One Day One Hadits

Kajian Al Hikam (Kalam Ulama). Kajian Al Hikam (8) : Terbukanya Pintu Mengenal Allah إِذَا فَتَحَ لَـكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلاَ تُبــَالِ مَعَهَا أِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَإِنَّـهُ مَا فَـتَـحَهَا لَكَ إِلاَّ وَهُوَ يُرِ يْدُ أَنْ يَـتَـعَرَّفَ إِلَيكَ. أَلَمْ تَـعْلَمْ أَنَّ الـتَّــعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ، وَاْلأَعْمَالُ أَنْتَ مُــهْدِ يْــهَا إِلَـيْهِ، وَأَيــْنَ مَا تُــهْدِ يْهِ إِلَـيْهِ مِمَّا هُـوَ مُوْرِدُهُ عَلَـيْكَ "Ketika Allah membukakan kepadamu pintu pengenalan diri-Nya, maka jangan kamu bandingkan datangnya pengenalan itu dengan sedikit amal-amalmu, karena sesungguhnya Allah tidak membukakan pintu pengenalan itu kepadamu kecuali Allah menginginkan semata-mata untuk memperkenalkan Diri-Nya kepadamu. Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya (suatu) pengenalan itu (semata-mata) Dia yang menginginkannya kepadamu, sedangkan amal-amal itu (semata-mata) suatu hadiah darimu kepada-Nya; maka tidaklah sebanding antara apa-apa yang kamu persembahkan kepada-Nya dengan apa-apa yang Dia inginkan untukmu." Baca juga : Kajian Al Hikam (7) : Jangan Ragu dengan Janji Allah Maqalah di atas menjelaskan bahwa Allah dapat menghendaki terbukanya pintu kema'rifahan kepada hamba walaupun sedikit amalnya. Karena terbukanya pintu ma'rifah itu anugerah dari Allah kepada hamba, sedangkan amal ibadah itu persembahan hamba kepada Tuhannya. Jadi jangan jadikan amal ibadah kita untuk menuntut datangnya anugerah kema'rifahan, sebab kema'rifahan itu semata-mata anugerah Allah yang diberikan kepada hamba yg dikehendakinya. Maka bersyukurlah bagi hamba yg sudah dibukakan pemahaman mengenal Allah mulai dari memahami tauhid af'al, tauhid sifat, tauhid asma' hingga tauhid dhat. Semoga datangnya anugerah kema'rifahan disempurnakan oleh Allah dengan meningkatnya kualitas keyakinan kita mulai dari ilmu yaqin, 'ainul yaqin hingga haqqul yaqin. Nagrak Cikeas, 31 Januari 2017 Oleh : Dr. KH. Ali Abdillah, MA (al-Rabbani Islamic College)

Kajian Al Hikam (8) : Terbukanya Pintu Mengenal Allah

Kajian Al Hikam (Kalam Ulama). Kajian Al Hikam (8) : Terbukanya Pintu Mengenal Allah إِذَا فَتَحَ لَـكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلاَ تُبــَالِ مَعَهَا أِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَإِنَّـهُ...
Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #5: Larangan seorang waria (banci) memasuki rumah wanita Ajnabi بسم الله الرحمن الرحيم   كتاب السلام باب منع المخنث من الدخول على النساء الأجانب حدثنا أَبُو بَكُرِ بنُ أَبِي شَيْبَةَ أخبرنا وَكِيعٌ عن هِشَامِ ابنِ عُرْوَةَ عنْ أَبِيهِ عنْ زَيْنَبَ بِنْتِ أُمّ سَلَمَةَ عنْ أُمّ سَلَمَةَ: أَنّ النبي صلى الله عليه وسلم دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا مُخَنّثٌ وَهُوَ يَقُولُ لِعَبْدِ الله أَخِيهَا: إِنْ يَفْتَحِ الله الطّائِفَ غَداً دَلَلْتُكَ عَلَى امْرَأَةٍ تُقْبِلُ بِأَرْبعٍ وَتُدْبِرُ بِثَمَانٍ، فقَالَ النبي ّصلى الله عليه وسلم "أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ". رواه مسلم Artinya: Dari Ummu Salamah (W. 61 H) : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam masuk ke rumahku sementara di sisiku ada seorang waria. Aku mendengar waria itu berkata kepada Abdullah bin Abi Umayyah (saudara laki-laki Ummu Salamah, pen): “Wahai Abdullah! Jika besok Allah membukakan/ memenangkan Thaif untuk kalian, maka hendaklah engkau berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan putri Ghailan, karena dari bagian depannya terdapat empat lipatan dan sisi belakangnya terdapat delapan lipatan”. Ucapannya yang demikian didengar oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam , maka beliau pun menetapkan:“Mereka (mukhannats) itu sama sekali tidak boleh masuk menemui kalian lagi.” (HR. Muslim W. 261 H) Baca juga : One Day One Hadits #4 : Pelit untuk Bershalawat Makna kalimat : “bagian depannya terdapat empat lipatan dan sisi belakangnya terdapat delapan lipatan” ini adalah penyifatan fisik wanita yang disukai pada saat itu yaitu lekukan itu sampai ke pinggangnya, pada masing-masing sisi (pinggang) empat sehingga dari belakang terlihat seperti delapan. Istifadah : Hadits ini menunjukkan bahwa waria yang dilarang untuk masuk ke tempat wanita ialah waria yang memiliki kecenderungan (bersyahwat) terhadap wanita, sebab ia bisa menceritakan keindahan tubuh wanita yang pernah dilihatnya kepada lelaki. Sehingga dikhawatirkan ia akan membongkar aurat wanita muslimah bila dibiarkan keluar masuk ke tempat mereka. Adapun waria (murni) yang sama sekali tidak bersyahwat terhadap wanita, tidak akan melakukan hal tersebut. Masalah ini tidak lepas dari dua kondisi: Pertama : Jika waria tersebut memiliki syahwat terhadap wanita, maka tidak ada perbedaan dalam hal ini bahwa ia diharamkan dan termasuk perbuatan fasik. Kedua : jika seorang waria (murni) yang tidak memiliki syahwat terhadap wanita, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat: 1. Ulama Malikiyah, Hanabilah dan sebagian Hanafiyah memberi rukhsah (keringanan) baginya untuk berada di tengah kaum wanita dan memandang mereka. Dalilnya ialah firman Allah ketika menjelaskan siapa saja yang boleh melihat wanita, dan siapa saja kaum wanita yang boleh berhias di hadapannya, yaitu: أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الِإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ artinya: atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak bersyahwat (terhadap wanita) 2. Ulama Syafi’iyah dan mayoritas Hanafiyah, berpendapat bahwa waria meskipun tidak bersyahwat terhadap wanita, tetap tidak boleh memandang kepada wanita. Dalam hal ini ia tetap dihukumi sebagai lelaki normal. Jumat, 19 Rabi'ul Awwal 1439 H/8 Desember 2017 M [Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-sunnah]

