Kajian Islam

Kajian Islam (Kalam Ulama). Pembaca yang dirahmati Allah, kriteria mengenai perempuan sholehah telah kita bahas pada tulisan yang lalu, sehingga kita tidak perlu bertanya-tanya kembali siapa perempuan sholehah itu. Pembahasan lalu telah dijelaskan pula  bahwa salah satu tujuan menikah yaitu mendapatkan anak sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya. Rasanya akan lebih afdhol kalau kita membahas faktor-faktor yang menjadi penyebab anak itu menjadi sholeh. Sesuatu yang baik tentunya muncul dari perkara yang baik pula, begitu pula dengan seorang anak. Anak yang sholeh berasal dari ibu yang sholehah juga, karena perempuan yang sholehah makan makanan yang hahal maka air susu ibu (ASI) yang dihasilkanpun ikut halal dan berkah. Air susu tersebut akan memunculkan anak yang mempunyai tabiat/watak yang condong kepada kebaikan. Berbeda dengan air susu yang yang dihasilkan dari perkara yang haram yang mana air susu tersebut dihasilkan oleh perempuan yang tidak sholehah, sehingga air susunya pun tidak mengandung berkah. Oleh karenanya jika air susu tersebut diminum oleh si anak maka akan memenculkan tabiat yang jelek, yaitu tabiat yang condong kepada keburukan. (Baca Juga : Kajian Wanita Sholihah dan Lelaki Sholih #09 : Niat Nikah, Pintu Menuju Sakinah) Seperti disebutkan dalam kitab “Madkhol lil ‘abdary” juz 4 halaman 295 : بنبغي أن يراقبه من أول أمره فلا يشغل في حضانته وإرضاعه إلا امرأة صالحة متدينة تأكل الحلال فإن البن الحاصل من الحرم لابركة فيه فإذا وقعت عليه نشأة الصبي عجنت طينته فيميل طبعه إلى ما يناسب الخبائث Artinya :”Seyogyannya orang tua menjaga anak diawal perkaranya. Maka orang tua tidak menyibukkan dalam persusuannya (tidak memberikannya susu) kecuali dengan (air susu) perempuan sholehah yang beragama, yang (perempuan tersebut) memakanan (perkara yang) halal. Maka sungguh air susu yang dihasilkan dari makanan haram tidak mengandung keberkahan didalamnya, maka ketika air susu tersebut dimakan oleh anak akan memunculkan anak yang tabiatnya condong kepada perkara yang jelek-jelek” Imam nas’i dalam kitabnya “Asyratu al-nisa” juz 1 halaman 104 berkata bahwa anak yang sholeh merupakan penerus bagi amal kedua orang tuanya setelah wafat. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إذا مات ابن ادم انقطع عمله إلا ثلاث : صدقة جارية أو علم بنتفع به أو ولد صالح يدعو له .رواه المسلم . Artinya : “ Rasulullah SAW bersabda : ketika anak cucu adam meninggal maka amalnya putus kecuali tiga perkara : shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya.” Dari pembahasan diatas dapat diambil pelajaran, jika mempunyai anak tidak sembarang seoarang anak disusui oleh orang lain apalagi yang tidak dikenal. Kalaupun disusui oleh orang lain harus dikataui betul bahwa perempuan yang menyusui tersebut  makan makanan yang halal dan berperilaku baik. Sehingga anak yang didambakan yaitu anak sholeh dapat terwujud bi’idznillah. Amiin. oleh : Ustadz Hamzah Alfarisi

