Home Kajian Islam Kajian Al-Hikam

Kajian Al-Hikam

Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 12: Pentingnya Tafakur dan Dzikir "Tidak ada sesuatu yang sangat bermanfaat bagi hati sebagaimana (manfaatnya) melakukan 'uzlah (menyendiri) yang digunakan sebagai sarana medan berfikir (menyaksikan kebesaran Allah)." مانفعَ القَلبَ شَيءٌ مثلُ عُزْلةٍ يَدْخُلُ بها ميدان فِكرةٍ Maqalah diatas mengingatkan kita bahwa tidak ada sesuatu yang bermanfaat bagi hati kecuali berdzikir (mengingat) dan bertafakkur kpd Allah. Dalam diri manusia ada empat aspek yang harus dirawat yaitu jasmani (fisik), nafs (jiwa), akal dan hati. Jasmani harus dijaga keseimbangannya melalui makan dan minum krn jasmani sbg wadah bagi nafs (jiwa), akal dan hati. Nafs (jiwa) harus dijaga dari mengikuti keinginan hawa nafsu dg melakukan riyadhah mujahadah, akal digunakan untuk berfikir tentang ciptaan Allah dan hati sebagai baitullah harus digunakan mengingat Allah dan dijaga dari kotoran dan sampah duniawi. Jika empat aspek dirawat dan dijaga maka akan terjadi keseimbangan lahir dan batin. (Baca juga : Kajian al-Hikam (11) : Pribadi Berkualitas) Sebaliknya, jika yg rawat hanya jasmani maka jasmaninya bagus, namun kering batiniyahnya. Jika nafs(jiwa) tidak dijaga maka akan mudah dikuasai dan diperdaya oleh hawa nafsu. Jika akal tidak digunakan utk berfikir tentang kebesaran Allah maka tidak akan mengenal Allah. Jika hati tidak digunakan mengingat Allah niscaya hati akan gelap gulita dan akan dipenuhi kotoran dan sampah duniawi. Karena itu, tidak ada yang memberi manfaat kepada hati kecuali dengan mengingat Allah yang disertai dengan tafakkur yaitu merenung, menghayati dan menyaksikan kebesaran Allah yang nyata dalam perwujudan makhluknya. Dengan demikian, jika kita dapat menjaga empat aspek maka hidup kita akan memperoleh ketenangan jiwa krn terbebas dari belenggu hawa nafsu, akal akan selalu connecting menyaksikan ciptaan Allah, hati akan merasakan ketentraman dan kedamaian karena selalu ingat Allah. Semoga Allah senantiasa membimbing dan menyempurnakan lahiriyah dan batiniyah kita. al-Rabbani, 21/4/17

Kajian Al-Hikam (12) : Pentingnya Tafakur dan Dzikir

Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 12: Pentingnya Tafakur dan Dzikir "Tidak ada sesuatu yang sangat bermanfaat bagi hati sebagaimana (manfaatnya) melakukan 'uzlah (menyendiri) yang...
Kajian al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam (9) : Amal dan Buahnya. "Beragamnya jenis amal-amal (yang dilakukan oleh para salik) itu disebabkan turunnya beragam warid (anugerah ilahiyah) pada ahwal-ahwal (kondisi pengalaman spiritualitas para salik)." تَـنَوَّعَتْ أَجْنَاسُ اْلأَعْمَالِ لِـتَـنَوُّعِ وَارِدَاتِ اْلأَحْوَالِ Maqalah diatas menjelaskan bahwa tiap amal yang dilakukan oleh para salik memiliki warid yaitu anugerah ilahiyah yang dirasakan sehingga para salik akan merasakan pengalaman ruhani secara nyata. (Baca juga: Kajian Al-Hikam (8) : Terbukanya Pintu Mengenal Allah) Jadi semua amalan-amalan yang dilakukan oleh para salik seperti dzikir dan riyadhah mujahadah pasti memiliki efek positif secara ruhani yang akan dirasakan oleh para pengamalnya, sehingga menjadi pengalaman ruhani yg nyata dirasakan oleh para salik. Namun demikian, dalam mengamalkan semua amalan niatnya harus semata2 karena Allah dan dilakukan secara istiqomah. Dengan demikian, para salik akan merasakan pengalaman spiritual yaitu warid ilahiyah sebagai buah atas keistiqomahan dan keikhlasan dalam amaliahnya. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam berjalan menuju perjumpaan-Nya. Oleh : Dr. KH. Ali M Abdillah, MA

