Kitab Maulid Diba dan Terjemahannya

Ahmad Ulul Azmi

Satu karya maulid yang masyhur dalam Islam adalah maulid yang dikarang oleh seorang ulama besar dan ahli hadits, yaitu Imam Wajihuddin ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali bin Yusuf bin Ahmad bin ‘Umar ad-Diba`ie asy-Syaibani al-Yamani az-Zabidi asy-Syafi`i.

Beliau dilahirkan pada 4 Muharram 866 H dan wafat pada hari Jumat 12 Rajab tahun 944H. Pada masanya, beliau adalah seorang ulama hadits yang terkenal dan tiada bandingannya. Beliau mengajar kitab Shohih Imam al-Bukhari lebih dari 100 kali khatam. Beliau mencapai darjat Hafidz dalam ilmu hadits yaitu seorang yang menghafal 100,000 hadits dengan sanadnya.

Setiap hari beliau mengajar hadits dari masjid ke masjid. Guru-guru beliau di antaranya adalah Imam al-Hafidz as-Sakhawi, Imam Ibnu Ziyad, Imam Jamaluddin Muhammad bin Ismail, mufti Zabid, Imam al-Hafiz Tahir bin Husain al-Ahdal dan banyak lagi. Selain itu, beliau juga merupakan seorang muarrikh (yakni ahli sejarah).

Sholawat Maulid Ad-Dibai  #02: "Qiila Huwa Adam" اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad)   قِيْلَ هُوَ أَدَمُ، قَالَ أَدَمُ بِهِ أُنِيْلُهُ أَعْلَى الْمَرَاتِبِ. قِيْلَ هُوَ نُوْحٌ، قَالَ نُوْحٌ بِهِ يَنْجُوْ مِنَ الْغَرَقِ وَيَهْلِكُ مَنْ خَالَفَهُ مِنَ الْأَهْلِ وَالْأَقَارِبِ. قِيْلَ هُوَ إِبْرَِاهِيْمُ، قَالَ إِبْرَاهِيْمُ بِهِ تَقُوْمُ حُجَّتُهُ عَلَى عُبَّادِ اْلأَصْنَامِ وَالْكَوَاكِبِ. قِيْلَ هُوَ مُوْسَى، قَالَ مُوْسَى أَخُوْهُ وَلَكِنْ هَذَا حَبِيْبٌ وَمُوْسَى كَلِيْمٌ وَمُخَاطِبٌ. قِيْلَ هُوَ عِيْسَى، قَالَ عِيْسَى يُبَشِّرُ بِهِ وَهُوَ بَيْنَ يَدَيْ نُبُوَّتِهِ كَالْحَاجِبْ. قِيْلَ فَمَنْ هَذَا الْحَبِيْبُ الْكَرِيْمُ الَّذِيْ اَلْبَسْتَهُ حُلَّةَ الْوَقَارِ، وَتَوَّجْتَهُ بِتِيْجَانِ الْمَهَابَةِ وَالْإِفْتِخًَارِ، وَنَشَرْتَ عَلَى رَأْسِهِ الْعَصَائِبْ. قَالَ هُوَ نَبِيُّ نِاسْتَخْرَجْتُهُ مِنْ لُؤَيِّ ابْنِ غَالِبٍ. يَمُوْتُ أَبُوْهُ وَأُمُّهُ وَيْكْفُلُهُ جَدُّهُ ثُمَّ عَمُّهُ الشَّقِيْقُ أَبُوْ طَالِبْ.    Ditanyakan oleh malaikat: “Adakah nur itu pada Nabi Adam?” Jawab Alloh: “Dengan nur ini, Aku anugerahkan kepada Adam martabat yang tinggi.” oleh malaikat: “Adakah nur itu pada Nuh?” Jawab Alloh: Dengan nur ini Nuh dapat selamat dari tenggelam dan binasalah orang-orang yang memungkirinya dari ahli keluarga dan kerabatnya.” oleh malaikat: “Adakah nur ini pada Nabi Ibrohim?” Jawab Alloh: “Dengan nur ini Ibrohim sanggup menyampaikan hujjahnya dengan mengalahkan para penyembah berhala dan bintang-bintang.” oleh malaikat: “Adakah nur ini pada Nabi Musa?” Jawab Alloh: “Musa itu adalah saudaranya, tetapi nur ini adalah kekasih-Ku dan Musa adalah penerima firman-Ku dan yang berbicara dengan-Ku.” oleh malaikat: “Adakah nur ini pada Nabi Isa?” Jawab Alloh: “Dengan nur ini nabi Isa membawa kabar akan kelahiran nur ini diantara dengan kenabiannya dalam jarak waktu sangat dekat, bagaikan mata dengan alis.” oleh Malaikat: “Lantas siapakah kekasih mulia yang telah Engkau hiasi dengan hiasan ketenteraman, Engkau beri mahkota dari mahkota kewibawaan dan kemegahan dan Engkau kibarkan bendera kepemimpinan diatasnya?” Alloh: “Dialah seorang nabi yang telah aku pilih dari keturunan Luay bin Ghalib, ayah dan ibunya telah meninggal dunia, kemudian diasuh oleh kakeknya, kemudian oleh pamannya yaitu saudara kandung ayahnya yang bernama Abu Tholib.”   اللهم صل وسلم وبارك عليه   Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) ========================== Baca Sebelumnya Kajian Maulid Diba’ #03: “Alhamdulillahil Qowiyyil Gholib” Keterangan Tambahan: Dalam kitab Nurul Musthofa yang dirangkum oleh oleh Al-Habib Murtadho bin Abdullah Alkaf diterangkan tentang keistimewaan Nur Nabi Muhammad SAW.  Segala anugerah yang telah melimpah kepada makhluk-makhluk Alloh SWT, semata-mata adalah dengan berkatnya Baginda Nabi Muhammad SAW. Bahkan segala kemuliaan para Malaikat dan Para Nabi adalah semata-mata berkat Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana yang telah diterangkan oleh Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani di kitabnya Hujjatulloh ‘Alal ‘Alamin hal 53 & 54 ; قال الشيخ يوسف بن إسماعيل النبهاني في حجة الله على العالمين   إنما ظهر الخير لأهله ببركة سيدنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وأهل الخير هم الملائكة والأنبياء والأولياء وعامة المؤمنين   Yang artinya kurang lebih; “Bahwa sesungguhnya segala kebaikan yang melimpah kepada makhluk makhluk Alloh SWT yang mulia adalah semata-mata berkat Baginda Nabi Muhammad SAW, mereka itu adalah para Malaikat, para Nabi dan semua orang-orang mukmin”. Nur Nabi Muhammad SAW pada Abul Basyar, Nabi Adam a.s, Kemudian Alloh SWT meletakkan Nur Baginda Nabi Muhammad SAW dalam punggung Nabi Adam AS, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Kitabnya Ad-Durarul Hisan Hamisy Daqo’iqul Akhbar hal 5; قال الامام جلال الدين السيوطي في الدرر الحسان هامش دقائق الأخبار ص 5: ثم ان الله تعالى استودع نور محمد صلى الله عليه وسلم في ظهره وأسجد له الملائكة وأسكنه الجنة فكانت الملائكة تقف خلف آدم صفوفا صفوفا يسلمون على نور محمد صلى الله عليه وسلم   Yang artinya kurang lebih;  “Bahwa sesungguhnya Alloh SWT telah meletakkan Nur Baginda Nabi Muhammad SAW dalam punggung Nabi Adam AS. Sehingga para malaikat sujud dan berbaris rapi di belakang Nabi Adam AS untuk menghaturkan salam kepada Nur Baginda Nabi Muhammad SAW”.   