Home Kajian Islam Kajian Al-Hikam

Kajian Al-Hikam

Kajian Islam Al Hikam (Kalam Ulama). "Jangan sekali-kali dirimu ragu terhadap janji (Allah) yang belum terpenuhi, padahal Allah telah menetapkkan waktu pengabulannya, demikian itu supaya tidak menyebabkan buramnya mata hatimu (bashirah) dan padamnya rahasia batinmu (sirr)." لاَ يـُشَـكِّكَــنَّكَ فيِ الْـوَعْدِ عَدَمُ وُقُــوْعِ الْـمَـوْعُـوْدِ ، وَ إِنْ تَـعَـيَّنِ زَمَنُهُ ؛ لِئَـلاَّ يـَكُوْنَ ذَ لِكَ قَدْحًـا فيِ بَـصِيْرَ تِـكَ ، وَ إِخْمَـادً ا لِـنُورِ سَرِ يـْرَ تِـكَ Maqalah di atas menjelaskan bahwa manusia sering dihinggapi sikap ragu bahkan putus asa ketika keinginannya belum terkabulkan. Seperti manusia yg sedang menghadapi masalah lalu dia berdoa diiringi usaha dan ikhtiar, namun masalahnya tidak kunjung usai. Saat itu muncul sikap ragu terhadap janji Allah karena merasa masalahnya tidak ada solusinya. Padahal Allah sudah menetapkan solusi dan penyelesaian yang terbaik menurut Allah utk hamba2Nya. Sesungguhnya sikap ragu tersebut hanya letupan emosi sesaat. Karena itu, jangan biarkan sikap ragu tersebut muncul menguasi diri karena dapat menyebabkan buramnya mata hati dan pudarnya cahaya ilahiyah dalam hati. Maka dari itu, jangan pernah terbersit ragu terhadap janji Allah, karena sesungguhnya Allah pasti memenuhi janji-Nya. (Baca Juga Kajian Al Hikam (2) : Syahwat (Keinginan kepada Duniawi) dan Himmah (Keinginan menuju Allah) Nagrak Cikeas, 19 Januari 2017 Oleh : Dr. KH. Ali Abdillah, MA (al-Rabbani Islamic College)

Kajian Al Hikam (7) : Jangan Ragu dengan Janji Allah

Kajian Al Hikam (Kalam Ulama). "Jangan sekali-kali dirimu ragu terhadap janji (Allah) yang belum terpenuhi, padahal Allah telah menetapkkan waktu pengabulannya, demikian itu supaya tidak menyebabkan...
Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 13 : Belenggu Menuju Allah "Bagaimana hati akan bercahaya sementara warna-warni duniawi masih melekat dlm cermin hatinya ? Bagaimana melangkah menuju Allah, sementara nafsu syahwat masih membelenggu dirinya ? Bagaimana akan menjumpai Allah, sementara sifat lalai (gaflah) belum bersih dari dirinya. Bagaimana berharap ingin mengerti rahasia yang halus dan tersembunyi, sementara belum bertaubat dari kekeliruannya." كيف يُشْرقُ قلبٌ صُوَرُالاَكوَانِ مُنطبِعَة ٌ فى مِرْاَته ؟ ام كيفَ يرحلُ الى الله وهو مُكبَّلٌ بِشهواتِهِ ؟ ام كيفَ يَطمعُ ان يَدْخُلَ حَضرَةَ اللهِ وهو لم يتطهَّرْ من جنابةِ غفلاتهِ ؟ ام كيفَ يرجُواَنْ يَفهَمَ د قاءـقَ الاسراَرِ وهُوَ لمْ يَتـُبْ من هفَوَاتِهِ؟ Selama empat hal masih membelenggu salik maka akan menjadi hijab untuk menuju Allah. 1. Hati harus bersih dari kecintaan duniawi 2. Jiwa harus terlepas dari belenggu nafsu syahwat 3. Selalu ingat Allah supaya hati tdk lalai Allah. 4. Menghindari kesalahan dan dosa supaya tersingkap rahasia2 batiniyah. Semoga Allah menjaga diri kita dari empat hal yang dapat menjadi tirai menuju Allah. (Baca juga: Kajian Al-Hikam (12) : Pentingnya Tafakur dan Dzikir) oleh : Dr KH Ali M Abdillah, MA al-Rabbani, 24/4/17

Kajian al-Hikam (13) : Belenggu Menuju Allah

Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 13 : Belenggu Menuju Allah "Bagaimana hati akan bercahaya sementara warna-warni duniawi masih melekat dlm cermin hatinya ? Bagaimana...
Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 14: Antara Pandangan Gelap dan Cahaya "Semua benda material (di alam semesta) dalam kegelapan, adapun yang meneranginya yaitu (memandang wujud tersebut) sebagai kenyataan al-Haqq, maka barangsiapa melihat alam semesta tapi tidak melihat Allah di dalamnya atau didekatnya atau sebelumnya atau sesudahnya maka sesungguhnya ia telah disilaukan oleh wujud cahaya-cahaya dan terhijab oleh cahaya matahari ma'rifat sebab tebalnya hijab benda-benda di alam semesta ini." الكَونُ كلُّهُ ظُلمة ٌ واِنّمَا اَناَرَهُ ظُهُورُالحَقِّ فيه فمن رأى الكَوْنَ ولم يَشْهَدْهُ فيهِ اوعِندهُ اوقَبْله اوبَعْدهُ فقد اَعوزَهُ وجودُ الانوَرِ وحُجِبتْ عَنه شموس المعارفِ بِسُحُبِ الاثارِ Maqalah diatas menjelaskan bahwa alam semesta sebagai obyek dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, sisi materialisme yaitu memandang wujud alam semesta sbg wujud material belaka. Ini yg disebut sbg pandangan kegelapan krn tidak mampu melihat sisi ketuhanannya. (Baca juga: Kajian al-Hikam (13) : Belenggu Menuju Allah) Kedua, sisi ketuhanan yaitu memandang wujud alam semesta sebagai madhar dan tajalli al-Haqq (kenyataan al-Haqq). Wujud alam semesta sebagai makhluk (ciptaan Allah) berarti membuktikan adanya al-khaliq (pencipta). Dengan kata lain, bahwa alam semesta yang nyata ini dpt dipandang sebagai tajalli wujud al-Haqq. Jika mampu memandang yang demikian berarti telah mendapatkan anugerah cahaya kema'rifahan karena tersingkapnya tirai dalam memandang wujud alam. Berbeda dengan orang yang terhijab pandangannya dalam melihat wujud alam semesta yang nampak hanya benda material belaka. Kenapa demikian ? Karena pandangannya terhijabi oleh pandangan materialisme. Ibarat seekor semut menempel di gelas menanyakan dimana gelas. Pandangan yg demikian adalah pandangan kegelapan karena begitu tebal hijabnya. Semoga Allah senantiasa mencahayai hati kita dengan cahaya kema'rifahan dan cahaya syuhud musyahadah. oleh : Dr KH Ali M Abdillah al-Rabbani, 25/4/17

