One Day One Hadits

Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #21 : Bepergian adalah Sebagian dari Siksa بسم الله الرحمن الرحيم كتاب العمرة باب السفر قطعة من العذاب  حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنْ سُمَيٍّ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: *«السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ العَذَابِ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ، فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ، فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ»* (رواه البخاري)  Artinya: Dari Abu Hurairah (w. 59 H) radhiyallu 'anhu berkata: "Rasulullah SAW. bersabda: *“Bepergian itu bagian dari azab. Seseorang akan terhalang (terganggu) makan, minum, dan tidurnya. Maka, bila seseorang telah menunaikan maksud safarnya, hendaklah ia menyegerakan diri kembali kepada keluarganya.” H.R. Bukhari (w. 256 H) Baca Juga : One Day One Hadits #20 : Berdampingan Dengan Non Muslim Istifadah: Bagi sebagian orang, bepergian adalah satu aktivitas biasa. Bepergian dianggap sebagai bagian dari rutinitas dalam hidupnya. Imam Ibnu Hajar al Asqalani (w. 852 H) dalam kitab Fathul Bari menjelaskan bahwa Safar itu dikatakan bagian dari adab atau siksa dilihat dari dua sisi: Safar yang di dalamnya ada kesulitan. Kita akan sulit makan, sulit minum, tidur berbaring dan seterusnya. Kita akan meninggalkan orang-orang yang kita cintai. Maka Rasulullah SAW. memerintahkan kita agar segera kembali kepada keluarga kita setelah pulang dari bepergian dan hendaklah kita pasrahkan dan serahkan semua kepada Allah SWT. Kamis, 10 Rabi'ul Akhir 1439 H/ 28 Desember 2017 M [Lembaga Kajian dan Riset Rasionalika Darus-Sunnah]

One Day One Hadits #21 : Bepergian adalah Sebagian dari Siksa

Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #21 : Bepergian adalah Sebagian dari Siksa بسم الله الرحمن الرحيم كتاب العمرة باب السفر قطعة من العذاب  حَدَّثَنَا عَبْدُ...
Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #20 : Berdampingan Dengan Non-Muslim بسم الله الرحمن الرحيم كتاب الجزية باب إثم من قتل معاهدا بغير جرم حَدَّثَنَا قَيْسُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا مُجَاهِدٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ *مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا.* رواه البخاري Artinya: Dari Abdullah bin 'Amru (w. 63 H) radhiallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: *Barang siapa yang membunuh kafir mu'ahad maka dia tidak akan mencium bau surga padahal sesungguhnya bau surga itu dapat dirasakan dari jarak empat puluh tahun perjalanan. HR. Bukhari (w. 256 H)  Istifadah Dalam Islam orang non-muslim disebut kafir karena hatinya tertutup, terambil dari kata derivasi kafara yang artinya gelap ataupun bisa juga diartikan tertutup. Namun hal ini bukan berarti semua orang non-muslim harus dimusuhi oleh orang muslim, justru sebaliknya muslim harus tetap menjaga hubungan baik dengan non-muslim selagi non-muslim tersebut tidak memerangi muslim. Dalam fiqh, kategori non-muslim itu terbagi menjadi tiga golongan: Kafir Harbi_ yaitu non-muslim yang memerangi kaum muslimin Kafir musta'ma_ adalah non-muslim yang tinggal di negara Islam untuk beberapa waktu, semisal untuk kepentingan jual beli, diplomatik belajar dan lain sebagainya. Kafir dzimmi adalah non-muslim yang tinggal dan menetap bersama dengan orang-orang muslim sebagai penduduk di suatu negara. Kategori ketiga ini juga disebut Mu'ahad Dari tiga kategori non-muslim diatas yang boleh diperangi hanya kategori kafir harbi saja, dengan syarat non-muslim itu memerangi orang muslim. Selebihnya tidak boleh (baca:haram) diperangi. Hadis diatas termasuk salah satu hadis yang menjelaskan pentingnya menjaga hubungan baik dengan non-muslim dari segi mu'amalat saja. Rabu, 09 Rabi'ul Akhir 1439 H/ 27 Desember 2017 M ​[Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-sunnaH]

