Kajian Islam

Kajian Maulid Diba’ #22 : Wa Kaana Sholla Allahu ‘Alaihi Wa Sallam

  اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) وَكَانَ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خَلْقًا وَخُلُقًا Adalah...

Kajian Maulid Diba’ #24 : Wa Maa ‘Asaa

اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) وَمَا عَسٰى أَنْ يُقَالَ فِيْمَنْ وَصَفَهُ الْقُرْاٰنُ Mudah-mudahan kata-kata pujian...
KalamUlama.com - Cerita Menarik Gus Baha saat Menyusun Tafsir Al Qur'an UII - Suatu ketika saat penyusunan Mushaf Universitas Islam Indonesia, saat itu KH. Ahmad Baha'uddin Nur Salim atau yang masyhur dikenal sebagai Gus Baha' ini masuk dalam tim penyusun sebagai Anggota Tim Lajnah Mushaf UII. Tim tersebut terdiri dari pakar tafsir dari Profesor, Doktor, dan ahli-ahli Al-Qur'an dari penjuru tanah air seperti Prof. Quraish Shihab, Prof. Zaini Dahlan, Prof Shohib, dan lain-lain. Mungkin hanya Gus Baha' lah pakar tafsir yang tak menyandang titel akademik karena beliau tercatat hanya menyantri di Pesantren Al-Anwar, Karangmangu, Sarang, Rembang asuhan KH. Maimun Zubair, selain kepada mengaji kepada ayahandanya KH. Nur Salim al-Hafidz, murid KH. Arwani Amin Kudus dan KH. Abdullah Salam, Kajen, Pati. Namun entah mengapa saat penyusunan Mushaf tersebut Gus Baha' lupa mencantumkan nama sahabat Abdullah bin Mas'ud dalam daftar nama sahabat yang meriwayatkan qiro'at. Dalam mushaf tersebut memang dijelaskan secara ringkas tentang sejarah penurunan, periwayatan, pembukuan dan Ulumul Qur'an lainnya. Dalam Buku Guru Orang-Orang Pesantren Terbitan Pondok Pesantren Sidogiri disebutkan, bahwa Sahabat Ibnu Mas'ud ini tergolong salah satu sahabat yang pertama kali masuk islam (as-Sabiqunal Awwalun) bersama Abu Bakar bin Abi Quhafah, Khodijah binti Khuwailid, Ali bin Abi Thalib dan lain-lain. Beliau dikenal dengan julukan Sahibu Sawadi Rasulillah (yang mengetahui rahasia Rasulullah) karena kedekatannya dengan Rasulullah SAW. Rasululah SAW sendiri juga pernah bersabda tentang sahabat yang berpostur tubuhnya pendek dan kurus dengan warna kulit sawo matang ini "Barangsiapa ingin membaca Al-Qur'an seperti ketika diturunkan, maka bacalah.sebagaimana bacaan Ibnu Ummi 'Abd (Ibnu Mas'ud). Rasulullah SAW kembali bersabda"Belajarlah baca Al-Qur'an dari empat orang: Ibnu Mas'ud, Muaz bin Jabal, Ubay bin Ka'ab dan Salim Maula Abi Huzaifah". Sampai pada malam harinya, Gus Baha' pun bermimpi bertemu dengan Abdullah bin Mas'ud. Dalam mimpi tersebut Ibnu Mas'ud menegur Gus Baha' yang tak menuliskan namanya dalam daftar sahabat yang meriwayatkan Al-Qur'an. Maka saat bangun, Gus Baha' pun segera menuliskan sahabat yang masyhur sebagai ahli qur'an ini dalam Mushaf kampus islam legendaris yang pertama diterbitkan pada tahun 1997 ini. Begitulah sosok Gus Baha', pria kelahiran Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah yang selalu berpenampilan sederhana, namun memiliki keilmuan yang amat mendalam. Ulama yang nasabnya bersambung sampai Mbah Abdurrahman Basyaiban atau Mbah Sambu yang dimakamkan di area Masjid Lasem, Rembang ini juga telah mengkhatamkan hafalan Shohih Muslim lengkap dengan matan, rawi, dan sanadnya saat masih menyantri di Sarang. Kitab Fikih seperti Fathul Mu'in, Nahwu seperti Imrithi, Alfiyah bin Malik pun juga telah dihafal luar kepala. Sampai-sampai Mbah Moen pun berkata "Santri tenan iku yo koyo baha' iku" (Santri yang sebenarnya itu ya seperti Baha'). Pengakuan kealimannya dalam bidang tafsir dan fiqh pun juga keluar dari pakar tafsir ternama penulis Tafsir Al-Misbah. Prof. Dr. Habib Quraish Shihab. Dimana pendiri Pusat Studi Al-Qur'an dan Mantan Menteri Agama ini mengatakan demikan "Sulit ditemukan orang yang sangat memahami dan hafal detail-detail Al-Qur'an hinga detail-detail fiqh yang tersirat dalam ayat-ayat Al-Qur'an seperti Pak Baha'" Sungguh betapa luas samudera keilmuan ulama' nusantara. Meskipun banyak diantara mereka yang tak sempat mengeyam pendidikan di Arab seperti KH. Ihsan Jampes (Penulis Sirojut Tholib syarh Minhajul Abidin karya Imam Ghozali), KH. Arwani Amin (Penulis Faidhul Barakat fi Qira'at Sab'ah) atau Gus Baha' di era milenial ini, namun keilmuannya diakui oleh dunia. Semoga kedepan akan muncul generasi ulama-ulama berkaliber Internasional yang lahir dari bumi Nusantara. Sleman, 10 Juli 2019 Muhammad Abid Muaffan  Santri Backpacker Nusantara Disarikan dari Gus Qowim, Dosen Institut Ilmu Al-Qur'an An-Nur, Jogjakarta saat silaturrahmi ke kediaman Gus Baha'. Tulisan Cerita Menarik Gus Baha saat Menyusun Tafsir Al Qur'an UII semoga bermanfaat.