Kajian al-Hikam (9) : Amal dan Buahnya

Kajian al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam (9) : Amal dan Buahnya. "Beragamnya jenis amal-amal (yang dilakukan oleh para salik) itu disebabkan turunnya beragam warid (anugerah ilahiyah)...
Kajian Al Hikam (Kalam Ulama). Butanya Mata Hati اِجْتِهَادُكَ فِيمَا ضُمِنَ لَكَ، وَ تـَقْصِيْرُكَ فِيمَا طُلِبَ مِنْكَ، دَ لِيلٌ عَلَى انـــْطِمَاسِ الْــبَصِيْرةِ مِنْكَ "Kesungguhanmu dalam meraih sesuatu yang telah dijamin oleh Allah bagimu, dan kelalaianmu dalam menjalankan sesuatu yang dituntut oleh Allah kepadamu merupakan bukti butanya mata hatimu." (Baca Juga Kajian Al Hikam (1) : Bersandarlah pada Allah) Maqalah di atas menjelaskan bahwa ciri2 orang yang buta mata hatinya (bashiratul qalbi) yaitu: Pertama, menyakini bahwa Allah tidak menanggung rizki hambanya sehingga dia melakukan upaya dan kerja keras seolah2 dia memiliki kemampuan utk menentukan rizkinya. Padahal Allah sudah menjamin rizki semua makhluk hidup di alam semesta. Kedua, mengabaikan tuntutan melaksanakan ibadah kepada Allah seolah2 dirinya merasa tidak ada tanggung jawab dalam melaksanakan ibadah. Itulah tanda-tanda orang yang dibutakan mata hatinya. Na'udzubillah min dzalik. Pengabulan Doa لاَ يَــكُنْ تَــأَخُّرُ أَ مَدِ الْعَطَاءِ مَعَ اْلإِلْـحَـاحِ فيِ الدُّعَاءِ مُوْجِـبَاً لِـيَأْسِكَ؛ فَـهُـوَ ضَمِنَ لَـكَ اْلإِجَـابَـةَ فِيمَا يَـخْتَارُهُ لَـكَ لاَ فِيمَا تَـختَارُ لِـنَفْسِكَ؛ وَفيِ الْـوَقْتِ الَّـذِيْ يُرِ يـْدُ لاَ فيِ الْـوَقْتِ الَّذِي تُرِ يدُ "Jangan karena keterlambatan datangnya pemberian kepadamu saat dirimu telah bersungguh-sungguh dalam berdoa menyebabkan dirimu putus asa. Sebab Allah telah menjamin pengabulan doa (yg dipanjatkan) sesuai dengan pilihan Allah kepadamu, bukan sesuai dengan pilihanmu untuk dirimu, dan pada waktu yang Dia kehendaki bukan waktu yang kamu kehendaki." Maqalah di atas memberikan penegasan bahwa Allah pasti mengabulkan doa-doa hambanya, namun pengabulan doa tersebut ada dua catatan: Pertama, pengabulan doa sesuai dengan pilihan dan kehendak Allah bukan sesuai pilihan dan keinginan kehendakmu. Kedua, soal waktu pengabulan doa yaitu sesuai dengan waktu yang dikehendaki oleh Allah bukan waktu yg sesuai dengan kehendakmu. Karena itu, jangan putua asa ketika doamu belum dikabulkan oleh Allah sesuai keinginanmu karena sesungguhnya Allah lebih tahu waktu yg tepat pengabulan doa bagimu. Oleh : Dr. KH. Ali Abdillah, MA (al-Rabbani Islamic College)