Perempuan Sholehah Melahirkan Anak Sholeh dan Sholehah

Kajian Islam (Kalam Ulama). Pembaca yang dirahmati Allah, kriteria mengenai perempuan sholehah telah kita bahas pada tulisan yang lalu, sehingga kita tidak perlu bertanya-tanya...
Serba Serbi Islam (Kalam Ulama). Catatan ceramah KH. Abdul Qoyyum bin Manshur (Lasem) pada acara Haul al 'Alim al 'Arif billah KH. Abdul Hamid bin Abdullah bin Umar - Pasuruan (Selasa, 28 November 2017) Disebutkan dalam kitab Jami'us shoghir sebuah hadits Nabi Muhammad ﷺ, yakni : Wali Abdal ditengah-tengah ku ada 30 laki-laki, berhati Ibrohim dan setiap satu diantara mereka wafat maka Allah SWT memberi gantinya, wafat 3 orang wali abdal maka akan diganti 3 orang wali abdal lagi, untuk melengkapi 30 wali abdal yang berhati Nabi Ibrohim. Suatu saat ada ulama , yang 'alim, beliau mengarang kitab tafsir berbahasa arab, hanya sampai surat al - Kahfi. Pada suatu ketika beliau bertemu dengan KH. Abdul Hamid Pasuruan, Kyai Hamid melontarkan kata-kata spesifik tentang wali-wali tertentu. Kyai Hamid dawuh kepada beliau : "Kowe alim aku ". Kalau Nabi Ibrohim ingin mendoakan untuk ayah (atau pamannya dalam satu riwayat), tapi dilarang oleh Allah SWT setelah ayahnya dipastikan musyrik. Kyai Hamid dawuh ; Nabi Ibrahim hanya ingin menepati janjinya "إلا عن موعدة وعدها إياه". Janji yang berupa "Aku akan mintakan ampun bagimu kepada Rabbku." (Q.S. Maryam 47) (Baca Juga Rahasia Kekasih Allah) Samudra ilmu Kyai Hamid yang sangat dalam, luas tak bertepi, Nabi Ibrohim disebut 69 x dalam al Qur'an, Ibrohim memiliki arti abun rohim - Ayah yang penyayang (kitab tahqiq kalimatil qur'an). Maka seorang Wali Abdal adalah seorang wali yang memposisikan kasih sayang yang paling utama, Kholifah yang menjadi wali maka dia penuh kasih sayang, Bupati yang menjadi wali maka dia penuh kasih sayang. Diantara ciri-ciri seorang Wali Abdal yang berhati Ibrohim adalah : 1. ما كان ابراهم يهوديا و لا نصرانيا ولكن كان حنيفا مسلما Nabi Ibrahim bukan yahudi dan juga bukan nasrani, beliau condong pada sifat-sifat yang mulia, luhur, teguh dan taat pada aturan Allah SWT. Sayyidina Umar bin Khottob (dalam sunanul kubro lil baihaqi) ketika datang di Palestina, beliau dipersilahkan untuk masuk ke dalam gereja untuk jamuan makan, lalu beliau berkata :" kami tidak bisa masuk meskipun hanya untuk makan, disitu ada gambar-gambar yang tidak sesuai dengan syari'at) ajaran kami. Inilah tanda Wali Abdal. Kita memang tidak boleh mengganggu nasrani/yahudi, tidak diperkenankan menganiaya mereka, merusak tempat ibadah mereka, tapi menyampur adukkan ajaran juga tidak diperbolehkan. 2. و إبراهيم الذي وفّى Nabi Ibrahim tidak pernah ingkar janji. Kita semua semestinya menerapkan hal ini, yakni menepati janji. Siapapun orangnya, apakah itu pejabat, ulama atau ustadz juga semestinya menepati janji. Dalam kitab an Nawadir - al Qolyubi dikisahkan : Ada segerombolan perampok setelah melakukan aksinya, rombongan perampok ini mampir ke salah satu pesantren milik seorang ulama, begitu masuk rumah sang kyai, mereka mengucapkan salam ; "assalaamualaikum kyai, kami ini rombongan pejuang/mujahidin fi sabilillah". Mendengar pengakuan perampok sebagai mujahidin fii sabilillah maka mereka diterima dengan baik oleh kyai, diberi jamuan makan layaknya pejuang, disediakan fasilitas, tempat tidur. Kyai ini mempunyai seorang putra yang lumpuh, maka sang Kyai berdo'a, yaa Allah dengan wasilah para pejuang ini, tolong berikan kesembuhan kepada anak kami". Bahkan sisa air minum segerombolan perampok tersebut diambil semua, (tabarrukan), dibawa dan diberikan pada putranya, lalu dioleskan kepada tubuhnya, dan ternyata berbekal kemantaban hati dan berprasangka baik sang kyai bertawassul kepada perampok hingga putranya menjadi sembuh. Keesokan malamnya segerombolan perampok datang dan bermalam lagi di rumah kyai, begitu melihat putra sang kyai yang sudah berdiri, para perampok kaget, mereka bertanya ; "kyai dari mana anda mendapatkan obat untuk putra anda ini? Sang kyai menjawab ; "kami mengumpulkan sisa air anda semua kemaren dan kami ber-tabarruk dengan air itu, akhirnya sembuh lah putra kami. Seketika para perampok menangis, dan sekaligus meminta maaf kepada kyai, "wahai kyai kami ini bukan pejuang, kami murni perampok, cuman karen husnudzon kyai lah Allah mengabullkan doa kyai. Maka pandang lah seseorang dengan pandangan yang terbaik, insyaallah akan diberi kelebihan oleh Allah SWT. "Jangan sekali-sekali seorang ustadz punya kemantaban seraya menyatakan bahwa muridnya bodoh, para guru/ustadz harus mantab kalau muridnya jadi anak sholih & 'alim. 3. امة اى اماما قانة اي مطيعا لله Beliau menghiasi dirinya dengan 'nilai-nilai' ibadah, Kyai Hamid tidak pernah putus dari ibadah, baik yaqodhotan (terjaga) atau manaman (tidur fisik) beliau ibadah terus menerus. Apakah ada orang ibadah tapi tak bernilai? Ada. Bahkan ada dzikir yang hanya untuk berstrategi. Al jahit (mu'tazilah) menulis kitab "al hayawan" mengisahkan sebuah anekdot ; "ada seorang ustadz yang akan berceramah di sebuah masjid, sang ustadz ini kebanyakan makan buncis, sehingga dia menjadi sering keluar angin (kentut). Setelah imam selesai berjamaah, lalu sang ustadz maju kedepan untuk berpidato menghadap jamaah, sedang imam sholat yang sudah tua berada tepat dibelakangnya, kondisi masjidnya tertutup tirai, karena kebanyakan makan buncis, sang ustadz saat ditengah ceramahnya merasa ingin keluar angin (kentut), padahal dibelakanngnya pas terdapat imam jamaah, karena bingung bagaimana kentutnya supaya tak tedengar, maka sang ustadz mengajak para jamaah berteriak bersama mengucap 'laa ilaa ha illah', saat itulah dia kentut, dilanjutkannya lagi ceramah, tiba-tiba terasa mau kentut lagi maka dia mengulangi cara yang sama. Sampai pada kesekian kalinya imam jaaah tidak kuat menahan emosi, saat ustadz mau menhjak dzikir imam seketoka berdiri dan berkata ; "jangan mau, bisa-bisa mati saya". Ini lah contoh dzikir untuk strategi (ibadah yang tak bernilai). KH. Abdul hamid itu seseorang yang 'alim syari'ah sekaligus wali, tak sekedar wali. Seorang wali abdal karomahnya beda-beda, ada ulama/wali ikhlas tapi teruji seperti kisah Imam Bukhori RA, Imam Bukhori pernah menaiki sebuah kapal, lalu ada seorang lelaki yang iseng ingin kenalan dengan beliau, Imam Bukhori merasa senang hati nya saat bertemu dengan seseorang yang ingin berkenalan, taaruf dengan ulama. Saking senangnya Imam Bukhori, beliau menjamu lelaki tersebut. Akhirnya beliau bercerita, ; "pak kami alhamdulillah memiliki bekal 1000 dinar (kepingan emas) barangkali bapak mau membeli sesuatu bisa pakai uang ini, kami lebih dari cukup kalau sekedar untuk makan dan kebutuhan lainnya. Setelah jeda waktu lelaki itu teriak menangis, lalu dihampiri oleh pihak keamanan dan ditanya ; " ada apa pak ? Ia menjawab ; "uang kami hilang isinya 1000 dinar, berarti ada orang dikapal ini yang mengambil uang kami. Maka petugas menggeledah semua penumpang kapal, umtuk mencari uang 1000 dinar, termasuk Imam Bukhori. Imam bukhori lalu berkata ; "masyaallah ini ujian, kalau kami ditangkap bawa uang 1000 dinar maka nama kami yang tidak baik, kami ulama, di amanahi oleh Allah SWT berupa ilmu, sebagai pemimpin ulama, kalau kami diketahui membawa 1000 dinar maka kami dituduh sebagai pencuri. Akhirnya uang 1000 dinar tersebut dibuang ke laut, begitu Imam Bukhori digeledah maka tidak ditemukan uang 1000 dinar itu. Selesai penggeledahan, lelaki itu datang kembali kepada Imam Bukhori dan bertamya ;, "kamu sudah digeledah?" Sudah, uangnya saya buang" jawab Iam Bukhori. Maka seseorang bercerita kalau mempunyai uang itu bahaya, walaupun niatnya baik, itu beresiko. Lha orang sekarang kredit saja diceritakan. Wali abdal itu "وقورا" / tenang, "صدوقا" / jujur, "مهيبا" / wibawa, "صموتا" / pendiam. Maka dalam teori Wali Abdal ada beberapa catatan Imam Muhyiddin Ibn arobi ; "Wali Abdal itu berganti-ganti hatinya, kadang berjiwa Nabi Ibrohim yakni pengasih/penyayang, kadang berjiwa Nabi Musa (keras), kadang berjiwa Nabi Adam. Karena para Nabi sifat walayahnya itu, diberikan kepada auliya, maka ketika