One Day One Hadits #5: Larangan seorang waria (banci) memasuki rumah wanita Ajnabi

Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #5: Larangan seorang waria (banci) memasuki rumah wanita Ajnabi بسم الله الرحمن الرحيم   كتاب السلام باب منع المخنث من الدخول على...
Kajian Islam Maulid Nabi (Kalam Ulama). One Day One Hadits #4 : Pelit untuk Bershalawat بسم الله الرحمن الرحيم كتاب الدعوات عن رسول الله باب قول رسول الله صلى الله عليه وسلم رغم أنف رجل حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى وَزِيَادُ بْنُ أَيُّوبَ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بِلَالٍ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ غَزِيَّةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ حُسَيْنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ. رواه الترميذى Artinya: Dari Ali bin Abi Thalib (W. 40 H) ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Seorang yang kikir adalah orang yang disebutkan namaku disisinya, namun ia tidak bershalawat kepadaku.” H.R. Tirmidzi (W. 279 H) Istifadah: Pelit bukan melulu perihal harta, karena sebagaimana dikatakan dalam hadis ini bahwa orang yang pelit adalah orang yang ketika nama Nabi Muhammad saw disebut, dia tidak mau bershalawat. Karena shalawat yang diucapkan adalah sebuah kebaikan. Maka ketika seseorang enggan untuk bershalawat berarti ia telah berbuat bakhil (pelit) terhadap dirinya sendiri karena tidak memberikan kebaikan untuk dirinya. (Baca Juga One Day One Hadits #3 : Sabar Menghadapi Musibah) Oleh karena itu, para ulama senantiasa membasahi lisan mereka dengan membaca shalawat setiap kali nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan. Karena Rasulullah bersabda, “Barangsiapa bershalawat kepadaku sebanyak satu kali maka Allah akan bershalawat kepadanya (yaitu memujinya di hadapan para malaikat) sebanyak 10 kali.” Selasa, 16 Rabi'ul Awal 1439 H/5 Desember 2017 M [Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-sunnah]

One Day One Hadits #4 : Pelit untuk Bershalawat

Kajian Islam Maulid Nabi (Kalam Ulama). One Day One Hadits #4 : Pelit untuk Bershalawat بسم الله الرحمن الرحيم كتاب الدعوات عن رسول الله باب قول رسول الله صلى...
Kajian Islam Maulid Nabi (Kalam Ulama). One Day One Hadits #3 : Sabar Menghadapi Musibah بسم الله الرحمن الرحيم كتاب المرضى باب ما جاء في كفارة المرض حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَلْحَلَةَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ. رواه البخاري Terjemah: Dari Abu Hurairah (W.58 H) dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Tidaklah seorang muslim tertimpa keletihan, penyakit, hal yang tidak diinginkan, kesedihan, gangguan (dari orang lain) dan kesusahan (hati) bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya". (HR. Bukhari 256 H) Istifadah: Melalui hadis ini baginda Nabi saw memberikan motivasi bagi hamba Allah yang tertimpa musibah. Sekecil apapun musibah yang menimpa hamba-Nya akan menjadi perantara pelebur dosa baginya. (Baca Juga One Day One Hadits #2 : Keutamaan Bershalawat) Minggu, 14 Rabi'ul Awal 1439 H/3 Desember 2017 M [Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-sunnah]

One Day One Hadits #3 : Sabar Menghadapi Musibah

Kajian Islam Maulid Nabi (Kalam Ulama). One Day One Hadits #3 : Sabar Menghadapi Musibah بسم الله الرحمن الرحيم كتاب المرضى باب ما جاء في كفارة المرض حَدَّثَنِي عَبْدُ...
Kajian Islam Maulid Nabi (Kalam Ulama). One Day One Hadits #2 : Keutamaan Bershalawat بسم الله الرحمن الرحيم كتاب السهو باب الفضل فى الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم أَخْبَرَنَا إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ قَالَ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ قَالَ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ. رواه إمام النسائي. Terjemah: Telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik (w. 91 H) dia berkata; Rasulullah Shalallah 'Alaihi Wa Sallam bersabda: "Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali, dihapuskan darinya sepuluh kesalahan, dan diangkat sepuluh derajat untuknya." HR. Imam Nasa'i (W. 303 H). (Baca juga One Day One Hadits 1# : Mensyukuri Kelahiran Rasulullah) Istifadah: Hadis tersebut menerangkan tentang keutamaan dan ganjaran bagi seseorang yang bersholawat kepada Nabi Muhammad saw., yaitu Allah akan mendatangkan ampunan dan pahala yang berlipat kepadanya, hal tersebut sesuai dengan firman Allah; {مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ } Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. [QS. al-An'am: 160]. Maka setiap kebaikan yang kita lalukan, Allah akan membalas dan melipatgandakan pahala kepada hamba-Nya. Ada juga yang mengartikan makna Shalawat Allah berupa taufik dari Allah untuk mengeluarkan hamba-Nya dari kegelapan menuju cahaya (petunjuk-Nya), sebagaimana dalam firman Allah; {هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا}. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. [QS. al-Ahzab: 43]. Sabtu, 13 Rabi'ul Awal 1439 H/2 Desember 2017 M [Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-sunnah]

One Day One Hadits #2 : Keutamaan Bershalawat

Kajian Islam Maulid Nabi (Kalam Ulama). One Day One Hadits #2 : Keutamaan Bershalawat بسم الله الرحمن الرحيم كتاب السهو باب الفضل فى الصلاة على النبي صلى الله عليه...
Kajian Islam Maulid Nabi (Kalam Ulama). One Day One Hadits 1# : Mensyukuri Kelahiran Rasulullah بسم الله الرحمن الرحيم كتاب الصوم باب صوم يوم عاشوراء وحَدَّثَنِي زُهَيْرُ بنُ حَرْبٍ: حَدَّثَنَا عَبْدُالرَّحْمَنِ بنُ مَهْدِيٍّ: حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بنُ مَيْمُونٍ، عَنْ غَيْلاَنَ، عَنْ عَبْدِاللَّهِ بنِ مَعْبَدٍ الزِّمَّانِيِّ، عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الِاثْنَيْنِ؟ فَقَالَ: فِيهِ وُلِدْتُ وَفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ. رواه مسلم Artinya : Dari Abu Qatadah Al-anshari ra. (W. 54 H), bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang puasa hari senin. Beliau menjawab: “Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari diturunkan kepadaku (wahyu).” H.R Muslim (W. 261 H) Istifadah : Dalam lika-liku kehidupan, kita tentu pernah mengalami suatu kejadian atau moment tertentu yang sulit untuk dilupakan dan membuat kita ingin mengenangnya. Jika hal tersebut adalah moment yang baik, Maka kita bersyukur kepada Allah Swt. Begitupun dengan Rasulullah Saw. Beliau melakukan puasa setiap hari Senin. Karena pada hari senin ada tiga moment yang terjadi: hari kelahirannya, hari wahyu diturunkan dan hari beliau diutus menjadi Rasul (dalam riwayat lain). Alasan lain kenapa Rasul berpuasa pada hari senin, karena dalam hadis riwayat Tirmidzi dijelaskan bahwa berbagai amalan dihadapkan kepada Allah pada hari senin dan kamis. (Baca Juga : Bahagia Atas Kelahiran Sang Nabi Muhammad SAW) Bulan ini adalah moment kelahiran Rasulullah Saw. Kehadiran Rasulullah Saw. di tengah dunia adalah rahmat bagi semesta. Sebagai rahmat, Allah Swt. memerintahkan kita untuk senang dan bergembira dengan rahmat-Nya. Maka dari itu mari kita ikut bergembira dan bersyukur kepada Allah Swt. atas kelahiran Nabi kita. Mudah-mudahan kita mendapat Syafa'atnya di akhirat kelak. Jum'at, 12 Rabi'ul Awal 1439 H/ 1 Desember 2017 M [Lembaga Kajian dan Riset Rasionalika Darus-Sunnah]

