Kajian Islam

Kajian Islam (Kalam ulama). Siapakah diri kita hakikatnya ? Ada sebuah hadist qudsy yang artinya “Barangsiapa mengenal dirinya, maka sungguh ia telah mengenal Tuhannya”. Berdasarkan hadist di atas, sebagai makhluk Tuhan, sudah seharusnya kita mengenal betul siapakah Tuhan kita ? Namun, sebelum mengenal Tuhan, kita harus mengenal diri kita secara hakiki terlebih dahulu. Sehingga muncul pertanyaan, siapakah diri kita hakikatnya ? Untuk menjawab pertanyaan itu. Mari simak percakapan berikut, Umar : Assalamu alaikum, bakar Zaid : Waalaikum salam, umar Umar : Zaid, aku mau tanya sama kamu Ziad : Boleh, mau tanya apa emang ? Umar : Sebenarnya yang namanya Zaid itu mana sih ? Ziad : ini saya, zaid (sambil memegang dadanya) Umar : Serius, itu zaid ? Kalau kataku sih bukan, itu yang kamu tunjuk adalah dadamu Zaid : Bukan itu maksudku, mar ! Dasar kamu mah Umar : Lha terus bagaimana maksudmu ? Zaid : ini saya zaid (sambil menunjuk seluruh tubuhnya) Umar : Serius, itu kamu zaid ? kalau kataku sih bukan , itu badanmu Zaid : emmmm, maksudku ......(sambil mikir) Umar : Baik, coba simak penjelasanku baik-baik ya....... Coba kamu lihat Al-Qur'an QS. Al-insan (76) : 1 : "Bukankah telah datang atas insan suatu masa dari waktu, yang pada masa itu, ia belum menjadi sesuatu yang dapat dikenali?" "...Bukankah Aku Tuhanmu ? Betul Engkau (Tuhan kami), Kami menjadi saksi..." (QS. Al-A'raf (7): 172) Dalam ayat tersebut, Allah SWT telah menerangkan bahwa kita dahulu hakikatnya (pada zaman azaly) sudah ada, tapi kita tapi belum dapat dikenali. Disisi yang lain, Kita juga telah bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan kita. (Dengan muka kaget Zaid menyela) (Baca Juga : Kisah Sufi) Ziad : Bagaimana mungkin, kita diciptakan tapi belum dikenali? Bahkan sudah bersaksi. Memangnya kita diciptakan dalam bentuk apa ? dan saya kok gak ingat ya... Umar : Pertanyaan bagus, Mar. Kamu cerdas, aku lanjutin dulu ya. Dalam surat dan ayat yang lain Allah berfirman : "Sesungguhnya Aku menciptakan mansia dari sari pati tanah. ketika sudah Kusempurnakan lalu Kutiupkan ke dalamnya sebagian dari ruh-Ku (ruh koleksi Ku)..." (QS Shod : 71-72) "Demi diri dan apa-apa yang menyempurnakannya" (QS As-Syams (91) : 7) Sehingga dari ayat Alquran di atas dapat kita hubungkan bahwa hakikatnya kita sudah diciptakan dalam masa dari waktu (ini yang disebut zaman azaly, zaman ini diakhiri saat kita lahir di dunia) dan sudah bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan kita. Setelah itu, Allah menciptakan tubuh berupa basyar dari sari pati tanah (komponen kimia, Carbon, Hidrogen, Oksigen dll). Nah, yang kamu tunjukkan tadi itu adalah basyar. Kemudian Allah meniupkan sebagin dari ruh koleksi Allah kedalam tubuh tersebut. Inilah yang disebut sebagai insan kamil (manusia sempurna) yang terdiri ruh dan basyar. Apabila manusia sudah meninggal dan dikuburkan, maka basyar akan dihancurkan oleh pengurai. Dan ruh akan akan menghadap Allah. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa manusia hakikatnya itu adalah berbentuk Ruh. Zaid : oh, gitu ya ? Umar : yup, benar. Namun sebagian besar manusia lupa dan tidak menyadarinya kalau mereka sebenarnya adalah mahluk ruhani. Sehingga mereka sibuk mengurusi tubuhnya saja (basyar), namun ruhnya tidak dirawat. Maka sudah wajar mereka tidak mengenal Tuhannya seperti hadist qudsy : "Barang siapa telah mengenal dirinya, Maka ia telah mengenal Tuhannya" Ziad : Memang cara merawat ruh itu bagaimana ? Umar : Wah itu panjang lagi ceritanya, aku jelasin kalau ketemu lagi aja ya .... hehehe Zaid : Yah, dasar kamu. Oke dah ditunggu.......... OLeh : Hamzah Alfarisi

Siapakah Diri Kita Hakikatnya ?

