Kajian Islam

kalamulama.com Kajian Aswaja Membolehkan Tabarruk 6. Al-Imam Ibnu Khuzaimah (wafat 311 H), seorang ulama ahli hadits sekaligus ahli fiqih Syafi’i. Beliau adalah pengarang kitab Shohih Ibnu Khuzaimah. Beliau merupakan salah satu murid terbaik dari Imam al-Bukhori. Kita pasti mengenalnya. Percayakah anda bahwa beliau juga bertabarruk dengan kubur orang sholeh? Sekarang harus percaya!! Beliau bertabarruk dan berdoa di makam ‘Ali bin Musa ar-Ridlo yang telah dikutip oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqolani: “Imam al-Hakim berkata dalam kitab Tarikh Naisabur: “Aku mendengar Abu Bakar Muhammad bin al-Mu'ammil bin Hasan bin 'Isa berkata: “Kami keluar bersama Imam ahli hadits Abu Bakar Ibnu Khuzaimah dan sahabatnya, Abu ‘Ali ats-Tsaqofi (wafat 324 H), beserta jama'ah dari guru-guru kami. Mereka semua berdatangan ziarah ke makam ‘Ali bin Musa ar-Ridlo di Thus. Aku melihat ke-ta'zhim-an (pengagungan) Ibnu Khuzaimah terhadap makam tersebut dan ketawadlu'annya, serta ke-tadlorru'-annya (permohonannya yang sangat khusyu') di makam tersebut hingga membuat kami tercengang.” (Tahdzibut Tahdzib lil Hafizh Ibni Hajar, juz 3 halaman 195) 7. Al-Imam Ibnu Hibban (wafat 354 H), murid terbaik dari Imam Ibnu Khuzaimah. Beliau adalah pengarang kitab Shohih Ibnu Hibban. Faktanya, beliau mengikuti jejak gurunya tersebut dalam bertabarruk di makam ‘Ali bin Musa ar-Ridlo: “Ali bin Musa ar-Ridlo. Ia wafat di Thus karena meminum racun yang diberikan oleh Kholifah al-Ma’mun dan wafat seketika itu juga. Itu terjadi di hari Sabtu tahun 203 H. Makamnya berada di Sanabadz, sebelah luar Nauqon, sudah masyhur dan diziarahi, letaknya di dekat makam ar-Rosyid. Aku sudah sering berziarah berkali-kali. Tidaklah aku mengalami kesulitan ketika aku berada di Thus lalu aku berziarah ke makam 'Ali bin Musa ar-Ridlo sholawatullahi 'ala jaddihi wa 'alaih dan aku berdoa kepada Allah untuk menghilangkan kesulitan tersebut, kecuali dikabulkan untukku dan kesulitan itu pun lenyap dari ku. Ini aku alami berkali-kali dan aku selalu menemukannya seperti itu. Semoga Allah mematikan kita dalam kecintaan terhadap Rosulullah dan ahlul baitnya shollallahu ‘alaihi wa ‘alaihim ajma’in.” (Ats-Tsiqot lil Imam Ibni Hibban, juz 3 halaman 456) 8. Al-Hafizh Abu ‘Ali al-Khollal, salah satu guru dari Imam Ibnu Hibban dan Imam ad-Daruquthni. Berikut riwayat yang disebutkan oleh al-Hafizh al-Khothib al-Baghdadi: “Telah mengabarkan kepada kami al-Qodli Abu Muhammad al-Hasan bin al-Husain bin Muhammad bin Romin al-Istirobadzi, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ja’far bin Hamdan al-Qothi’i, ia berkata: aku mendengar al-Hasan bin Ibrohim Abu ‘Ali al-Khollal berkata: “Tidaklah ada perkara yang menyusahkanku yang mana aku mendatangi kubur Musa bin Ja’far al-Kazhim dan bertawassul dengannya, kecuali Allah Ta’ala akan memudahkan apa yang aku inginkan.” (Tarikh Baghdad lil Khothib al-Baghdadi, juz 1 halaman 442) Sanad riwayat di atas adalah shohih. Perhatikan para perowinya: a. Al-Qodli Abu Muhammad al-Hasan bin al-Husain bin Muhammad bin Romin al-Istirobadzi. Al-Khothib al-Baghdadi berkata: “aku menulis darinya dan ia seorang yang shoduq, fadhl, shalih. Ia wafat 412 H.” (Tarikh Baghdad, juz 8 halaman 255, no. 3764). b. Ahmad bin Ja’far bin Hamdan al-Qothi’i. Ad-Daruquthni mengatakan ia tsiqot (Mausu’ah Aqwaal ad-Daruquthni, no. 175). Ibnul Jauzi berkata: “ia tsiqot, banyak meriwayatkan hadits.” (Al-Muntazhom fi Tarikhil Muluk wal Umam, juz 14 halaman 260-261, no. 2740) 9. Abu ‘Abdillah al-Husain bin Isma‘il al-Mahamili (wafat 330 H). Berikut riwayat yg disampaikan al-Hafizh al-Khothib al-Baghdadi: “Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Ali bin ‘Abdillah as-Shuri, ia berkata: aku mendengar Abul Husain Muhammad bin Ahmad bin Jumai’ berkata: aku mendengar Abu ‘Abdillah bin al-Mahamili berkata: “Aku mengetahui kubur Ma’ruf al-Karkhi selama tujuh puluh tahun. Tidaklah seorang yang sedang mengalami kesusahan kemudian mendatangi kuburnya, kecuali Allah akan melapangkan kesusahannya.” (Tarikh Baghdad lil Khothib al-Baghdadi, juz 1 halaman 445) Sanad riwayat di atas adalah shohih. Perhatikan para perowinya: a. Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Ali bin ‘Abdillah ash-Shuri. Al-Khothib al-Baghdadi berkata “shoduq” (Tarikh Baghdad, juz 4 halaman 172-173, no. 1363). Adz-Dzahabi menyebutnya al-Imam, al-Hafizh, al-Bari’, al-Auhad, al-Hujjah. Wafat 441 H. (Siyar A’lam an-Nubala’, juz 17 halaman 627, no. 424). As-Sam’ani menyebutkan bahwa ia termasuk hafizh mutqin (Al-Ansab lis Sam’ani, juz 8 halaman 106) b. Abul Husain Muhammad bin Ahmad bin Jumai’. Abu ‘Abdillah ash-Shuri berkata bahwa ia syaikh, sholih, tsiqot, ma’mun. Al-Khothib al-Baghdadi dan yang lainnya berkata “tsiqot” (Siyar A’lam an-Nubala’, juz 17 halamana 152-155, no. 96) c. Abu ‘Abdillah al-Husain bin Isma‘il al-Mahamili. Adz-Dzahabi menyebutnya al-Imam al-'Allamah al-Muhaddits ats-Tsiqoh. (Siyar A’lam an-Nubala’, juz 15 halaman 258, no. 110) 10. Abu Muhammad ’Abdurrohman bin Muhammad az-Zuhri (wafat 336 H). Berikut riwayat yg disampaikan al-Hafizh al-Khothib al-Baghdadi: “Telah mengabarkan kepadaku Abu Ishaq Ibrohim bin Umar al-Barmaki, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abul Fadhl ‘Ubaidillah bin Abdurrohman bin Muhammad az-Zuhri, ia berkata: “aku mendengar ayahku (Abdurrohman bin Muhammad az-Zuhri) berkata: “Kubur Ma’ruf al-Karkhi adalah mujarrab untuk menunaikan berbagai hajat. Dikatakan sesungguhnya barangsiapa yang membaca di sisi kubur tersebut qul huwallahu ahad (surat al-Ikhlas) seratus kali dan meminta kepada Allah Ta’ala apa saja yang dikehendaki, maka Allah Ta’ala akan mengabulkan hajatnya.” (Tarikh Baghdad lil Khothib al-Baghdadi, juz 1 halaman 445) Sanad riwayat di atas adalah shohih. Perhatikan para perowinya: a. Abu Ishaq Ibrohim bin ‘Umar al-Barmaki. Al-Khothib al-Baghdadi mengatakan bahwa ia seorang yang shoduq dan seorang yang faqih dalam madzhab Ahmad bin Hanbal (Tarikh Baghdad, juz 7 halaman 63, no. 3133). Ibnu Nuqthoh berkata: “faqih madzhab Hanbali yang tsiqot.” (Takmilul Ikmal li Ibni Nuqthoh, juz 1 halaman 499-500) b. Abu Fadhl Ubaidillah bin ‘Abdurrohman bin Muhammad az-Zuhri. Al-Khothib al-Baghdadi berkata “tsiqot”. Al-Azhari berkata: “Abu Fadhl az-Zuhri tsiqot”. Ad-Daruquthni menyatakan ia tsiqot dan shoduq. Al-Barqoni juga berkata “tsiqot” (Tarikh Baghdad, juz 12 halaman 96-97, no. 5484) c. Abu Muhammad ’Abdurrohman bin Muhammad az-Zuhri. Al-Khothib al-Baghdadi berkata tentangnya “tsiqot”. (Tarikh Baghdad, juz 11 halaman 587, no. 5373 Baca sebelumnya Kajian ASWAJA #1 : Ulama Sejagat Membolehkan Tabarruk (Ngalap Berkah) di Kuburan Orang Sholeh

