Home Kajian Islam Kajian Al-Hikam

Kajian Al-Hikam

Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 12: Pentingnya Tafakur dan Dzikir "Tidak ada sesuatu yang sangat bermanfaat bagi hati sebagaimana (manfaatnya) melakukan 'uzlah (menyendiri) yang digunakan sebagai sarana medan berfikir (menyaksikan kebesaran Allah)." مانفعَ القَلبَ شَيءٌ مثلُ عُزْلةٍ يَدْخُلُ بها ميدان فِكرةٍ Maqalah diatas mengingatkan kita bahwa tidak ada sesuatu yang bermanfaat bagi hati kecuali berdzikir (mengingat) dan bertafakkur kpd Allah. Dalam diri manusia ada empat aspek yang harus dirawat yaitu jasmani (fisik), nafs (jiwa), akal dan hati. Jasmani harus dijaga keseimbangannya melalui makan dan minum krn jasmani sbg wadah bagi nafs (jiwa), akal dan hati. Nafs (jiwa) harus dijaga dari mengikuti keinginan hawa nafsu dg melakukan riyadhah mujahadah, akal digunakan untuk berfikir tentang ciptaan Allah dan hati sebagai baitullah harus digunakan mengingat Allah dan dijaga dari kotoran dan sampah duniawi. Jika empat aspek dirawat dan dijaga maka akan terjadi keseimbangan lahir dan batin. (Baca juga : Kajian al-Hikam (11) : Pribadi Berkualitas) Sebaliknya, jika yg rawat hanya jasmani maka jasmaninya bagus, namun kering batiniyahnya. Jika nafs(jiwa) tidak dijaga maka akan mudah dikuasai dan diperdaya oleh hawa nafsu. Jika akal tidak digunakan utk berfikir tentang kebesaran Allah maka tidak akan mengenal Allah. Jika hati tidak digunakan mengingat Allah niscaya hati akan gelap gulita dan akan dipenuhi kotoran dan sampah duniawi. Karena itu, tidak ada yang memberi manfaat kepada hati kecuali dengan mengingat Allah yang disertai dengan tafakkur yaitu merenung, menghayati dan menyaksikan kebesaran Allah yang nyata dalam perwujudan makhluknya. Dengan demikian, jika kita dapat menjaga empat aspek maka hidup kita akan memperoleh ketenangan jiwa krn terbebas dari belenggu hawa nafsu, akal akan selalu connecting menyaksikan ciptaan Allah, hati akan merasakan ketentraman dan kedamaian karena selalu ingat Allah. Semoga Allah senantiasa membimbing dan menyempurnakan lahiriyah dan batiniyah kita. al-Rabbani, 21/4/17