One Day One Hadits #20 : Berdampingan Dengan Non-Muslim

Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #20 : Berdampingan Dengan Non-Muslim بسم الله الرحمن الرحيم كتاب الجزية باب إثم من قتل معاهدا بغير جرم حَدَّثَنَا قَيْسُ بْنُ...
Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #14 : Kemudahan Bersedekah بسم الله الرحمن الرحيم كِتَابُ الأَدَبِ  بَابُ كُلِّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عِيَّاشٍ حَدَّثَنَا أَبُوْ غَسَّانٍ قَالَ : حَدَّثَنِي مُحَمَّدِ بْنُ المُنْكَدَرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللّٰهِ رِضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ. رَوَاهُ البُخَارِي Artinya: Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu (w. 78 H) berkata, bahwasanya Nabi SAW bersabda, *"Setiap kebaikan adalah sedekah."* H.R. Bukhari (w. 256 H) Baca Juga One Day One Hadits #13 : Menahan Amarah Istifadah: Hadis ini menunjukkan kemudahan bagi setiap insan untuk bersedekah. Jadi sedekah tidak hanya berupa uang saja. Ibnu Bathal rahimahullah (w. 499 H) menjelaskan bahwasannya setiap perbuatan atau perkataan baik yang dilakukan oleh seseorang terhitung sebagai sedekah Amalan baik yang dimaksud dijelaskan pada hadits riwayat Abu Musa al-Asy'ari r. a. (w. 44 H), diantaranya; bersedekah, bekerja secara sungguh-sungguh, dan membantu orang yang sedang berduka. Jika semua ini terasa sulit dilakukan, maka cukup dengan berkata baik, menyuruh kepada kebaikan, dan menahan diri dari kemaksiatan.  Islam telah memudahkan pemeluk-pemeluknya untuk bersedekah. Maka dari itu mari kita bersedekah dengan amalan baik masing-masing. Kamis, 3 Rabi'ul Akhir 1439 H/ 21 Desember 2017 M [Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-Sunnah]

One Day One Hadits #14 : Kemudahan Bersedekah

Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #14 : Kemudahan Bersedekah بسم الله الرحمن الرحيم كِتَابُ الأَدَبِ  بَابُ كُلِّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عِيَّاشٍ حَدَّثَنَا أَبُوْ غَسَّانٍ...
Kajian Islam Maulid Nabi (Kalam Ulama). One Day One Hadits #2 : Keutamaan Bershalawat بسم الله الرحمن الرحيم كتاب السهو باب الفضل فى الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم أَخْبَرَنَا إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ قَالَ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ قَالَ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ. رواه إمام النسائي. Terjemah: Telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik (w. 91 H) dia berkata; Rasulullah Shalallah 'Alaihi Wa Sallam bersabda: "Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali, dihapuskan darinya sepuluh kesalahan, dan diangkat sepuluh derajat untuknya." HR. Imam Nasa'i (W. 303 H). (Baca juga One Day One Hadits 1# : Mensyukuri Kelahiran Rasulullah) Istifadah: Hadis tersebut menerangkan tentang keutamaan dan ganjaran bagi seseorang yang bersholawat kepada Nabi Muhammad saw., yaitu Allah akan mendatangkan ampunan dan pahala yang berlipat kepadanya, hal tersebut sesuai dengan firman Allah; {مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ } Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. [QS. al-An'am: 160]. Maka setiap kebaikan yang kita lalukan, Allah akan membalas dan melipatgandakan pahala kepada hamba-Nya. Ada juga yang mengartikan makna Shalawat Allah berupa taufik dari Allah untuk mengeluarkan hamba-Nya dari kegelapan menuju cahaya (petunjuk-Nya), sebagaimana dalam firman Allah; {هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا}. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. [QS. al-Ahzab: 43]. Sabtu, 13 Rabi'ul Awal 1439 H/2 Desember 2017 M [Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-sunnah]

