Home Kajian Islam

Kajian Islam

Sholawat Maulid Ad-Dibai  #03: "Alhamdulillahil Qowiyyil Gholib"   بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang اَلْحَمْدُ ِللهِ الْقَوِيِّ الْغَالِبْ. اَلْوَلِيِّ الطَّالِبِ. اَلبَّاعِثِ الْوَارِثِ الْمَانِحِ السَّالِبِ. عَالِمِ الْكَائِنِ وَالْبَائِنِ وَالزَّائِلِ وَالذَّاهِبِ. يُسَبِّحُهُ اْلأفِلُ وَالْمَائِلُ وَالطَّالِعُ وَالْغَارِبُ. وَيُوَحِّدُهُ النَّاطِقُ وَالصَّامِتُ وَالْجَامِدُ وَالذَّائِبُ. يَضْرِبُ بِعَدْلِهِ السَّاكِنُ وَيَسْكُنُ بِفَضْلِهِ الضَّارِبُ. (لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ). حَكِيْمٌ أَظْهَرَ بَدِيْعَ حِكَمِهِ وَالْعَجَائِبْ. فِيْ تَرْتِيْبِ تَرْكِيْبِ هَذِهِ الْقَوَالِبِ. خَلَقَ مُخًّا وَعَظْمًا وَعَضُدًا وَعُرُوْقًا وَلَحْمًا وَجِلْدًا وَشَعْرًا بِنَظْمٍ مُؤْتَلِفٍ مُتَرَاكِبْ. مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصًُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ. (لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ). كَرِيْمٌ بَسَطَ لِخَلْقِهِ بِسَاطَ كَرَمِهِ وَالْمَوَاهِبْ. . يَنْزِلُ فِيْ كُلِّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا وَيُنَادِيْ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ هَلْ مِنْ تَائِبْ. هَلْ مِنْ طَالِبِ حَاجَةٍ فَأُنِيْلُهُ الْمَطَالِبَ. فَلَوْ رَأَيْتَ الْخُدَّامَ قِيَامًا عَلَى اْلأَقْدَامِ وَقَدْ جَادُوْا بِالدُّمُوْعِ السَّوَاكِبْ. وَالْقَوْمَ بَيْنَ نَادِمٍ وَتَائِبْ. وَخَائِفٍ لِنَفْسِهِ يُعَاتِبْ. وَأبِقٍ مِنَ الذُّنُوْبِ إِلَيْهِ هَارِبْ. فَلاَ يَزَالُوْنَ فِي اْلإِسْتِغْفَارِ حَتَّى يَكُفَّ كَفُّ النَّهَارِ ذُيُوْلَ الْغَيَاهِبِ. . فَيَعُوْدُوْنَ وَقَدْ فَازُوْا بِالْمَطْلُوْبِ وَأَدْرَكُوْا رِضَا الْمَحْبُوْبِ وَلَمْ يَعُدْ أَحَدٌ مِنَ الْقَوْمِ وَهُوَ خَائِبْ. ( لاَ إِلهَ إِلاَّ ألله). فَسُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ مَلِكٍ أَوْجَدَ نُوْرَ نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ نُوْرِهِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ أدَمَ مِنَ الطَّيْنِ اللاَّزِبِ. وَعَرَضَ فَخْرَهُ عَلَى الْأَشْيَاءِ وَقَالَ هَذَا سَيِّدُ الْأَنْبِيَاءِ وَأَجَلُّ الْأَصْفِيَاءِ وَأَكْرَمُ الْحَبَآئِبِ.  Alhamdulillâhil qowiyyil ghôlib. Al-Wâliyyith-thôlib. Al-Bâ’itsil wâritsil mânihis-sâlib. ‘Âlimil kâ-ini wal bâ-ini waz-zâ-ili wadz-dzâhib. Yusabbihuhul ãfilu wal mã-ilu Wath-thôli’u wal ghôribu. Wa yuwahhiduhun-nâthiqu wash-shômitu Wal jâmidu wadz-dzã-ibu. Yadlribu bi’adlihis-sâkin. Wa yaskunu bifadl-lihidl-dlôribu. LÂ ILÂHA ILLÂ ALLOH. Hakîmun adh-haro badî’a hikamihi wal ‘ajã-ib. Fî tartîbi tarkîbi hâdzihil qowâlib. Kholaqo mukhkhon wa ‘adhman wa ‘adludan wa ‘uruqon wa lahman wa jildan wa sya’ron binadlmin mutalifin mutarôkibin. Min mã-in dâfiqin yakhruju min bainish-shulbi wat-tarõ-ib. LÂ ILÂHA ILLÂ ALLOH. Karîmun basatho likholqihi bisâtho karomihi wal mawâhib. Yanzilu fî kulli lailatin ilâ samã-id-dunyâ wa yunâdî hal min mustaghfirin hal min tã-ibin. Hal min thôlibi hâjatin fa-unîluhul mathôlib. Falau ro-aytal khuddâma qiyâman ‘alâl aqdâmi wa qod jâdû biddumû’is-sawâkib. Wal qowma baina nâdimin wa tã-ibin. Wa khõ-ifin linafsihî yu’âtibu. Wa ãbiqin minadz-dzunûbi ilaihi hârib. Falâ yazâlûna fîl istighfâri hattâ yakuffa kaffun-nahâri dzuyûlal ghoyâhib. Faya’ûdûna wa qod fâzû bil mathlûbi Wa adrokû ridlôl mahbûbi wa lam ya’ud ahadun minal qoumi wa huwa khô-ib. LÂ ILÂHA ILLÂ ALLOH. Fasubhânahu wa ta’âlâ min malikin awjada nûro nabiyyihî Muhammadin Shollâllâhu ‘alaihi wa sallama min nûrihi qobla an yakhluqo Âdama minath-thînil-lâzib. Wa ‘arodlo fakhruhu ‘alâl asy-yã-i wa qôla hâdzâ sayyidul anbiyã-i wa ajallul ashfiyã-i wa akromul habã-ib.  Segala puji bagi Alloh, Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa (di atas segala-galanya). Maha pelindung lagi Penuntut segala dosa. Maha membangkitkan di hari kiamat, Maha Kekal, Maha Penganugerah, lagi Maha pelenyap sengsara. Maha Mengetahui segala keadaan: yang nyata, yang musnah, dan yang binasa. Bertasbih kepada-Nya (semua) yang tenggelam, yang condong. Yang terbit dan yang terbenam. Semua makhluk yang berbicara dan yang diam, Mengesakan Alloh, demikian juga yang padat dan yang cair. Dengan keadilan-Nya, yang diam bisa bergerak, dan dengan keutamaan Nya, yang bergerak menjadi diam. Tiada Tuhan selain Alloh. Yang Maha Bijaksana, yang menciptakan keindahan hikmah-Nya dan berbagai keajaiban. Dalam pengaturan susunan perwujudan manusia ini. Diciptakan oleh-Nya, otak, tulang, bahu, urat pembuluh darah, daging, kulit, dan rambut dengan susunan teratur rapi. Dari sperma yang terpancar dari tulang rusuk laki-laki dan tulang dada perempuan. Tuhan selain Alloh. Pemurah kepada makhluk-Nya dengan hamparan karunia dan anugerah-Nya. Setiap malam rahmat Alloh turun ke langit dunia, dan memanggil: Adakah malam ini orang yang mohon ampun serta adakah orang yang bertaubat? orang yang memohon akan hajatnya maka aku akan kabulkan hajatnya. Seandainya telah engkau lihat hamba-hamba mengabdi kepada Alloh, berdiri tegak diatas telapak-telapak kakinya dengan cucuran air mata, diantara segolongan kaum ada yang menyesali dosa-dosanya dan bertaubat. Ada orang-orang yang khawatir berbuat dosa lagi dan mencerca kepada dirinya sendiri, ada orang yang lari menghindar dari perbuatan-perbuatan dosa menuju perlindungan Alloh. tidak ada henti-hentinya mereka mohon ampunan, Sehingga berhari-hari lamanya meratapi rentetan kealpaannya. Kemudian mereka kembali menekuni ibadah, dan mereka benar-benar beruntung dengan apa yang dicari, dan menemui keridhoan Alloh yang dicintai dan tiada seorangpun dari suatu kaum yang kembali dengan tangan hampa. Tuhan selain Alloh. Maha suci Alloh dan Maha luhur yang telah menciptakan nur Muhammad Shollallohul ’alayhi wasallam, dari nur-Nya sebelum menciptakan Adam dari tanah liat. Alloh memperlihatkan keagungan nur Muhammad kepada penghuni surga seraya berfirman: “Inilah pemimpin para Nabi dan paling agung diantara orang-orang pilihan serta lebih mulia diantara para kekasih Alloh.” اللهم صل وسلم وبارك عليه Allâhumma sholli wa sallim wa bârik ‘alaih (Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya Nabi Muhammad)   Baca Juga Sebelumnya Kajian Maulid Diba' #02: "Inna Fatahna"  ======================================= Keterangan Tambahan: Dosa-dosa yang merupakan pangkal musibah dapat terhapuskan dengan pengampunan Allah SWT dan amal-amal pahala kita, Allah SWT telah menurunkan firman untuk seorang pemuda yang pendosa, sebagaimana riwayat Shohih al-Bukhori bahwa pemuda ini datang kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dan ia berkata: “Wahai Rosululloh, aku telah berbuat dosa yang begitu banyak dan aku ingin mendapatkan hukuman”, maka Rasulullah SAW diam tidak menjawab, namun Allah SWT menjawab dengan firman-Nya: إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ “Sesungguhnya perbuatan yang baik (pahala) itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk (dosa). Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat (selalu berdzikir)”.( QS. Hud: 114 ) Dzikir menghapus dosa-dosa dan musibah. Allah SWT berfirman : اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi”. ( QS. An Nuur ) Allah menerangi bumi dengan cahaya dzohir dan cahaya bathin. Dan Allah memberikan cahaya-Nya kepada yang dikehendaki-Nya, sebagaimana firman-Nya: يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ  ”Alloh membimbing kepada cahaya-Nya (untuk) siapa yang Dia kehendaki”. (QS. An Nuur: 35 ) Allah memberikan petunjuk dengan cahaya-Nya kepada siapa-siapa yang dikehendaki-Nya. Dan makna cahaya dalam firman Alloh di suroh An Nuur: نُوْرٌ عَلَى نُوْرٍ ” Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis) “. ( QS. An Nuur: 35 ) Adalah sayyidina Muhammad SAW, karena “Allah memberikan hidayah (petunjuk) dengan cahaya-Nya”, bukan dengan cahaya matahari, tetapi dengan cahaya tuntunan sayyidina Muhammad SAW. Oleh sebab itu, ketika seseorang mencintai dan mengikuti tuntunan sayyidina Muhammad SAW, maka tersingkaplah seluruh tabir cahaya yang menjadi penghalang antara makhluk dan sang kholiq (pencipta), sehingga manusia bisa memandang keindahan Allah, karena mereka mengikuti cahaya ciptaan Allah yang termulia, yakni sayyidina Muhammad SAW. Tidak satupun makhluk yang bisa sampai kepada cinta Allah dan memandang keindahan Allah kecuali dengan mengikuti sayyidina Muhammad, Beliaulah cahaya Allah di dunia dan akhirat. Nabi (SAW) pernah berdo’a meminta cahaya, padahal sang nabi adalah cahaya Allah yang termulia, beliau SAW berdoa:  اَللّهُمَّ اجْعَلْ فِيْ قَلْبِيْ نُوْرًا ” Ya Alloh jadikanlah di hatiku cahaya “ Kita juga berdo’a, semoga hati kita diterangi cahaya Allah SWT, aamiin. Tahukah kita betapa indahnya jika hati diterangi oleh cahaya Alloh? Hati akan tenang dan sejuk, hati akan terus rindu kepada Alloh, yang dengan itu ia juga dirindukan Allah SWT. Dijelaskan oleh As-Syaikh Abu al-Hasan Asy-Syadzili yang dinukil oleh Hujjatul Islam al-Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi, dan juga oleh al-Imam Ibn ‘Athoillah, dan para imam yang lainnya, beliau mengatakan : “Jika cahaya tauhid ”Laa ilaaha illalloh” yang ada di hati seorang muslim pendosa disingkap dan diperlihatkan kepada alam, niscaya langit dan bumi ini akan runtuh dari dahsyatnya cahaya Allah SWT yang ada di hati seorang muslim dari ummat Muhammad SAW” Namun cahaya itu tertutup dengan tabir yang dikehendaki Allah sehingga tidak terlihat, karena orang yang tidak menyembah selain Allah maka cahaya Allah ada di dalam hatinya, walaupun terpendam dengan pendaman dosa ia akan tetap sampai kepada surga yang kekal. Oleh sebab itu ketika Rasulullah SAW bertanya kepada Jibril As, yang dijelaskan di dalam tafsir al-Imam Qurthubi, beliau bertanya: “wahai Jibril, bagaimana pahala orang yang bersujud dan mengucapkan ”subhana robbii al-a’laa wabihamdih” satu kali?”, maka Jibril As berkata: “pahalanya lebih berat dari sebuah gunung, lebih berat dari al kursi, lebih berat dari ‘arsy”, kemudian Allah berfirman: “sungguh telah benar hamba-Ku, Aku mengungguli segala sesuatu”. Nama Allah jika disebut maka pahalanya jauh lebih berat dari ‘arsy, kursi, dan seluruh alam semesta. Demikian keadaan hamba yang bersujud. Jika Allah singkapkan cahaya tauhid yang ada dalam diri seorang muslim, cahaya sumpah setia yang mengakui tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah yang ada di hati seorang muslim walaupun ia pendosa, niscaya langit dan bumi akan runtuh tidak mampu menampung dahsyatnya cahaya kewibawaan dan keagungan Allah yang ada di hati seorang muslim. Maka al-Imam Abu Hasan Asy-Syadzili berkata: “jika hal seperti ini untuk orang-orang yang berdosa kepada Allah, maka bagaimana dengan orang yang sholih dan beriman serta banyak beribadah kepada Allah jika cahaya-Nya diperlihatkan kepada alam semesta”. Semoga Allah menerangi sanubari kita dengan cahaya, cahaya kemudahan, cahaya kebahagiaan, cahaya keluhuran, cahaya keberkahan, cahaya kemuliaan, cahaya kesucian, cahaya seluruh keindahan, serta cahaya Alloh yang memenuhi seluruh kenikmatan dan maha menjauhkan dari segala kesulitan. Rosululloh berdo’a:  وَفِيْ بَصَرِيْ نُوْرًا وَفِيْ سَمْعِيْ نُوْرًا وَعَنْ يَمِيْنِيْ نُوْرًا وَعَنْ يَسَارِيْ نُوْرًا وَفَوْقِيْ نُوْرًا وَتَحْتِيْ نُوْرًا وَأَمَامِيْ نُوْرًا وَخَلْفِيْ نُوْرًا وَاجْعَلْنِيْ نُوْرًا  “(Ya Alloh jadikanlah) cahaya di penglihatanku, cahaya di pendengaranku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya dari atasku, cahaya dari bawahku, cahaya dari depanku, cahaya dari belakangku, dan jadikanlah aku sebagai cahaya” Hal ini menunjukkan indahnya doa sayyidina Muhammad SAW, yang diriwayatkan oleh sayyidina Abdulloh bin Abbas Ra ketika ia menginap di rumah Rasulullah SAW, disaat sholat tahajjud Rasulullah SAW bangun dan ia pun ikut bangun dan berwudhu kemudian sholat, selesai sholat witir Rasulullah SAW berbaring lalu bangun dan membaca doa ini, meminta cahaya kepada Allah untuk panca inderanya, dan dalam riwayat yang lain Rasulullah juga berdoa :  وَفِيْ لَحْمِيْ نُوْرًا وَفِيْ دَمِيْ نُوْرًا وَفِيْ شَعْرِيْ نُوْرًا وَفِيْ بَشَرِيْ نُوْرًا  “Ya Alloh jadikanlah cahaya dalam dagingku, cahaya dalam darahku, cahaya di rambutku, cahaya di kulitku" Beliau meminta cahaya kepada sang pemilik cahaya, padahal beliau telah terang benderang dengan cahaya Ilahi, dan mereka yang membaca doa ini tentu hatinya akan bercahaya, jiwanya akan bercahaya, siang dan malamnya bercahaya dengan kemudahan, dengan ketenangan dan keindahan Allah, jika seseorang telah bercahaya dengan keindahan Allah maka apalah artinya keindahan dunia akhirat, semuanya akan tunduk dan berlimpah kepadanya, karena ia telah bercahaya dengan cahaya keindahan Ilahi. Allah tidak memperdengarkan hadits dan doa ini kepada kita kecuali Allah telah menyiapkan dan menganugerahkan cahaya kemuliaan doa sayyidina Muhammad SAW kepada kita semua. Wallahu a’lam. Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi Narasumber: Al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa pada Jalsatul Itsnain Majelis Rasulullah SAW, Senin 3 Mei 2010. baca juga tulisan Selanjutnya Kajian Maulid Diba' #04: "Qiila Huwa Adam"