Kajian Al-Hikam (12) : Pentingnya Tafakur dan Dzikir

Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 12: Pentingnya Tafakur dan Dzikir "Tidak ada sesuatu yang sangat bermanfaat bagi hati sebagaimana (manfaatnya) melakukan 'uzlah (menyendiri) yang...
Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Terbukanya Pintu Mengenal Allah. "Ketika Allah membukakan kepadamu pintu pengenalan diri-Nya, maka jangan kamu bandingkan datangnya pengenalan itu dengan sedikit amal-amalmu, karena sesungguhnya Allah tidak membukakan pintu pengenalan itu kepadamu kecuali Allah menginginkan semata-mata untuk memperkenalkan Diri-Nya kepadamu. Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya (suatu) pengenalan itu (semata-mata) Dia yang menginginkannya kepadamu, sedangkan amal-amal itu (semata-mata) suatu hadiah darimu kepada-Nya; maka tidaklah sebanding antara apa-apa yang kamu persembahkan kepada-Nya dengan apa-apa yang Dia inginkan untukmu."  (Baca Juga: Kajian Al Hikam (7) : Jangan Ragu dengan Janji Allah) إِذَا فَتَحَ لَـكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلاَ تُبــَالِ مَعَهَا أِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَإِنَّـهُ مَا فَـتَـحَهَا لَكَ إِلاَّ وَهُوَ يُرِ يْدُ أَنْ يَـتَـعَرَّفَ إِلَيكَ. أَلَمْ تَـعْلَمْ أَنَّ الـتَّــعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ، وَاْلأَعْمَالُ أَنْتَ مُــهْدِ يْــهَا إِلَـيْهِ، وَأَيــْنَ مَا تُــهْدِ يْهِ إِلَـيْهِ مِمَّا هُـوَ مُوْرِدُهُ عَلَـيْكَ Maqalah di atas menjelaskan bahwa Allah dapat menghendaki terbukanya pintu kema'rifahan kepada hamba walaupun sedikit amalnya. Karena terbukanya pintu ma'rifah itu anugerah dari Allah kepada hamba, sedangkan amal ibadah itu persembahan hamba kepada Tuhannya. Jadi jangan jadikan amal ibadah kita untuk menuntut datangnya anugerah kema'rifahan, sebab kema'rifahan itu semata-mata anugerah Allah yang diberikan kepada hamba yg dikehendakinya. Maka bersyukurlah bagi hamba yg sudah dibukakan pemahaman mengenal Allah mulai dari memahami tauhid af'al, tauhid sifat, tauhid asma' hingga tauhid dhat. Semoga datangnya anugerah kema'rifahan disempurnakan oleh Allah dengan meningkatnya kualitas keyakinan kita mulai dari ilmu yaqin, 'ainul yaqin hingga haqqul yaqin. Oleh : Dr. KH Ali M Abdillah, MA Nagrak Cikeas, 31 Januari 2017 al-Rabbani Islamic College

Kajian Al-Hikam (8) : Terbukanya Pintu Mengenal Allah

Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Terbukanya Pintu Mengenal Allah. "Ketika Allah membukakan kepadamu pintu pengenalan diri-Nya, maka jangan kamu bandingkan datangnya pengenalan itu dengan sedikit amal-amalmu,...
Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 13 : Belenggu Menuju Allah "Bagaimana hati akan bercahaya sementara warna-warni duniawi masih melekat dlm cermin hatinya ? Bagaimana melangkah menuju Allah, sementara nafsu syahwat masih membelenggu dirinya ? Bagaimana akan menjumpai Allah, sementara sifat lalai (gaflah) belum bersih dari dirinya. Bagaimana berharap ingin mengerti rahasia yang halus dan tersembunyi, sementara belum bertaubat dari kekeliruannya." كيف يُشْرقُ قلبٌ صُوَرُالاَكوَانِ مُنطبِعَة ٌ فى مِرْاَته ؟ ام كيفَ يرحلُ الى الله وهو مُكبَّلٌ بِشهواتِهِ ؟ ام كيفَ يَطمعُ ان يَدْخُلَ حَضرَةَ اللهِ وهو لم يتطهَّرْ من جنابةِ غفلاتهِ ؟ ام كيفَ يرجُواَنْ يَفهَمَ د قاءـقَ الاسراَرِ وهُوَ لمْ يَتـُبْ من هفَوَاتِهِ؟ Selama empat hal masih membelenggu salik maka akan menjadi hijab untuk menuju Allah. 1. Hati harus bersih dari kecintaan duniawi 2. Jiwa harus terlepas dari belenggu nafsu syahwat 3. Selalu ingat Allah supaya hati tdk lalai Allah. 4. Menghindari kesalahan dan dosa supaya tersingkap rahasia2 batiniyah. Semoga Allah menjaga diri kita dari empat hal yang dapat menjadi tirai menuju Allah. (Baca juga: Kajian Al-Hikam (12) : Pentingnya Tafakur dan Dzikir) oleh : Dr KH Ali M Abdillah, MA al-Rabbani, 24/4/17