One Day One Hadits 1# : Mensyukuri Kelahiran Rasulullah

Kajian Islam Maulid Nabi (Kalam Ulama). One Day One Hadits 1# : Mensyukuri Kelahiran Rasulullah بسم الله الرحمن الرحيم كتاب الصوم باب صوم يوم عاشوراء وحَدَّثَنِي زُهَيْرُ بنُ حَرْبٍ: حَدَّثَنَا...
Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #21 : Bepergian adalah Sebagian dari Siksa بسم الله الرحمن الرحيم كتاب العمرة باب السفر قطعة من العذاب  حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنْ سُمَيٍّ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: *«السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ العَذَابِ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ، فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ، فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ»* (رواه البخاري)  Artinya: Dari Abu Hurairah (w. 59 H) radhiyallu 'anhu berkata: "Rasulullah SAW. bersabda: *“Bepergian itu bagian dari azab. Seseorang akan terhalang (terganggu) makan, minum, dan tidurnya. Maka, bila seseorang telah menunaikan maksud safarnya, hendaklah ia menyegerakan diri kembali kepada keluarganya.” H.R. Bukhari (w. 256 H) Baca Juga One Day One Hadits #20 : Berdampingan Dengan Non-Muslim Istifadah: Bagi sebagian orang, bepergian adalah satu aktivitas biasa. Bepergian dianggap sebagai bagian dari rutinitas dalam hidupnya. Imam Ibnu Hajar al Asqalani (w. 852 H) dalam kitab Fathul Bari menjelaskan bahwa Safar itu dikatakan bagian dari adab atau siksa dilihat dari dua sisi: Safar yang di dalamnya ada kesulitan. Kita akan sulit makan, sulit minum, tidur berbaring dan seterusnya. Kita akan meninggalkan orang-orang yang kita cintai. Maka Rasulullah SAW. memerintahkan kita agar segera kembali kepada keluarga kita setelah pulang dari bepergian dan hendaklah kita pasrahkan dan serahkan semua kepada Allah SWT. Kamis, 10 Rabi'ul Akhir 1439 H/ 28 Desember 2017 M [Lembaga Kajian dan Riset Rasionalika Darus-Sunnah]

One Day One Hadits #21 : Bepergian adalah Sebagian dari Siksa

Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #21 : Bepergian adalah Sebagian dari Siksa بسم الله الرحمن الرحيم كتاب العمرة باب السفر قطعة من العذاب  حَدَّثَنَا عَبْدُ...
Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #20 : Berdampingan Dengan Non-Muslim بسم الله الرحمن الرحيم كتاب الجزية باب إثم من قتل معاهدا بغير جرم حَدَّثَنَا قَيْسُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا مُجَاهِدٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ *مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا.* رواه البخاري Artinya: Dari Abdullah bin 'Amru (w. 63 H) radhiallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: *Barang siapa yang membunuh kafir mu'ahad maka dia tidak akan mencium bau surga padahal sesungguhnya bau surga itu dapat dirasakan dari jarak empat puluh tahun perjalanan. HR. Bukhari (w. 256 H)  Istifadah Dalam Islam orang non-muslim disebut kafir karena hatinya tertutup, terambil dari kata derivasi kafara yang artinya gelap ataupun bisa juga diartikan tertutup. Namun hal ini bukan berarti semua orang non-muslim harus dimusuhi oleh orang muslim, justru sebaliknya muslim harus tetap menjaga hubungan baik dengan non-muslim selagi non-muslim tersebut tidak memerangi muslim. Dalam fiqh, kategori non-muslim itu terbagi menjadi tiga golongan: Kafir Harbi_ yaitu non-muslim yang memerangi kaum muslimin Kafir musta'ma_ adalah non-muslim yang tinggal di negara Islam untuk beberapa waktu, semisal untuk kepentingan jual beli, diplomatik belajar dan lain sebagainya. Kafir dzimmi adalah non-muslim yang tinggal dan menetap bersama dengan orang-orang muslim sebagai penduduk di suatu negara. Kategori ketiga ini juga disebut Mu'ahad Dari tiga kategori non-muslim diatas yang boleh diperangi hanya kategori kafir harbi saja, dengan syarat non-muslim itu memerangi orang muslim. Selebihnya tidak boleh (baca:haram) diperangi. Hadis diatas termasuk salah satu hadis yang menjelaskan pentingnya menjaga hubungan baik dengan non-muslim dari segi mu'amalat saja. Rabu, 09 Rabi'ul Akhir 1439 H/ 27 Desember 2017 M ​[Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-sunnaH]

One Day One Hadits #20 : Berdampingan Dengan Non-Muslim

Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #20 : Berdampingan Dengan Non-Muslim بسم الله الرحمن الرحيم كتاب الجزية باب إثم من قتل معاهدا بغير جرم حَدَّثَنَا قَيْسُ بْنُ...

