَ، قَالَ: قُلْتُ لأَنَسٍ: كَيْفَ كَانَ شَعَرُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم؟ قَالَ: لَمْ يَكُنْ بِالْجَعْدِ، وَلا بِالسَّبْطِ، كَانَ يَبْلُغُ شَعَرُهُ شَحْمَةَ أُذُنَيْهِ. "Rambut Rasulullah SAW tidak terlampau keriting, tidak pula lurus kaku, rambutnya mencapai kedua daun telingannya. "(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Wahab bin Jarir bin Hazim, dari Hazim yang bersumber dari Qatadah). 4). Cara Berjalan Rasulullah عن أبي هريرة قال: «ولا رأيت شيئا أحسن من رسول الله صلى الله عليه وسلم كأن الشمس تجري في وجهه، وما رأيت أحدا أسرع في مشيته من رسول الله صلى الله عليه وسلم كأنما الأرض تطوى له إنا لنجهد أنفسنا وإنه لغير مكترث».  "Tiada satupun kulihat lebih indah daripada Rosululloh SAW, seolah-olah mentari beredar di wajahnya. Juga tiada seorangpun yang kulihat lebih cepat jalannya daripada Rosululloh SAW, seolah-olah bumi ini dilipat-lipat untuknya. Sungguh, kami harus bersusah-payah melakukan hal itu, sedangkan Rasulullah SAW tidak mempehatikan". (Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa'id, dari Ibnu Luhai'fah, dari Abi Yunus, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.).  عن علي بن أبي طالب قال: «كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا مشى تكفأ تكفؤا كأنما ينحط من صبب» "Bila Nabi SAW berjalan, maka ia berjalan dengan merunduk seakan-akan jalanan menurun".   (Diriwayatkan oleh Shufyan bin Waki', dari ayahnya, dari al Masudi, dari Utsman bin Muslim bin Hurmuz, dari Nafi' bin Jubair bin Muth'im, yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib k.w.).   5). Cara Makan Rasulullah  عن أبيه، «أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يلعق أصابعه ثلاثا» "Sesungguhnya Nabi SAW menjilati jari jemarinya (sehabis makan) tiga kali". (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari Sa'id bin Ibrahim dari salah seorang anak Ka'ab bin Malik, yang bersumber dari bapaknya).  عن أنس قال: «كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا أكل طعاما لعق أصابعه الثلاث». ."Bila Nabi SAW selesai makan, beliau menjilati jari jemarinya yang tiga*". (Diriwayatkan oleh al Hasan bin Ali al Khilali, dari Affan, dari Hammad bin Salamah, dari Tsabit, yang bersumber dari Anas r.a.) *)Yang dimaksud jari yang tiga ,yakni jari tengah, jari telunjuk, dan ibu jari.   6). Lauk Pauk yang Dimakan Rasulullah  عن عائشة، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «نعم الإدام الخل» قال عبد الله بن عبد الرحمن، في حديثه: «نعم الإدام أو الأدم الخل». "Sesungguhnya Rasulullah bersabda: "Saus yang paling enak adalah cuka". Abdullah bin Abdurrahman berkata "Saus yang paling enak adalah cuka”.  (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Shal bin Askar dan Abdullah bin Abdurrahman,keduanya menerima dari Yahya bin Hasan, dari Sulaiman bin Hilal, Hisyam bin Urwah, dari bapaknya yang bersumber dari Aisyah r.a.)  عن أبي أسيد قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «كلوا الزيت وادهنوا به؛ فإنه من شجرة مباركة».  Rasulullah SAW bersabda: "Makanlah minyak zaitun dan berminyaklah dengannya. Sesungguhnya ia berasal dari pohon yang diberkahi". (Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, daari Abu Ahmad az Zubair, dan diriwayatkanpula oleh Abu Nu'aim, keduanya menerima dari Sufyan, dari Abdullah bin Isa, dari seorang laki-laki ahli Syam yang bernama Atha' yang bersumber dari Abi Usaid r.a.).  عن أنس بن مالك قال: «كان النبي صلى الله عليه وسلم يعجبه الدباء فأتي بطعام، أو دعي له فجعلت أتتبعه فأضعه بين يديه لما أعلم أنه يحبه».  "Nabi SAW menggemari buah labu. Maka (pada suatu hari) beliau diberi makanan itu atau diundang untuk makan makanan itu (labu). Aku pun mengikutinya, maka makanan itu (labu) kuletakkan dihadapannya, karena aku tahu beliau menggemarinya. (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Muhammad bin Ja'far dan diriwayatkan pula oleh Abdurrahman bin Mahdi, keduanya menerima dari Syu'bah dari Qatadah yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).  