Kajian al-Hikam (13) : Belenggu Menuju Allah

Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 13 : Belenggu Menuju Allah "Bagaimana hati akan bercahaya sementara warna-warni duniawi masih melekat dlm cermin hatinya ? Bagaimana...
Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 27 : Jangan Menuntut Allah "Jangan menuntut Allah supaya dirimu dikeluarkan dari suatu kondisi kepada kondisi yang lain, sebab jika Allah menghendaki dirimu pada satu kondisi tentu telah memindahkan kondisimu tanpa keluar dari kondisi (sebelumnya)." لاتَطلُبْ منهُ ان يُخرِجكَ من حالةٍ ليَسْتعملكَ فيماَ سِواها فلوارَادكَ لاسْتَعْملك من غير اِخرَاجٍ Maqalah di atas menjelaskan bahwa kita tidak boleh menuntut Allah supaya dirubah dari kondisi yang ada (yang sudah ditetapkan oleh Allah) kepada kondisi lain yang yang sesuai seleranya. Sebagai contoh, seseorang yang sudah dikehendaki oleh Allah pada suatu kondisi seperti berjuang di jalan Allah berprofesi sebagi ustadz, kyai, ajengan tiba-tiba ingin pindah posisi sebagai pedagang. Atau seseorang yang dikehendaki oleh Allah sebagai pengusaha atau pegawai tiba-tiba memutuskan ingin menjadi ustadz dengan meninggalkan aktifitas duniawi supaya lebih fokus di jalan Allah. Padahal dengan posisi sebagai pengusaha atau pegawai sesungguhnya bisa tetap berjuang di jalan Allah dengan harta bendanya. Maka keinginan-keinginan tersebut sesungguhnya hanya bisikan nafsu. Jika diikuti maka akan menyesal, karena tidak merasakan kenyaman dengan kondisi baru yang dianggap baik bagi dirinya, ternyata muncul rentetan masalah baru yang datang silih berganti hingga melelahkan dirinya.  (Baca juga : Kajian Al-Hikam 26 : Menunda Amal Saat Luang, Perdaya Hawa Nafsu) Ini akibat mengikuti bisikan nafsunya. Sebab, jika Allah menghendaki seseorang pada suatu kondisi seperti menjadi orang-orang yang berjuang di jalan Allah maka bagi Allah sangat mudah mengaturnya tanpa harus ada keterlibatan nafsu dan rekayasa. Itu murni kehendak Allah. Karena itu, mari syukuri dengan kondisi yang ada pada diri kita, sesungguhnya itu terbaik menurut Allah, sekalipun terkadang muncul letupan-letupan keinginan untuk pindah pada kondisi lain. Padahal kondisi lain yang dikehendaki sesuai selera nafsu belum tentu lebih baik dari kondisi yang ada. Maka terimalah dengan lapang dada suatu kondisi yang sudah ditetapkan oleh Allah, tanpa harus menuntut berubah pada kondisi yang lain yang belum tentu baik buat dirinya. Semoga Allah melimpahkan sikap lapang dada dan menerima segala ketetapan Allah pada diri kita. Oleh : Dr KH Ali M Abdillah, MA al-Rabbani, 4 Mei 2017