Medsos Kalam Ulama

4,711FansLike
14,987FollowersFollow
4FollowersFollow
1,888FollowersFollow
2,939SubscribersSubscribe

Popular Post

KalamUlama.com - Suara Sulthonul Qulub al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa saat membaca qosidah al-Imam al-Habib Umar Muhdhor bin Abdurrohman Assegaf. Qosidah Man Ana Laulakum ini juga sering beliau baca di hadapan Guru Mulia al-Musnid al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. Beliau awali dengan doa: بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" Berikut bait Qosidah "Man Ana" (Siapa Diriku): مَنْ أَنَا مَنْ أَنَا لَوْلَاكُم # كَيْفَ مَا حُبُّكُمْ كَيْفَ مَا أَهْوَاكُم Siapakah diriku, siapakah diriku kalau tiada bimbingan kalian (guru) Bagaimana aku tidak cinta kepada kalian dan bagaimana aku tidak menginginkan bersama kalian مَا سِوَيَ وَلَا غَيْرَكُم سِوَاكُم # لَا وَمَنْ فِى المَحَبَّةِ عَلَيَّ وُلَاكُم Tiada selain ku juga tiada selainnya terkecuali engkau, tiada siapapun dalam cinta selain engkau dalam hatiku أَنْتُم أَنْتُم مُرَادِي وَ أَنْتُم قَصْدِي # لِيْسَ احدٌ فِى المَحَبَّةِ سِوَاكُم عِنْدِي Kalianlah, kalianlah dambaanku dan yang kuinginkan, tiada seorangpun dalam cintaku selain engkau di sisiku كُلَّمَا زَادَنِي فِى هَوَاكُم وَجْدِي # قُلْتُ يَا سَادَتِي مُحْجَتِي تَفْدَاكُم Setiap kali bertambah cinta dan rindu padamu, maka berkata hatiku wahai tuanku semangatku telah siap menjadi tumbal keselamatan dirimu لَوْ قَطَعْتُمْ وَرِيْدِي بِحَدِّ مَا ضِي # قُلْتُ وَاللهِ أَنَا فِى هَوَاكُم رَاضِي Jika engkau menyembelih urat nadiku dengan pisau berkilau tajam, kukatakan demi Alloh aku rela gembira demi cintaku padamu أَنْتُمُ فِتْنَتِي فِى الهَوَا وَمُرَادِي # مَا ِرِضَايَ سِوَى كُلُ مَا يَرْضَاكُم Engkaulah yang menyibukkan segala hasrat dan tujuanku, tiada ridho yang aku inginkan terkecuali segala sesuatu yang membuat mu ridho كُلَّمَا رُمْتُ إِلَيْكُم نَهَوْ مَنْ أَسْلَك # عَوَقَتْنِيْ عَوَائِق أَكَاد أَنْ أَهْلِك Setiap kali ku bergejolak cinta padamu selalu terhalang untuk aku melangkah, mereka mengganjalku dengan perangkap yang banyak hampir saja aku hancur فَادْرِكُوا عَبْدَكُم مِثْلُكُمْ مَنْ أَدْرَكْ # وَارْحَمُوا بِا المَحَبَّةِ قَتِيْل بَلْوَاكُم Maka tolonglah budak kalian ini, dan yang seperti kalianlah golongan yang suka menolong, dan kasihanilah kami dengan cinta kalian, maka cinta kalian membunuh dan memusnahkan musibahku Sumber: Muhammad Ainiy

Man Ana Laulakum (Siapa Diriku) Lirik, Latin, dan Terjemahannya

KalamUlama.com - Suara Sulthonul Qulub al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa saat membaca qosidah al-Imam al-Habib Umar Muhdhor bin Abdurrohman Assegaf. Qosidah Man Ana Laulakum ini...
SYAIKHONA (Wahai Guru Kami) شَيْخَنَا مَعَ السَّلاَمَةَ فِی أَمَانِهْ شَيْخَنَا اَللهُ رَبِّ ارْحَمْ مُرَبِّی رُوْحِنَا… يَا رَبَّنَا Ma’as-salaamah fii amaanih Syaikhonaa Allaahu Robbi-rham murobbii ruuhinaa (Yaa Robbanaa) Selamat jalan semoga dalam keselamatan wahai guruku, Ya Allah Tuhanku, rahmatilah pendidik jiwa kami (wahai Tuhanku) عَيْنُ الْمُحِبِّ بِالدُمُوْعِ حَازِنَا رَوْعًا عَلَی افْتِرَاقِ مَنْ قَدْ أَحْصَنَا… يَا شْيْخَنَا ‘Ainul muhibbi biddumuu’i haazinaa Rou’an ‘alaa-ftirooqi man qod ahshonaa (Yaa Syaikhonaa) Mata penuh cinta dipenuhi air mata, sedih karena akan berpisah dari sosok yang memberi (kemuliaan) pada kami (wahai guru kami) رَوَضَّنَا بِأُسْوَةٍ مَحَاسِنَا شَرَفَهُ اللهُ فِی جَوَارِ نَبِيِّنَا… يَا رَبَّنَا Rowwadlonaa bi uswatin muhaasinan Syarrofahullaahu fii jiwaar nabiyyinaa (Yaa Robbanaa) Beliau mengajari kami dengan teladan-teladan yang baik, Semoga Allah memuliakannya berada bersama Nabi kami (wahai Tuhanku) وَنَتَبِعْ عَزْمَكْ وَکُنْتَ مُتْقِنَا أَرِحْ وَنَوْمًا گالعْرُوْسِ آمِنَا… يَا شَيْخَنَا Wa nattabi’ ‘azmak wa kunta mutqinaa Arih wa nauman kal ‘aruusi aaminaa (Yaa Syaikhonaa) Kami tunduk akan kehendakMu dan kau sosok yang dipatuhi, beristirahatlah dan tidurlah dengan tenang bak pengantin (wahai guru kami) فَاعْفُ إِذَا لَمْ تَرْضَ مِنْ أَعْمَانِنَا دَوْمًا دُعَاءً رَبَّنَا اغْفِرْ شَيْخَنَا… يَا رَبَّنَا Fa’fu idzaa lam tardlo min a’maaninaa Dauman du’aa-an robbanaa-ghfir syaikhonaa (Yaa Robbanaa) Maafkan kami bila ada yg tidak berkenan dihati selama masa belajar kami, kami senantiasa berdoa: Ya Tuhanku ampunilah guru kami (wahai Tuhanku) كُلُّ الْقُلُوْبِ اِلاَّلْحَبِيْبِى تَمِيْلُ * وَمَعِى بِذَلِكَ شَاهِدٌ وَدَلِيْلُ اَمّاَ الدَّلِيْلُ اِذَا ذَكَرْتُ مُحَمَّدًا * صَارَتْ دُمُوْعُ العَاشِقِيْنَ تَسِيْلُ