Kajian ASWAJA #02 : Ulama Sejagat Membolehkan Tabarruk (Ngalap Berkah) di Kuburan Orang Sholeh

kalamulama.com Kajian Aswaja Membolehkan Tabarruk 6. Al-Imam Ibnu Khuzaimah (wafat 311 H), seorang ulama ahli hadits sekaligus ahli fiqih Syafi’i. Beliau adalah pengarang kitab Shohih Ibnu...

Kajian Wanita Sholihah dan Lelaki Sholih #02: Pelayanan Perempuan Terhadap Suaminya

Oleh: Hamzah Al Farisi Assalamualaikum Wr. Wb. Setelah kemarin kita membahas tentang perempuan yang sholehah. Sekarang kita akan membahas tentang “Pelayanan Perempuan terhadap suaminya”. Sebagai seorang...

Kajian Safinah Najah #03: Mengaji Fiqh

Berkat rahmat Allah, kita bisa meneruskan pengajian online kitab Safinah. Melalui pengantar pertama, kita telah mengetahui sekilas kandungan kitab ini dan pengabdian ulama...

Kajian Kifayatul Atqiya’ #01: Hakikat Dunia

Pengarang : Sayyid Bakri al-Makki, Oleh: Ahmad Hanafi يَا مَنْ يَبْغِي مَعَالِيًا فِي الدِّيْنِ # لِيَكُوْنَ قَرِيْرَ الْعَيْنِ يَوْمَ الدِّيْن Ya man yabghi ma'aliyan fi al-diin # Liyakuna qoriro...

Kajian Tazkiyatun Nufus #01 : Apa Itu Akal ?