Kajian al-Hikam (14) : Antara Pandangan Gelap dan Cahaya

Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 14: Antara Pandangan Gelap dan Cahaya "Semua benda material (di alam semesta) dalam kegelapan, adapun yang meneranginya yaitu (memandang...
Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 29 : Aneka Tuntutan dalam Doa "Tuntutan doamu dari Allah sama halnya menuduh Allah, tuntutan doamu kepada Allah sama halnya menganggap Allah itu ghaib, tuntutanmu kepada selain Allah pertanda hilangnya rasa malumu kepada Allah, tuntutan permintaanmu dari selain Allah pertanda jauhnya dirimu dari Allah. طلبُكَ منهُ اِتـِّهامٌ لهُ وطلَبُكَ لهُ غيْبَة ٌمنكَ عنـْهُ وطلبكَ لغيرِهِ لقِلَّةِ حياءـكَ منهُ وطلَبُكَ من غيرهِ لِوُجُودِ بُعْدِكَ عَنْهُ Dalam maqalah di atas dijelaskan ada empat sikap tuntutan doa kepada Allah. Pertama, dalam doanya menuntut Allah dengan memaksa supaya semua keinginannya dikabulkan oleh Allah. Sikap yang demikian sama halnya menuduh Allah tidak tahu kebutuhan hamba-hamba-Nya padahal Allah yang mencukupi dan memberikan semua fasilitas hidupnya. (Baca Juga : Kajian Al-Hikam 28 : Jangan Terpesona Godaan dan Rintangan Menuju Allah) Kedua, dalam doanya bersikap menuntut kepada Allah seperti berdoa dengan suara keras dan menangis-menangis seolah-oleh Allah tidak memperdulikan hamba-Nya. Sikap ini sama halnya menganggap Allah itu ghaib (tidak ada) padahal Allah itu nyata. Ketiga, sikap dalam doanya meminta kepada selain Allah seperti meminta kepada makhluk yang dianggap sakti. Sikap ini sebagai pertanda hilangnya rasa malu kepada Allah, kenapa harus meminta kepada selain Allah, sementara Allah sebagai tempat meminta dan bermunajat. Keempat, sikap dalam doanya meminta dari selain Allah, seperti berdoa dan meminta yang didahului ritual-ritual supaya doanya dikabulkan. Sikap ini sebagai pertanda jauhnya hamba dari Allah, padahal Allah sangat dekat dengan hamba-Nya. oleh : Dr KH Ali M Abdillah, MA al-Rabbani, 15 Mei 2017

Kajian al-Hikam 29 : Aneka Tuntutan dalam Doa

Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 29 : Aneka Tuntutan dalam Doa "Tuntutan doamu dari Allah sama halnya menuduh Allah, tuntutan doamu kepada Allah sama halnya menganggap...
Kajian al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam (9) : Amal dan Buahnya. "Beragamnya jenis amal-amal (yang dilakukan oleh para salik) itu disebabkan turunnya beragam warid (anugerah ilahiyah) pada ahwal-ahwal (kondisi pengalaman spiritualitas para salik)." تَـنَوَّعَتْ أَجْنَاسُ اْلأَعْمَالِ لِـتَـنَوُّعِ وَارِدَاتِ اْلأَحْوَالِ Maqalah diatas menjelaskan bahwa tiap amal yang dilakukan oleh para salik memiliki warid yaitu anugerah ilahiyah yang dirasakan sehingga para salik akan merasakan pengalaman ruhani secara nyata. (Baca juga: Kajian Al-Hikam (8) : Terbukanya Pintu Mengenal Allah) Jadi semua amalan-amalan yang dilakukan oleh para salik seperti dzikir dan riyadhah mujahadah pasti memiliki efek positif secara ruhani yang akan dirasakan oleh para pengamalnya, sehingga menjadi pengalaman ruhani yg nyata dirasakan oleh para salik. Namun demikian, dalam mengamalkan semua amalan niatnya harus semata2 karena Allah dan dilakukan secara istiqomah. Dengan demikian, para salik akan merasakan pengalaman spiritual yaitu warid ilahiyah sebagai buah atas keistiqomahan dan keikhlasan dalam amaliahnya. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam berjalan menuju perjumpaan-Nya. Oleh : Dr. KH. Ali M Abdillah, MA

