Kajian Islam

kalamulama.com- Aswaja NU dan Corona Orang Aswaja itu percaya takdir dan ketentuan Allah, tapi juga membuka ruang ikhtiar. Kita bukan Mu’tazilah (free-will) tapi juga bukan Jabariyah (menyerahkan total semuanya kepada Allah tanpa usaha). Jadi ini bukan masalah lebih takut corona ketimbang takut Allah. Ini sih jabariyah. Kita juga tidak mau hanya percaya pada ikhtiar semata dan menafikan pentingnya doa dan berserah diri pada Allah. Ini sih Mu’tazilah. Aswaja itu berimbang dan tengah-tengah. Doa dan ikhtiar berjalan beriringan. Karena itu kalau ada acara keramaian dibatalkan atau dimodifikasi teknis pelaksanaannya itu bukan karena kita tidak lagi percaya ketentuan Allah. Ini justru sikap murni orang Aswaja. “Bukannya tanpa ada Corona pun semua akan mati?”. Iya benar, kalau begitu apa kita gak boleh hidup sehat dg menghindari sakit dan berobat jika sakit? Ayoooo “Nanti juga sembuh sendiri yang sakit korona”. Kalau gitu sih, api kebakaran juga akan padam sendiri, tapi apa menunggu sampai satu kampung terbakar? Aswaja tidak akan membenturkan takdir dan ikhtiar; ketentuan Allah dan usaha manusia. Semuanya dilakukan secara proporsional dan bersamaan. Tabik, GNH

ASWAJA NU (Ahlus-Sunnah Wal Jamaah Nahdlatul Ulama) dan Corona

kalamulama.com- Aswaja NU dan Corona Orang Aswaja itu percaya takdir dan ketentuan Allah, tapi juga membuka ruang ikhtiar. Kita bukan Mu’tazilah (free-will) tapi juga bukan Jabariyah...
kalamulama.com- Ijazah Ikhtiar Bathin Untuk Menghadapi Covid -19 dari KH Mustofa Bisri Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semoga kita semua dilindungi oleh Allah, selamat, sehat wal afiat lahir dan batin. Waba'du; menghadapi Covid-19, ikhtiar lahir sudah dilakukan secara massal (dan bahkan mirip 'kepanikan umum'). Tapi, sebagai hamba-hamba beriman, kita tidak boleh melupakan ikhtiar batin, mendekat serta memohon kepada Tuhan kita dan Tuhannya segala virus. Kita yang beragama Islam bisa misalnya: Menyempurnakan wudhu kita, Membaca 3x بسم الله لا يضر مع اسمه شئ في الأرض ولا في السماء وهو السميع العليم، BismiLlãhi lã yadhurru ma'asmiHi syai-un fil ardhi walã fissamã-i waHua s-Samii'ul 'Aliim, setiap habis Subuh dan Maghrib,; juga jika mau keluar rumah. Wiridkan asma Allah يا سلام، yã Salãm; يا حفيظ، yã Hafiizh, dan يا مانع يا ضآر، yã Mãni'u yã Dhãrru. Masing-masing minimal 20x setiap habis salat. Baca shalawat Nabi SAW yang kita sukai/hafal setiap mulut nganggur; dan Berdoa: اللهم إنا نسألك العفو والعافية والمعافاة الدائمة في الدين والدنيا والآخرة، Allahumma innã nas'aluKa al-'afwa wal-'ãfiata wal mu'ãfata addãimata fiddiini waddunyã wal ãkhirah. Wawallãhu Musta'ãn

Ijazah Ikhtiar Bathin Untuk Menghadapi Covid -19 dari KH Mustofa Bisri

kalamulama.com- Ijazah Ikhtiar Bathin Untuk Menghadapi Covid -19 dari KH Mustofa Bisri Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semoga kita semua dilindungi oleh Allah, selamat, sehat wal afiat...
kalamulama.com- FATWA ULAMA AL-AZHAR MENYIKAPI CORONA Segala puji milik Allah saja sholawat serta salam tercurah kepada sosok yang tiada Nabi lagi setelahnya. Selanjutnya, mengacu kepada informasi medis tertulis yang menyatakan cepatnya penyerbaran virus corona (Covid: 19) dan menjadi pendemi bagi dunia. Dan informasi terpercaya dari kedokteran yang menyatakan bahaya sebenarnya dari virus corona adalah mudah dan cepatnya virus ini menyebar dan mereka yang terkena virus tidak terlihat tanda-tandanya, dan tidak diketahui telah terjangkit. Dengan cara ini penyakit (dari virus ini) menyebar ke penjuru dunia. Mempertimbangkan tujuan paling utama dari syariat Islam adalah menjaga jiwa raga, melindungi, menguatkan dari segala bahaya dan kerusakan. Maka kami Dewan Ulama Senior Azhar, terdorong tanggung jawab secara syariat, bertanggung jawab kepada umat Islam dipenjuru dunia, untuk memberitahukan bahwa diperbolehkan secara syariat untuk tidak melakukan sholat jumat dan jamaah disemua wilayah, dengan alasan khawatir terjadi penyebaran virus di daerah kepada penduduknya. Wajib bagi orang yang sakit dan orang tua untuk tinggal di rumahnya, dan menjalankan aturan yang ditetapkan oleh pemerintah setempat dan tidak diperbolehkan melaksanakan sholat Jumat dan Jamaah, setelah ada pernyataan resmi dari ahli medis, dan penelitian dari lembaga resmi penyebaran virus ini. Dan memastikan bahaya virus ini cukup berdasarkan dugaan dan bukti empirik, seperti sembuhnya yang terinveksi, proses penyembuhan, dan penyebaran virus. Atas dasar itu wajib bagi yang berwenang disetiap daerah untuk melakukan upaya maksimal, dan melakukan langkah-langkah pencegahan dan menanggulangi terjadinya penyebaran virus ini. Bagi para ulama, apa yang diduga akan terjadi (bisa terjadi) dianggap sudah terjadi, atau sesuatu yang nyaris terjadi maka dihukumi dengan sesuatu yang telah terjadi. Karena kesehatan tubuh adalah tujuan dan sasaran utama dari syariat Islam. Dalil disyariatkannya "meniadakan" sholat Jumat dan jamaah, dan menangguhkannya (sementara) karena adanya wabah adalah hadis yang diriwayatkan oleh dua kitab saheh, "bahwa Abdullah bin Abas mengatakan kepada muadzinnya pada saat hujan, 'setelah kamu mengucapkan أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ kamu jangan mengucapkan حَيّ عَلَى الصَّلاَةِ tapi ucapkanlah صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ (sholatlah kalian dirumah kalian). Masyarakat menentangnya, dan Ibn Abbas mengatakan : "orang yang lebih baik dari Aku (Nabi Muhammad) pernah melakukan itu. Jumat wajib dilakukan, akan tetapi aku khawatir menyulitkan kalian, kalian berjalan ditanah berlumpur". Hadis ini menunjukan adanya perintah meninggalkan sholat berjamaah karena alasan adanya kesulitan yang disebabkan hujan. Tidak diragukan lagi virus corona lebih berat dari kesulitan pergi ke masjid untuk sholat karena alasan hujan. Keringanan syariat untuk meninggalkan sholat jumat dimasjid pada saat terjadi wabah ditoleransi oleh syariat dan diterima secara fikih maupun akal sehat. Dan gantinya sholat Jumat adalah sholat 4 rakaat dzuhur dirumah atau ditempat manapun yang tidak terjadi desakan atau kerumunan. Para ahli fikih telah sepakat mengkhawatirkan keselamatan jiwa raga, harta atau keluarga adalah alasan diperbolehkan meninggalkan sholat jumat atau jamaah. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ibn Abbas, Nabi bersabda, "Barang siapa mendengar adzan dan tidak ada alasan meninggalkannya". Para sahabat bertanya apakah alasan itu,"ketakutan, sakit, -maka sholatnya (sendirian) tidak diterima". Demikian juga hadis Bukhari Muslim dari Abdurahman bin Auf ia mendengar Nabi saw " jika kalian mendengar ada wabah didaerah itu maka kalian jangan memasuki wilayah itu, akan tetapi jika kalian berada diwilayah yang terjadi wabah (virus) itu maka kalian jangan keluar dari daerah itu". Nabi saw melarang orang yang badannya bau untuk sholat di masjid karena akan mengganggu orang lain, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dari Jabir bahwa Nabi saw bersabda, "siapa saja yang makan bawang maka hendaklah ia tidak bersama kami, dalam riwayat lain disebutkan , keluarlah dari masjid kami dan diamlah di rumahnya". Kekhawatiran karena virus karena cepat penyebarannya, dan kuat dampaknya dan belum ada anti virus yang efektif sampai sekarang, maka umat Islam ditoleransi untuk meninggalkan sholat Jumat dan jamaah sholat. Atasa dasar itu semua, maka kami organisasi ulama besar azhar syarif berfatwa boleh atas dasar syariat pemerintah menetapkan larangan sholat jumat dan sholat berjamaah di masjid untuk sementara waktu karena khawtair terjadi penyebaran virus. Akan tetapi kami mengingatkan tiga hal: Pertama, wajib megumandangkan adzan setiap waktu sholat di masjid walaupun tidak dilaksanakan sholat jumat ataupun jamaah sholat dan muadzin boleh menambahakan, (صلوا في بيوتكم). "Sholatlah kalian dirumah kalian". Kedua, setiap rumah hendaknya melakukan sholat jamaah dirumah masing-masing dengan keluarganya, karena jamaah dimasjid baru bisa dilakukan setelah ada pencabutan larangan. Ketiga, wajib menurut syariat kepada semua warga negara untuk mengikuti keputusan resmi dan himbauan yang dikeluarkan oleh lembaga kesehatan pemerintah, untuk menanggulangi penyebaran virus, dan menerima informasi dari lembaga resmi. Serta tidak diperbolehkan menaikan harga komoditas kebutuhan masyarakat. Kami, dewan ulama senior al-Azhar sebagai ulama muslimin mengajak kepada umat Islam dipenjuru dunia dari timur dan barat untuk menjaga sholat dan memohon kepada Allah untuk (berakhirnya wabah ini) serta menolong masyarakat yang terkena virus, memperbanyak amalan baik, agar Allah segera menghilangkan wabah ini diseluruh dunia, serta menjaga daerah masing-masing dari pendemi virus ini, dan dari penyakit lainnya. Kita semua hanya berharap dan memohon kepada Allah, karena Allah, sebaik-baiknya penjaga dan Maha Penyayang. هيئة كبار العلماء الأحد 15/3/2020م Dewan Ulama Senior Al-Azhar Minggu, 15 Maret 2020 (Diterjemahkan oleh Ahmad Tsauri) Teks asli dapat dibaca di: الأزهر الشريف