Oleh : Muhammad Azka Al-Imam al-Hafizh Ibnul Jauzi al-Hanbali (wafat 597 H) memberikan keterangan tentangnya: "Para ahli berbeda pendapat tentang apa itu akal dg perbedaan yg banyak. Sebagian...
  Sholawat #02: "Inna Fatahna"Maulid Ad-Dibai  بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ   Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang   إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا ، لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا ، وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًاعَزِيزًا   Sesungguhnya Kami (Allah) telah bukakan (memberikan kemenangan) kepada kamu, pembukaan (kemenangan) yang nyata.    Karena Alloh akan mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmat-Nya (Alloh) kepadamu, dan memberikan petunjuk padamu jalan yang lurus.   Dan Alloh akan memberikan pertolongan kepadamu dengan pertolongan yang nyata. (al-Fath: 1-3)   لَقَدْ جَآءَ كُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ   Telah datang kepada kamu seorang utusan Allah dari jenis kamu sendiri, ia merasakan apa penderitaanmu, lagi sangat mengharapkan akan keselamatanmu, kepada orang yang beriman senantiasa merasa kasih sayang.   إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَه‘ يُصَلُّوْنَ عَلىٰ النَّبِيِّ يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ امَٰنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا   Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya selalu bersholawat untuk Nabi, wahai orang-orang yang beriman! Bersholawat dan salamlah untuknya (Nabi Muhammad saw).     .******************************. baca juga tulisan sebelumnya Teks Maulid Ad-Dibai : Ya Rabbi Sholli Ala Muhammad   Keterangan tambahan:   Diriwayatkan dalam Shohih Al Bukhori, shohih Muslim dan lainnya, ketika Perjanjian Hudaibiyah pada tahun ke-6 H bulan Dzulqo’dah, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam keluar menuju Makkah Al Mukarromah bersama 1500 kaum muslimin muslimat dengan berpakaian ihrom, dan setelah mendekati kota Makkah, orang kuffar quraisy telah melihat bahwa nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam datang bersama 1500 orang muslimin menuju ke Makkah dan mereka pun mulai waspada, setelah kabar itu sampai kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dan melihat kaum quraisy tidak menerima mereka secara damai, maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dan para pengikutnya mencari jalan lain untuk menuju Makkah namun tetap saja kaum quraisy mengetahuinya dan menghalangi mereka.   Dan dalam perjalanan itu kaum muslimin kehabisan air, teriwayatkan di dalam Shohihul Bukhori bahwa ketika itu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam meminta air kemudian para sahabat membawakan air dalam bejana yang hanya tinggal sedikit, lalu para sahabat berkata bahwa persediaan air habis dan semua sumber air yangada disekitar pun kering, maka Rosululloh memasukkan tangan beliau ke dalam bejana yang berisi air sedikit itu lalu keluarlah air dari jari-jari beliau shollallohu ‘alaihi wasallam, kemudian mereka mulai minum sepuasnya dan berwudhu’ dari air tersebut, yang mana jumlah mereka di saat itu adalah 1500 orang, dan teriwayatkan dalam Shohih Al Bukhori bahwa jika jumlah mereka di saat itu adalah 100.000 orang maka air itu pun akan mencukupi untuk semua, karena airkeluar dari jari-jari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dengan derasnya dan tanpa berhenti.   Demikian mu’jizat nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, karena beliau tidak ingin melihat orang yang dicintainya kesusahan. Dan di saat itu datanglah Urwah sebagai utusan kaum quraisy sebelum ia masuk Islam, dia datang untuk membuat perjanjian yang disebut dengan perjanjian Hudaibiyah, maka Urwah berbicara kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, dan setiap kali Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam berbicara, urwah selalu memegang jenggot beliau shollallohu ‘alaihi wasallam, karena merasa geram ingin mencelakai Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, di saat itu ada salah seorang sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam yang berada di samping Rosululloh selalu memukul tangan Urwah setiap kali ingin memegang janggut Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam untuk berlaku sopan dihadapan beliau shollallohu ‘alaihi wasallam.   Dan diriwayatkan bahwa ketika Urwah berkata-kata, tidak satupun dari para sahabat yang mengangkat kepala untuk memandang wajah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam karena penghormatan mereka terhadap beliau shollallohu ‘alaihi wasallam.   Dan ketika Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam berwudhu, para sahabat berebut mengambil bekas air wudhu’ beliau shollallohu ‘alaihi wasallam, kemudian mengusapkan ke muka dan ke tangan mereka, adapun mereka yang tidak mendapatkan bagian air bekas wudhu’ Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam maka mereka mengambil dari bekas sahabat yang lain kemudian mengusapkan ke wajah mereka, dan air bekas wudhu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam itu wangi.   Diriwayatkan dalam kitab As-Syifaa oleh Al-Imam Qodhi ‘Iyadh bahwa ketika Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam melewati sebuah sumur, lalu para sahabat berkata bahwa air di sumur itu rasanya pahit, maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam mengatakan : “tidak demikian, air di sumur ini rasanya enak dan baunya wangi”, kemudian Rosululloh meminta untuk diambilkan air dari sumur itu kemudian beliau berkumur dengan air itu lalu memuntahkan air itu ke dalam sumur, dan ternyata air itu baunya lebih wangi daripada bau misik, karena telah tercampur dengan air ludah sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Sungguh segala sesuatu yang tersentuh atau disentuh oleh sang nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam maka akan dimuliakan oleh Alloh subhanahu wata’ala, maka terlebih lagi jika itu adalah hati yang mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.   Maka di saat itu Suhail yang juga merupakan utusan musyrikin membuat perjanjian bersama Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, kemudian Rosululloh memerintahkan kepada sayyidina Ali Kw untuk memulai dan menuliskan “Bismillahirrohmaanirrohiim”, namun Suhail menolak dan meminta untuk menulis “Bismika Allohumma”, Rosululloh terdiam dan kemudian memerintahkan untuk mengikuti kemauan musyrikin akan hal itu, lalu Rosululloh memerintahkan untuk menulis “Min Muhammad Rosululloh (dari Muhammad utusan Alloh)”, maka kaum musyrikin tidak menerimanya dan meminta untuk menghapus kalimat “Rosululloh”, karena mereka tidak meyakini bahwa nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam adalah Rosululloh, namun tangan sayyidina Ali tidak mampu untuk menghapusnya kemudian Rosululloh sendiri yang menghapusnya seraya berkata :   وَاللهِ إِنِّيْ لَرَسُوْلُ اللهِ وَإِنْ كَذَّبْتُمُوْنِيْ اُكْتُبْ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ   “ Demi Alloh, sungguh aku adalah utusan Alloh walaupun kalian mengingkariku, tulislah -Muhammad bin Abdillah- “. Kemudian ditulislah : “Min Muhammad bin Abdillah (dari Muhammad putra Abdulloh)”. Dan butir perjanjian berikutnya amat mengagetkan muslimin, yaitu: jika ada orang muslim yang masuk Islam dari Makkah dan lari ke Madinah, maka harus dikembalikan kepada kaum musyrikin quraisy, para sahabat tidak menerima hal itu namun Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam hanya terdiam, para sahabat kebingungan, dan dalam keadaan seperti itu datanglah Jandal bin Suhal dan berkata: “Aku datang dari Makkah untuk masuk Islam”, maka Suhail berkata : “dialah orang yang pertama kali yang masuk Islam dan harus dikembalikan kepada kaum musyrikin”, lalu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam meminta kepada Suhail agar kaum muslimin tidak mengembalikannya ke Makkah, hingga tiga kali Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam memohon kepada Suhail namun Suhail tetap menolaknya.   Kemudian datang sayyidina Umar bin Khottob RA kepada Rosululloh, dan berkata : “wahai Rosululloh, bukankah Engkau adalah benar-benar utusan Alloh?”, Rosululloh menjawab : “iya betul aku adalah utusan Alloh”, kemudian sayyidina Umar berkata : “Bukankah kita kaum muslimin berada pada kebenaran dan mereka dalam kesesatan?”, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam menjawab : “iya benar”, sayyidina Umar berkata : “lantas mengapa kita harus menghinakan diri kepada orang-orang yang dalam kebathilan sedangkan kita dalam kebenaran?”, kemudian Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :   إِنِّيْ رَسُوْلُ اللهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِيَ اللهُ أَبَدًا   “ Sungguh aku adalah utusan Alloh, dan Alloh tidak akan mengecewakanku selama-lamanya”   Kemudian sayyidina Umar bin Khottob RA pun terdiam lalu mendatangi sayyidina Abu Bakr As Shiddiq dan menceritakan perbincangannya bersama Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam yang kemudian di akhir percakapan beliau shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:   إِنِّيْ رَسُوْلُ اللهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِيَ اللهُ أَبَدًا   “ Sungguh aku adalah utusan Alloh, dan Alloh tidak akan mengecewakanku selama-lamanya”   Kemudian sayyidina Abu Bakr As Shiddiq berkata : “jika demikian, maka sungguh beliau shollallohu ‘alaihi wasallam adalah utusan Alloh, dan Alloh tidak akan mengecewakannya”, maka sayyidina Umar bin Khottob pun terdiam mendengar jawaban sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA.   Setelah beberapa waktu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam keluar dari kemahnya dan beliau shollallohu ‘alaihi wasallam memerintahkan para sahabat untuk memotong rambut dan menyembelih hewan qurban, dan setelah itu beliau dan kaum muslimin kembali ke Madinah Al Munawwaroh tanpa memasuki Makkah, namun para sahabat tidak ada yang melaksanakan perintah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam hingga setelah beliau menerima pendapat Ummu Salamah untuk memulai mencukur rambut beliau dan menyembelih hewan qurban, kemudian para sahabat pun dari Muhajirin dan Anshar mengikuti langkah beliau karena cintanya kepada beliau shollallohu ‘alaihi wasallam.   Dan teriwayatkan, bahwa ketika Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam memotong rambut, tidak sehelai rambut pun yang terjatuh ke tanah kecuali telah berada di genggaman tangan para sahabat. Dan diriwayatkan dalam Shohih Al Bukhori bahwa salah seorang sahabat menyimpan sehelai rambut Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam yang berwarna hitam kemerah-merahan kemudian beliau menceritakan pada sahabat yang lainnya, maka sahabat itu berkata :   لِأَنْ تَكُوْنَ عِنْدِيْ شَعْرَةٌ مِنْهُ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا   “Jika aku memiliki sehelai dari rambut beliau (Rosululloh) hal itu lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya ”   Demikian cintanya para sahabat kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, dan setelah mereka selesai memotong rambut serta menyembelih hewan qurban, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam mengumpulkan kaum muslimin kemudian membai’at mereka di bawah sebuah pohon, sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala :   لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا   “Sesungguhnya Alloh telah ridho terhadap orang-orang mu'min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon , maka Alloh mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya) .” ( QS. Al Fath : 18 )   Dan firman Alloh subhanahu wata’ala dalam surat yang sama :   إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا   “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Alloh . Tangan Alloh di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Alloh, maka Alloh akan memberinya pahala yang besar.” ( QS. Al Fath : 10 )   Kemudian turun juga ayat tentang hal tersebut firman Alloh subhanahu wata’ala:   لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آَمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا   “Sesungguhnya Alloh akan membuktikan kepada Rosul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Alloh dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Alloh mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat .” (QS. Al Fath : 27 )   Setelah itu sahabat bersiap-siap untuk kembali ke Madinah Al Munawwaroh, tiba-tiba di suatu pagi sayyidina Umar bin Khottob dipanggil oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, maka sayyidina Umar bin Khottob merasa khawatir jika perkataannya kemarin telah menyinggung perasaan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam sehingga turun ayat sebagai teguran untuk sayyidina Umar bin Khattab, maka beliau datang menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, kemudian Rosululloh berkata : “Wahai Umar, semalam telah turun ayat yang mana ayat itu lebih aku cintai dari terbitnya matahari”, ayat itu adalah firman Alloh subhanahu wata’ala:   إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا ، لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا ، وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا   “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata , supaya Alloh memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni'mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Alloh menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” ( QS. Al Fath :1-3 )   Maka setelah mendengar hal itu, wajah sayyidina Umar bin Khattab menjadi cerah dan berkata : “wahai Rosululloh, apakah kelak kita akan masuk ke Masjidil Haram?”, Rosululloh menjawab : “iya betul wahai Umar”, maka dua tahun kemudian di bulan Romadhon tahun 8-H masuklah kaum muslimin ke kota Makkah dengan aman dan damai, dan tidak ada lagi kaum musyrikin yang bisa melawan atau menghalangi pasukan kaum muslimin yang berjumlah 10.000 dari golongan muhajirin dan anshor, dan tidak ada lagi gencatan senjata dan ketika itu Abu Sofyan pun kemudian menyerah dan masuk Islam dan berkata kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rosululloh, kuserahkan semua kekuasaan quraisy dan tidak ada lagi kekuasaan quraisy setelah hari ini”. Demikianlah kejadian perjanjian Hudaibiyyah pada tahun ke-6 bulan Dzulqo’dah.   Selanjutnya kita berdoa kepada Alloh subhanahu wata’ala semoga kita termasuk dalam kelompok ahli Hudaibiyyah yang bersumpah kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam untuk membantu sunnah beliau shollallohu ‘alaihi wasallam, dan cinta kepada beliau shollallohu ‘alaihi wasallam, membantu sunnah beliau shollallohu ‘alaihi wasallam semampunya, dan menjauhi larangan Alloh semampunya, serta mematuhi perintah Alloh semampunya, dan semoga Alloah subhanahu wata’ala memberikan kekuatan kepada kita untuk taat pada seluruh perintah Alloh dan untuk mampu menjauhi seluruh larangan Alloh, semoga Alloh mengangkat seluruh kesulitan kita yang sedang terjadi dan yang akan terjadi di dunia dan di akhiroh, semoga Alloh menjaga kita dari segala musibah yang akan terjadi Ya Rohman Ya Rohiim.   Wallohu a’lam.   Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi, Narasumber: Al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa pada Jalsatul Itsnain Majelis Rasulullah SAW, Senin 10 Oktober 2011. baca juga tulisan selanjutnya Kajian Maulid Diba’ #03: “Alhamdulillahil Qowiyyil Gholib”  