Kajian Al Hikam (5-6) : Butanya Mata Hati dan Pengabulan Doa

Kajian Al Hikam (Kalam Ulama). Butanya Mata Hati اِجْتِهَادُكَ فِيمَا ضُمِنَ لَكَ، وَ تـَقْصِيْرُكَ فِيمَا طُلِبَ مِنْكَ، دَ لِيلٌ عَلَى انـــْطِمَاسِ الْــبَصِيْرةِ مِنْكَ "Kesungguhanmu dalam meraih sesuatu yang...
Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 13 : Belenggu Menuju Allah "Bagaimana hati akan bercahaya sementara warna-warni duniawi masih melekat dlm cermin hatinya ? Bagaimana melangkah menuju Allah, sementara nafsu syahwat masih membelenggu dirinya ? Bagaimana akan menjumpai Allah, sementara sifat lalai (gaflah) belum bersih dari dirinya. Bagaimana berharap ingin mengerti rahasia yang halus dan tersembunyi, sementara belum bertaubat dari kekeliruannya." كيف يُشْرقُ قلبٌ صُوَرُالاَكوَانِ مُنطبِعَة ٌ فى مِرْاَته ؟ ام كيفَ يرحلُ الى الله وهو مُكبَّلٌ بِشهواتِهِ ؟ ام كيفَ يَطمعُ ان يَدْخُلَ حَضرَةَ اللهِ وهو لم يتطهَّرْ من جنابةِ غفلاتهِ ؟ ام كيفَ يرجُواَنْ يَفهَمَ د قاءـقَ الاسراَرِ وهُوَ لمْ يَتـُبْ من هفَوَاتِهِ؟ Selama empat hal masih membelenggu salik maka akan menjadi hijab untuk menuju Allah. 1. Hati harus bersih dari kecintaan duniawi 2. Jiwa harus terlepas dari belenggu nafsu syahwat 3. Selalu ingat Allah supaya hati tdk lalai Allah. 4. Menghindari kesalahan dan dosa supaya tersingkap rahasia2 batiniyah. Semoga Allah menjaga diri kita dari empat hal yang dapat menjadi tirai menuju Allah. (Baca juga: Kajian Al-Hikam (12) : Pentingnya Tafakur dan Dzikir) oleh : Dr KH Ali M Abdillah, MA al-Rabbani, 24/4/17