Kajian al-Hikam (9) : Amal dan Buahnya

Kajian al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam (9) : Amal dan Buahnya. "Beragamnya jenis amal-amal (yang dilakukan oleh para salik) itu disebabkan turunnya beragam warid (anugerah ilahiyah)...
Kajian Al Hikam (Kalam Ulama). Butanya Mata Hati اِجْتِهَادُكَ فِيمَا ضُمِنَ لَكَ، وَ تـَقْصِيْرُكَ فِيمَا طُلِبَ مِنْكَ، دَ لِيلٌ عَلَى انـــْطِمَاسِ الْــبَصِيْرةِ مِنْكَ "Kesungguhanmu dalam meraih sesuatu yang telah dijamin oleh Allah bagimu, dan kelalaianmu dalam menjalankan sesuatu yang dituntut oleh Allah kepadamu merupakan bukti butanya mata hatimu." (Baca Juga Kajian Al Hikam (1) : Bersandarlah pada Allah) Maqalah di atas menjelaskan bahwa ciri2 orang yang buta mata hatinya (bashiratul qalbi) yaitu: Pertama, menyakini bahwa Allah tidak menanggung rizki hambanya sehingga dia melakukan upaya dan kerja keras seolah2 dia memiliki kemampuan utk menentukan rizkinya. Padahal Allah sudah menjamin rizki semua makhluk hidup di alam semesta. Kedua, mengabaikan tuntutan melaksanakan ibadah kepada Allah seolah2 dirinya merasa tidak ada tanggung jawab dalam melaksanakan ibadah. Itulah tanda-tanda orang yang dibutakan mata hatinya. Na'udzubillah min dzalik. Pengabulan Doa لاَ يَــكُنْ تَــأَخُّرُ أَ مَدِ الْعَطَاءِ مَعَ اْلإِلْـحَـاحِ فيِ الدُّعَاءِ مُوْجِـبَاً لِـيَأْسِكَ؛ فَـهُـوَ ضَمِنَ لَـكَ اْلإِجَـابَـةَ فِيمَا يَـخْتَارُهُ لَـكَ لاَ فِيمَا تَـختَارُ لِـنَفْسِكَ؛ وَفيِ الْـوَقْتِ الَّـذِيْ يُرِ يـْدُ لاَ فيِ الْـوَقْتِ الَّذِي تُرِ يدُ "Jangan karena keterlambatan datangnya pemberian kepadamu saat dirimu telah bersungguh-sungguh dalam berdoa menyebabkan dirimu putus asa. Sebab Allah telah menjamin pengabulan doa (yg dipanjatkan) sesuai dengan pilihan Allah kepadamu, bukan sesuai dengan pilihanmu untuk dirimu, dan pada waktu yang Dia kehendaki bukan waktu yang kamu kehendaki." Maqalah di atas memberikan penegasan bahwa Allah pasti mengabulkan doa-doa hambanya, namun pengabulan doa tersebut ada dua catatan: Pertama, pengabulan doa sesuai dengan pilihan dan kehendak Allah bukan sesuai pilihan dan keinginan kehendakmu. Kedua, soal waktu pengabulan doa yaitu sesuai dengan waktu yang dikehendaki oleh Allah bukan waktu yg sesuai dengan kehendakmu. Karena itu, jangan putua asa ketika doamu belum dikabulkan oleh Allah sesuai keinginanmu karena sesungguhnya Allah lebih tahu waktu yg tepat pengabulan doa bagimu. Oleh : Dr. KH. Ali Abdillah, MA (al-Rabbani Islamic College)

Kajian Al Hikam (5-6) : Butanya Mata Hati dan Pengabulan Doa

Kajian Al Hikam (Kalam Ulama). Butanya Mata Hati اِجْتِهَادُكَ فِيمَا ضُمِنَ لَكَ، وَ تـَقْصِيْرُكَ فِيمَا طُلِبَ مِنْكَ، دَ لِيلٌ عَلَى انـــْطِمَاسِ الْــبَصِيْرةِ مِنْكَ "Kesungguhanmu dalam meraih sesuatu yang...
Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 27 : Jangan Menuntut Allah "Jangan menuntut Allah supaya dirimu dikeluarkan dari suatu kondisi kepada kondisi yang lain, sebab jika Allah menghendaki dirimu pada satu kondisi tentu telah memindahkan kondisimu tanpa keluar dari kondisi (sebelumnya)." لاتَطلُبْ منهُ ان يُخرِجكَ من حالةٍ ليَسْتعملكَ فيماَ سِواها فلوارَادكَ لاسْتَعْملك من غير اِخرَاجٍ Maqalah di atas menjelaskan bahwa kita tidak boleh menuntut Allah supaya dirubah dari kondisi yang ada (yang sudah ditetapkan oleh Allah) kepada kondisi lain yang yang sesuai seleranya. Sebagai contoh, seseorang yang sudah dikehendaki oleh Allah pada suatu kondisi seperti berjuang di jalan Allah berprofesi sebagi ustadz, kyai, ajengan tiba-tiba ingin pindah posisi sebagai pedagang. Atau seseorang yang dikehendaki oleh Allah sebagai pengusaha atau pegawai tiba-tiba memutuskan ingin menjadi ustadz dengan meninggalkan aktifitas duniawi supaya lebih fokus di jalan Allah. Padahal dengan posisi sebagai pengusaha atau pegawai sesungguhnya bisa tetap berjuang di jalan Allah dengan harta bendanya. Maka keinginan-keinginan tersebut sesungguhnya hanya bisikan nafsu. Jika diikuti maka akan menyesal, karena tidak merasakan kenyaman dengan kondisi baru yang dianggap baik bagi dirinya, ternyata muncul rentetan masalah baru yang datang silih berganti hingga melelahkan dirinya.  (Baca juga : Kajian Al-Hikam 26 : Menunda Amal Saat Luang, Perdaya Hawa Nafsu) Ini akibat mengikuti bisikan nafsunya. Sebab, jika Allah menghendaki seseorang pada suatu kondisi seperti menjadi orang-orang yang berjuang di jalan Allah maka bagi Allah sangat mudah mengaturnya tanpa harus ada keterlibatan nafsu dan rekayasa. Itu murni kehendak Allah. Karena itu, mari syukuri dengan kondisi yang ada pada diri kita, sesungguhnya itu terbaik menurut Allah, sekalipun terkadang muncul letupan-letupan keinginan untuk pindah pada kondisi lain. Padahal kondisi lain yang dikehendaki sesuai selera nafsu belum tentu lebih baik dari kondisi yang ada. Maka terimalah dengan lapang dada suatu kondisi yang sudah ditetapkan oleh Allah, tanpa harus menuntut berubah pada kondisi yang lain yang belum tentu baik buat dirinya. Semoga Allah melimpahkan sikap lapang dada dan menerima segala ketetapan Allah pada diri kita. Oleh : Dr KH Ali M Abdillah, MA al-Rabbani, 4 Mei 2017

