Home Kajian Islam

Kajian Islam

Sholawat Maulid Ad-Dibai  #02: "Qiila Huwa Adam" اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad)   قِيْلَ هُوَ أَدَمُ، قَالَ أَدَمُ بِهِ أُنِيْلُهُ أَعْلَى الْمَرَاتِبِ. قِيْلَ هُوَ نُوْحٌ، قَالَ نُوْحٌ بِهِ يَنْجُوْ مِنَ الْغَرَقِ وَيَهْلِكُ مَنْ خَالَفَهُ مِنَ الْأَهْلِ وَالْأَقَارِبِ. قِيْلَ هُوَ إِبْرَِاهِيْمُ، قَالَ إِبْرَاهِيْمُ بِهِ تَقُوْمُ حُجَّتُهُ عَلَى عُبَّادِ اْلأَصْنَامِ وَالْكَوَاكِبِ. قِيْلَ هُوَ مُوْسَى، قَالَ مُوْسَى أَخُوْهُ وَلَكِنْ هَذَا حَبِيْبٌ وَمُوْسَى كَلِيْمٌ وَمُخَاطِبٌ. قِيْلَ هُوَ عِيْسَى، قَالَ عِيْسَى يُبَشِّرُ بِهِ وَهُوَ بَيْنَ يَدَيْ نُبُوَّتِهِ كَالْحَاجِبْ. قِيْلَ فَمَنْ هَذَا الْحَبِيْبُ الْكَرِيْمُ الَّذِيْ اَلْبَسْتَهُ حُلَّةَ الْوَقَارِ، وَتَوَّجْتَهُ بِتِيْجَانِ الْمَهَابَةِ وَالْإِفْتِخًَارِ، وَنَشَرْتَ عَلَى رَأْسِهِ الْعَصَائِبْ. قَالَ هُوَ نَبِيُّ نِاسْتَخْرَجْتُهُ مِنْ لُؤَيِّ ابْنِ غَالِبٍ. يَمُوْتُ أَبُوْهُ وَأُمُّهُ وَيْكْفُلُهُ جَدُّهُ ثُمَّ عَمُّهُ الشَّقِيْقُ أَبُوْ طَالِبْ.    Ditanyakan oleh malaikat: “Adakah nur itu pada Nabi Adam?” Jawab Alloh: “Dengan nur ini, Aku anugerahkan kepada Adam martabat yang tinggi.” oleh malaikat: “Adakah nur itu pada Nuh?” Jawab Alloh: Dengan nur ini Nuh dapat selamat dari tenggelam dan binasalah orang-orang yang memungkirinya dari ahli keluarga dan kerabatnya.” oleh malaikat: “Adakah nur ini pada Nabi Ibrohim?” Jawab Alloh: “Dengan nur ini Ibrohim sanggup menyampaikan hujjahnya dengan mengalahkan para penyembah berhala dan bintang-bintang.” oleh malaikat: “Adakah nur ini pada Nabi Musa?” Jawab Alloh: “Musa itu adalah saudaranya, tetapi nur ini adalah kekasih-Ku dan Musa adalah penerima firman-Ku dan yang berbicara dengan-Ku.” oleh malaikat: “Adakah nur ini pada Nabi Isa?” Jawab Alloh: “Dengan nur ini nabi Isa membawa kabar akan kelahiran nur ini diantara dengan kenabiannya dalam jarak waktu sangat dekat, bagaikan mata dengan alis.” oleh Malaikat: “Lantas siapakah kekasih mulia yang telah Engkau hiasi dengan hiasan ketenteraman, Engkau beri mahkota dari mahkota kewibawaan dan kemegahan dan Engkau kibarkan bendera kepemimpinan diatasnya?” Alloh: “Dialah seorang nabi yang telah aku pilih dari keturunan Luay bin Ghalib, ayah dan ibunya telah meninggal dunia, kemudian diasuh oleh kakeknya, kemudian oleh pamannya yaitu saudara kandung ayahnya yang bernama Abu Tholib.”   اللهم صل وسلم وبارك عليه   Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) ========================== Baca Sebelumnya Kajian Maulid Diba’ #03: “Alhamdulillahil Qowiyyil Gholib” Keterangan Tambahan: Dalam kitab Nurul Musthofa yang dirangkum oleh oleh Al-Habib Murtadho bin Abdullah Alkaf diterangkan tentang keistimewaan Nur Nabi Muhammad SAW.  Segala anugerah yang telah melimpah kepada makhluk-makhluk Alloh SWT, semata-mata adalah dengan berkatnya Baginda Nabi Muhammad SAW. Bahkan segala kemuliaan para Malaikat dan Para Nabi adalah semata-mata berkat Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana yang telah diterangkan oleh Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani di kitabnya Hujjatulloh ‘Alal ‘Alamin hal 53 & 54 ; قال الشيخ يوسف بن إسماعيل النبهاني في حجة الله على العالمين   إنما ظهر الخير لأهله ببركة سيدنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وأهل الخير هم الملائكة والأنبياء والأولياء وعامة المؤمنين   Yang artinya kurang lebih; “Bahwa sesungguhnya segala kebaikan yang melimpah kepada