Nabi-Nabi Terdahulu Memuliakan Nur Nabi Muhammad SAW. Oleh sebab itulah, demi memuliakan Nur agung Baginda Nabi Muhammad SAW yang ada dalam dirinya, maka setiap Nabi Adam AS akan berhubungan dengan Ibu Hawwa’ maka Beliau bersuci terlebih dahulu, memakai wangi-wangian dan memerintahkan Ibu Hawwa’ untuk melakukan hal yang sedemikian rupa .   Dan suatu saat Nur tersebut benar-benar telah pindah dalam diri Ibu Hawwa’, sehingga kecantikan Ibu Hawwa’ tambah bersinar luar biasa. Tidak lama kemudian Beliau melahirkan anak laki-laki dan diberinya nama Syits. Dan Nur tersebut telah pindah dalam diri Nabi Syits AS. Dengan adanya Nur yang terlihat oleh Nabi Adam AS di muka Nabi Syits, maka Nabi Adam AS selalu memperhatikan dan menjaga Nabi Syits AS, demi memuliakan dan mengagungkan Nur Nabi Muhammad SAW yang ada dalam diri Nabi Syits AS tersebut.   Setelah Nabi Syits AS dewasa dan Nabi Adam AS merasa telah dekat ajalnya untuk menghadap kepada Alloh SWT, maka Beliau Nabi Adam AS memanggil putranya (Nabiyyulloh Syits AS) dan memberikan wasiat/amanat kepadanya; “Wahai Anakku (Syits), Sesungguhnya Alloh SWT telah mengambil perjanjian kepadamu untuk senantiasa menjaga “Nur Agung Nabi Muhammad SAW’, janganlah engkau letakkan kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya”.   Maka Nabi Syits AS menjaga teguh amanat tersebut dengan menikah dengan seorang wanita yang paling suci saat itu yang bernama Baidlo’. Dan setelah dianugerahi putra, maka Beliau Nabi Syits AS memberikan wasiat kepada putranya agar jangan meletakkan Nur Agung tersebut kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya. Demikian pula putranya melakukan hal yang sama hingga Nur Agung tersebut sampai pada Nabi Idris AS. Dan Nabi Idris AS juga melakukan hal yang sama, Beliau AS mewasiatkan kepada putranya agar jangan meletakkan Nur Agung tersebut kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya.    Hingga sampailah Nur Agung tersebut pada Nabi Nuh AS. Begitu pula Nabi Nuh AS, Beliau juga melakukan hal yang sama. Beliau berwasiat kepada putra Beliau (Sam) untuk menjaga Nur tersebut, dan jangan diletakkan kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya. Dan Sayyidina Sam putra Nabi Nuh AS juga mewasiatkan kepada putranya sebagaimana wasiat tersebut di atas, hingga sampailah silsilah mata rantai Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW kepada Nabi Ibrahim AS.   Dan kemudian dari Nabi Ibrahim AS, Nur tersebut turun kepada Nabi Ismail AS. Dan Nabi Ismail AS juga telah menjaga teguh Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW tersebut, Beliau telah mewasiatkan kepada putranya agar jangan meletakkan Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya.    Maka, wasiat tersebut senantiasa terpelihara secara berkesinambungan. Dan Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW senantiasa berpindah dari seorang ayah yang suci nan agung, ke ibu yang paling suci nan mulia nasabnya, dengan ikatan pernikahan islami yang diridloi Alloh SWT. Hingga sampailah perjalanan Nur Agung tersebut kepada Sayyidina ‘Adnan. Dari Sayidina ‘Adnan ke Sayyidina Ma’ad. Dari Sayyidina Ma’ad ke Sayyidina Nizar.   Dan telah diriwayatkan dalam kitab Hujjatullah ‘Alal ‘Alamin hal 218 bahwa tatkala Sayyidina Nizar mengetahui bahwa dalam dirinya bersemayam Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW, maka Beliau Sayyidina Nizar sangat bahagia sekali, sehingga beliau menyembelih hewan kurban yang sangat banyak untuk disedekahkan kepada umat pada masa itu. Dan begitu pula Sayyidina Nizar telah berwasiat kepada Sayyidina Mudlor (putranya). Dan Sayyidina Mudlor juga berwasiat kepada putranya hingga sampailah Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW tersebut kepada Sayyidina Hasyim.    Sampai di sinilah akhirnya berkumandang kabar gembira di seluruh penjuru dunia, bahwa sudah dekat saat datangnya Nabi akhir zaman, Seorang Nabi yang diutus Alloh SWT untuk seluruh umat manusia, seorang Nabi yang Agung nan mulia yang sempurna kepribadiannya dan agung budi pekertinya, yang sangat santun dan menyayangi umatnya dan yang paling dimuliakan dan disayangi Alloh SWT, yakni Baginda Nabi Muhammad SAW.    