Kajian Al-Hikam 27 : Jangan Menuntut Allah

Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 27 : Jangan Menuntut Allah "Jangan menuntut Allah supaya dirimu dikeluarkan dari suatu kondisi kepada kondisi yang lain, sebab jika...
Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 28 : Jangan Terpesona Godaan dan Rintangan Menuju Allah "Cita-cita kuat seorang salik (pejalan menuju Allah) tidak akan berhenti saat memperoleh anugerah kasyaf (tersingkap mata batin) melainkan akan dipanggil oleh suara-suara kebenaran (hakikat) mengingatkan bahwa yang kamu cari sudah menanti di depanmu. (Selain itu), juga tidak akan terpesona menyaksikan keindahan wujud lahiriyah alam semesta melainkan dirimu akan disadarkan oleh aspek hakikatnya. (Karena) sesungguhnya kami (pengalaman kasyaf dan keindahan lahiriyah) semata-mata sebagai ujian, maka jangan tertipu (kufur)." مااَرادتْ هِمّـَة ُ سالكٍ ان تقِفَ عِندَما كُشِفَ لهاَ الاَّونادَتـْهُ هَوَاتِفُ الحقيقَةِ الَّذى تطْلُبُهُ امامكَ وَلاَ تبَرَّجَتْ ظَواهِرُالمكوّناتِ الاَّ ونادتكَ حقاَءـقهاَ انَّما نحنُ فِتنةٌ فلا تـكفـُرْ Maqalah diatas menjelaskan bahwa cita-cita besar seorang salik (pejalan ruhani) yaitu liqa'u-Llah (perjumpaan Allah). Karena itu, jangan terpesona dengan godaan dan rintangan dalam perjalanan menuju Allah. Ada dua godaan yang sering menghentikan perjalanan salik.  (Baca juga : Kajian Al-Hikam 27 : Jangan Menuntut Allah) Pertama, yaitu saat memperoleh kasyaf yaitu terbukanya mata batin dan merasakan pengalaman spiritual di alam metafisik seperti bisa masuk di dunia jin, melihat surga dan neraka. Pengalaman ruhaniah yang demikian sangat menggoda para salik, jika salik terpesona dengan pengalaman tersebut maka perjalanannya akan terhenti pada station/tahap tersebut sehingga tidak akan sampai pada tahap yang lebih indah yaitu ma'rifatullah/liqa'ullah. Kedua, yaitu terpesona dengan aspek lahiriyah keindahan alam semesta tanpa bisa melihat aspek hakikatnya. Artinya keindahan apapun di alam semesta harus dipandang dari sisi hakikatnya bahwa Allah sebagai pencipta keindahan alam semesta. Jangan sampai melihat keindahan alam semesta tapi tidak mampu mengembalikan kepada Allah, maka pandangan yang demikian termasuk terhijab karena tidak mampu memandang wujud al-Haqq. Karena itu, para salik sdh diingatkan oleh maqalah diatas jangan sampai terpesona dengan pengalaman ruhani (kasyaf) dan terpedaya melihat aspek lahiriyah alam semesta tanpa melihat aspek hakikatnya. Semoga Allah senantiasa membimbing perjalanan kita sehingga kita selamat dari dua godaan dan rintangan dalam menuju Allah. Oleh : Dr KH Ali M Abdillah, MA al-Rabbani, 5/5/2017

Kajian Al-Hikam 28 : Jangan Terpesona Godaan dan Rintangan Menuju Allah

Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 28 : Jangan Terpesona Godaan dan Rintangan Menuju Allah "Cita-cita kuat seorang salik (pejalan menuju Allah) tidak akan berhenti saat memperoleh...
Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Terbukanya Pintu Mengenal Allah. "Ketika Allah membukakan kepadamu pintu pengenalan diri-Nya, maka jangan kamu bandingkan datangnya pengenalan itu dengan sedikit amal-amalmu, karena sesungguhnya Allah tidak membukakan pintu pengenalan itu kepadamu kecuali Allah menginginkan semata-mata untuk memperkenalkan Diri-Nya kepadamu. Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya (suatu) pengenalan itu (semata-mata) Dia yang menginginkannya kepadamu, sedangkan amal-amal itu (semata-mata) suatu hadiah darimu kepada-Nya; maka tidaklah sebanding antara apa-apa yang kamu persembahkan kepada-Nya dengan apa-apa yang Dia inginkan untukmu."  (Baca Juga: Kajian Al Hikam (7) : Jangan Ragu dengan Janji Allah) إِذَا فَتَحَ لَـكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلاَ تُبــَالِ مَعَهَا أِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَإِنَّـهُ مَا فَـتَـحَهَا لَكَ إِلاَّ وَهُوَ يُرِ يْدُ أَنْ يَـتَـعَرَّفَ إِلَيكَ. أَلَمْ تَـعْلَمْ أَنَّ الـتَّــعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ، وَاْلأَعْمَالُ أَنْتَ مُــهْدِ يْــهَا إِلَـيْهِ، وَأَيــْنَ مَا تُــهْدِ يْهِ إِلَـيْهِ مِمَّا هُـوَ مُوْرِدُهُ عَلَـيْكَ Maqalah di atas menjelaskan bahwa Allah dapat menghendaki terbukanya pintu kema'rifahan kepada hamba walaupun sedikit amalnya. Karena terbukanya pintu ma'rifah itu anugerah dari Allah kepada hamba, sedangkan amal ibadah itu persembahan hamba kepada Tuhannya. Jadi jangan jadikan amal ibadah kita untuk menuntut datangnya anugerah kema'rifahan, sebab kema'rifahan itu semata-mata anugerah Allah yang diberikan kepada hamba yg dikehendakinya. Maka bersyukurlah bagi hamba yg sudah dibukakan pemahaman mengenal Allah mulai dari memahami tauhid af'al, tauhid sifat, tauhid asma' hingga tauhid dhat. Semoga datangnya anugerah kema'rifahan disempurnakan oleh Allah dengan meningkatnya kualitas keyakinan kita mulai dari ilmu yaqin, 'ainul yaqin hingga haqqul yaqin. Oleh : Dr. KH Ali M Abdillah, MA Nagrak Cikeas, 31 Januari 2017 al-Rabbani Islamic College