Kajian al-Hikam (13) : Belenggu Menuju Allah

Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 13 : Belenggu Menuju Allah "Bagaimana hati akan bercahaya sementara warna-warni duniawi masih melekat dlm cermin hatinya ? Bagaimana...
Kajian Islam Al Hikam : Syahwat dan Himmah “TAJRID dan KASAB” إِرَ ادَ تُــكَ الـتَّجْرِ يْدَ مَـعَ إِقَامَـةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ اْلأَسْبَابِ مِنَ الشَّـهْـوَ ةِ الْخَفِـيـَّةِ. وَ إِرَادَ تُـكَ اْلأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ الـتَّجْرِ يْدِ اِنحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَـلِـيـَّةِ "Keinginanmu untuk tajrid, sementara Allah masih menegakkan engkau di dalam asbab, merupakan syahwah yang tersamar (halus). Dan keinginanmu kepada asbab, pada saat Allah sudah menegakkan engkau dalam tajrid, merupakan suatu kejatuhan dari himmah yang tinggi." Hikam (Baca juga kajian islam : Kajian Al Hikam (1) : Bersandarlah pada Allah) Syarah Al-Hikam Dalam pasal ini, Ibnu Atha’illah menggunakan beberapa istilah baku dalam khazanah sufi, yang harus dipahami terlebih dahulu agar mendapatkan pemahaman yang utuh. Istilah-istilah itu adalah: tajrid, asbab, syahwat dan himmah. Tajrid secara bahasa memiliki arti: penanggalan, pelepasan, atau pemurnian. Secara maknawi adalah penanggalan aspek-aspek dunia dari jiwa (nafs), atau secara singkat bisa dikatakan sebagai pemurnian jiwa. Asbab secara bahasa memiliki arti: sebab-sebab atau sebab-akibat. Secara maknawi adalah status jiwa (nafs) yang sedang Allah tempatkan dalam dunia sebab akibat. Semisal Iskandar Zulkarnain yang Allah tempatkan sebagai raja di dunia, mengurusi dunia sebab-akibat. Syahwah (atau syahwat) secara bahasa memiliki arti: tatapan yang kuat, atau keinginan. Secara maknawi merupakan keinginan kepada bentuk-bentuk material dan duniawi, seperti harta, makanan dan lawan jenis. Berbeda dari syahwat, hawa-nafsu (disingkat “nafsu”) adalah keinginan kepada bentuk-bentuk non-material, seperti ego, kesombongan, dan harga diri. Himmah merupakan lawan kata dari syahwat, yang juga memiliki arti keinginan. Namun bila syahwat merupakan keinginan yang rendah, maka himmah adalah keinginan yang tinggi, keinginan menuju Allah. Adakalanya Allah menempatkan seseorang dalam dunia asbab dalam kurun tertentu—misalnya, untuk mencari nafkah, mengurus keluarga, atau memimpin negara. Bila seseorang sedang Allah tempatkan dalam kondisi asbab itu, namun dia berkeinginan untuk tajrid (misalkan dengan ber-uzlah), maka itu dikatakan sebagai syahwat yang samar. Sebaliknya, saat Allah menempatkan seseorang dalam tajrid, namun dia justru menginginkan asbab, maka itu merupakan sebuah kejatuhan dari keinginan yang tinggi. Inilah pentingnya untuk berserah diri dalam bersuluk, agar mengetahui kapan seseorang harus tajrid dan kapan seseorang harus terjun dalam dunia asbab. Semua kehendak seorang salik haruslah bekesesuaian dengan Kehendak Allah. Sebagai seorang yang beriman, haruslah berusaha menyempurnakan imannya dengan berfikir tentang ayat-ayat Alloh, dan beribadah dan harus tahu bahwa tujuan hidup itu hanya untuk beribadah(menghamba) kepada Alloh,sesuai tuntunan Al-qur’an. Tetapi setelah ada semangat dalam ibadah, kadang ada yang berpendapat bahwa salah satu yang merepoti/mengganggu dalam ibadah yaitu bekerja(kasab). Lalu berkeinginan lepas dari kasab/usaha dan hanya ingin melulu beribadah. Keinginan yang seperti ini termasuk keinginan nafsu yang tersembunyi/samar. Sebab kewajiban seorang hamba, menyerah kepada apa yang dipilihkan oleh majikannya. Apa lagi kalau majikan itu adalah Alloh yang maha mengetahui tentang apa yang terbaik bagi hambanya. Dan tanda-tanda bahwa Alloh menempatkan dirimu dalam golongan orang yang harus berusaha [kasab], apabila terasa ringan bagimu, sehingga tidak menyebabkan lalai menjalankan suatu kewajiban dalam agamamu, juga menyebabkan engkau tidak tamak [rakus] terhadap milik orang lain. Dan tanda bahwa Allah mendudukkan dirimu dalam golongan hamba yang tidak berusaha [Tajrid]. Apabila Tuhan memudahkan bagimu kebutuhan hidup dari jalan yang tidak tersangka, kemudian jiwamu tetap tenang ketika terjadi kekurangan, karena tetap ingat dan bersandar kepada Tuhan, dan tidak berubah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban. Syeikh Ibnu ‘Atoillah berkata : “Aku datang kepada guruku Syeikh Abu Abbas al- mursy. Aku merasa, bahwa untuk sampai kepada Allah dan masuk dalam barisan para wali dengan sibuk pada ilmu lahiriah dan bergaul dengan sesama manusia (kasab) agak jauh dan tidak mungkin. tiba-tiba sebelum aku sempat bertanya, guru bercerita: Ada seorang ahli dibidang ilmu lahiriah, ketika ia dapat merasakan sedikit dalam perjalanan ini, ia datang kepadaku sambil berkata: Aku akan meninggalkan kebiasaanku untuk mengikuti perjalananmu. Aku menjawab: Bukan itu yang kamu harus lakukan, tetapi tetaplah dalam kedudukanmu, sedang apa yang akan diberikan Allah kepadamu pasti sampai kepadamu. Oleh : Dr. KH. Ali Abdillah, MA (al-Rabbani Islamic College)

Kajian Al Hikam (2) : Syahwat (Keinginan kepada Duniawi) dan Himmah (Keinginan menuju...