FATWA ULAMA AL-AZHAR MENYIKAPI CORONA

kalamulama.com- FATWA ULAMA AL-AZHAR MENYIKAPI CORONA Segala puji milik Allah saja sholawat serta salam tercurah kepada sosok yang tiada Nabi lagi setelahnya. Selanjutnya, mengacu kepada informasi...
kalamulama.com- IJAZAH DARI KH MAIMOEN ZUBAIR  AGAR MURAH REJEKI DALAM RUMAH TANGGA. KH. Maimun Zubair, Pengasuh Pesantren Al-Anwar Sarang, dalam berbagai kesempatan memberikan pesan kepada para santrinya, agar hidup mereka diberi kemudahan, keberkahan dan dilapangkan rezekinya. Ini pesan salah satu pesan beliau: “Mbesok nek wes omah-omah, ojo lali, angger mlebu omah moco Qulhu ping pisan.” (Besok jika sudah berumah tangga, setiap masuk rumah jangan lupa membaca surat Al-Ikhlas walaupun hanya sekali.) Ternyata pesan beliau ini bukan sembarang nasehat, karena hal itu telah disabdakan oleh junjungan kita, Nabi Besar Muhammad Saw: ﻋﻦ ﺳﻬﻞ ﺑﻦ ﺳﻌﺪ : ‏« ﺟﺎﺀ ﺭﺟﻞ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺷﻜﺎ ﺇﻟﻴﻪ ﺍﻟﻔﻘﺮ ﻓﻘﺎﻝ : ﺇﺫﺍ ﺩﺧﻠﺖ ﺑﻴﺘﻚ ﻓﺴﻠﻢ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﺃﺣﺪ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻴﻪ ﺃﺣﺪ ﻓﺴﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻚ ، ﻭﺍﻗﺮﺃ ﻗﻞ ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪ ﻣﺮﺓ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﻓﻔﻌﻞ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻓﺄﺩﺭ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﺭﺯﻗﺎً ﺣﺘﻰ ﺃﻓﺎﺽ ﻋﻠﻰ ﺟﻴﺮﺍﻧﻪ Artinya: Sahal bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Seorang laki2 datang kepada Nabi Saw. dan mengadukan kefakiran yg menimpanya. Lalu beliau bersabda: “Apabila kamu masuk ke rumahmu, ucapkanlah salam jika ada seseorang di dalamnya. Dan jika tidak ada orang di dalamnya, ucapkan salam untuk dirimu, dan bacalah Qul Huwallaahu Ahad satu kali”. Lalu laki2 tsb melakukannya. Maka Allah melimpahruahkan rizki orang tsb, sehingga mengalir kepada tetangga2nya.” Baca juga: Inilah Ijazah KH Maimun Zubair Agar Mempermudah Mendapat Rizki yang Banyak dan Barokah