Kitab Maulid Diba dan Terjemahannya #02: “Inna Fatahna”

Sholawat #02: "Inna Fatahna"Maulid Ad-Dibai  بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ  Baca Juga : Kitab Maulid Diba dan Terjemahannya #01: Mengenal Pengarang Kitab Ad-Dibai Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha...

Kajian Safinah Najah #02 : Biografi Pengarang Kitab

  Kehidupan Penulis Safinah, Syekh Salim bin Sumair (w. 1271 H/1855 M): Dari Bumi Hadlramaut menuju Tanah Abang-Batavia        Sangat disayagkan bila kita telah menikmati sebuah karya, namun...
 Kajian Kitab Aqidatul Awam #01 Sejarah kitab Aqidatul Awam Kalam Ulama - Segala puji milik Allah yeng telah memberikan nikmat atas hamba-Nya yang mukmin dengan cara memuliakannya berupa melihat-Nya di surga nanti. Sholawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada seorang hamba yang telah diutus untuk memberikan rahmat bagi seluruh manusia, seumpama tanpa beliau niscaya keadaan manusia lebih buruk daripada hewan,  atas keluarga nabi yang mulia, dan atas sahabat nabi yang menjadi lampu dalam kegelapan, serta para tabiin sampai hari dimana lisan terkunci dan semua anggota badan berbicara. Sebelum membahas kitab Aqidatul Awam, hendaknya sangat perlu diketahui latar belakang/sejarah ditulisnya kitab nadhom ini, yang telah dua abad lebih menjadi pedoman umat muslim sedunia. Suatu ketika nadhim kitab aqidatul awam yaitu Sayyid Ahmad Al-Marzuqi Al-Maliki bermimpi bertemu Rasulullah SAW dalam tidurnya di akhir malam Jum’at pada awal bulan Rajab hari ke tujuh tahun 1258 H. Pada saat itu, sahabat nabi sedang berdiri disekitar nadhim. Terjadi percakapan singkat sebagai berikut : Nabi SAW  bersabda : “Bacalah nadhom tauhid yang mana bila seseorang menghafalnya, maka akan masuk surga dan akan hasil maksudanya dari setiap kebaikan yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.” Nadhim bertanya : “apakah nadhoman itu ya Rasulullah?” Sahabat menyahut dan berkata kepada nadhim: “Dengarlah ! apa yang akan diucapkan oleh Rasulullah SAW” Rasulullah SAW berkata : “ katakanlah ! abda’u bismillahiwarrohmani...” Rasulullah SAW membacakan nadhom pertama yaitu “abdau bismillahiwarrohmani” hingga akhir nadhom yang berbunyi “washuhuful kholili wal kalimi # fiha kalamul hakamil alimi”. Kemudian nadhim membacakan nadhom tersebut dihadapan Rasulullah dan para sahabat.  Rasulullah pun mendengarkannya. Setelah bangun dari tidurnya maka nadhim membaca nadhom yang telah diajarkan oleh Rasulullah di dalam mimpinya. Atas izin Allah, nadhim telah hafal nadhom tersebut dari awal hingga akhir. Suatu ketika di malam Jum’at yaitu malam ke-18 bulan Dzul qo’dah, nadhim bermimpi bertemu Rasulullah untuk yang kedua kalinya di waktu sahur. Terjadi perbincangan singkat, Rasulullah berkata : “Bacalah ! apa yang telah kamu dapatkan sebelumnya” Kemudian nadhim membacanya (dalam hal ini hafal) dari awal hingga akhir. Pada saat itu posisi nadhim dalam keadaan berdiri di depan Rasulullah SAW. Sedangkan para sahabat berdiri diantaranya seraya berkata “Amiin” setelah dibacakan akhir setiap nadhom.  Setelah selesai membacanya, Rasul berkata kepada nadhim : “Allah akan memberikan pertolongan kepadamu terhadap apa yang telah Allah ridhoi  dan Semoga Allah menerimamu atas nadhom tersebut. Semoga Allah memberkahi atas kamu dan atas orang-orang mukmin. Semoga nadhoman  ini bermanfaat bagi hamba-hamba Allah”. Adapun bait selanjutnya yaitu dari bait “wakulluma ata bihirrasulu # fa haqquhuttaslimu wal qabulu” hingga akhir kitab, nadhim menambahkannya sendiri. Berikut sejarah ditulisnya nadhom aqidatul awam, penulis menyarankan kepada pembaca semuany untuk menghafal nadhom tersebut, insyaAllah akan mendapat manfaatnya seperti yang disabdakan Rasulullah dalam mimpi nadhim. Untuk pembahasan selanjutnya, setiap nadhom akan diberikan penjelasan dari Al-qur’an dan kitab kitab tauhid lainnya, seperti syarah aqidatul awam, nurudholam karya Syekh Nawawi al-Bantani, kemudian Jalailul afham karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-maliki. Semoga penulis diberikan kekuatan oleh Allah sehingga mampu menulis hingga akhir bait kitab aqidatul awam.   Wallahu a’lam bishowaab. Oleh: Hamzah Alfarisi   Keterangan: Nadhim : Pengarang kitab aqidatul awam.  Nadhom : Rangkaian kata dalam bahasa arab sehingga membentuk pola yang indah dan memiliki makna yang padat.