Tafsir Al Qur’an UII : Ketika Gus Baha’ Ditegur Ibnu Mas’ud

KalamUlama.com - Cerita Menarik Gus Baha saat Menyusun Tafsir Al Qur'an UII - Suatu ketika saat penyusunan Mushaf Universitas Islam Indonesia, saat itu KH. Ahmad...

BEBERAPA KEMULIAAN DAN KEAMPUHAN DARI RATIB AL HADDAD

KalamUlama.com - BEBERAPA KEMULIAAN DAN KEAMPUHAN DARI RATIB AL HADDAD. Al-Imam Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad ra. terkenal sebagai seorang Arif billah atau waliyullah...

Kajian Maulid Diba’ #21 : Falamma Roathu Halimah

اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) فَلَمَّا رَأَتْهُ حَلِيْمَةُ سَالِمًا مِنَ الْأَهْوَالِ Maka ketika Halimah...
Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #17 : Muslim Yang Sempurna بسم الله الرحمن الرحيم كتاب الإيمان باب الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ. رواه الترمذي Artinya : Dari Abu Hurairah (w. 58 H) dia berkata, Rasulullah shalallah 'alaih wa sallam bersabda: "Muslim (yang sempurna) adalah seseorang yang selamat muslim yang lain dari gangguan lisan dan tangannya". H.R. al-Tirmidzi (w. 279 H) Baca Juga One Day One Hadits #16 : Menghargai Sesama Istifadah Hadits di atas menganjurkan bagi setiap muslim agar berbuat baik kepada muslim yang lainnya. Baik itu lewat lisan, ataupun lewat tangannya. Artinya seorang muslim harus sadar bahwa menyakiti muslim lainnya itu dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Baik itu menyakiti lewat lisan dengan ucapan-ucapan yang tidak baik, dan juga lewat perbuatan yang tidak baik. Minggu 06 Rabi'ul Akhir 1439 H/ 24 Desember 2017 M [Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-Sunnah]

One Day One Hadits #17 : Muslim Yang Sempurna

Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #17 : Muslim Yang Sempurna بسم الله الرحمن الرحيم كتاب الإيمان باب الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ...