Ya Syaikhona – Lirik Sholawat, Latin dan Terjemahnya

Kalam Ulama - TEKS SHOLAWAT DAN TERJEMAH YA SYAIKHONA (Wahai Guru Kami) شَيْخَنَا مَعَ السَّلاَمَةَ فِی أَمَانِهْ شَيْخَنَا اَللهُ رَبِّ ارْحَمْ مُرَبِّی رُوْحِنَا… يَا رَبَّنَا Ya Syaikhona Ma’as-salaamah fii amaanih...
Kumpulan Doa dan Dzikir (Kalam Ulama) - Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta الفصل الأول : في الغزل وشكوى الغرام Bagian Pertama: Bercumbu dan Pengaduan Cinta مَوْلَايَ صَلِّي وَسَلِّـمْ دَآئِــماً أَبَـدًا ۞ عَلـــَى حَبِيْبِـكَ خَيْــرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ هُوَالْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ ۞ لِكُلّ هَوْلٍ مِنَ الْأِهْوَالِ مُقْتَحِـــــــمِ أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَــــلَــمٍ ۞ مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَيْ مِنْ مُقْلَةٍ بِـــدَمِ Apakah karena mengingat para kekasih di Dzi Salam[1] sana. Engkau deraikan air mata dengan darah duka. أَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَاظِمَـــةٍ ۞ وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِيْ الْضَمَآءِ مِنْ إِضَـمِ Ataukah karena hembusan angin terarah lurus berjumpa di Kadhimah[2]. Dan kilatan cahaya gulita malam dari kedalaman jurang idham [3]. فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَــا ۞ وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِـــــمِ Mengapa kedua air matamu tetap meneteskan airmata? Padahal engkau telah berusaha membendungnya. Apa yang terjadi dengan hatimu? Padahal engkau telah berusaha menghiburnya. أيَحَسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتـــِمٌ ۞ مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمضْطَــــرِمِ Apakah diri yang dirundung nestapa karena cinta mengira bahwa api cinta dapat disembunyikan darinya. Di antara tetesan airmata dan hati yang terbakar membara. لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمْعاً عَلَي طَـلَلٍ ۞ وَلاَ أرَقْتَ لِذِكْرِ الْبَانِ وَالْعَلـَـــمِ Andaikan tak ada cinta yang menggores kalbu, tak mungkin engkau mencucurkan air matamu. Meratapi puing-puing kenangan masa lalu berjaga mengenang pohon ban dan gunung yang kau rindu. فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُباًّ بَعْدَ مَا شَــهِدَتْ ۞ بِهِ عَلَيْكَ عُدُوْلُ الدَّمْعِ وَالسَّـــقَمِ Bagaimana kau dapat mengingkari cinta sedangkan saksi adil telah menyaksikannya. Berupa deraian air mata dan jatuh sakit amat sengsara. وَأَثْبَتَ الْوَجْدُ خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَّضَــنىً۞ مِثْلَ الْبَهَارِمِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَــــمِ Duka nestapa telah membentuk dua garisnya isak tangis dan sakit lemah tak berdaya. Bagai mawar kuning dan merah yang melekat pada dua pipi. نَعَمْ سَرَى طَيْفُ مَنْ أَهْوَى فَأَرّقَنِي ۞ وَالْحُبّ يَعْتَرِضُ اللّذّاتَ بِالَلَــــــمِ Memang benar bayangan orang yang kucinta selalu hadir membangunkan tidurku untuk terjaga. Dan memang cinta sebagai penghalang bagi siempunya antara dirinya dan kelezatan cinta yang berakhir derita. يَا لَا ئِمِي فِي الهَوَى العُذْرِيِّ مَعْذِرَةً ۞ مِنّي إِلَيْكَ وَلَوْ أَنْصَفْتَ لَمْ تَلُمِ Wahai pencaci derita cinta kata maaf kusampaikan padamu. Aku yakin andai kau rasakan derita cinta ini tak mungkin engkau mencaci maki. عَدَتْكَ حَـــالِـي لَاسِرِّيْ بِمُسْتَتِرٍ ۞ عَنِ الْوِشَاةِ وَلاَ دَائِيْ بِمُنْحَسِــمِ Kini kau tahu keadaanku, tiada lagi rahasiaku yang tersimpan darimu. Dari orang yang suka mengadu domba dan derita cintaku tiada kunjung sirna. مَحّضْتَنِي النُّصْحَ لَكِنْ لَّسْتُ أَسْمَعُهُ ۞ إَنّ الُحِبَّ عَنِ العُذَّالِ فِي صَمَمِ Begitu tulus nasihatmu, tapi aku tak mampu mendengar semua itu. Karena sesungguhnya orang yang dimabuk cinta tuli dan tak menggubris cacian pencela. إِنِّى اتَّهَمْتُ نَصِيْحَ الشّيْبِ فِي عَذَلِي ۞ وَالشّيْبُ أَبْعَدُ فِي نُصْحِ عَنِ التُّهَمِ Aku curiga ubanku pun turut mencelaku. Padahal ubanku pastilah tulus memperingatkanku. Baca Juga : Kisah Pangeran Diponegoro & Sholawat Burdah