Kajian Islam (Kalam ulama). Siapakah diri kita hakikatnya ? Ada sebuah hadist qudsy yang artinya “Barangsiapa mengenal dirinya, maka sungguh ia telah mengenal Tuhannya”. Berdasarkan hadist...
Definisi dan Contoh Bid'ah Hasanah #1 : Hal-hal baru yg diperbuat oleh imam Malik #الْبِدْعَةُالْـمَحْمُودَة: #بَعْضُ مُحْدَثَاتِ الْإِمَامِ مَالِك؟! أَوَّلاً: قَالَ الْقَاضِي ابْنُ الْعَرَبِي (٥٤٣ ه‍.) عِنْدَ الكَلاَمِ عَلَى قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى﴾[طه:12] فِي أَحْكَامِهِ، مَا نَصُّهُ: ((إِنْ قُلْنَا: إِنَّ خَلْعَ الْنَّعْلَيْنِ كَانَ #لِيَنَالَ_بَرَكَةَ_الْتَّقْدِيسِ فَمَا أَجْدَرَهُ بِالْصِّحَّةِ، فَقَدْ اسْتَحَقَّ الْتَّنْزِيهَ عَنْ الْنَّعْلِ، وَاسْتَحَقَّ الْوَاطِئُ #الْتَّبَرُّكَ_بِالْمُبَاشَرَةِ، كَمَا لَا تُدْخَلُ الْكَعْبَةَ بِنَعْلَيْنِ، وَكَمَا كَانَ مَالِكُ #لَا_يَرْكَبُ_دَابَّةً_بِالْمَدِينَةِ، بَرًّا #بِتُرْبَتِهَا الْمُحْتَوِيَةِ عَلَى #الْأَعْظُمِ_الْشَّرِيفَةِ_وَالْجُثَّةِ_الْكَرِيمَةِ))(1) أَحْدَثَ إِمَام دَار الْـهِجْرَة سَيِّدنَا مَالِك بْن أَنَس طَرِيقَةً مُخْتَرَعَةً لَـمْ تُعْهَد قَبْلُ فِي تَعْظِيمِ حَضْرَةِ سَيِّدنَا الْـمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّم وَهُوَ فِي قَبْرِهِ الْشَّرِيفِ! 1. Imam Ibnul Araby (543 H) saat menafsirkan firman Allah, "Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu maka lepaskanlah kedua sendalmu, sesungguhnya engkau ada di lembah Thuwa yg mulia" (QS. Thoha: 12) meja beliau menyatakan, 'Jika kita katakan bahwa tujuan melepas sendal agar mendapatkan keberkahan memuliakan tempat suci maka pasti benar; tempat itu patut disucikan dan orang yg menginjakkan kakinya (tanpa sendal) mendapat berkah karena fisiknya langsung menempel, sebagaimana tdk etis masuk masjid dg bersendal dan seperti halnya IMAM MALIK YANG TIDAK MAU MENAIKI KENDARAAN DI MADINAH DEMI MEMULIAKAN TANAHNYA YANG DITEMPATI JASAD SUCI RASULULLAH SAW. * Imam Malik melakukan bid'ah (membuat model baru) yg gak ada sebelumnya dlm pengagungan Rosululloh shallallahu alaihi wasallam; dimana beliau tenang di kuburnya. ثَانِيًا: قَالَ الْقَاضِي عِيَاض ( ٥٤٤ ه‍.): ((كَانَ مَالِكُ #إِذَا_دَخَلَ_بَيْتَهُ قَالَ: "مَا شَاءَ اللهُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَّ بِاللهِ"، فَسُئِلَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ: قَالَ اللهُ تَعَالىَ: ﴿وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ﴾[الكهف:39] الآيَة، وَجَنَّتهُ: بَيْتهُ. وَقِيلَ: إِنَّ ذَلِكَ كَانَ عَلىَ بَابِ مَالِك مَكْتُوبًا، يُرِيدُ لِيَتَذَكَّرَ بِرُؤْيَتِهِ قَوْل ذَلِكَ مَتَى دَخَلَ))(2) اِستَنْبَطَ الْإِمَام مَالِك ذِكْراً مُحْدَثًا انْطِلاَقًا مِنْ الآيَةِ الْكَرِيمَةِ، وَقَيَّدَهُ بِكَيْفِيَّةٍ مُحْدَثَةٍ لَـمْ تُعْهَد مِنْ قَبْلُ! 