Kajian Al-Hikam 27 : Jangan Menuntut Allah

Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 27 : Jangan Menuntut Allah "Jangan menuntut Allah supaya dirimu dikeluarkan dari suatu kondisi kepada kondisi yang lain, sebab jika...
Kajian Islam Al Hikam : Syahwat dan Himmah “TAJRID dan KASAB” إِرَ ادَ تُــكَ الـتَّجْرِ يْدَ مَـعَ إِقَامَـةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ اْلأَسْبَابِ مِنَ الشَّـهْـوَ ةِ الْخَفِـيـَّةِ. وَ إِرَادَ تُـكَ اْلأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ الـتَّجْرِ يْدِ اِنحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَـلِـيـَّةِ "Keinginanmu untuk tajrid, sementara Allah masih menegakkan engkau di dalam asbab, merupakan syahwah yang tersamar (halus). Dan keinginanmu kepada asbab, pada saat Allah sudah menegakkan engkau dalam tajrid, merupakan suatu kejatuhan dari himmah yang tinggi." Hikam (Baca juga kajian islam : Kajian Al Hikam (1) : Bersandarlah pada Allah) Syarah Al-Hikam Dalam pasal ini, Ibnu Atha’illah menggunakan beberapa istilah baku dalam khazanah sufi, yang harus dipahami terlebih dahulu agar mendapatkan pemahaman yang utuh. Istilah-istilah itu adalah: tajrid, asbab, syahwat dan himmah. Tajrid secara bahasa memiliki arti: penanggalan, pelepasan, atau pemurnian. Secara maknawi adalah penanggalan aspek-aspek dunia dari jiwa (nafs), atau secara singkat bisa dikatakan sebagai pemurnian jiwa. Asbab secara bahasa memiliki arti: sebab-sebab atau sebab-akibat. Secara maknawi adalah status jiwa (nafs) yang sedang Allah tempatkan dalam dunia sebab akibat. Semisal Iskandar Zulkarnain yang Allah tempatkan sebagai raja di dunia, mengurusi dunia sebab-akibat. Syahwah (atau syahwat) secara bahasa memiliki arti: tatapan yang kuat, atau keinginan. Secara maknawi merupakan keinginan kepada bentuk-bentuk material dan duniawi, seperti harta, makanan dan lawan jenis. Berbeda dari syahwat, hawa-nafsu (disingkat “nafsu”) adalah keinginan kepada bentuk-bentuk non-material, seperti ego, kesombongan, dan harga diri. Himmah merupakan lawan kata dari syahwat, yang juga memiliki arti keinginan. Namun bila syahwat merupakan keinginan yang rendah, maka himmah adalah keinginan yang tinggi, keinginan menuju Allah. Adakalanya Allah menempatkan seseorang dalam dunia asbab dalam kurun tertentu—misalnya, untuk mencari nafkah, mengurus keluarga, atau memimpin negara. Bila seseorang sedang Allah tempatkan dalam kondisi asbab itu, namun dia berkeinginan untuk tajrid (misalkan dengan ber-uzlah), maka itu dikatakan sebagai syahwat yang samar. Sebaliknya, saat Allah menempatkan seseorang dalam tajrid, namun dia justru menginginkan asbab, maka itu merupakan sebuah kejatuhan dari keinginan yang tinggi. Inilah pentingnya untuk berserah diri dalam bersuluk, agar mengetahui kapan seseorang harus tajrid dan kapan seseorang harus terjun dalam dunia asbab. Semua kehendak seorang salik haruslah bekesesuaian dengan Kehendak Allah. Sebagai seorang yang beriman, haruslah berusaha menyempurnakan imannya dengan berfikir tentang ayat-ayat Alloh, dan beribadah dan harus tahu bahwa tujuan hidup itu hanya untuk beribadah(menghamba) kepada Alloh,sesuai tuntunan Al-qur’an. Tetapi setelah ada semangat dalam ibadah, kadang ada yang berpendapat bahwa salah satu yang merepoti/mengganggu dalam ibadah yaitu bekerja(kasab). Lalu berkeinginan lepas dari kasab/usaha dan hanya ingin melulu beribadah. Keinginan yang seperti ini termasuk keinginan nafsu yang tersembunyi/samar. Sebab kewajiban seorang hamba, menyerah kepada apa yang dipilihkan oleh majikannya. Apa lagi kalau majikan itu adalah Alloh yang maha mengetahui tentang apa yang terbaik bagi hambanya. Dan tanda-tanda bahwa Alloh menempatkan dirimu dalam golongan orang yang harus berusaha [kasab], apabila terasa ringan bagimu, sehingga tidak menyebabkan lalai menjalankan suatu kewajiban dalam agamamu, juga menyebabkan engkau tidak tamak [rakus] terhadap milik orang lain. Dan tanda bahwa Allah mendudukkan dirimu dalam golongan hamba yang tidak berusaha [Tajrid]. Apabila Tuhan memudahkan bagimu kebutuhan hidup dari jalan yang tidak tersangka, kemudian jiwamu tetap tenang ketika terjadi kekurangan, karena tetap ingat dan bersandar kepada Tuhan, dan tidak berubah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban. Syeikh Ibnu ‘Atoillah berkata : “Aku datang kepada guruku Syeikh Abu Abbas al- mursy. Aku merasa, bahwa untuk sampai kepada Allah dan masuk dalam barisan para wali dengan sibuk pada ilmu lahiriah dan bergaul dengan sesama manusia (kasab) agak jauh dan tidak mungkin. tiba-tiba sebelum aku sempat bertanya, guru bercerita: Ada seorang ahli dibidang ilmu lahiriah, ketika ia dapat merasakan sedikit dalam perjalanan ini, ia datang kepadaku sambil berkata: Aku akan meninggalkan kebiasaanku untuk mengikuti perjalananmu. Aku menjawab: Bukan itu yang kamu harus lakukan, tetapi tetaplah dalam kedudukanmu, sedang apa yang akan diberikan Allah kepadamu pasti sampai kepadamu. Oleh : Dr. KH. Ali Abdillah, MA (al-Rabbani Islamic College)