Kajian Kitab Aqidatul Awam #01 Sejarah kitab Aqidatul Awam

 Kajian Kitab Aqidatul Awam #01 Sejarah kitab Aqidatul Awam Kalam Ulama - Segala puji milik Allah yeng telah memberikan nikmat atas hamba-Nya yang mukmin dengan cara memuliakannya...
Kajian Fiqih Manhaji #01 Mengenal Jarimah dan Jinayah dalam Islam Oleh Zuhal Qobili Kalam ulama - Satu di antara yang membedakan agama Islam dengan agama-agama lainnya adalah bahwa Islam tidak hanya agama yang ajarannya tentang akidah dan tata cara beribadah saja, tetapi juga mempunyai syariat yang mengatur kehidupan manusia dari segala sisinya. Mulai urusan jasmani dan rohani serta kehidupan sebagai seorang individu maupun sebagai anggota masyarakat (hubungan individu dengan individu lainnya). Sehingga ketika aturan – aturan tersebut di taati maka manusia akan hidup dalam tentram dan menentramkan. Baca Juga : Hukum Menyentuh, Membawa dan Membaca Al-Qur’an bagi Wanita Haidh dan Nifas Kendati demikian, banyak sekali kita saksikan apalagi akhir – akhir ini argumen – argumen yang menyatakan bahwa Islam adalah agama teroris, Islam aturan-aturannya banyak yang melanggar HAM (Hak Asasi Manusia) dan sebagainya. Padahal dalam kitab sucinya, dengan tegas al Qur’an menyatakan   وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين “Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” [al Anbiya : 107]. Nabi Muhammad, Nabi umat Islam diutus oleh Allah tidak hanya sebagai penebar rahmat bagi pemeluk agamanya saja, melainkan sebagai penebar rahmat untuk seluruh alam. Maka jika Islam memang agama yang benar, asli dari Tuhan semesta alam, tidak mungkin ada dalam ajaran-ajarannya yang tidak sesuai dengan akal sehat atau bersifat merugikan. Sehingga, kemungkinan kenapa banyak yang berargumen tidak jelas seperti di atas ada kalanya karena mereka tidak mengetahui lebih dalam ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya, atau karena mereka memang mempunyai kedengkian terhadap Islam. Dengan demikian membuat mereka tidak mau menggunakan akal yang jernih untuk mencari kebenaran melainkan mempelajari Islam dengan dangkal mencari hal-hal yang secara nampak luar buruk padahal tidak demikian, dan ini sangat membahayakan bagi pemeluk Islam yang masih awam.  Dengan latar belakang tersebut membuat kami ingin mengkaji tentang “JARIMAH DAN JINAYAH DALAM ISLAM”, karena permasalahan jarimah dan jinayah ketika hanya dilihat sekilas luarnya seakan-akan hukum-hukumnya kebanyakan melanggar HAM atau kejam. Walaupun kajian ini tidak akan mendalam maupun mendetail semoga bisa memberikan wawasan baru bagi yang belum pernah mempelajarinya dan menjadikan kita para pemeluk Islam semakin yakin bahwa Islam adalah agama yang rahmat penuh kasih sayang. Dan bagi non muslim agar tahu bahwa Islam tidak seperti yang para pendengki gambarkan. DEFINISI JARIMAH DAN JINAYAH   A. JARIMAH Jarimah (جريمة) secara etimologi bermakna ذنب (dosa) atau perbuatan yang tidak sesuai dengan keadilan. Allah berfirman : ولا يجرمنكم شنآن قوم على ألا تعدلوا اعدلوا هو أقرب للتقوى “Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa” [al Maidah : 8]. Sedangkan secara terminologi ulama fikih, jarimah mempunyai dua makna : Bermakna umum, yaitu segala sesuatu perbuatan yang melanggar perintah Allah atau larangannya. Sehingga dengan definisi ini kata jarimah mencakup seluruh perbuatan maksiat kepada Allah. Bermakna khusus, yaitu segala sesuatu perbuatan yang melanggar perintah Allah atau larangannya yang memiliki hukuman dunia dilaksanakan oleh seorang hakim. B. JINAYAH Jinayah (جناية) secara etimologi bermakna perbuatan buruk. Sedangkan secara terminologi, jinayah adalah perbuatan-perbuatan yang dilarang berkaitan dengan pembunuhan atau melukai anggota badan. Namun ada juga sebagian ulama yang mendefinisikan jinayah semakna dengan jarimah, yaitu segala sesuatu perbuatan yang melanggar perintah Allah atau larangannya yang memiliki hukuman dunia dilaksanakan oleh seorang hakim.   MACAM-MACAM JARIMAH      Jarimah mempunyai pembagian-pembagian jika di tinjau dari berbagai sudut : 1. Niat Pelaku Macam-macam jarimah ditinjau dari niat pelakunya terbagi menjadi dua : a.       Sengaja, yaitu perbuatan terlarang yang dilaksanakan oleh seseorang dengan kehendaknya sendiri dan dia tahu bahwa perbuatan tersebut di larang yang akan membuatnya di hukum. b.      Tidak sengaja, yaitu perbuatan terlarang yang dilaksanakan oleh seseorang tidak dengan kehendaknya sendiri atau dengan kehendaknya sendiri tetapi dia tidak tahu kalau perbuatan tersebut dilarang.         2. Hukuman Macam-macam jarimah di tinjau dari hukuman akibat melakukan jarimah tersebut terbagi menjadi tiga : a.  Jarimah hudud, yaitu jarimah yang hukumannya sudah ditentukan bentuk dan kadarnya oleh Allah, sehingga tidak akan kurangmaupun lebih dari yang ditetapkan. b. Jarimah qishas dan diyat, yaitu jarimah berupa pembunuhan atau melukai anggota badan. Hukumannya adalah di qishas (di balas sesuai jarimah yang dilaksanakan) atau membayar diyat. c.   Jarimah takzir, yaitu jarimah yang hukumannya atas dasar kebijaksanaan hakim karena tidak terdapat di dalam al Qur’an dan Hadis, tidak seperti jarimah hudud dan jarimah qishas.          3. Objek Jarimah Macam-macam jarimah ditinjau dari objek jarimahnya terbagi menjadi dua : a.    Jarimah terhadap hak Allah, yaitu jarimah yang berkaitan dengan kemaslahatan umat, bukan individu tertentu. b. Jarimah terhadap hak hamba, yaitu jarimah yang objeknya adalah individu tertentu. Demikian kajian pertama tentang “jarimah dan jinayah dalam Islam”, mengenai definisi jarimah dan jinayah serta macam-macam bentuknya. Insya Allah kajian ke depan akan lebih fokus tentang pembagian kedua, yaitu macam-macam jarimah ditinjau dari hukumannya serta hikmah yang terkandung di dalamanya. Adapun minggu depan akan membahas tentang macam-macambentuk hukuman jarimah, karakteristik dan tujuannya. Wallahu A’lam..   Baca Juga tulisan selanjutnya : Kajian Fiqih Manhaji #02 “Macam-Macam Hukuman dalam Syariat Islam”   Sumber : kitab لجناية على النفس وما دونها فى الفقه الإسلامي karya Dr. Abdul Fattah dan Dr. Al-Mursi Abdul Aziz, diktat fikih komparasi tingkat tiga Universitas al Azhar tahun akademik 2014/2015.