Qasidah Burdah Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta

Kumpulan Doa dan Dzikir (Kalam Ulama) - Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta الفصل الأول : في الغزل وشكوى الغرام Bagian...
Maulid Diba dan Terjemahannya KalamUlama.com - Teks Maulid diba banyak sekali yang sehingga para pembaca bisa membuka link maulid diba full. tapi kami memohon maaf belum menyediakan maulid diba pdf. Sebagaimana kami ketahui, bahwa para ulama salaf banyak sekali yang menulis kitab, buku atau postingan singkat yang memuat bacaan shalawat. Hal itu dikerjakan untuk mewujudkan sebuah bukti kecintaan mereka kepada Nabi yang disanjungnya. Bacaan shalawat yang berupa buku atau kitab antara lain : shalawat Dala'il, shalawat Bakriyah, shalawat Diba'iyyah dan lain-lain. Sedangkan yang berupa postingan singkat antara lain shalawat Nariyah, shalawat Rajabiyah, shalawat Munjiyat, shalawat Fatih, shalawat Sa’adah. shalawat Badriyah dan lain- lain. Dari sekian banyak kitab yang memuat bacaan shalawat berikut tersedia yang palingterkenal dan sering dibaca yang diadakan oleh warga Nahdliyyin, antara lain adalah shalawat Diba’iyyah. Jadi pengertian Diba’an adalah : membaca kitab yang memuat bacaan shalawat dan riwayat hidup Nabi secara singkat yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahman ad-Diba’i. Pengarang Maulid Diba' Maulid Diba’ adalah satu karya maulid yang masyhur didalam Islam adalah maulid yang dikarang oleh seorang ulama besar dan ahli hadits, yaitu Imam Wajihuddin ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali bin Yusuf bin Ahmad bin ‘Umar ad-Diba`ie asy-Syaibani al-Yamani az-Zabidi asy-Syafi`i. Sebagaimana yang udah disebutkan, kitab ini sering dicetak dan dibukukan sejalan dengan dua kitab maulid di atas, Syaroful Anam dan Al-Barjanzi. Pengarangnya adalah Imam Wajihuddin Abdu Ar-Rahman bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Yusuf bin Ahmad bin Umar ad-Dibai (866H-944H), beliau berasal Zabid, keliru satu kota di Yaman. Selain ulama yang produktif mengarang kitab, beliau juga dikenal sebagai ahli hadits, bahkan mencapai derajat Al-Hafiz, yaitu hafal 100.000 hadits dengan sanadnya. Sanad Pengarang Maulid Diba Syaikh Abdurrahman Ad Dibai dilahirkan pada 4 Muharram 866 H dan wafat pada hari Jumat 12 Rajab tahun 944H. Pada masanya, beliau adalah seorang ulama hadits yang tenar dan tak ada bandingannya. Beliau mengajar kitab Shohih Imam al-Bukhari lebih dari 100 kali khatam. Beliau mencapai darjat Hafidz didalam pengetahuan hadits yaitu seorang yang menghafal 100,000 hadits dengan sanadnya dan setiah hari beliau mengajar para santrinya hadits dari masjid ke masjid. . Guru-guru beliau di antaranya adalah Imam al-Hafidz as-Sakhawi, Imam Ibnu Ziyad, Imam Jamaluddin Muhammad bin Ismail, mufti Zabid, Imam al-Hafiz Tahir bin Husain al-Ahdal dan banyak lagi. Selain itu, beliau juga merupakan seorang yakni ahli sejarah. Adapun kitab karangannya adalah sebagai berikut: “Taisirul Wusul ila Jaami`il Usul min Haditsir Rasul” yang memiliki kandungan himpunan hadits yang dinukil dari pada kitab hadits yang 6. “Tamyeezu at-Thoyyib min al-Khabith mimma yaduru ‘ala alsinatin naasi minal hadits” sebuah kitab yang membedakan 3. hadits sohih dengan yang lainnya seperti dhoif dan maudhu. “Qurratul ‘Uyun fi akhbaril Yaman al-Maimun” “Bughyatul Mustafid fi akhbar madinat Zabid”. “Fadhail Ahl al-Yaman”. Hukum Membaca Maulid Diba Membaca shalawat ad dibai atau shalawat yang lain menurut pendapat Jumhurul Ulama adalah sunnah Muakkad. Kesunatan membaca shalawat ini didasarkan pada lebih dari satu dalil, antara lain: Firman Allah SWT. Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah anda untuk Nabi dan sampaikanlan salatu penghormatan kepadanya. (QS. AI-Ahzab : 56) Sabda Nabi SAW.: صلوا علي، فإن الصلاة علي كفارة لكم وزكاة. [رواه ابن ماجه] Artinya : “Bershalawatlah anda untukku, karena membaca shalawat untukku bisa mengahapus dosamu dan bisa membersihkan pribadimu”. (HR. lbnu Majah) Sabda Nabi SAW. : زينوا مجالسكم بالصلاة علي، فإن صلاتكم علي نور لكم يوم القيامة Artinya: “Hiasilah tempat-tempat pertemuanmu dengan bacaan shalawat untukku, karena sesungguhnya bacaan shalwat untukku itu menjadi cahaya bagimu pada hari kiamat”. (HR. Ad-Dailami). Keutamaan Maulid Diba Seseorang yang ahli membaca shalawat bakal diberi anugerah oleh Allah, antaralain : Dikabulkan do’anya الدعاء كله محجوب حتى يكون أوله ثناء على الله عز وجل وصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يدعو فيستجاب له لدعاءه Artinya: “Setiap do’a adalah terhalanh, sehingga dimulai dengan memuji kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi, sesudah itu baru berdo'a dan bakal dikabulkan do’a itu”. (HR. Nasa’i). Peluang untuk mendapat syafa'at Nabi pada hari kiamat. Dihilangkan ada problem dan kesulitannya. Dan lain-lain. Cara Membaca Diba’iyyah Dibaca dengan kesungguhan dan keikhlasan hati dan juga diiringi rasa hormat dan mahabbah/cinta kepada Rasulullah SAW. Jelas sekali dalalah ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi berikut bahwa kami sebagai ummat Muhammad diperintahkan untuk membacakan shalawat kepada Nabi SAW. agar dapat mengagungkannya sekaligus mengharapkan barokahnya sewaktu kami masih hidup di dunia dan sehingga mendapat syafa’atul udzma dikala kami berada di alam mahsyar kelak. Tata Cara menghadiri Majlis Maulid Nabi SAW (Diringkaskan dari kitab Azzahrul Baasim karya Mufti Betawi zaman Hindia Belanda, al-Habib Utsman bin ‘Abdillah bin Yahya rohimahullohu ta’ala): Dilaksanakan pada tempat-tempat yang terhormat seperti masjid, musholla, majelis-majelis, atau perkumpulan mulia, dan sebagainya. Tidak boleh tersedia pada tempat berikut suatu patung-patung binatang atau manusia yang menjadi simbol pengagungan dan penyembahan terhadapnya (misal patung dewa, bunda maria, dan sejenisnya), karena hal berikut dibenci oleh beliau (SAW) dan para Malaikat. Ketika membaca shirohnya (sejarahnya) yang terkandung didalam Kitab Maulid, tidak boleh bercampur didalamnya antara laki-laki dengan perempuan. Kecuali adanya hijab (batas/dinding) yang mengatasi antara perempuan dan laki-laki, sehingga aman dari fitnah. Jangan pula tersedia pada tempat diselenggarakannya, suatu permainan yang HARAM (misal judi dan sejenisnya). Sebab, hal itu bakal mengantarkan pada kedurhakaan besar melanggar larangan Rosululloh SAW. Jangan pula tersedia pada tempat itu segala sesuatu yang beraroma busuk. Seperti rokok, cerutu, kandang binatang, dan sejenisnya. Maka hendaklah tersedia pada tempat itu segala sesuatu wewangian yang harum seperti dupa (gaharu bakar) atau bunga-bungaan. Hendaklah yang hadir pada tempat penyelenggaran itu membaca sholawat, dan janganlah satu sama lain saling bercerita, masing-masing “pasang” telinga mendengar kisah maulid yang dibacakan sambil membaca sholawat. Apabila nanti disebut bakal dzohir (lahir dan hadir)-nya sang Nabi SAW ke dunia, maka semua yang hadir bersegera untuk bangun dan berdiri. Bukan atas basic paksaan, tapi karena TAKDZIM (HORMAT), BAHAGIA, dan ANTUSIAS pada kehadiran beliau (SAW). Sehingga pada selanjutnya segenap hadirin yang mematuhi aturan-aturan berlaku, kelak bakal memperoleh syafa’at (pertolongan) dari beliau (SAW) di yaumil akhir dan juga memperoleh balasan yang berlipat ganda dunia wal-akhiroh. InsyaAlloh. اللهمّ صلّ على سيّدنا و شفيعنا محمّد وعلى آله وصحبه و سلّم واجعلنا من خيار امّته و من اهل شفاعته برحمتك يا ارحم الرّاحمين آمين “Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina wa Syafi’ina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi wa Sallim waj’alnaa min khiyaari ummatihi wa min ahli syafaa’atihi, birohmatika Yaa Arhamarrohimiin, aamiin“ (Yaa Alloh, limpahkanlah sholawat atas junjungan kami, Nabi kami yang memberi syafa’at bagi kami, yaitu Nabi Muhammad SAW dan atas keluarganya, dan sahabatnya, dan juga salam penghormatan atasnya, dan jadikanlah kami daripada umatnya yang paling baik dan yang mendapat syafa’atnya di hari sesudah itu dengan Rahmat-Mu wahai Tuhan yang punyai cii-ciri Kasih Sayang melebihi semua yang punyai cii-ciri kasih sayang, aamiin) Baca : Kitab Maulid Diba dan Terjemahannya #02: “Inna Fatahna”