IJAZAH AGAR MURAH REJEKI DALAM RUMAH TANGGA

kalamulama.com- IJAZAH DARI KH MAIMOEN ZUBAIR  AGAR MURAH REJEKI DALAM RUMAH TANGGA. KH. Maimun Zubair, Pengasuh Pesantren Al-Anwar Sarang, dalam berbagai kesempatan memberikan pesan...
kalamulama.com- Seru(k)an Sikap Moderat dalam Balutan Fiqh. Penjelasan tentang metodologi merupakan salah satu langkah awal yang perlu kita pahami sebelum lebih jauh mendiskusikan isi dari materi yang akan kita pelajar. Langkah ilmiah ini bersumber dari kebiasaan ilmiah yang telah mengakar dalam pemahaman kutub turats. Sebelum mulai meng(k)aji suatu ilmu atau buku, kita perlu mengenal konsep Mabadi’ ‘Asyrah ( 10 peinsip ) terlebih dahulu. Konsep ini pada hakikatnya merupakan pengantar yang berisi informasi utama mengenai bidang keilmuan yang akan kita kaji, antara lain informasi mengenai nama bidang keilmuan, definisi ilmiah ilmu yang akan dikaji dan pionir yang mencetuskan perumusan ilmu tersebut. Dengan mengadopsi konsep Mabadi’ Asyrah, kita juga telah merancang kajian secara sistematis dan ilmiah. Pada dua kajian terdahulu, kita telah sedikit banyak mengenal dan meneladani sejarah hidup Prof. Dr. Wahbah Al-Zuhaily. Ini berarti kita telah mulai memahami siapa penulis buku Tafsir yang akan kita jadikan bahan kajian. Dan pada kesempatan kali ini, kita selanjutnya akan meng(k)aji dan berupaya menjawab bagaimana metodologi penulisan yang penulis gunakan dalam buku Tafsir beliau yang bernama “Al-Tafsir Al-Munir”. Karakteristik “Al-Tafsir Al-Munir” Sebagai informasi awal, Prof. Dr. Wahbah Al-Zuhaily memberitahukan bahwa buku Al-Tafsir Al-Munir menerima penghargaan dari pemerintah Iran sebagai buku ilmiah terbaik di dunia Islam pada tahun 1994. Penghargaan yang dicapai oleh buku Tafsir ini jelas menunjukkan bahwa isinya sangat berbobot sehingga wajar jika buku Tafsir tersebut juga diangkat sebagai objek kajian oleh beberapa mahasiswa, antara lain Muhammad ‘Arif. Ia adalah salah satu mahasiswa Universitas Al Al-Bayt Jordania yang menulis Tesis setebal 381 halaman dengan judul Manhaj Wahbah Al-Zuhaily di Tafsirihi li Al-Qur’an Al-Karim “Al-Tafsir Al-Munir”. Tesis ini memaparkan analisa yang mendalam mengenai Al-Tafsir Al-Munir sehingga kita menerima informasi detail mengenai buku tersebut. Namun, karena informasi yang dipaparkan merupakan merupakan analisa penulis sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa informasi yang disimpulkan belum mewakili pemikiran Prof. Dr. Wahbah Al-Zuhaily selaku penulis secara utuh atau bahkan informasi tersebut bertentangan dengan pemikiran sang penulis karena tidak memahami tulisan penulis secara utuh atau karena menyalah artikan pandangan penulis berlandaskan analisa yang subjektif. Oleh karena itu, penjelasan langsung yang diutarakan oleh penulis di saat memberikan kata pengantar pada bukunya yang diterbitkan merupakan sumber informasi utama dalam memahami alur pemikiran penulis. Meski demikian Tesis yang dituliskan oleh Muhammad ‘Arif dan mahasiswa lain tidak dapat kita telah nafikan telah turut serta menyumbang informasi mengenai Al-Tafsir Al-Munir. Buku Al-Tafsir Al-Munir yang menjadi bahan kajian kita merupakan ‘Ensiklopedi Al-Qur’an’ yang dicetak oleh penerbit Dar Al-Fikr Beirut ke dalam 16 jilid. Setiap jilid diatur sedemikian rupa sehingga memuat 2 Tafsir 2 juz, sehingga 15 juz pertama berisi Tafsir Al-Qur’an mulai surat Al-Fatihah hingga surat Al-Naas. Sedangkan jilid ke-16 berisi deretan kata-kata kunci abjad yang disusun untuk memudahkan pembaca untuk mempelajari isi juz pertama sampai ke-15. Kaca kunci yang digunakan disusun berdasarkan abjad. Juz pertama dari jilid ke-16 berisi kata kunci dari alif sampai ra’, sedangkan juz kedua berisi kata kunci za’ sampai ya’. Dari sekian ribu lembaran kertas yang menyusun jilid pertama sampai terakhir, salah satu poin yang menarik dari buku Al-Tafsir Al-Munir adalah catatan kaki yang penulis imbuhan di akhir menyampaikan kata pengantar. Beliau menjelaskan bahwa beliau mulai menulis buku ini setelah beliau selesai menyusun 2 ensiklopedia, yaitu buku Al-Fiqh Al-Islamiyyu wa Adillatuhu setebal 11 jilid di bidang Fiqh dan buku Ushul Al-Fiqh Al-Islamiyyi setebal dua jilid di bidang Ushul Fiqh. Penulis juga menambahkan bahwa selain telah selesai menulis dua ensiklopedia tersebut, beliau juga telah berlalu lalang di dunia akademis selama 30 tahun, turut serta melakukan takhrij hadis yang termuat dalam buku Tuhfat Al-Fuqaha karya Al-Samarqandi dan Al-Mushtofa min Ahadits Al-Mushtofa serta telah merilis berbagai tulisan sebanyak lebih dari 30 buah. Pernyataan penulis di atas memuat berbagai interpretasi, antara lain beliau ingin menegaskan bahwa beliau telah banyak ‘makan garam’ di berbagai bidang akademis, baik dalam bidang Fiqh, Ushul Fiqh maupun Hadits. Di sisi lain, pernyataan penulis juga berpotensi mengisyaratkan bahwa buku Al-Tafsir Al-Munir berisi penafsiran yang bernuansa Fiqh, mengingat latar belakang akademis penulis yang kental dengan kajian tersebut. Ditambah lagi beliau menulis buku Al-Tafsir Al-Munir setelah menyelesaikan penulisan dua ensiklopedia yang berbasiskan Fiqh. Pernyataan umum yang disampaikan penulis ini akan diperjelas lagi oleh penulis sendiri pada poin pembahasan di bawah. Di sela-sela memaparkan metodologi penulisan buku Al-Tafsir Al-Munir, kita akan menemukan penjelasan bahwa orientasi penulis dalam buku Tafsir tidak terlepas dari balutan Fiqh. Hanya saja Fiqh yang beliau maksudkan di sini bukanlah Fiqh seperti yang disampaikan oleh Fuqaha. Beliau menginginkan Fiqh dengan makna yang lebih luas. Latar Belakang dan Tujuan Secara faktual kitab suci Al-Qur’an merupakan senantiasa menarik minat para ahli untuk mengkajinya. Fokus kajian yang dilakukan oleh para ahli tidak melulu pada aspek bahasa atau agama. Berbagai kajian ilmiah modern pun kerap disinkronkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Sebagai implikasi logisnya, kajian Qur’ani tidak pernah berhenti meski waktu silih berganti dan tidak heran pula jika ratusan buku berkaitan dengan kajian Qur’ani telah diterbitkan. Fenomena ini menjadikan Al-Qur’an sebagai buku ‘objek kajian’ yang paling populer dan laris. Prof. Dr. Wahbah Al-Zuhaily juga turut menyaksikan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber inspirasi yang tidak pernah habis, baik di bidang sejarah, sastra dan filsafat maupun di bidang Tafsir, Fiqh dan bidang-bidang keilmuan yang lain. Oleh karena itu, beliau tergerak untuk menjaga kemurniannya dan membuktikan kebenaran ilmiah yang terkandung di dalamnya sesuai dengan kondisi kehidupan di era modern. Usaha ini sebenarnya merupakan salah satu perintah yang diserukan oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an sendiri telah memerintahkan bahwa kita harus menggunakan akal pikiran kita dan memerangi kebodohan. Tujuan mulia yang ingin direalisasikan oleh Prof. Dr. Wahbah Al-Zuhaily di balik usaha beliau turut berkecimpung di ranah Tafsir adalah untuk mewujudkan sinkronisasi dan meyakinkan hubungan ilmiah yang kuat antara manusia dengan Al-Qur’an sebagai buku pedoman hidup, terlepas apakah mereka memeluk agama islam atau tidak. Jika Al-Qur’an dapat disinkronkan dengan kehidupan manusia secara ilmiah, maka manusia akan lebih mudah menerima. Secara lebih detail, penulis mengemban tiga misi suci melalui buku Al-Tafsir Al-Munir, yaitu : Ajakan yang diserukan oleh Allah SWT yang kemudian diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW merupakan panggilan yang mengantarkan manusia ke jalan kemuliaan dan keagungan di segala aspek kehidupan. Islam yang menjadi ajakan Allah SWT yang diajarkan oleh Rasulullah SAW mendorong terwujudnya keyakinan melekat di dalam jiwa manusia, intelektualitas tinggi yang melepaskan mereka dari belenggu kebodohan dan menyelamatkan mereka dari perbudaka hawa nafsu dan kekayaan materiil. Al-Qur’an sebagai buku pedoman kehidupan manusia yang diwahyukan oleh Allah SWT dan disampaikan oleh Rasulullah SWT mengajak manusia menuju keadilan sejati, dan kebahagiaan hakiki, menunjukkan jalan kehidupan yang terbaik dan mengajarkan pemahaman yang komprehensif mengenai hubungan antara manusia dengan Allah, alam dan kehidupan. Metode : Kolaborasi Dirayat dan Riwayat Ketiga tujuan yang ditargetkan oleh Prof. Dr. Wahbah Al-Zuhaily pada poin diatas merupakan refleksi dari surat Al-Anfal ayat 24. Hanya saja, cita-cita luhur beliau impikan tidak semudah membalikkan kedua belah tangan. Kehidupan modern dengan segala perkembangan ilmu pengetahuan, situasi sosial dan lain sebagainya tentu membutuhkan usaha. untuk menjawab persoalan tersebut, penulis juga mengadopsi jawaban dari ayat Al-Qur’an. Pada surat .. ayat Allah berfirman. Berdasarkan ayat tersebut, penulis menyimpulkan bahwa Tafsir yang ideal adalah Tafsir yang mengolaborasikan antara riwayat dan dirayat. Metode riwayat diisyaratkan oleh Firman Allah pada surat Al-Nahl ayat 44 seperti berikut : وأنزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نزل إليهم ولعلهم يتفكرون Dan telah kami turunkan kepadamu ( Al-Qur’an sebagai ) pengingat agar kamu memberikan penjelasan kepada manusia mengenai perihal yang diturunkan kepada mereka dan agar mereka berfikir Pada ayat tersebut Allah SWT menyampaikan dua perintah. Poin pertama adalah agar Nabi Muhammad SAW menjelaskan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an kepada manusia. Poin kedua Allah SWT tujukan kepada manusia, yaitu agar mereka berfikir secara logis. Poin pertama yang Allah SWT sampaikan secara tersirat mengisyaratkan bahwa pemahaman Al-Qur’an berdasarkan aspek riwayat atau berdasarkan penjelasan Ilahi yang bersumber langsung dari Allah SWT. Sedangkan poin kedua menunjukkan bahwa untuk memahami kandungan Al-Qur’an Allah SWT juga memberikan ruang bagi akal pikiran manusia untuk turut serta membuktikan kebenaran ayat-ayat Allah SWT secara ilmiah. Dengan kata lain, Allah SWT mengizinkan manusia memahami Al-Qur’an berangkat dari pemahaman dirayat. Dengan demikian, penulis menggunakan metode campuran antara riwayat dan dirayat. Dari sini terbukti, salah satu ciri khas Prof. Dr. Wahbah Al-Zuhaily adalah bersikap moderat. Di satu sisi, pemahaman riwayat merupakan langkah ilmiah yang tidak perlu dipertanyakan lagi, selama riwayat tersebut valid. Di sisi lain, beliau juga melihat bahwa menyiarkan ayat-ayat Al-Qur’an melalui pemahaman dirayat juga sudah menjadi sebuah kebutuhan yang urgen. Namun, beliau menambahkan bahwa dalam ranah riwayat beliau menolak jika Israiliyyat diadopsi ke dalam Tafsir Al-Qur’an karena dinilai telah menodai nilai-nilai suci Al-Qur’an. Untuk metode dirayat, penulis juga tidak serta menerima informasi secara mentah-mentah. Beliau menetapkan bahwa metode dirayat yang beliau maksudkan harus memenuhi beberapa kriteria tertentu, antara lain : 1 . memprioritaskan penjelasan langsung dari Rasulullah SAW dan kondisi sosial kehidupan di saat Al-Qur’an diturunkan serta para pakar utama terdahulu baik dalam dunia Tafsir maupun Hadits. 2 . Melestarikan pemahaman teks Al-Qur’an yang menggunakan bahasa Arab selaku wadah yang menampung nilai-nilai agug Al-Qur’an. 3 . Mengkaji perselisihan pendapat yang terjadi diantara para Mufassir dan berupaya menggali makna filosofis yang tersimpan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an dengan berpedoman pada Maqashid Syariat ( tujuan-tujuan syariat ) yang luhur. Strategi : Kajian komprehensif dengan Model Tematik Prof. Dr. Wahbah Al-Zuhaily secara lugas menerangkan bahwa strategi yang gunakan di dalam buku Al-Tafsir Al-Munir mencakup beberapa hal sebagai berikut : Mengelompokkan ayat-ayat ke dalam beberapa tema dan memberikan judul bagi tiap-tiap tema. Model Tafsir seperti ini dikenal dengan istilah Tafsir Maudhu’i ( tematik ). Memberikan gambaran universal setiap surat Memperhatikan aspek bahasa, terutama kosakata dan susunan kalimat Menyertakan asbabun nuzul dari riwayat yang paling valid Menjabarkan interpretasi dan penjelasan Mengaitkan ayat dengan produk-produk yang dihasilkan darinya Menambahkan bahasan balagah untuk lebih memperjelas kandungan ayat Jika kita mengamati ketujuh langkah yang disebutkan oleh penulis lalu membandingkannya dengan isi buku Al-Tafsir AL-Munir, kita akan mendapati bahwa langkah-langkah tersebut tidak disebutkan secara berurutan sesuai dengan pola penulisan. Dalam menafsirkan suatu surat, beliau secara sistematis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Kajian pendahuluan Pada bagian ini penulis memberikan gambaran umum surat yang akan dikaji. Info yang termuat pada bagian ini antara lain topik-topik yang termuat di dalam surat, nama surat dan alasan di balik penamaan tersebut dan keutamaan surat berdasarkan sumber-sumber riwayat yang sahih. 2. Kajian etimologis Kajian etimologis merupakan upaya memahami makna ayat dari tinjauan bahasa yang digunakan. Pada bagian ini, penulis mengangkat bahasan qiraat, i’rab, kosakata dan sisi keindahan ayat. Dengan kajian ini, penulis menjelaskan maksud ayat dari tampilan luarnya. 3. Kajian teoritis Setelah kajian etimologis, penulis berlanjut masuk ke dalam isi ayat yaitu sub-judul al-Tafsir wa al-bayan. Bagian ini merupakan bagian penting dan utama yang menjabarkan interpretasi serta isi kandungan ayat Al-Qur’an secara detail. Penulis pada bagian mengungkapkan dan mengembangkan teori-teori kehidupan yang dijelaskan oleh ayat-ayat Al-Qur’an, baik secara eksplisit dan implisit. 4. Kajian praktis Bagian terakhir interpretasi penulis saat memahami ayat adalah Fiqh Al-Hayat Faw Al-Ahkam ( konsep memahami kehidupan atau produk-produk hukum ). Bagian ini merupakan kajian praktis dari ayat. Berbeda dengan bagian sebelumnya yang berusaha menjawab pertanyaan bagaimana makna yang terkandung di dalam ayat, pada bagian ini penulis berusaha menjawab pertanyaan bagaimana cara mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung di dalam ayat untuk diterapkan ke dalam kehidupan nyata kekinian. Jika ayat yang sedang dikaji tidak memuat konten hukum atau yang berbau hukum, maka penulis mengajak kita selaku para pembaca untuk bersama-sama merenungi makna filosofis yang dapat kita pahami dari ayat tersebut. Refleksi ini perlu -bahkan sangat penting dilakukan dan dikembangkan- agar kehidupan manusia tidak terlepas dari nilai-nilai qur’ani. Melalui bagian inilah penulis ingin merealisasikan keinginan beliau untuk melakukan sinkronisasi antara kehidupan manusia yang kompleks dan terus berkembang dengan tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang diuraikan melalui untaian ayat-ayat Al-Qur’an dan sekaligus sebagai pedoman bagi manusia dalam menjalani kehidupan. Untuk ayat-ayat ahkam ( berisi hukum ) atau ayat-ayat yang berkaitan dengan tema-tema bahasan Fiqh, penulis sering memasukkan produk-produk hukum ke dalam buku Tafsir beliau ini. Pada bagian ini, penulis memaparkan berbagai macam pendapat dari empat mazhab. Dari sini, kita