Kajian Fiqih Manhaji #01 Mengenal Jarimah dan Jinayah dalam Islam

Kajian Fiqih Manhaji #01 Mengenal Jarimah dan Jinayah dalam Islam Oleh Zuhal Qobili Kalam ulama - Satu di antara yang membedakan agama Islam dengan agama-agama lainnya adalah bahwa Islam tidak...

Kajian Aswaja #01 : Ulama Sejagat Membolehkan Tabarruk (Ngalap Berkah) di Kuburan Orang...

 Kajian Aswaja #01 : Ulama Sejagat Membolehkan Tabarruk (Ngalap Berkah) di Kuburan Orang Sholeh Oleh : Muhammad AzkaBismillahirrohmanirrohim. Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala...

Stay connected

4,240FansLike
14,858FollowersFollow
1FollowersFollow
1,816FollowersFollow
517SubscribersSubscribe
- Advertisement -
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Popular Post

Qosidah “Man Ana” (Siapa Diriku)

Suara Sulthonul Qulub al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa saat membaca qosidah al-Imam al-Habib Umar Muhdhor bin Abdurrohman Assegaf. Qosidah ini juga sering beliau baca di...
Kumpulan Doa dan Dzikir (Kalam Ulama) - Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta الفصل الأول : في الغزل وشكوى الغرام Bagian Pertama: Bercumbu dan Pengaduan Cinta مَوْلَايَ صَلِّي وَسَلِّـمْ دَآئِــماً أَبَـدًا ۞ عَلـــَى حَبِيْبِـكَ خَيْــرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ هُوَالْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ ۞ لِكُلّ هَوْلٍ مِنَ الْأِهْوَالِ مُقْتَحِـــــــمِ أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَــــلَــمٍ ۞ مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَيْ مِنْ مُقْلَةٍ بِـــدَمِ Apakah karena mengingat para kekasih di Dzi Salam[1] sana. Engkau deraikan air mata dengan darah duka. أَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَاظِمَـــةٍ ۞ وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِيْ الْضَمَآءِ مِنْ إِضَـمِ Ataukah karena hembusan angin terarah lurus berjumpa di Kadhimah[2]. Dan kilatan cahaya gulita malam dari kedalaman jurang idham [3]. فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَــا ۞ وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِـــــمِ Mengapa kedua air matamu tetap meneteskan airmata? Padahal engkau telah berusaha membendungnya. Apa yang terjadi dengan hatimu? Padahal engkau telah berusaha menghiburnya. أيَحَسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتـــِمٌ ۞ مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمضْطَــــرِمِ Apakah diri yang dirundung nestapa karena cinta mengira bahwa api cinta dapat disembunyikan darinya. Di antara tetesan airmata dan hati yang terbakar membara. لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمْعاً عَلَي طَـلَلٍ ۞ وَلاَ أرَقْتَ لِذِكْرِ الْبَانِ وَالْعَلـَـــمِ Andaikan tak ada cinta yang menggores kalbu, tak mungkin engkau mencucurkan air matamu. Meratapi puing-puing kenangan masa lalu berjaga mengenang pohon ban dan gunung yang kau rindu. فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُباًّ بَعْدَ مَا شَــهِدَتْ ۞ بِهِ عَلَيْكَ عُدُوْلُ الدَّمْعِ وَالسَّـــقَمِ Bagaimana kau dapat mengingkari cinta sedangkan saksi adil telah menyaksikannya. Berupa deraian air mata dan jatuh sakit amat sengsara. وَأَثْبَتَ الْوَجْدُ خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَّضَــنىً۞ مِثْلَ الْبَهَارِمِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَــــمِ Duka nestapa telah membentuk dua garisnya isak tangis dan sakit lemah tak berdaya. Bagai mawar kuning dan merah yang melekat pada dua pipi. نَعَمْ سَرَى طَيْفُ مَنْ أَهْوَى فَأَرّقَنِي ۞ وَالْحُبّ يَعْتَرِضُ اللّذّاتَ بِالَلَــــــمِ Memang benar bayangan orang yang kucinta selalu hadir membangunkan tidurku untuk terjaga. Dan memang cinta sebagai penghalang bagi siempunya antara dirinya dan kelezatan cinta yang berakhir derita. يَا لَا ئِمِي فِي الهَوَى العُذْرِيِّ مَعْذِرَةً ۞ مِنّي إِلَيْكَ وَلَوْ أَنْصَفْتَ لَمْ تَلُمِ Wahai pencaci derita cinta kata maaf kusampaikan padamu. Aku yakin andai kau rasakan derita cinta ini tak mungkin engkau mencaci maki. عَدَتْكَ حَـــالِـي لَاسِرِّيْ بِمُسْتَتِرٍ ۞ عَنِ الْوِشَاةِ وَلاَ دَائِيْ بِمُنْحَسِــمِ Kini kau tahu keadaanku, tiada lagi rahasiaku yang tersimpan darimu. Dari orang yang suka mengadu domba dan derita cintaku tiada kunjung sirna. مَحّضْتَنِي النُّصْحَ لَكِنْ لَّسْتُ أَسْمَعُهُ  ۞  إَنّ الُحِبَّ عَنِ العُذَّالِ فِي صَمَمِ Begitu tulus nasihatmu, tapi aku tak mampu mendengar semua itu. Karena sesungguhnya orang yang dimabuk cinta tuli dan tak menggubris cacian pencela. إِنِّى اتَّهَمْتُ نَصِيْحَ الشّيْبِ فِي عَذَلِي ۞ وَالشّيْبُ أَبْعَدُ فِي نُصْحِ عَنِ التُّهَمِ Aku curiga ubanku pun turut mencelaku. Padahal ubanku pastilah tulus memperingatkanku. Baca Juga : Kisah Pangeran Diponegoro & Sholawat Burdah

Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta

Kumpulan Doa dan Dzikir (Kalam Ulama) - Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta الفصل الأول : في الغزل وشكوى الغرام Bagian...
Kajian Maulid Diba' #13 "Fahtazzal 'Arsyu" اللهم صل وسلم وبارك عليه   Ya Allah tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad).   فَاهْتَزَّ الْعَرْشُ طَرَبًا وَاسْتِبْشَارًا Maka bergoncanglah ‘Arsy karena gembira dengan adanya kabar gembira.   وَازْدَادَ الْكُرْسِيُّ هَيْبَةً وَوَقَارًا Dan kursi Allah bertambah wibawa dan tenang karena memuliakannya.   وَامْتَلَأَتِالسَّمٰوَاتُ أَنْوَارًا Dan langit penuh dengan cahaya.   وَضَجَّتِ الْمَلَآئِكَةُ تَهْلِيْلًا وَتَمْجِيْدًا وَاسْتِغْفَارًا ۩ serta bergemuruh suara malaikat membaca tahlil, tamjid dan istighfar   سُبْحَانَ اللهِ وَ اْلحَمْدُ للهِ وَلا اِلهَ الّا اللهُ وَ اللهُ اَكْبَر  Maha Suci Allah, limpahan puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dialah Allah yang Maha Besar (4x)   وَلَمْ تَزَلْأُمُّهٗ تَرٰى أَنْوَاعًا مِنْ فَخْرِهِ وَفَضْلِهِ إِلىٰ نِهَايَةِ تَمَامِ حَمْلِهِ  Dan ibunya tiada henti-hentinya melihat bermacam-macam keajaiban hingga dari keistimewaan dan keagungannya hingga sempurna masa kandungannya,   فَلَمَّا اشْتَدَّ بِهَا الطَّلْقُ بِـإِذْنِ رَبِّ الْخَلْقِ  Maka ketika ibunya telah merasakan sakit karena kandungannya akan lahir, dengan izin Tuhannya, Tuhan pencipta makhluk,   وَضَعَتِ الْحَبِيْبَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدًا شَاكِـرًا حَامِدًا كَأَنَّهُ الْبَدْرُ فِيْ تَمَامِهِ   Lahirlah kekasih Allah Muhammad SAW dalam keadaan sujud, bersyukur dan memuji, sedangkan wajahnya bagaikan bulan purnama dalam kesempurnaannya.   -------000--------   مَحَلُّ اْلقِيَامِ Baca Juga : Kajian Maulid Diba' #14 : Teks dan Terjemah Mahallul Qiyam   Keterangan: Para Malaikat, Para Nabi, Para Wali, Para bidadari surga, seluruh makhluk-makhluk Allah SWT yang ada di daratan, di lautan, di angkasa, bahkan bumi, laut, udara, bintang-bintang, bulan, matahari, langit, kursiy dan Arasy, seluruhnya benar-benar meluapkan kegembiraan dan memuncakkan “Shalawat ta’dzhim” kepada Kekasih Allah SWT, Nabi Akhir Zaman, Baginda Nabi Muhammad SAW. Bahkan Ka’bah Baitulloh ikut bergetar selama 3 hari berturut-turut karena bahagia dan bangga menyambut kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW.           Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Maulid Ad-diba’iy Lil Imam Abdurrahman Ad-Diba’iy: فاهتز العرش طربا واستبشارا وازداد الكرسي هيبة ووقارا وامتلأت السموات أنوارا وضجت الملائكة تهليلا وتمجيدا واستغفارا Yang artinya kurang lebih: “Sesungguhnya (pada saat kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW), ‘Arasy seketika gentar hebat luar biasa meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya, dan Kursiy juga semakin tambah kewibawaan dan keagungannya, dan seluruh langit dipenuhi cahaya yang bersinar terang dan para malaikat seluruhnya serentak bergemuruh memanjatkan tahlil, tamjid, dan istighfar kepada Allah SWT dengan mengucapkan:  سبحان الله  والحمد لله  ولا إله إلا الله  والله أكبر أستغفر الله Yang artinya kurang lebih: “Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, saya beristighfar (memohon ampun) kepada Allah SWT.”           Sesungguhnya dengan keagungan baginda Nabi Muhammad SAW di sisi Allah SWT, maka Allah SWT telah memerintahkan kepada para malaikat-Nya yang agung yakni Malaikat Jibril, Malaikat Muqorrobin, Malaikat Karubiyyin, Malaikat yang selalu mengelilingi Arasy dan lainnya agar serentak berdiri pada saat detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW dengan memanjatkan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, dan Istighfar kepada Allah SWT.           Semua fenomena keajaiban-keajaiban agung yang terjadi pada detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW yang diwujudkan oleh  Allah SWT, semata-mata hanya menunjukkan kepada semua makhluk-makhluk-Nya Allah SWT bahwa baginda Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang paling dicintai-Nya, makhluk yang paling agung dan mulia derajatnya di sisi-Nya.           Dan riwayat-riwayat semua yang tersebutkan di atas, bukan sekedar cerita belaka, namun telah kami nukil data datanya dari kitab-kitab para ulama Ahlussunnah Waljama’ah yang sangat akurat dan otentik. Diantaranya adalah Kitab Al-Hawi lil Fatawi yang dikarang oleh Al-Imam Asy-Syaikh Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi yang telah mengarang tidak kurang dari 600 kitab yang dijadikan marja’ (pedoman) bagi para ulama ahlussunnah waljama’ah dalam penetapan hukum-hukum syariat Islam.Bahkan para ulama ahlussunnah waljama’ah telah sepakat menjuluki Beliau dengan gelar “Jalaaluddiin” yakni sebagai pilar keagungan agama Islam.           Bahkan tidak hanya dari kitab beliau, tetapi juga dari kitab-kitab para ulama Ahlussunnah Waljama’ah lainnya yang juga telah disepakati dan dijadikan sebagai sumber pedoman oleh para ulama. Diantaranya adalah Kitab Dalailun Nubuwwah lil Imam Al-Baihaqi, Kitab Dalailun Nubuwwah lil Imam Abu Na’im Al-Ashfahaniy, Kitab An-Ni’matul Kubro ‘Alal ‘Aalam lil Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitami, Kitab Sabiilul Iddikar lil Imam Quthbul Ghouts Wad-Da’wah Wal-Irsyad Al-Habib Abdullah bin ‘Alawi Al-Haddad, Kitab Al-Ghuror lil Imam Al-Habib Muhammad bin Ali bin Alawiy Khird Ba Alawiy Al-Husainiy, Kitab Asy-Syifa’ lil Imam Al-Qadli ‘Iyadl Abul Faidl Al-Yahshabiy, Kitab As-Siiroh An-Nabawiyyah lil Imam As-Sayyid Asy-Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al Hasaniy, Kitab Hujjatulloh ‘Alal ‘Aalamin lis Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhaniy, dan kitab-kitab lainya yang mu’tamad dan mu’tabar (diakui dan dijadikan pedoman oleh para ulama).           Bagi para Ulama shalihin Ahlussunnah Waljama’ah telah sepakat untuk berdiri pada saat bacaan Maulid Nabi Muhammad SAW telah tiba, yakni pada Mahallul Qiyam (detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW). Mereka serentak berdiri demi mengikuti jejak para Malaikat, jejak arwah para Nabi dan jejak arwah para Wali untuk ta’dzhim (mengagungkan) dan memuncakkan rasa cinta yang agung kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Mereka luapkan rasa syukur yang memuncak ke hadhirat Allah SWT atas nikmat atau anugerah paling agung yang telah Allah SWT limpahkan dengan mengutus Kekasih-Nya sebagai Rahmat (Belas Kasih Sayang-Nya) untuk seluruh alam semesta.  Mereka panjatkan puji-pujian yang agung kepada baginda Rasululloh SAW dengan bahasa sastra yang indah dan suara merdu yang dipenuhi dengan rasa rindu dan cinta yang tulus mulia kepada Baginda SAW.           Maka, sungguh sangat mulia sekali bagi kita sebagai umat yang sangat dicintainya untuk mengikuti jejak para ulama shalihin dengan serentak berdiri pada saat Mahallul Qiyam demi menyambut kedatangan Kekasih Allah SWT yang sangat mulia, Junjungan kita baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Bukankah Beliau adalah Nabi kita yang sangat kita cintai? Bukankah Beliau adalah yang kelak akan memberi pertolongan kepada kita sehingga selamat dari siksaan Allah SWT yang sangat pedih? Bukankah Beliau adalah yang akan memberi syafaat kepada kita sehingga kita bisa memperoleh keridloan Allah SWT yang agung dan masuk ke dalam surga-Nya yang dipenuhi dengan segala kenikmatan, keindahan dan kebahagiaan yang kekal abadi selama-lamanya? Karena Rasululloh  SAW adalah Kekasih Allah SWT yang mana Allah SWT telah berjanji untuk tidak menolak segala  permintaan Beliau dan akan mengabulkan segala permohonannya. Dan janji ini telah ditetapkan Allah SWT dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Surat Adh-Dhuha ayat  5:  ولسوف يعطيك ربك فترضى   Yang artinya kurang lebih: “Dan (sesungguhnya) kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu (Nabi Muhammad SAW), lalu (hati) kamu menjadi puas”. (Q.S. Adl-Dluha: 5) Sungguh sangat beruntung kita sebagai umat Islam yang benar-benar mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW dengan setulusnya. Maka, pada saat tiba ajal kita nanti, baginda Nabi Muhammad SAW yang sangat kita cintai akan menolong kita dengan memohon kepada Allah SWT agar ditetapkan iman kita, diampuni segala dosa-dosa kita yang pernah kita lakukan dan diberi kemudahan menghadapi sakaratul maut. Bukan sekedar itu saja, bahkan pada saat menghadapi pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam barzakh, Beliau akan menolong kita. Dan berkat pertolongannya, seketika Allah SWT akan menjadikan kuburan kita sebagai “Raudlotun Min Riyaadlil Jinaan”, yakni sebagai taman diantara taman-taman surga. Begitu pula pada saat di padang Mahsyar, kita akan dipersilahkan untuk meminum air telaganya dan bertemu dengan Beliau SAW beserta para ahli baitnya, para sahabatnya, dan juga bersama para wali Allah SWT, para orang-orang sholihin  dan bersama pula dengan orang-orang mukmin yang mencintainya. Seketika itu pula kita mendapati rasa aman. Demikian besarnya perhatian baginda Rasulullah SAW kepada kita, dan agungnya ketulusan mahabbah (Belas Kasih Sayang) yang sempurna kepada kita, sehingga kita bisa mendapati limpahan Rahmat (Belas Kasih Sayang) Allah SWT dan ampunan-Nya, adalah  sangat banyak sekali data-data atau dalilnya disebutkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Al-Hadits serta kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah. Sebagian diantara dalil-dalil tersebut adalah Firman Allah SWT dalam Al-Qur’anu Al-Kariim Surat At-Taubah  ayat 128:  لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رءوف رحيم   Yang artinya kurang lebih: “Sesungguhnya telah datang kepada kalian Seorang Rasul (Nabi Muhammad SAW), dari kaum kalian sendiri, (sungguh sangat) berat terasa olehnya (segala) penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin..” (Q.S. At-Taubah: 128).           Demikianlah anugerah-anugerah agung yang dilimpahkan Allah SWT kepada umat Islam yang benar-benar cinta kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Namun, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Qodli ‘Iyadl dalam kitabnya Asy-Syifa hal 158 bahwa orang yang benar-benar tulus mencintai baginda Rasul SAW, syaratnya harus mengikuti jejaknya, meneladani prilakunya, menghidupkan sunnah ajaran dan syiarnya, mencintai ahli baitnya dan menghormati seluruh shahabatnya. Semoga kita semua termasuk orang yang benar-benar cinta sejati dengan tulus kepada Baginda Nabi Muhammad SAW beserta seluruh ahli bait dan shahabatnya serta bisa meneladani prilaku dan jejak-jejak mereka.  Wallahu a’lam bishshowaab.  Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi melalui kitab Nurul Mushthofa yang dirangkum oleh Al-Habib Murtadho bin Abdullah Alkaf.          