Kajian Al-Hikam (8) : Terbukanya Pintu Mengenal Allah

Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Terbukanya Pintu Mengenal Allah. "Ketika Allah membukakan kepadamu pintu pengenalan diri-Nya, maka jangan kamu bandingkan datangnya pengenalan itu dengan sedikit amal-amalmu,...
Kajian Al Hikam (Kalam Ulama). Ambisi tidak dapat Mempengaruhi Ketetapan Qadha dan Qadar Allah. سَـوَ ابِـقُ الْهِمَمِ لاَ تَخـْرِقُ أَسْوَارَ اْلأَقْدَارِ "Kekuatan himmah-himmah tidak akan mampu mengoyak tirai Taqdir." Maqalah di atas menjelaskan bahwa segala bentuk keinginan, ambisi dan cita-cita tidak dapat mempengaruhi ketetapan Qadha dan Qadar Allah. Karena itu, jadikan keinginan dan cita2 sebagai motivasi dalam menapaki perjalanan hidup dengan mengalir dalam kehendak Allah. Setiap orang diperbolehkn memiliki keinginan dan cita-cita namun hendaklah disandarkan kpd Allah. Karena apapun yang akan terjadi pada seseorang sesungguhnya itu yang terbaik menurut Allah. أَرِحْ نــَفْسَـكَ مِنَ الـتَّدْبِــيْرِ، فَمَا قَامَ بِـهِ غَيْرُ كَ عَـنْكَ لاَ تَـقُمْ بِـهِ لِنَفْسِكَ "Istirahatkan dirimu dari tadbiir (melakukan pengaturan-pengaturan). Maka selainmu yaitu Allah telah mengatur segala sesuatu untukmu, janganlah kamu (turut) mengurusi sesuatu untuk dirimu." Maqalah di atas menjelaskan bahwa Allah sebagai pengatur alam semesta (rabb al-'alamin) telah mengatur segala sesuatu di alam semesta, maka bagi hamba tidak usah terlalu ikut mengurusi sesuatu yg sudah diurusi oleh Allah, seperti jodoh, rizki, nasib, mati semua sdh diurus dan ditentukan oleh Allah. Karena itu, hilangkan tadbir yaitu perencanaan, keinginan dalam hidupmu yang seolah2 Allah belum mengaturnya, padahal Allah sudah mengatur secara detail. Tugas hamba hanya menjalankan usaha dan ikhtiar yg mengalir pada iradat Allah. Dengan demikian, apapun keputusan Allah yang terjadi pada dirimu niscaya batinmu akan legowo dan menerima dg ridha. Oleh : Dr. KH. Ali Abdillah, MA (al-Rabbani Islamic College)

Kajian Al Hikam (3-4) : Ambisi tidak dapat Mempengaruhi Ketetapan Qadha dan Qadar Allah

Kajian Al Hikam (Kalam Ulama). Ambisi tidak dapat Mempengaruhi Ketetapan Qadha dan Qadar Allah. سَـوَ ابِـقُ الْهِمَمِ لاَ تَخـْرِقُ أَسْوَارَ اْلأَقْدَارِ "Kekuatan himmah-himmah tidak akan mampu mengoyak tirai Taqdir." Maqalah...

Stay connected

4,240FansLike
14,858FollowersFollow
1FollowersFollow
1,816FollowersFollow
517SubscribersSubscribe
- Advertisement -
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Popular Post

Qosidah “Man Ana” (Siapa Diriku)