seorang Wali jika diberikan karomah bisa menghidupukan orang mati maka dia diberikan karomah lewat jalur Nabi Isa as, jika seorang Wali diberikan karomah bisa menguasai teknologi maka dia diberikan karomah lewat jalur Nabi Daud as, seorang Wali jika diberikan karomah bisa mengetahui semua nama-nama, maka dia diberikan karomah lewat jalur Nabi Adam, seorang Wali jika diberikan karomah bisa berbicara dengan hewan maka dia diberikan karomah lewat jalur Nabi Sulaiman as. Kita walau belum belum sampai sana (Wali Abdal), paling tidak kita cinta kepada mereka. Ada yang tanya, wali dan wartawan itu pinter mana? Wartawan dapat berita itu sangat cepat. Disebutkan dalam kitab Ihya' bahwa Imam ghozali pernah ditanya : "kenapa negara islam yang dijajah oleh orang kafir, walinya kok tidak pernah menampilkan diri ? Imam Ghozali menjawab : " Peraturan Wali itu berbeda, Wali ada yang disebut dengan "dairotul walayah" (zona walayah), misalkan ada seorang Wali dari Pasuruan ingin mengeluarkan karomahnya di wilayah lain, maka dia harus izin terlebih dahulu ke wali daerah tersebut, ada juga yang disebut "khirqotul walayah" (baju kewaliyan) , ada yang disebut dengan "qobdul walayah" (dijabut), pagi jadi wali malam nya tidak. Wali dapat haqiqoh itu diatur oleh Allah SWT. Adabul haqiqoh. Jangankan untuk perang, ada seorang wali yang mempunyai doa untuk perpanjangan waktu dunia, ada seorang wali jika berdo'a minta kiamat ditunda bakal ditunda. ( يمحو الله ما يشاء ويثبت) Ada seseorang wali yang dimintai doa oleh seseorang tetapi tidak dikabulkan oleh Allah SWT, karena yang meminta didoakan belum memenuhi syarat untuk diijabah. Misalkan, tidak pernah sholat minta didoakan agar bisa cepat berangkat haji. Maka wali akan mendoakan untuk yang lain. Wali abdal kita harus tiru yang kita bisa, baik itu memenuhi janji, akhlaqnya, atau ibadahnya. Imam Ghozali mempunyai kitab yang diberi judul "Sulwatil 'Arifin" : dikisahkan didalamnya ; "ada seorang majusi kalau anaknya makan disiang hari pas di bulan romadhon , maka seketika dipukul anaknya. Sekarang ada orang mengatakan jangan memaksa orang untuk berpuasa, ini kan tidak cocok. Ulama yang berjumpa KH. Abdul Hamid tadi mempunyai sholawat, tapi sholawat ini tidak bisa diartikan, bahkan ulama itu saya tanya langsung apakah tahu artinya? Beliau menjawab tidak tahu. Waktu di Tebuireng, beliau mimpi bertemu seseorang dan memberikan sholawat yang berbunyi "Allahumma solli alal khodiri almuhmali ba'du" Ketika beliau bicara tentang Kyai Hamid ; "Kyai Hamid itu kewaliannya semenjak anak-anak, umpama nabi itu punya irhas (tanda² jadi nabi). Yai hamid itu mujabub da'wah. Kyai Manshur Lasem (Abah Gus Qoyyum) pernah sakit yang sudah lama dan tak kunjung sembuh, sampai akhirnya Kyai Hamid memerintah Kyai Manshur dengan ayat al Qur'an : إن الله يأمركم ان تذبحوا بقرة Lalu beliau menyemebelih seekor sapi dan (bi idznillah) beliau sembuh. Ada seorang ulama yang doanya diijabah oleh Allah SWT tapi dibatasi. Imam Ibnu Jauzi mengisahkan ; "Ada seorang wali dl yang dijatah oleh Allah dikabul doanya hanya 3x saja. Ulama ini memiliki istir yang jelek, sang istri tahu jika suaminya dijatah oleh Allah SWT ijabah 3x doa, lalu sang istri berkata : 'bah tolong doakan saya biar menjadi cantik, maka kyai ini memenuhi permintaan sang istri, selesai didoakan istrinya langsung berubah menjadi cantik. Doa yang tersisa tunggal 2. Setelah istri menjadi cantik, malah dia cinta kepada orang lain, maka sang ulama menjadi, akhirnya beliau berdo'a kembali, 'yaa Allah kami kecewa, kesal, jatah doa kami yang kedua tolong jadikan wajah istri kami seperti anjing, spontan langsung istrinya berubah menjadi anjing. Tersisa 1 doa. Istrinya menangis, anak-anaknya juga menangis, sang istri meminta maaf, dan memohon agar wajahnya kembali seperti semula, walaupun jelek, akhirnya suami berdoa untuk yang terakhir kalinya ; "Yaa aallah kembalikan istri kami seperti semula. Tidak cantik tapi tidak cinta kepada orang lain. (Zaadul masiir fi ilmit tafsir) Kyai Abdul Hamid, itu mujabud dakwahnya sewaktu-waktu, tak terbatas, banyak bahasa isyarah sulit dicerna tapi tidak mengada-ada. Beliau maksyuf (dibukakan mata batinnya oleh Allah SWT), bahrul haqiqoh (lautan hakikat) bahrus syari'ah (lautan syari'ah), masyhud (disaksikan orang banyak) diakui ulama'. Ibnu Qoyyim mengisahkan dalam kitab "Ighotsatul Lahwan" : Ada sebuah gereja, didalamnya ada patung perempuan, yang dari payudaranya keluar air susu, sehingga banyak orang yang datang berziaroh, akhirnya para peziarah memberi uang kepada juru kunci, jadilah juru kunci kaya raya, beberapa waktu kemudian diketahui ternyata air susu yang keluar itu berasal dari pipa yang dihubungkan ke dapur belakang, akhirnya dia tertangkap dan dihukum mati. Ini contoh bukan wali tapi gaya wali. Ada wali melayani pasang susuk, ini kan nggak pantes. Wali itu ketaatnya ditunjukkan namun tanpa dibarengi penyakit hati. Syekh Abdul Qodir al Jailani, awal-awal diberikan karomah berupa tashorrufan (wali diberi karomah dengan perubahan alam, misal pasir jadi gula pasir, kalau butuh makan, tangannya digenggamkan, dan hati merenung membayangkan apel, keluar lah apel). Syekh Abdul Qodir al Jailani 25 tahun karomah kewaliannya adalah tashorrufan, namun beliau tidak suka. Akhirnya beliau i'tidzar/mohon kepada Allah ; "yaa Allah saya kok begini, pasir jadi gula pasir, kenpa kami punya karomah seperti ini, kami khawatir tidak beradab kepada engkau yaa Allah, semestinya ini pasir kok menjadi gula pasir. Kami ingin biasa saja, pada akhirnya tashorrufan nya diambil sama Allah, atas permintaan beliau. Kyai Hamid didepan ulama beliau tunjukkan ahli ilmu nya, didepan orang awam beliau tunjukkan akhlaknya, bersuci dari hadats, sopan, didepan ahli kitab beliau tunjukkan keahliannya dalam kitab, dst. Adab berinteraksi dengan penguasa. Seorang ulama harus membatasi diri dengan penguasa. Menjaga kewibawaan ilmunya. Syekh Abdul Qodir al Jailani pernah tidur di dalam istana, akhirnya selama tidur itu beliau mimpi keluar sperma berkali-kali, dan mandi berkali-kali. Imam Sya'roni, mengisahkan dalam kitabnya Mizanul Kubro, ada seorang ulama yang bernama Muhammad bin Zain, beliau seorang yang ahli bertemu Nabi Muhammad ﷺ , bukan hanya bermimpi, jika beliau berziarah kepada Nabi Muhammad ﷺ, beliau mengucap salam kepada Nabi dan langsung dijawab oleh Nabi ﷺ, semua orang yang disana bisa mendengar dengan jelas. Suatu ketika ada orang yang meminta tolong kepadanya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya yang berkaitan dengan penguasa, masuk lah beliau di kantor pemerintahan, otomatis beliau dijamu dan menikmati beberapa fasilitas pemerintahan, setelah selesai permasalahnya, lalu beliau pulang ke rumah, dan semenjak itu lah beliau tidak bisa lagi berjumpa dengan Nabi ﷺ, sulit mimpi bertemu Nabi, sampai akhirmya diingatkan langsung oleh Nabi ﷺ ; "kamu sudah tidak bisa lagi bertemu aku, karena kamu menikmati primadani di istana". Imam Jalaluddin Assuyuti mempunyai sebuah surat untuk pemerintah yang isinya balasan surat ketika beliau dimintai tolong oleh pihak pemerintah agar datang ke istana untuk menyelesaikan sebuah masalah. Beliau membalas surat itu dengan penjelasan ; "Maaf kami ini ulama, ahli hadits, takhrij hadits kami langsung dengan Nabi Muhammad ﷺ , kalau kami masuk istana maka kami tidak bisa lagi mentakhrij hadits secara langsung kepada Nabi Muhmmad ﷺ . Sayyid Qutub pernah sakit, namun beliau tidak memiliki uang sama sekali untuk berobat. Tiba-tiba datang seorang tamu dengan membawa uang 1 koper yang diantar oleh diplomat, semua uang tersebut dihadiahkan kepada beliau. Tetapi beliau menolak, karena menjaga kewibawaan ulama. ,صحف ابراهيم و موسى Lembaran-lembaran ajaran Nabi Ibrohim dan Nabi Musa, diantaranya ; Imam al alusi dalam kitabnya Ruuhul ma'ani menyebutkan diantara isi suhufi Ibrohim ; - على العاقل ان يكون بصيرا لزمانه مقبلا على شأنه حافظا للسانه Orang yang cerdas dia bisa membaca dan melihat zamannya, mana yang berbahaya dan mana yang tidak, selalu menengok apa kewajibannya, displin atas urusannya, dan menjaga lisannya.