Kajian Islam Al Hikam : Syahwat dan Himmah “TAJRID dan KASAB” إِرَ ادَ تُــكَ الـتَّجْرِ يْدَ مَـعَ إِقَامَـةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ اْلأَسْبَابِ مِنَ الشَّـهْـوَ ةِ...
Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 28 : Jangan Terpesona Godaan dan Rintangan Menuju Allah "Cita-cita kuat seorang salik (pejalan menuju Allah) tidak akan berhenti saat memperoleh anugerah kasyaf (tersingkap mata batin) melainkan akan dipanggil oleh suara-suara kebenaran (hakikat) mengingatkan bahwa yang kamu cari sudah menanti di depanmu. (Selain itu), juga tidak akan terpesona menyaksikan keindahan wujud lahiriyah alam semesta melainkan dirimu akan disadarkan oleh aspek hakikatnya. (Karena) sesungguhnya kami (pengalaman kasyaf dan keindahan lahiriyah) semata-mata sebagai ujian, maka jangan tertipu (kufur)." مااَرادتْ هِمّـَة ُ سالكٍ ان تقِفَ عِندَما كُشِفَ لهاَ الاَّونادَتـْهُ هَوَاتِفُ الحقيقَةِ الَّذى تطْلُبُهُ امامكَ وَلاَ تبَرَّجَتْ ظَواهِرُالمكوّناتِ الاَّ ونادتكَ حقاَءـقهاَ انَّما نحنُ فِتنةٌ فلا تـكفـُرْ Maqalah diatas menjelaskan bahwa cita-cita besar seorang salik (pejalan ruhani) yaitu liqa'u-Llah (perjumpaan Allah). Karena itu, jangan terpesona dengan godaan dan rintangan dalam perjalanan menuju Allah. Ada dua godaan yang sering menghentikan perjalanan salik.  (Baca juga : Kajian Al-Hikam 27 : Jangan Menuntut Allah) Pertama, yaitu saat memperoleh kasyaf yaitu terbukanya mata batin dan merasakan pengalaman spiritual di alam metafisik seperti bisa masuk di dunia jin, melihat surga dan neraka. Pengalaman ruhaniah yang demikian sangat menggoda para salik, jika salik terpesona dengan pengalaman tersebut maka perjalanannya akan terhenti pada station/tahap tersebut sehingga tidak akan sampai pada tahap yang lebih indah yaitu ma'rifatullah/liqa'ullah. Kedua, yaitu terpesona dengan aspek lahiriyah keindahan alam semesta tanpa bisa melihat aspek hakikatnya. Artinya keindahan apapun di alam semesta harus dipandang dari sisi hakikatnya bahwa Allah sebagai pencipta keindahan alam semesta. Jangan sampai melihat keindahan alam semesta tapi tidak mampu mengembalikan kepada Allah, maka pandangan yang demikian termasuk terhijab karena tidak mampu memandang wujud al-Haqq. Karena itu, para salik sdh diingatkan oleh maqalah diatas jangan sampai terpesona dengan pengalaman ruhani (kasyaf) dan terpedaya melihat aspek lahiriyah alam semesta tanpa melihat aspek hakikatnya. Semoga Allah senantiasa membimbing perjalanan kita sehingga kita selamat dari dua godaan dan rintangan dalam menuju Allah. Oleh : Dr KH Ali M Abdillah, MA al-Rabbani, 5/5/2017