Suara Sulthonul Qulub al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa saat membaca qosidah al-Imam al-Habib Umar Muhdhor bin Abdurrohman Assegaf. Qosidah ini juga sering beliau baca di...
Kumpulan Doa dan Dzikir (Kalam Ulama) - Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta الفصل الأول : في الغزل وشكوى الغرام Bagian Pertama: Bercumbu dan Pengaduan Cinta مَوْلَايَ صَلِّي وَسَلِّـمْ دَآئِــماً أَبَـدًا ۞ عَلـــَى حَبِيْبِـكَ خَيْــرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ هُوَالْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ ۞ لِكُلّ هَوْلٍ مِنَ الْأِهْوَالِ مُقْتَحِـــــــمِ أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَــــلَــمٍ ۞ مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَيْ مِنْ مُقْلَةٍ بِـــدَمِ Apakah karena mengingat para kekasih di Dzi Salam[1] sana. Engkau deraikan air mata dengan darah duka. أَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَاظِمَـــةٍ ۞ وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِيْ الْضَمَآءِ مِنْ إِضَـمِ Ataukah karena hembusan angin terarah lurus berjumpa di Kadhimah[2]. Dan kilatan cahaya gulita malam dari kedalaman jurang idham [3]. فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَــا ۞ وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِـــــمِ Mengapa kedua air matamu tetap meneteskan airmata? Padahal engkau telah berusaha membendungnya. Apa yang terjadi dengan hatimu? Padahal engkau telah berusaha menghiburnya. أيَحَسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتـــِمٌ ۞ مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمضْطَــــرِمِ Apakah diri yang dirundung nestapa karena cinta mengira bahwa api cinta dapat disembunyikan darinya. Di antara tetesan airmata dan hati yang terbakar membara. لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمْعاً عَلَي طَـلَلٍ ۞ وَلاَ أرَقْتَ لِذِكْرِ الْبَانِ وَالْعَلـَـــمِ Andaikan tak ada cinta yang menggores kalbu, tak mungkin engkau mencucurkan air matamu. Meratapi puing-puing kenangan masa lalu berjaga mengenang pohon ban dan gunung yang kau rindu. فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُباًّ بَعْدَ مَا شَــهِدَتْ ۞ بِهِ عَلَيْكَ عُدُوْلُ الدَّمْعِ وَالسَّـــقَمِ Bagaimana kau dapat mengingkari cinta sedangkan saksi adil telah menyaksikannya. Berupa deraian air mata dan jatuh sakit amat sengsara. وَأَثْبَتَ الْوَجْدُ خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَّضَــنىً۞ مِثْلَ الْبَهَارِمِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَــــمِ Duka nestapa telah membentuk dua garisnya isak tangis dan sakit lemah tak berdaya. Bagai mawar kuning dan merah yang melekat pada dua pipi. نَعَمْ سَرَى طَيْفُ مَنْ أَهْوَى فَأَرّقَنِي ۞ وَالْحُبّ يَعْتَرِضُ اللّذّاتَ بِالَلَــــــمِ Memang benar bayangan orang yang kucinta selalu hadir membangunkan tidurku untuk terjaga. Dan memang cinta sebagai penghalang bagi siempunya antara dirinya dan kelezatan cinta yang berakhir derita. يَا لَا ئِمِي فِي الهَوَى العُذْرِيِّ مَعْذِرَةً ۞ مِنّي إِلَيْكَ وَلَوْ أَنْصَفْتَ لَمْ تَلُمِ Wahai pencaci derita cinta kata maaf kusampaikan padamu. Aku yakin andai kau rasakan derita cinta ini tak mungkin engkau mencaci maki. عَدَتْكَ حَـــالِـي لَاسِرِّيْ بِمُسْتَتِرٍ ۞ عَنِ الْوِشَاةِ وَلاَ دَائِيْ بِمُنْحَسِــمِ Kini kau tahu keadaanku, tiada lagi rahasiaku yang tersimpan darimu. Dari orang yang suka mengadu domba dan derita cintaku tiada kunjung sirna. مَحّضْتَنِي النُّصْحَ لَكِنْ لَّسْتُ أَسْمَعُهُ  ۞  إَنّ الُحِبَّ عَنِ العُذَّالِ فِي صَمَمِ Begitu tulus nasihatmu, tapi aku tak mampu mendengar semua itu. Karena sesungguhnya orang yang dimabuk cinta tuli dan tak menggubris cacian pencela. إِنِّى اتَّهَمْتُ نَصِيْحَ الشّيْبِ فِي عَذَلِي ۞ وَالشّيْبُ أَبْعَدُ فِي نُصْحِ عَنِ التُّهَمِ Aku curiga ubanku pun turut mencelaku. Padahal ubanku pastilah tulus memperingatkanku. Baca Juga : Kisah Pangeran Diponegoro & Sholawat Burdah

Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta

Kumpulan Doa dan Dzikir (Kalam Ulama) - Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta الفصل الأول : في الغزل وشكوى الغرام Bagian...
Kajian Maulid Diba' #13 "Fahtazzal 'Arsyu" اللهم صل وسلم وبارك عليه   Ya Allah tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad).   فَاهْتَزَّ الْعَرْشُ طَرَبًا وَاسْتِبْشَارًا Maka bergoncanglah ‘Arsy karena gembira dengan adanya kabar gembira.   وَازْدَادَ الْكُرْسِيُّ هَيْبَةً وَوَقَارًا Dan kursi Allah bertambah wibawa dan tenang karena memuliakannya.   وَامْتَلَأَتِالسَّمٰوَاتُ أَنْوَارًا Dan langit penuh dengan cahaya.   وَضَجَّتِ الْمَلَآئِكَةُ تَهْلِيْلًا وَتَمْجِيْدًا وَاسْتِغْفَارًا ۩ serta bergemuruh suara malaikat membaca tahlil, tamjid dan istighfar   سُبْحَانَ اللهِ وَ اْلحَمْدُ للهِ وَلا اِلهَ الّا اللهُ وَ اللهُ اَكْبَر  Maha Suci Allah, limpahan puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dialah Allah yang Maha Besar (4x)   وَلَمْ تَزَلْأُمُّهٗ تَرٰى أَنْوَاعًا مِنْ فَخْرِهِ وَفَضْلِهِ إِلىٰ نِهَايَةِ تَمَامِ حَمْلِهِ  Dan ibunya tiada henti-hentinya melihat bermacam-macam keajaiban hingga dari keistimewaan dan keagungannya hingga sempurna masa kandungannya,   فَلَمَّا اشْتَدَّ بِهَا الطَّلْقُ بِـإِذْنِ رَبِّ الْخَلْقِ  Maka ketika ibunya telah merasakan sakit karena kandungannya akan lahir, dengan izin Tuhannya, Tuhan pencipta makhluk,   وَضَعَتِ الْحَبِيْبَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدًا شَاكِـرًا حَامِدًا كَأَنَّهُ الْبَدْرُ فِيْ تَمَامِهِ   Lahirlah kekasih Allah Muhammad SAW dalam keadaan sujud, bersyukur dan memuji, sedangkan wajahnya bagaikan bulan purnama dalam kesempurnaannya.   -------000--------   مَحَلُّ اْلقِيَامِ Baca Juga : Kajian Maulid Diba' #14 : Teks dan Terjemah Mahallul Qiyam   Keterangan: Para Malaikat, Para Nabi, Para Wali, Para bidadari surga, seluruh makhluk-makhluk Allah SWT yang ada di daratan, di lautan, di angkasa, bahkan bumi, laut, udara, bintang-bintang, bulan, matahari, langit, kursiy dan Arasy, seluruhnya benar-benar meluapkan kegembiraan dan memuncakkan “Shalawat ta’dzhim” kepada Kekasih Allah SWT, Nabi Akhir Zaman, Baginda Nabi Muhammad SAW. Bahkan Ka’bah Baitulloh ikut bergetar selama 3 hari berturut-turut karena bahagia dan bangga menyambut kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW.           Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Maulid Ad-diba’iy Lil Imam Abdurrahman Ad-Diba’iy: فاهتز العرش طربا واستبشارا وازداد الكرسي هيبة ووقارا وامتلأت السموات أنوارا وضجت الملائكة تهليلا وتمجيدا واستغفارا Yang artinya kurang lebih: “Sesungguhnya (pada saat kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW), ‘Arasy seketika gentar hebat luar biasa meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya, dan Kursiy juga semakin tambah kewibawaan dan keagungannya, dan seluruh langit dipenuhi cahaya yang bersinar terang dan para malaikat seluruhnya serentak bergemuruh memanjatkan tahlil, tamjid, dan istighfar kepada Allah SWT dengan mengucapkan:  سبحان الله  والحمد لله  ولا إله إلا الله  والله أكبر أستغفر الله Yang artinya kurang lebih: “Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, saya beristighfar (memohon ampun) kepada Allah SWT.”           Sesungguhnya dengan keagungan baginda Nabi Muhammad SAW di sisi Allah SWT, maka Allah SWT telah memerintahkan kepada para malaikat-Nya yang agung yakni Malaikat Jibril, Malaikat Muqorrobin, Malaikat Karubiyyin, Malaikat yang selalu mengelilingi Arasy dan lainnya agar serentak berdiri pada saat detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW dengan memanjatkan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, dan Istighfar kepada Allah SWT.           Semua fenomena keajaiban-keajaiban agung yang terjadi pada detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW yang diwujudkan oleh  Allah SWT, semata-mata hanya menunjukkan kepada semua makhluk-makhluk-Nya Allah SWT bahwa baginda Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang paling dicintai-Nya, makhluk yang paling agung dan mulia derajatnya di sisi-Nya.           Dan riwayat-riwayat semua yang tersebutkan di atas, bukan sekedar cerita belaka, namun telah kami nukil data datanya dari kitab-kitab para ulama Ahlussunnah Waljama’ah yang sangat akurat dan otentik. Diantaranya adalah Kitab Al-Hawi lil Fatawi yang dikarang oleh Al-Imam Asy-Syaikh Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi yang telah mengarang tidak kurang dari 600 kitab yang dijadikan marja’ (pedoman) bagi para ulama ahlussunnah waljama’ah dalam penetapan hukum-hukum syariat Islam.Bahkan para ulama ahlussunnah waljama’ah telah sepakat menjuluki Beliau dengan gelar “Jalaaluddiin” yakni sebagai pilar keagungan agama Islam.           Bahkan tidak hanya dari kitab beliau, tetapi juga dari kitab-kitab para ulama Ahlussunnah Waljama’ah lainnya yang juga telah disepakati dan dijadikan sebagai sumber pedoman oleh para ulama. Diantaranya adalah Kitab Dalailun Nubuwwah lil Imam Al-Baihaqi, Kitab Dalailun Nubuwwah lil Imam Abu Na’im Al-Ashfahaniy, Kitab An-Ni’matul Kubro ‘Alal ‘Aalam lil Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitami, Kitab Sabiilul Iddikar lil Imam Quthbul Ghouts Wad-Da’wah Wal-Irsyad Al-Habib Abdullah bin ‘Alawi Al-Haddad, Kitab Al-Ghuror lil Imam Al-Habib Muhammad bin Ali bin Alawiy Khird Ba Alawiy Al-Husainiy, Kitab Asy-Syifa’ lil Imam Al-Qadli ‘Iyadl Abul Faidl Al-Yahshabiy, Kitab As-Siiroh An-Nabawiyyah lil Imam As-Sayyid Asy-Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al Hasaniy, Kitab Hujjatulloh ‘Alal ‘Aalamin lis Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhaniy, dan kitab-kitab lainya yang mu’tamad dan mu’tabar (diakui dan dijadikan pedoman oleh para ulama).           Bagi para Ulama shalihin Ahlussunnah Waljama’ah telah sepakat untuk berdiri pada saat bacaan Maulid Nabi Muhammad SAW telah tiba, yakni pada Mahallul Qiyam (detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW). Mereka serentak berdiri demi mengikuti jejak para Malaikat, jejak arwah para Nabi dan jejak arwah para Wali untuk ta’dzhim (mengagungkan) dan memuncakkan rasa cinta yang agung kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Mereka luapkan rasa syukur yang memuncak ke hadhirat Allah SWT atas nikmat atau anugerah paling agung yang telah Allah SWT limpahkan dengan mengutus Kekasih-Nya sebagai Rahmat (Belas Kasih Sayang-Nya) untuk seluruh alam semesta.  Mereka panjatkan puji-pujian yang agung kepada baginda Rasululloh SAW dengan bahasa sastra yang indah dan suara merdu yang dipenuhi dengan rasa rindu dan cinta yang tulus mulia kepada Baginda SAW.           Maka, sungguh sangat mulia sekali bagi kita sebagai umat yang sangat dicintainya untuk mengikuti jejak para ulama shalihin dengan serentak berdiri pada saat Mahallul Qiyam demi menyambut kedatangan Kekasih Allah SWT yang sangat mulia, Junjungan kita baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Bukankah Beliau adalah Nabi kita yang sangat kita cintai? Bukankah Beliau adalah yang kelak akan memberi pertolongan kepada kita sehingga selamat dari siksaan Allah SWT yang sangat pedih? Bukankah Beliau adalah yang akan memberi syafaat kepada kita sehingga kita bisa memperoleh keridloan Allah SWT yang agung dan masuk ke dalam surga-Nya yang dipenuhi dengan segala kenikmatan, keindahan dan kebahagiaan yang kekal abadi selama-lamanya? Karena Rasululloh  SAW adalah Kekasih Allah SWT yang mana Allah SWT telah berjanji untuk tidak menolak segala  permintaan Beliau dan akan mengabulkan segala permohonannya. Dan janji ini telah ditetapkan Allah SWT dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Surat Adh-Dhuha ayat  5:  ولسوف يعطيك ربك فترضى   Yang artinya kurang lebih: “Dan (sesungguhnya) kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu (Nabi Muhammad SAW), lalu (hati) kamu menjadi puas”. (Q.S. Adl-Dluha: 5) Sungguh sangat beruntung kita sebagai umat Islam yang benar-benar mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW dengan setulusnya. Maka, pada saat tiba ajal kita nanti, baginda Nabi Muhammad SAW yang sangat kita cintai akan menolong kita dengan memohon kepada Allah SWT agar ditetapkan iman kita, diampuni segala dosa-dosa kita yang pernah kita lakukan dan diberi kemudahan menghadapi sakaratul maut. Bukan sekedar itu saja, bahkan pada saat menghadapi pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam barzakh, Beliau akan menolong kita. Dan berkat pertolongannya, seketika Allah SWT akan menjadikan kuburan kita sebagai “Raudlotun Min Riyaadlil Jinaan”, yakni sebagai taman diantara taman-taman surga. Begitu pula pada saat di padang Mahsyar, kita akan dipersilahkan untuk meminum air telaganya dan bertemu dengan Beliau SAW beserta para ahli baitnya, para sahabatnya, dan juga bersama para wali Allah SWT, para orang-orang sholihin  dan bersama pula dengan orang-orang mukmin yang mencintainya. Seketika itu pula kita mendapati rasa aman. Demikian besarnya perhatian baginda Rasulullah SAW kepada kita, dan agungnya ketulusan mahabbah (Belas Kasih Sayang) yang sempurna kepada kita, sehingga kita bisa mendapati limpahan Rahmat (Belas Kasih Sayang) Allah SWT dan ampunan-Nya, adalah  sangat banyak sekali data-data atau dalilnya disebutkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Al-Hadits serta kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah. Sebagian diantara dalil-dalil tersebut adalah Firman Allah SWT dalam Al-Qur’anu Al-Kariim Surat At-Taubah  ayat 128:  لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رءوف رحيم   Yang artinya kurang lebih: “Sesungguhnya telah datang kepada kalian Seorang Rasul (Nabi Muhammad SAW), dari kaum kalian sendiri, (sungguh sangat) berat terasa olehnya (segala) penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin..” (Q.S. At-Taubah: 128).           Demikianlah anugerah-anugerah agung yang dilimpahkan Allah SWT kepada umat Islam yang benar-benar cinta kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Namun, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Qodli ‘Iyadl dalam kitabnya Asy-Syifa hal 158 bahwa orang yang benar-benar tulus mencintai baginda Rasul SAW, syaratnya harus mengikuti jejaknya, meneladani prilakunya, menghidupkan sunnah ajaran dan syiarnya, mencintai ahli baitnya dan menghormati seluruh shahabatnya. Semoga kita semua termasuk orang yang benar-benar cinta sejati dengan tulus kepada Baginda Nabi Muhammad SAW beserta seluruh ahli bait dan shahabatnya serta bisa meneladani prilaku dan jejak-jejak mereka.  Wallahu a’lam bishshowaab.  Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi melalui kitab Nurul Mushthofa yang dirangkum oleh Al-Habib Murtadho bin Abdullah Alkaf.          

