Home Kajian Islam

Kajian Islam

Kajian Safinah Najah #03: Mengaji Fiqh

Berkat rahmat Allah, kita bisa meneruskan pengajian online kitab Safinah. Melalui pengantar pertama, kita telah mengetahui sekilas kandungan kitab ini dan pengabdian ulama...
KalamUlama.com - 5 Hal yang Penting Diketahui untuk Menyambut Bulan Ramadhan. Menyiapkan Diri Sejak Sya’ban Suasana menyambut bulan Ramadhan perlu disiapkan sejak sebelum datangnya Ramadhan untuk melatih dan membiasakan lebih dahulu menyiapkan diri sejak di bulan Sya’ban: وَلَمَّا كَانَ شَعْبَانُ كَالْمُقَدِّمَةِ لِرَمَضَانَ شُرِعَ فِيْهِ مَا يُشْرَعُ فِي رَمَضَانَ مِنَ الصِّيَامِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ “Ketika Sya’ban seperti mukaddimah (pendahuluan) bagi Ramadhan, maka disyariatkan di bulan Sya’ban hal-hal yang disyariatkan di bulan Ramadhan, seperti puasa dan baca al-Quran” (Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma’arif 1/138) Umat Islam sejak masa Sahabat telah mempersiapkan diri sejak Sya’ban dengan ibadah dan sedekah: عَنْ أَنَسٍ قَالَ : كَانَ الْمُسْلِمُوْنَ إِذَا دَخَلَ شَعْبَانُ انْكَبُّوْا عَلَى اْلمصَاحِفِ فَقَرَؤُهَا وَأَخْرَجُوْا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ تَقْوِيَّةً لِلضَّعِيْفِ وَالْمِسْكِيْنِ عَلَى صِيَامِ رَمَضَانَ Diriwayatkan dari Anas berkata “bahwa umat Islam ketika masuk bulan Sya’ban, maka senantiasa membaca al-Quran dan mengeluarkan zakat hartanya, sebagai bantuan untuk orang miskin dalam menghadapi puasa” (Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma’arif 1/138) Keterangan di atas menjelaskan dengan gamblang bahwa umat Islam ketika memasuki bulan Sya’ban senantiasa membaca Al-Qur’an, serta mengeluarkan zakat kepada fakir miskin agar mereka mampu menghadapi puasa. Marhaban Ya Ramadhan عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ» Dari Abu Hurairah bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Telah datang pada kalian, bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah wajibkan puasa Ramadhan. Pintu langit dibuka, pintu neraka ditutup, syetan dibelenggu. Di dalam-nya ada lailatul qadar” (HR Nasai) Perintah Rukyat Puasa diwajibkan manakala berhasil melakukan rukyat atau melihat bulan: صُوْمُوْا لرُؤْيتهِ وَأفطِروْا لرؤْيتهِ فإنْ غم عَليكُمْ فأكْمِلوْا عِدةَ شَعْبانَ ثلاثيَْْن {رواه البخارى ومسلم والنسائى عن أبى هريرة} Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Berpuasalah karena melihat hilal dan akhiripuasa karena melihat hilal. Jika terhalang maka sempurnakan Sya’ban 30 hari” (HR al-Bukhari, Muslim dan an-Nasai dari Abu Hurairah) Hisab Untuk Puasa dan Hari Raya Di masa Tabi’in sudah dikenal ada pendapat menggunakan hisab atau astronomi: وَرُوِيَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ إِذَا أُغْمِيَ الِْهلَالُ رُجِعَ إلَى الْحَسَابِ بِمَسِيِْرِ القَمَرِ وَالشَّمْسِ وَهُوَ مَذْهَبُ مُطَرِّفِ بْنِ الشِّخِّيْرِ، وَهُوَ مِنْ كِبَارِ التَّابِعِيْنَ ِDiriwayat dari sebagian ulama Salaf “bahwa jika hilal terhalang oleh mendung, maka dikembalikan kepada ilmu hisab (astrologi). Ini adalah madzhab Mutharrif bin Syikhir, salah satu Tabiin senior” (Bidayat al-Mujtahid 1/228) Dengan demikian ilmu Hisab bukan ilmu baru untuk dijadikan pedoman menentukan bulan, bahkan yang mengamalkan ilmu hisab adalah salah satu pendapat dalam madzhab Syafiiyah: الشافعِيةُ قالوْا : يُعْتَبَرُ قَولُ الْمُنجِمِ فِى حَقِ نَفْسِهِ وَحَقِ مَنْ صَدقهُ وَلَا يََِجبُ الصوْمُ عَلَى عمُوْم الناسِ بقَوْلهِ عَلَى الراجِحِ (الفقه على المذاهب الأربعة) Kalangan Madzhab Syafiiyah berkata “Pendapat ahli hisab dapat diterima bagi dirinya sendiri dan orang yang percaya padanya. Orang lain tidak wajib puasa berdasarkan pendapat yang kuat” (Madzahib al-Arba’ah 1/873) Wajib Mengikuti Itsbat [ketapan] Pemerintah قالَ سَهْلُ بنُ عَبْدِ اللِه التسْتُُرى اطِيعوْا السُّلْطانَ فِ سَبْعَةٍ ضَرْبِ الدراهِمِ وَالدنََانيِْْر وَالْمَكَاييْلِ وَالأوْزانِ وَالأَحْكَام وَالْْحجِ وَالْْجمْعَةِ وَالعِيْدَينِ وَالْْجهَادِ . تفسيْر القرطبي 5 /259 والبحر المحيط لاب حيان الاندلسي 3 / 696 Sahal bin Abdillah al-Tusturi berkata: “Patuhilah pemerintah dalam 7 hal: Pemberlakuan mata uang, ukuran dan timbangan, hukum, haji, salat Jumat, dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), dan jihad" (Tafsir al-Qurthubi V/259 dan Abu Hayyan dalam al-Bahr al-Muhith III/696)