makhluk makhluk Alloh SWT yang mulia adalah semata-mata berkat Baginda Nabi Muhammad SAW, mereka itu adalah para Malaikat, para Nabi dan semua orang-orang mukmin”. Nur Nabi Muhammad SAW pada Abul Basyar, Nabi Adam a.s, Kemudian Alloh SWT meletakkan Nur Baginda Nabi Muhammad SAW dalam punggung Nabi Adam AS, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Kitabnya Ad-Durarul Hisan Hamisy Daqo’iqul Akhbar hal 5; قال الامام جلال الدين السيوطي في الدرر الحسان هامش دقائق الأخبار ص 5: ثم ان الله تعالى استودع نور محمد صلى الله عليه وسلم في ظهره وأسجد له الملائكة وأسكنه الجنة فكانت الملائكة تقف خلف آدم صفوفا صفوفا يسلمون على نور محمد صلى الله عليه وسلم   Yang artinya kurang lebih;  “Bahwa sesungguhnya Alloh SWT telah meletakkan Nur Baginda Nabi Muhammad SAW dalam punggung Nabi Adam AS. Sehingga para malaikat sujud dan berbaris rapi di belakang Nabi Adam AS untuk menghaturkan salam kepada Nur Baginda Nabi Muhammad SAW”.   Nabi-Nabi Terdahulu Memuliakan Nur Nabi Muhammad SAW. Oleh sebab itulah, demi memuliakan Nur agung Baginda Nabi Muhammad SAW yang ada dalam dirinya, maka setiap Nabi Adam AS akan berhubungan dengan Ibu Hawwa’ maka Beliau bersuci terlebih dahulu, memakai wangi-wangian dan memerintahkan Ibu Hawwa’ untuk melakukan hal yang sedemikian rupa .   Dan suatu saat Nur tersebut benar-benar telah pindah dalam diri Ibu Hawwa’, sehingga kecantikan Ibu Hawwa’ tambah bersinar luar biasa. Tidak lama kemudian Beliau melahirkan anak laki-laki dan diberinya nama Syits. Dan Nur tersebut telah pindah dalam diri Nabi Syits AS. Dengan adanya Nur yang terlihat oleh Nabi Adam AS di muka Nabi Syits, maka Nabi Adam AS selalu memperhatikan dan menjaga Nabi Syits AS, demi memuliakan dan mengagungkan Nur Nabi Muhammad SAW yang ada dalam diri Nabi Syits AS tersebut.   Setelah Nabi Syits AS dewasa dan Nabi Adam AS merasa telah dekat ajalnya untuk menghadap kepada Alloh SWT, maka Beliau Nabi Adam AS memanggil putranya (Nabiyyulloh Syits AS) dan memberikan wasiat/amanat kepadanya; “Wahai Anakku (Syits), Sesungguhnya Alloh SWT telah mengambil perjanjian kepadamu untuk senantiasa menjaga “Nur Agung Nabi Muhammad SAW’, janganlah engkau letakkan kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya”.   Maka Nabi Syits AS menjaga teguh amanat tersebut dengan menikah dengan seorang wanita yang paling suci saat itu yang bernama Baidlo’. Dan setelah dianugerahi putra, maka Beliau Nabi Syits AS memberikan wasiat kepada putranya agar jangan meletakkan Nur Agung tersebut kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya. Demikian pula putranya melakukan hal yang sama hingga Nur Agung tersebut sampai pada Nabi Idris AS. Dan Nabi Idris AS juga melakukan hal yang sama, Beliau AS mewasiatkan kepada putranya agar jangan meletakkan Nur Agung tersebut kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya.    Hingga sampailah Nur Agung tersebut pada Nabi Nuh AS. Begitu pula Nabi Nuh AS, Beliau juga melakukan hal yang sama. Beliau berwasiat kepada putra Beliau (Sam) untuk menjaga Nur tersebut, dan jangan diletakkan kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya. Dan Sayyidina Sam putra Nabi Nuh AS juga mewasiatkan kepada putranya sebagaimana wasiat tersebut di atas, hingga sampailah silsilah mata rantai Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW kepada Nabi Ibrahim AS.   