One Day One Hadits #2 : Keutamaan Bershalawat

Kajian Islam Maulid Nabi (Kalam Ulama). One Day One Hadits #2 : Keutamaan Bershalawat بسم الله الرحمن الرحيم كتاب السهو باب الفضل فى الصلاة على النبي صلى الله عليه...
Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #8: Keutamaan Seorang Wanita بسم الله الرحمن الرحيم كتاب النكاح باب أفضل النساء حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زِيَادِ بْنِ أَنْعُمَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَلَيْسَ مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا شَيْءٌ أَفْضَلَ مِنْ الْمَرْأَةِ الصَّالِحَةِ. رواه ابن ماجه Artinya: Dari Abdullah bin Amr (w. 63 H) bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dunia itu adalah hiasan, dan tidak ada hiasan dunia yang lebih indah selain wanita yang shalihah." H.R. Ibnu Majah(W.275 H) Baca juga : One Day One Hadits #7: Mempererat Ikatan Persaudaraan Istifadah : Hadis ini mengandung makna yang merupakan sebagian ajaran Islam dalam aspek pendidikan dalam menghargai derajat wanita di dunia. Wanita diumpamakan sebagai perhiasan dunia manakala ia dididik dengan pendidikan yang baik sehingga menjadi wanita yang shalihah, yakni shalih agama dan akalnya. Maka ia mampu menjaga akal dan keluarganya, teguh dan istiqamah dalam memegang ajaran Islam serta mengamalkannya dalam kehidupan. Dengan demikian maka wanita tersebut bermanfaat di dunia dan di akhirat kelak. Senin, 22 Rabi'ul Awal 1439 H/ 11 Desember 2017 M [Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-Sunnah]

One Day One Hadits #8: Keutamaan Seorang Wanita

Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #8: Keutamaan Seorang Wanita بسم الله الرحمن الرحيم كتاب النكاح باب أفضل النساء حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا عَبْدُ...
Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #15 : Berbakti Kepada Orang Tua بسم الله الرحمن الرحيم كتاب الأدب  باب من أحق الناس بحسن الصحبة حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ شُبْرُمَةَ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ. رواه البخاري ‎ ‎ Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu (w. 59 H) dia berkata; “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari 256 H) Baca Juga One Day One Hadits #14 : Kemudahan Bersedekah Istifadah: Hadis diatas adalah hadis yang sering dibacakan dalam tema berbakti kepada kedua orang tua khususnya ibu , namun sering kali kita lupa betapa lelah dan letihnya orang tua dalam mengasuh, mendidik, membesarkan, mendengar, memahami, dan melakukan segala hal yang membuat anak merasa aman, bahagia dan tentram berada dalam lindungannya. Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa, “Hadis tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi X : 239. al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa ibu memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan ayah) Dalam surah Luqman ayat 14 disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil, kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah. Namun demikian, bukan berarti islam membedakan rasa kasih dan sayang antara ibu dan ayah. Akan tetapi, ini menjadi sebuah peringatan kepada kita bahwa peran ibu dalam membawa dan menuntun kita kedunia ini adalah salah satu tanda kebesaran Allah yang maha Kuasa bahwa kita memiliki seorang malaikat pelindung dibumi yang senantiasa menjadi tempat kembali atas segala asa.  SELAMAT HARI IBU, semoga kita semua senantiasa dijadikan hamba yang selalu berbakti kepada orang tua. Aamiin. Jumat, 04 Rabi'ul Akhir 1439 H/ 22 Desember 2017 M [Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-Sunnah]