akan mendapati bukti lain bahwa penulis sekali bersikap moderat karena tidak fanatik dalam bermadzhab. Selain menampilkan pendapat-pendapat ulama, penulis juga tidak jarang menegaskan sikap beliau pada kasus-kasus tertentu. Semisal pada kasus status hukuman qishash, beliau menyampaikan qishash bukanlah hukuman utama bagi tindak kejahatan pembunuhan. Beliau menegaskan bahwa justru ampunan-lah atau penyataan maaf dari pihak keluarga korban yang islam ajarkan dan anjurkan. Beliau juga menambahkan kepastian nasib pelaku pembunuhan apakah dijatuhi hukuman qishash atau dimaafkan berada di tangan keluarga korban, jika keluarga korban menghendaki hukuman qishash, maka pelaksanaan qishash harus diserahkan kepada pemerintah yang berwenang karena tujuan utama qishash bukanlah membalas nyawa dengan nyawa, melainkan mempunyai cita-cita luhur untuk memutus rantai tindak kriminal pembunuhan. Referensi : Lintas Madzhab Tafsir Selain menyusun langkah-langkah menafsirkan Al-Qur’an secara sistematis seperti di atas, Prof. Dr. Wahbah Al-Zuhaily secara lugas bahwa beliau kerap merujuk pendapat-pendapat para ulama terdahulu yang termuat di dalam karya-karya tulis yang mereka wariskan. Karena mengupayakan kajian yang komprehensif dan kekinian, penulis pun mengadopsi pemikiran ulama terdahulu dan turut serta mengutip pemahaman ulama yang hidup di era modern. Penulis juga berupaya mengolaborasikan berbagai macam kajian keislaman dari ranah yang berbeda demi mewujudkan pemahaman yang integratif dan menyeluruh. Di penghujung kata pengantar sekaligus guna mengakhiri penjelasan mengenai metodologi penulisan Tafsir, penulis menyebutkan secara eksplisit berbagai literatur yang turut serta menginspirasi dan menjadi rujukan utama beliau dalam penulisan Al-Tafsir Al-Munir. Pada kajian etimologis yang bereorientasi pada kajian bahasa, sastra dan orisinalitas kebahasaan, penulis menyatakan bahwa beliau berkiblat pada Tafsir Shafwat Al-Tafasir yang ditulis oleh Prof. Muhammad ‘Ali Al-Shabbuni. Untuk urusan gramatikal, penulis mengacu pada Tafsir buah karya Abu Hayyan Al-Andalusiy yang berjudul Al-Bahru Al-Muhith. Beliau juga tidak jarang menyebut nama Al-Zamakhsyari atau mengutip bahasan pakar bahasa dan sastra ini yang dituangkan dalam Tafsirnya yang berjudul Al-kasysyaf guna mengungkap nilai-nilai estetika ayat-ayat suci Al-Qur’an. Selain itu, penulis tidak melupakan aspek qiraat yang menjaga orisinalitas bacaan ayat. Untuk persoalan ini beliau mengacu pada beberapa buku, antara lain salah satu buku induk qiraat yang berjudul Al-Nasyr fi Al-Qiraat Al-‘Asyr karya tulisan Ibnu Al-Jazari. Kajian kedua disebut-sebut sebagai kajian teoritis. Kajian ini merupakan kajian inti dalam buku Al-Tafsir Al-Munir yang merefleksikan upaya penulis guna ‘mengudarakan’ pesan-pesan Al-Qur’an. Upaya penulis untuk mengekstrak intisari yang terkandung di dalam ayat suci Al-Qur’an dan mengekspos intisari tersebut secara gamblang ke ruang publik disokong oleh pemikiran-pemikiran mufassirin terdahulu yang termuat di dalam karya-karya yang mereka wariskan, antara lain Tafsir Mafatih Al-Ghaib karya Al-Razi yang syarat dengan kajian filosofis dan buku Tafsir tebal peninggalan Al-Alusi yang berjudul Ruh Al-Ma’ani. Untuk ayat-ayat yang mengisahkan para Nabi dan umat terdahulu, penulis memang secara tegas mewanti-wanti untuk menghindari cerita-cerita Israiliyyat. Sebagai solusi, penulis memilih Tafsir karya Al-Khazin dan Al-Baghawi sebagai sumber informasi ayat-ayat sejarah. Demi merealisasikan cita-cita mulia untuk membentuk hubungan yang sinkron antara umat manusia dengan Kitab Suci Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya, penulis menambahkan kajian praktis sehingga pemahaman manusia terhadap Al-Qur’an tidak terhenti pada ranah konsep atau teori saja. Jika Al-Qur’an mampu menjawab kebutuhan manusia di era modern seperti ini, tentu mereka akan lebih mudah menerima keabsahan Al-Qur’an. Dengan demikian, kajian ayat-ayat Al-Qu’ran perlu di-update sering dengan perkembangan zaman. Pe-mutaakhir-an (pengemabangan lebih lanjut_red) kajian Al-Qur’an dimaksudkan untuk memaparkan secara ilmiah solusi yang disuguhkan Al-Qur’an dalam menjawab problem kekinian. Kajian demikian bukan sebaliknya diartikan sebagai usaha merekayasa ayat-ayat Al-Qur’an agar sesuai dengan teori ilmiah yang berkembang atau agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern. Hal ini sesuai dengan kutipan penjelasan Prof. Dr. Wahbah Al-Zuhaily selaku penulis buku Al-Tafsir Al-Munir sebagai berikut:  Tetapi, penggunaan ayat-ayat Al-Qur’an dalam rangka menguatkan pendapat mazhab atau pandangan kelompok islam tertentu atau mentakwil ayat-ayat Al-Qur’an sedemikian rupa demi mendukung keabsahan suatu teori ilmiah baik tradisional maupun modern, upaya tersebut seharusnya dihindari karena Al-Qur’an mempunyai derajat yang lebih tinggi, status yang lebih agung dan posisi lebih mulia daripada sekedar pemikiran, paham maupun sekte tertentu. Al-Qur’an bukan pula buku tentang pengetahuan atau wawasan semesta yang semisal berisi tentang orbit, ilmu ruang angkasa, kedokteran, matematika dan lain-lain. Meski secara implisit menyinggung hal tersebut, Al-Qur’an tetaplah buku petunjuk dari Tuhan, peraturan agama dan cahaya yang menunjukkan kepada Aqidah yang sejati, memperbaiki jalan-jalan kehidupan, etika serta norma-norma kemanusiaan yang mulia, sebagaimana Firman Allah : “telah datang kepada kalian sebuah cahaya dan buku yang jelas. Allah dengan buku tersebut memberikan kepada orang-orang yang mencari rida-Nya menuju jalan-jalan kedamaian dan mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya dengan seizin-Nya serta megarahkan mereka ke jalan yang lurus. (QS. Al-Maidah: 5/15-16) ( Al-Tafsir Al-Munir Juz I halaman 11) Kondisi ini yang (mungkin) kemudian mengilhami penulis untuk memberikan catatan kecil di akhir kata pengantar beliau bahwa Tafsir yang beliau ajarkan merupakan kajian mendalam yang secara teoritis maupun praktis telah didahului banyak makna asam garam selama berpuluh-puluh tahun di berbagai ranah kajian keilmuan. Salah satu kajian yang terus berkembang seiring dengan perubahan waktu adalah kajian Fiqh. Untuk kajian Fiqh, penulis -meski sebagai salah satu pakar di bidang tersebut- tetap menjunjung tinggi produk-produk hukum yang termaktub dalam buku Ahkamul Qu’ran yang ditulis oleh Al-Jashshash dan Ibnul ‘Arabi serta Al-Jami’ fi Ahkam Al-Qur’an karya Al-Qurthubi. Selain khazanah keilmuan agama, penulis juga turut menyebutkan Tafsir karya Tantowi Jauhari dengan Al-Jawahir yang terobsesi pada kajian Tafsir dari sudut pandang ilmu pengetahuan modern dan teori-teori ilmiah yang terkait. Prinsip : Moderat Kritis Anti-Fanatisme dan Anti-‘Justisisme’ Sebagai penutup kajian metodologi penulis buku Al-Tafsir Al-Munir, ada dua pernyataan menarik dari penulis yang perlu kita renungi bersama. Pertama, beliau menegaskan sikap anti-fanatisme. Sikap ini beliau sampaikan pada kutikan pernyataan di bawah ini : Aku di setiap tulisanku sama sekali tidak terpengaruh oleh kecenderungan manapun, tidak pula terpengaruh oleh mazhab tertentu atau oleh pemahaman Aqidah yang diwariskan secara turun-temurun dari orang terdahulu. Pemanduku hanyalah kebenaran yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an yang mulia sesuai dengan karakteristik Bahasa Arab, term-term Syar’i serta menejelaskan sudut-sudut pandang para pakar Tafsir terdahulu dengan amanat, teliti