Dan kemudian dari Nabi Ibrahim AS, Nur tersebut turun kepada Nabi Ismail AS. Dan Nabi Ismail AS juga telah menjaga teguh Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW tersebut, Beliau telah mewasiatkan kepada putranya agar jangan meletakkan Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya.    Maka, wasiat tersebut senantiasa terpelihara secara berkesinambungan. Dan Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW senantiasa berpindah dari seorang ayah yang suci nan agung, ke ibu yang paling suci nan mulia nasabnya, dengan ikatan pernikahan islami yang diridloi Alloh SWT. Hingga sampailah perjalanan Nur Agung tersebut kepada Sayyidina ‘Adnan. Dari Sayidina ‘Adnan ke Sayyidina Ma’ad. Dari Sayyidina Ma’ad ke Sayyidina Nizar.   Dan telah diriwayatkan dalam kitab Hujjatullah ‘Alal ‘Alamin hal 218 bahwa tatkala Sayyidina Nizar mengetahui bahwa dalam dirinya bersemayam Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW, maka Beliau Sayyidina Nizar sangat bahagia sekali, sehingga beliau menyembelih hewan kurban yang sangat banyak untuk disedekahkan kepada umat pada masa itu. Dan begitu pula Sayyidina Nizar telah berwasiat kepada Sayyidina Mudlor (putranya). Dan Sayyidina Mudlor juga berwasiat kepada putranya hingga sampailah Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW tersebut kepada Sayyidina Hasyim.    Sampai di sinilah akhirnya berkumandang kabar gembira di seluruh penjuru dunia, bahwa sudah dekat saat datangnya Nabi akhir zaman, Seorang Nabi yang diutus Alloh SWT untuk seluruh umat manusia, seorang Nabi yang Agung nan mulia yang sempurna kepribadiannya dan agung budi pekertinya, yang sangat santun dan menyayangi umatnya dan yang paling dimuliakan dan disayangi Alloh SWT, yakni Baginda Nabi Muhammad SAW.    Maka berita tersebut telah menyebar ke seluruh penjuru dunia dan menggemparkan jagad. Hingga para ahli kitab dari kaum Yahudi dan Nashrani berebut ingin mendapati silsilah mata rantai Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW tersebut. Mereka berbondong-bondong mendatangi Sayyidina Hasyim dan berebut untuk menawarkan anak gadis mereka yang sangat cantik jelita agar dipersuntingnya. Namun Sayyidina Hasyim tidak menerima mereka semua karena teguh memegang amanat wasiat nenek moyangnya agar jangan meletakkan Nur Agung Baginda Nabi Besar Muhammad SAW kecuali pada wanita yang paling suci nan mulia nasabnya.    Hingga sampailah berita tersebut ke Kaisar Romawi. Maka Kaisar tersebut mengutus delegasi untuk memanggil Sayyidina Hasyim dengan tujuan untuk dinikahkan dengan putrinya yang sangat cantik jelita. Tidak ada tujuan lain kecuali dia ingin mendapati Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW, karena data-data yang akurat dan otentik tentang Nur Nabi akhir zaman telah mereka ketahui dari ulama ahli kitab yahudi dan nashrani bahwa Nur Agung tersebut telah berada dalam diri dan kepribadian Sayyidina Hasyim.   Akan tetapi Sayyidina Hasyim dengan tegas menolaknya dan berkata; والذي فضلني على أهل الزمان لا أتزوج إلا بأطهر نساء العالمين  Yang artinya kurang lebih; “Demi Alloh, Dzat yang telah melimpahkan kemuliaan kepadaku melebihi seluruh penghuni alam semesta. Sungguh aku tidak akan menikah kecuali dengan seorang wanita yang paling suci nan mulia nasabnya (sebagaimana wasiat nenek moyangku terdahulu)”   Maka, sesuai petunjuk amanat yang Beliau dapati, akhirnya Beliau menikah dengan seorang wanita yang paling suci nan mulia nasabnya pada masa itu. Dari pernikahan tersebut lahirlah Sayyidina Abdul Mutholib. Maka pindahlah Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW kepada Sayyidina Abdul Mutholib. Dan Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW sangat terlihat bercahaya terang benderang dari dahi Sayyidina Abdul Mutholib. Dan bau harum semerbak senantiasa keluar menyebar dari diri beliau. Semua itu adalah berkat Nur Baginda Nabi Muhammad SAW.   