2. Al-Qadhi Ibnu Iyadh (544 H) berkata, 'SAAT IMAM MALIK MASUK RUMAH PASTI MEMBACA: "مَا شَاءَ اللهُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَّ بِاللهِ" Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu “MAA SYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH”‘ (QS. Al Kahfi: 39). Bahwa Jannah di situ adalah rumah. Dikatakan bahwa demi mengamalkan ini beliau menuliskannya dan menempelkannya di pintu rumahnya. * Nampak sekali imam Malik membuat doa baru yg digali dari ayat Alquran dan juga mengamalkannya dg cara baru yg tak ada sebelumnya. ثَالِثًا: قَالَ الْقَاضِي عِيَاض ( ٥٤٤ ه‍.): ((قَالَ الْزُّبَير بن حَبِيبٍ: كُنْتُ أَرَى مَالِكًا إِذَا دَخَلَ الْشَّهْر #أَحْيَا_أَوَّلَ_لَيْلةٍ_مِنْهُ، وَكُنْتُ أَظُنُّهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ لِيَفْتَتِحَ بِهِ الْشَّهْر. وَقَالَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ مَالِكٍ: كَانَ مَالِكُ يُصَلِّي كُلَّ لَيْلَةٍ حِزْبَهُ، فَإِذَا كَانَتْ لَيْلَة الْـجُمُعَة #أَحْيَاهَا_كُلَّهَا))(3) اِلْتَزَمَ إِمَام دَار الْـهِجْرَة مَالِك بْن أَنَس إِحْيَاء لَيْلَةٍ بِعَيْنِهَا بِالْعِبَادَةِ، ولاَ دَلِيل بِعَيْنِهِ عَلَى هَذَا الْتَّخْصِيص بِهَذِهِ الْكَيْفِيَّةِ مِنْ غَيْر عُمُومَاتِ الْنُّصُوص! 3. Al-Qadhi Iyadh (544 H) berkata, "As-Zubai bin Habib berkata, 'Aku menyaksikan sendiri bahwa setiap pergantian bulan imam Malik mesti begadang menghidupkan malam pertama hari pertama. Aku meyakini beliau melakukan itu agar berkah memulai masuk bulan baru. Sementara Fathimah bin imam Malik berkata, 'Imam Malik senantiasa melakukan shalat tengah malam rutinannya. Jika bertepatan malam Jum'at beliau menghidupkannya semalam suntuk'. * IMAM Malik merutinkan begadang malam hari pertama setiap bulan dg ibadah. Tentu ini tdk didukung dalil spesifik rutinan dan tata cara ini selain alil jeumumamn Nash. رَابِعًا: قَالَ الْقَاضِي عِيَاض ( ٥٤٤ ه‍.): ((كَانَ مَالِكُ #إِذَا_جَلَسَ_لِلْحَدِيثِ_تَوَضَّأَ، وَجَلَسَ عَلَى صَدْرِ فِرَاشِهِ، وَسَرَّحَ لِـحْيَتَهُ، وَتَـمَكَّنَ فِي جُلُوسِهِ بِوَقَارٍ وَهَيْبَةٍ، ثُمَّ حَدَّثَ. فَقِيلَ لَهُ فِي ذَلِكَ، فَقَالَ: أُحِبُّ أَنْ أُعَظِّمَ حَدِيثَ رَسُول اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ [وَآلِهِ] وَسَلَّمَ #وَلاَ_أُحَدِّث_بِهِ_إِلاَّ_عَلَى_طَهَارَةٍ))(4) أَحْدَثَ إِمَام دَار الـهِجْرَة سَيِّدنَا الْإِمَام مَالِك بْن أَنَس كَيْفِيَّةً جَدِيدَةً لَـمْ تَرِد فِي تَعْظِيم حَدِيث رَسُول اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّم!، والْتَزمَ الْتَّوْقِيتَ لِعِبَادَةِ الْوُضُوءِ بِصُورَةٍ مُحْدَثَةٍ!. 4. Al-Qadhi Iyadh (544 H) berkata, 'Imam Malik jika hendak mengajar hadits maka berwudhu sebelumnya, duduk di bagian tengah Sofanya, menyisir jenggotnya, memantapkan posisi duduknya, lalu memulai pelajaran hadits. Ritual ini ditanyakan kpd beliau dan beliau menjawab, 'Aku ingin mengagungkan hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Dan aku takkan memulai mengajarkan hadits kecuali aku dlm kondisi suci'. * IMAM MALIK MEMBUAT MODEL BARU DALAM MENGAGUNGKAN HADITS YANG TAK ADA CONTOHNYA. BAHKAN MENGKREASI IBADAH WUDHU DLM SAAT TERTENTU SECARA RUTIN وَهَذِهِ الْأَفْعَال: "بِدْعَة ضَلاَلَة!" أَوْ "بِدْعَة شِرْكِيَّة!" وفْق الْـمَنظُور "الجار الجنب!" الَّذِي مَا بَرِحَ يُسَخِّرُ للاِنْتِقَاص مِنْ شَأنِ تَعْظِيم الْـمُسْلِمِينَ لِقَدْرِ سَيِّد الـخَلْق وَحَبِيبِ الْـحَقِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وآلهِ وسَلَّم!، تَحْتَ شَمَّاعَة "مُحَارَبَة الغُلُوِّ!"...الخ؟!...الخ Perbuatan-perbuatan ini adalah bid'ah sesat dalam kacamata 'Tetangga sebelah'. Mereka terus mencerca cara kaum muslimin memuliakan dan mengangkat derajat manusia pilihan shallallahu alaihi wasallam dg propaganda 'memerangi ghuluw' .... ___________ (١) أَحْكَامُ الْقُرْآنِ لِلْقَاضِي اِبن الْعَرَبِي الْإِشْبِيلِي ( ٣ / ٢٥٤ )، رَاجَع أُصُولَهُ وَخَرَّج أَحَادِيثَهُ وعَلَّقَ عَلَيْهِ: مُحَمَّد عَبْد القَادِر عَطَا، دَارُ الكُتُبِ الْعِلْمِيَّةِ-لُبْنَان، الْطَّبْعَة الْثَّانِيَة: ١٤٢٤ ه‍ - ٢٠٠٣ م. (٢) تَرْتِيبُ الْـمَدَارِك ( ١ / ١٣٠ )، تَحْقِيق: مُحَمَّد بَنْ تَاوِيت الْطَّنْجِي، وَزَارة الأَوْقَاف وَالْشُّؤُون الْإِسْلاَمِيَّة: الْـمَمْلَكَة الـْمَغْرِبِيَّة، الْطَّبْعَة الْثَّانِيَة: ١٤٠٣ه‍. - ١٩٨٣ م. (٣) تَرْتِيبُ الْـمَدَارِك، ( ٢ / ٥٠ )، تَحْقِيق: معَبْد القَادِر الصَّحْرَاوِي، وَزَارة الأَوْقَاف والشُّؤُون الإِسْلاَمِيَّة: الـمَمْلَكَة الـمَغْرِبِيَّة، الطَّبْعَة الثَّانِيَة : ١٤٠٣ه‍. - ١٩٨٣ م. (٤) تَرْتِيبُ الـمَدَارك ( ٢ / ١٥ )، تَحْقِيق: معَبْد القَادِر الصَّحْرَاوِي، وَزَارة الأَوْقَاف والشُّؤُون الإِسْلاَمِيَّة: الـمَمْلَكَة الـمَغْرِبِيَّة، الطَّبْعَة الثَّانِيَة: ١٤٠٣ه‍. - ١٩٨٣ م.