Alhamdulillahil Qowiyyil Gholib – Kajian Maulid Diba (3)

KalamUlama.com -  Maulid Dibai  #03: Alhamdulillahil Qowiyyil Gholib   بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang اَلْحَمْدُ ِللهِ الْقَوِيِّ الْغَالِبْ. اَلْوَلِيِّ الطَّالِبِ. اَلبَّاعِثِ الْوَارِثِ الْمَانِحِ السَّالِبِ. عَالِمِ...
Sholawat Maulid Ad-Dibai  #02: "Qiila Huwa Adam" اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad)   قِيْلَ هُوَ أَدَمُ، قَالَ أَدَمُ بِهِ أُنِيْلُهُ أَعْلَى الْمَرَاتِبِ. قِيْلَ هُوَ نُوْحٌ، قَالَ نُوْحٌ بِهِ يَنْجُوْ مِنَ الْغَرَقِ وَيَهْلِكُ مَنْ خَالَفَهُ مِنَ الْأَهْلِ وَالْأَقَارِبِ. قِيْلَ هُوَ إِبْرَِاهِيْمُ، قَالَ إِبْرَاهِيْمُ بِهِ تَقُوْمُ حُجَّتُهُ عَلَى عُبَّادِ اْلأَصْنَامِ وَالْكَوَاكِبِ. قِيْلَ هُوَ مُوْسَى، قَالَ مُوْسَى أَخُوْهُ وَلَكِنْ هَذَا حَبِيْبٌ وَمُوْسَى كَلِيْمٌ وَمُخَاطِبٌ. قِيْلَ هُوَ عِيْسَى، قَالَ عِيْسَى يُبَشِّرُ بِهِ وَهُوَ بَيْنَ يَدَيْ نُبُوَّتِهِ كَالْحَاجِبْ. قِيْلَ فَمَنْ هَذَا الْحَبِيْبُ الْكَرِيْمُ الَّذِيْ اَلْبَسْتَهُ حُلَّةَ الْوَقَارِ، وَتَوَّجْتَهُ بِتِيْجَانِ الْمَهَابَةِ وَالْإِفْتِخًَارِ، وَنَشَرْتَ عَلَى رَأْسِهِ الْعَصَائِبْ. قَالَ هُوَ نَبِيُّ نِاسْتَخْرَجْتُهُ مِنْ لُؤَيِّ ابْنِ غَالِبٍ. يَمُوْتُ أَبُوْهُ وَأُمُّهُ وَيْكْفُلُهُ جَدُّهُ ثُمَّ عَمُّهُ الشَّقِيْقُ أَبُوْ طَالِبْ.    Ditanyakan oleh malaikat: “Adakah nur itu pada Nabi Adam?” Jawab Alloh: “Dengan nur ini, Aku anugerahkan kepada Adam martabat yang tinggi.” oleh malaikat: “Adakah nur itu pada Nuh?” Jawab Alloh: Dengan nur ini Nuh dapat selamat dari tenggelam dan binasalah orang-orang yang memungkirinya dari ahli keluarga dan kerabatnya.” oleh malaikat: “Adakah nur ini pada Nabi Ibrohim?” Jawab Alloh: “Dengan nur ini Ibrohim sanggup menyampaikan hujjahnya dengan mengalahkan para penyembah berhala dan bintang-bintang.” oleh malaikat: “Adakah nur ini pada Nabi Musa?” Jawab Alloh: “Musa itu adalah saudaranya, tetapi nur ini adalah kekasih-Ku dan Musa adalah penerima firman-Ku dan yang berbicara dengan-Ku.” oleh malaikat: “Adakah nur ini pada Nabi Isa?” Jawab Alloh: “Dengan nur ini nabi Isa membawa kabar akan kelahiran nur ini diantara dengan kenabiannya dalam jarak waktu sangat dekat, bagaikan mata dengan alis.” oleh Malaikat: “Lantas siapakah kekasih mulia yang telah Engkau hiasi dengan hiasan ketenteraman, Engkau beri mahkota dari mahkota kewibawaan dan kemegahan dan Engkau kibarkan bendera kepemimpinan diatasnya?” Alloh: “Dialah seorang nabi yang telah aku pilih dari keturunan Luay bin Ghalib, ayah dan ibunya telah meninggal dunia, kemudian diasuh oleh kakeknya, kemudian oleh pamannya yaitu saudara kandung ayahnya yang bernama Abu Tholib.”   اللهم صل وسلم وبارك عليه   Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) ========================== Baca Sebelumnya Kajian Maulid Diba’ #03: “Alhamdulillahil Qowiyyil Gholib” Keterangan Tambahan: Dalam kitab Nurul Musthofa yang dirangkum oleh oleh Al-Habib Murtadho bin Abdullah Alkaf diterangkan tentang keistimewaan Nur Nabi Muhammad SAW.  Segala anugerah yang telah melimpah kepada makhluk-makhluk Alloh SWT, semata-mata adalah dengan berkatnya Baginda Nabi Muhammad SAW. Bahkan segala kemuliaan para Malaikat dan Para Nabi adalah semata-mata berkat Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana yang telah diterangkan oleh Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani di kitabnya Hujjatulloh ‘Alal ‘Alamin hal 53 & 54 ; قال الشيخ يوسف بن إسماعيل النبهاني في حجة الله على العالمين   إنما ظهر الخير لأهله ببركة سيدنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وأهل الخير هم الملائكة والأنبياء والأولياء وعامة المؤمنين   Yang artinya kurang lebih; “Bahwa sesungguhnya segala kebaikan yang melimpah kepada makhluk makhluk Alloh SWT yang mulia adalah semata-mata berkat Baginda Nabi Muhammad SAW, mereka itu adalah para Malaikat, para Nabi dan semua orang-orang mukmin”. Nur Nabi Muhammad SAW pada Abul Basyar, Nabi Adam a.s, Kemudian Alloh SWT meletakkan Nur Baginda Nabi Muhammad SAW dalam punggung Nabi Adam AS, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Kitabnya Ad-Durarul Hisan Hamisy Daqo’iqul Akhbar hal 5; قال الامام جلال الدين السيوطي في الدرر الحسان هامش دقائق الأخبار ص 5: ثم ان الله تعالى استودع نور محمد صلى الله عليه وسلم في ظهره وأسجد له الملائكة وأسكنه الجنة فكانت الملائكة تقف خلف آدم صفوفا صفوفا يسلمون على نور محمد صلى الله عليه وسلم   Yang artinya kurang lebih;  “Bahwa sesungguhnya Alloh SWT telah meletakkan Nur Baginda Nabi Muhammad SAW dalam punggung Nabi Adam AS. Sehingga para malaikat sujud dan berbaris rapi di belakang Nabi Adam AS untuk menghaturkan salam kepada Nur Baginda Nabi Muhammad SAW”.   Nabi-Nabi Terdahulu Memuliakan Nur Nabi Muhammad SAW. Oleh sebab itulah, demi memuliakan Nur agung Baginda Nabi Muhammad SAW yang ada dalam dirinya, maka setiap Nabi Adam AS akan berhubungan dengan Ibu Hawwa’ maka Beliau bersuci terlebih dahulu, memakai wangi-wangian dan memerintahkan Ibu Hawwa’ untuk melakukan hal yang sedemikian rupa .   Dan suatu saat Nur tersebut benar-benar telah pindah dalam diri Ibu Hawwa’, sehingga kecantikan Ibu Hawwa’ tambah bersinar luar biasa. Tidak lama kemudian Beliau melahirkan anak laki-laki dan diberinya nama Syits. Dan Nur tersebut telah pindah dalam diri Nabi Syits AS. Dengan adanya Nur yang terlihat oleh Nabi Adam AS di muka Nabi Syits, maka Nabi Adam AS selalu memperhatikan dan menjaga Nabi Syits AS, demi memuliakan dan mengagungkan Nur Nabi Muhammad SAW yang ada dalam diri Nabi Syits AS tersebut.   Setelah Nabi Syits AS dewasa dan Nabi Adam AS merasa telah dekat ajalnya untuk menghadap kepada Alloh SWT, maka Beliau Nabi Adam AS memanggil putranya (Nabiyyulloh Syits AS) dan memberikan wasiat/amanat kepadanya; “Wahai Anakku (Syits), Sesungguhnya Alloh SWT telah mengambil perjanjian kepadamu untuk senantiasa menjaga “Nur Agung Nabi Muhammad SAW’, janganlah engkau letakkan kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya”.   Maka Nabi Syits AS menjaga teguh amanat tersebut dengan menikah dengan seorang wanita yang paling suci saat itu yang bernama Baidlo’. Dan setelah dianugerahi putra, maka Beliau Nabi Syits AS memberikan wasiat kepada putranya agar jangan meletakkan Nur Agung tersebut kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya. Demikian pula putranya melakukan hal yang sama hingga Nur Agung tersebut sampai pada Nabi Idris AS. Dan Nabi Idris AS juga melakukan hal yang sama, Beliau AS mewasiatkan kepada putranya agar jangan meletakkan Nur Agung tersebut kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya.    Hingga sampailah Nur Agung tersebut pada Nabi Nuh AS. Begitu pula Nabi Nuh AS, Beliau juga melakukan hal yang sama. Beliau berwasiat kepada putra Beliau (Sam) untuk menjaga Nur tersebut, dan jangan diletakkan kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya. Dan Sayyidina Sam putra Nabi Nuh AS juga mewasiatkan kepada putranya sebagaimana wasiat tersebut di atas, hingga sampailah silsilah mata rantai Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW kepada Nabi Ibrahim AS.   Dan kemudian dari Nabi Ibrahim AS, Nur tersebut turun kepada Nabi Ismail AS. Dan Nabi Ismail AS juga telah menjaga teguh Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW tersebut, Beliau telah mewasiatkan kepada putranya agar jangan meletakkan Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya.    Maka, wasiat tersebut senantiasa terpelihara secara berkesinambungan. Dan Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW senantiasa berpindah dari seorang ayah yang suci nan agung, ke ibu yang paling suci nan mulia nasabnya, dengan ikatan pernikahan islami yang diridloi Alloh SWT. Hingga sampailah perjalanan Nur Agung tersebut kepada Sayyidina ‘Adnan. Dari Sayidina ‘Adnan ke Sayyidina Ma’ad. Dari Sayyidina Ma’ad ke Sayyidina Nizar.   Dan telah diriwayatkan dalam kitab Hujjatullah ‘Alal ‘Alamin hal 218 bahwa tatkala Sayyidina Nizar mengetahui bahwa dalam dirinya bersemayam Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW, maka Beliau Sayyidina Nizar sangat bahagia sekali, sehingga beliau menyembelih hewan kurban yang sangat banyak untuk disedekahkan kepada umat pada masa itu. Dan begitu pula Sayyidina Nizar telah berwasiat kepada Sayyidina Mudlor (putranya). Dan Sayyidina Mudlor juga berwasiat kepada putranya hingga sampailah Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW tersebut kepada Sayyidina Hasyim.    Sampai di sinilah akhirnya berkumandang kabar gembira di seluruh penjuru dunia, bahwa sudah dekat saat datangnya Nabi akhir zaman, Seorang Nabi yang diutus Alloh SWT untuk seluruh umat manusia, seorang Nabi yang Agung nan mulia yang sempurna kepribadiannya dan agung budi pekertinya, yang sangat santun dan menyayangi umatnya dan yang paling dimuliakan dan disayangi Alloh SWT, yakni Baginda Nabi Muhammad SAW.    Maka berita tersebut telah menyebar ke seluruh penjuru dunia dan menggemparkan jagad. Hingga para ahli kitab dari kaum Yahudi dan Nashrani berebut ingin mendapati silsilah mata rantai Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW tersebut. Mereka berbondong-bondong mendatangi Sayyidina Hasyim dan berebut untuk menawarkan anak gadis mereka yang sangat cantik jelita agar dipersuntingnya. Namun Sayyidina Hasyim tidak menerima mereka semua karena teguh memegang amanat wasiat nenek moyangnya agar jangan meletakkan Nur Agung Baginda Nabi Besar Muhammad SAW kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya.    Hingga sampailah berita tersebut ke Kaisar Romawi. Maka Kaisar tersebut mengutus delegasi untuk memanggil Sayyidina Hasyim dengan tujuan untuk dinikahkan dengan putrinya yang sangat cantik jelita. Tidak ada tujuan lain kecuali dia ingin mendapati Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW, karena data-data yang akurat dan otentik tentang Nur Nabi akhir zaman telah mereka ketahui dari ulama ahli kitab yahudi dan nashrani bahwa Nur Agung tersebut telah berada dalam diri dan kepribadian Sayyidina Hasyim.   Akan tetapi Sayyidina Hasyim dengan tegas menolaknya dan berkata; والذي فضلني على أهل الزمان لا أتزوج إلا بأطهر نساء العالمين  Yang artinya kurang lebih; “Demi Alloh, Dzat yang telah melimpahkan kemuliaan kepadaku melebihi seluruh penghuni alam semesta. Sungguh aku tidak akan menikah kecuali dengan seorang wanita yang paling suci nan mulia nasabnya (sebagaimana wasiat nenek moyangku terdahulu)”   Maka, sesuai petunjuk amanat yang Beliau dapati, akhirnya Beliau menikah dengan seorang wanita yang paling suci nan mulia nasabnya pada masa itu. Dari pernikahan tersebut lahirlah Sayyidina Abdul Mutholib. Maka pindahlah Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW kepada Sayyidina Abdul Mutholib. Dan Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW sangat terlihat bercahaya terang benderang dari dahi Sayyidina Abdul Mutholib. Dan bau harum semerbak senantiasa keluar menyebar dari diri beliau. Semua itu adalah berkat Nur Baginda Nabi Muhammad SAW.   Dan sesungguhnya berkat Nur Baginda Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Abdul Mutholib senantiasa dikabulkan doanya oleh Alloh SWT. Maka orang-orang Quraisy, setiap mereka ditimpa kemarau panjang (paceklik) mereka berduyun-duyun mendatangi Sayyidina Abdul Mutholib. Akhirnya dengan dipimpin Sayyidina Abdul Muthalib mereka naik ke gunung Tsabir. Disitulah mereka bermunajat memohon Belas Kasih Sayang Alloh SWT agar melimpahkan hujan kepada mereka.    Akhirnya Alloh SWT mengabulkan permohonan mereka dengan menurunkan hujan yang deras berkat Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW yang berada pada diri Sayyidina Abdul Mutholib. Beliau Sayyidina Abdul Mutholib juga sebagai hakim di kalangan kaum Quraisy. Keputusan-keputusan beliau sangat diterima dan dihormati oleh mereka. Setiap ada masalah, rujukan utama mereka adalah Sayyidina Abdul Mutholib agar memberikan petunjuk dan keputusan untuk menyelesaikan segala urusan mereka. Beliau juga dikenal sebagai pemuda yang tekun beribadah.Berulang kali Beliau senantiasa kholwat (menetap sendirian) di Gua Hiro’.    Di situ Beliau selalu bersyukur kepada Alloh SWT yang telah menganugerahinya Nur Baginda Nabi Muhammad SAW dalam dirinya dan Beliau juga selalu bermunajat kepada Alloh SWT dan memuncakkan tafakkur tentang kemuliaan dan keagungan Dzat Pencipta alam semesta Alloh Robbul ‘Alamin. Beliau juga senantiasa beramar ma’ruf nahi munkar kepada kaumnya sesuai dengan ajaran Nabi Ibrohim AS sehingga mereka senantiasa memuliakan dan mengagungkannya.    Hingga suatu ketika Beliau Sayyidina Abdul Mutholib mendapati petunjuk dari Alloh SWT (lewat mimpi) agar Beliau menikah dengan Sayyidatina Fatimah binti Amr seorang wanita yang paling suci nan mulia nasabnya pada masa itu. Dari pernikahan tersebut, maka lahirlah Sayyidina Abdulloh ayahanda Baginda Nabi Muhammad SAW.   Sebagaimana yang telah diterangkan di kitab Madarijush Shu’ud halaman 10 bahwa sesungguhnya Sayyiduna Abdulloh Ayahanda Baginda Nabi Muhammad SAW adalah sangat cepat perkembangannya. Dalam jangka waktu sehari sudah seperti bayi usia satu bulan. Dan dalam jangka sebulan sudah seperti bayi berusia setahun. Sehingga hal itu menakjubkan semua orang, baik yang ada di perkotaan ataupun di pelosok desa yang paling dalam. Setiap orang yang memandang kepada Beliau, selalu berdecak kagum melihat kemilau cahaya yang anggun berwibawa dari mukanya dan keajaiban-keajaiban yang melimpah kepada Beliau.    Postur tubuhnya yang sempurna, ketampanan mukanya yang mempesona, dan kesantunannya yang penuh wibawa, telah menjadikan para gadis terpikat hatinya. Laksana Nabi Yusuf AS pada zamannya dahulu yang digandrungi oleh semua wanita karena ketampanannya yang mempesona dan sempurna. Maka Beliau Sayyiduna Abdulloh adalah seorang lelaki yang paling sempurna diri dan kepribadiannya pada masa itu. Sebagaimana dikatakan oleh Syeikh Ahmad Bin Zaini Dahlan di kitabnya As-Sirah An-Nabawiyyah juz 2 hal 42; قال الشيخ أحمد بن زيني دحلان الحسني في السيرة النبوية الجزء الأول ص42 : وكان أي عبد الله أحسن رجل في قريش خلقا وخلقا وكان نور النبي صلى الله عليه وسلم بينا في وجهه وكان أجملهم فشغفت به نساء قريش وكدن أن تذهل عقولهن   Yang artinya kurang lebih; “Bahwa Sesunguhnya Sayyiduna Abdulloh adalah insan yang paling sempurna diri dan pribadinya(pada masa itu). Dari muka Beliau nampak jelas berkemilau cahaya “Nur” Baginda Nabi Muhammad SAW. Dan tidak sedikit para wanita yang terpikat hatinya kepada Beliau”   Dahsyatnya pesona dan kesempurnaan pribadi Sayyiduna Abdulloh ayahanda Baginda Nabi Muhammad SAW, bukan hanya terkenal di kalangan suku Quraisy saja. Bahkan para ulama ahli kitab di Syam Palestina juga mengakuinya. Sehingga setiap ada orang dari suku Quraisy bersinggah di tempat mereka, selalu diberi wasiat bahwa Nur yang ada pada diri Sayyiduna Abdulloh, sesungguhnya adalah Nur Nabi akhir zaman, yakni Baginda Nabi Muhammad SAW. Tujuan utama dari wasiat tersebut adalah agar senantiasa dijaga Nur Baginda Nabi Muhammad SAW yang ada pada diri Sayyiduna Abdulloh tersebut dan dilindungi dari orang-orang yang hasud dan orang-orang yang ingin mencelakakannya.    Sebagaimana telah diterangkan oleh Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani di kitabnya Hujjatullah ‘Alal ‘Alamin hal 220 ; قال الشيخ يوسف بن إسماعيل النبهاني في حجة الله على العالمين ص 219 : لم يبق حبر من أحبار الشام إلا علم بمولده ثم كان لا يقدم عليهم رجل من أهل الحرام إلا سألوه عن عبد الله كيف تركوه فيقول تركناه يتلألأ حسنا وجمالا وكمالا فتقول الأحبار يا معشر قريش إن ذلك النور ليس لعبد الله بن عبد المطلب وإنما هو لمحمد صلى الله عليه وسلم يخرج من ظهره في آخر الزمان يغير عبادة الأصنام   Yang artinya kurang lebih; “Bahwa sesungguhnya para ulama ahli kitab di Syam (Palestina) telah mengetahui Nur Baginda Nabi Muhammad SAW pada diri Sayyiduna Abdulloh. Setiap ada penduduk Makkah bersinggahdi tempat mereka selalu diberi wasiat olehnya dengan berkata ;   ……….Ketahuilah oleh kalian semua wahai kaum Quraisy, kemilau cahaya yang ada pada diri Abdulloh sesungguhnya adalah Nur Nabi akhir Zaman Baginda Nabi Muhammad SAW yang akan datang membawa agama tauhid untuk meng-Esakan Alloh Robbul ‘Alamin”.   Maka, tatkala Beliau Sayyiduna Abdulloh genap berusia 18 tahun, Beliau diajak oleh ayahandanya (Sayyiduna Abdul Mutholib) untuk dinikahkan dengan Sayyidatuna Aminah binti Wahab seorang wanita yang paling suci dan paling mulia nasabnya pada saat itu. Namun di tengah perjalanan mereka berdua bertemu dengan serombongan wanita yang cantik jelita. Serentak semuanya berebutan untuk menawarkan dirinya kepada Sayyiduna Abdulloh. Namun Sayyiduna Abdulloh tidak bersedia, karena Beliau teguh memegang amanah untuk tidak menikah kecuali pada wanita yang paling suci dan mulia nasabnya.    Dan bahkan ada juga seorang wanita ahli kitab yang bersedia untuk mempersembahkan 100 onta asal Sayyiduna Abdulloh mau pada wanita tersebut. Tetapi dengan tegas Sayyiduna Abdulloh tetap menolak semua ajakan dan tawaran tersebut. Beliau tetap teguh untuk menjaga kesucian dan kemuliaan yang ada pada dirinya, dan akhirnya Beliau menikah dengan Sayyidatuna Aminah binti Wahab, seorang gadis yang paling suci nan mulia nasabnya pada masa itu.    Maka, pindahlah Nur Baginda Nabi Muhammad SAW dari ayahanda tercinta Sayyiduna Abdulloh ke dalam kandungan ibundanya tercinta Sayyidatuna Aminah Binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhrah.   Kesucian nasab yang telah Alloh SWT jaga sejak Nabi Adam AS hingga Sayyiduna Abdulloh tersebut, semata-mata adalah suatu penghormatan besar dari Alloh SWT dan Belas Kasih Sayang-Nya kepada kekasih-Nya Baginda Nabi Muhammad SAW. Semuanya melalui proses pernikahanislami yang diridloi Alloh SWT. Sebagaimana yang disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir juz 2 hal 403; ذكر الإمام أبو الفداء إسماعيل ابن كثيرفي تفسير إبن كثير الجزء الثاني ص 403 عن علي بن أبي طالب كرم الله وجهه قال النبي صلى الله عليه وسلم خرجت من نكاح ولم أخرج من سفاح من لدن آدم إلى أن ولدني أبي وأمي ولم يمسني من سفاح الجاهلية شيء    Yang artinya kurang lebih; “Diriwayatkan dari Sayyidina Ali Karromallohu Wajhah, bahwa sesungguhnya Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda; “Sesungguhnya aku (Nabi Muhammad SAW) adalah terlahir dari orang-orang suci nan mulia nasabnya melalui pernikahan yang sah (diridloi Alloh SWT). Sejak Nabi Adam AS hingga kedua orang tuaku (Sayyid Abdulloh dan Sayyidah Aminah), semuanya melalui pernikahan yang sah (diridloi Alloh SWT), tidak ada sedikitpun yang menyimpang”.    Dan sesungguhnya dengan adanya berbagai macam peristiwa luar biasa yang dialami oleh Sayyiduna Abdulloh tersebut, semata-mata adalah sebagai tanda yang sangat jelas terang-benderang atas dekatnya waktu kedatangan Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Hafidh Abu Na’im Al-Ashfahani di kitabnya Dala’ilun Nubuwwah Juz 1 hal 167 ;   قال الإمام الحافظ الكبير أبو نعيم الأصفهاني في دلائل النبوة الجزء الأول ص 167 : ففي ابتغاء اليهود واليهودية وضع هذا النور الذي انتقل إلى آمنة بنت وهب فيها وذكرهم بني زهرة وأن هذالأمر لا يكون فيهم دلالة واضحة على تقديم الخبر والبشارة بذلك في الكتب السالفة وما يكون من أمر النبي صلى الله عليه وسلم وبعثته كل ذلك آيات واضحة وبراهين صحيحة لائحة على نبوته وبعثته صلى الله عليه وسلم.   Yang artinya kurang lebih; “Bahwa sesungguhnya segala keajaiban yang ada pada diri Sayyiduna Abdulloh sampai para ahli kitab menginginkan Nur yang ada pada diri beliau, serta tersohornya kabar berita Nur tersebut di kitab-kitab terdahulu, semata-mata hanyalah sebagai tanda-tanda yang jelas dan bukti yang konkrit atas Kenabian Baginda Nabi Muhammad SAW”. Bahwa sesungguhnya, manakala Sayyidatuna Aminah Binti Wahab mengandung Baginda Nabi Muhammad SAW. Seketika itu pula terjadilah berbagai macam keajaiban-keajaiban dunia yang menggemparkan jagad. Segala peristiwa tersebut, bukan hanya di daratan dan lautan saja. Bahkan di alam malakut lebih dahsyat dan menakjubkan.    Konkritnya adalah pada malam Jumu’ah bulan Rojab, detik itulah momen yang paling bersejarah bagi seluruh umat manusia. Saat itulah terjadi perpindahan Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW dari Sayyiduna Abdulloh ke dalam kandungan Sayyidatuna Aminah.    Maka, pada malam itulah datang perintah dari Alloh SWT kepada malaikat Ridlwan agar membuka seluruh pintu surga dan Alloh SWT perintahkan kepada malaikat-Nya untuk mengumandangkan seruan telah tiba saat datangnya Nabi Akhir zaman Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana yang diterangkan oleh Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani di kitabnya Hujjatullah ‘Alal-‘Alamin hal 226 dan 223;    قال الشيخ يوسف بن إسماعيل النبهاني في حجة الله على العالمين ص 226 : قال سهل بن عبد الله التستري لما أراد الله تعالى خلق محمد صلى الله عليه وسلم في بطن أمه آمنة ليلة رجب وكانت ليلة الجمعة أمر الله تعالى في تلك الليلة رضوان خازن الجنان أن يفتح الفردوس وينادي مناد في السموات والأرض ألا إن النور المخزون المكنون الذي يكون منه النبي الهادي في هذه الليلة يستقر في بطن أمه الذي يتم خلقه ويخرج للناس بشيرا ونذيرا.   Yang artinya kurang lebih; “Bahwa sesungguhnya manakala Alloh SWT menghendaki untuk mewujudkan Baginda Nabi Muhammad SAW dalam kandungan ibundanya pada malam Jumu’ah bulan Rojab, maka Alloh SWT perintahkan kepada malaikat Ridlwan (penjaga surga) agar membuka seluruh pintu surga dan berkumandanglah seruan di langit dan di bumi; ……….(Wahai seluruh makhluk, perhatikanlah oleh kalian semua)..Sesungguhnya Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW sekarang telah berada dalam kandungan ibundanya. Kelak, Beliaulah yang akan muncul sebagai Nabi yang membawa petunjuk dan pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan kepada umat manusia”.   Maka, seketika itu juga seluruh binatang yang ada di laut, di daratan, dan di angkasa saling memberi kabar gembira kepada temannya masing-masing. Yang di barat lari ke timur, yang di timur lari ke barat, yang di utara lari ke selatan dan yang di selatan lari ke utara untuk saling membawa berita gembira. Yang lebih menakjubkan lagi adalah binatang-binatang yang ada di sekitar Makkah, seperti kuda, onta, rusa dan lain sebagainya bisa mengucapkan dengan bahasa arab yang fasih, sehingga orang-orang pada masa itu sangat takjub melihat peristiwa langka tersebut. Perkataan hewan-hewan tersebut adalah ; حمل برسول الله صلى الله عليه وسلم ورب الكعبة وهو أمان الدنيا وسراج أهلها   “Sungguh demi Alloh SWT Dzat yang menguasai Ka’bah, saat ini Baginda Rosululloh SAW telah berada dalam kandungan ibundanya. Beliaulah yang kelak akan membawa kedamaian di muka bumi ini dan Beliaulah yang akan menerangi umat dengan ajaran-ajarannya…” Dan saat itu pula, serentak seluruh singgasana para penguasa, raja dan kaisar sedunia, semuanya jatuh dan terjungkal ke bawah, sehingga para penguasa tersebut tercekat kebingungan, diam seribu bahasa dan tidak bisa berkata apa-apa seharian penuh. Begitu pula seluruh patung-patung sedunia terjungkal jatuh berantakan. Para dukun-dukun seketika lenyap ilmu mereka, tak bisa menebak/meramal sesuatu dengan benar. Dan dari bulan ke bulan senantiasa terdengar seruan malikat yang berkumandang di langit dan di bumi untuk memberi berita gembira kepada seluruh makhluk-makhluk Alloh SWT.    Baca Selanjutnya Kajian Maulid Diba’ #05 “Yub’atsu min Tihamah”   Wallahu a’lam bishshowaab  Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi

Qiila Huwa Adam – Kajian Maulid Diba dan Terjemahnya (04)

KalamUlama.com - Maulid Dibai  #02: "Qiila Huwa Adam" اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad)   قِيْلَ هُوَ أَدَمُ، قَالَ...
KalamUlama.com - Terjemah Kajian Kitab Qurrotul Uyun (Fiqih Nikah) #1: Muqoddimah Kitab Sakti Pasangan Suami IstriBukan hal asing lagi bagi kalangan santri

Terjemah Qurrotul Uyun – Kitab Sakti Pasangan Suami Istri (Pasutri)

KalamUlama.com - Terjemah Qurrotul Uyun (Fiqih Nikah) #1: Muqoddimah Kitab Sakti Pasangan Suami Istri. Bukan hal asing lagi bagi kalangan santri dan para pelajar islam dengan...
Kalam Ulama - SANAD DALAILUL KHOIROT LIRBOYO, SHAHIHKAH? - Gus Ahmad Syauqi Budeiri, mahasiswa di Ma'had Imam Malik kota Tetouan, melayangkan pertanyaan mengenai sanad kitab Dalailul Khairat karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli kepada Maulana Al-Imam Al-Allamah Al-Muhaddits Asy-Syarif Sayyidi Dr. Abdul Mun'im ibn Ash-Shiddiq Al-Ghumari Al-Idrisi Al-Hasani. Oleh Maulana Al-Imam, sanad tersebut diserahkan kepada saya untuk diteliti. Sanad tersebut sebagai berikut. عن الشيخ أحمد إدريس مرزوقي عن شيخه الشيخ مرزوقي دخلان عن شيحه عبد الكريم عن شيخه الشيخ هاشم أشعري عن شيخه الشيخ دمياطي بن عبد الله الترمسي عن الشيخ محفوظ بن عبد الله الترمسي (ح) عن الشيخ أحمد إدريس مرزوقي عن الشيخ دلهر النحروي بن عبد الرحمن وعن الشيخ بيضاوي بن عبد العزيز اللاسمي وعن الشيخ عبد الحليم بن صديق الجمباري عن الشيخ هاشيم أشعري عن الشيخ محفوظ بن عبد الله الترمسي عن الشيخ محمد أمين بن أحمد رضوان المدني عن الشيخ يوسف المدني عن الشيخ محمد بن أحمد المذغوري عن الشيخ محمد بن أحمد بن أحمد المشنى عن الشيخ أحمد إبن الحاج عن الشيخ عبد القادر الفاسي عن الشيخ أحمد المقري عن الشيخ أحمد بن أبي العباس الصماعي عن الشيخ أحمد بن موسى السملالي عن الشيخ عبد العزيز التباع عن المؤلف الشيخ أبي عبد الله محمد بن سليمان الجزولي. Dari Syekh Ahmad Idris Marzuqi dari Syekh Marzuqi Dahlan dari Syekh Abdul Karim dari Syekh Hasyim Asy'ari dari gurunya, Syekh Dimyathi bin Abdullah At-Tarmasi, dari Syekh Mahfudz bin Abdullah At-Tarmasi. Juga dari jalur Syekh Ahmad Idris Marzuqi dari Syekh Dalhar Nahrawi bin Abdurrahman dari Syekh Baidhawi bin Abdul Aziz Al-Lasmi dari Syekh Abdul Halim bin Shiddiq Al-Jimbari dari Syekh Hasyim Asy'ari dari Syekh Mahfudz bin Abdullah At-Tarmasi dari Syekh Muhammad Amin bin Ahmad Ridhwan Al-Madani dari Syekh Yusuf Al-Madani dari Syekh Muhammad bin Ahmad Al-Madzghuri dari Syekh Muhammad bin Ahmad bin Ahmad Al-Musyanna dari Syekh Ahmad ibn Al-Hajj dari Syekh Abdul Qadir Al-Fasi dari Syekh Ahmad Al-Muqri dari Syekh Ahmad bin Abul Abbas Ash-Shuma'i dari Syekh Ahmad bin Musa As-Samlali dari Syekh Abdul Aziz At-Tabba' dari Syekh Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli. Adapun kesimpulan saya sebagai berikut. Pertama, sanad ini adalah sanad Maqlub sebab ada rawi yang berputar namanya. Kalau diperhatikan perawi Syekh Muhammad Amin bin Ahmad Ridhwan Al-Madani (1252–1329 H) mengambil dari Syekh Yusuf Al-Madani. Ini kurang tepat. Seharusnya Syekh Muhammad Amin bin Ahmad Ridhwan Al-Madani mengambil dari Syekh Ali bin Yusuf Al-Madani. Sebab Syekh Muhammad Amin memang sezaman dengan beliau dengan dalil bahwa penulis kitab Dzafrul Amani, Syekh Muhammad Abdul Hayy Al-Laknawi, yang mengambil ijazah dari beliau pada tahun 1200 di toko beliau di Madinah. Syekh Ali, atau Ali bin Yusuf Malik Bisyli Al-Madani Al-Hariri memang dikenali dengan ahli kitab Dalailul Khairat. Beliau adalah seorang pedagang sutera di Madinah. Toko beliau dekat dengan Bab Salam atau Bab Rahmah. Beliau mampu melayani pemberi seraya mendengarkan bacaan kitab Dalail murid-muridnya dan membenarkan jika ada salah. Kedua, sanad ini munqati sebab ada rawi yang terputus. Syekh Ali bin Yusuf Al-Madani tidak ada catatan ke Maroko, sedang Syekh Muhammad bin Ahmad Al-Madghuri (1173–1273 H) tinggal di Maroko. Kemungkinan ada wasilah di sini atau bertemu saat musim haji. Selain itu, Syekh Ahmad bin Musa As-Samlali memang bertemu dan semasa dengan Syekh Abdul Aziz At-Tabba, hanya saja tidak tsabit atasnya pengambilan. Kemungkinan As-Samlali mengambil dari gurunya, Al-Quthb Abdullah Al-Ghazwani Al-Marrakasyi, yang merupakan murid At-Tabba. Sebagaimana ditulis oleh Al-Musnid Syekh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani Al-Makki dalam ta'liq beliau terhadap Kifayatul Mustafid. Hanya saja Al-Fadani menyebut dengan nama Al-Ghazni. Kemungkinan salah cetak. Ketiga, sanad ini majhul sebab ada rawi yang tak dikenali. Dia adalah Syekh Muhammad bin Ahmad bin Ahmad Al-Musyanna yang mengambil riwayat dari Ahmad ibn Al-Hajj (1042–1109 H) dan yang mengambil daripada beliau Syekh Muhammad bin Ahmad Al-Madghuri atau Al-Alawi Al-Madghuri (1173–1273 H). Saya sudah mencari di berbagai sumber, khususnya kitab Al-A'lam Al-Maghribi, dan saya tidak menemukan orang ini. Senadainya orang ini benar ada, saya rasa namanya adalah Muhammad bin Ahmad bin Ahmad Al-Mutsanna, bukan Al-Musyanna. Sebab tak ada nama keluarga maupun daerah Al-Musyanna di Maroko yang saya temukan. Al-Mutsanna kemungkinan sebab ayahnya namanya Ahmad, membedakan dengan nama kakeknya yang juga Ahmad. Orang dengan nama seperti ini adalah perawi hadis di zaman salaf, bukan sufi di masa khalaf. Kalaupun orang ini ada, maka ini kemungkinan ia menutup nama orang di atasnya, sekitar satu atau dua. Riwayat beliau kemungkinan munqati atau mu'dhal. Sebab jarak wafat Ibn Al-Hajj dengan lahir Al-Madghuri saja 64 tahun. Sehingga usia Al-Mutsanna paling kurang sekitar 70-an tahun. Orang inilah yang membuat riwayat ini tinggi dan dia adalah rawi majhul. Kesimpulannya, riwayat ini mengandung munqalab, munqati, dan majhul serta kemungkinan besar mu'dhal. Kendati demikian, kita tak bisa memungkiri orang-orang lain dalam sanad ini. Mereka adalah orang-orang besar di zamannya. Kedhaifan riwayat dari segi jalur periwayatan tak membuat matan riwayat, yakni kitab Dalailul Khairat, ini salah. Tidak sama sekali. Hanya saja ini adalah jawaban bagi pertanyaan yang dilayangkan. Ini adalah hasil sementara. Sebab memang beberapa nama masih dalam pelacakan. Saya masih menunggu beberapa naskah, seperti Al-Ma'sul (biografi ulama-ulama Marakesh) dan lainnya. Semoga sanad ini tsabit dengan dalil naskah-naskah tersebut. Wallahu subhanahu wa ta'ala a'lam. Tanger, 9 Februari 2019 Ustadz Adhli Al-Qarni

SANAD DALAILUL KHOIROT LIRBOYO, SHAHIHKAH?

Kalam Ulama - SANAD DALAILUL KHOIROT LIRBOYO, SHAHIHKAH? - Gus Ahmad Syauqi Budeiri, mahasiswa di Ma'had Imam Malik kota Tetouan, melayangkan pertanyaan mengenai sanad kitab...
Kajian Islam (Kalam ulama). Hukum menyapu, memasak dan mencuci pakaian suami bagi istri Sudah menjadi adat di Negara Indonesia istri bertugas mengurusi pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, mengurus anak atau biasa orang jawa sebut 3M (macak, manak, masak). Sedangkan suami bertugas mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan adapula istri yang merangkap bekerja disamping mengerjakan 3M tersebut. Sungguh mulia dan luar biasa memang perempuan Indonesia. Berbahagialah menajadi perempuan Indonesia. Sebagai seorang perempuan apakah pernah tersirat dibenaknya melakukan pekerjaan rumah, seperti memasak, menyapu, dan mencuci pakaina suami termasuk sebuah kewajiban ataukah hanya adat kebiasaan. Untuk lebih jelasnya mari kita bahas. (Baca juga :Mar’atun Su’un : Perempuan Paling Dibenci Rasulullah) Menurut Imam Syafi’i menyapu, memasak, mencuci pakaian suami dan yang serupa hukumnya tidak wajib, tetapi hukumnya wajib bagi suami memberitahukan kepada istrinya bahwasannya melakukan hal diatas tidak wajib.  Namun akan berbeda lagi kalau suami memerintahkan istrinya untuk melakukan perkerjaan diatas, maka hukumnya menjadi wajib. Disini kewajibannya bukan karena kewajiban melakukan pekerjaan tersebut tapi wajibnya karena memenuhi perintah suami. قال الجوزجاني وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم : لو كنت امرا أحدا أن يسجد لاحد لامرت المرأة أن تسجد لزوجها ولو أن رجلا أمر امرأته أن تنقل من جبل أسود إلى جبل أحمر أو من جبل أحمر إلى جبل أسود كان عليها أن تفعل . ورواه بإسناده. Al-Jauzajani berkata : Nabi SAW bersanda : “ Ketika saya menjadi seseorang penyuruh seseorang untuk bersujud, maka sungguh aku perintahkan perempuan (istri) bersujud kepada suaminya. Saat seorang lelaki (suami) memerintahkan istrinya berpindah dari gunung hitam sampai gunung merah atau dari gunung merah sampai gunung hitam, maka wajib bagi istri melakukannya.” HR. Al-jauzajani dengan sanad dari beliau. As-Syankithi al-Hanbali dalam kitabnya “Umdatul fiqhi” juz 6 halaman 360 : “Bagi wanita ada beberapa hak-hak seperti pada lelaki juga terdapat hak-hak pula yaitu hal yang ma’ruf. Hal ma’ruf itu adakalanya urf (kebiasaan) seperti perkataan jumhur ulama (kebanyakan ulama). Kebiasaan para sholihiin dan kaum muslimin pada setiap waktu dan zaman adalah perempuan melayani pekerjaan rumahnya. Lihatlah Ummul mu’minin, mereka melakukan pekerjaan rumah  rasulullah SAW dalam hadist shohihaini dari  ummul mu’minin Aisyah.” Oleh : Hamzah Alfarisi

Hukum Menyapu, Memasak dan Mencuci Pakaian Suami Bagi Istri

Kajian Islam (Kalam ulama). Hukum menyapu, memasak dan mencuci pakaian suami bagi istri Sudah menjadi adat di Negara Indonesia istri bertugas mengurusi pekerjaan rumah seperti memasak,...

Kajian I’anatun Nisa’ #02: Pengertian dan Dasar Haid

Haid dalam segi bahasa artinya mengalir. Dalam kitab Fathul Qorib halaman 10 dijelaskan bahwa haid adalah darah yang keluar dari seorang wanita pada usia haid, yaitu...
Kalam Ulama - Berikut merupakan tulisan tentang hukum menelan dahak saat puasa. Air ludah yang tidak tercampur dengan zat-zat lain itu boleh di telan walaupun sedang melaksanakan puasa. Hal itu dikarenakan sangat sulitnya menjaga darinya (untuk tidak menelannya). Maka setiap kali air ludah mengumpul tidak wajib bagi orang yang berpuasa untuk meludahkannya. Adapun dahak yang bersumber dari paru-paru demikian juga lendir yang berasal dari kepala ketika sampai kerongga mulut dan di telan, maka hal itu membatalkan puasa menurut madzhab Syafi’i. Karena praktek ini tergolong dalam kategori memasukkan sesuatu keperut dari rongga yang terbuka dan tidak sulit juga untuk menjaga darinya (tidak menelannya), sehingga termasuk dalam hal-hal yang membatalkan puasa. Namun ada juga sebagian ulama yang menyatakan bahwa menelan dahak itu tidak membatalkan puasa selama dahak tersebut belum sampai pernah keluar dari rongga mulut melewati dua bibir. Bahkan ada pula yang menyamakan antara menelan dahak dengan menelan ludah, sehingga hukum menelannya secara mutlak adalah boleh. Dengan demikian maka boleh bagi yang mempunyai masalah berat dengan dahak atau lender untuk memakai pendapat ketiga tadi sebagai bentuk sebuah keringanan. Adapun yang sehat hendaknya memilih pendapat yang pertama atau yang kedua. Masalah : Ketika orang yang sedang berpuasa melaksanakan sholat dan merasakan dahaknya sudah menggumpal sedangkan dia mengambil pendapat pertama yang menyatakan bahwa menelan dahak itu membatalkan puasa. Apa yang harus dia lakukan? Yang harus dilakukan oleh orang yang mempunyai masalah di atas adalah tetap harus meludahkan dahak tersebut dan tidak boleh menelannya, karena menelannya termasuk hal yang membatalkan puasa. Dan ketika dia sholatnya adalah di masjid hendaknya tidak meludahkannya sembarangan karena hal itu akan mengotori masjid tersebut. Maka hendaknya dia sediakan selalu tisu atau semacamnya di saku sebagai tempat pembuangannya ketika merasa sedang bermasalah dengan dahak. Itupun dengan gerakan kecil yang tidak terhitung bias membatalkan sholatnya. Demikian penjelasan hukum menelan dahak saat puasa. semoga bermanfaat. ___ Sumber : Mausu’ah Ahsanil Kalam fil Fatawa wal Ahkam Syekh Athiyah Shoqr Baca Juga :Menyambut Bulan Ramadhan, 5 Hal yang Penting Diketahui!!!

Hukum Menelan Dahak Saat Puasa – Kajian Mausu’ah Ahsanil Kalam #03

Kalam Ulama - Berikut merupakan tulisan tentang hukum menelan dahak saat puasa. Air ludah yang tidak tercampur dengan zat-zat lain itu boleh di telan...

Kajian Kifayatul Atqiya’ #03: Membuka Rahasia Basmalah dalam Kifayah

Salah satu ciri umat islam yang baik terdapat pada perilaku kesehariannya, dengan banyaknya ia ingat terhadap Tuhannya. Salah satu ajaran yang dianjurkan oleh nabi...
Kalam Ulama - Tabayyun Hasil Munas 2019, Status Non Muslim? Rancangan jawaban Munas ini masih dalam penyusunan redaksi oleh Tim LBM diantaranya adalah Ust. Taha Ahmadmun. Namun karena sudah terlanjur menjadi berita yang ditafsirkan sesuai nafsu kebencian kepada NU, maka perlu saya jelaskan beberapa poin yang dimaksud. Terminologi dalam kitab fikih kita ada Darul Islam dan Darul Kuffar. Sementara warga negara yang terdapat dalam Darul Islam ada beberapa sebutan: 1. Kafir harbi, yaitu orang yang memerangi umat Islam dan (karena itu) boleh diperangi. 2. Kafir dzimmi, yakni orang yang membayar jizyah untuk mendapatkan perlindungan. Mereka tidak boleh diperangi. 3. Kafir mu'ahad, yaitu orang yang melakukan perjanjian damai dalam beberapa tahun. Mereka juga tidak boleh diperangi. 4. Kafir musta'min, yakni orang yang meminta perlindungan. Mereka tidak boleh diperangi. Yang dimaksud keputusan Munas NU bahwa nonmuslim di Indonesia tidak ada yang memenuhi kriteria tersebut, sehingga disebut warga negara dalam nation-state atau negara-bangsa.  (Konfirmasi ini saya dapatkan dari KH Asyhari Ketua LBM PWNU Jatim). Penyebutan nonmuslim untuk warga negara yang tidak beragama Islam di Indonesia sama sekali tidak ada hubungan dengan istilah kafir i'tiqad atau kufur nikmat dll, apalagi sampai mengingkari adanya kalimat "kafir" di dalam Al-Qur'an atau mengubah Surat Al-Kafirun menjadi Surat "Non Muslimin". Wal iyadzu Billah. (Dari Kiai Ma'ruf Khozin, Direktur Awaja NU Centre, salah seorang peserta Munas Alim Ulama dan Konbes NU) Untuk menyikapi pemberitaan yang sudah menggelinding dimasyarakat terkait hasil Munas tersebut, menurut KH Afifuddin Muhajir perluanya melakukan tabayyun karena perlu diketahui bahwa persoalan serumit ini tidak mungkin dipahami oleh orang yang pengetahuan agamanya rendah. orang yang sudah mengaji bertahun-tahun pun akan masih susah memahami pesoalan ini.

Tabayyun Hasil Munas 2019, Bahtsul Masail Status Non Muslim?

Kalam Ulama - Tabayyun Hasil Munas 2019, Status Non Muslim? Rancangan jawaban Munas ini masih dalam penyusunan redaksi oleh Tim LBM diantaranya adalah Ust. Taha...

Kajian Qurratul Uyun #01 “Muqaddimah dan Keutamaan Lafal Basmalah”

Qurratul Uyun merupakan kitab buah karya Syaikh Muhammad At-Tahami bin Madani. Kitab ini merupakan kitab penjabaran yang menguraikan karya Syaikh al imam al alim...

Stay connected

4,435FansLike
14,890FollowersFollow
4FollowersFollow
1,842FollowersFollow
1,521SubscribersSubscribe
- Advertisement -
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Popular Post

KalamUlama.com - Suara Sulthonul Qulub al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa saat membaca qosidah al-Imam al-Habib Umar Muhdhor bin Abdurrohman Assegaf. Qosidah Man Ana Laulakum ini juga sering beliau baca di hadapan Guru Mulia al-Musnid al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. Beliau awali dengan doa: بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" Berikut bait Qosidah "Man Ana" (Siapa Diriku): مَنْ أَنَا مَنْ أَنَا لَوْلَاكُم # كَيْفَ مَا حُبُّكُمْ كَيْفَ مَا أَهْوَاكُم Siapakah diriku, siapakah diriku kalau tiada bimbingan kalian (guru) Bagaimana aku tidak cinta kepada kalian dan bagaimana aku tidak menginginkan bersama kalian مَا سِوَيَ وَلَا غَيْرَكُم سِوَاكُم # لَا وَمَنْ فِى المَحَبَّةِ عَلَيَّ وُلَاكُم Tiada selain ku juga tiada selainnya terkecuali engkau, tiada siapapun dalam cinta selain engkau dalam hatiku أَنْتُم أَنْتُم مُرَادِي وَ أَنْتُم قَصْدِي # لِيْسَ احدٌ فِى المَحَبَّةِ سِوَاكُم عِنْدِي Kalianlah, kalianlah dambaanku dan yang kuinginkan, tiada seorangpun dalam cintaku selain engkau di sisiku كُلَّمَا زَادَنِي فِى هَوَاكُم وَجْدِي # قُلْتُ يَا سَادَتِي مُحْجَتِي تَفْدَاكُم Setiap kali bertambah cinta dan rindu padamu, maka berkata hatiku wahai tuanku semangatku telah siap menjadi tumbal keselamatan dirimu لَوْ قَطَعْتُمْ وَرِيْدِي بِحَدِّ مَا ضِي # قُلْتُ وَاللهِ أَنَا فِى هَوَاكُم رَاضِي Jika engkau menyembelih urat nadiku dengan pisau berkilau tajam, kukatakan demi Alloh aku rela gembira demi cintaku padamu أَنْتُمُ فِتْنَتِي فِى الهَوَا وَمُرَادِي # مَا ِرِضَايَ سِوَى كُلُ مَا يَرْضَاكُم Engkaulah yang menyibukkan segala hasrat dan tujuanku, tiada ridho yang aku inginkan terkecuali segala sesuatu yang membuat mu ridho كُلَّمَا رُمْتُ إِلَيْكُم نَهَوْ مَنْ أَسْلَك # عَوَقَتْنِيْ عَوَائِق أَكَاد أَنْ أَهْلِك Setiap kali ku bergejolak cinta padamu selalu terhalang untuk aku melangkah, mereka mengganjalku dengan perangkap yang banyak hampir saja aku hancur فَادْرِكُوا عَبْدَكُم مِثْلُكُمْ مَنْ أَدْرَكْ # وَارْحَمُوا بِا المَحَبَّةِ قَتِيْل بَلْوَاكُم Maka tolonglah budak kalian ini, dan yang seperti kalianlah golongan yang suka menolong, dan kasihanilah kami dengan cinta kalian, maka cinta kalian membunuh dan memusnahkan musibahku Sumber: Muhammad Ainiy

Man Ana Laulakum (Siapa Diriku) Lirik, Latin, dan Terjemahannya

KalamUlama.com - Suara Sulthonul Qulub al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa saat membaca qosidah al-Imam al-Habib Umar Muhdhor bin Abdurrohman Assegaf. Qosidah Man Ana Laulakum ini...
Kumpulan Doa dan Dzikir (Kalam Ulama) - Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta الفصل الأول : في الغزل وشكوى الغرام Bagian Pertama: Bercumbu dan Pengaduan Cinta مَوْلَايَ صَلِّي وَسَلِّـمْ دَآئِــماً أَبَـدًا ۞ عَلـــَى حَبِيْبِـكَ خَيْــرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ هُوَالْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ ۞ لِكُلّ هَوْلٍ مِنَ الْأِهْوَالِ مُقْتَحِـــــــمِ أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَــــلَــمٍ ۞ مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَيْ مِنْ مُقْلَةٍ بِـــدَمِ Apakah karena mengingat para kekasih di Dzi Salam[1] sana. Engkau deraikan air mata dengan darah duka. أَمْ هَبَّتِ الرِّيْحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَاظِمَـــةٍ ۞ وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِيْ الْضَمَآءِ مِنْ إِضَـمِ Ataukah karena hembusan angin terarah lurus berjumpa di Kadhimah[2]. Dan kilatan cahaya gulita malam dari kedalaman jurang idham [3]. فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَــا ۞ وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِـــــمِ Mengapa kedua air matamu tetap meneteskan airmata? Padahal engkau telah berusaha membendungnya. Apa yang terjadi dengan hatimu? Padahal engkau telah berusaha menghiburnya. أيَحَسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتـــِمٌ ۞ مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمضْطَــــرِمِ Apakah diri yang dirundung nestapa karena cinta mengira bahwa api cinta dapat disembunyikan darinya. Di antara tetesan airmata dan hati yang terbakar membara. لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمْعاً عَلَي طَـلَلٍ ۞ وَلاَ أرَقْتَ لِذِكْرِ الْبَانِ وَالْعَلـَـــمِ Andaikan tak ada cinta yang menggores kalbu, tak mungkin engkau mencucurkan air matamu. Meratapi puing-puing kenangan masa lalu berjaga mengenang pohon ban dan gunung yang kau rindu. فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُباًّ بَعْدَ مَا شَــهِدَتْ ۞ بِهِ عَلَيْكَ عُدُوْلُ الدَّمْعِ وَالسَّـــقَمِ Bagaimana kau dapat mengingkari cinta sedangkan saksi adil telah menyaksikannya. Berupa deraian air mata dan jatuh sakit amat sengsara. وَأَثْبَتَ الْوَجْدُ خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَّضَــنىً۞ مِثْلَ الْبَهَارِمِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَــــمِ Duka nestapa telah membentuk dua garisnya isak tangis dan sakit lemah tak berdaya. Bagai mawar kuning dan merah yang melekat pada dua pipi. نَعَمْ سَرَى طَيْفُ مَنْ أَهْوَى فَأَرّقَنِي ۞ وَالْحُبّ يَعْتَرِضُ اللّذّاتَ بِالَلَــــــمِ Memang benar bayangan orang yang kucinta selalu hadir membangunkan tidurku untuk terjaga. Dan memang cinta sebagai penghalang bagi siempunya antara dirinya dan kelezatan cinta yang berakhir derita. يَا لَا ئِمِي فِي الهَوَى العُذْرِيِّ مَعْذِرَةً ۞ مِنّي إِلَيْكَ وَلَوْ أَنْصَفْتَ لَمْ تَلُمِ Wahai pencaci derita cinta kata maaf kusampaikan padamu. Aku yakin andai kau rasakan derita cinta ini tak mungkin engkau mencaci maki. عَدَتْكَ حَـــالِـي لَاسِرِّيْ بِمُسْتَتِرٍ ۞ عَنِ الْوِشَاةِ وَلاَ دَائِيْ بِمُنْحَسِــمِ Kini kau tahu keadaanku, tiada lagi rahasiaku yang tersimpan darimu. Dari orang yang suka mengadu domba dan derita cintaku tiada kunjung sirna. مَحّضْتَنِي النُّصْحَ لَكِنْ لَّسْتُ أَسْمَعُهُ ۞ إَنّ الُحِبَّ عَنِ العُذَّالِ فِي صَمَمِ Begitu tulus nasihatmu, tapi aku tak mampu mendengar semua itu. Karena sesungguhnya orang yang dimabuk cinta tuli dan tak menggubris cacian pencela. إِنِّى اتَّهَمْتُ نَصِيْحَ الشّيْبِ فِي عَذَلِي ۞ وَالشّيْبُ أَبْعَدُ فِي نُصْحِ عَنِ التُّهَمِ Aku curiga ubanku pun turut mencelaku. Padahal ubanku pastilah tulus memperingatkanku. Baca Juga : Kisah Pangeran Diponegoro & Sholawat Burdah

Qasidah Burdah Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta

Kumpulan Doa dan Dzikir (Kalam Ulama) - Teks Qasidah Burdah Lirik dan Terjemah : Pasal 1 Bercumbu dan Pengaduan Cinta الفصل الأول : في الغزل وشكوى الغرام Bagian...
SYAIKHONA (Wahai Guru Kami) شَيْخَنَا مَعَ السَّلاَمَةَ فِی أَمَانِهْ شَيْخَنَا اَللهُ رَبِّ ارْحَمْ مُرَبِّی رُوْحِنَا… يَا رَبَّنَا Ma’as-salaamah fii amaanih Syaikhonaa Allaahu Robbi-rham murobbii ruuhinaa (Yaa Robbanaa) Selamat jalan semoga dalam keselamatan wahai guruku, Ya Allah Tuhanku, rahmatilah pendidik jiwa kami (wahai Tuhanku) عَيْنُ الْمُحِبِّ بِالدُمُوْعِ حَازِنَا رَوْعًا عَلَی افْتِرَاقِ مَنْ قَدْ أَحْصَنَا… يَا شْيْخَنَا ‘Ainul muhibbi biddumuu’i haazinaa Rou’an ‘alaa-ftirooqi man qod ahshonaa (Yaa Syaikhonaa) Mata penuh cinta dipenuhi air mata, sedih karena akan berpisah dari sosok yang memberi (kemuliaan) pada kami (wahai guru kami) رَوَضَّنَا بِأُسْوَةٍ مَحَاسِنَا شَرَفَهُ اللهُ فِی جَوَارِ نَبِيِّنَا… يَا رَبَّنَا Rowwadlonaa bi uswatin muhaasinan Syarrofahullaahu fii jiwaar nabiyyinaa (Yaa Robbanaa) Beliau mengajari kami dengan teladan-teladan yang baik, Semoga Allah memuliakannya berada bersama Nabi kami (wahai Tuhanku) وَنَتَبِعْ عَزْمَكْ وَکُنْتَ مُتْقِنَا أَرِحْ وَنَوْمًا گالعْرُوْسِ آمِنَا… يَا شَيْخَنَا Wa nattabi’ ‘azmak wa kunta mutqinaa Arih wa nauman kal ‘aruusi aaminaa (Yaa Syaikhonaa) Kami tunduk akan kehendakMu dan kau sosok yang dipatuhi, beristirahatlah dan tidurlah dengan tenang bak pengantin (wahai guru kami) فَاعْفُ إِذَا لَمْ تَرْضَ مِنْ أَعْمَانِنَا دَوْمًا دُعَاءً رَبَّنَا اغْفِرْ شَيْخَنَا… يَا رَبَّنَا Fa’fu idzaa lam tardlo min a’maaninaa Dauman du’aa-an robbanaa-ghfir syaikhonaa (Yaa Robbanaa) Maafkan kami bila ada yg tidak berkenan dihati selama masa belajar kami, kami senantiasa berdoa: Ya Tuhanku ampunilah guru kami (wahai Tuhanku) كُلُّ الْقُلُوْبِ اِلاَّلْحَبِيْبِى تَمِيْلُ * وَمَعِى بِذَلِكَ شَاهِدٌ وَدَلِيْلُ اَمّاَ الدَّلِيْلُ اِذَا ذَكَرْتُ مُحَمَّدًا * صَارَتْ دُمُوْعُ العَاشِقِيْنَ تَسِيْلُ

Ya Syaikhona – Lirik Sholawat, Latin dan Terjemahnya

Kalam Ulama - TEKS SHOLAWAT DAN TERJEMAH YA SYAIKHONA (Wahai Guru Kami) شَيْخَنَا مَعَ السَّلاَمَةَ فِی أَمَانِهْ شَيْخَنَا اَللهُ رَبِّ ارْحَمْ مُرَبِّی رُوْحِنَا… يَا رَبَّنَا Ya Syaikhona Ma’as-salaamah fii amaanih...
KalamUlam.com - Kajian Maulid Diba #13 Fahtazzal arsyu tharaban was-tibsyâra, Waz-dâdal kursiyyu haibatan wa waqâra,  Wam-tala-atis samâwâtu anwâra, wa dhaj-jatil mala-ikatu tahlîlan wa tanjîdan was-tighfâra اللهم صل وسلم وبارك عليه   Ya Allah tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad).   فَاهْتَزَّ الْعَرْشُ طَرَبًا وَاسْتِبْشَارًا Maka bergoncanglah ‘Arsy karena gembira dengan adanya kabar gembira.   وَازْدَادَ الْكُرْسِيُّ هَيْبَةً وَوَقَارًا Dan kursi Allah bertambah wibawa dan tenang karena memuliakannya.   وَامْتَلَأَتِالسَّمٰوَاتُ أَنْوَارًا Dan langit penuh dengan cahaya.   وَضَجَّتِ الْمَلَآئِكَةُ تَهْلِيْلًا وَتَمْجِيْدًا وَاسْتِغْفَارًا ۩ serta bergemuruh suara malaikat membaca tahlil, tamjid dan istighfar   سُبْحَانَ اللهِ وَ اْلحَمْدُ للهِ وَلا اِلهَ الّا اللهُ وَ اللهُ اَكْبَر  Maha Suci Allah, limpahan puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dialah Allah yang Maha Besar (4x)   وَلَمْ تَزَلْأُمُّهٗ تَرٰى أَنْوَاعًا مِنْ فَخْرِهِ وَفَضْلِهِ إِلىٰ نِهَايَةِ تَمَامِ حَمْلِهِ  Dan ibunya tiada henti-hentinya melihat bermacam-macam keajaiban hingga dari keistimewaan dan keagungannya hingga sempurna masa kandungannya,   فَلَمَّا اشْتَدَّ بِهَا الطَّلْقُ بِـإِذْنِ رَبِّ الْخَلْقِ  Maka ketika ibunya telah merasakan sakit karena kandungannya akan lahir, dengan izin Tuhannya, Tuhan pencipta makhluk,   وَضَعَتِ الْحَبِيْبَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدًا شَاكِـرًا حَامِدًا كَأَنَّهُ الْبَدْرُ فِيْ تَمَامِهِ   Lahirlah kekasih Allah Muhammad SAW dalam keadaan sujud, bersyukur dan memuji, sedangkan wajahnya bagaikan bulan purnama dalam kesempurnaannya.   -------000--------   مَحَلُّ اْلقِيَامِ [irp posts="933" name="Kajian Maulid Diba' #14 : Teks dan Terjemah Mahallul Qiyam"]  Keterangan: Para Malaikat, Para Nabi, Para Wali, Para bidadari surga, seluruh makhluk-makhluk Allah SWT yang ada di daratan, di lautan, di angkasa, bahkan bumi, laut, udara, bintang-bintang, bulan, matahari, langit, kursiy dan Arasy, seluruhnya benar-benar meluapkan kegembiraan dan memuncakkan “Shalawat ta’dzhim” kepada Kekasih Allah SWT, Nabi Akhir Zaman, Baginda Nabi Muhammad SAW. Bahkan Ka’bah Baitulloh ikut bergetar selama 3 hari berturut-turut karena bahagia dan bangga menyambut kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW.           Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Maulid Ad-diba’iy Lil Imam Abdurrahman Ad-Diba’iy: فاهتز العرش طربا واستبشارا وازداد الكرسي هيبة ووقارا وامتلأت السموات أنوارا وضجت الملائكة تهليلا وتمجيدا واستغفارا Yang artinya kurang lebih: “Sesungguhnya (pada saat kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW), ‘Arasy seketika gentar hebat luar biasa meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya, dan Kursiy juga semakin tambah kewibawaan dan keagungannya, dan seluruh langit dipenuhi cahaya yang bersinar terang dan para malaikat seluruhnya serentak bergemuruh memanjatkan tahlil, tamjid, dan istighfar kepada Allah SWT dengan mengucapkan:  سبحان الله  والحمد لله  ولا إله إلا الله  والله أكبر أستغفر الله Yang artinya kurang lebih: “Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, saya beristighfar (memohon ampun) kepada Allah SWT.”           Sesungguhnya dengan keagungan baginda Nabi Muhammad SAW di sisi Allah SWT, maka Allah SWT telah memerintahkan kepada para malaikat-Nya yang agung yakni Malaikat Jibril, Malaikat Muqorrobin, Malaikat Karubiyyin, Malaikat yang selalu mengelilingi Arasy dan lainnya agar serentak berdiri pada saat detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW dengan memanjatkan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, dan Istighfar kepada Allah SWT.           Semua fenomena keajaiban-keajaiban agung yang terjadi pada detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW yang diwujudkan oleh  Allah SWT, semata-mata hanya menunjukkan kepada semua makhluk-makhluk-Nya Allah SWT bahwa baginda Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang paling dicintai-Nya, makhluk yang paling agung dan mulia derajatnya di sisi-Nya.           Dan riwayat-riwayat semua yang tersebutkan di atas, bukan sekedar cerita belaka, namun telah kami nukil data datanya dari kitab-kitab para ulama Ahlussunnah Waljama’ah yang sangat akurat dan otentik. Diantaranya adalah Kitab Al-Hawi lil Fatawi yang dikarang oleh Al-Imam Asy-Syaikh Jalaluddin Abdur Rahman As-Suyuthi yang telah mengarang tidak kurang dari 600 kitab yang dijadikan marja’ (pedoman) bagi para ulama ahlussunnah waljama’ah dalam penetapan hukum-hukum syariat Islam.Bahkan para ulama ahlussunnah waljama’ah telah sepakat menjuluki Beliau dengan gelar “Jalaaluddiin” yakni sebagai pilar keagungan agama Islam.           Bahkan tidak hanya dari kitab beliau, tetapi juga dari kitab-kitab para ulama Ahlussunnah Waljama’ah lainnya yang juga telah disepakati dan dijadikan sebagai sumber pedoman oleh para ulama. Diantaranya adalah Kitab Dalailun Nubuwwah lil Imam Al-Baihaqi, Kitab Dalailun Nubuwwah lil Imam Abu Na’im Al-Ashfahaniy, Kitab An-Ni’matul Kubro ‘Alal ‘Aalam lil Imam Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitami, Kitab Sabiilul Iddikar lil Imam Quthbul Ghouts Wad-Da’wah Wal-Irsyad Al-Habib Abdullah bin ‘Alawi Al-Haddad, Kitab Al-Ghuror lil Imam Al-Habib Muhammad bin Ali bin Alawiy Khird Ba Alawiy Al-Husainiy, Kitab Asy-Syifa’ lil Imam Al-Qadli ‘Iyadl Abul Faidl Al-Yahshabiy, Kitab As-Siiroh An-Nabawiyyah lil Imam As-Sayyid Asy-Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al Hasaniy, Kitab Hujjatulloh ‘Alal ‘Aalamin lis Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhaniy, dan kitab-kitab lainya yang mu’tamad dan mu’tabar (diakui dan dijadikan pedoman oleh para ulama).           Bagi para Ulama shalihin Ahlussunnah Waljama’ah telah sepakat untuk berdiri pada saat bacaan Maulid Nabi Muhammad SAW telah tiba, yakni pada Mahallul Qiyam (detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW). Mereka serentak berdiri demi mengikuti jejak para Malaikat, jejak arwah para Nabi dan jejak arwah para Wali untuk ta’dzhim (mengagungkan) dan memuncakkan rasa cinta yang agung kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Mereka luapkan rasa syukur yang memuncak ke hadhirat Allah SWT atas nikmat atau anugerah paling agung yang telah Allah SWT limpahkan dengan mengutus Kekasih-Nya sebagai Rahmat (Belas Kasih Sayang-Nya) untuk seluruh alam semesta.  Mereka panjatkan puji-pujian yang agung kepada baginda Rasululloh SAW dengan bahasa sastra yang indah dan suara merdu yang dipenuhi dengan rasa rindu dan cinta yang tulus mulia kepada Baginda SAW.           Maka, sungguh sangat mulia sekali bagi kita sebagai umat yang sangat dicintainya untuk mengikuti jejak para ulama shalihin dengan serentak berdiri pada saat Mahallul Qiyam demi menyambut kedatangan Kekasih Allah SWT yang sangat mulia, Junjungan kita baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Bukankah Beliau adalah Nabi kita yang sangat kita cintai? Bukankah Beliau adalah yang kelak akan memberi pertolongan kepada kita sehingga selamat dari siksaan Allah SWT yang sangat pedih? Bukankah Beliau adalah yang akan memberi syafaat kepada kita sehingga kita bisa memperoleh keridloan Allah SWT yang agung dan masuk ke dalam surga-Nya yang dipenuhi dengan segala kenikmatan, keindahan dan kebahagiaan yang kekal abadi selama-lamanya? Karena Rasululloh  SAW adalah Kekasih Allah SWT yang mana Allah SWT telah berjanji untuk tidak menolak segala  permintaan Beliau dan akan mengabulkan segala permohonannya. Dan janji ini telah ditetapkan Allah SWT dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Surat Adh-Dhuha ayat  5:  ولسوف يعطيك ربك فترضى   Yang artinya kurang lebih: “Dan (sesungguhnya) kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu (Nabi Muhammad SAW), lalu (hati) kamu menjadi puas”. (Q.S. Adl-Dluha: 5) Sungguh sangat beruntung kita sebagai umat Islam yang benar-benar mencintai Baginda Nabi Muhammad SAW dengan setulusnya. Maka, pada saat tiba ajal kita nanti, baginda Nabi Muhammad SAW yang sangat kita cintai akan menolong kita dengan memohon kepada Allah SWT agar ditetapkan iman kita, diampuni segala dosa-dosa kita yang pernah kita lakukan dan diberi kemudahan menghadapi sakaratul maut. Bukan sekedar itu saja, bahkan pada saat menghadapi pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam barzakh, Beliau akan menolong kita. Dan berkat pertolongannya, seketika Allah SWT akan menjadikan kuburan kita sebagai “Raudlotun Min Riyaadlil Jinaan”, yakni sebagai taman diantara taman-taman surga. Begitu pula pada saat di padang Mahsyar, kita akan dipersilahkan untuk meminum air telaganya dan bertemu dengan Beliau SAW beserta para ahli baitnya, para sahabatnya, dan juga bersama para wali Allah SWT, para orang-orang sholihin  dan bersama pula dengan orang-orang mukmin yang mencintainya. Seketika itu pula kita mendapati rasa aman. Demikian besarnya perhatian baginda Rasulullah SAW kepada kita, dan agungnya ketulusan mahabbah (Belas Kasih Sayang) yang sempurna kepada kita, sehingga kita bisa mendapati limpahan Rahmat (Belas Kasih Sayang) Allah SWT dan ampunan-Nya, adalah  sangat banyak sekali data-data atau dalilnya disebutkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Al-Hadits serta kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah. Sebagian diantara dalil-dalil tersebut adalah Firman Allah SWT dalam Al-Qur’anu Al-Kariim Surat At-Taubah  ayat 128:  لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رءوف رحيم   Yang artinya kurang lebih: “Sesungguhnya telah datang kepada kalian Seorang Rasul (Nabi Muhammad SAW), dari kaum kalian sendiri, (sungguh sangat) berat terasa olehnya (segala) penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin..” (Q.S. At-Taubah: 128).           Demikianlah anugerah-anugerah agung yang dilimpahkan Allah SWT kepada umat Islam yang benar-benar cinta kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Namun, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Qodli ‘Iyadl dalam kitabnya Asy-Syifa hal 158 bahwa orang yang benar-benar tulus mencintai baginda Rasul SAW, syaratnya harus mengikuti jejaknya, meneladani prilakunya, menghidupkan sunnah ajaran dan syiarnya, mencintai ahli baitnya dan menghormati seluruh shahabatnya. Semoga kita semua termasuk orang yang benar-benar cinta sejati dengan tulus kepada Baginda Nabi Muhammad SAW beserta seluruh ahli bait dan shahabatnya serta bisa meneladani prilaku dan jejak-jejak mereka.  Wallahu a’lam bishshowaab.  Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi melalui kitab Nurul Mushthofa yang dirangkum oleh Al-Habib Murtadho bin Abdullah Alkaf. Demikian pembahasan fasal fahtazzal arsyu      

Fahtazzal Arsyu – Kitab Maulid Diba dan Terjemahannya (03)

KalamUlam.com - Fasal Fahtazzal Arsyu ini merupakan fasal yang begitu luar biasa. Karena didalam fasal ini diceritakan bagaiamana kemulian Nabi Muhammad dan semua alam menyambut...
KalamUlama.com - Shalawat Assalamualaika Zainal Anbiya dan Terjemahannya هذه القصده السلام عليك (1) ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ السلام عليك زينالأنبيآء ، السلام عليك Assalamualaika Zainal anbiya (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai Nabi yang paling mulia السلام عليك أتقی الأتقيآء ، السلام عليك Assalaamu ‘alaika Atqool atqiyaa-i (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai Pemimpin orang-orang yang bertaqwa السلام عليك أصفی الأصفيآء ، السلام عليك Assalaamu ‘alaika Ashfal ashfiyaa-i (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai Pemimpin orang-orang sufi السلام عليك أزگی الأزکيآء ، السلام عليك Assalaamu ‘alaika Azkaal azkiyaa-i (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai Pemimpin orang-orang yang suci السلام عليك أحمد ياحبيبی ، السلام عليك Assalaamu‘alaika Ahmad Yaa Habiibii (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai Ahmad wahai kekasihku السلام عليك طه ياطبيبى ، السلام عليك Assalaamu ‘alaika Thooha yaa thobiibii (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai Thooha wahai pelipur hatiku السلام عليك يا مسکی وطيبی ، السلام عليك Assalaamu‘alaika yaa miskii wa thiibii (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai keharumanku dan pewangi hatiku السلام عليك أحمد يا محمد ، السلام عليك Assalaamu‘alaika Ahmad Yaa Muhammad (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai Ahmad wahai Muhammad السلام عليك يا جالی الکروب ، السلام عليك Assalaamu ‘alaika yaa jaalil kuruubi (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai yang menghindarkan bencana-bencana السلام عليك ياوجه الجميل ، السلام عليك Assalaamu ‘alaika yaa wajhal jamiili (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera Atas Nabi yang memiliki kharisma dan wajah yang indah السلام عليك يابدر التمام ، السلام عليك Assalaamu ‘alaika yaa badrot-tamaami (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai bulan purnama yang terang benderang السلام عليك يانور الظلام ، السلام عليك Assalaamu‘alaika yaa nuurodh-dholaami (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai cahaya yang menerangi kegelapan السلام علی المقدم بالإمامة ، السلام عليك Assalaamu‘alaal muqoddami bil imaamah (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera bagimu wahai Nabi yang paling mulia السلام علی المظلل بالغمامة ، السلام عليك Assalaamu ‘alaal mudhollali bil ghomaamah (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera atas pemimpin yang terkemuka السلام علی المبشر بالسلامة ، السلام عليك Assalaamu‘alaal mubassyiri bissalaamah (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera atas pemberi kabar gembira dengan keselamatan السلام علی المشفع بالقيامه ، السلام عليك Assalaamu‘alaal musyaffa’i bil qiyaamah (Assalaamu ‘alaik) Salam sejahtera atas Pemberi Syafaat pada hari kiamat --------------------------------------- Subscribe Youtube Kalam Ulama Official

Assalamualaika Zainal Anbiya Latin dan Terjemahannya

KalamUlama.com  - Shalawat Assalamualaika Zainal Anbiya dan Terjemahannya هذه القصده السلام عليك (1) ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ السلام عليك زينالأنبيآء ، السلام عليك Assalamualaika Zainal anbiya...