One Day One Hadits #15 : Berbakti Kepada Orang Tua

Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #15 : Berbakti Kepada Orang Tua بسم الله الرحمن الرحيم كتاب الأدب  باب من أحق الناس بحسن الصحبة حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ...
Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #12 : Mencintai Tanah Air بسم الله الرحمن الرحيم كتاب الحج باب المدينة تنفي الخبث حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا. رواه البخاري Artinya: Dari Anas radhiallahu 'anhu berkata; "Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam apabila pulang dari bepergian dan melihat dataran tinggi kota Madinah, Beliau mempercepat jalan unta Beliau dan bila menunggang hewan lain Beliau memacunya karena kecintaannya (kepada Madinah)." H.R. Bukhari (W. 256 H) Istifadah : Mencintai tanah air merupakan tabiat dasar manusia dan juga dianjurkan oleh agama. Dalam konteks kita sebagai masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim, maka mencintai Indonesia yang penduduknya mayoritas Muslim adalah sebuah keniscayaan. Karena kita tidak akan bisa menjalankan Syari'at Islam secara baik tanpa adanya tanah air sebagai tempat berpijak dan bernaung. Dan kita bisa tenang dan aman melaksanakan Ibadah jika tanah air yang kita huni juga aman dan stabil. Sebaliknya jika tanah air kita dalam suasana kekacauan dan tidak stabil, maka pelaksaan Ibadah juga terganggu. Hal ini sebagaimana Kaidah Ushul Fiqh yang berbunyi sesuatu yang kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya, maka ia adalah kewajiban juga. Dalam konteks ini, Kita tidak akan bisa melasanakan Ibadah dengan nyaman kecuali dengan aman dan tentramnya tanah air kita. Tanah air bisa aman jika kita membela dan menjaganya dengan baik. Dan menjaga tanah air tidak akan bisa kita lakukan jika kita tidak mencintainya. Kesimpulannya, maka mencintai tanah air, Indonesia (NKRI) adalah wajib. Inilah makna penting jargon dari KH. Hasyim Asy’ari Hubbul Wathon minal Iman (Cinta tanah air bagian dari Iman). Terkait mencintai tanah air, Imam Ibnu Hajar (w. 852 H) dalam Fathul Bari memberi komentar dan testimoni menarik atas hadis ini. Kata beliau, hadis ini menjelaskan keutamaan Madinah dan disyariatkaannya mencintai tanah air serta merindukannya. Selasa, 01 Rabi'ul Akhir 1439 H/ 19 Desember 2017 M [Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-Sunnah]

One Day One Hadits #13 : Menahan Amarah

Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #13 : Menahan Amarah بسم الله الرحمن الرحيم كتاب الأدب باب كظم غيظا حدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو...
Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #20 : Berdampingan Dengan Non-Muslim بسم الله الرحمن الرحيم كتاب الجزية باب إثم من قتل معاهدا بغير جرم حَدَّثَنَا قَيْسُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا مُجَاهِدٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ *مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا.* رواه البخاري Artinya:  Dari Abdullah bin 'Amru (w. 63 H) radhiallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: *Barang siapa yang membunuh kafir mu'ahad maka dia tidak akan mencium bau surga padahal sesungguhnya bau surga itu dapat dirasakan dari jarak empat puluh tahun perjalanan. HR. Bukhari (w. 256 H)  Baca Juga : One Day One Hadits #19 : Membela Kaum Difabel Istifadah Dalam Islam orang non-muslim disebut kafir karena hatinya tertutup, terambil dari kata derivasi kafara yang artinya gelap ataupun bisa juga diartikan tertutup. Namun hal ini bukan berarti semua orang non-muslim harus dimusuhi oleh orang muslim, justru sebaliknya muslim harus tetap menjaga hubungan baik dengan non-muslim selagi non-muslim tersebut tidak memerangi muslim. Dalam fiqh, kategori non-muslim itu terbagi menjadi tiga golongan: Kafir Harbi_ yaitu non-muslim yang memerangi kaum muslimin Kafir musta'ma_ adalah non-muslim yang tinggal di negara Islam untuk beberapa waktu, semisal untuk kepentingan jual beli, diplomatik belajar dan lain sebagainya. Kafir dzimmi adalah non-muslim yang tinggal dan menetap bersama dengan orang-orang muslim sebagai penduduk di suatu negara. Kategori ketiga ini juga disebut Mu'ahad Dari tiga kategori non-muslim diatas yang boleh diperangi hanya kategori kafir harbi saja, dengan syarat non-muslim itu memerangi orang muslim. Selebihnya tidak boleh (baca:haram) diperangi. Hadis diatas termasuk salah satu hadis yang menjelaskan pentingnya menjaga hubungan baik dengan non-muslim dari segi mu'amalat saja. Rabu, 09 Rabi'ul Akhir 1439 H/ 27 Desember 2017 M ​[Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-sunnah]

One Day One Hadits #20 : Berdampingan Dengan Non Muslim

Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #20 : Berdampingan Dengan Non-Muslim بسم الله الرحمن الرحيم كتاب الجزية باب إثم من قتل معاهدا بغير جرم حَدَّثَنَا قَيْسُ بْنُ...