Definisi dan Contoh Bid’ah Hasanah #1 : Hal-hal baru yg diperbuat oleh imam Malik

Definisi dan Contoh Bid'ah Hasanah #1 : Hal-hal baru yg diperbuat oleh imam Malik #الْبِدْعَةُالْـمَحْمُودَة: #بَعْضُ مُحْدَثَاتِ الْإِمَامِ مَالِك؟! أَوَّلاً: قَالَ الْقَاضِي ابْنُ الْعَرَبِي (٥٤٣ ه‍.) عِنْدَ...

Mengagungkan Ilmu dan Ahli Ilmu

1. Mengagungkan ilmu Seorang pelajar tidak akan memperoleh kesuksesan ilmu dan tidak pula ilmunya dapat bermanfaat, selain jika mau mengagungkan ilmu itu sendiri, ahli ilmu,...
  Sholawat #02: "Inna Fatahna"Maulid Ad-Dibai  بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ   Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang   إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا ، لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا ، وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًاعَزِيزًا   Sesungguhnya Kami (Allah) telah bukakan (memberikan kemenangan) kepada kamu, pembukaan (kemenangan) yang nyata.    Karena Alloh akan mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmat-Nya (Alloh) kepadamu, dan memberikan petunjuk padamu jalan yang lurus.   Dan Alloh akan memberikan pertolongan kepadamu dengan pertolongan yang nyata. (al-Fath: 1-3)   لَقَدْ جَآءَ كُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ   Telah datang kepada kamu seorang utusan Allah dari jenis kamu sendiri, ia merasakan apa penderitaanmu, lagi sangat mengharapkan akan keselamatanmu, kepada orang yang beriman senantiasa merasa kasih sayang.   إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَه‘ يُصَلُّوْنَ عَلىٰ النَّبِيِّ يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ امَٰنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا   Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya selalu bersholawat untuk Nabi, wahai orang-orang yang beriman! Bersholawat dan salamlah untuknya (Nabi Muhammad saw).     .******************************. baca juga tulisan sebelumnya Teks Maulid Ad-Dibai : Ya Rabbi Sholli Ala Muhammad   Keterangan tambahan:   Diriwayatkan dalam Shohih Al Bukhori, shohih Muslim dan lainnya, ketika Perjanjian Hudaibiyah pada tahun ke-6 H bulan Dzulqo’dah, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam keluar menuju Makkah Al Mukarromah bersama 1500 kaum muslimin muslimat dengan berpakaian ihrom, dan setelah mendekati kota Makkah, orang kuffar quraisy telah melihat bahwa nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam datang bersama 1500 orang muslimin menuju ke Makkah dan mereka pun mulai waspada, setelah kabar itu sampai kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dan melihat kaum quraisy tidak menerima mereka secara damai, maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dan para pengikutnya mencari jalan lain untuk menuju Makkah namun tetap saja kaum quraisy mengetahuinya dan menghalangi mereka.   Dan dalam perjalanan itu kaum muslimin kehabisan air, teriwayatkan di dalam Shohihul Bukhori bahwa ketika itu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam meminta air kemudian para sahabat membawakan air dalam bejana yang hanya tinggal sedikit, lalu para sahabat berkata bahwa persediaan air habis dan semua sumber air yangada disekitar pun kering, maka Rosululloh memasukkan tangan beliau ke dalam bejana yang berisi air sedikit itu lalu keluarlah air dari jari-jari beliau shollallohu ‘alaihi wasallam, kemudian mereka mulai minum sepuasnya dan berwudhu’ dari air tersebut, yang mana jumlah mereka di saat itu adalah 1500 orang, dan teriwayatkan dalam Shohih Al Bukhori bahwa jika jumlah mereka di saat itu adalah 100.000 orang maka air itu pun akan mencukupi untuk semua, karena airkeluar dari jari-jari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dengan derasnya dan tanpa berhenti.   Demikian mu’jizat nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, karena beliau tidak ingin melihat orang yang dicintainya kesusahan. Dan di saat itu datanglah Urwah sebagai utusan kaum quraisy sebelum ia masuk Islam, dia datang untuk membuat perjanjian yang disebut dengan perjanjian Hudaibiyah, maka Urwah berbicara kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, dan setiap kali Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam berbicara, urwah selalu memegang jenggot beliau shollallohu ‘alaihi wasallam, karena merasa geram ingin mencelakai Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, di saat itu ada salah seorang sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam yang berada di samping Rosululloh selalu memukul tangan Urwah setiap kali ingin memegang janggut Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam untuk berlaku sopan dihadapan beliau shollallohu ‘alaihi wasallam.   Dan diriwayatkan bahwa ketika Urwah berkata-kata, tidak satupun dari para sahabat yang mengangkat kepala untuk memandang wajah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam karena penghormatan mereka terhadap beliau shollallohu ‘alaihi wasallam.   Dan ketika Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam berwudhu, para sahabat berebut mengambil bekas air wudhu’ beliau shollallohu ‘alaihi wasallam, kemudian mengusapkan ke muka dan ke tangan mereka, adapun mereka yang tidak mendapatkan bagian air bekas wudhu’ Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam maka mereka mengambil dari bekas sahabat yang lain kemudian mengusapkan ke wajah mereka, dan air bekas wudhu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam itu wangi.   