Dan sesungguhnya berkat Nur Baginda Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Abdul Mutholib senantiasa dikabulkan doanya oleh Alloh SWT. Maka orang-orang Quraisy, setiap mereka ditimpa kemarau panjang (paceklik) mereka berduyun-duyun mendatangi Sayyidina Abdul Mutholib. Akhirnya dengan dipimpin Sayyidina Abdul Muthalib mereka naik ke gunung Tsabir. Disitulah mereka bermunajat memohon Belas Kasih Sayang Alloh SWT agar melimpahkan hujan kepada mereka.    Akhirnya Alloh SWT mengabulkan permohonan mereka dengan menurunkan hujan yang deras berkat Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW yang berada pada diri Sayyidina Abdul Mutholib. Beliau Sayyidina Abdul Mutholib juga sebagai hakim di kalangan kaum Quraisy. Keputusan-keputusan beliau sangat diterima dan dihormati oleh mereka. Setiap ada masalah, rujukan utama mereka adalah Sayyidina Abdul Mutholib agar memberikan petunjuk dan keputusan untuk menyelesaikan segala urusan mereka. Beliau juga dikenal sebagai pemuda yang tekun beribadah.Berulang kali Beliau senantiasa kholwat (menetap sendirian) di Gua Hiro’.    Di situ Beliau selalu bersyukur kepada Alloh SWT yang telah menganugerahinya Nur Baginda Nabi Muhammad SAW dalam dirinya dan Beliau juga selalu bermunajat kepada Alloh SWT dan memuncakkan tafakkur tentang kemuliaan dan keagungan Dzat Pencipta alam semesta Alloh Robbul ‘Alamin. Beliau juga senantiasa beramar ma’ruf nahi munkar kepada kaumnya sesuai dengan ajaran Nabi Ibrohim AS sehingga mereka senantiasa memuliakan dan mengagungkannya.    Hingga suatu ketika Beliau Sayyidina Abdul Mutholib mendapati petunjuk dari Alloh SWT (lewat mimpi) agar Beliau menikah dengan Sayyidatina Fatimah binti Amr seorang wanita yang paling suci nan mulia nasabnya pada masa itu. Dari pernikahan tersebut, maka lahirlah Sayyidina Abdulloh ayahanda Baginda Nabi Muhammad SAW.   Sebagaimana yang telah diterangkan di kitab Madarijush Shu’ud halaman 10 bahwa sesungguhnya Sayyiduna Abdulloh Ayahanda Baginda Nabi Muhammad SAW adalah sangat cepat perkembangannya. Dalam jangka waktu sehari sudah seperti bayi usia satu bulan. Dan dalam jangka sebulan sudah seperti bayi berusia setahun. Sehingga hal itu menakjubkan semua orang, baik yang ada di perkotaan ataupun di pelosok desa yang paling dalam. Setiap orang yang memandang kepada Beliau, selalu berdecak kagum melihat kemilau cahaya yang anggun berwibawa dari mukanya dan keajaiban-keajaiban yang melimpah kepada Beliau.    