Maka berita tersebut telah menyebar ke seluruh penjuru dunia dan menggemparkan jagad. Hingga para ahli kitab dari kaum Yahudi dan Nashrani berebut ingin mendapati silsilah mata rantai Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW tersebut. Mereka berbondong-bondong mendatangi Sayyidina Hasyim dan berebut untuk menawarkan anak gadis mereka yang sangat cantik jelita agar dipersuntingnya. Namun Sayyidina Hasyim tidak menerima mereka semua karena teguh memegang amanat wasiat nenek moyangnya agar jangan meletakkan Nur Agung Baginda Nabi Besar Muhammad SAW kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya.    Hingga sampailah berita tersebut ke Kaisar Romawi. Maka Kaisar tersebut mengutus delegasi untuk memanggil Sayyidina Hasyim dengan tujuan untuk dinikahkan dengan putrinya yang sangat cantik jelita. Tidak ada tujuan lain kecuali dia ingin mendapati Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW, karena data-data yang akurat dan otentik tentang Nur Nabi akhir zaman telah mereka ketahui dari ulama ahli kitab yahudi dan nashrani bahwa Nur Agung tersebut telah berada dalam diri dan kepribadian Sayyidina Hasyim.   Akan tetapi Sayyidina Hasyim dengan tegas menolaknya dan berkata; والذي فضلني على أهل الزمان لا أتزوج إلا بأطهر نساء العالمين  Yang artinya kurang lebih; “Demi Alloh, Dzat yang telah melimpahkan kemuliaan kepadaku melebihi seluruh penghuni alam semesta. Sungguh aku tidak akan menikah kecuali dengan seorang wanita yang paling suci nan mulia nasabnya (sebagaimana wasiat nenek moyangku terdahulu)”   Maka, sesuai petunjuk amanat yang Beliau dapati, akhirnya Beliau menikah dengan seorang wanita yang paling suci nan mulia nasabnya pada masa itu. Dari pernikahan tersebut lahirlah Sayyidina Abdul Mutholib. Maka pindahlah Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW kepada Sayyidina Abdul Mutholib. Dan Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW sangat terlihat bercahaya terang benderang dari dahi Sayyidina Abdul Mutholib. Dan bau harum semerbak senantiasa keluar menyebar dari diri beliau. Semua itu adalah berkat Nur Baginda Nabi Muhammad SAW.   Dan sesungguhnya berkat Nur Baginda Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Abdul Mutholib senantiasa dikabulkan doanya oleh Alloh SWT. Maka orang-orang Quraisy, setiap mereka ditimpa kemarau panjang (paceklik) mereka berduyun-duyun mendatangi Sayyidina Abdul Mutholib. Akhirnya dengan dipimpin Sayyidina Abdul Muthalib mereka naik ke gunung Tsabir. Disitulah mereka bermunajat memohon Belas Kasih Sayang Alloh SWT agar melimpahkan hujan kepada mereka.    Akhirnya Alloh SWT mengabulkan permohonan mereka dengan menurunkan hujan yang deras berkat Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW yang berada pada diri Sayyidina Abdul Mutholib. Beliau Sayyidina Abdul Mutholib juga sebagai hakim di kalangan kaum Quraisy. Keputusan-keputusan beliau sangat diterima dan dihormati oleh mereka. Setiap ada masalah, rujukan utama mereka adalah Sayyidina Abdul Mutholib agar memberikan petunjuk dan keputusan untuk menyelesaikan segala urusan mereka. Beliau juga dikenal sebagai pemuda yang tekun beribadah.Berulang kali Beliau senantiasa kholwat (menetap sendirian) di Gua Hiro’.    Di situ Beliau selalu bersyukur kepada Alloh SWT yang telah menganugerahinya Nur Baginda Nabi Muhammad SAW dalam dirinya dan Beliau juga selalu bermunajat kepada Alloh SWT dan memuncakkan tafakkur tentang kemuliaan dan keagungan Dzat Pencipta alam semesta Alloh Robbul ‘Alamin. Beliau juga senantiasa beramar ma’ruf nahi munkar kepada kaumnya sesuai dengan ajaran Nabi Ibrohim AS sehingga mereka senantiasa memuliakan dan mengagungkannya.    Hingga suatu ketika Beliau Sayyidina Abdul Mutholib mendapati petunjuk dari Alloh SWT (lewat mimpi) agar Beliau menikah dengan Sayyidatina Fatimah binti Amr seorang wanita yang paling suci nan mulia nasabnya pada masa itu. Dari pernikahan tersebut, maka lahirlah Sayyidina Abdulloh ayahanda Baginda Nabi Muhammad SAW.   Sebagaimana yang telah diterangkan di kitab Madarijush Shu’ud halaman 10 bahwa sesungguhnya Sayyiduna Abdulloh Ayahanda Baginda Nabi Muhammad SAW adalah sangat cepat perkembangannya. Dalam jangka waktu sehari sudah seperti bayi usia satu bulan. Dan dalam jangka sebulan sudah seperti bayi berusia setahun. Sehingga hal itu menakjubkan semua orang, baik yang ada di perkotaan ataupun di pelosok desa yang paling dalam. Setiap orang yang memandang kepada Beliau, selalu berdecak kagum melihat kemilau cahaya yang anggun berwibawa dari mukanya dan keajaiban-keajaiban yang melimpah kepada Beliau.    