عن عائشة قالت: «كان النبي صلى الله عليه وسلم يحب الحلواء والعسل» "Nabi SAW menyenangi kue-kue manis (manisan) dan madu". (Diriwayatkan oleh Ahmad bin Ibrahim ad Daruqi, juga diriwayatkan oleh Salamah bin Syabib dan diriwayatkan pula oleh Mahmud bin Ghailan, mereka menerimanya dari AbuUsamah, dari Hisyam bin Urwah yang bersumber dari `Aisyah r.a.).  عن أبي هريرة قال: «أتي النبي صلى الله عليه وسلم بلحم فرفع إليه الذراع وكانت تعجبه فنهس منها».  "Nabi SAW diberi makan daging, maka diambilkan baginya bagian dzir'an* Bagian dzir'an kesukaannya. Maka Rosululloh SAW Mencicipi sebagian daripadanya" (Diriwayatkan oleh Washil bin Abdul A'la, dari Muhammad bin Fudlail, dari Abi Hayyan at Taimi, dari Abi Zar'ah, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.).  *)Dzir'an adalah bagian tubuh binatang dari dengkul sampai bagian kaki.  سمعت عبد الله بن جعفر يقول: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «إن أطيب اللحم لحم الظهر».  "Daging yang paling baik adalah punggung".  (Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Ahmad, dari Mis'ar, dari Syaikhan, dari Fahm,* yang bersumber dari Abdullah bin Ja'far r.a.).   7). Buah-Buahan yang Dimakan Rasulullah  عن عبد الله قال: «كان النبي صلى الله عليه وسلم يأكل القثاء بالرطب». "Nabi SAW memakan qitsa* dengan kurma (yang baru masak)".  (Diriwayatkan oleh Isma'il bin Musa al Farazi, dari Ibrahim bin Sa'id, dari ayahnya yang bersumber dari Abdullah bin Ja'far r.a.).  *) Qitsa adalah sejenis buah-buahan yang mirip mentimun tetapi ukurannya lebih besar (Hirbis).   عن عائشة: «أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يأكل البطيخ بالرطب». "Sesungguhnya Nabi SAW memakan semangka dengan kurma (yang baru masak)”.  (Diriwayatkan oleh Ubadah bin Abdullah al Khaza'i al Bashri, dari Mu'awiyah bin Hisyam, dari Sufyan, dari Hisyam bin Urwah, dari bapaknya, yang bersumber dari Aisyah r.a.).   8). Minuman Rasulullah  عن عائشة، قالت: «كان أحب الشراب إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم الحلو البارد». "Minuman yang paling disukai Rosululloh SAW adalah minuman manis yang dingin".   (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Umar, dari Sufyan, dari Ma'mar, dari Zuhairi, dari Urwah, yang bersumber dari Aisyah r.a.).   9). Cara Minum Rasululah  عن ابن عباس: «أن النبي صلى الله عليه وسلم شرب من زمزم وهو قائم». "Sesungguhnya Rasulullah SAW minum air zamzam sambil berdiri".  (Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani', dari Husyaim, dari Ashim al-Ahwal dan sebagainya, dari Sya'bi, yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a.).  عن جده قال: «رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يشرب قائما وقاعدا». "aku melihat Rasulullah SAW minum dengan berdiri dan duduk". (Diriwayatkan oleh qutaibah dari muhammad bin jakfar dari husain dari ma'mar dari ayahnya dari kakeknya).  عن أنس بن مالك، أن النبي صلى الله عليه وسلم: كان يتنفس في الإناء ثلاثا إذا شرب، ويقول: «هو أمرأ وأروى». "Sesungguhnya Rasulullah SAW menarik nafas tiga kali pada bejana bila Beliau minum. Beliau bersabda: "Cara seperti ini lebih menyenangkan dan menimbulkan kepuasan".  (Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa'id, dan diriwayatkan pula oleh Yusuf bin Hammad, keduanya menerima dari Abdul Warits bin Sa'id, dari Abi Ashim, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.). Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi   Baca Selanjutnya Kajian Maulid Diba' #06 "Tsumma Arudduhu minal Arsy & Sholatullahi Malahat Kawakib"      

Yub’atsu min Tihamah – Kajian Maulid Diba’ (05)

 Kalamulama.com Kajian Maulid Diba' #05 "Yub'atsu min Tihamah"  اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Allah tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad)    يُبْعَثُ مِنْ تِهَامَةَ...

Kajian Kifayatul Atqiya’ #04: Primbon bagi Pengembara Kenikmatan

             Pada setiap kehidupan manusia akan melewati perputaran titik jaya atau kemakmuran dan titik lemah atau kehancuran. Dua titik yang saling tolak belakang yang tidak akan pernah menyatu....