Kajian Maulid Diba’ #13 “Fahtazzal ‘Arsyu”

Kajian Maulid Diba' #13 "Fahtazzal 'Arsyu" اللهم صل وسلم وبارك عليه   Ya Allah tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad).   فَاهْتَزَّ الْعَرْشُ طَرَبًا وَاسْتِبْشَارًا Maka...

Qasidah “Assalamu’alaik Zainal Anbiya”

هذه القصده السلام عليك (1) ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ السلام عليك زينالأنبيآء ، السلام عليك Assalaamu ‘alaika Zainal anbiyaa-i (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai...
Kalam Ulama - Syaikh Taufiq Al-Buthi (Ulama Syuriah): Indonesia Adalah Surga.  Sebelum meneruskan perjalan ke lokasi Munas NU (Nahdlatul Ulama) di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo Banjar, Syaikh Taufiq Ramadhan al-Buthi menyempatkan berkunjun ke PP Miftahul Huda Manonjaya dan diterima langsung oleh salah satu pimpinan pesantren, KH. Abdul Aziz Affandy. Berkuduk rasanya bulu leher ini saat beliau berkata pada muqaddimah (pembuka) ceramah di hadapan ribuan santri: نحن الان نتحير فى الجنة ام فى الدنيا "Pada saat ini terus terang kami bingung (tidak percaya) apakah sedang berada di surga atau di dunia..." Terlihat jelas parau dan bergetarnya suara beliau saat mengucapkan kalimat tersebut. Pada bahasa tubuhnya nampak kebahagiaan bisa berkunjung dan bertatap muka dengan para santri yang begitu banyak, mereka dengan tenang, damai dan nyaman mengaji. Hal ini tentunya berbalik lurus dan tidak seberuntung dengan keadaan di negara beliau Syria, jangankan mau mengaji, salat dan berkumpul dengan sekian banyak orang, mau keluar saja rasa takut dan khawatir selalu menghantui. Patut kita terus bersyukur pada Allah ta'ala yang mengaruniai Negeri ini masih aman dan damai. (Disadur dari: Ibnu Ja'far) Subscribe Channel Kalam Ulama TV : https://www.youtube.com/c/KalamUlamaOfficial Semoga bermanfaat dan berkah, jangan lupa bagikan!!!

Syaikh Taufiq Al-Buthi (Ulama Syuriah): Indonesia Adalah Surga

Kalam Ulama - Syaikh Taufiq Al-Buthi (Ulama Syuriah): Indonesia Adalah Surga.  Sebelum meneruskan perjalan ke lokasi Munas NU (Nahdlatul Ulama) di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al...