Kajian Al Hikam (2) : Syahwat (Keinginan kepada Duniawi) dan Himmah (Keinginan menuju...

Kajian Islam Al Hikam : Syahwat dan Himmah “TAJRID dan KASAB” إِرَ ادَ تُــكَ الـتَّجْرِ يْدَ مَـعَ إِقَامَـةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ اْلأَسْبَابِ مِنَ الشَّـهْـوَ ةِ...
Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 25 : Tanda Kebodohan terhadap Kehendak Allah. "Sikap bodoh sama sekali tidak menyisakan manfaat apapun yaitu orang yang menginginkan suatu peristiwa terjadi pada satu waktu yang tidak ditetapkan oleh Allah pada waktu itu." ماتركَ من الجهلِ شيْـءـاًمن ارادَ ان يُحدِثَ فى الوَقتِ غيرَمااظهرهُ اللهُ فيهِ Maqalah di atas menjelaskan bahwa orang bodoh secara aqidah yaitu orang yang tidak bisa memahani kehendak Allah, seolah-olah Allah belum menetapkan semua peristiwa yang akan terjadi di alam semesta ini. Sikap org yg bodoh dalam berdoa akan "memaksa" Allah supaya semua keinginannya dikabulkan sesuai seleranya. Padahal Allah telah menetapkan semua peristiwa yg akan terjadi di alam semesta pada zaman azali, bahkan tidak ada yg mleset sedikitpun. Karena itu, jangan bersikap bodoh dengan memaksa Allah utk mengabulkan semua permintaan dan keinginannya. (Baca juga : Kajian al-Hikam 15-24: Hijab Memandang Allah) Bersikaplah secara cerdas dalam memahami kehendak Allah. Berdoalah dengan sikap yang penuh kepasrahan kepada Allah, serahkan semua permasalahan kepada Allah, mengalirlah pada irama kehendak Allah dengan tetap aktif melakukan usaha dan ikhtiar, karena apapun yang terjadi di alam semesta sesungguhnya itu yang terbaik menurut Allah untuk hamba2Nya sekalipun terkadang pahit dirasakan krn masih ada nafsu yang menyelimutinya. Semoga kita menjadi hamba yg cerdas dalam memahami kehendak Allah. Oleh : Dr KH Ali M Abdillah, MA al-Rabbani, 28/4/17