Amalan Ayat Laqod Jaakum ( ﻟَﻘَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ) dan Faedahnya

Kalam Ulama - Berikut Cara Mengamalkan dan  Faedah yang Perlu Kita Ketahui dari Ayat Laqod Jaakum (ﻟَﻘَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﺳُﻮﻝٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﻋَﺰِﻳﺰٌ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣَﺎ...
Kalam Ulama - SANAD DALAILUL KHOIROT LIRBOYO, SHAHIHKAH? - Gus Ahmad Syauqi Budeiri, mahasiswa di Ma'had Imam Malik kota Tetouan, melayangkan pertanyaan mengenai sanad kitab Dalailul Khairat karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli kepada Maulana Al-Imam Al-Allamah Al-Muhaddits Asy-Syarif Sayyidi Dr. Abdul Mun'im ibn Ash-Shiddiq Al-Ghumari Al-Idrisi Al-Hasani. Oleh Maulana Al-Imam, sanad tersebut diserahkan kepada saya untuk diteliti. Sanad tersebut sebagai berikut. عن الشيخ أحمد إدريس مرزوقي عن شيخه الشيخ مرزوقي دخلان عن شيحه عبد الكريم عن شيخه الشيخ هاشم أشعري عن شيخه الشيخ دمياطي بن عبد الله الترمسي عن الشيخ محفوظ بن عبد الله الترمسي (ح) عن الشيخ أحمد إدريس مرزوقي عن الشيخ دلهر النحروي بن عبد الرحمن وعن الشيخ بيضاوي بن عبد العزيز اللاسمي وعن الشيخ عبد الحليم بن صديق الجمباري عن الشيخ هاشيم أشعري عن الشيخ محفوظ بن عبد الله الترمسي عن الشيخ محمد أمين بن أحمد رضوان المدني عن الشيخ يوسف المدني عن الشيخ محمد بن أحمد المذغوري عن الشيخ محمد بن أحمد بن أحمد المشنى عن الشيخ أحمد إبن الحاج عن الشيخ عبد القادر الفاسي عن الشيخ أحمد المقري عن الشيخ أحمد بن أبي العباس الصماعي عن الشيخ أحمد بن موسى السملالي عن الشيخ عبد العزيز التباع عن المؤلف الشيخ أبي عبد الله محمد بن سليمان الجزولي. Dari Syekh Ahmad Idris Marzuqi dari Syekh Marzuqi Dahlan dari Syekh Abdul Karim dari Syekh Hasyim Asy'ari dari gurunya, Syekh Dimyathi bin Abdullah At-Tarmasi, dari Syekh Mahfudz bin Abdullah At-Tarmasi. Juga dari jalur Syekh Ahmad Idris Marzuqi dari Syekh Dalhar Nahrawi bin Abdurrahman dari Syekh Baidhawi bin Abdul Aziz Al-Lasmi dari Syekh Abdul Halim bin Shiddiq Al-Jimbari dari Syekh Hasyim Asy'ari dari Syekh Mahfudz bin Abdullah At-Tarmasi dari Syekh Muhammad Amin bin Ahmad Ridhwan Al-Madani dari Syekh Yusuf Al-Madani dari Syekh Muhammad bin Ahmad Al-Madzghuri dari Syekh Muhammad bin Ahmad bin Ahmad Al-Musyanna dari Syekh Ahmad ibn Al-Hajj dari Syekh Abdul Qadir Al-Fasi dari Syekh Ahmad Al-Muqri dari Syekh Ahmad bin Abul Abbas Ash-Shuma'i dari Syekh Ahmad bin Musa As-Samlali dari Syekh Abdul Aziz At-Tabba' dari Syekh Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli. Adapun kesimpulan saya sebagai berikut. Pertama, sanad ini adalah sanad Maqlub sebab ada rawi yang berputar namanya. Kalau diperhatikan perawi Syekh Muhammad Amin bin Ahmad Ridhwan Al-Madani (1252–1329 H) mengambil dari Syekh Yusuf Al-Madani. Ini kurang tepat. Seharusnya Syekh Muhammad Amin bin Ahmad Ridhwan Al-Madani mengambil dari Syekh Ali bin Yusuf Al-Madani. Sebab Syekh Muhammad Amin memang sezaman dengan beliau dengan dalil bahwa penulis kitab Dzafrul Amani, Syekh Muhammad Abdul Hayy Al-Laknawi, yang mengambil ijazah dari beliau pada tahun 1200 di toko