Postur tubuhnya yang sempurna, ketampanan mukanya yang mempesona, dan kesantunannya yang penuh wibawa, telah menjadikan para gadis terpikat hatinya. Laksana Nabi Yusuf AS pada zamannya dahulu yang digandrungi oleh semua wanita karena ketampanannya yang mempesona dan sempurna. Maka Beliau Sayyiduna Abdulloh adalah seorang lelaki yang paling sempurna diri dan kepribadiannya pada masa itu. Sebagaimana dikatakan oleh Syeikh Ahmad Bin Zaini Dahlan di kitabnya As-Sirah An-Nabawiyyah juz 2 hal 42; قال الشيخ أحمد بن زيني دحلان الحسني في السيرة النبوية الجزء الأول ص42 : وكان أي عبد الله أحسن رجل في قريش خلقا وخلقا وكان نور النبي صلى الله عليه وسلم بينا في وجهه وكان أجملهم فشغفت به نساء قريش وكدن أن تذهل عقولهن   Yang artinya kurang lebih; “Bahwa Sesunguhnya Sayyiduna Abdulloh adalah insan yang paling sempurna diri dan pribadinya(pada masa itu). Dari muka Beliau nampak jelas berkemilau cahaya “Nur” Baginda Nabi Muhammad SAW. Dan tidak sedikit para wanita yang terpikat hatinya kepada Beliau”   Dahsyatnya pesona dan kesempurnaan pribadi Sayyiduna Abdulloh ayahanda Baginda Nabi Muhammad SAW, bukan hanya terkenal di kalangan suku Quraisy saja. Bahkan para ulama ahli kitab di Syam Palestina juga mengakuinya. Sehingga setiap ada orang dari suku Quraisy bersinggah di tempat mereka, selalu diberi wasiat bahwa Nur yang ada pada diri Sayyiduna Abdulloh, sesungguhnya adalah Nur Nabi akhir zaman, yakni Baginda Nabi Muhammad SAW. Tujuan utama dari wasiat tersebut adalah agar senantiasa dijaga Nur Baginda Nabi Muhammad SAW yang ada pada diri Sayyiduna Abdulloh tersebut dan dilindungi dari orang-orang yang hasud dan orang-orang yang ingin mencelakakannya.    Sebagaimana telah diterangkan oleh Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani di kitabnya Hujjatullah ‘Alal ‘Alamin hal 220 ; قال الشيخ يوسف بن إسماعيل النبهاني في حجة الله على العالمين ص 219 : لم يبق حبر من أحبار الشام إلا علم بمولده ثم كان لا يقدم عليهم رجل من أهل الحرام إلا سألوه عن عبد الله كيف تركوه فيقول تركناه يتلألأ حسنا وجمالا وكمالا فتقول الأحبار يا معشر قريش إن ذلك النور ليس لعبد الله بن عبد المطلب وإنما هو لمحمد صلى الله عليه وسلم يخرج من ظهره في آخر الزمان يغير عبادة الأصنام   Yang artinya kurang lebih; “Bahwa sesungguhnya para ulama ahli kitab di Syam (Palestina) telah mengetahui Nur Baginda Nabi Muhammad SAW pada diri Sayyiduna Abdulloh. Setiap ada penduduk Makkah bersinggahdi tempat mereka selalu diberi wasiat olehnya dengan berkata ;   ……….Ketahuilah oleh kalian semua wahai kaum Quraisy, kemilau cahaya yang ada pada diri Abdulloh sesungguhnya adalah Nur Nabi akhir Zaman Baginda Nabi Muhammad SAW yang akan datang membawa agama tauhid untuk meng-Esakan Alloh Robbul ‘Alamin”.   Maka, tatkala Beliau Sayyiduna Abdulloh genap berusia 18 tahun, Beliau diajak oleh ayahandanya (Sayyiduna Abdul Mutholib) untuk dinikahkan dengan Sayyidatuna Aminah binti Wahab seorang wanita yang paling suci dan paling mulia nasabnya pada saat itu. Namun di tengah perjalanan mereka berdua bertemu dengan serombongan wanita yang cantik jelita. Serentak semuanya berebutan untuk menawarkan dirinya kepada Sayyiduna Abdulloh. Namun Sayyiduna Abdulloh tidak bersedia, karena Beliau teguh memegang amanah untuk tidak menikah kecuali pada wanita yang paling suci dan mulia nasabnya.    Dan bahkan ada juga seorang wanita ahli kitab yang bersedia untuk mempersembahkan 100 onta asal Sayyiduna Abdulloh mau pada wanita tersebut. Tetapi dengan tegas Sayyiduna Abdulloh tetap menolak semua ajakan dan tawaran tersebut. Beliau tetap teguh untuk menjaga kesucian dan kemuliaan yang ada pada dirinya, dan akhirnya Beliau menikah dengan Sayyidatuna Aminah binti Wahab, seorang gadis yang paling suci nan mulia nasabnya pada masa itu.    Maka, pindahlah Nur Baginda Nabi Muhammad SAW dari ayahanda tercinta Sayyiduna Abdulloh ke dalam kandungan ibundanya tercinta Sayyidatuna Aminah Binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhrah.   Kesucian nasab yang telah Alloh SWT jaga sejak Nabi Adam AS hingga Sayyiduna Abdulloh tersebut, semata-mata adalah suatu penghormatan besar dari Alloh SWT dan Belas Kasih Sayang-Nya kepada kekasih-Nya Baginda Nabi Muhammad SAW. Semuanya melalui proses pernikahanislami yang diridloi Alloh SWT. Sebagaimana yang disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir juz 2 hal 403; ذكر الإمام أبو الفداء إسماعيل ابن كثيرفي تفسير إبن كثير الجزء الثاني ص 403 عن علي بن أبي طالب كرم الله وجهه قال النبي صلى الله عليه وسلم خرجت من نكاح ولم أخرج من سفاح من لدن آدم إلى أن ولدني أبي وأمي ولم يمسني من سفاح الجاهلية شيء    Yang artinya kurang lebih; “Diriwayatkan dari Sayyidina Ali Karromallohu Wajhah, bahwa sesungguhnya Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda; “Sesungguhnya aku (Nabi Muhammad SAW) adalah terlahir dari orang-orang suci nan mulia nasabnya melalui pernikahan yang sah (diridloi Alloh SWT). Sejak Nabi Adam AS hingga kedua orang tuaku (Sayyid Abdulloh dan Sayyidah Aminah), semuanya melalui pernikahan yang sah (diridloi Alloh SWT), tidak ada sedikitpun yang menyimpang”.    