Diriwayatkan dalam kitab As-Syifaa oleh Al-Imam Qodhi ‘Iyadh bahwa ketika Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam melewati sebuah sumur, lalu para sahabat berkata bahwa air di sumur itu rasanya pahit, maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam mengatakan : “tidak demikian, air di sumur ini rasanya enak dan baunya wangi”, kemudian Rosululloh meminta untuk diambilkan air dari sumur itu kemudian beliau berkumur dengan air itu lalu memuntahkan air itu ke dalam sumur, dan ternyata air itu baunya lebih wangi daripada bau misik, karena telah tercampur dengan air ludah sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Sungguh segala sesuatu yang tersentuh atau disentuh oleh sang nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam maka akan dimuliakan oleh Alloh subhanahu wata’ala, maka terlebih lagi jika itu adalah hati yang mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.   Maka di saat itu Suhail yang juga merupakan utusan musyrikin membuat perjanjian bersama Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, kemudian Rosululloh memerintahkan kepada sayyidina Ali Kw untuk memulai dan menuliskan “Bismillahirrohmaanirrohiim”, namun Suhail menolak dan meminta untuk menulis “Bismika Allohumma”, Rosululloh terdiam dan kemudian memerintahkan untuk mengikuti kemauan musyrikin akan hal itu, lalu Rosululloh memerintahkan untuk menulis “Min Muhammad Rosululloh (dari Muhammad utusan Alloh)”, maka kaum musyrikin tidak menerimanya dan meminta untuk menghapus kalimat “Rosululloh”, karena mereka tidak meyakini bahwa nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam adalah Rosululloh, namun tangan sayyidina Ali tidak mampu untuk menghapusnya kemudian Rosululloh sendiri yang menghapusnya seraya berkata :   وَاللهِ إِنِّيْ لَرَسُوْلُ اللهِ وَإِنْ كَذَّبْتُمُوْنِيْ اُكْتُبْ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ   “ Demi Alloh, sungguh aku adalah utusan Alloh walaupun kalian mengingkariku, tulislah -Muhammad bin Abdillah- “. Kemudian ditulislah : “Min Muhammad bin Abdillah (dari Muhammad putra Abdulloh)”. Dan butir perjanjian berikutnya amat mengagetkan muslimin, yaitu: jika ada orang muslim yang masuk Islam dari Makkah dan lari ke Madinah, maka harus dikembalikan kepada kaum musyrikin quraisy, para sahabat tidak menerima hal itu namun Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam hanya terdiam, para sahabat kebingungan, dan dalam keadaan seperti itu datanglah Jandal bin Suhal dan berkata: “Aku datang dari Makkah untuk masuk Islam”, maka Suhail berkata : “dialah orang yang pertama kali yang masuk Islam dan harus dikembalikan kepada kaum musyrikin”, lalu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam meminta kepada Suhail agar kaum muslimin tidak mengembalikannya ke Makkah, hingga tiga kali Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam memohon kepada Suhail namun Suhail tetap menolaknya.   Kemudian datang sayyidina Umar bin Khottob RA kepada Rosululloh, dan berkata : “wahai Rosululloh, bukankah Engkau adalah benar-benar utusan Alloh?”, Rosululloh menjawab : “iya betul aku adalah utusan Alloh”, kemudian sayyidina Umar berkata : “Bukankah kita kaum muslimin berada pada kebenaran dan mereka dalam kesesatan?”, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam menjawab : “iya benar”, sayyidina Umar berkata : “lantas mengapa kita harus menghinakan diri kepada orang-orang yang dalam kebathilan sedangkan kita dalam kebenaran?”, kemudian Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :   إِنِّيْ رَسُوْلُ اللهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِيَ اللهُ أَبَدًا   “ Sungguh aku adalah utusan Alloh, dan Alloh tidak akan mengecewakanku selama-lamanya”   Kemudian sayyidina Umar bin Khottob RA pun terdiam lalu mendatangi sayyidina Abu Bakr As Shiddiq dan menceritakan perbincangannya bersama Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam yang kemudian di akhir percakapan beliau shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:   إِنِّيْ رَسُوْلُ اللهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِيَ اللهُ أَبَدًا   “ Sungguh aku adalah utusan Alloh, dan Alloh tidak akan mengecewakanku selama-lamanya”   Kemudian sayyidina Abu Bakr As Shiddiq berkata : “jika demikian, maka sungguh beliau shollallohu ‘alaihi wasallam adalah utusan Alloh, dan Alloh tidak akan mengecewakannya”, maka sayyidina Umar bin Khottob pun terdiam mendengar jawaban sayyidina Abu Bakr As Shiddiq RA.   Setelah beberapa waktu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam keluar dari kemahnya dan beliau shollallohu ‘alaihi wasallam memerintahkan para sahabat untuk memotong rambut dan menyembelih hewan qurban, dan setelah itu beliau dan kaum muslimin kembali ke Madinah Al Munawwaroh tanpa memasuki Makkah, namun para sahabat tidak ada yang melaksanakan perintah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam hingga setelah beliau menerima pendapat Ummu Salamah untuk memulai mencukur rambut beliau dan menyembelih hewan qurban, kemudian para sahabat pun dari Muhajirin dan Anshar mengikuti langkah beliau karena cintanya kepada beliau shollallohu ‘alaihi wasallam.   