beliau di Madinah. Syekh Ali, atau Ali bin Yusuf Malik Bisyli Al-Madani Al-Hariri memang dikenali dengan ahli kitab Dalailul Khairat. Beliau adalah seorang pedagang sutera di Madinah. Toko beliau dekat dengan Bab Salam atau Bab Rahmah. Beliau mampu melayani pemberi seraya mendengarkan bacaan kitab Dalail murid-muridnya dan membenarkan jika ada salah. Kedua, sanad ini munqati sebab ada rawi yang terputus. Syekh Ali bin Yusuf Al-Madani tidak ada catatan ke Maroko, sedang Syekh Muhammad bin Ahmad Al-Madghuri (1173–1273 H) tinggal di Maroko. Kemungkinan ada wasilah di sini atau bertemu saat musim haji. Selain itu, Syekh Ahmad bin Musa As-Samlali memang bertemu dan semasa dengan Syekh Abdul Aziz At-Tabba, hanya saja tidak tsabit atasnya pengambilan. Kemungkinan As-Samlali mengambil dari gurunya, Al-Quthb Abdullah Al-Ghazwani Al-Marrakasyi, yang merupakan murid At-Tabba. Sebagaimana ditulis oleh Al-Musnid Syekh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani Al-Makki dalam ta'liq beliau terhadap Kifayatul Mustafid. Hanya saja Al-Fadani menyebut dengan nama Al-Ghazni. Kemungkinan salah cetak. Ketiga, sanad ini majhul sebab ada rawi yang tak dikenali. Dia adalah Syekh Muhammad bin Ahmad bin Ahmad Al-Musyanna yang mengambil riwayat dari Ahmad ibn Al-Hajj (1042–1109 H) dan yang mengambil daripada beliau Syekh Muhammad bin Ahmad Al-Madghuri atau Al-Alawi Al-Madghuri (1173–1273 H). Saya sudah mencari di berbagai sumber, khususnya kitab Al-A'lam Al-Maghribi, dan saya tidak menemukan orang ini. Senadainya orang ini benar ada, saya rasa namanya adalah Muhammad bin Ahmad bin Ahmad Al-Mutsanna, bukan Al-Musyanna. Sebab tak ada nama keluarga maupun daerah Al-Musyanna di Maroko yang saya temukan. Al-Mutsanna kemungkinan sebab ayahnya namanya Ahmad, membedakan dengan nama kakeknya yang juga Ahmad. Orang dengan nama seperti ini adalah perawi hadis di zaman salaf, bukan sufi di masa khalaf. Kalaupun orang ini ada, maka ini kemungkinan ia menutup nama orang di atasnya, sekitar satu atau dua. Riwayat beliau kemungkinan munqati atau mu'dhal. Sebab jarak wafat Ibn Al-Hajj dengan lahir Al-Madghuri saja 64 tahun. Sehingga usia Al-Mutsanna paling kurang sekitar 70-an tahun. Orang inilah yang membuat riwayat ini tinggi dan dia adalah rawi majhul. Kesimpulannya, riwayat ini mengandung munqalab, munqati, dan majhul serta kemungkinan besar mu'dhal. Kendati demikian, kita tak bisa memungkiri orang-orang lain dalam sanad ini. Mereka adalah orang-orang besar di zamannya. Kedhaifan riwayat dari segi jalur periwayatan tak membuat matan riwayat, yakni kitab Dalailul Khairat, ini salah. Tidak sama sekali. Hanya saja ini adalah jawaban bagi pertanyaan yang dilayangkan. Ini adalah hasil sementara. Sebab memang beberapa nama masih dalam pelacakan. Saya masih menunggu beberapa naskah, seperti Al-Ma'sul (biografi ulama-ulama Marakesh) dan lainnya. Semoga sanad ini tsabit dengan dalil naskah-naskah tersebut. Wallahu subhanahu wa ta'ala a'lam. Tanger, 9 Februari 2019 Ustadz Adhli Al-Qarni

SANAD DALAILUL KHOIROT LIRBOYO, SHAHIHKAH?