Dan sesungguhnya dengan adanya berbagai macam peristiwa luar biasa yang dialami oleh Sayyiduna Abdulloh tersebut, semata-mata adalah sebagai tanda yang sangat jelas terang-benderang atas dekatnya waktu kedatangan Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Hafidh Abu Na’im Al-Ashfahani di kitabnya Dala’ilun Nubuwwah Juz 1 hal 167 ;   قال الإمام الحافظ الكبير أبو نعيم الأصفهاني في دلائل النبوة الجزء الأول ص 167 : ففي ابتغاء اليهود واليهودية وضع هذا النور الذي انتقل إلى آمنة بنت وهب فيها وذكرهم بني زهرة وأن هذالأمر لا يكون فيهم دلالة واضحة على تقديم الخبر والبشارة بذلك في الكتب السالفة وما يكون من أمر النبي صلى الله عليه وسلم وبعثته كل ذلك آيات واضحة وبراهين صحيحة لائحة على نبوته وبعثته صلى الله عليه وسلم.   Yang artinya kurang lebih; “Bahwa sesungguhnya segala keajaiban yang ada pada diri Sayyiduna Abdulloh sampai para ahli kitab menginginkan Nur yang ada pada diri beliau, serta tersohornya kabar berita Nur tersebut di kitab-kitab terdahulu, semata-mata hanyalah sebagai tanda-tanda yang jelas dan bukti yang konkrit atas Kenabian Baginda Nabi Muhammad SAW”. Bahwa sesungguhnya, manakala Sayyidatuna Aminah Binti Wahab mengandung Baginda Nabi Muhammad SAW. Seketika itu pula terjadilah berbagai macam keajaiban-keajaiban dunia yang menggemparkan jagad. Segala peristiwa tersebut, bukan hanya di daratan dan lautan saja. Bahkan di alam malakut lebih dahsyat dan menakjubkan.    Konkritnya adalah pada malam Jumu’ah bulan Rojab, detik itulah momen yang paling bersejarah bagi seluruh umat manusia. Saat itulah terjadi perpindahan Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW dari Sayyiduna Abdulloh ke dalam kandungan Sayyidatuna Aminah.    Maka, pada malam itulah datang perintah dari Alloh SWT kepada malaikat Ridlwan agar membuka seluruh pintu surga dan Alloh SWT perintahkan kepada malaikat-Nya untuk mengumandangkan seruan telah tiba saat datangnya Nabi Akhir zaman Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana yang diterangkan oleh Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani di kitabnya Hujjatullah ‘Alal-‘Alamin hal 226 dan 223;    قال الشيخ يوسف بن إسماعيل النبهاني في حجة الله على العالمين ص 226 : قال سهل بن عبد الله التستري لما أراد الله تعالى خلق محمد صلى الله عليه وسلم في بطن أمه آمنة ليلة رجب وكانت ليلة الجمعة أمر الله تعالى في تلك الليلة رضوان خازن الجنان أن يفتح الفردوس وينادي مناد في السموات والأرض ألا إن النور المخزون المكنون الذي يكون منه النبي الهادي في هذه الليلة يستقر في بطن أمه الذي يتم خلقه ويخرج للناس بشيرا ونذيرا.   Yang artinya kurang lebih; “Bahwa sesungguhnya manakala Alloh SWT menghendaki untuk mewujudkan Baginda Nabi Muhammad SAW dalam kandungan ibundanya pada malam Jumu’ah bulan Rojab, maka Alloh SWT perintahkan kepada malaikat Ridlwan (penjaga surga) agar membuka seluruh pintu surga dan berkumandanglah seruan di langit dan di bumi; ……….(Wahai seluruh makhluk, perhatikanlah oleh kalian semua)..Sesungguhnya Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW sekarang telah berada dalam kandungan ibundanya. Kelak, Beliaulah yang akan muncul sebagai Nabi yang membawa petunjuk dan pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan kepada umat manusia”.   Maka, seketika itu juga seluruh binatang yang ada di laut, di daratan, dan di angkasa saling memberi kabar gembira kepada temannya masing-masing. Yang di barat lari ke timur, yang di timur lari ke barat, yang di utara lari ke selatan dan yang di selatan lari ke utara untuk saling membawa berita gembira. Yang lebih menakjubkan lagi adalah binatang-binatang yang ada di sekitar Makkah, seperti kuda, onta, rusa dan lain sebagainya bisa mengucapkan dengan bahasa arab yang fasih, sehingga orang-orang pada masa itu sangat takjub melihat peristiwa langka tersebut. Perkataan hewan-hewan tersebut adalah ; حمل برسول الله صلى الله عليه وسلم ورب الكعبة وهو أمان الدنيا وسراج أهلها   “Sungguh demi Alloh SWT Dzat yang menguasai Ka’bah, saat ini Baginda Rosululloh SAW telah berada dalam kandungan ibundanya. Beliaulah yang kelak akan membawa kedamaian di muka bumi ini dan Beliaulah yang akan menerangi umat dengan ajaran-ajarannya…” Dan saat itu pula, serentak seluruh singgasana para penguasa, raja dan kaisar sedunia, semuanya jatuh dan terjungkal ke bawah, sehingga para penguasa tersebut tercekat kebingungan, diam seribu bahasa dan tidak bisa berkata apa-apa seharian penuh. Begitu pula seluruh patung-patung sedunia terjungkal jatuh berantakan. Para dukun-dukun seketika lenyap ilmu mereka, tak bisa menebak/meramal sesuatu dengan benar. Dan dari bulan ke bulan senantiasa terdengar seruan malikat yang berkumandang di langit dan di bumi untuk memberi berita gembira kepada seluruh makhluk-makhluk Alloh SWT.    Baca Selanjutnya Kajian Maulid Diba’ #05 “Yub’atsu min Tihamah”   Wallahu a’lam bishshowaab  Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi

Qiila Huwa Adam – Kajian Maulid Diba dan Terjemahnya (04)

KalamUlama.com - Maulid Dibai  #02: "Qiila Huwa Adam" اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad)   قِيْلَ هُوَ أَدَمُ، قَالَ...