Menyambut Bulan Ramadhan, 5 Hal yang Penting Diketahui!!!

KalamUlama.com - 5 Hal yang Penting Diketahui untuk Menyambut Bulan Ramadhan. Menyiapkan Diri Sejak Sya’ban Suasana menyambut bulan Ramadhan perlu disiapkan sejak sebelum datangnya Ramadhan...

Kajian Wanita Sholihah dan Lelaki Sholih #06: Tatakrama Istri yang Bisa Mengantarkannya Menjadi Wanita...

Oleh: Hamzah Alfarisi Pertanyaan  : Apa saja tatakrama istri yang bisa mengantarkanyna menjadi wanita                   sholehah? Jawab             : Tatakarama yang bisa menjadikan istri menjadi wanita sholihah diantaranya,  wanita tersebut...
Kucing di tempat shalat

Kucing Di Tempat Shalat

kalamulama.com -Pertama adalah penjelasan terkait kucing. ﻭَﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻗَﺘَﺎﺩَﺓَ - ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ - ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ اﻟﻠَّﻪِ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻗَﺎﻝَ ﻓِﻲ...

One Day One Hadits #7: Mempererat Ikatan Persaudaraan

Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #7: Mempererat Ikatan Persaudaraan بسم الله الرحمن الرحيم كتاب الأدب بَاب الْمُؤَاخَاةِ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ...
Kajian Fiqih Manhaji #01 Mengenal Jarimah dan Jinayah dalam Islam Oleh Zuhal Qobili Kalam ulama - Satu di antara yang membedakan agama Islam dengan agama-agama lainnya adalah bahwa Islam tidak hanya agama yang ajarannya tentang akidah dan tata cara beribadah saja, tetapi juga mempunyai syariat yang mengatur kehidupan manusia dari segala sisinya. Mulai urusan jasmani dan rohani serta kehidupan sebagai seorang individu maupun sebagai anggota masyarakat (hubungan individu dengan individu lainnya). Sehingga ketika aturan – aturan tersebut di taati maka manusia akan hidup dalam tentram dan menentramkan. Baca Juga : Hukum Menyentuh, Membawa dan Membaca Al-Qur’an bagi Wanita Haidh dan Nifas Kendati demikian, banyak sekali kita saksikan apalagi akhir – akhir ini argumen – argumen yang menyatakan bahwa Islam adalah agama teroris, Islam aturan-aturannya banyak yang melanggar HAM (Hak Asasi Manusia) dan sebagainya. Padahal dalam kitab sucinya, dengan tegas al Qur’an menyatakan   وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين “Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” [al Anbiya : 107]. Nabi Muhammad, Nabi umat Islam diutus oleh Allah tidak hanya sebagai penebar rahmat bagi pemeluk agamanya saja, melainkan sebagai penebar rahmat untuk seluruh alam. Maka jika Islam memang agama yang benar, asli dari Tuhan semesta alam, tidak mungkin ada dalam ajaran-ajarannya yang tidak sesuai dengan akal sehat atau bersifat merugikan. Sehingga, kemungkinan kenapa banyak yang berargumen tidak jelas seperti di atas ada kalanya karena mereka tidak mengetahui lebih dalam ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya, atau karena mereka memang mempunyai kedengkian terhadap Islam. Dengan demikian membuat mereka tidak mau menggunakan akal yang jernih untuk mencari kebenaran melainkan mempelajari Islam dengan dangkal mencari hal-hal yang secara nampak luar buruk padahal tidak demikian, dan ini sangat membahayakan bagi pemeluk Islam yang masih awam.  