Dan teriwayatkan, bahwa ketika Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam memotong rambut, tidak sehelai rambut pun yang terjatuh ke tanah kecuali telah berada di genggaman tangan para sahabat. Dan diriwayatkan dalam Shohih Al Bukhori bahwa salah seorang sahabat menyimpan sehelai rambut Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam yang berwarna hitam kemerah-merahan kemudian beliau menceritakan pada sahabat yang lainnya, maka sahabat itu berkata :   لِأَنْ تَكُوْنَ عِنْدِيْ شَعْرَةٌ مِنْهُ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا   “Jika aku memiliki sehelai dari rambut beliau (Rosululloh) hal itu lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya ”   Demikian cintanya para sahabat kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, dan setelah mereka selesai memotong rambut serta menyembelih hewan qurban, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam mengumpulkan kaum muslimin kemudian membai’at mereka di bawah sebuah pohon, sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala :   لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا   “Sesungguhnya Alloh telah ridho terhadap orang-orang mu'min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon , maka Alloh mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya) .” ( QS. Al Fath : 18 )   Dan firman Alloh subhanahu wata’ala dalam surat yang sama :   إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا   “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Alloh . Tangan Alloh di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Alloh, maka Alloh akan memberinya pahala yang besar.” ( QS. Al Fath : 10 )   Kemudian turun juga ayat tentang hal tersebut firman Alloh subhanahu wata’ala:   لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آَمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا   “Sesungguhnya Alloh akan membuktikan kepada Rosul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Alloh dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Alloh mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat .” (QS. Al Fath : 27 )   Setelah itu sahabat bersiap-siap untuk kembali ke Madinah Al Munawwaroh, tiba-tiba di suatu pagi sayyidina Umar bin Khottob dipanggil oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, maka sayyidina Umar bin Khottob merasa khawatir jika perkataannya kemarin telah menyinggung perasaan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam sehingga turun ayat sebagai teguran untuk sayyidina Umar bin Khattab, maka beliau datang menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, kemudian Rosululloh berkata : “Wahai Umar, semalam telah turun ayat yang mana ayat itu lebih aku cintai dari terbitnya matahari”, ayat itu adalah firman Alloh subhanahu wata’ala:   إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا ، لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا ، وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا   “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata , supaya Alloh memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni'mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Alloh menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” ( QS. Al Fath :1-3 )   Maka setelah mendengar hal itu, wajah sayyidina Umar bin Khattab menjadi cerah dan berkata : “wahai Rosululloh, apakah kelak kita akan masuk ke Masjidil Haram?”, Rosululloh menjawab : “iya betul wahai Umar”, maka dua tahun kemudian di bulan Romadhon tahun 8-H masuklah kaum muslimin ke kota Makkah dengan aman dan damai, dan tidak ada lagi kaum musyrikin yang bisa melawan atau menghalangi pasukan kaum muslimin yang berjumlah 10.000 dari golongan muhajirin dan anshor, dan tidak ada lagi gencatan senjata dan ketika itu Abu Sofyan pun kemudian menyerah dan masuk Islam dan berkata kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rosululloh, kuserahkan semua kekuasaan quraisy dan tidak ada lagi kekuasaan quraisy setelah hari ini”. Demikianlah kejadian perjanjian Hudaibiyyah pada tahun ke-6 bulan Dzulqo’dah.   Selanjutnya kita berdoa kepada Alloh subhanahu wata’ala semoga kita termasuk dalam kelompok ahli Hudaibiyyah yang bersumpah kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam untuk membantu sunnah beliau shollallohu ‘alaihi wasallam, dan cinta kepada beliau shollallohu ‘alaihi wasallam, membantu sunnah beliau shollallohu ‘alaihi wasallam semampunya, dan menjauhi larangan Alloh semampunya, serta mematuhi perintah Alloh semampunya, dan semoga Alloah subhanahu wata’ala memberikan kekuatan kepada kita untuk taat pada seluruh perintah Alloh dan untuk mampu menjauhi seluruh larangan Alloh, semoga Alloh mengangkat seluruh kesulitan kita yang sedang terjadi dan yang akan terjadi di dunia dan di akhiroh, semoga Alloh menjaga kita dari segala musibah yang akan terjadi Ya Rohman Ya Rohiim.   Wallohu a’lam.   Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi, Narasumber: Al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa pada Jalsatul Itsnain Majelis Rasulullah SAW, Senin 10 Oktober 2011. baca juga tulisan selanjutnya Kajian Maulid Diba’ #03: “Alhamdulillahil Qowiyyil Gholib”  