Maulid Diba Full Lengkap dengan Teks Terjemah Bahasa Indonesia

KalamUlama.com - Teks Maulid diba banyak sekali yang sehingga para pembaca bisa membuka link yang ada dibawah. tapi kami memohon maaf belum menyediakan maulid...
KalamUlam.com - Kajian Maulid Diba #13 Fahtazzal arsyu tharaban was-tibsyâra, Waz-dâdal kursiyyu haibatan wa waqâra,  Wam-tala-atis samâwâtu anwâra, wa dhaj-jatil mala-ikatu tahlîlan wa tanjîdan was-tighfâra اللهم صل وسلم وبارك عليه   Ya Allah tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad).   فَاهْتَزَّ الْعَرْشُ طَرَبًا وَاسْتِبْشَارًا Maka bergoncanglah ‘Arsy karena gembira dengan adanya kabar gembira.   وَازْدَادَ الْكُرْسِيُّ هَيْبَةً وَوَقَارًا Dan kursi Allah bertambah wibawa dan tenang karena memuliakannya.   وَامْتَلَأَتِالسَّمٰوَاتُ أَنْوَارًا Dan langit penuh dengan cahaya.   وَضَجَّتِ الْمَلَآئِكَةُ تَهْلِيْلًا وَتَمْجِيْدًا وَاسْتِغْفَارًا ۩ serta bergemuruh suara malaikat membaca tahlil, tamjid dan istighfar   سُبْحَانَ اللهِ وَ اْلحَمْدُ للهِ وَلا اِلهَ الّا اللهُ وَ اللهُ اَكْبَر  Maha Suci Allah, limpahan puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dialah Allah yang Maha Besar (4x)   وَلَمْ تَزَلْأُمُّهٗ تَرٰى أَنْوَاعًا مِنْ فَخْرِهِ وَفَضْلِهِ إِلىٰ نِهَايَةِ تَمَامِ حَمْلِهِ  Dan ibunya tiada henti-hentinya melihat bermacam-macam keajaiban hingga dari keistimewaan dan keagungannya hingga sempurna masa kandungannya,   فَلَمَّا اشْتَدَّ بِهَا الطَّلْقُ بِـإِذْنِ رَبِّ الْخَلْقِ  Maka ketika ibunya telah merasakan sakit karena kandungannya akan lahir, dengan izin Tuhannya, Tuhan pencipta makhluk,   وَضَعَتِ الْحَبِيْبَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدًا شَاكِـرًا حَامِدًا كَأَنَّهُ الْبَدْرُ فِيْ تَمَامِهِ   Lahirlah kekasih Allah Muhammad SAW dalam keadaan sujud, bersyukur dan memuji, sedangkan wajahnya bagaikan bulan purnama dalam kesempurnaannya.   -------000--------   مَحَلُّ اْلقِيَامِ [irp posts="933" name="Kajian Maulid Diba' #14 : Teks dan Terjemah Mahallul Qiyam"]  Keterangan: Para Malaikat, Para Nabi, Para Wali, Para bidadari surga, seluruh makhluk-makhluk Allah SWT yang ada di daratan, di lautan, di angkasa, bahkan bumi, laut, udara, bintang-bintang, bulan, matahari, langit, kursiy dan Arasy, seluruhnya benar-benar meluapkan kegembiraan dan memuncakkan “Shalawat ta’dzhim” kepada Kekasih Allah SWT, Nabi Akhir Zaman, Baginda Nabi Muhammad SAW. Bahkan Ka’bah Baitulloh ikut bergetar selama 3 hari berturut-turut karena bahagia dan bangga menyambut kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW.           Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Maulid Ad-diba’iy Lil Imam Abdurrahman Ad-Diba’iy: فاهتز العرش طربا واستبشارا وازداد الكرسي هيبة ووقارا وامتلأت السموات أنوارا وضجت الملائكة تهليلا وتمجيدا واستغفارا Yang artinya kurang lebih: “Sesungguhnya (pada saat kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW), ‘Arasy seketika gentar hebat luar biasa meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya, dan Kursiy juga semakin tambah kewibawaan dan keagungannya, dan seluruh langit dipenuhi cahaya yang bersinar terang dan para malaikat seluruhnya serentak bergemuruh memanjatkan tahlil, tamjid, dan istighfar kepada Allah SWT dengan mengucapkan:  سبحان الله  والحمد لله  ولا إله إلا الله  والله أكبر أستغفر الله Yang artinya kurang lebih: “Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, saya beristighfar (memohon ampun) kepada Allah SWT.”           Sesungguhnya dengan keagungan baginda Nabi Muhammad SAW di sisi Allah SWT, maka Allah SWT telah memerintahkan kepada para malaikat-Nya yang agung yakni Malaikat Jibril, Malaikat Muqorrobin, Malaikat Karubiyyin, Malaikat yang selalu mengelilingi Arasy dan lainnya agar serentak berdiri pada saat detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW dengan memanjatkan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, dan Istighfar kepada Allah SWT.           Semua fenomena keajaiban-keajaiban agung yang terjadi pada detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW yang diwujudkan oleh  Allah SWT, semata-mata hanya menunjukkan kepada semua makhluk-makhluk-Nya Allah SWT bahwa baginda Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang paling dicintai-Nya, makhluk yang paling agung dan mulia derajatnya di sisi-Nya.           Dan riwayat-riwayat semua yang tersebutkan di atas, bukan sekedar cerita belaka, namun telah kami nukil data datanya dari kitab-kitab para ulama Ahlussunnah Waljama’ah yang sangat akurat dan otentik. Diantaranya adalah Kitab Al-Hawi lil Fatawi yang dikarang oleh Al-Imam Asy-Syaikh Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi yang telah mengarang tidak kurang dari 600 kitab yang dijadikan marja’ (pedoman) bagi para ulama ahlussunnah waljama’ah dalam penetapan hukum-hukum syariat Islam.Bahkan para ulama ahlussunnah waljama’ah telah sepakat menjuluki Beliau dengan gelar “Jalaaluddiin” yakni sebagai pilar keagungan agama Islam.           Bahkan tidak hanya dari kitab beliau, tetapi juga dari kitab-kitab para ulama Ahlussunnah Waljama’ah lainnya yang juga telah disepakati dan dijadikan sebagai sumber pedoman oleh para ulama. Diantaranya adalah Kitab Dalailun Nubuwwah lil Imam Al-Baihaqi, Kitab Dalailun Nubuwwah lil Imam Abu Na’im Al-Ashfahaniy, Kitab An-Ni’matul Kubro ‘Alal ‘Aalam lil Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitami, Kitab Sabiilul Iddikar lil Imam Quthbul Ghouts Wad-Da’wah Wal-Irsyad Al-Habib Abdullah bin ‘Alawi Al-Haddad, Kitab Al-Ghuror lil Imam Al-Habib Muhammad bin Ali bin Alawiy Khird Ba Alawiy Al-Husainiy, Kitab Asy-Syifa’ lil Imam Al-Qadli ‘Iyadl Abul Faidl Al-Yahshabiy, Kitab As-Siiroh An-Nabawiyyah lil Imam As-Sayyid Asy-Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al Hasaniy, Kitab Hujjatulloh ‘Alal ‘Aalamin lis Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhaniy, dan kitab-kitab lainya yang mu’tamad dan mu’tabar (diakui dan dijadikan pedoman oleh para ulama).           