Dengan latar belakang tersebut membuat kami ingin mengkaji tentang “JARIMAH DAN JINAYAH DALAM ISLAM”, karena permasalahan jarimah dan jinayah ketika hanya dilihat sekilas luarnya seakan-akan hukum-hukumnya kebanyakan melanggar HAM atau kejam. Walaupun kajian ini tidak akan mendalam maupun mendetail semoga bisa memberikan wawasan baru bagi yang belum pernah mempelajarinya dan menjadikan kita para pemeluk Islam semakin yakin bahwa Islam adalah agama yang rahmat penuh kasih sayang. Dan bagi non muslim agar tahu bahwa Islam tidak seperti yang para pendengki gambarkan. DEFINISI JARIMAH DAN JINAYAH   A. JARIMAH Jarimah (جريمة) secara etimologi bermakna ذنب (dosa) atau perbuatan yang tidak sesuai dengan keadilan. Allah berfirman : ولا يجرمنكم شنآن قوم على ألا تعدلوا اعدلوا هو أقرب للتقوى “Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa” [al Maidah : 8]. Sedangkan secara terminologi ulama fikih, jarimah mempunyai dua makna : Bermakna umum, yaitu segala sesuatu perbuatan yang melanggar perintah Allah atau larangannya. Sehingga dengan definisi ini kata jarimah mencakup seluruh perbuatan maksiat kepada Allah. Bermakna khusus, yaitu segala sesuatu perbuatan yang melanggar perintah Allah atau larangannya yang memiliki hukuman dunia dilaksanakan oleh seorang hakim. B. JINAYAH Jinayah (جناية) secara etimologi bermakna perbuatan buruk. Sedangkan secara terminologi, jinayah adalah perbuatan-perbuatan yang dilarang berkaitan dengan pembunuhan atau melukai anggota badan. Namun ada juga sebagian ulama yang mendefinisikan jinayah semakna dengan jarimah, yaitu segala sesuatu perbuatan yang melanggar perintah Allah atau larangannya yang memiliki hukuman dunia dilaksanakan oleh seorang hakim.   MACAM-MACAM JARIMAH      Jarimah mempunyai pembagian-pembagian jika di tinjau dari berbagai sudut : 1. Niat Pelaku Macam-macam jarimah ditinjau dari niat pelakunya terbagi menjadi dua : a.       Sengaja, yaitu perbuatan terlarang yang dilaksanakan oleh seseorang dengan kehendaknya sendiri dan dia tahu bahwa perbuatan tersebut di larang yang akan membuatnya di hukum. b.      Tidak sengaja, yaitu perbuatan terlarang yang dilaksanakan oleh seseorang tidak dengan kehendaknya sendiri atau dengan kehendaknya sendiri tetapi dia tidak tahu kalau perbuatan tersebut dilarang.         2. Hukuman Macam-macam jarimah di tinjau dari hukuman akibat melakukan jarimah tersebut terbagi menjadi tiga : a.  Jarimah hudud, yaitu jarimah yang hukumannya sudah ditentukan bentuk dan kadarnya oleh Allah, sehingga tidak akan kurangmaupun lebih dari yang ditetapkan. b. Jarimah qishas dan diyat, yaitu jarimah berupa pembunuhan atau melukai anggota badan. Hukumannya adalah di qishas (di balas sesuai jarimah yang dilaksanakan) atau membayar diyat. c.   Jarimah takzir, yaitu jarimah yang hukumannya atas dasar kebijaksanaan hakim karena tidak terdapat di dalam al Qur’an dan Hadis, tidak seperti jarimah hudud dan jarimah qishas.          3. Objek Jarimah Macam-macam jarimah ditinjau dari objek jarimahnya terbagi menjadi dua : a.    Jarimah terhadap hak Allah, yaitu jarimah yang berkaitan dengan kemaslahatan umat, bukan individu tertentu. b. Jarimah terhadap hak hamba, yaitu jarimah yang objeknya adalah individu tertentu. Demikian kajian pertama tentang “jarimah dan jinayah dalam Islam”, mengenai definisi jarimah dan jinayah serta macam-macam bentuknya. Insya Allah kajian ke depan akan lebih fokus tentang pembagian kedua, yaitu macam-macam jarimah ditinjau dari hukumannya serta hikmah yang terkandung di dalamanya. Adapun minggu depan akan membahas tentang macam-macambentuk hukuman jarimah, karakteristik dan tujuannya. Wallahu A’lam..   Baca Juga tulisan selanjutnya : Kajian Fiqih Manhaji #02 “Macam-Macam Hukuman dalam Syariat Islam”   Sumber : kitab لجناية على النفس وما دونها فى الفقه الإسلامي karya Dr. Abdul Fattah dan Dr. Al-Mursi Abdul Aziz, diktat fikih komparasi tingkat tiga Universitas al Azhar tahun akademik 2014/2015.