Sholawat Maulid Ad-Dibai  #03: "Alhamdulillahil Qowiyyil Gholib"   بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang اَلْحَمْدُ ِللهِ الْقَوِيِّ الْغَالِبْ. اَلْوَلِيِّ الطَّالِبِ. اَلبَّاعِثِ الْوَارِثِ الْمَانِحِ السَّالِبِ. عَالِمِ الْكَائِنِ وَالْبَائِنِ وَالزَّائِلِ وَالذَّاهِبِ. يُسَبِّحُهُ اْلأفِلُ وَالْمَائِلُ وَالطَّالِعُ وَالْغَارِبُ. وَيُوَحِّدُهُ النَّاطِقُ وَالصَّامِتُ وَالْجَامِدُ وَالذَّائِبُ. يَضْرِبُ بِعَدْلِهِ السَّاكِنُ وَيَسْكُنُ بِفَضْلِهِ الضَّارِبُ. (لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ). حَكِيْمٌ أَظْهَرَ بَدِيْعَ حِكَمِهِ وَالْعَجَائِبْ. فِيْ تَرْتِيْبِ تَرْكِيْبِ هَذِهِ الْقَوَالِبِ. خَلَقَ مُخًّا وَعَظْمًا وَعَضُدًا وَعُرُوْقًا وَلَحْمًا وَجِلْدًا وَشَعْرًا بِنَظْمٍ مُؤْتَلِفٍ مُتَرَاكِبْ. مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصًُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ. (لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ). كَرِيْمٌ بَسَطَ لِخَلْقِهِ بِسَاطَ كَرَمِهِ وَالْمَوَاهِبْ. . يَنْزِلُ فِيْ كُلِّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا وَيُنَادِيْ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ هَلْ مِنْ تَائِبْ. هَلْ مِنْ طَالِبِ حَاجَةٍ فَأُنِيْلُهُ الْمَطَالِبَ. فَلَوْ رَأَيْتَ الْخُدَّامَ قِيَامًا عَلَى اْلأَقْدَامِ وَقَدْ جَادُوْا بِالدُّمُوْعِ السَّوَاكِبْ. وَالْقَوْمَ بَيْنَ نَادِمٍ وَتَائِبْ. وَخَائِفٍ لِنَفْسِهِ يُعَاتِبْ. وَأبِقٍ مِنَ الذُّنُوْبِ إِلَيْهِ هَارِبْ. فَلاَ يَزَالُوْنَ فِي اْلإِسْتِغْفَارِ حَتَّى يَكُفَّ كَفُّ النَّهَارِ ذُيُوْلَ الْغَيَاهِبِ. . فَيَعُوْدُوْنَ وَقَدْ فَازُوْا بِالْمَطْلُوْبِ وَأَدْرَكُوْا رِضَا الْمَحْبُوْبِ وَلَمْ يَعُدْ أَحَدٌ مِنَ الْقَوْمِ وَهُوَ خَائِبْ. ( لاَ إِلهَ إِلاَّ ألله). فَسُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ مَلِكٍ أَوْجَدَ نُوْرَ نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ نُوْرِهِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ أدَمَ مِنَ الطَّيْنِ اللاَّزِبِ. وَعَرَضَ فَخْرَهُ عَلَى الْأَشْيَاءِ وَقَالَ هَذَا سَيِّدُ الْأَنْبِيَاءِ وَأَجَلُّ الْأَصْفِيَاءِ وَأَكْرَمُ الْحَبَآئِبِ.  Alhamdulillâhil qowiyyil ghôlib. Al-Wâliyyith-thôlib. Al-Bâ’itsil wâritsil mânihis-sâlib. ‘Âlimil kâ-ini wal bâ-ini waz-zâ-ili wadz-dzâhib. Yusabbihuhul ãfilu wal mã-ilu Wath-thôli’u wal ghôribu. Wa yuwahhiduhun-nâthiqu wash-shômitu Wal jâmidu wadz-dzã-ibu. Yadlribu bi’adlihis-sâkin. Wa yaskunu bifadl-lihidl-dlôribu. LÂ ILÂHA ILLÂ ALLOH. Hakîmun adh-haro badî’a hikamihi wal ‘ajã-ib. Fî tartîbi tarkîbi hâdzihil qowâlib. Kholaqo mukhkhon wa ‘adhman wa ‘adludan wa ‘uruqon wa lahman wa jildan wa sya’ron binadlmin mutalifin mutarôkibin. Min mã-in dâfiqin yakhruju min bainish-shulbi wat-tarõ-ib. LÂ ILÂHA ILLÂ ALLOH. Karîmun basatho likholqihi bisâtho karomihi wal mawâhib. Yanzilu fî kulli lailatin ilâ samã-id-dunyâ wa yunâdî hal min mustaghfirin hal min tã-ibin. Hal min thôlibi hâjatin fa-unîluhul mathôlib. Falau ro-aytal khuddâma qiyâman ‘alâl aqdâmi wa qod jâdû biddumû’is-sawâkib. Wal qowma baina nâdimin wa tã-ibin. Wa khõ-ifin linafsihî yu’âtibu. Wa ãbiqin minadz-dzunûbi ilaihi hârib. Falâ yazâlûna fîl istighfâri hattâ yakuffa kaffun-nahâri dzuyûlal ghoyâhib. Faya’ûdûna wa qod fâzû bil mathlûbi Wa adrokû ridlôl mahbûbi wa lam ya’ud ahadun minal qoumi wa huwa khô-ib. LÂ ILÂHA ILLÂ ALLOH. Fasubhânahu wa ta’âlâ min malikin awjada nûro nabiyyihî Muhammadin Shollâllâhu ‘alaihi wa sallama min nûrihi qobla an yakhluqo Âdama minath-thînil-lâzib. Wa ‘arodlo fakhruhu ‘alâl asy-yã-i wa qôla hâdzâ sayyidul anbiyã-i wa ajallul ashfiyã-i wa akromul habã-ib.  Segala puji bagi Alloh, Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa (di atas segala-galanya). Maha pelindung lagi Penuntut segala dosa. Maha membangkitkan di hari kiamat, Maha Kekal, Maha Penganugerah, lagi Maha pelenyap sengsara. Maha Mengetahui segala keadaan: yang nyata, yang musnah, dan yang binasa. Bertasbih kepada-Nya (semua) yang tenggelam, yang condong. Yang terbit dan yang terbenam. Semua makhluk yang berbicara dan yang diam, Mengesakan Alloh, demikian juga yang padat dan yang cair. Dengan keadilan-Nya, yang diam bisa bergerak, dan dengan keutamaan Nya, yang bergerak menjadi diam. Tiada Tuhan selain Alloh. Yang Maha Bijaksana, yang menciptakan keindahan hikmah-Nya dan berbagai keajaiban. Dalam pengaturan susunan perwujudan manusia ini. Diciptakan oleh-Nya, otak, tulang, bahu, urat pembuluh darah, daging, kulit, dan rambut dengan susunan teratur rapi. Dari sperma yang terpancar dari tulang rusuk laki-laki dan tulang dada perempuan. Tuhan selain Alloh. Pemurah kepada makhluk-Nya dengan hamparan karunia dan anugerah-Nya. Setiap malam rahmat Alloh turun ke langit dunia, dan memanggil: Adakah malam ini orang yang mohon ampun serta adakah orang yang bertaubat? orang yang memohon akan hajatnya maka aku akan kabulkan hajatnya. Seandainya telah engkau lihat hamba-hamba mengabdi kepada Alloh, berdiri tegak diatas telapak-telapak kakinya dengan cucuran air mata, diantara segolongan kaum ada yang menyesali dosa-dosanya dan bertaubat. Ada orang-orang yang khawatir berbuat dosa lagi