Bagi para Ulama shalihin Ahlussunnah Waljama’ah telah sepakat untuk berdiri pada saat bacaan Maulid Nabi Muhammad SAW telah tiba, yakni pada Mahallul Qiyam (detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW). Mereka serentak berdiri demi mengikuti jejak para Malaikat, jejak arwah para Nabi dan jejak arwah para Wali untuk ta’dzhim (mengagungkan) dan memuncakkan rasa cinta yang agung kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Mereka luapkan rasa syukur yang memuncak ke hadhirat Allah SWT atas nikmat atau anugerah paling agung yang telah Allah SWT limpahkan dengan mengutus Kekasih-Nya sebagai Rahmat (Belas Kasih Sayang-Nya) untuk seluruh alam semesta.  Mereka panjatkan puji-pujian yang agung kepada baginda Rasululloh SAW dengan bahasa sastra yang indah dan suara merdu yang dipenuhi dengan rasa rindu dan cinta yang tulus mulia kepada Baginda SAW.           Maka, sungguh sangat mulia sekali bagi kita sebagai umat yang sangat dicintainya untuk mengikuti jejak para ulama shalihin dengan serentak berdiri pada saat Mahallul Qiyam demi menyambut kedatangan Kekasih Allah SWT yang sangat mulia, Junjungan kita baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Bukankah Beliau adalah Nabi kita yang sangat kita cintai? Bukankah Beliau adalah yang kelak akan memberi pertolongan kepada kita sehingga selamat dari siksaan Allah SWT yang sangat pedih? Bukankah Beliau adalah yang akan memberi syafaat kepada kita sehingga kita bisa memperoleh keridloan Allah SWT yang agung dan masuk ke dalam surga-Nya yang dipenuhi dengan segala kenikmatan, keindahan dan kebahagiaan yang kekal abadi selama-lamanya? Karena Rasululloh  SAW adalah Kekasih Allah SWT yang mana Allah SWT telah berjanji untuk tidak menolak segala  permintaan Beliau dan akan mengabulkan segala permohonannya. Dan janji ini telah ditetapkan Allah SWT dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Surat Adh-Dhuha ayat  5:  ولسوف يعطيك ربك فترضى   Yang artinya kurang lebih: “Dan (sesungguhnya) kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu (Nabi Muhammad SAW), lalu (hati) kamu menjadi puas”. (Q.S. Adl-Dluha: 5) Sungguh sangat beruntung kita sebagai umat Islam yang benar-benar mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW dengan setulusnya. Maka, pada saat tiba ajal kita nanti, baginda Nabi Muhammad SAW yang sangat kita cintai akan menolong kita dengan memohon kepada Allah SWT agar ditetapkan iman kita, diampuni segala dosa-dosa kita yang pernah kita lakukan dan diberi kemudahan menghadapi sakaratul maut. Bukan sekedar itu saja, bahkan pada saat menghadapi pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam barzakh, Beliau akan menolong kita. Dan berkat pertolongannya, seketika Allah SWT akan menjadikan kuburan kita sebagai “Raudlotun Min Riyaadlil Jinaan”, yakni sebagai taman diantara taman-taman surga. Begitu pula pada saat di padang Mahsyar, kita akan dipersilahkan untuk meminum air telaganya dan bertemu dengan Beliau SAW beserta para ahli baitnya, para sahabatnya, dan juga bersama para wali Allah SWT, para orang-orang sholihin  dan bersama pula dengan orang-orang mukmin yang mencintainya. Seketika itu pula kita mendapati rasa aman. Demikian besarnya perhatian baginda Rasulullah SAW kepada kita, dan agungnya ketulusan mahabbah (Belas Kasih Sayang) yang sempurna kepada kita, sehingga kita bisa mendapati limpahan Rahmat (Belas Kasih Sayang) Allah SWT dan ampunan-Nya, adalah  sangat banyak sekali data-data atau dalilnya disebutkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Al-Hadits serta kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah. Sebagian diantara dalil-dalil tersebut adalah Firman Allah SWT dalam Al-Qur’anu Al-Kariim Surat At-Taubah  ayat 128:  لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رءوف رحيم   Yang artinya kurang lebih: “Sesungguhnya telah datang kepada kalian Seorang Rasul (Nabi Muhammad SAW), dari kaum kalian sendiri, (sungguh sangat) berat terasa olehnya (segala) penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin..” (Q.S. At-Taubah: 128).           Demikianlah anugerah-anugerah agung yang dilimpahkan Allah SWT kepada umat Islam yang benar-benar cinta kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Namun, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Qodli ‘Iyadl dalam kitabnya Asy-Syifa hal 158 bahwa orang yang benar-benar tulus mencintai baginda Rasul SAW, syaratnya harus mengikuti jejaknya, meneladani prilakunya, menghidupkan sunnah ajaran dan syiarnya, mencintai ahli baitnya dan menghormati seluruh shahabatnya. Semoga kita semua termasuk orang yang benar-benar cinta sejati dengan tulus kepada Baginda Nabi Muhammad SAW beserta seluruh ahli bait dan shahabatnya serta bisa meneladani prilaku dan jejak-jejak mereka.  Wallahu a’lam bishshowaab.  Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi melalui kitab Nurul Mushthofa yang dirangkum oleh Al-Habib Murtadho bin Abdullah Alkaf. Demikian pembahasan fasal fahtazzal arsyu      

Fahtazzal Arsyu – Kitab Maulid Diba dan Terjemahannya (03)

KalamUlam.com - Fasal Fahtazzal Arsyu ini merupakan fasal yang begitu luar biasa. Karena didalam fasal ini diceritakan bagaiamana kemulian Nabi Muhammad dan semua alam menyambut...