Kajian Maulid Diba’ #13 “Fahtazzal ‘Arsyu”

Kajian Maulid Diba' #13 "Fahtazzal 'Arsyu" اللهم صل وسلم وبارك عليه   Ya Allah tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad).   فَاهْتَزَّ الْعَرْشُ طَرَبًا وَاسْتِبْشَارًا Maka...

Qasidah “Assalamu’alaik Zainal Anbiya”

هذه القصده السلام عليك (1) ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ السلام عليك زينالأنبيآء ، السلام عليك Assalaamu ‘alaika Zainal anbiyaa-i (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai...
Kalam Ulama - Syaikh Taufiq Al-Buthi (Ulama Syuriah): Indonesia Adalah Surga.  Sebelum meneruskan perjalan ke lokasi Munas NU (Nahdlatul Ulama) di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo Banjar, Syaikh Taufiq Ramadhan al-Buthi menyempatkan berkunjun ke PP Miftahul Huda Manonjaya dan diterima langsung oleh salah satu pimpinan pesantren, KH. Abdul Aziz Affandy. Berkuduk rasanya bulu leher ini saat beliau berkata pada muqaddimah (pembuka) ceramah di hadapan ribuan santri: نحن الان نتحير فى الجنة ام فى الدنيا "Pada saat ini terus terang kami bingung (tidak percaya) apakah sedang berada di surga atau di dunia..." Terlihat jelas parau dan bergetarnya suara beliau saat mengucapkan kalimat tersebut. Pada bahasa tubuhnya nampak kebahagiaan bisa berkunjung dan bertatap muka dengan para santri yang begitu banyak, mereka dengan tenang, damai dan nyaman mengaji. Hal ini tentunya berbalik lurus dan tidak seberuntung dengan keadaan di negara beliau Syria, jangankan mau mengaji, salat dan berkumpul dengan sekian banyak orang, mau keluar saja rasa takut dan khawatir selalu menghantui. Patut kita terus bersyukur pada Allah ta'ala yang mengaruniai Negeri ini masih aman dan damai. (Disadur dari: Ibnu Ja'far) Subscribe Channel Kalam Ulama TV : https://www.youtube.com/c/KalamUlamaOfficial Semoga bermanfaat dan berkah, jangan lupa bagikan!!!

Syaikh Taufiq Al-Buthi (Ulama Syuriah): Indonesia Adalah Surga

Kalam Ulama - Syaikh Taufiq Al-Buthi (Ulama Syuriah): Indonesia Adalah Surga.  Sebelum meneruskan perjalan ke lokasi Munas NU (Nahdlatul Ulama) di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al...