dan mencerca kepada dirinya sendiri, ada orang yang lari menghindar dari perbuatan-perbuatan dosa menuju perlindungan Alloh. tidak ada henti-hentinya mereka mohon ampunan, Sehingga berhari-hari lamanya meratapi rentetan kealpaannya. Kemudian mereka kembali menekuni ibadah, dan mereka benar-benar beruntung dengan apa yang dicari, dan menemui keridhoan Alloh yang dicintai dan tiada seorangpun dari suatu kaum yang kembali dengan tangan hampa. Tuhan selain Alloh. Maha suci Alloh dan Maha luhur yang telah menciptakan nur Muhammad Shollallohul ’alayhi wasallam, dari nur-Nya sebelum menciptakan Adam dari tanah liat. Alloh memperlihatkan keagungan nur Muhammad kepada penghuni surga seraya berfirman: “Inilah pemimpin para Nabi dan paling agung diantara orang-orang pilihan serta lebih mulia diantara para kekasih Alloh.” اللهم صل وسلم وبارك عليه Allâhumma sholli wa sallim wa bârik ‘alaih (Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya Nabi Muhammad)   Baca Juga Sebelumnya Kajian Maulid Diba' #02: "Inna Fatahna"  ======================================= Keterangan Tambahan: Dosa-dosa yang merupakan pangkal musibah dapat terhapuskan dengan pengampunan Allah SWT dan amal-amal pahala kita, Allah SWT telah menurunkan firman untuk seorang pemuda yang pendosa, sebagaimana riwayat Shohih al-Bukhori bahwa pemuda ini datang kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dan ia berkata: “Wahai Rosululloh, aku telah berbuat dosa yang begitu banyak dan aku ingin mendapatkan hukuman”, maka Rasulullah SAW diam tidak menjawab, namun Allah SWT menjawab dengan firman-Nya: إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ “Sesungguhnya perbuatan yang baik (pahala) itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk (dosa). Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat (selalu berdzikir)”.( QS. Hud: 114 ) Dzikir menghapus dosa-dosa dan musibah. Allah SWT berfirman : اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi”. ( QS. An Nuur ) Allah menerangi bumi dengan cahaya dzohir dan cahaya bathin. Dan Allah memberikan cahaya-Nya kepada yang dikehendaki-Nya, sebagaimana firman-Nya: يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ  ”Alloh membimbing kepada cahaya-Nya (untuk) siapa yang Dia kehendaki”. (QS. An Nuur: 35 ) Allah memberikan petunjuk dengan cahaya-Nya kepada siapa-siapa yang dikehendaki-Nya. Dan makna cahaya dalam firman Alloh di suroh An Nuur: نُوْرٌ عَلَى نُوْرٍ ” Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis) “. ( QS. An Nuur: 35 ) Adalah sayyidina Muhammad SAW, karena “Allah memberikan hidayah (petunjuk) dengan cahaya-Nya”, bukan dengan cahaya matahari, tetapi dengan cahaya tuntunan sayyidina Muhammad SAW. Oleh sebab itu, ketika seseorang mencintai dan mengikuti tuntunan sayyidina Muhammad SAW, maka tersingkaplah seluruh tabir cahaya yang menjadi penghalang antara makhluk dan sang kholiq (pencipta), sehingga manusia bisa memandang keindahan Allah, karena mereka mengikuti cahaya ciptaan Allah yang termulia, yakni sayyidina Muhammad SAW. Tidak satupun makhluk yang bisa sampai kepada cinta Allah dan memandang keindahan Allah kecuali dengan mengikuti sayyidina Muhammad, Beliaulah cahaya Allah di dunia dan akhirat. Nabi (SAW) pernah berdo’a meminta cahaya, padahal sang nabi adalah cahaya Allah yang termulia, beliau SAW berdoa:  اَللّهُمَّ اجْعَلْ فِيْ قَلْبِيْ نُوْرًا ” Ya Alloh jadikanlah di hatiku cahaya “ Kita juga berdo’a, semoga hati kita diterangi cahaya Allah SWT, aamiin. Tahukah kita betapa indahnya jika hati diterangi oleh cahaya Alloh? Hati akan tenang dan sejuk, hati akan terus rindu kepada Alloh, yang dengan itu ia juga dirindukan Allah SWT. Dijelaskan oleh As-Syaikh Abu al-Hasan Asy-Syadzili yang dinukil oleh Hujjatul Islam al-Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi, dan juga oleh al-Imam Ibn ‘Athoillah, dan para imam yang lainnya, beliau mengatakan : “Jika cahaya tauhid ”Laa ilaaha illalloh” yang ada di hati seorang muslim pendosa disingkap dan diperlihatkan kepada alam, niscaya langit dan bumi ini akan runtuh dari dahsyatnya cahaya Allah SWT yang ada di hati seorang muslim dari ummat Muhammad SAW” Namun cahaya itu tertutup dengan tabir yang dikehendaki Allah sehingga tidak terlihat, karena orang yang tidak menyembah selain Allah maka cahaya Allah ada di dalam hatinya, walaupun terpendam dengan pendaman dosa ia akan tetap sampai kepada surga yang kekal. Oleh sebab itu ketika Rasulullah SAW bertanya kepada Jibril As, yang dijelaskan di dalam tafsir al-Imam Qurthubi, beliau bertanya: “wahai Jibril, bagaimana pahala orang yang bersujud dan mengucapkan ”subhana robbii al-a’laa wabihamdih” satu kali?”, maka Jibril As berkata: “pahalanya lebih berat dari sebuah gunung, lebih berat dari al kursi, lebih berat dari ‘arsy”, kemudian Allah berfirman: “sungguh telah benar hamba-Ku, Aku mengungguli segala sesuatu”. Nama Allah jika disebut maka pahalanya jauh lebih berat dari ‘arsy, kursi, dan seluruh alam semesta. Demikian keadaan hamba yang bersujud. Jika