Kajian al-Hikam 25 : Tanda Kebodohan terhadap Kehendak Allah

Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 25 : Tanda Kebodohan terhadap Kehendak Allah. "Sikap bodoh sama sekali tidak menyisakan manfaat apapun yaitu orang yang menginginkan...
Kajian Al-hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 15-24: Hijab Memandang Allah مِمَّايَدُلُّكَ على وجُودِ قهرِهِ سُبْحانهُ ان حجبكَ عَنهُ بما ليسَ بموجُودٍ معه "Sebagai bukti yang menunjukkan dirimu adanya Kemaha Perkasaan Allah yaitu terhijabnya dirimu dari memandang (Allah) dengan hijab tanpa wujud yang menyertai-Nya." Maqalah diatas menjelaskan bahwa salah satu bukti Kemaha Perkasaan Allah yaitu terhijabinya pandangan manusia dalam melihat Allah dengan hijab yang tidak ada pada diri-Nya melainkan pandangan manusia sendiri yg terhijabi. Artinya yang terhijabi dalam memandang Allah itu pandangan manusia sendiri, sementara Allah nyata dalam wujud-Nya tanpa hijab sedikitpun. Karena itu, muncul penjelasan2 filosofis tentang apa sesungguhnya hijab itu. كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهوالذى اظهركلَّ شيىءٍ "Bagaimana mungkin Allah dihijabi oleh sesuatu, sementara Allah yang (menciptakan dan) mewujudkan segala sesuatu." كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهوالذى ظَهربِكلّ شيىءٍ "Bagaimana mungkin Allah dihijabi oleh sesuatu, sementara Allah telah mewujudkan dengan segala sesuatu." كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهوالذى ظهرفى كلّ شيىءٍ "Bagaimana mungkin Allah dihijabi oleh sesuatu, sementara Allah yang mewujudkan dalam tiap sesuatu." كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهوالذى ظهرلِكلّ شيىءٍ "Bagaimana mungkin Allah terhijabi oleh sesuatu, sementara Allah yang mewujudkan bagi tiap sesuatu." كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهو الظاهرقبل وجودِ كلّ شيىءٍ "Bagaimana mungkin Allah terhijabi oleh sesuatu, sementara Allah yang mewujudkan alam sebelum adanya sesuatu." كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهو اَظَْهرمن كلّ شيىءٍ "Bagaimana mungkin Allah dihijab oleh sesuatu, sementara Allah yang telah mewujudkan secara nyata dari segala sesuatu." كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهوالواحد الذى ليسَ معهُ شيىءٍ "Bagaimana mungkin Allah dihijabi oleh sesuatu, sementara Allah yang tunggal yang tidak ada sesuatu beserta-Nya." كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهواقربُ ا ِليكَ من كلّ شيىءٍ "Bagaimana mungkin Allah dihijabi oleh sesuatu, sementara Allah lebih dekat kepadamu dari segala sesuatu." كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ ولولاه ماكان وجودُ كلّ شيىءٍ "Bagaimana mungkin Allah dihijabi oleh sesuatu, padahal seandainya tidak ada Allah, niscaya tidak akan wujud segala sesuatu." يا عجبا كيفَ يظهرُالوجودُفى العدمِ ، ام كيفَ يَثبُتُ الحادثُ معَ من لهُ وَصفُ القِدَمِ "Wahai yang terpesona,, bagaimana wujud tampak dalam ketiadaan, atau bagaimana sesuatu yang baru menjadi tetap beserta Dzat yang bersifat qadim." Dapat disimpulkan bahwa wujud alam semesta yang nyata itu diciptakan oleh Allah. Jadi tdk mungkin Allah menghijabi diri-Nya melainkan pandangan manusia yg terhijab. Dengan demikian, harus dipahami secara tepat bahwa wujud alam semesta dipandang sbg madhar dan tajalli-Nya. Jadi wujud alam tetap bersifat tasybih, sedangkan wujud qadim bersifat tanzih. oleh : Dr KH Ali Abdillah, MA al-Rabbani, 27/4/17