Kajian Al-Hikam 28 : Jangan Terpesona Godaan dan Rintangan Menuju Allah

Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 28 : Jangan Terpesona Godaan dan Rintangan Menuju Allah "Cita-cita kuat seorang salik (pejalan menuju Allah) tidak akan berhenti saat memperoleh...
Kajian Al Hikam : "Bersandarlah pada Allah Jangan pada amal” مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزَّ لــَـلِ "Di antara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya, adalah kurangnya ar-raja’ (rasa harap kepada rahmat Allah) di sisi alam yang fana." Hikam (baca juga : Rahasia Kekasih Allah ) Syarah Ar-raja adalah istilah khusus dalam terminologi agama, yang bermakna pengharapan kepada Allah Ta'ala. Pasal Al-Hikam yang pertama ini bukan ditujukan ketika seseorang berbuat salah, gagal atau melakukan dosa. Karena ar-rajalebih menyifati orang-orang yang mengharapkan kedekatan dengan Allah, untuk taqarrub. Kalimat "wujuudi zalal", artinya segala wujud yang akan hancur, alam fana. Menunjukkan seseorang yang hidup di dunia dan masih terikat oleh alam hawa nafsu dan alam syahwat. Itu semua adalah wujud al-zalal, wujud yang akan musnah. Seorang mukmin yang kuat tauhidnya, sekalipun masih hidup di dunia dan terikat pada semua wujud yang fana, namun harapannya semata kepada Allah Ta'ala. Seorang mukmin yang kuat tauhidnya, sekalipun masih hidup di dunia dan terikat pada semua wujud yang fana, namun harapannya semata kepada Allah Ta'ala Jika kita berharap akan rahmat-Nya, maka kita tidak akan menggantungkan harapan kepada amal-amal kita, baik itu besar atau pun kecil. Dan hal yang paling mahal dalam suluk adalah hati, yaitu apa yang dicarinya dalam hidup. Dunia ini akan menguji sejauh mana kualitas raja (harap) kita kepada Allah Ta’ala. Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah seseorang masuk surga dengan amalnya.” Ditanyakan, “Sekalipun engkau wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Sekalipun saya, hanya saja Allah telah memberikan rahmat kepadaku.” – H.R. Bukhari dan Muslim Orang yang melakukan amal ibadah itu pasti punya pengharapan kepada Alloh, meminta kepada Alloh supaya hasil pengharapannya, akan tetapi jangan sampai orang beramal itu bergantung pada amalnya, karena hakikatnya yang menggerakkan amal ibadah itu Alloh,. sehingga apabila terjadi kesalahan, seperti, terlanjur melakukan maksiat, atau meninggalkan ibadah rutinnya, ia merasa putus asa dan berkurang pengharapannya kepada Alloh. sehingga apabila berkurang pengharapan kepada rohmat Alloh, maka amalnyapuan akan berkurang dan akhirnya berhenti beramal. seharusnya dalam beramal itu semua dikehendaki dan dijalankan oleh Alloh. sedangkan dirikita hanya sebagai media berlakunya Qudrat Alloh. Kalimat: Laa ilaha illalloh. Tidak ada Tuhan, berarti tidak ada tempat bersandar, berlindung, berharap kecuali Alloh, tidak ada yang menghidupkan dan mematikan, tidak ada yang memberi dan menolak melainkan Alloh. Pada dasarnya syari’at menyuruh kita berusaha dan beramal. Sedang hakikat syari’at melarang kita menyandarkan diri pada amal dan usaha itu, supaya tetap bersandar pada karunia dan rahmat Alloh subhanahu wata’ala. Apabila kita dilarang menyekutukan Alloh dengan berhala, batu, kayu, pohon, kuburan, binatang dan manusia, maka janganlah menyekutukan Allah dengan kekuatan diri sendiri, seakan-akan merasa sudah cukup kuat dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah, tanpa rahmat, taufik, hidayat dan karunia Allah subhanahu wata’ala. Oleh : Dr. KH. Ali Abdillah, MA (al-Rabbani Islamic College)

Kajian Al Hikam (1) : Bersandarlah pada Allah

Kajian Al Hikam : "Bersandarlah pada Allah Jangan pada amal” مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزَّ لــَـلِ "Di antara tanda-tanda orang yang...
Kajian Al Hikam (Kalam Ulama). Ambisi tidak dapat Mempengaruhi Ketetapan Qadha dan Qadar Allah. سَـوَ ابِـقُ الْهِمَمِ لاَ تَخـْرِقُ أَسْوَارَ اْلأَقْدَارِ "Kekuatan himmah-himmah tidak akan mampu mengoyak tirai Taqdir." Maqalah di atas menjelaskan bahwa segala bentuk keinginan, ambisi dan cita-cita tidak dapat mempengaruhi ketetapan Qadha dan Qadar Allah. Karena itu, jadikan keinginan dan cita2 sebagai motivasi dalam menapaki perjalanan hidup dengan mengalir dalam kehendak Allah. Setiap orang diperbolehkn memiliki keinginan dan cita-cita namun hendaklah disandarkan kpd Allah. Karena apapun yang akan terjadi pada seseorang sesungguhnya itu yang terbaik menurut Allah. أَرِحْ نــَفْسَـكَ مِنَ الـتَّدْبِــيْرِ، فَمَا قَامَ بِـهِ غَيْرُ كَ عَـنْكَ لاَ تَـقُمْ بِـهِ لِنَفْسِكَ "Istirahatkan dirimu dari tadbiir (melakukan pengaturan-pengaturan). Maka selainmu yaitu Allah telah mengatur segala sesuatu untukmu, janganlah kamu (turut) mengurusi sesuatu untuk dirimu." Maqalah di atas menjelaskan bahwa Allah sebagai pengatur alam semesta (rabb al-'alamin) telah mengatur segala sesuatu di alam semesta, maka bagi hamba tidak usah terlalu ikut mengurusi sesuatu yg sudah diurusi oleh Allah, seperti jodoh, rizki, nasib, mati semua sdh diurus dan ditentukan oleh Allah. Karena itu, hilangkan tadbir yaitu perencanaan, keinginan dalam hidupmu yang seolah2 Allah belum mengaturnya, padahal Allah sudah mengatur secara detail. Tugas hamba hanya menjalankan usaha dan ikhtiar yg mengalir pada iradat Allah. Dengan demikian, apapun keputusan Allah yang terjadi pada dirimu niscaya batinmu akan legowo dan menerima dg ridha. Oleh : Dr. KH. Ali Abdillah, MA (al-Rabbani Islamic College)

Kajian Al Hikam (3-4) : Ambisi tidak dapat Mempengaruhi Ketetapan Qadha dan Qadar Allah

Kajian Al Hikam (Kalam Ulama). Ambisi tidak dapat Mempengaruhi Ketetapan Qadha dan Qadar Allah. سَـوَ ابِـقُ الْهِمَمِ لاَ تَخـْرِقُ أَسْوَارَ اْلأَقْدَارِ "Kekuatan himmah-himmah tidak akan mampu mengoyak tirai Taqdir." Maqalah...
Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 14: Antara Pandangan Gelap dan Cahaya "Semua benda material (di alam semesta) dalam kegelapan, adapun yang meneranginya yaitu (memandang wujud tersebut) sebagai kenyataan al-Haqq, maka barangsiapa melihat alam semesta tapi tidak melihat Allah di dalamnya atau didekatnya atau sebelumnya atau sesudahnya maka sesungguhnya ia telah disilaukan oleh wujud cahaya-cahaya dan terhijab oleh cahaya matahari ma'rifat sebab tebalnya hijab benda-benda di alam semesta ini." الكَونُ كلُّهُ ظُلمة ٌ واِنّمَا اَناَرَهُ ظُهُورُالحَقِّ فيه فمن رأى الكَوْنَ ولم يَشْهَدْهُ فيهِ اوعِندهُ اوقَبْله اوبَعْدهُ فقد اَعوزَهُ وجودُ الانوَرِ وحُجِبتْ عَنه شموس المعارفِ بِسُحُبِ الاثارِ Maqalah diatas menjelaskan bahwa alam semesta sebagai obyek dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, sisi materialisme yaitu memandang wujud alam semesta sbg wujud material belaka. Ini yg disebut sbg pandangan kegelapan krn tidak mampu melihat sisi ketuhanannya. (Baca juga: Kajian al-Hikam (13) : Belenggu Menuju Allah) Kedua, sisi ketuhanan yaitu memandang wujud alam semesta sebagai madhar dan tajalli al-Haqq (kenyataan al-Haqq). Wujud alam semesta sebagai makhluk (ciptaan Allah) berarti membuktikan adanya al-khaliq (pencipta). Dengan kata lain, bahwa alam semesta yang nyata ini dpt dipandang sebagai tajalli wujud al-Haqq. Jika mampu memandang yang demikian berarti telah mendapatkan anugerah cahaya kema'rifahan karena tersingkapnya tirai dalam memandang wujud alam. Berbeda dengan orang yang terhijab pandangannya dalam melihat wujud alam semesta yang nampak hanya benda material belaka. Kenapa demikian ? Karena pandangannya terhijabi oleh pandangan materialisme. Ibarat seekor semut menempel di gelas menanyakan dimana gelas. Pandangan yg demikian adalah pandangan kegelapan karena begitu tebal hijabnya. Semoga Allah senantiasa mencahayai hati kita dengan cahaya kema'rifahan dan cahaya syuhud musyahadah. oleh : Dr KH Ali M Abdillah al-Rabbani, 25/4/17