dan jauh dari sikap fanatik ( Al-Tafsir Al-Munir Juz I halaman 11 ) Pada poin sebelumnya kita telah memahami bahwa literatur yang menjadi referensi dalam penulisan Al-Tafsir Al-Munir sangat beragam. Keanekaragaman literatur yang digunakan tidak hanya menunjukkan luas kajian Tafsir yang dituliskan oleh Prof. Dr. Wahbah Al-Zuhaily. Sebagai contoh, penulis merujuk kepada buku Al-Nasyr fi Al-Qiraat Al-‘Asyr. Buku ini tidak hanya sebagai bukti bahwa penulis memperhatikan aspek qiraat dalam menginterpretasi ayat-ayat Al-Qur’an, namun buku ini juga sebagai bukti bahwa penulis menjunjung tinggi kajian riwayat yang antara lain memuat bahasan qiraat. Sedangkan di sisi lain, penulis juga menyebutkan buku Al-Jawahir yang dapat dikatakan mewakili penafsiran Al-Qur’an dari ranah dirayat. Terlepas dari perdebatan apakah boleh melakukan interpretasi ayat-ayat Al-Qur’an dengan logika dan sejauhmana logika diperbolehkan masuk dalam ranah Tafsir, penulis mengambil sikap yang moderat. Beliau tidak secara fanatik mendukung pendekatan riwayat yang tidak perlu lagi diperdebatkan keabsahannya dalam menafsirkan Al-Qur’an selama riwayat tersebut valid dan di sisi lain beliau juga tidak serta merta menolak pendekatan dirayat yang berupaya menghadirkan ayat-ayat Tuhan yang sinkron dan selaras dengan perkembangan zaman. Hal yang serupa juga kita temukan dalam ranah kajian Fiqh. Dari pernyataan kedua yang kita kutip, penulis menjelaskan bahwa beliau tidak fanatik dalam mengikuti mazhab Fiqh tertentu. Sedangkan pada pernyataan kedua menyatakan bahwa ‘tidak etis’ jika kita melegalkan pendapat kita dengan berlandaskan pada ayat Al-Qur’an. Lantas bagaimanakah sikap penulis mengenai persoalan Fiqh dalam Al-Tafsir Al-Munir? Muhammad ‘Arif dalam tesis yang ia tulis menjabarkan bukti bahwa penulis menghadapi persoalan Fiqh yang berkaitan dengan ayat Al-Qur’an secara objektif. Beliau tidak memandang dari mazhab mana pendapat dilontarkan, melainkan menganalisa secara independen ayat Al-Qur’an dan mempertimbangkan secara mandiri pendapat yang lebih kuat dalilnya. Oleh karena itu, terkadang penulis lebih sepaham dengan suatu mazhab dan pada kasus lain beliau lebih condong kepada mazhab lain. Dengan kata lain, kita akan kesulitan mazhab apa yang dianut oleh pakar Fiqh Komparatif melalui buku Tafsir yang beliau tuliskan. Hal ini ditegaskan sendiri oleh penulis pada pernyataan kedua yang kita kutip di atas. Beliau menjelaskan bahwa beliau tidak ‘membela’ mazhab manapun. Beliau hanyalah membela ‘mazhab Qur’an’. Karakter kedua yang penulis sampaikan di sela-sela memperkenalkan metodologi Al-Tafsir Al-Munir adalah ‘anti-justisisme’. Sikap anti-justisisme berarti sikap kehati-hatian dalam menentukan sikap terhadap suatu persoalan secara independen serta tanpa mengklaim bahwa pendapat tersebut yang paling benar sedangkan yang lain adalah pendapat-pendapat yang keliru. Sikap yang beliau pilih ini termaktub pada tulisan sebagai berikut: aku sama sekali tidak mengira bahwa aku selama hidupku menuliskan satu kalimat ( satu maksud pasti ) saat menafsirkan Buku dan Firman Allah ( Al-Qur’an ) yang diwahyukan kepada Nabi-Nya karena tidak memungkinkan bagi siapa pun orang berilmu dengan seluas apapun ilmu yang dimiliki untuk memastikan maksud dari firman-Nya. Kehendak Allah tidaklah dapat dibatasi oleh penjelasan dan tidak ada satu pun orang yang mampu maksud dari kehendak Allah SWT secara mutlak. Interpretasi yang ada terhadap firman-Nya hanyalah upaya untuk menjelaskan, menjabarkan, mempermudah, mendekatkan perkara yang sulit, menjabarkan faedah, menjelaskan perkara yang samar dan mengarahkan orang yang membaca firman-Nya menuju maksud yang Ia kehendaki dan Ia tandaskan yaitu menunaikan petunjuk yang telah Allah wahyukan sebagai hukum pasti ( atau hukum dengan bahasa Arab ) yang menjadi pengadil bagi semua manusia, sebagai pegangan untuk berkomunikasi dengan Allah SWT dan sebagai pelindung umat Qur’an sampai hari Kiamat. ( Al-Tafsir Al-Wasith Juz I halaman 5 ) Pada kajian terdahulu kita telah mengetahui bahwa Prof. Dr. Wahbah Al-Zuhaily telah diberikan kemudahan oleh Allah SWT untuk menuliskan tiga buku Tafsir. Tiga buku tersebut adalah Al-Tafsir Al-Wajiz yang ditujukan untuk kalangan masyarakat umum, Al-Tafsir Al-Wasith yang menyasar kalangan masyarakat dengan pengetahuan tingkat menengah dan Al-Tafsir Al-Munir yang menjadi ‘ensiklopedi’ Tafsir yang beliau tuliskan dan dedikasikan untuk para cendekiawan yang berkecimpung di dunia Tafsir. Dengan apik, penulis telah turut serta bersumbangsih dalam ‘melangitkan’ ayat-ayat Allah SWT dengan kemasan yang menarik dan menyesuaikan tingkat kebutuhan pembacanya. Meski demikian, terlepas dari kesuksesan tersebut, penulis saat memberikan kata pengantar pada buku Al-Tafsir Al-Wasith menyampaikan bahwa Kalam Allah SWT merupakan ‘samudra tak berpantai’ seperti pada kutipan ketiga di atas. Dari pernyataan tersebut, kita setidaknya dapat menarik dua pemahaman. Pertama, kita mendapatkan pengetahuan yang hakiki dan sesuai kenyataan, yaitu Kalam Tuhan merupakan Tuhannya kalam sehingga wajar jika kajian Qur’an telah sukses menginspirasi karya-karya monumental dan deretan-deretan buku dengan jilid tebal yang saling sambung-menyambung seperti gerbong kereta api. Salah satu karya tersebut adalah buku Tafsir yang sedang kira kaji bersama, yaitu Al-Tafsir Al-Munir. Uniknya, kajian ini tidak pernah terhenti dan terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Kedua, sikap Tawadhu’. Ya, sikap rendah diri dapat kita temui dari sosok Prof. Dr. Wahbah Al-Zuhaily. Pernahkah kita membayangkan berapa hari yang kita butuhkan untuk membaca ketiga buku Tafsir karya beliau? Berapa waktu yang kita habiskan untuk memahami semua pemikiran yang beliau tuangkan ke dalam tiga buku Tafsir tersebut? Lebih dari itu, jika kita boleh berandai-andai, berapa lama waktu yang harus kita butuhkan untuk menuliskan buku dengan ketebalan yang menyamai ketiga Tafsir tadi? Kita tidak perlu menjawab semua pertanyaan ini. Cukuplah semua pertanyaan ini menjadi motivasi kita untuk terus berjihad dalam mencari ilmu Allah SWT yang tidak berpenghujung ini. Setidaknya dari sosok Prof. Dr. Wahbah Al-Zuhaily kita mendapatkan pelajaran yang sangat penting. Setebal apapun bukunya, Tafsir Al-Qur’an bertujuan untuk mewujudkan hubungan yang sinkron antara manusia dan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya dan setebal apapun jilidnya, Tafsir Al-Qur’an hanya bertujuan agar kita menjawab seruan Allah SWT dan mengikuti petunjuk-Nya. Semoga kita diberikan kelanggengan untuk terus mengaji dan mengkaji buku Al-Tafsir Al-Munir. Semoga keberkahan ilmu penulisnya turut Allah SWT limpahkan kepada kita. Dan dengan meong(k)aji buku ini, semoga buku ini menjadi ‘pencerah’ bagi kehidupan kita serta menginspirasi kita untuk menjawab seruan Allah SWT dan istiqomah berjalan di bawah cahaya petunjuk-Nya. Amiiinnn... ---------------- Sumber Rujukan : Prof. Dr. Wahbah Al-Zuhaily, Al-Tafsir Al-Wajiz, Damaskus : Dar Al-Fikr, cetakan kedua tahun 1996 M 1416 H. Prof. Dr. Wahbah Al-Zuhaily , Al-Tafsir Al-Wasith, Damaskus : Dar Al-Fikr, cetakan pertama tahun 2001 M 1422 H. Prof. Dr. Wahbah Al-Zuhaily , Al-Tafsir Al-Munir jilid I juz 1, Damaskus : Dar Al-Fikr, cetakan kesepuluh tahun 2009 M, 1430 H. Muhammad Arif Ahmad Fari’, Manhaj Wahbah Al-Zuhaily di Tafsirihi li Al-Qur’an Al-Karim “ Al- Tafsir Al-Muniir “ : Tesis Universitas Alul Bait

Tafsir Al-Munir: Seru(k)an Sikap Moderat dalam Balutan Fiqh

kalamulama.com- Seru(k)an Sikap Moderat dalam Balutan Fiqh. Penjelasan tentang metodologi merupakan salah satu langkah awal yang perlu kita pahami sebelum lebih jauh mendiskusikan isi...
kalamulama.com- KH AHMAD ISHOMUDIN PAPARKAN EMPAT FUNGSI BAHTSUL MASAIL NU. Bahtsul Masail Pra munas dan Konbes NU 2020 yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Falakiyah, Pagentongan, Bogor, Jawa Barat, Ahad (01/03). Acara pembukaan Bahtsul Masail PraMunas dan konbes NU 2020 dihadiri oleh Pengurus Besar NU, Pengurus Wilayah NU se-Jawa dan Lampung, dan Pengurus Lembaga Bahtsul Masail. Acara ini juga dihadiri oleh  Walikota Bogor, pengurus MWC NU se-Kota Bogor dan ribuan nahdliyin meliputi warga NU di sekitar Bogor serta para santri Pesantren Al Falakiyah, Al Falak, dan Al Umm. Dalam sambutannya Rais Syuriyah PBNU sekaligus Ketua Steering Committee pusat KH. Ahmad Ishomudin menyampaikan bahwa tugas alim ulama NU adalah bagaimana membahasakan bahasa fiqh yang kita fahami ke dalam bahasa undang-undang dan peraturan yang ada saat ini. Upaya untuk membahasakan ilmu fiqih ke dalam nilai-nilai sosial salah satunya adalah melalui bahtsul masail. Salah satu masalah terkini kaum muslimin adalah tak sedikit orang yang mengaku atau dianggap sebagai ustadz atau kyai hanya dari penampilannya misal seperti yang berjenggot dan yang berjuba. Akan tetapi ilmu dalam pemahaman agama tidak begitu dalam. Salah dalam membaca al Quran apalagi menafsirkannya. Memang benar kita harus memahami fitrah manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Namun pengertian tersebut tidak dapat diterima jika yang melakukan kesalahan adalah seorang ustadz atau kyai yang ditokohkan oleh masyarakat. Hal inilah yang menjadi salah satu latar belakang dibutuhkannya bahtsul masail. Menurut Gus Ahmad Ishomuddin, Rais Syuriah PBNU menuturkan kegiatan Bahtsul Masail secara umum memiliki 4 (empat) fungsi, di antaranya: Fungsi Ilmiah; Bahtsul Masail merupakan wadah ulama dan cedekiawan muslim dalam menyikapi permasalahan berdasarkan ilmu pengetahuan yang dikuasai. Hal ini menunjukkan bahwa dalam menentukan hukum suatu masalah memiliki dasar atau hujjah yang dapat dipertanggungjawabkan. Fungsi Silaturahim; Bahtsul Masail juga memiliki fungsi sebagai ajang silaturahim bagi seluruh elemen NU mulai dari simpatisan, pengurus, maupun tokoh petinggi NU. Fungsi Konsolidasi; Bahtsul Masail berfungsi sebagai sarana untuk memperkuat dan menyatukan warga Nahdliyin dalam ikatan Nahdliyyah. Seluruh warga Nahdliyin juga dapat berperan dalam perhelatan tahunan NU ini, saling mengenal dan membantu. Fungsi Kaderisasi, Bahtsul Masail menjadi wadah regenerasi ulama muda NU yang cerdas dan berbobot dalam bidang ilmu agama dari berbagai pesantren di penjuru nusantara. Dengan demikian generari muda NU diharapkan dapat menghidupkan eksistensi NU di masa mendatang. Kotributor: Nurul Muhibbah

KH AHMAD ISHOMUDIN PAPARKAN EMPAT FUNGSI BAHTSUL MASAIL NU

kalamulama.com- KH AHMAD ISHOMUDIN PAPARKAN EMPAT FUNGSI BAHTSUL MASAIL NU. Bahtsul Masail Pra munas dan Konbes NU 2020 yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Falakiyah,...
kalamulama.com- MENCIUM ANAK ADALAH SUNNAH NABI MUHAMMAD SAW. “Perbanyaklah kamu mencium anak cucumu karena imbalan dari setiap ciuman adalah surga.” (HR. Bukhari)" 4 Anggota Tubuh Anak Yang Perlu Dicium Orangtua Setiap Hari Mari lahirkan rasa kasih dalam diri anak-anak melalui sifat orang tua yang penyayang. Berikut ini adalah saran kami sebagai psikolog Islam yang sebaiknya diamalkan setiap hari terhadap anak-anak. CIUMAN KASIH SAYANG Di ubun-ubun, menunjukkan kebanggaan orangtua terhadap anak sambil didoakan agar menjadi anak soleh/sholehah, aamiin. Di dahi, menandakan orangtua redha atas keberadaan anak. Rasulullah s.a.w mencium Fatimah radiallahu anha di dahinya. Di kedua pipi, sambil mengucap maa syaa Allah, sebagai tanda _syauq_ (perasaan sayang dan rindu) orangtua terhadap anak. Di tangan anak, tanda mawaddah wa hubb (kasih sayang) sambil mengucap barakallah, sebagaimana Rasulullah s.a.w juga selalu mencium tangan putri tercinta : Fatimah r.a. SENTUHAN SAYANG Menggosok belakang kepala anak, sebagai tanda kasih sayang dan perlindungan. Menggosok atas kepala atau ubun-ubun, menunjukkan kebanggaan orangtua terhadap anak. Mengusap dahi, sebagai tanda syauq (perasaan sayang dan rindu) terhadap anak. Kedua pipi, juga tanda mawaddah wa hubb (kasih sayang). Memegang kedua tangan, untuk menenangkan anak ketika perasaannya tampak kacau atau bingung. Perhatian: Usaplah dada anak sambil istighfar saat ia menunjukkan kecenderungan berbuat salah atau sedang marah, untuk menenangkannya. Lakukan tindakan mawaddah warohmah ini diiringi kalimat-kalimat thoyyibah

MENCIUM ANAK ADALAH SUNNAH NABI MUHAMMAD SAW

kalamulama.com- MENCIUM ANAK ADALAH SUNNAH NABI MUHAMMAD SAW. “Perbanyaklah kamu mencium anak cucumu karena imbalan dari setiap ciuman adalah surga.” (HR. Bukhari)" 4 Anggota Tubuh...
kalamulama.com,  NIAT-NIAT YANG DIAJARKAN SALAFUSSHOLIH PADA PERMULAAN BULAN RAJAB Di awal bulan Rajab 1441 H ini, Mari kita berniat bersama, sebagaimana yg diajarkan oleh SALAFUSSHOLIH untuk berniat dengan niat yang Sholeh: نويت كما نوي مشايخنا واسلافنا الصالحون عند استقبال شهر رجب وفي أول ليلة من رجب وفي شهر رجب Nawaitu kamaa nawa Masyaayikhuna wa aslaafunas shoolihuuna 'indastiqbaali Syahri Rojaba wa fii awali lailatin min Rojaba wa fii Syahri Rojaba. [irp] Niat saya sebagaimana niat guru-guru kita dan Ulama salafus Sholihiin, ketika menyambut bulan Rajab pada permulaan bulan Rajab dan pada bulan Rajab. Niat saya memperbanyak istghfar, puasa sunnah, shodaqoh serta amal amal kebaikan untuk mencari keridho'anMu Ya Allah. Saya niat Taubah sungguh-sungguh (nasuha) dari segala dosa dan kesalahan yang saya kerjakan sengaja atau tidak sengaja. Saya niat Taubat dari segala amal-amal yang wajib yang tidak saya kerjakan sengaja ataupun tidak. Saya niat menjaga mata dari hal-hal yangg tidak Engkau Ridhoi Saya niat menjaga lisan dari ucapan ucapan yang tidak Engkau ridho'i (Ghibah, bohong, caci maki, namimah, membuka aib orang lain, dsb). Saya niat menjaga telinga dari mendengar suara yang tidak Engkau Ridho'i. Saya niat menjaga tangan dan kaki dari menggerakkannya untuk sesuatu yang tidak engkau Ridho'i Saya niat menjaga seluruh tubuhku dari sesuatu yang tidak Engkau Ridho'i. Saya niat menjaga hati dari penyakit-penyakitnya (ujub, sombong, dengki, Riya, su'uzhon, cinta & mengagungkan dunia, suka dari hal hal yang tidak Engkau Ridhoi). Saya niat menghiasi diri dan hati kami dari kebaikan kebaikan yang Engkau Ridho'i. [Baca Juga: Amalan dan Keutamaan Bulan Rajab Lengkap] Do'a Ya Allah .... Bukakanlah pintu Taubat dan Kebaikan kepada kami... Kami tidak mampu melaksanakan kebaikan dan tidak mampu berhenti dari perbuatan dosa dan kesalahan kecuali dengan Taufiq dan kemudahan dari Mu. Ya Allah Berkahi kami di Bulan Rajab dan Sya'ban dan sampaikan kami di Bulan Ramadhan. امين يا رب العالمين. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى اله وأصحابه أجمعين. Semoga Bermanfaat, Wallahu a'lam Bishowab

NIAT – NIAT YANG DIAJARKAN SALAFUSSHOLIH PADA PERMULAAN BULAN RAJAB

kalamulama.com,  NIAT-NIAT YANG DIAJARKAN SALAFUSSHOLIH PADA PERMULAAN BULAN RAJAB Di awal bulan Rajab 1441 H ini yang jatuh pada hari senin tanggal 24 Februari 2020....
AKIBAT PURA-PURA BERSHOLAWAT. Seorang artis terkenal yang sering membintangi film-film panas di Mesir, suatu ketika mendapatkan peran di sebuah film untuk memerankan Sayyidah Rabiatul Adawiyah.

AKIBAT PURA-PURA BERSHOLAWAT

kalamulama.com-  AKIBAT PURA-PURA BERSHOLAWAT. Seorang artis terkenal yang sering membintangi film-film panas di Mesir, suatu ketika mendapatkan peran di sebuah film untuk memerankan Sayyidah...
video

Sikap Gus Baha Kepada Orang yang Suka Nanya Dalil

kalamulama.com- Sikap Gus Baha Kepada Orang yang Suka Nanya Dalil. Fenomena beragama saat ini memang semarak. Terlihat dari semangat masyarakat muslim belajar agama dengan...