Ceramah KH. Abdul Qoyyum bin Manshur (Lasem) pada acara Haul al ‘Alim al ‘Arif...

Serba Serbi Islam (Kalam Ulama). Catatan ceramah KH. Abdul Qoyyum bin Manshur (Lasem) pada acara Haul al 'Alim al 'Arif billah KH. Abdul Hamid...
Kajian Islam (Kalam Ulama). Hujjatul Islam Al Ghazali meriwayatkan bahawa ada seorang laki-laki yang lupa membaca shalawat kepada Rasulullah SAW. Lalu pada suatu malam ia bermimpi melihat Rasulullah SAW tidak mau menoleh kepadanya,dia bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau marah kepadaku?”Beliau menjawab, “Tidak.” Dia bertanya lagi, “Lalu sebab apakah engkau tidak memandang kepadaku?”. Beliau menjawab, “Karena aku tidak mengenalmu.” Laki-laki itu bertanya, “Bagaimana engkau tidak mengenaliku, sedang aku adalah salah satu dari umatmu? (Baca Juga Keutamaan Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW)  Para ulama meriwayatkan bahwa sesungguhnya engkau lebih mengenali umatmu dibanding seorang ibu mengenali anaknya?” Rasulullah SAW menjawab, “Mereka benar, tetapi engkau tidak pernah mengingat aku dengan shalawat. Padahal perkenalanku dengan umatku adalah menurut kadar bacaan shalawat mereka kepadaku." Terbangunlah laki-laki itu dan mengharuskan dirinya untuk bershalawat kepada Rasulullah SAW, setiap hari 100 kali. Dia selalu melakukan itu, hingga dia melihat Rasululah SAW lagi dalam mimpinya. Dalam mimpinya tersebut Rasulullah SAW bersabda, “Sekarang aku mengenalmu dan akan memberi syafa’at kepadamu.” Ini semua karena orang tersebut telah menjadi orang yang cinta kepada Rasulullah SAW dengan memperbanyak shalawat kepada beliau. Maka barangsiapa yang ingin dikenali oleh Rasulullah SAW, hendaklah ia memperbanyak bacaan shalawatnya.. (Kitab Mukasyafatul Qulub, bab IX, hal 55, karangan Hujjatul Islam Al Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Ghazali RA) أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً “Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Baihaqi - Sunan Al Kubro) اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم عدد خلقك ورضا نفسك وزينة عرشك ومدد كلماتك

Kenapa Engkau Tidak Mengenalku Wahai Rasulullah?