Kajian al-Hikam (14) : Antara Pandangan Gelap dan Cahaya

Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 14: Antara Pandangan Gelap dan Cahaya "Semua benda material (di alam semesta) dalam kegelapan, adapun yang meneranginya yaitu (memandang...
Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 29 : Aneka Tuntutan dalam Doa "Tuntutan doamu dari Allah sama halnya menuduh Allah, tuntutan doamu kepada Allah sama halnya menganggap Allah itu ghaib, tuntutanmu kepada selain Allah pertanda hilangnya rasa malumu kepada Allah, tuntutan permintaanmu dari selain Allah pertanda jauhnya dirimu dari Allah. طلبُكَ منهُ اِتـِّهامٌ لهُ وطلَبُكَ لهُ غيْبَة ٌمنكَ عنـْهُ وطلبكَ لغيرِهِ لقِلَّةِ حياءـكَ منهُ وطلَبُكَ من غيرهِ لِوُجُودِ بُعْدِكَ عَنْهُ Dalam maqalah di atas dijelaskan ada empat sikap tuntutan doa kepada Allah. Pertama, dalam doanya menuntut Allah dengan memaksa supaya semua keinginannya dikabulkan oleh Allah. Sikap yang demikian sama halnya menuduh Allah tidak tahu kebutuhan hamba-hamba-Nya padahal Allah yang mencukupi dan memberikan semua fasilitas hidupnya. (Baca Juga : Kajian Al-Hikam 28 : Jangan Terpesona Godaan dan Rintangan Menuju Allah) Kedua, dalam doanya bersikap menuntut kepada Allah seperti berdoa dengan suara keras dan menangis-menangis seolah-oleh Allah tidak memperdulikan hamba-Nya. Sikap ini sama halnya menganggap Allah itu ghaib (tidak ada) padahal Allah itu nyata. Ketiga, sikap dalam doanya meminta kepada selain Allah seperti meminta kepada makhluk yang dianggap sakti. Sikap ini sebagai pertanda hilangnya rasa malu kepada Allah, kenapa harus meminta kepada selain Allah, sementara Allah sebagai tempat meminta dan bermunajat. Keempat, sikap dalam doanya meminta dari selain Allah, seperti berdoa dan meminta yang didahului ritual-ritual supaya doanya dikabulkan. Sikap ini sebagai pertanda jauhnya hamba dari Allah, padahal Allah sangat dekat dengan hamba-Nya. oleh : Dr KH Ali M Abdillah, MA al-Rabbani, 15 Mei 2017

Kajian al-Hikam 29 : Aneka Tuntutan dalam Doa

Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 29 : Aneka Tuntutan dalam Doa "Tuntutan doamu dari Allah sama halnya menuduh Allah, tuntutan doamu kepada Allah sama halnya menganggap...