Kajian Fiqih Manhaji #01 Mengenal Jarimah dan Jinayah dalam Islam

Kajian Fiqih Manhaji #01 Mengenal Jarimah dan Jinayah dalam Islam Oleh Zuhal Qobili Kalam ulama - Satu di antara yang membedakan agama Islam dengan agama-agama lainnya adalah bahwa Islam tidak...

Kajian Tafsir Al-Munir #05 : Konsep Lillah & Fillah di Balik Kisah Sang Khalilullah...

Oleh : Saiful Hidayat Episode Kedua : Bisyarah Soal Kelahiran, Siapakah Dia? Berlanjut pada ayat 101 dari Al-Shaffat, Allah SWT menjawab doa Nabi Ibrahim SAW dan...
Amalan Hari Jum'at dan Berbagai Faedahnya

Amalan Hari Jum’at dan Berbagai Faedahnya

KalamUlama.com - Berikut 7 Amalan Hari Jum'at dan Berbagai Faedahnya yang perlu kita ketahui sesuai dengan dalil Al-Qur'an dan Hadist. 1. Membaca “Yâ Muhaimin” (wahai...
Kalam Ulama - Inilah Hukum Sholat Jumat Yang Bertepatan Pada Hari Raya Idul Fitri - Ulama berbeda pendapat mengenai masalah kewajiban memunaikan salat jumat jika bertepatan dengan hari 'id. Seluruhnya didasarkan pada hadits-hadits shahih. Pendapat yang menggugurkan kewajiban salat jumat, diantaranya mazhab Imam Ahmad dan sebagian pendapat lemah dari mazhab Imam Asy-Syafi'i, berhujjah dengan hadits riwayat Imam Abu Daud, al-Nasai, Ibn Majah, dan al-Hakim dari Iyyas bin Abi Ramlah al-Syami bahwasanya ia berkata: شهدت معاوية بن أبي سفيان وهو يسأل زيد بن أرقم رضي الله عنهم: أشهدتَ مع رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم عيدين اجتمعا في يوم؟ قال: نعم، قال: كيف صنع؟ قال: صلى العيد ثم رخَّص في الجمعة فقال: «من شاء أن يصلي فليصلِّ». "Aku menyaksikan Muawiyah bin Abi Sufyan bertanya kepada Zaid bin Arqam radliyallahu 'anhum, ia berkata: Apakah engkau menyaksikan kejadian bertemunya dua hari raya (yakni 'id dan jumat) dalam satu hari dizaman Rasul? Zaid menjawab: Ya. Muawiyah pun bertanya kembali: Bagaimana cara beliau melaksanakan (keduanya)? Zaid kembali menjawab: Salatlah untuk 'id kemudian rukhsah bagi kamu untuk menunaikan jumat, sebab Rasulullah bersabda, barangsiapa yang menghendaki salat (jumat) maka salatlah." Juga riwayat Imam Abu Dawud, Ibn Majah, dan al-Hakim dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa alihi wa sallam bersabda: قد اجتمع في يومكم هذا عيدان فمن شاء أجزأه من الجمعة وإنَّا مجمِّعون. "Sungguh telah berkumpul dua hari raya pada hari kalian ini, barangsiapa yang ingin mengerjakan jumat maka ia mendapat pahala jumat dan sungguh kami termasuk orang yang mengumpulkan (jumat dan 'id)." Baca juga : Kehati-hatian Syaikhuna KH. Maimoen Zubair pada Lafadz Takbiran Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa salat 'id tidak menggugurkan kewajiban jumat. Berdasarkan keumuman dalil jumat yang wajib ditunaikan dihari jumat setiap pekan tanpa ada pengecualian. Masing-masing ibadah tersebut, baik jumat maupun 'id, mempunyai syiar tersendiri yang tidak bisa digantikan satu sama lain. Syiar jumat hanya bisa ditunaikan dengan ibadah jumat, sedang syiar hari raya hanya bisa ditunaikan dengan salat 'id. Ini pendapat Hanafiyah dan Malikiyah. Adapun pendapat jumhur, termasuk didalamnya pendapat kuat dalam mazhab Imam Asy-Syafi'i, mengambil jalan tengah, yakni salat jumat tetap wajib bagi penduduk suatu negeri yang memenuhi syarat wajib jumat, namun jika seseorang menemui kesulitan dan beban untuk mengerjakan salat jumat dihari 'id, seperti jarak yang jauh untuk bolak-balik ke masjid, maka boleh baginya untuk memilih. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwattha' bahwa Utsman bin Affan radliyallahu 'anhu berkata dalam khutbahnya: إنه قد اجتمع لكم في يومكم هذا عيدان، فمن أحب من أهل العالية أن ينتظر الجمعة فلينتظرها، ومن أحب أن يرجع فقد أذنتُ له. "Sungguh dihari ini telah berkumpul atas kalian dua hari raya, maka barangsiapa yang ingin memperoleh derajat yang tinggi dengan menunggu datangnya waktu jumat hendaknya ia menunggu, namun jika ia ingin pulang maka aku pun mengizinkan." Tak ada seorang sahabat pun yang mengingkari perkataan beliau ini, sehingga dapat dikatakan bahwa mereka telah ijma' secara sukuti (diam tanda setuju). Pendapat ini juga menganggap bahwa dalil rukhsah (keringanan) untuk meninggalkan salat jumat dihari 'id yang dikemukakan oleh mazhab Imam Ahmad di atas adalah ditujukan bagi orang-orang yang ditimpa kesulitan dan beban yang berat. Maka, hendaknya seseorang meluaskan pandangannya dalam masala khilafiyah (perbedaan pendapat) ini. Tidak menyerang sebuah mazhab dengan alasan mazhab lain. Untuk pengamalan, hendaknya seseorang melaksanakan salat jumat di masjid sebagai bentuk kehati-hatian dan menunaikan hukum asal salat jumat yang wajib. Namun, apabila dia berhajat meninggalkan salat jumat maka ia diperbolehkan mengikuti pendapat yang menyatakan bahwa kewajiban jumat gugur dihari 'id, dengan syarat melaksanakan sendiri atau berjamaah dirumah agar tidak menghalangi orang salat jumat di masjid atau menjadi fitnah bagi orang banyak. Wallahu a'lam. Bogor, 26 Agustus 2017 @adhlialqarni Baca juga : Menjawab Gugatan Bid'ah Atas Ucapan "Minal 'Aidin wal Faizin" dan "Mohon Maaf Lahir dan Batin"

Inilah Hukum Sholat Jumat Yang Bertepatan Pada Hari Raya Idul Fitri

Kalam Ulama - Inilah Hukum Sholat Jumat Yang Bertepatan Pada Hari Raya Idul Fitri - Ulama berbeda pendapat mengenai masalah kewajiban memunaikan salat jumat...
Kajian Islam (Kalam Ulama). Cemburu merupakan respon pasangan akibat suatu hal yang terjadi pada pasangannya dengan orang lain. Sikap ini adalah suatu kewajaran, namun berbahaya apabila bersikap berlebihan. Oleh karena itu, salah satu adab/tata cara bergaul dengan istri yaitu bersikap i'tidal dalam hal cemburu. I'tidal yang dimaksud sebagai berikut: (1) Tidak melupakan dasar-dasar (mabadi') segala sesuatu  yang dikhawatirkan rusak. Artinya kekhawatiran rusak itu sudah menjadi milik segala sesuatu. Dan (2) Tidak pula berlebihan dalam berperasangka buruk, dalam berkeras kepala, dan dalam memata-matai hal-hal batin. Hal-hal yang besifat batin sudah bukan menjadi urusan kita, karena kita diperintahkan untuk menghukumi hal-hal yang bersifat lahiriyah. (Baca Juga : Nasehat Pernikahan #4: Suami adalah Pengontrol Istri) Berita yang telah masyhur di telinga kita bahwa perempuan itu seperti tulang rusuk, apabila kamu memaksa meluruskannya, maka kamu berarti memecahnya. Maka bairkanlah tulang rusukmu dan bersenang-senanglah dengannya kebengkokannya. Seperti sabda Rasulullah SAW: وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا “Pergauilah perempuan dengan baik, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk. Dan sesungguhnya sesuatu tulang rusuk yang paling bengkok adalah paling atas. Apabila kamu menegakkannya maka kamu memecahnya. Apabila kamu meninggalkannya, maka ia tetap akan bengkok. Maka pergaulilah perempuan dengan baik. (HR. Bukhori). Oleh : Hamzah Alfarisi

Nasehat Pernikahan #5: Lelaki, Jangan Cemburuan !

Kajian Islam (Kalam Ulama). Nasehat Pernikahan #5: Lelaki, Jangan Cemburuan ! Cemburu merupakan respon pasangan akibat suatu hal yang terjadi pada pasangannya dengan orang lain. Sikap ini...