Inna Fatahna – Kitab Maulid Diba dan Terjemahannya (02)

KalamUlama.com - #02: "Inna Fatahna" Maulid Dibai بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ  Baca Juga : Kitab Maulid Diba dan Terjemahannya #01: Mengenal Pengarang Kitab Ad-Dibai Dengan nama Alloh yang...
kelahiran nabi

Kelahiran Nabi Muhammad Ditinjau dari Berbagai Aspeknya

kalamulama.com- Kelahiran Nabi Muhammad Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Bagaimana kita hendak menjelaskan peristiwa kelahiran Nabi Muhammad Saw? Kita punya banyak cara melakukannya lewat berbagai perspektif. Ada...

Kajian Maulid Diba’ #18 : Fabainama Huwa

اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) فَبَيْنَمَا هُوَ ذَاتَ يَوْمٍ نَاءٍ عَنِ الْأَوْطَانِ Suatu hari, ketika...

Kajian Safinah Najah #03: Mengaji Fiqh

Berkat rahmat Allah, kita bisa meneruskan pengajian online kitab Safinah. Melalui pengantar pertama, kita telah mengetahui sekilas kandungan kitab ini dan pengabdian ulama...
halal najis

Halal vs Najis

kalamulama.com- Halal vs Najis By. Ustadz Ahmad Sarwat, Lc.MA Saya nggak habis fikir melihat generasi yang hilang ini yang tidak paham-paham juga dengan ilmu agama, khususnya...

Kajian Tazkiyatun Nufus #01 : Apa Itu Akal ?

Oleh : Muhammad Azka Al-Imam al-Hafizh Ibnul Jauzi al-Hanbali (wafat 597 H) memberikan keterangan tentangnya: "Para ahli berbeda pendapat tentang apa itu akal dg perbedaan yg banyak. Sebagian...
Kalam Ulama - Saat Ziarah Kubur Menghadap Kemana? Menghadap ke kiblat ﻭﻋﻦ اﻟﺤﻜﻢ ﺑﻦ ﺣﺎﺭﺙ اﻟﺴﻠﻤﻲ، «ﺃﻧﻪ ﻏﺰا ﻣﻊ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺛﻼﺙ ﻏﺰﻭاﺕ ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﻟﻨﺎ: ﺇﺫا ﺩﻓﻨﺘﻤﻮﻧﻲ ﻭﺭﺷﺸﺘﻢ ﻋﻠﻰ ﻗﺒﺮﻱ اﻟﻤﺎء ﻓﻘﻮﻣﻮا ﻋﻠﻰ ﻗﺒﺮﻱ ﻭاﺳﺘﻘﺒﻠﻮا اﻟﻘﺒﻠﺔ ﻭاﺩﻋﻮا ﻟﻲ». Dari Hakam bin Harits As-Sulami bahwa ia berperang bersamaan dengan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sebanyak 3x perang. Hakam berkata: "Jika kalian menguburku dan menyiram kuburku dengan air, maka berdirilah di atas kuburku, menghadaplah ke kiblat dan doakan untukku" ﺭﻭاﻩ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻟﻜﺒﻴﺮ، ﻭﻓﻴﻪ ﻋﻄﻴﺔ اﻟﺪﻋﺎء، ﻭﻟﻢ ﺃﻋﺮﻓﻪ. Hadis riwayat Thabrani dalam Al-Kabir di dalamnya ada Athiyyah Dua', saya tidak tahu tentang dirinya (Majma' Az-Zawaid) .Berhadapan Dengan Wajah Mayit Imam Al-Ghazali berkata: ﻭاﻟﻤﺴﺘﺤﺐ ﻓﻲ ﺯﻳﺎﺭﺓ اﻟﻘﺒﻮﺭ ﺃﻥ ﻳﻘﻒ ﻣﺴﺘﺪﺑﺮ اﻟﻘﺒﻠﺔ ﻣﺴﺘﻘﺒﻼ ﺑﻮﺟﻬﻪ اﻟﻤﻴﺖ Dianjurkan saat ziarah kubur untuk berdiri membelakanginya kiblat seraya menghadapkan wajahnya ke arah mayit (Ihya' Ulumiddin, 4/491).

Saat Ziarah Kubur Menghadap Kemana?

Kalam Ulama - Saat Ziarah Kubur Menghadap Kemana? Menghadap ke kiblat ﻭﻋﻦ اﻟﺤﻜﻢ ﺑﻦ ﺣﺎﺭﺙ اﻟﺴﻠﻤﻲ، «ﺃﻧﻪ ﻏﺰا ﻣﻊ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ...