Kajian Islam

Kalam Ulama - Sambutan Sebelum Pemakaman Jenazah yang akan diberangkatkan ke pemakaman, sudah lazim di lingkungan kita ada sambutan dari tokoh yang mewakili keluarga. Rupanya hal semacam ini sudah dilakukan sejak masa ulama salaf: ﻗﺎﻝ ﺟﺮﻳﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﻳﻮﻡ ﻣﺎﺕ اﻟﻤﻐﻴﺮﺓ ﺑﻦ ﺷﻌﺒﺔ، ﻗﺎﻡ ﻓﺤﻤﺪ اﻟﻠﻪ ﻭﺃﺛﻨﻰ ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﻗﺎﻝ: ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺑﺎﺗﻘﺎء اﻟﻠﻪ ﻭﺣﺪﻩ ﻻ ﺷﺮﻳﻚ ﻟﻪ، ﻭاﻟﻮﻗﺎﺭ، ﻭاﻟﺴﻜﻴﻨﺔ، ﺣﺘﻰ ﻳﺄﺗﻴﻜﻢ ﺃﻣﻴﺮ، ﻓﺈﻧﻤﺎ ﻳﺄﺗﻴﻜﻢ اﻵﻥ. ﺛﻢ ﻗﺎﻝ: اﺳﺘﻌﻔﻮا ﻷﻣﻴﺮﻛﻢ، ﻓﺈﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻳﺤﺐ اﻟﻌﻔﻮ Jarir bin Abdullah berkata saat wafatnya Mughirah bin Syu'bah (Gubernur Kufah dimasa Bani Umayyah, 50 H), setelah ia memuji kepada Allah: "Tetaplah kalian bertakwa kepada Allah, yang maha esa tidak ada sekutu bagi Allah. Tetap semangat dan tenang, hingga datang pemimpin baru. Mintalah ampunan kepada Allah untuk Mughirah, karena ia (dahulu) senang memaafkan" ﺛﻢ ﻗﺎﻝ: ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ، ﻓﺈﻧﻲ ﺃﺗﻴﺖ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﻠﺖ: ﺃﺑﺎﻳﻌﻚ ﻋﻠﻰ اﻹﺳﻼﻡ ﻓﺸﺮﻁ ﻋﻠﻲ: «ﻭاﻟﻨﺼﺢ ﻟﻜﻞ ﻣﺴﻠﻢ» ﻓﺒﺎﻳﻌﺘﻪ ﻋﻠﻰ ﻫﺬا، ﻭﺭﺏ ﻫﺬا اﻟﻤﺴﺠﺪ ﺇﻧﻲ ﻟﻨﺎﺻﺢ ﻟﻜﻢ، ﺛﻢ اﺳﺘﻐﻔﺮ ﻭﻧﺰﻝ Jarir berkata: "Sungguh aku mendatangi Nabi shalla Allahu alaihi wasallam dan saya berbaiat atas Islam. Maka Nabi memberi syarat kepada saya untuk menasehati sesama Muslim. Saya terima baiat itu. Demi Allah pemilik masjid ini, sungguh aku memberi nasehat kepada kalian". Kemudian ia beristighfar lalu turun (Sahih Bukhari sebelum Bab Ilmu) Ustadz Ma'ruf Khozin Subscribe Channel Kalam Ulama TV : https://www.youtube.com/c/KalamUlamaOfficial Semoga bermanfaat dan berkah, jangan lupa bagikan!!!

Ustadz Ma’ruf Khozin : Sambutan Sebelum Pemakaman

Kalam Ulama - Sambutan Sebelum Pemakaman Jenazah yang akan diberangkatkan ke pemakaman, sudah lazim di lingkungan kita ada sambutan dari tokoh yang mewakili keluarga. Rupanya...
Kalam Ulama - SANAD DALAILUL KHOIROT LIRBOYO, SHAHIHKAH? - Gus Ahmad Syauqi Budeiri, mahasiswa di Ma'had Imam Malik kota Tetouan, melayangkan pertanyaan mengenai sanad kitab Dalailul Khairat karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli kepada Maulana Al-Imam Al-Allamah Al-Muhaddits Asy-Syarif Sayyidi Dr. Abdul Mun'im ibn Ash-Shiddiq Al-Ghumari Al-Idrisi Al-Hasani. Oleh Maulana Al-Imam, sanad tersebut diserahkan kepada saya untuk diteliti. Sanad tersebut sebagai berikut. عن الشيخ أحمد إدريس مرزوقي عن شيخه الشيخ مرزوقي دخلان عن شيحه عبد الكريم عن شيخه الشيخ هاشم أشعري عن شيخه الشيخ دمياطي بن عبد الله الترمسي عن الشيخ محفوظ بن عبد الله الترمسي (ح) عن الشيخ أحمد إدريس مرزوقي عن الشيخ دلهر النحروي بن عبد الرحمن وعن الشيخ بيضاوي بن عبد العزيز اللاسمي وعن الشيخ عبد الحليم بن صديق الجمباري عن الشيخ هاشيم أشعري عن الشيخ محفوظ بن عبد الله الترمسي عن الشيخ محمد أمين بن أحمد رضوان المدني عن الشيخ يوسف المدني عن الشيخ محمد بن أحمد المذغوري عن الشيخ محمد بن أحمد بن أحمد المشنى عن الشيخ أحمد إبن الحاج عن الشيخ عبد القادر الفاسي عن الشيخ أحمد المقري عن الشيخ أحمد بن أبي العباس الصماعي عن الشيخ أحمد بن موسى السملالي عن الشيخ عبد العزيز التباع عن المؤلف الشيخ أبي عبد الله محمد بن سليمان الجزولي. Dari Syekh Ahmad Idris Marzuqi dari Syekh Marzuqi Dahlan dari Syekh Abdul Karim dari Syekh Hasyim Asy'ari dari gurunya, Syekh Dimyathi bin Abdullah At-Tarmasi, dari Syekh Mahfudz bin Abdullah At-Tarmasi. Juga dari jalur Syekh Ahmad Idris Marzuqi dari Syekh Dalhar Nahrawi bin Abdurrahman dari Syekh Baidhawi bin Abdul Aziz Al-Lasmi dari Syekh Abdul Halim bin Shiddiq Al-Jimbari dari Syekh Hasyim Asy'ari dari Syekh Mahfudz bin Abdullah At-Tarmasi dari Syekh Muhammad Amin bin Ahmad Ridhwan Al-Madani dari Syekh Yusuf Al-Madani dari Syekh Muhammad bin Ahmad Al-Madzghuri dari Syekh Muhammad bin Ahmad bin Ahmad Al-Musyanna dari Syekh Ahmad ibn Al-Hajj dari Syekh Abdul Qadir Al-Fasi dari Syekh Ahmad Al-Muqri dari Syekh Ahmad bin Abul Abbas Ash-Shuma'i dari Syekh Ahmad bin Musa As-Samlali dari Syekh Abdul Aziz At-Tabba' dari Syekh Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli. Adapun kesimpulan saya sebagai berikut. Pertama, sanad ini adalah sanad Maqlub sebab ada rawi yang berputar namanya. Kalau diperhatikan perawi Syekh Muhammad Amin bin Ahmad Ridhwan Al-Madani (1252–1329 H) mengambil dari Syekh Yusuf Al-Madani. Ini kurang tepat. Seharusnya Syekh Muhammad Amin bin Ahmad Ridhwan Al-Madani mengambil dari Syekh Ali bin Yusuf Al-Madani. Sebab Syekh Muhammad Amin memang sezaman dengan beliau dengan dalil bahwa penulis kitab Dzafrul Amani, Syekh Muhammad Abdul Hayy Al-Laknawi, yang mengambil ijazah dari beliau pada tahun 1200 di toko beliau di Madinah. Syekh Ali, atau Ali bin Yusuf Malik Bisyli Al-Madani Al-Hariri memang dikenali dengan ahli kitab Dalailul Khairat. Beliau adalah seorang pedagang sutera di Madinah. Toko beliau dekat dengan Bab Salam atau Bab Rahmah. Beliau mampu melayani pemberi seraya mendengarkan bacaan kitab Dalail murid-muridnya dan membenarkan jika ada salah. Kedua, sanad ini munqati sebab ada rawi yang terputus. Syekh Ali bin Yusuf Al-Madani tidak ada catatan ke Maroko, sedang Syekh Muhammad bin Ahmad Al-Madghuri (1173–1273 H) tinggal di Maroko. Kemungkinan ada wasilah di sini atau bertemu saat musim haji. Selain itu, Syekh Ahmad bin Musa As-Samlali memang bertemu dan semasa dengan Syekh Abdul Aziz At-Tabba, hanya saja tidak tsabit atasnya pengambilan. Kemungkinan As-Samlali mengambil dari gurunya, Al-Quthb Abdullah Al-Ghazwani Al-Marrakasyi, yang merupakan murid At-Tabba. Sebagaimana ditulis oleh Al-Musnid Syekh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani Al-Makki dalam ta'liq beliau terhadap Kifayatul Mustafid. Hanya saja Al-Fadani menyebut dengan nama Al-Ghazni. Kemungkinan salah cetak. Ketiga, sanad ini majhul sebab ada rawi yang tak dikenali. Dia adalah Syekh Muhammad bin Ahmad bin Ahmad Al-Musyanna yang mengambil riwayat dari Ahmad ibn Al-Hajj (1042–1109 H) dan yang mengambil daripada beliau Syekh Muhammad bin Ahmad Al-Madghuri atau Al-Alawi Al-Madghuri (1173–1273 H). Saya sudah mencari di berbagai sumber, khususnya kitab Al-A'lam Al-Maghribi, dan saya tidak menemukan orang ini. Senadainya orang ini benar ada, saya rasa namanya adalah Muhammad bin Ahmad bin Ahmad Al-Mutsanna, bukan Al-Musyanna. Sebab tak ada nama keluarga maupun daerah Al-Musyanna di Maroko yang saya temukan. Al-Mutsanna kemungkinan sebab ayahnya namanya Ahmad, membedakan dengan nama kakeknya yang juga Ahmad. Orang dengan nama seperti ini adalah perawi hadis di zaman salaf, bukan sufi di masa khalaf. Kalaupun orang ini ada, maka ini kemungkinan ia menutup nama orang di atasnya, sekitar satu atau dua. Riwayat beliau kemungkinan munqati atau mu'dhal. Sebab jarak wafat Ibn Al-Hajj dengan lahir Al-Madghuri saja 64 tahun. Sehingga usia Al-Mutsanna paling kurang sekitar 70-an tahun. Orang inilah yang membuat riwayat ini tinggi dan dia adalah rawi majhul. Kesimpulannya, riwayat ini mengandung munqalab, munqati, dan majhul serta kemungkinan besar mu'dhal. Kendati demikian, kita tak bisa memungkiri orang-orang lain dalam sanad ini. Mereka adalah orang-orang besar di zamannya. Kedhaifan riwayat dari segi jalur periwayatan tak membuat matan riwayat, yakni kitab Dalailul Khairat, ini salah. Tidak sama sekali. Hanya saja ini adalah jawaban bagi pertanyaan yang dilayangkan. Ini adalah hasil sementara. Sebab memang beberapa nama masih dalam pelacakan. Saya masih menunggu beberapa naskah, seperti Al-Ma'sul (biografi ulama-ulama Marakesh) dan lainnya. Semoga sanad ini tsabit dengan dalil naskah-naskah tersebut. Wallahu subhanahu wa ta'ala a'lam. Tanger, 9 Februari 2019 Ustadz Adhli Al-Qarni

SANAD DALAILUL KHOIROT LIRBOYO, SHAHIHKAH?

Kalam Ulama - SANAD DALAILUL KHOIROT LIRBOYO, SHAHIHKAH? - Gus Ahmad Syauqi Budeiri, mahasiswa di Ma'had Imam Malik kota Tetouan, melayangkan pertanyaan mengenai sanad kitab...
Kalam Ulama - Doa Malaikat untuk 12 Golongan 1. Orang yang tidur dalam keadaan suci. عن ابن عمر رضي الله عنْهما قال : قال رسوْل الله صلى الله عليْه وسلم : " منْ بات طاهرا ؛ بات في شعاره ملكٌ فلمْ يسْتيْقظْ إلا قال الملك:اللهـم اغْفـرْ لعبْـدك فـلان ؛ فـإنه بـات طـاهـرا " "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa: Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci." (HR. Imam Ibnu Hibban dari Abdullah bin Umar) 2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ : " إِنَّ أَحَدَكُمْ مَا قَعَدَ يَنْتَظِرُ الصَّلاةَ فَهُوَ فِي صَلاةٍ مَا لَمْ يُحْدِثْ ، تَدْعُو الْمَلائِكَةُ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ " . "Tidaklah salah seorang di antara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya: Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia." (HR Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Muslim 469) 3. Orang-orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah. عن البراء بن عازب رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((إن الله وملائكته يصلون على الصفوف الأول)) "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf-shaf terdepan." (Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib) 4. Orang-orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf). عن عائشة قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إن الله وملائكته يصلون على الذين يصلون الصفوف، ومن سدّ فرجة رفعه الله بها درجة)) "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf." (Para Imam, yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah) 5. Orang yang mengucapkan 'aamiin' ketika seorang Imam selesai membaca Al-Fatihah. إذا قال الإمام: {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ}، فقولوا آمين، فإنه من وافق قوله قول الملائكة، غفر له ما تقدم من ذنبه» "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu." (HR. Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari 782) 6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. عن أبي هريرة أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال : الملائكة تصلي على أحدكم ما دام في مصلاه الذي صلى فيه ما لم يحدث ، اللهم اغفر له اللهم ارحمه "Para malaikat akan selalu bershalawat (berdoa) kepada salah satu di antara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat di mana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata: Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia." (HR. Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106) 7. Orang-orang yang melakukan shalat Shubuh dan 'Ashar secara berjama'ah. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يتعاقبون فيكم ملائكة بالليل وملائكة بالنهار ويجتمعون في صلاة الصبح وصلاة العصر ثم يعرج الذين باتوا فيكم فيسألهم الله – وهو أعلم بهم – كيف تركتم عبادي؟ فيقولون تركناهم وهو يصلون “Para Malaikat dimalam dan siang hari silih berganti mengawasi kalian, dan mereka berkumpul pada saat shalat Subuh dan shalat Ashar, kemudian para malaikat yang mengawasi kalian semalam suntuk naik (ke langit). Allah menanyakan kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui dari mereka, “Dalam keadaan apakah kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?” Mereka menjawab, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mengerjakan shalat” (Muttafaqun ‘alaihi) 8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. عن أبي الدرداء عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((دعوة المرء المسلم لأخيه بظهر الغيب مستجابة، عند رأسه ملك، كلما دعا له بخير قال الملك الموكل به: آمين، ولك بمثل)) "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya,setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan." (HR. Imam Muslim dari Abi Darda', Shahih Muslim 2733) 9. Orang-orang yang berinfak. عن أبي هريرة -رضي الله تعالى عنه- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: (ما من يوم يصبح العباد فيه إلا ملكان ينزلان فيقول أحدهما: اللهم أعطِ منفقاً خلفاًً، ويقول الآخر: اللهم أعطِ ممسكاً تلفاً) "Tidak satu hari pun di mana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu di antara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit." (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari 1442 dan Shahih Muslim 1010) 10. Orang yang sedang makan sahur. عن ابن عمر رضي الله عنهما: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((إن الله تعالى وملائكته يصلون على المتسحرين)) "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa) kepada orang-orang yang sedang makan sahur. Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa sunnah." (HR. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, dari Abdullah bin Umar) 11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit. مَا مِنْ رَجُلٍ يَعُودُ مَرِيضًا مُمْسِيًا إِلَّا خَرَجَ مَعَهُ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَسْتَغْفِرُونَ لَهُ حَتَّى يُصْبِحَ وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ وَمَنْ أَتَاهُ مُصْبِحًا خَرَجَ مَعَهُ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَسْتَغْفِرُونَ لَهُ حَتَّى يُمْسِيَ وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ Tidaklah seseorang menjenguk orang sakit pada sore (malam) hari kecuali 70 ribu Malaikat keluar beristighfar untuknya sampai pagi hari dan ia berada di taman surga. Barangsiapa yang menjenguknya di waktu pagi 70 ribu Malaikat akan keluar beristighfar untuknya sampai sore (malam) hari dan ia berada di taman surga (H.R Abu Dawud, atTirmidzi) 12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. عن أبي أمامة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((فضل العالم على العابد كفضلي على أدناكم))، ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إن الله وملائكته، وأهل السموات والأرض، حتى النملة في جحرها، وحتى الحوت ليصلون على معلمي الناس الخير)). "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah di antara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain." (HR. Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily). Wallâhu A'lam.

Untuk Siapa Doa Malaikat untuk 12 Golongan?

Kalam Ulama - Doa Malaikat untuk 12 Golongan 1. Orang yang tidur dalam keadaan suci. عن ابن عمر رضي الله عنْهما قال : قال رسوْل الله...
Kalam Ulama - Jenazah yang akan diberangkatkan ke pemakaman, sudah lazim di lingkungan kita ada sambutan dari tokoh yang mewakili keluarga. Rupanya hal semacam ini sudah dilakukan sejak masa ulama salaf: ﻗﺎﻝ ﺟﺮﻳﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﻳﻮﻡ ﻣﺎﺕ اﻟﻤﻐﻴﺮﺓ ﺑﻦ ﺷﻌﺒﺔ، ﻗﺎﻡ ﻓﺤﻤﺪ اﻟﻠﻪ ﻭﺃﺛﻨﻰ ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﻗﺎﻝ: ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺑﺎﺗﻘﺎء اﻟﻠﻪ ﻭﺣﺪﻩ ﻻ ﺷﺮﻳﻚ ﻟﻪ، ﻭاﻟﻮﻗﺎﺭ، ﻭاﻟﺴﻜﻴﻨﺔ، ﺣﺘﻰ ﻳﺄﺗﻴﻜﻢ ﺃﻣﻴﺮ، ﻓﺈﻧﻤﺎ ﻳﺄﺗﻴﻜﻢ اﻵﻥ. ﺛﻢ ﻗﺎﻝ: اﺳﺘﻌﻔﻮا ﻷﻣﻴﺮﻛﻢ، ﻓﺈﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻳﺤﺐ اﻟﻌﻔﻮ Jarir bin Abdullah berkata saat wafatnya Mughirah bin Syu'bah (Gubernur Kufah dimasa Bani Umayyah, 50 H), setelah ia memuji kepada Allah: "Tetaplah kalian bertakwa kepada Allah, yang maha esa tidak ada sekutu bagi Allah. Tetap semangat dan tenang, hingga datang pemimpin baru. Mintalah ampunan kepada Allah untuk Mughirah, karena ia (dahulu) senang memaafkan" ﺛﻢ ﻗﺎﻝ: ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ، ﻓﺈﻧﻲ ﺃﺗﻴﺖ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﻠﺖ: ﺃﺑﺎﻳﻌﻚ ﻋﻠﻰ اﻹﺳﻼﻡ ﻓﺸﺮﻁ ﻋﻠﻲ: «ﻭاﻟﻨﺼﺢ ﻟﻜﻞ ﻣﺴﻠﻢ» ﻓﺒﺎﻳﻌﺘﻪ ﻋﻠﻰ ﻫﺬا، ﻭﺭﺏ ﻫﺬا اﻟﻤﺴﺠﺪ ﺇﻧﻲ ﻟﻨﺎﺻﺢ ﻟﻜﻢ، ﺛﻢ اﺳﺘﻐﻔﺮ ﻭﻧﺰﻝ Jarir berkata: "Sungguh aku mendatangi Nabi shalla Allahu alaihi wasallam dan saya berbaiat atas Islam. Maka Nabi memberi syarat kepada saya untuk menasehati sesama Muslim. Saya terima baiat itu. Demi Allah pemilik masjid ini, sungguh aku memberi nasehat kepada kalian". Kemudian ia beristighfar lalu turun (Sahih Bukhari sebelum Bab Ilmu)

Sambutan Sebelum Pemakaman Jenazah

Kalam Ulama - Jenazah yang akan diberangkatkan ke pemakaman, sudah lazim di lingkungan kita ada sambutan dari tokoh yang mewakili keluarga. Rupanya hal semacam...
Kalam Ulama - Habib Umar bin Hafidz : Baiknya Sholatmu Menentukan Nasib Hidupmu من تعود على تأخير الصلاة, رجل او إمراة, فليتهيأ للتأخير في كُل أمورحياته..! Barang siapa terbiasa Mengakhirkan sholat,, baik laki laki mau pun perempuan,, Maka bersiaplah ia terlambat dalam segala urusan kehidupan nya..! زواج,, وظيفة,, ذُرية,, عافية,, تكملة,, توفيق. Nikah, pekerjaan, keturunan, kesehatan, kemapanan, petunjuk. قالُ الحَسنُ البَصري ; إذَا هَانَت عَليكَ صَلاتك فَمَا الذي يَعزُ عَليـكْ ؟ Hasan aL Bashri berkata ; Jika sholat saja sepele bagi mu maka adakah urusan yang lebih penting menurut mu ? بقدر ماتتعدل صلاتك تتعدل حياتك. Seperti apa engkau merubah sholat mu seperti itulah engkau merubah hidup mu. ألم تعلم أن الصلاة اقترنت بالفـلاح. Tidakkah engkau tau bahwa sholat itu bergandengan dengan kesuksesan. حي على الصلاة حي على الفلاح. Marilah melakukan sholat marilah meraih kemenangan. فكيف تطلب من الله التوفيق وأنت لحقه غير مجيب. Bagaimana mungkin engkau minta kesuksesan kepada Allah,, sedangkan kamu tidak tunaikan haq nya. اللهم اجعلنا ممن يقيم الصلاة في وقتها. Yaa Allah,, Jadikanlah kami termasuk orang yang mendirikan sholat tepat pada waktu nya. [Habib Umar bin Salim bin Hafidz] Kredit : Muh Mudasir AlAzhari al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz yang dilahirkan pada hari Senin, 27 Mei 1963 M [Kalender Hijriyah: 4 Muharram 1383][1], adalah seorang ulama dunia era modern. al-Habib ‘Umar kini tinggal di Tarim, Yaman di mana dia mengawasi perkembangan di Dar-al Musthafa dan berbagai sekolah lain yang telah dibangun di bawah manajemennya. Dia masih memegang peran aktif dalam dakwah agama Islam, sedemikian aktifnya sehingga dia meluangkan hampir sepanjang tahunnya mengunjungi berbagai negara di seluruh dunia demi melakukan kegiatan-kegiatan mulianya itu[2].

Habib Umar bin Hafidz : Baiknya Sholatmu Menentukan Nasib Hidupmu

Kalam Ulama - Habib Umar bin Hafidz : Baiknya Sholatmu Menentukan Nasib Hidupmu من تعود على تأخير الصلاة, رجل او إمراة, فليتهيأ للتأخير في كُل أمورحياته..! Barang...
Kalam Ulama - Bagian Pertama Khilafah Ajaran Islam atau Khilafah Kendaraan Oponturir Islam Oleh : Ustadz Khotimi Bahri (PC LBM-NU Kota Bogor) Kata الخلافة (al khilâfah) berasal dari akar kata خلف (khalfun) yang arti asalnya “belakang” atau lawan kata “depan”. Dari akar kata khalfun berkembang menjadi kata khilfatan, khilâfah, khalîfah, khalâif, khulafâ; ikhtilâf,istikhlâf. Kata kerja kha-la-fa (خلف), ikh-ta-la-fa (إختلف) is-takh-la-fa ( استخلف) begitu seterusnya. Di dalam al-Qur’an terdapat sekurang-kurangnya 127 ayat yang menyebut kata yang berakar dari kata khalfun. Sedangkan Kata khalifah (secara khusus) kadang disebut dalam bentuk tunggal, kadang juga dalam bentuk plural. Dalam bentuk tunggal hanya disebut dua kali yaitu dalam surat al-Baqoroh ayat 30 dan dalam surat as-Shad ayat 26. Berikut sebagian contoh ayat-ayat tersebut yang akar katanya kholfun, diantaranya : Pertama, kata khalfun dalam pengertian “generasi pengganti yang berperilaku buruk”. Disebutkan dua kali yaitu pada surat al A’raf ayat 169 dan surat Maryam ayat 59. Pada surat Maryam dikatakan: “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (khalfun) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan” (QS; Maryam:59) Kedua, kata khulafâ yang berarti generasi baru atau kaum pengganti yang mewarisi bumi dari kaum sebelumnya yang binasakan karena mereka tidak beriman. Contoh : “Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (khulafa’) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan” (Al-A’raf:69) Ketiga, Al Khalâif yang berarti kaum yang datang untuk menggantikan kaum yang lain. Contoh: “ Dan Dialah yang menjadikan kalian semua khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al-An’am 165) Keempat, dalam bentuk kata kerja Istakhlafa, yang artinya menjadikan seseorang atau satu kaum sebagai khalifah, pemimpin, pelanjut dan pengatur bumi setelah kaum yang lain. “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa (tidak dalam arti pemimpin politik) dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa,”(An-Nur : 55) Kelima, Sedangkan kata Khalifah dalam makna tunggal disebut dua kali, yaitu surat al-Baqoroh ayat 30 dimaksudkan kedudukan Nabi Adam sebagai kholifah diatas dunia ini. Allah berfirman : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." Sedangkan surat as-Shod ayat 26 maksudnya adalah Nabi Daud yang memiliki kekuasaan politik untuk memerintah Bani Israil. Allah berfirman : “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”. Ada persamaan antara tugas-tugas kekhalifahan Nabi Adam dengan tugas-tugas kekhalifahan Nabi Daud, yaitu sama-sama mengemban amanat sebuah pengelolaan. Namun ada perbedaan antara keduanya. Coba perhatikan model bahasanya. Allah berfirman : Inni Ja’ilun fil ardl kholifah yang artinya “Aku jadikan dia (Adam) diatas bumi ini kholifah. Sedangkan kepada Nabi Daud Allah berfirman : Ya Daud, Inna Ja’alnakan kholifatan fil-ardl : Kami menjadikanmu di dunia ini kholifah. Terkait Nabi Adam, Allah menggunakan kata tunggal “Inni” dan isim fail “Ja’ilun” sdangkan untuk Nabi Daud menggunakan kata plural “Inna” dan kata kerja “ Ja’alnaka”. Perbedaan ini tentu mengandung makna berbeda. Dalam kaidah ilmu tafsir dijelaskan bahwa ketika Allah menggunakan kata plural, itu berarti ada keterlibatan pihak lain dalam proses dan prosedurnya. Dengan demikian kekhalifahan Nabi Adam adalah misi suci manusia diatas dunia ini untuk mengelola, menata dan menciptakan keadilan dalam hidup. Sedangkan kekhalifahan Nabi Daud disamping anugerah Allah juga melibatkan masyarakat sebagai unsur kepemimpinannnya, baik yang dipimpinnya sekaligus yang mengangkatnya. Dari sini kita memahami bahwa ketika Allah berbicara tentang kehalifahan Nabi Adam, maknanya adalah potensi dan aksi yang diamanatkan kepada Nabi Adam untuk mengelola alam semesta bukan dalam arti kekuasaan politik. Modal dasar yang diberikan kepada Nabi Adam adalah pengetahuan akan segala sesuatu baik potensi maupun aksinya ( Wa ‘allama adamal asma’a kulaaha). Maka wajar kalau dari generasi-kegerasi yang melanjutkan misi Nabi Adam tidak pernah bersentuhan dengan kekuasaan praktis. Nabi Syst, Nabi Idris, Nabi Nuh adalah pelanjut kekhalifahan Nabi Adam tapi tidak diperintahkan untuk mengelola sebuah pemerintahan. Bahkan Nabi Ibarahim tidak diperintah merebut dan mengelola kekuasaan Namrudz, tapi dimintanya untuk mengajak Namrudz menyembah Allah dan menegakkan keadilan diatas dunia. Demikian juga Nabi Musa tidak diminta untuk mengambil alih kekuasaan Fir’aun, tapi diminta berdakwah kepada Fir’aun agar kembali kejalan yang benar dan memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan dalam pemerintahannya. Padahal misi Nabi Ibarahim dan Nabi Musa juga meneruskan misi Nabi Adam sebagai kholifah diatas dunia. Sedangkan kekhalifahan Nabi Daud memang benar berbentuk kekuasaan secara politik. Yaitu sebuah kekuasaan untuk memimpin kaum Yahudi dan berpusat di Palestina setelah sebelumnya mengalahkan penguasa dzalim Jalud. Karena itulah maka modal dasar yang diberikan kepada Nabi Daud memang modal dasar memimpin. Oleh karena itu Allah menegaskan :” Allah memberinya kekuasaan/kerajaan dan hikmah serta mengajarkan apa yang Dia Kehendaki….”. Kekuasaan ini mencapai puncaknya pada masa Nabi Sulaiman putra Nabi Daud. Walapun Nabi-Nabi sesudahnya seperti Nabi Zakariya, Nabi Yahya, Nabi Isa yang nota-benenya dari Bangsa Israil tidak lagi mengemban amanat kekuasaan/kerajaan. Dari uraian ini dijelaskan bahwa khalifah memiliki beragam makna dan beragam konteks serta tidak bisa hanya diterjemahkan sebagai sebuah doktrin politik Islam kaku. Kesalahan sebagian orang adalah mengambil satu makna dalam al-qur’an dengan menafikan makna lainnya. Celakanya makna yang diambil ditempatkan sebagai sebuah doktrin yang tauqifi, mutlak dan kaku. Ketika dijadikan doktrin tauqifi dan mutlak maka konsekwensi hukumnya hanya dua, yaitu Wajib atau Haram. Wajib menerapkan makna yang dipahami dan intoleran dengan pemahaman dan pemaknaan orang lain. Dan jika ada yang memahami dan memaknai dengan sebuah konsepsi yang berbeda dengan dirinya, Haram hukumnya. Ketika itu terjadi, maka khilafah yang sebenarnya konsep luwes, moderat, dan kontekstual berubah wajah menjadi kaku, eksklusif bahkan intoleran. Lebih celaka lagi kalau pemaknaan orang lain terhadap konsep khilafah dianggap tidak syar’ie, toghut, tidak Islami, dan khilafah harus dimurnikan dari semua itu, tidak mustahil jiwa manusia akan menjadi taruhannya.

Bagian Pertama : Khilafah Ajaran Islam atau Khilafah Kendaraan Oponturir Islam

Kalam Ulama - Bagian Pertama Khilafah Ajaran Islam atau Khilafah Kendaraan Oponturir Islam Oleh : Ustadz Khotimi Bahri (PC LBM-NU Kota Bogor) Kata الخلافة (al khilâfah)...
Kalam Ulama - Besok Rabu tanggal 7 November 2018M Bertepatan dengan 29 Safar 1440H Kita Semua memasuki Suatu Hari yang dikenal dengan Istilah Rabu Pungkasan atau Rabu Kasan atau Rabu Wekasan Rabu Wekasan atau disebut Pungkasan adalah Rabu yang terakhir dibulan Safar sebelum Memasuki Bulan Maulid atau Mulud atau Rabbiul Awal Kaum Tsamud mendapatkan siksa seperti yang terdapat dalam QS Al Qamar 19, menurut sebagian ulama terjadi pada hari Rabu di akhir bulan Shafar. Keyakinan inilah yang terus diwariskan oleh orang-orang pra Islam. Kita tidak boleh meyakini hari Rabu akhir bulan Shafar sebagai hari sial atau turunnya bala'. Kalaupun kita percaya dengan kasyaf ulama yang melihat hari itu ada bala' diturunkan. Asalkan kita tancapkan dalam hati bahwa yang memberi manfaat dan madlarat hanya Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bagaimana kalau di malam / hari tersebut bermunajat kepada Allah dengan mengajak orang-orang untuk meminta ampunan dan bertaubat kepada Allah? Syekh Abdurrauf Al-Munawi berkata: ﻭﻳﺠﻮﺯ ﻛﻮﻥ ﺫﻛﺮ اﻷﺭﺑﻌﺎء ﻧﺤسا ﻋﻠﻰ ﻃﺮﻳﻖ اﻟﺘﺨﻮﻳﻒ ﻭاﻟﺘﺤﺬﻳﺮ ﺃﻱ اﺣﺬﺭﻭا ﺫﻟﻚ اﻟﻴﻮﻡ ﻟﻤﺎ ﻧﺰﻝ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ اﻟﻌﺬاﺏ ﻭﻛﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ اﻟﻬﻼﻙ ﻭﺟﺪﺩﻭا ﻟﻠﻪ ﺗﻮﺑﺔ ﺧﻮﻓﺎ ﺃﻥ ﻳﻠﺤﻘﻜﻢ ﻓﻴﻪ ﺑﺆﺱ ﻛﻤﺎ ﻭﻗﻊ ﻟﻤﻦ ﻗﺒﻠﻜﻢ Boleh menyebut Rabu sebagai hari sial dengan tujuan untuk menakut-nakuti, yaitu “Hindarilah hari Rabu terakhir karena pernah ada azab dan kebinasaan. Bertaubatlah kepada Allah agar tidak ditimpa azab seperti kaum terdahulu” (Faidl Al-Qadir 1/61) ﻭاﻟﺤﺎﺻﻞ ﺃﻥ ﺗﻮﻗﻲ ﻳﻮﻡ اﻷﺭﺑﻌﺎء ﻋﻠﻰ ﺟﻬﺔ اﻟﻄﻴﺮﺓ ﻭﻃﻦ اﻋﺘﻘﺎﺩ اﻟﻤﻨﺠﻤﻴﻦ ﺣﺮاﻡ ﺷﺪﻳﺪ اﻟﺘﺤﺮﻳﻢ ﺇﺫ اﻷﻳﺎﻡ ﻛﻠﻬﺎ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻻ ﺗﻀﺮ ﻭﻻ ﺗﻨﻔﻊ ﺑﺬاﺗﻬﺎ ﻭﺑﺪﻭﻥ ﺫﻟﻚ ﻻ ﺿﻴﺮ ﻭﻻ ﻣﺤﺬﻭﺭ ﻭﻣﻦ ﺗﻄﻴﺮ ﺣﺎﻗﺖ ﺑﻪ ﻧﺤﻮﺳﺘﻪ ﻭﻣﻦ ﺃﻳﻘﻦ ﺑﺄﻧﻪ ﻻ ﻳﻀﺮ ﻭﻻ ﻳﻨﻔﻊ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ ﻟﻢ ﻳﺆﺛﺮ ﻓﻴﻪ ﺷﻲء Kesimpulan: "Merasa sial dengan hari Rabu dengan meyakini prediksi peramal adalah haram, sangat diharamkan. Sebab semua hari milik Allah. Hari-hari tidak dapat memberi manfaat maupun madlarat dengan sendirinya. Kalau bukan karena di atas, maka tidak apa-apa dan tidak dilarang. Barang siapa yakin tidak ada yang memberi madlarat dan manusia kecuali Allah, maka tidak ada pengaruh baginya sedikitpun" (Faidl Al-Qadir 1/62) Ustadz Ma'ruf Khozin, Pengasuh Kajian Aswaja Majalah Aula NU Baca Juga : HADITS SHAHIH ANJURAN SHOLAT RABU WEKASAN (SHOLAT LIDAF'IL BALA' ATAU SHOLAT TOLAK BALA' Tata Cara Pelaksanaan Sholat Rabu Wekasan (Rebo Wekasan)

Rabu Wekasan, Antara Hari Sial atau Tidak? (Ikhtisar Kajian Aswaja Majalah NU Aula)

Kalam Ulama - Besok Rabu tanggal 7 November 2018M Bertepatan dengan 29 Safar 1440H Kita Semua memasuki Suatu Hari yang dikenal dengan Istilah Rabu...
Kalam Ulama - Tata Cara Sholat Rabu Wekasan adalah:  Niat shalatnya adalah shalat sunnah mutlak 4 raka'at, atau bisa dengan niat shalat Li daf'il bala' 4 raka'at satu kali salam boleh, tanpa tahiyyatul awwal, dua kali salam juga boleh, bacaan yang biasa diniatkan ketika pelaksanaan shalat di Ma'had Malang berikut ini : أُصَلِّى سُنَّةً لِدَفْعِ اْلبَلاَء أْرْبَعَ رَكَعَاتٍ إِمَاًمًا \مَأْمُوْمًا لِلّٰهِ تَعَالَى أَللهُ أَكْبَرْ "Aku niat shalat sunnah sebanyak empat raka'at agar dijauhkan dari malapetaka karena Allah Ta’ala." Setelah selesai membaca al-Fatihah pada tiap-tiap rakaat membaca surat al-Kautsar 17 kali, surat al-Ikhlas 5 kali dan surat al-Mu’awwidzatain 1 kali. Lalu membaca doa shalat sunnah Rebo Wekasan sebagai berikut: أَللَّهُمَّ يَا شَدِيْدَ اْلقَوِىِّ وَيَاشَدِيْدَ اْلمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّلْتَ بِعِزَّتِكَ جَمِيْعَ خَلْقِكَ إِكْفِنِىْ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَامُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ أَللَّهُمَّ بَسِّرْ اْلحَسَنَ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ إِكْفِنِىْ شَرَّ هَذَا اْليَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيَ الْمُهِمَّاتِ يَا دَافِعَ اْلبَلِيَاتِ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ اْلوَكِيْلُ وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّابِاللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ اَللَّهُمَّ إِعْصِمْنَا مِنْ جَهْدِ اْلبَلاَءِ وَدَرْكِ الشَّقَاءِ وَسُوْءِ اْلقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ اْلأَعْدَاءِ وَمَوْتِ اْلفُجْأَةِ وَمِنْ شَرِّ السَّامِ وَالْبَرْسَامِ وَالْحُمَى وَاْلبَرَصِ وَاْلجُذَامِ وَاْلأَسْقَامِ وَمِنْ جَمِيْعِ اْلأَمْرَاضِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى َسِّيدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ . Menurut sebagian ulama' Al Arif Billah: "Bala' atau malapetaka yang ditakdirkan oleh Allah Swt akan terjadi selama satu tahun itu semuanya diturunkan dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia pada malam atau hari Rabu terakhir bulan Shafar. Maka barangsiapa yang bersedia menulis 7 ayat di bawah ini kemudian dilebur dengan air lalu diminum, maka orang tersebut akan dijauhkan dari malapetaka. Ayatnya adalah sebagai berikut: سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ , سَلَامٌ عَلَى نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ , سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ , سَلَامٌ عَلَى مُوسَى وَهَارُونَ سَلَامٌ عَلَى إِلْ يَاسِينَ , سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ , سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ Semoga kita semuanya di jaga di lindungi dan dihindarkan oleh Allah SWT dari berbagai macam musibah dan bencana aamiin aamiin aamiin ya rabbal aalamiin bisirri asrari Al Fatihah... Wallahu 'A'lamu bis shawaab. (Baca Juga : HADITS SHAHIH ANJURAN SHOLAT RABU WEKASAN (SHOLAT LIDAF'IL BALA' ATAU SHOLAT TOLAK BALA')

Tata Cara Pelaksanaan Sholat Rabu Wekasan (Rebo Wekasan)

Kalam Ulama - Tata Cara Sholat Rabu Wekasan adalah:  Niat shalatnya adalah shalat sunnah mutlak 4 raka'at, atau bisa dengan niat shalat Li daf'il...
Kalam Ulama - HADITS SHAHIH ANJURAN SHOLAT RABU WEKASAN (SHOLAT LIDAF'IL BALA' ATAU SHOLAT TOLAK BALA') - Hadits ini sering dikeluarkan oleh Maha Guru saya di Malang ketika acara shalat tolak bala' Rabu wekasan setiap tahunnya, beliau Samahatul Ustadz Ad Da'i Ilallah Al Habib Muhammad Bilfaqih pernah mendengar dari yang Mulia Samahahatul Imam Al Hafidz Al Musnid Al Quthub Al Habib Abdullah Bilfaqih Radhiyallahu Anhum dari Al IMAMUL HABR Radhiyallahu Anhu bahwasanya setiap tahun pada akhir Rabu bulan shafar Allah SWT menurunkan 720.000 ribu bala', barang siapa yang shalat empat raka'at dihari itu, insya Allah dijauhkan dari Mala petaka dan Musibah aamiin aamiin aamiin ya rabbal aalamiin... عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال ؛ قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلّم : " مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ يُصَلُّوْنَ فِيْ آخِرِ الْأَرْبِعَاءِ مِنْ صَفَرَ إِلاَّ نَجَّاهُمُ اللّٰهُ مِنَ الْكَوَارِثِ (هذا الحديث حسن صحيح) ← اَلْكَوَارِثُ اي اَلْبَلَايَا Artinya :" Dari Abi Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam bersabda :" Tidaklah berkumpul suatu kaum mereka shalat dihari akhir Rabu dari bulan Shafar terkecuali Allah SWT menyelamatkan mereka dari malapetaka-malapetaka/musibah2". وقد كتبت هذا الحديث عن بعض المعلمين ، وهو سمع من سماحة الأستاذ الإمام رضي اللَّه عنه قال ؛ واللّفظ للقضاعي من طريق ابن زكريا عن يحيى بن عياض عن أبي الدبّوس عن صالح بن أبي زكريا بن شميل عن أبيه عن جدّه قال ؛ قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلّم : " إِنَّ اللّٰهَ يُنْزِلُ فِيْ آخِرِ أَرْبِعَاءَ مِنْ صَفَرَ ثَمَانَمِائَةِ أَلْفٍ وَعِشْرِيْنِ مِنَ الْبَلاَيَا فَمَنْ صَلَّى صَلَاتَهُ عَصَمَهُ اللّٰهُ مِنَ الْبَلاَيَا" (في رواية الإمام عبد الرزّاق في المسند ج ٢ ص: ٢٠٧ والإمام إبن زيد بن علي في المسند ج ١ ص: ٣٤ والقضائي في التّاريخ ج ٩ ص: ٢٠٣ ، أخرجاه شيخنا رضي اللَّه عنه أو كما قال) Artinya :" Saya mencatat hadits ini dari sebagian Mu'allimin di Ma'had, beliau mendengar hadits dari yang Mulia Samahatul Imam Radhiyallahu Anhu, Lafadz hadits ini dari Imam Al Qudha'i dari jalan sanad Thariq bin Zakariya dari Yahya bin 'Iyadz dari Abi Ad Dabbus dari Shalih bin Abi Zakariya bin Syumail Dari Ayahnya dari Kakeknya berkata, Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam bersabda : " Sesungguhnya Allah SWT menurunkan dihari akhir Rabu dari bulan Shafar 820.000 ribu dari bala' (musibah), Barangsiapa yang shalat dihari Rabu itu maka Allah SWT menjaganya dari pada bala'-bala' dan bencana-bencana/ malapetaka/musibah" (Diriwayatkan Imam Abdur Razzaq didalam Musnad Juz 2 hal: 208, dan Imam Ibnu Zaid bin Ali didalam Musnad Juz 1 hal: 34 dan Al Imam Al Qudha'i didalam Kitab Tarikh Juz 9 hal: 203). Didalam sebuah hadits lain yang diriwayatkan oleh Sayyidatuna Fathimah Ra. bahwa Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi wasallam bersabda: مَنْ صَلىَّ لَيْلَةَ اْلأَرْبِعَاءِ رَكْعَتَيْنِ يَقْرَاءُ فِى اْلأُوْلَى فَاتِحَةَ اْلكِتَابِ وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ اْلفَلَقْ عَشْرَ مَرَّاتٍ وَفِى الثَّانِيَّةِ قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ عَشْرَ مَرَّاتٍ ثُمَّ إِذَا سَلَمَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ عَشْرَمَرَّاتٍ ثُمَّ يُصَليِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَشْرَمَرَّاتٍ نَزَل َمِنْ كُلِّ سَمَاءٍ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ يَكْتُبُوْنَ ثَوَابَهُ إِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ Artinya :"Barangsiapa yang berkenan mengerjakan shalat 2 rakaat di malam Rabu, pada rakaaat pertama membaca surat al-Fatihah dan al-Falaq 10 kali dan pada rakaat kedua membaca al-Fatihah dan an-Nas 10 kali, kemudian setelah salam membaca istighfar 10 kali dan shalawat 10 kali maka 70 malaikat turun dari langit yang bertugas mencatatkan pahalanya sampai hari kiamat."

HADITS SHAHIH ANJURAN SHOLAT RABU WEKASAN (SHOLAT LIDAF’IL BALA’ ATAU SHOLAT TOLAK BALA’)

Kalam Ulama - HADITS SHAHIH ANJURAN SHOLAT RABU WEKASAN (SHOLAT LIDAF'IL BALA' ATAU SHOLAT TOLAK BALA') - Hadits ini sering dikeluarkan oleh Maha Guru...
Kalam Ulama - Inilah Hukum Sholat Jumat Yang Bertepatan Pada Hari Raya Idul Fitri - Ulama berbeda pendapat mengenai masalah kewajiban memunaikan salat jumat jika bertepatan dengan hari 'id. Seluruhnya didasarkan pada hadits-hadits shahih. Pendapat yang menggugurkan kewajiban salat jumat, diantaranya mazhab Imam Ahmad dan sebagian pendapat lemah dari mazhab Imam Asy-Syafi'i, berhujjah dengan hadits riwayat Imam Abu Daud, al-Nasai, Ibn Majah, dan al-Hakim dari Iyyas bin Abi Ramlah al-Syami bahwasanya ia berkata: شهدت معاوية بن أبي سفيان وهو يسأل زيد بن أرقم رضي الله عنهم: أشهدتَ مع رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم عيدين اجتمعا في يوم؟ قال: نعم، قال: كيف صنع؟ قال: صلى العيد ثم رخَّص في الجمعة فقال: «من شاء أن يصلي فليصلِّ». "Aku menyaksikan Muawiyah bin Abi Sufyan bertanya kepada Zaid bin Arqam radliyallahu 'anhum, ia berkata: Apakah engkau menyaksikan kejadian bertemunya dua hari raya (yakni 'id dan jumat) dalam satu hari dizaman Rasul? Zaid menjawab: Ya. Muawiyah pun bertanya kembali: Bagaimana cara beliau melaksanakan (keduanya)? Zaid kembali menjawab: Salatlah untuk 'id kemudian rukhsah bagi kamu untuk menunaikan jumat, sebab Rasulullah bersabda, barangsiapa yang menghendaki salat (jumat) maka salatlah." Juga riwayat Imam Abu Dawud, Ibn Majah, dan al-Hakim dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa alihi wa sallam bersabda: قد اجتمع في يومكم هذا عيدان فمن شاء أجزأه من الجمعة وإنَّا مجمِّعون. "Sungguh telah berkumpul dua hari raya pada hari kalian ini, barangsiapa yang ingin mengerjakan jumat maka ia mendapat pahala jumat dan sungguh kami termasuk orang yang mengumpulkan (jumat dan 'id)." Baca juga : Kehati-hatian Syaikhuna KH. Maimoen Zubair pada Lafadz Takbiran Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa salat 'id tidak menggugurkan kewajiban jumat. Berdasarkan keumuman dalil jumat yang wajib ditunaikan dihari jumat setiap pekan tanpa ada pengecualian. Masing-masing ibadah tersebut, baik jumat maupun 'id, mempunyai syiar tersendiri yang tidak bisa digantikan satu sama lain. Syiar jumat hanya bisa ditunaikan dengan ibadah jumat, sedang syiar hari raya hanya bisa ditunaikan dengan salat 'id. Ini pendapat Hanafiyah dan Malikiyah. Adapun pendapat jumhur, termasuk didalamnya pendapat kuat dalam mazhab Imam Asy-Syafi'i, mengambil jalan tengah, yakni salat jumat tetap wajib bagi penduduk suatu negeri yang memenuhi syarat wajib jumat, namun jika seseorang menemui kesulitan dan beban untuk mengerjakan salat jumat dihari 'id, seperti jarak yang jauh untuk bolak-balik ke masjid, maka boleh baginya untuk memilih. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwattha' bahwa Utsman bin Affan radliyallahu 'anhu berkata dalam khutbahnya: إنه قد اجتمع لكم في يومكم هذا عيدان، فمن أحب من أهل العالية أن ينتظر الجمعة فلينتظرها، ومن أحب أن يرجع فقد أذنتُ له. "Sungguh dihari ini telah berkumpul atas kalian dua hari raya, maka barangsiapa yang ingin memperoleh derajat yang tinggi dengan menunggu datangnya waktu jumat hendaknya ia menunggu, namun jika ia ingin pulang maka aku pun mengizinkan." Tak ada seorang sahabat pun yang mengingkari perkataan beliau ini, sehingga dapat dikatakan bahwa mereka telah ijma' secara sukuti (diam tanda setuju). Pendapat ini juga menganggap bahwa dalil rukhsah (keringanan) untuk meninggalkan salat jumat dihari 'id yang dikemukakan oleh mazhab Imam Ahmad di atas adalah ditujukan bagi orang-orang yang ditimpa kesulitan dan beban yang berat. Maka, hendaknya seseorang meluaskan pandangannya dalam masala khilafiyah (perbedaan pendapat) ini. Tidak menyerang sebuah mazhab dengan alasan mazhab lain. Untuk pengamalan, hendaknya seseorang melaksanakan salat jumat di masjid sebagai bentuk kehati-hatian dan menunaikan hukum asal salat jumat yang wajib. Namun, apabila dia berhajat meninggalkan salat jumat maka ia diperbolehkan mengikuti pendapat yang menyatakan bahwa kewajiban jumat gugur dihari 'id, dengan syarat melaksanakan sendiri atau berjamaah dirumah agar tidak menghalangi orang salat jumat di masjid atau menjadi fitnah bagi orang banyak. Wallahu a'lam. Bogor, 26 Agustus 2017 @adhlialqarni Baca juga : Menjawab Gugatan Bid'ah Atas Ucapan "Minal 'Aidin wal Faizin" dan "Mohon Maaf Lahir dan Batin"

Inilah Hukum Sholat Jumat Yang Bertepatan Pada Hari Raya Idul Fitri

Kalam Ulama - Inilah Hukum Sholat Jumat Yang Bertepatan Pada Hari Raya Idul Fitri - Ulama berbeda pendapat mengenai masalah kewajiban memunaikan salat jumat...

Stay connected

4,240FansLike
14,858FollowersFollow
1FollowersFollow
1,816FollowersFollow
517SubscribersSubscribe
- Advertisement -
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Popular Post

Qosidah “Man Ana” (Siapa Diriku)

Suara Sulthonul Qulub al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa saat membaca qosidah al-Imam al-Habib Umar Muhdhor bin Abdurrohman Assegaf. Qosidah ini juga sering beliau baca di...
Kumpulan Doa dan Dzikir (Kalam Ulama) - Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta الفصل الأول : في الغزل وشكوى الغرام Bagian Pertama: Bercumbu dan Pengaduan Cinta مَوْلَايَ صَلِّي وَسَلِّـمْ دَآئِــماً أَبَـدًا ۞ عَلـــَى حَبِيْبِـكَ خَيْــرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ هُوَالْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ ۞ لِكُلّ هَوْلٍ مِنَ الْأِهْوَالِ مُقْتَحِـــــــمِ أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَــــلَــمٍ ۞ مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَيْ مِنْ مُقْلَةٍ بِـــدَمِ Apakah karena mengingat para kekasih di Dzi Salam[1] sana. Engkau deraikan air mata dengan darah duka. أَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَاظِمَـــةٍ ۞ وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِيْ الْضَمَآءِ مِنْ إِضَـمِ Ataukah karena hembusan angin terarah lurus berjumpa di Kadhimah[2]. Dan kilatan cahaya gulita malam dari kedalaman jurang idham [3]. فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَــا ۞ وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِـــــمِ Mengapa kedua air matamu tetap meneteskan airmata? Padahal engkau telah berusaha membendungnya. Apa yang terjadi dengan hatimu? Padahal engkau telah berusaha menghiburnya. أيَحَسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتـــِمٌ ۞ مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمضْطَــــرِمِ Apakah diri yang dirundung nestapa karena cinta mengira bahwa api cinta dapat disembunyikan darinya. Di antara tetesan airmata dan hati yang terbakar membara. لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمْعاً عَلَي طَـلَلٍ ۞ وَلاَ أرَقْتَ لِذِكْرِ الْبَانِ وَالْعَلـَـــمِ Andaikan tak ada cinta yang menggores kalbu, tak mungkin engkau mencucurkan air matamu. Meratapi puing-puing kenangan masa lalu berjaga mengenang pohon ban dan gunung yang kau rindu. فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُباًّ بَعْدَ مَا شَــهِدَتْ ۞ بِهِ عَلَيْكَ عُدُوْلُ الدَّمْعِ وَالسَّـــقَمِ Bagaimana kau dapat mengingkari cinta sedangkan saksi adil telah menyaksikannya. Berupa deraian air mata dan jatuh sakit amat sengsara. وَأَثْبَتَ الْوَجْدُ خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَّضَــنىً۞ مِثْلَ الْبَهَارِمِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَــــمِ Duka nestapa telah membentuk dua garisnya isak tangis dan sakit lemah tak berdaya. Bagai mawar kuning dan merah yang melekat pada dua pipi. نَعَمْ سَرَى طَيْفُ مَنْ أَهْوَى فَأَرّقَنِي ۞ وَالْحُبّ يَعْتَرِضُ اللّذّاتَ بِالَلَــــــمِ Memang benar bayangan orang yang kucinta selalu hadir membangunkan tidurku untuk terjaga. Dan memang cinta sebagai penghalang bagi siempunya antara dirinya dan kelezatan cinta yang berakhir derita. يَا لَا ئِمِي فِي الهَوَى العُذْرِيِّ مَعْذِرَةً ۞ مِنّي إِلَيْكَ وَلَوْ أَنْصَفْتَ لَمْ تَلُمِ Wahai pencaci derita cinta kata maaf kusampaikan padamu. Aku yakin andai kau rasakan derita cinta ini tak mungkin engkau mencaci maki. عَدَتْكَ حَـــالِـي لَاسِرِّيْ بِمُسْتَتِرٍ ۞ عَنِ الْوِشَاةِ وَلاَ دَائِيْ بِمُنْحَسِــمِ Kini kau tahu keadaanku, tiada lagi rahasiaku yang tersimpan darimu. Dari orang yang suka mengadu domba dan derita cintaku tiada kunjung sirna. مَحّضْتَنِي النُّصْحَ لَكِنْ لَّسْتُ أَسْمَعُهُ  ۞  إَنّ الُحِبَّ عَنِ العُذَّالِ فِي صَمَمِ Begitu tulus nasihatmu, tapi aku tak mampu mendengar semua itu. Karena sesungguhnya orang yang dimabuk cinta tuli dan tak menggubris cacian pencela. إِنِّى اتَّهَمْتُ نَصِيْحَ الشّيْبِ فِي عَذَلِي ۞ وَالشّيْبُ أَبْعَدُ فِي نُصْحِ عَنِ التُّهَمِ Aku curiga ubanku pun turut mencelaku. Padahal ubanku pastilah tulus memperingatkanku. Baca Juga : Kisah Pangeran Diponegoro & Sholawat Burdah

Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta

Kumpulan Doa dan Dzikir (Kalam Ulama) - Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta الفصل الأول : في الغزل وشكوى الغرام Bagian...
Kajian Maulid Diba' #13 "Fahtazzal 'Arsyu" اللهم صل وسلم وبارك عليه   Ya Allah tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad).   فَاهْتَزَّ الْعَرْشُ طَرَبًا وَاسْتِبْشَارًا Maka bergoncanglah ‘Arsy karena gembira dengan adanya kabar gembira.   وَازْدَادَ الْكُرْسِيُّ هَيْبَةً وَوَقَارًا Dan kursi Allah bertambah wibawa dan tenang karena memuliakannya.   وَامْتَلَأَتِالسَّمٰوَاتُ أَنْوَارًا Dan langit penuh dengan cahaya.   وَضَجَّتِ الْمَلَآئِكَةُ تَهْلِيْلًا وَتَمْجِيْدًا وَاسْتِغْفَارًا ۩ serta bergemuruh suara malaikat membaca tahlil, tamjid dan istighfar   سُبْحَانَ اللهِ وَ اْلحَمْدُ للهِ وَلا اِلهَ الّا اللهُ وَ اللهُ اَكْبَر  Maha Suci Allah, limpahan puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dialah Allah yang Maha Besar (4x)   وَلَمْ تَزَلْأُمُّهٗ تَرٰى أَنْوَاعًا مِنْ فَخْرِهِ وَفَضْلِهِ إِلىٰ نِهَايَةِ تَمَامِ حَمْلِهِ  Dan ibunya tiada henti-hentinya melihat bermacam-macam keajaiban hingga dari keistimewaan dan keagungannya hingga sempurna masa kandungannya,   فَلَمَّا اشْتَدَّ بِهَا الطَّلْقُ بِـإِذْنِ رَبِّ الْخَلْقِ  Maka ketika ibunya telah merasakan sakit karena kandungannya akan lahir, dengan izin Tuhannya, Tuhan pencipta makhluk,   وَضَعَتِ الْحَبِيْبَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدًا شَاكِـرًا حَامِدًا كَأَنَّهُ الْبَدْرُ فِيْ تَمَامِهِ   Lahirlah kekasih Allah Muhammad SAW dalam keadaan sujud, bersyukur dan memuji, sedangkan wajahnya bagaikan bulan purnama dalam kesempurnaannya.   -------000--------   مَحَلُّ اْلقِيَامِ Baca Juga : Kajian Maulid Diba' #14 : Teks dan Terjemah Mahallul Qiyam   Keterangan: Para Malaikat, Para Nabi, Para Wali, Para bidadari surga, seluruh makhluk-makhluk Allah SWT yang ada di daratan, di lautan, di angkasa, bahkan bumi, laut, udara, bintang-bintang, bulan, matahari, langit, kursiy dan Arasy, seluruhnya benar-benar meluapkan kegembiraan dan memuncakkan “Shalawat ta’dzhim” kepada Kekasih Allah SWT, Nabi Akhir Zaman, Baginda Nabi Muhammad SAW. Bahkan Ka’bah Baitulloh ikut bergetar selama 3 hari berturut-turut karena bahagia dan bangga menyambut kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW.           Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Maulid Ad-diba’iy Lil Imam Abdurrahman Ad-Diba’iy: فاهتز العرش طربا واستبشارا وازداد الكرسي هيبة ووقارا وامتلأت السموات أنوارا وضجت الملائكة تهليلا وتمجيدا واستغفارا Yang artinya kurang lebih: “Sesungguhnya (pada saat kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW), ‘Arasy seketika gentar hebat luar biasa meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya, dan Kursiy juga semakin tambah kewibawaan dan keagungannya, dan seluruh langit dipenuhi cahaya yang bersinar terang dan para malaikat seluruhnya serentak bergemuruh memanjatkan tahlil, tamjid, dan istighfar kepada Allah SWT dengan mengucapkan:  سبحان الله  والحمد لله  ولا إله إلا الله  والله أكبر أستغفر الله Yang artinya kurang lebih: “Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, saya beristighfar (memohon ampun) kepada Allah SWT.”           Sesungguhnya dengan keagungan baginda Nabi Muhammad SAW di sisi Allah SWT, maka Allah SWT telah memerintahkan kepada para malaikat-Nya yang agung yakni Malaikat Jibril, Malaikat Muqorrobin, Malaikat Karubiyyin, Malaikat yang selalu mengelilingi Arasy dan lainnya agar serentak berdiri pada saat detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW dengan memanjatkan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, dan Istighfar kepada Allah SWT.           Semua fenomena keajaiban-keajaiban agung yang terjadi pada detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW yang diwujudkan oleh  Allah SWT, semata-mata hanya menunjukkan kepada semua makhluk-makhluk-Nya Allah SWT bahwa baginda Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang paling dicintai-Nya, makhluk yang paling agung dan mulia derajatnya di sisi-Nya.           Dan riwayat-riwayat semua yang tersebutkan di atas, bukan sekedar cerita belaka, namun telah kami nukil data datanya dari kitab-kitab para ulama Ahlussunnah Waljama’ah yang sangat akurat dan otentik. Diantaranya adalah Kitab Al-Hawi lil Fatawi yang dikarang oleh Al-Imam Asy-Syaikh Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi yang telah mengarang tidak kurang dari 600 kitab yang dijadikan marja’ (pedoman) bagi para ulama ahlussunnah waljama’ah dalam penetapan hukum-hukum syariat Islam.Bahkan para ulama ahlussunnah waljama’ah telah sepakat menjuluki Beliau dengan gelar “Jalaaluddiin” yakni sebagai pilar keagungan agama Islam.           Bahkan tidak hanya dari kitab beliau, tetapi juga dari kitab-kitab para ulama Ahlussunnah Waljama’ah lainnya yang juga telah disepakati dan dijadikan sebagai sumber pedoman oleh para ulama. Diantaranya adalah Kitab Dalailun Nubuwwah lil Imam Al-Baihaqi, Kitab Dalailun Nubuwwah lil Imam Abu Na’im Al-Ashfahaniy, Kitab An-Ni’matul Kubro ‘Alal ‘Aalam lil Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitami, Kitab Sabiilul Iddikar lil Imam Quthbul Ghouts Wad-Da’wah Wal-Irsyad Al-Habib Abdullah bin ‘Alawi Al-Haddad, Kitab Al-Ghuror lil Imam Al-Habib Muhammad bin Ali bin Alawiy Khird Ba Alawiy Al-Husainiy, Kitab Asy-Syifa’ lil Imam Al-Qadli ‘Iyadl Abul Faidl Al-Yahshabiy, Kitab As-Siiroh An-Nabawiyyah lil Imam As-Sayyid Asy-Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al Hasaniy, Kitab Hujjatulloh ‘Alal ‘Aalamin lis Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhaniy, dan kitab-kitab lainya yang mu’tamad dan mu’tabar (diakui dan dijadikan pedoman oleh para ulama).           Bagi para Ulama shalihin Ahlussunnah Waljama’ah telah sepakat untuk berdiri pada saat bacaan Maulid Nabi Muhammad SAW telah tiba, yakni pada Mahallul Qiyam (detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW). Mereka serentak berdiri demi mengikuti jejak para Malaikat, jejak arwah para Nabi dan jejak arwah para Wali untuk ta’dzhim (mengagungkan) dan memuncakkan rasa cinta yang agung kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Mereka luapkan rasa syukur yang memuncak ke hadhirat Allah SWT atas nikmat atau anugerah paling agung yang telah Allah SWT limpahkan dengan mengutus Kekasih-Nya sebagai Rahmat (Belas Kasih Sayang-Nya) untuk seluruh alam semesta.  Mereka panjatkan puji-pujian yang agung kepada baginda Rasululloh SAW dengan bahasa sastra yang indah dan suara merdu yang dipenuhi dengan rasa rindu dan cinta yang tulus mulia kepada Baginda SAW.           Maka, sungguh sangat mulia sekali bagi kita sebagai umat yang sangat dicintainya untuk mengikuti jejak para ulama shalihin dengan serentak berdiri pada saat Mahallul Qiyam demi menyambut kedatangan Kekasih Allah SWT yang sangat mulia, Junjungan kita baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Bukankah Beliau adalah Nabi kita yang sangat kita cintai? Bukankah Beliau adalah yang kelak akan memberi pertolongan kepada kita sehingga selamat dari siksaan Allah SWT yang sangat pedih? Bukankah Beliau adalah yang akan memberi syafaat kepada kita sehingga kita bisa memperoleh keridloan Allah SWT yang agung dan masuk ke dalam surga-Nya yang dipenuhi dengan segala kenikmatan, keindahan dan kebahagiaan yang kekal abadi selama-lamanya? Karena Rasululloh  SAW adalah Kekasih Allah SWT yang mana Allah SWT telah berjanji untuk tidak menolak segala  permintaan Beliau dan akan mengabulkan segala permohonannya. Dan janji ini telah ditetapkan Allah SWT dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Surat Adh-Dhuha ayat  5:  ولسوف يعطيك ربك فترضى   Yang artinya kurang lebih: “Dan (sesungguhnya) kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu (Nabi Muhammad SAW), lalu (hati) kamu menjadi puas”. (Q.S. Adl-Dluha: 5) Sungguh sangat beruntung kita sebagai umat Islam yang benar-benar mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW dengan setulusnya. Maka, pada saat tiba ajal kita nanti, baginda Nabi Muhammad SAW yang sangat kita cintai akan menolong kita dengan memohon kepada Allah SWT agar ditetapkan iman kita, diampuni segala dosa-dosa kita yang pernah kita lakukan dan diberi kemudahan menghadapi sakaratul maut. Bukan sekedar itu saja, bahkan pada saat menghadapi pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam barzakh, Beliau akan menolong kita. Dan berkat pertolongannya, seketika Allah SWT akan menjadikan kuburan kita sebagai “Raudlotun Min Riyaadlil Jinaan”, yakni sebagai taman diantara taman-taman surga. Begitu pula pada saat di padang Mahsyar, kita akan dipersilahkan untuk meminum air telaganya dan bertemu dengan Beliau SAW beserta para ahli baitnya, para sahabatnya, dan juga bersama para wali Allah SWT, para orang-orang sholihin  dan bersama pula dengan orang-orang mukmin yang mencintainya. Seketika itu pula kita mendapati rasa aman. Demikian besarnya perhatian baginda Rasulullah SAW kepada kita, dan agungnya ketulusan mahabbah (Belas Kasih Sayang) yang sempurna kepada kita, sehingga kita bisa mendapati limpahan Rahmat (Belas Kasih Sayang) Allah SWT dan ampunan-Nya, adalah  sangat banyak sekali data-data atau dalilnya disebutkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Al-Hadits serta kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah. Sebagian diantara dalil-dalil tersebut adalah Firman Allah SWT dalam Al-Qur’anu Al-Kariim Surat At-Taubah  ayat 128:  لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رءوف رحيم   Yang artinya kurang lebih: “Sesungguhnya telah datang kepada kalian Seorang Rasul (Nabi Muhammad SAW), dari kaum kalian sendiri, (sungguh sangat) berat terasa olehnya (segala) penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin..” (Q.S. At-Taubah: 128).           Demikianlah anugerah-anugerah agung yang dilimpahkan Allah SWT kepada umat Islam yang benar-benar cinta kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Namun, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Qodli ‘Iyadl dalam kitabnya Asy-Syifa hal 158 bahwa orang yang benar-benar tulus mencintai baginda Rasul SAW, syaratnya harus mengikuti jejaknya, meneladani prilakunya, menghidupkan sunnah ajaran dan syiarnya, mencintai ahli baitnya dan menghormati seluruh shahabatnya. Semoga kita semua termasuk orang yang benar-benar cinta sejati dengan tulus kepada Baginda Nabi Muhammad SAW beserta seluruh ahli bait dan shahabatnya serta bisa meneladani prilaku dan jejak-jejak mereka.  Wallahu a’lam bishshowaab.  Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi melalui kitab Nurul Mushthofa yang dirangkum oleh Al-Habib Murtadho bin Abdullah Alkaf.          

Kajian Maulid Diba’ #13 “Fahtazzal ‘Arsyu”

Kajian Maulid Diba' #13 "Fahtazzal 'Arsyu" اللهم صل وسلم وبارك عليه   Ya Allah tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad).   فَاهْتَزَّ الْعَرْشُ طَرَبًا وَاسْتِبْشَارًا Maka...

Qasidah “Assalamu’alaik Zainal Anbiya”

هذه القصده السلام عليك (1) ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ السلام عليك زينالأنبيآء ، السلام عليك Assalaamu ‘alaika Zainal anbiyaa-i (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai...
Kalam Ulama - Syaikh Taufiq Al-Buthi (Ulama Syuriah): Indonesia Adalah Surga.  Sebelum meneruskan perjalan ke lokasi Munas NU (Nahdlatul Ulama) di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo Banjar, Syaikh Taufiq Ramadhan al-Buthi menyempatkan berkunjun ke PP Miftahul Huda Manonjaya dan diterima langsung oleh salah satu pimpinan pesantren, KH. Abdul Aziz Affandy. Berkuduk rasanya bulu leher ini saat beliau berkata pada muqaddimah (pembuka) ceramah di hadapan ribuan santri: نحن الان نتحير فى الجنة ام فى الدنيا "Pada saat ini terus terang kami bingung (tidak percaya) apakah sedang berada di surga atau di dunia..." Terlihat jelas parau dan bergetarnya suara beliau saat mengucapkan kalimat tersebut. Pada bahasa tubuhnya nampak kebahagiaan bisa berkunjung dan bertatap muka dengan para santri yang begitu banyak, mereka dengan tenang, damai dan nyaman mengaji. Hal ini tentunya berbalik lurus dan tidak seberuntung dengan keadaan di negara beliau Syria, jangankan mau mengaji, salat dan berkumpul dengan sekian banyak orang, mau keluar saja rasa takut dan khawatir selalu menghantui. Patut kita terus bersyukur pada Allah ta'ala yang mengaruniai Negeri ini masih aman dan damai. (Disadur dari: Ibnu Ja'far) Subscribe Channel Kalam Ulama TV : https://www.youtube.com/c/KalamUlamaOfficial Semoga bermanfaat dan berkah, jangan lupa bagikan!!!

Syaikh Taufiq Al-Buthi (Ulama Syuriah): Indonesia Adalah Surga

Kalam Ulama - Syaikh Taufiq Al-Buthi (Ulama Syuriah): Indonesia Adalah Surga.  Sebelum meneruskan perjalan ke lokasi Munas NU (Nahdlatul Ulama) di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al...