Kajian al-Hikam 15-24: Hijab Memandang Allah

Kajian Al-hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 15-24: Hijab Memandang Allah مِمَّايَدُلُّكَ على وجُودِ قهرِهِ سُبْحانهُ ان حجبكَ عَنهُ بما ليسَ بموجُودٍ معه "Sebagai bukti yang menunjukkan...
Kajian Al-hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam (11) : Pribadi Berkualitas "Kuburlah wujudmu (eksistensimu) di dalam bumi kerendahan (ketiadaan); maka segala yang tumbuh namun tidak ditanam (dengan baik) tidak akan sempurna buahnya." اِدْفِنْ وُجُودَكَ فيِ أَرْضِ الْخُمُولِ، فَمَا نَـبَتَ مِمَّالَمْ يُدْفَنْ لاَ يَــتِمُّ نَـتَاءِجُهُ Maksud dari maqalah di atas yaitu sembunyikan dirimu dari popularitas semu dengan mengasah potensi ruhaniahmu hingga memiliki kedekatan kepada Allah. Ketika seseorang tlh memiliki kedekatan dengan Allah maka hatinya tidak akan tertarik dg perhatian manusia apalagi mengejar popularitas. Seandainya dirinya memperoleh polularitas sekalipun tapi hatinya tidak akan berpaling dari Allah. Itulah maksud dari benamkan dirimu dalam ketiadaan. Setelah mampu menenggelamkan diri dalam ketiadaan maka akan merasakan kebesaran Allah dan dirinya sirna dlm ketiadaan. (Baca juga: Kajian al-Hikam (10) : Ikhlas sebagai Ruh Amal) Jika seseorang belum mampu meniadakan dirinya maka akan muncul sikap ego, merasa hebat eksistensi dirinya tanpa bisa mengembalikan kpd Allah. Ini ibarat buah yg belum matang tp sudah diambil pasti rasanya akan asem. Sebaliknya, jika buah dipetik sdh dlm keadaan sdh matang maka rasanya akan lezat dan nikmat. Begitu juga, kondisi kejiwaan dan spiritualitas seseorang. Semoga Allah senantiasa membimbing diri kita menjadi pribadi yg matang dan berkualitas spiritualnya sehingga tidak silau melihat popularitas duniawi yg semu. Oleh : Dr KH Ali Abdillah, MA alrabbani, 20/4/17

Kajian al-Hikam (11) : Pribadi Berkualitas

Kajian Al-hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam (11) : Pribadi Berkualitas "Kuburlah wujudmu (eksistensimu) di dalam bumi kerendahan (ketiadaan); maka segala yang tumbuh namun tidak ditanam...
Kajian Islam Al Hikam (Kalam Ulama). "Jangan sekali-kali dirimu ragu terhadap janji (Allah) yang belum terpenuhi, padahal Allah telah menetapkkan waktu pengabulannya, demikian itu supaya tidak menyebabkan buramnya mata hatimu (bashirah) dan padamnya rahasia batinmu (sirr)." لاَ يـُشَـكِّكَــنَّكَ فيِ الْـوَعْدِ عَدَمُ وُقُــوْعِ الْـمَـوْعُـوْدِ ، وَ إِنْ تَـعَـيَّنِ زَمَنُهُ ؛ لِئَـلاَّ يـَكُوْنَ ذَ لِكَ قَدْحًـا فيِ بَـصِيْرَ تِـكَ ، وَ إِخْمَـادً ا لِـنُورِ سَرِ يـْرَ تِـكَ Maqalah di atas menjelaskan bahwa manusia sering dihinggapi sikap ragu bahkan putus asa ketika keinginannya belum terkabulkan. Seperti manusia yg sedang menghadapi masalah lalu dia berdoa diiringi usaha dan ikhtiar, namun masalahnya tidak kunjung usai. Saat itu muncul sikap ragu terhadap janji Allah karena merasa masalahnya tidak ada solusinya. Padahal Allah sudah menetapkan solusi dan penyelesaian yang terbaik menurut Allah utk hamba2Nya. Sesungguhnya sikap ragu tersebut hanya letupan emosi sesaat. Karena itu, jangan biarkan sikap ragu tersebut muncul menguasi diri karena dapat menyebabkan buramnya mata hati dan pudarnya cahaya ilahiyah dalam hati. Maka dari itu, jangan pernah terbersit ragu terhadap janji Allah, karena sesungguhnya Allah pasti memenuhi janji-Nya. (Baca Juga Kajian Al Hikam (2) : Syahwat (Keinginan kepada Duniawi) dan Himmah (Keinginan menuju Allah) Nagrak Cikeas, 19 Januari 2017 Oleh : Dr. KH. Ali Abdillah, MA (al-Rabbani Islamic College)