Kajian Islam (Kalam Ulama). Hujjatul Islam Al Ghazali meriwayatkan bahawa ada seorang laki-laki yang lupa membaca shalawat kepada Rasulullah SAW. Lalu pada suatu malam...
Kajian Islam Al Hikam (Kalam Ulama). "Jangan sekali-kali dirimu ragu terhadap janji (Allah) yang belum terpenuhi, padahal Allah telah menetapkkan waktu pengabulannya, demikian itu supaya tidak menyebabkan buramnya mata hatimu (bashirah) dan padamnya rahasia batinmu (sirr)." لاَ يـُشَـكِّكَــنَّكَ فيِ الْـوَعْدِ عَدَمُ وُقُــوْعِ الْـمَـوْعُـوْدِ ، وَ إِنْ تَـعَـيَّنِ زَمَنُهُ ؛ لِئَـلاَّ يـَكُوْنَ ذَ لِكَ قَدْحًـا فيِ بَـصِيْرَ تِـكَ ، وَ إِخْمَـادً ا لِـنُورِ سَرِ يـْرَ تِـكَ Maqalah di atas menjelaskan bahwa manusia sering dihinggapi sikap ragu bahkan putus asa ketika keinginannya belum terkabulkan. Seperti manusia yg sedang menghadapi masalah lalu dia berdoa diiringi usaha dan ikhtiar, namun masalahnya tidak kunjung usai. Saat itu muncul sikap ragu terhadap janji Allah karena merasa masalahnya tidak ada solusinya. Padahal Allah sudah menetapkan solusi dan penyelesaian yang terbaik menurut Allah utk hamba2Nya. Sesungguhnya sikap ragu tersebut hanya letupan emosi sesaat. Karena itu, jangan biarkan sikap ragu tersebut muncul menguasi diri karena dapat menyebabkan buramnya mata hati dan pudarnya cahaya ilahiyah dalam hati. Maka dari itu, jangan pernah terbersit ragu terhadap janji Allah, karena sesungguhnya Allah pasti memenuhi janji-Nya. (Baca Juga Kajian Al Hikam (2) : Syahwat (Keinginan kepada Duniawi) dan Himmah (Keinginan menuju Allah) Nagrak Cikeas, 19 Januari 2017 Oleh : Dr. KH. Ali Abdillah, MA (al-Rabbani Islamic College)

Kajian Al Hikam (7) : Jangan Ragu dengan Janji Allah

Kajian Al Hikam (Kalam Ulama). "Jangan sekali-kali dirimu ragu terhadap janji (Allah) yang belum terpenuhi, padahal Allah telah menetapkkan waktu pengabulannya, demikian itu supaya tidak menyebabkan...
Kajian Islam (Kalam Ulama). Belajar Sunnah Nabi dari Imam Sayfuddin al-Amidi. Suatu malam Sayfuddin bermimpi berkunjung ke rumah Imam al-Ghazali. Dalam mimpi itu beliau seolah diberitahu untuk memasukinya dan melihat peti. Dia pun membukanya dan melihat jenazah Imam al-Ghazali. Lalu Sayfuddin menyingkap kafan yang menutupi wajahnya dan menciumnya.  Sayfuddin ini kelak dikenal dengan nama Imam Sayfuddin al-Amidi (1156-1233). Semula beliau mengikuti mazhab Hanbali sewaktu beliau masih kecil sesuai dengan lingkungannya saat itu. Kemudian beliau berguru pada Syekh Abul Qasim Ibn Fadlan yang bermazhab Syafi’i. Sayfuddin Amidi juga lebih cocok dengan aqidah Asy’ariyah. Maka jadilah beliau seorang ulama terkemuka dari Mazhab Syafi’i yang Sunni Asy’ari. Dari Baghddad, beliau pindah ke Mesir dimana beliau mendapati fitnah dari sebagian pihak yang menuduhnya sesat, kemudian beliau pindah ke Damaskus dan menulis kitab Ushul al-Fiqh yang sangat terkenal, yaitu kitab al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam. Kitab ini merangkum dan menjelaskan masalah dalil dan kaidah istinbath dari empat kitab utama: al-‘Amd, al-Mu’tamad, al-Burhan dan al-Mustasfa. (Baca Juga : Keutamaan Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW) Nama Kitab terakhir, al-Mustasfa, merupakan karya Imam al-Ghazali. Inilah pengaruh mimpi spiritual Sayfuddin al-Amidi yang mencium jenazah Imam al-Ghazali. Beliau sendiri menuturkan: “selepas mimpi itu aku berkata pada diriku sendiri untuk mengambil perkataan Imam al-Ghazali. Kemudian dalam waktu singkat aku hafal isi kitab al-Mustasfa karya Imam al-Ghazali”. Murid Imam al-Amidi yang sangat terkenal adalah Syekh Izzudin Abdus Salam. Beliau berkata tentang gurunya: “Tidak saya pelajari kaidah-kaidah pembahasan kecuali dari Imam al-Amidi.” Atau di kesempatan lain, “Tidak saya dengar pengajaran yang paling bagus mengenai kitab al-Wasitnya Imam al-Ghazali seperti yang disampaikan oleh Imam al-Amidi” dan ungkapan-ungkapan senada lainnya yang mengagumi Imam al-Amidi. Syekh Izzudin ini pada masanya digelari Sulthan-nya ulama. Salah satu pembahasan penting dalam kitab ushul al-fiqh karya Imam al-Amidiadalah mengenai kedudukan Sunnah Nabi. Beliau mengemukakan bagaimana para pakar Ushul al-Fiqh berbeda pandangan mengenai perbuatan Nabi yang menjadi dalil syar’i. Kemudian beliau memaparkan pandangannya. Pertama, perbuatan Nabi yang merupakan hal biasa yang dilakukan manusia pada umumnya seperti makan, minum, berdiri dan duduk merupakan perkara mubah yang tidak memiliki konsekuensi hukum. Saya dapat tambahkan, hal ini dikarenakan semua manusia melakukannya dan Nabi Muhammad juga terikat dengan budaya setempat dalam cara makan dan minum. Ini boleh jadi masuk ke dalam kategori etika saja, bukan kategori hukum. Mengikutinya dibenarkan, tapi tidak menirunya tidak akan berdosa. Saya bisa beri contoh misalnya cara makan Rasul dengan 3 jari memang cocok dengan menu dan pola makan di Arab sana, tapi agak sulit diterapkan di tanah air pas lagi makan sayur lodeh atau di negeri lain yang makan pakai sumpit. Kedua, ada perbuatan yang khususiyah dilakukan oleh Nabi. Perbuatan yang bagi umatnya sunnah, tapi wajib dilakukan Nabi seperti shalat tahajud. Atau perbuatan yang tidak boleh dilakukan oleh umatnya tapi secara khusus dibenarkan untuk Nabi, seperti menikahi perempuan lebih dari empat, dan berpuasa wishal (terus menerus tanpa berbuka). Sebagai manusia khusus, tentu ada amalan ataupun perlakuan khusus juga untuk beliau SAW. Khususiyah ini tidak berlaku untuk umat Islam dan karenanya tidak masuk kategori hukum. Ketiga, perbuatan Nabi yang secara tegas dijelaskan sebagai pelaksanaan ataupun penjelasan terhadap ibadah seperti shalat dan haji berdasarkan dalil syar’i yang wjaib dijadikan pedoman oleh umat Islam. Misalnya Rasul bersabda: “ambillah cara manasik hajimu dari saya” atau “shalatlah kamu sebagaimana aku shalat”. Perbuatan Rasul dalam hal ibadah kategori inilah yang memiliki konsekuensi hukum. Penjelasan Imam al-Amidi ini sangat penting untuk meletakkan secara proporsional nilai etika yang masuk kategori sunnah (perbuatan atau tradisi) Rasul dan mana contoh sunnah Rasul yang masuk kategori hukum, dan karenanya bisa bermakna wajib, mandub, atau mubah. Artinya tidak semua hal yang dianggap sunnah Nabi itu hukumnya wajib kita laksanakan seperti yang dijelaskan di atas. Di atas etika dan hukum ada kategori yang paling puncak yaitu cinta. Mengikuti Rasul berdasarkan kecintaan kita kepada beliau SAW. Ini sudah melampaui kategori yang dipaparkan Imam al-Amidi. Ini hubungan khusus yang hanya bisa dinilai dengan sebuah rintihan dalam hening: Oh Muhammadku. Indah wajahnya bagai purnama Siapa melihatnya kan jatuh cinta (Shalawat Cinta Uje) Tabik, Nadirsyah Hosen Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School Sumber : http://nadirhosen.net/