Allah singkapkan cahaya tauhid yang ada dalam diri seorang muslim, cahaya sumpah setia yang mengakui tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah yang ada di hati seorang muslim walaupun ia pendosa, niscaya langit dan bumi akan runtuh tidak mampu menampung dahsyatnya cahaya kewibawaan dan keagungan Allah yang ada di hati seorang muslim. Maka al-Imam Abu Hasan Asy-Syadzili berkata: “jika hal seperti ini untuk orang-orang yang berdosa kepada Allah, maka bagaimana dengan orang yang sholih dan beriman serta banyak beribadah kepada Allah jika cahaya-Nya diperlihatkan kepada alam semesta”. Semoga Allah menerangi sanubari kita dengan cahaya, cahaya kemudahan, cahaya kebahagiaan, cahaya keluhuran, cahaya keberkahan, cahaya kemuliaan, cahaya kesucian, cahaya seluruh keindahan, serta cahaya Alloh yang memenuhi seluruh kenikmatan dan maha menjauhkan dari segala kesulitan. Rosululloh berdo’a:  وَفِيْ بَصَرِيْ نُوْرًا وَفِيْ سَمْعِيْ نُوْرًا وَعَنْ يَمِيْنِيْ نُوْرًا وَعَنْ يَسَارِيْ نُوْرًا وَفَوْقِيْ نُوْرًا وَتَحْتِيْ نُوْرًا وَأَمَامِيْ نُوْرًا وَخَلْفِيْ نُوْرًا وَاجْعَلْنِيْ نُوْرًا  “(Ya Alloh jadikanlah) cahaya di penglihatanku, cahaya di pendengaranku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya dari atasku, cahaya dari bawahku, cahaya dari depanku, cahaya dari belakangku, dan jadikanlah aku sebagai cahaya” Hal ini menunjukkan indahnya doa sayyidina Muhammad SAW, yang diriwayatkan oleh sayyidina Abdulloh bin Abbas Ra ketika ia menginap di rumah Rasulullah SAW, disaat sholat tahajjud Rasulullah SAW bangun dan ia pun ikut bangun dan berwudhu kemudian sholat, selesai sholat witir Rasulullah SAW berbaring lalu bangun dan membaca doa ini, meminta cahaya kepada Allah untuk panca inderanya, dan dalam riwayat yang lain Rasulullah juga berdoa :  وَفِيْ لَحْمِيْ نُوْرًا وَفِيْ دَمِيْ نُوْرًا وَفِيْ شَعْرِيْ نُوْرًا وَفِيْ بَشَرِيْ نُوْرًا  “Ya Alloh jadikanlah cahaya dalam dagingku, cahaya dalam darahku, cahaya di rambutku, cahaya di kulitku" Beliau meminta cahaya kepada sang pemilik cahaya, padahal beliau telah terang benderang dengan cahaya Ilahi, dan mereka yang membaca doa ini tentu hatinya akan bercahaya, jiwanya akan bercahaya, siang dan malamnya bercahaya dengan kemudahan, dengan ketenangan dan keindahan Allah, jika seseorang telah bercahaya dengan keindahan Allah maka apalah artinya keindahan dunia akhirat, semuanya akan tunduk dan berlimpah kepadanya, karena ia telah bercahaya dengan cahaya keindahan Ilahi. Allah tidak memperdengarkan hadits dan doa ini kepada kita kecuali Allah telah menyiapkan dan menganugerahkan cahaya kemuliaan doa sayyidina Muhammad SAW kepada kita semua. Wallahu a’lam. Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi Narasumber: Al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa pada Jalsatul Itsnain Majelis Rasulullah SAW, Senin 3 Mei 2010. baca juga tulisan Selanjutnya Kajian Maulid Diba' #04: "Qiila Huwa Adam"

Alhamdulillahil Qowiyyil Gholib – Kajian Maulid Diba (3)

KalamUlama.com -  Maulid Dibai  #03: Alhamdulillahil Qowiyyil Gholib   بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang اَلْحَمْدُ ِللهِ الْقَوِيِّ الْغَالِبْ. اَلْوَلِيِّ الطَّالِبِ. اَلبَّاعِثِ الْوَارِثِ الْمَانِحِ السَّالِبِ. عَالِمِ...
  Kajian Maulid Diba' (Kalam Ulama) #01: Mengenal Pengarang Kitab Ad-Dibai Oleh : Ahmad Ulul Azmi Satu karya maulid yang masyhur dalam Islam adalah maulid yang dikarang oleh seorang ulama besar dan ahli hadits, yaitu Imam Wajihuddin ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali bin Yusuf bin Ahmad bin ‘Umar ad-Diba`ie asy-Syaibani al-Yamani az-Zabidi asy-Syafi`i. Beliau dilahirkan pada 4 Muharram 866 H dan wafat pada hari Jumat 12 Rajab tahun 944H. Pada masanya, beliau adalah seorang ulama hadits yang terkenal dan tiada bandingannya. Beliau mengajar kitab Shohih Imam al-Bukhari lebih dari 100 kali khatam. Beliau mencapai darjat Hafidz dalam ilmu hadits yaitu seorang yang menghafal 100,000 hadits dengan sanadnya. Setiap hari beliau mengajar hadits dari masjid ke masjid. Guru-guru beliau di antaranya adalah Imam al-Hafidz as-Sakhawi, Imam Ibnu Ziyad, Imam Jamaluddin Muhammad bin Ismail, mufti Zabid, Imam al-Hafiz Tahir bin Husain al-Ahdal dan banyak lagi. Selain itu, beliau juga merupakan seorang muarrikh (yakni ahli sejarah). Adapun kitab karangannya  adalah sebagai berikut: “Taisirul Wusul ila Jaami`il Usul min Haditsir Rasul” yang mengandung himpunan hadits yang dinukil dari pada kitab hadits yang 6. “Tamyeezu at-Thoyyib min al-Khabith mimma yaduru ‘ala alsinatin naasi minal hadits” sebuah kitab yang membedakan hadits sohih dengan yang lainnya seperti dhoif dan maudhu. “Qurratul ‘Uyun fi akhbaril Yaman al-Maimun” “Bughyatul Mustafid fi akhbar madinat Zabid”. “Fadhail Ahl al-Yaman”.  Wallahua'lam

Kitab Maulid Diba dan Terjemahannya #01: Mengenal Pengarang Kitab Ad-Dibai

Kitab Maulid Diba dan Terjemahannya (Kalam Ulama) #01: Mengenal Pengarang Kitab Ad-Dibai Oleh : Ahmad Ulul Azmi Satu karya maulid yang masyhur dalam Islam adalah...