Kajian Al Hikam (7) : Jangan Ragu dengan Janji Allah

Kajian Al Hikam (Kalam Ulama). "Jangan sekali-kali dirimu ragu terhadap janji (Allah) yang belum terpenuhi, padahal Allah telah menetapkkan waktu pengabulannya, demikian itu supaya tidak menyebabkan...
Kajian Al Hikam : "Bersandarlah pada Allah Jangan pada amal” مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزَّ لــَـلِ "Di antara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya, adalah kurangnya ar-raja’ (rasa harap kepada rahmat Allah) di sisi alam yang fana." Hikam (baca juga : Rahasia Kekasih Allah ) Syarah Ar-raja adalah istilah khusus dalam terminologi agama, yang bermakna pengharapan kepada Allah Ta'ala. Pasal Al-Hikam yang pertama ini bukan ditujukan ketika seseorang berbuat salah, gagal atau melakukan dosa. Karena ar-rajalebih menyifati orang-orang yang mengharapkan kedekatan dengan Allah, untuk taqarrub. Kalimat "wujuudi zalal", artinya segala wujud yang akan hancur, alam fana. Menunjukkan seseorang yang hidup di dunia dan masih terikat oleh alam hawa nafsu dan alam syahwat. Itu semua adalah wujud al-zalal, wujud yang akan musnah. Seorang mukmin yang kuat tauhidnya, sekalipun masih hidup di dunia dan terikat pada semua wujud yang fana, namun harapannya semata kepada Allah Ta'ala. Seorang mukmin yang kuat tauhidnya, sekalipun masih hidup di dunia dan terikat pada semua wujud yang fana, namun harapannya semata kepada Allah Ta'ala Jika kita berharap akan rahmat-Nya, maka kita tidak akan menggantungkan harapan kepada amal-amal kita, baik itu besar atau pun kecil. Dan hal yang paling mahal dalam suluk adalah hati, yaitu apa yang dicarinya dalam hidup. Dunia ini akan menguji sejauh mana kualitas raja (harap) kita kepada Allah Ta’ala. Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah seseorang masuk surga dengan amalnya.” Ditanyakan, “Sekalipun engkau wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Sekalipun saya, hanya saja Allah telah memberikan rahmat kepadaku.” – H.R. Bukhari dan Muslim Orang yang melakukan amal ibadah itu pasti punya pengharapan kepada Alloh, meminta kepada Alloh supaya hasil pengharapannya, akan tetapi jangan sampai orang beramal itu bergantung pada amalnya, karena hakikatnya yang menggerakkan amal ibadah itu Alloh,. sehingga apabila terjadi kesalahan, seperti, terlanjur melakukan maksiat, atau meninggalkan ibadah rutinnya, ia merasa putus asa dan berkurang pengharapannya kepada Alloh. sehingga apabila berkurang pengharapan kepada rohmat Alloh, maka amalnyapuan akan berkurang dan akhirnya berhenti beramal. seharusnya dalam beramal itu semua dikehendaki dan dijalankan oleh Alloh. sedangkan dirikita hanya sebagai media berlakunya Qudrat Alloh. Kalimat: Laa ilaha illalloh. Tidak ada Tuhan, berarti tidak ada tempat bersandar, berlindung, berharap kecuali Alloh, tidak ada yang menghidupkan dan mematikan, tidak ada yang memberi dan menolak melainkan Alloh. Pada dasarnya syari’at menyuruh kita berusaha dan beramal. Sedang hakikat syari’at melarang kita menyandarkan diri pada amal dan usaha itu, supaya tetap bersandar pada karunia dan rahmat Alloh subhanahu wata’ala. Apabila kita dilarang menyekutukan Alloh dengan berhala, batu, kayu, pohon, kuburan, binatang dan manusia, maka janganlah menyekutukan Allah dengan kekuatan diri sendiri, seakan-akan merasa sudah cukup kuat dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah, tanpa rahmat, taufik, hidayat dan karunia Allah subhanahu wata’ala. Oleh : Dr. KH. Ali Abdillah, MA (al-Rabbani Islamic College)

Kajian Al Hikam (1) : Bersandarlah pada Allah

Kajian Al Hikam : "Bersandarlah pada Allah Jangan pada amal” مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزَّ لــَـلِ "Di antara tanda-tanda orang yang...