Belajar Sunnah Nabi dari Imam Sayfuddin Al-Amidi

Kajian Islam (Kalam Ulama). Belajar Sunnah Nabi dari Imam Sayfuddin al-Amidi. Suatu malam Sayfuddin bermimpi berkunjung ke rumah Imam al-Ghazali. Dalam mimpi itu beliau seolah diberitahu untuk memasukinya...

Keutamaan Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

Kajian Islam (Kalam Ulama). Di dalam kitab "An-Ni'matul Kubra 'alal 'Alami fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam" halaman 5-7, karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami (909-974...
Kajian Islam Al Hikam : Syahwat dan Himmah “TAJRID dan KASAB” إِرَ ادَ تُــكَ الـتَّجْرِ يْدَ مَـعَ إِقَامَـةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ اْلأَسْبَابِ مِنَ الشَّـهْـوَ ةِ الْخَفِـيـَّةِ. وَ إِرَادَ تُـكَ اْلأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ الـتَّجْرِ يْدِ اِنحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَـلِـيـَّةِ "Keinginanmu untuk tajrid, sementara Allah masih menegakkan engkau di dalam asbab, merupakan syahwah yang tersamar (halus). Dan keinginanmu kepada asbab, pada saat Allah sudah menegakkan engkau dalam tajrid, merupakan suatu kejatuhan dari himmah yang tinggi." Hikam (Baca juga kajian islam : Kajian Al Hikam (1) : Bersandarlah pada Allah) Syarah Al-Hikam Dalam pasal ini, Ibnu Atha’illah menggunakan beberapa istilah baku dalam khazanah sufi, yang harus dipahami terlebih dahulu agar mendapatkan pemahaman yang utuh. Istilah-istilah itu adalah: tajrid, asbab, syahwat dan himmah. Tajrid secara bahasa memiliki arti: penanggalan, pelepasan, atau pemurnian. Secara maknawi adalah penanggalan aspek-aspek dunia dari jiwa (nafs), atau secara singkat bisa dikatakan sebagai pemurnian jiwa. Asbab secara bahasa memiliki arti: sebab-sebab atau sebab-akibat. Secara maknawi adalah status jiwa (nafs) yang sedang Allah tempatkan dalam dunia sebab akibat. Semisal Iskandar Zulkarnain yang Allah tempatkan sebagai raja di dunia, mengurusi dunia sebab-akibat. Syahwah (atau syahwat) secara bahasa memiliki arti: tatapan yang kuat, atau keinginan. Secara maknawi merupakan keinginan kepada bentuk-bentuk material dan duniawi, seperti harta, makanan dan lawan jenis. Berbeda dari syahwat, hawa-nafsu (disingkat “nafsu”) adalah keinginan kepada bentuk-bentuk non-material, seperti ego, kesombongan, dan harga diri. Himmah merupakan lawan kata dari syahwat, yang juga memiliki arti keinginan. Namun bila syahwat merupakan keinginan yang rendah, maka himmah adalah keinginan yang tinggi, keinginan menuju Allah. Adakalanya Allah menempatkan seseorang dalam dunia asbab dalam kurun tertentu—misalnya, untuk mencari nafkah, mengurus keluarga, atau memimpin negara. Bila seseorang sedang Allah tempatkan dalam kondisi asbab itu, namun dia berkeinginan untuk tajrid (misalkan dengan ber-uzlah), maka itu dikatakan sebagai syahwat yang samar. Sebaliknya, saat Allah menempatkan seseorang dalam tajrid, namun dia justru menginginkan asbab, maka itu merupakan sebuah kejatuhan dari keinginan yang tinggi. Inilah pentingnya untuk berserah diri dalam bersuluk, agar mengetahui kapan seseorang harus tajrid dan kapan seseorang harus terjun dalam dunia asbab. Semua kehendak seorang salik haruslah bekesesuaian dengan Kehendak Allah. Sebagai seorang yang beriman, haruslah berusaha menyempurnakan imannya dengan berfikir tentang ayat-ayat Alloh, dan beribadah dan harus tahu bahwa tujuan hidup itu hanya untuk beribadah(menghamba) kepada Alloh,sesuai tuntunan Al-qur’an. Tetapi setelah ada semangat dalam ibadah, kadang ada yang berpendapat bahwa salah satu yang merepoti/mengganggu dalam ibadah yaitu bekerja(kasab). Lalu berkeinginan lepas dari kasab/usaha dan hanya ingin melulu beribadah. Keinginan yang seperti ini termasuk keinginan nafsu yang tersembunyi/samar. Sebab kewajiban seorang hamba, menyerah kepada apa yang dipilihkan oleh majikannya. Apa lagi kalau majikan itu adalah Alloh yang maha mengetahui tentang apa yang terbaik bagi hambanya. Dan tanda-tanda bahwa Alloh menempatkan dirimu dalam golongan orang yang harus berusaha [kasab], apabila terasa ringan bagimu, sehingga tidak menyebabkan lalai menjalankan suatu kewajiban dalam agamamu, juga menyebabkan engkau tidak tamak [rakus] terhadap milik orang lain. Dan tanda bahwa Allah mendudukkan dirimu dalam golongan hamba yang tidak berusaha [Tajrid]. Apabila Tuhan memudahkan bagimu kebutuhan hidup dari jalan yang tidak tersangka, kemudian jiwamu tetap tenang ketika terjadi kekurangan, karena tetap ingat dan bersandar kepada Tuhan, dan tidak berubah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban. Syeikh Ibnu ‘Atoillah berkata : “Aku datang kepada guruku Syeikh Abu Abbas al- mursy. Aku merasa, bahwa untuk sampai kepada Allah dan masuk dalam barisan para wali dengan sibuk pada ilmu lahiriah dan bergaul dengan sesama manusia (kasab) agak jauh dan tidak mungkin. tiba-tiba sebelum aku sempat bertanya, guru bercerita: Ada seorang ahli dibidang ilmu lahiriah, ketika ia dapat merasakan sedikit dalam perjalanan ini, ia datang kepadaku sambil berkata: Aku akan meninggalkan kebiasaanku untuk mengikuti perjalananmu. Aku menjawab: Bukan itu yang kamu harus lakukan, tetapi tetaplah dalam kedudukanmu, sedang apa yang akan diberikan Allah kepadamu pasti sampai kepadamu. Oleh : Dr. KH. Ali Abdillah, MA (al-Rabbani Islamic College)

Kajian Al Hikam (2) : Syahwat (Keinginan kepada Duniawi) dan Himmah (Keinginan menuju...

Kajian Islam Al Hikam : Syahwat dan Himmah “TAJRID dan KASAB” إِرَ ادَ تُــكَ الـتَّجْرِ يْدَ مَـعَ إِقَامَـةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ اْلأَسْبَابِ مِنَ الشَّـهْـوَ ةِ...
Menikah adalah Tabungan Surga ﻓﺮﻁ ﺑﻔﺘﺤﺘﻴﻦ ﻭﻣﻨﻪ ﻳﻘﺎﻝ ﻟﻠﻄﻔﻞ اﻟﻤﻴﺖ اﻟﻠﻬﻢ اﺟﻌﻠﻪ ﻓﺮﻃﺎ ﺃﻱ ﺃﺟﺮا ﻣﺘﻘﺪﻣﺎ Anak yang wafat sebelum usia baligh disebut farathan, yaitu pahala yang sudah ada di depan (Faidl Al Qadir). (Baca Juga : Syariat, Apa dan untuk Siapa? Di lingkungan kita biasa menyebut sebagai tabungan di surga. Hal ini berdasarkan hadis: ﻭﻋﻦ ﻗﺮﺓ ﺑﻦ ﺇﻳﺎﺱ «ﺃﻥ ﺭﺟﻼ ﻛﺎﻥ ﻳﺄﺗﻲ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻣﻌﻪ اﺑﻦ ﻟﻪ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: " ﺃﺗﺤﺒﻪ؟ " ﻗﺎﻝ: ﻧﻌﻢ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، ﺃﺣﺒﻚ اﻟﻠﻪ ﻛﻤﺎ ﺃﺣﺒﻪ. ﻓﻔﻘﺪﻩ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﺎﻝ: " ﻣﺎ ﻓﻌﻞ ﻓﻼﻥ ﺑﻦ ﻓﻼﻥ؟ " ﻗﺎﻟﻮا: ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، ﻣﺎﺕ. ﻓﻘﺎﻝ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻷﺑﻴﻪ: " ﺃﻻ ﺗﺤﺐ ﺃﻥ ﻻ ﺗﺄﺗﻲ ﺑﺎﺑﺎ ﻣﻦ ﺃﺑﻮاﺏ اﻟﺠﻨﺔ ﺇﻻ ﻭﺟﺪﺗﻪ ﻳﻨﺘﻈﺮﻙ؟ " ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺟﻞ: ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، ﺃﻟﻪ ﺧﺎﺻﺔ ﺃﻡ ﻟﻜﻠﻨﺎ؟ ﻗﺎﻝ: " ﺑﻞ ﻟﻜﻠﻜﻢ» ". Dari Qurrah bin Iyas bahwa seseorang datang kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam membawa anak. Nabi berkata: "Apakah Engkau mencintai anakmu?" Ia menjawab: "Ya, wahai Rasulullah". Nabi bersabda: "Semoga Allah mencintaimu seperti Allah mencintainya". Kemudian Nabi shalallahu alaihi wasallam tidak menjumpai dia. Nabi bertanya: Bagaimana Fulan bin Fulan? Mereka menjawab: "Anaknya meninggal". Lalu Nabi bersabda kepada bapaknya: "Tidakkah Engkau senang untuk memasuki pintu surga dan anakmu telah menunggumu?" Yang lain bertanya: "Apakah ini khusus untuk dia atau untuk kami semua?" Nabi bersabda: "Bahkan untuk kalian semua" ﺭﻭاﻩ ﺃﺣﻤﺪ، ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ ﺭﺟﺎﻝ اﻟﺼﺤﻴﺢ HR Ahmad, para perawinya adalah perawi hadis sahih Juga dipertegas oleh para sahabat diantaranya Ummul Mukminin, Hafsah binti Sayidina Umar: ﺃﺭاﺩ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺘﺰﻭﺝ ﺑﻌﺪ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻓﻘﺎﻟﺖ ﺣﻔﺼﺔ: «ﺃﻱ ﺃﺧﻲ ﺗﺰﻭﺝ ﻓﺈﻥ ﻭﻟﺪ ﻟﻚ ﻓﻤﺎﺕ ﻛﺎﻥ ﻟﻚ ﻓﺮﻃﺎ، ﻭﺇﻥ ﺑﻘﻲ ﺩﻋﺎ ﻟﻚ ﺑﺨﻴﺮ» Ibnu Umar ingin tidak menikah setelah wafatnya Nabi shalallahu alaihi wasallam. Lalu Hafsah berkata: "Wahai saudaraku, menikahlah. Jika engkau punya anak lalu wafat, maka anak itu menjadi tabungan bagimu. Jika anak itu hidup maka akan mendoakan kebaikan untuk mu" (Mushannaf Abdirrazzaq) Oleh : Ustadz Ma'ruf Khozin Sumber : hujjah NU

Menikah adalah Tabungan Surga

Menikah adalah Tabungan Surga ﻓﺮﻁ ﺑﻔﺘﺤﺘﻴﻦ ﻭﻣﻨﻪ ﻳﻘﺎﻝ ﻟﻠﻄﻔﻞ اﻟﻤﻴﺖ اﻟﻠﻬﻢ اﺟﻌﻠﻪ ﻓﺮﻃﺎ ﺃﻱ ﺃﺟﺮا ﻣﺘﻘﺪﻣﺎ Anak yang wafat sebelum usia baligh disebut farathan, yaitu pahala...
Kajian Al Hikam : "Bersandarlah pada Allah Jangan pada amal” مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزَّ لــَـلِ "Di antara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya, adalah kurangnya ar-raja’ (rasa harap kepada rahmat Allah) di sisi alam yang fana." Hikam (baca juga : Rahasia Kekasih Allah ) Syarah Ar-raja adalah istilah khusus dalam terminologi agama, yang bermakna pengharapan kepada Allah Ta'ala. Pasal Al-Hikam yang pertama ini bukan ditujukan ketika seseorang berbuat salah, gagal atau melakukan dosa. Karena ar-rajalebih menyifati orang-orang yang mengharapkan kedekatan dengan Allah, untuk taqarrub. Kalimat "wujuudi zalal", artinya segala wujud yang akan hancur, alam fana. Menunjukkan seseorang yang hidup di dunia dan masih terikat oleh alam hawa nafsu dan alam syahwat. Itu semua adalah wujud al-zalal, wujud yang akan musnah. Seorang mukmin yang kuat tauhidnya, sekalipun masih hidup di dunia dan terikat pada semua wujud yang fana, namun harapannya semata kepada Allah Ta'ala. Seorang mukmin yang kuat tauhidnya, sekalipun masih hidup di dunia dan terikat pada semua wujud yang fana, namun harapannya semata kepada Allah Ta'ala Jika kita berharap akan rahmat-Nya, maka kita tidak akan menggantungkan harapan kepada amal-amal kita, baik itu besar atau pun kecil. Dan hal yang paling mahal dalam suluk adalah hati, yaitu apa yang dicarinya dalam hidup. Dunia ini akan menguji sejauh mana kualitas raja (harap) kita kepada Allah Ta’ala. Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah seseorang masuk surga dengan amalnya.” Ditanyakan, “Sekalipun engkau wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Sekalipun saya, hanya saja Allah telah memberikan rahmat kepadaku.” – H.R. Bukhari dan Muslim Orang yang melakukan amal ibadah itu pasti punya pengharapan kepada Alloh, meminta kepada Alloh supaya hasil pengharapannya, akan tetapi jangan sampai orang beramal itu bergantung pada amalnya, karena hakikatnya yang menggerakkan amal ibadah itu Alloh,. sehingga apabila terjadi kesalahan, seperti, terlanjur melakukan maksiat, atau meninggalkan ibadah rutinnya, ia merasa putus asa dan berkurang pengharapannya kepada Alloh. sehingga apabila berkurang pengharapan kepada rohmat Alloh, maka amalnyapuan akan berkurang dan akhirnya berhenti beramal. seharusnya dalam beramal itu semua dikehendaki dan dijalankan oleh Alloh. sedangkan dirikita hanya sebagai media berlakunya Qudrat Alloh. Kalimat: Laa ilaha illalloh. Tidak ada Tuhan, berarti tidak ada tempat bersandar, berlindung, berharap kecuali Alloh, tidak ada yang menghidupkan dan mematikan, tidak ada yang memberi dan menolak melainkan Alloh. Pada dasarnya syari’at menyuruh kita berusaha dan beramal. Sedang hakikat syari’at melarang kita menyandarkan diri pada amal dan usaha itu, supaya tetap bersandar pada karunia dan rahmat Alloh subhanahu wata’ala. Apabila kita dilarang menyekutukan Alloh dengan berhala, batu, kayu, pohon, kuburan, binatang dan manusia, maka janganlah menyekutukan Allah dengan kekuatan diri sendiri, seakan-akan merasa sudah cukup kuat dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah, tanpa rahmat, taufik, hidayat dan karunia Allah subhanahu wata’ala. Oleh : Dr. KH. Ali Abdillah, MA (al-Rabbani Islamic College)

Kajian Al Hikam (1) : Bersandarlah pada Allah

Kajian Al Hikam : "Bersandarlah pada Allah Jangan pada amal” مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزَّ لــَـلِ "Di antara tanda-tanda orang yang...
Tuntunan & Adab Bergaul dengan istri : Kasihi dia seperti mengasihi kedua orang tuamu* Oleh : Ustadz Hamzah Alfarisi -“Menikah itu bukan untuk saling memiliki, karena pada hakikatnya memiliki itu cenderung menjajah. Namun lebih tepatnya menikah itu untuk saling menjaga”- Mencermati quote di atas, lebih tepatnya tujuan menikah adalah untuk saling menjaga, tidak untuk saling memiliki. Menjaga disini yang dimaksud adalah menjaga dari gangguan manusia sampai menjaga dari siksaan api neraka. Sedangkan yang dimaksud dengan menjajah adalah ada pihak yang diuntungkan dan dirugikan. Rasa memiliki itulah yang terkadang membuat penjalin hubungan cenderung mengekang pasangannya. Sehingga buanglah jauh-jauh rasa memiliki dan gantilah dengan rasa tanggung jawab untuk menjaga. Karena hakikatnya semua adalah milik Allah, tugas kita adalah hanya untuk menjaga sebagai representasi wakil Allah di muka bumi (khalifatullah fil ardhi). Sebagai seorang suami hendaknya mengerti tata cara/adab ber-muasyaroh (bercengkrama) dengan istrinya, apalagi menyangkut keharmonisan rumah tangganya. Sehingga adab-adab ber-muasyaroh ini mutlak diperlukan bagi pasangan suami istri untuk menghindari perkara yang dibenci oleh Allah, yaitu perceraian. Tidak hanya suami, namun istri juga wajib tahu akan hal ini. Berperilaku yang baik (husnul khulqi) merupakan salah satu adab bercengkrama dengan istri. Yang tak kalah penting yaitu menahan rasa sakit hati akibat perkataan yang menyakitkan ataupun sebab lain dengan cara melupakan rasa sakit itu dalam hatinya. Tindakan itu hendaknya dilakukan atas dasar rasa kasih dan sayang kepada istri. Hendaknya bagi suami memahami bahwa perempuan khususnya istrinya jika telah dikuasi oleh syahwat (emosi) makan akan menutup cara berfikir logisnya, seperti dalam hadist shohih disebutkan bahwa perempuan itu kurang akalnya. Sungguh Allah SWT telah memiripkan berperilaku baik kepada istri seperti berperilaku baik kepada kedua orang tua. Firman Allah “…dan pergaulilah keduanya (kedua orang tua) di dunia dengan baik (ma’ruf) ..” (Qs. Luqman: 15) Dalam ayat lain Allah berfirman tentang perempuan : “ … dan pergaulilah mereka (istri) dengan baik (ma’ruf) …” (Qs. An-Nisa: 19) “ … dan bagi perempuan seperti perkara yang bagi mereka baik (ma’ruf) ..” (Qs. Al-baqarah: 228) “…dan mereka mengambil dari kalian janji yang berat (mitsaqan gholidza)..” (Qs. An-Nisa: 21) Menurut Muhajid dalam menafsirkan kata “janji yang berat” adalah kalimat nikah yang menghalalkan baginya bersetubuh yang dinukil oleh Thobari dalam kitab “al-Manasik”. “…maka ketika mereka (istri) menikam kalian, maka janganlah mecari jalan..” (An-Nisa: 34). Maksud dari ayat ini adalah mencari-cari jalan untuk berpisah dan tidak pula caci maki yang hukumnya makruh. Kemudian, apabila ia berhasil meredam ini, maka ia masuk dalam golongan Nafsul Muthmainnah (diri yang tenang). *Disarikan dari kitab Adaab al-Mu’asyaroh baina al-Zaujaini li tahshili al-Sa’adah al-Zaujiyyah al-haqiqiyyah

Nasehat Pernikahan #1: Kasihi dia seperti mengasihi kedua orang tuamu*

Tuntunan dan Adab Bergaul dengan istri : Kasihi dia seperti mengasihi kedua orang tuamu* -“Menikah itu bukan untuk saling memiliki, karena pada hakikatnya memiliki itu...