Kalam Ulama - SANAD DALAILUL KHOIROT LIRBOYO, SHAHIHKAH? - Gus Ahmad Syauqi Budeiri, mahasiswa di Ma'had Imam Malik kota Tetouan, melayangkan pertanyaan mengenai sanad kitab...

Kajian Maulid Diba’ #17 “Tsumma a’rodho ‘anhu”

Oleh: Ahmad Ulul Azmi اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهُ مَرَاضِعُ الْإِنْسِ لِمَا...
Kajian Islam (Kalam ulama). Hukum menyapu, memasak dan mencuci pakaian suami bagi istri Sudah menjadi adat di Negara Indonesia istri bertugas mengurusi pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, mengurus anak atau biasa orang jawa sebut 3M (macak, manak, masak). Sedangkan suami bertugas mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan adapula istri yang merangkap bekerja disamping mengerjakan 3M tersebut. Sungguh mulia dan luar biasa memang perempuan Indonesia. Berbahagialah menajadi perempuan Indonesia. Sebagai seorang perempuan apakah pernah tersirat dibenaknya melakukan pekerjaan rumah, seperti memasak, menyapu, dan mencuci pakaina suami termasuk sebuah kewajiban ataukah hanya adat kebiasaan. Untuk lebih jelasnya mari kita bahas. (Baca juga :Mar’atun Su’un : Perempuan Paling Dibenci Rasulullah) Menurut Imam Syafi’i menyapu, memasak, mencuci pakaian suami dan yang serupa hukumnya tidak wajib, tetapi hukumnya wajib bagi suami memberitahukan kepada istrinya bahwasannya melakukan hal diatas tidak wajib.  Namun akan berbeda lagi kalau suami memerintahkan istrinya untuk melakukan perkerjaan diatas, maka hukumnya menjadi wajib. Disini kewajibannya bukan karena kewajiban melakukan pekerjaan tersebut tapi wajibnya karena memenuhi perintah suami. قال الجوزجاني وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم : لو كنت امرا أحدا أن يسجد لاحد لامرت المرأة أن تسجد لزوجها ولو أن رجلا أمر امرأته أن تنقل من جبل أسود إلى جبل أحمر أو من جبل أحمر إلى جبل أسود كان عليها أن تفعل . ورواه بإسناده. Al-Jauzajani berkata : Nabi SAW bersanda : “ Ketika saya menjadi seseorang penyuruh seseorang untuk bersujud, maka sungguh aku perintahkan perempuan (istri) bersujud kepada suaminya. Saat seorang lelaki (suami) memerintahkan istrinya berpindah dari gunung hitam sampai gunung merah atau dari gunung merah sampai gunung hitam, maka wajib bagi istri melakukannya.” HR. Al-jauzajani dengan sanad dari beliau. As-Syankithi al-Hanbali dalam kitabnya “Umdatul fiqhi” juz 6 halaman 360 : “Bagi wanita ada beberapa hak-hak seperti pada lelaki juga terdapat hak-hak pula yaitu hal yang ma’ruf. Hal ma’ruf itu adakalanya urf (kebiasaan) seperti perkataan jumhur ulama (kebanyakan ulama). Kebiasaan para sholihiin dan kaum muslimin pada setiap waktu dan zaman adalah perempuan melayani pekerjaan rumahnya. Lihatlah Ummul mu’minin, mereka melakukan pekerjaan rumah  rasulullah SAW dalam hadist shohihaini dari  ummul mu’minin Aisyah.” Oleh : Hamzah Alfarisi

Hukum Menyapu, Memasak dan Mencuci Pakaian Suami Bagi Istri

Kajian Islam (Kalam ulama). Hukum menyapu, memasak dan mencuci pakaian suami bagi istri Sudah menjadi adat di Negara Indonesia istri bertugas mengurusi pekerjaan rumah seperti memasak,...