Postur tubuhnya yang sempurna, ketampanan mukanya yang mempesona, dan kesantunannya yang penuh wibawa, telah menjadikan para gadis terpikat hatinya. Laksana Nabi Yusuf AS pada zamannya dahulu yang digandrungi oleh semua wanita karena ketampanannya yang mempesona dan sempurna. Maka Beliau Sayyiduna Abdulloh adalah seorang lelaki yang paling sempurna diri dan kepribadiannya pada masa itu. Sebagaimana dikatakan oleh Syeikh Ahmad Bin Zaini Dahlan di kitabnya As-Sirah An-Nabawiyyah juz 2 hal 42; قال الشيخ أحمد بن زيني دحلان الحسني في السيرة النبوية الجزء الأول ص42 : وكان أي عبد الله أحسن رجل في قريش خلقا وخلقا وكان نور النبي صلى الله عليه وسلم بينا في وجهه وكان أجملهم فشغفت به نساء قريش وكدن أن تذهل عقولهن   Yang artinya kurang lebih; “Bahwa Sesunguhnya Sayyiduna Abdulloh adalah insan yang paling sempurna diri dan pribadinya(pada masa itu). Dari muka Beliau nampak jelas berkemilau cahaya “Nur” Baginda Nabi Muhammad SAW. Dan tidak sedikit para wanita yang terpikat hatinya kepada Beliau”   Dahsyatnya pesona dan kesempurnaan pribadi Sayyiduna Abdulloh ayahanda Baginda Nabi Muhammad SAW, bukan hanya terkenal di kalangan suku Quraisy saja. Bahkan para ulama ahli kitab di Syam Palestina juga mengakuinya. Sehingga setiap ada orang dari suku Quraisy bersinggah di tempat mereka, selalu diberi wasiat bahwa Nur yang ada pada diri Sayyiduna Abdulloh, sesungguhnya adalah Nur Nabi akhir zaman, yakni Baginda Nabi Muhammad SAW. Tujuan utama dari wasiat tersebut adalah agar senantiasa dijaga Nur Baginda Nabi Muhammad SAW yang ada pada diri Sayyiduna Abdulloh tersebut dan dilindungi dari orang-orang yang hasud dan orang-orang yang ingin mencelakakannya.    Sebagaimana telah diterangkan oleh Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani di kitabnya Hujjatullah ‘Alal ‘Alamin hal 220 ; قال الشيخ يوسف بن إسماعيل النبهاني في حجة الله على العالمين ص 219 : لم يبق حبر من أحبار الشام إلا علم بمولده ثم كان لا يقدم عليهم رجل من أهل الحرام إلا سألوه عن عبد الله كيف تركوه فيقول تركناه يتلألأ حسنا وجمالا وكمالا فتقول الأحبار يا معشر قريش إن ذلك النور ليس لعبد الله بن عبد المطلب وإنما هو لمحمد صلى الله عليه وسلم يخرج من ظهره في آخر الزمان يغير عبادة الأصنام   Yang artinya kurang lebih; “Bahwa sesungguhnya para ulama ahli kitab di Syam (Palestina) telah mengetahui Nur Baginda Nabi Muhammad SAW pada diri Sayyiduna Abdulloh. Setiap ada penduduk Makkah bersinggahdi tempat mereka selalu diberi wasiat olehnya dengan berkata ;   ……….Ketahuilah oleh kalian semua wahai kaum Quraisy, kemilau cahaya yang ada pada diri Abdulloh sesungguhnya adalah Nur Nabi akhir Zaman Baginda Nabi Muhammad SAW yang akan datang membawa agama tauhid untuk meng-Esakan Alloh Robbul ‘Alamin”.   Maka, tatkala Beliau Sayyiduna Abdulloh genap berusia 18 tahun, Beliau diajak oleh ayahandanya (Sayyiduna Abdul Mutholib) untuk dinikahkan dengan Sayyidatuna Aminah binti Wahab seorang wanita yang paling suci dan paling mulia nasabnya pada saat itu. Namun di tengah perjalanan mereka berdua bertemu dengan serombongan wanita yang cantik jelita. Serentak semuanya berebutan untuk menawarkan dirinya kepada Sayyiduna Abdulloh. Namun Sayyiduna Abdulloh tidak bersedia, karena Beliau teguh memegang amanah untuk tidak menikah kecuali pada wanita yang paling suci dan mulia nasabnya.    Dan bahkan ada juga seorang wanita ahli kitab yang bersedia untuk mempersembahkan 100 onta asal Sayyiduna Abdulloh mau pada wanita tersebut. Tetapi dengan tegas Sayyiduna Abdulloh tetap menolak semua ajakan dan tawaran tersebut. Beliau tetap teguh untuk menjaga kesucian dan kemuliaan yang ada pada dirinya, dan akhirnya Beliau menikah dengan Sayyidatuna Aminah binti Wahab, seorang gadis yang paling suci nan mulia nasabnya pada masa itu.    Maka, pindahlah Nur Baginda Nabi Muhammad SAW dari ayahanda tercinta Sayyiduna Abdulloh ke dalam kandungan ibundanya tercinta Sayyidatuna Aminah Binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhrah.   Kesucian nasab yang telah Alloh SWT jaga sejak Nabi Adam AS hingga Sayyiduna Abdulloh tersebut, semata-mata adalah suatu penghormatan besar dari Alloh SWT dan Belas Kasih Sayang-Nya kepada kekasih-Nya Baginda Nabi Muhammad SAW. Semuanya melalui proses pernikahanislami yang diridloi Alloh SWT. Sebagaimana yang disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir juz 2 hal 403; ذكر الإمام أبو الفداء إسماعيل ابن كثيرفي تفسير إبن كثير الجزء الثاني ص 403 عن علي بن أبي طالب كرم الله وجهه قال النبي صلى الله عليه وسلم خرجت من نكاح ولم أخرج من سفاح من لدن آدم إلى أن ولدني أبي وأمي ولم يمسني من سفاح الجاهلية شيء    Yang artinya kurang lebih; “Diriwayatkan dari Sayyidina Ali Karromallohu Wajhah, bahwa sesungguhnya Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda; “Sesungguhnya aku (Nabi Muhammad SAW) adalah terlahir dari orang-orang suci nan mulia nasabnya melalui pernikahan yang sah (diridloi Alloh SWT). Sejak Nabi Adam AS hingga kedua orang tuaku (Sayyid Abdulloh dan Sayyidah Aminah), semuanya melalui pernikahan yang sah (diridloi Alloh SWT), tidak ada sedikitpun yang menyimpang”.    Dan sesungguhnya dengan adanya berbagai macam peristiwa luar biasa yang dialami oleh Sayyiduna Abdulloh tersebut, semata-mata adalah sebagai tanda yang sangat jelas terang-benderang atas dekatnya waktu kedatangan Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Hafidh Abu Na’im Al-Ashfahani di kitabnya Dala’ilun Nubuwwah Juz 1 hal 167 ;   قال الإمام الحافظ الكبير أبو نعيم الأصفهاني في دلائل النبوة الجزء الأول ص 167 : ففي ابتغاء اليهود واليهودية وضع هذا النور الذي انتقل إلى آمنة بنت وهب فيها وذكرهم بني زهرة وأن هذالأمر لا يكون فيهم دلالة واضحة على تقديم الخبر والبشارة بذلك في الكتب السالفة وما يكون من أمر النبي صلى الله عليه وسلم وبعثته كل ذلك آيات واضحة وبراهين صحيحة لائحة على نبوته وبعثته صلى الله عليه وسلم.   Yang artinya kurang lebih; “Bahwa sesungguhnya segala keajaiban yang ada pada diri Sayyiduna Abdulloh sampai para ahli kitab menginginkan Nur yang ada pada diri beliau, serta tersohornya kabar berita Nur tersebut di kitab-kitab terdahulu, semata-mata hanyalah sebagai tanda-tanda yang jelas dan bukti yang konkrit atas Kenabian Baginda Nabi Muhammad SAW”. Bahwa sesungguhnya, manakala Sayyidatuna Aminah Binti Wahab mengandung Baginda Nabi Muhammad SAW. Seketika itu pula terjadilah berbagai macam keajaiban-keajaiban dunia yang menggemparkan jagad. Segala peristiwa tersebut, bukan hanya di daratan dan lautan saja. Bahkan di alam malakut lebih dahsyat dan menakjubkan.    Konkritnya adalah pada malam Jumu’ah bulan Rojab, detik itulah momen yang paling bersejarah bagi seluruh umat manusia. Saat itulah terjadi perpindahan Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW dari Sayyiduna Abdulloh ke dalam kandungan Sayyidatuna Aminah.    Maka, pada malam itulah datang perintah dari Alloh SWT kepada malaikat Ridlwan agar membuka seluruh pintu surga dan Alloh SWT perintahkan kepada malaikat-Nya untuk mengumandangkan seruan telah tiba saat datangnya Nabi Akhir zaman Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana yang diterangkan oleh Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani di kitabnya Hujjatullah ‘Alal-‘Alamin hal 226 dan 223;    قال الشيخ يوسف بن إسماعيل النبهاني في حجة الله على العالمين ص 226 : قال سهل بن عبد الله التستري لما أراد الله تعالى خلق محمد صلى الله عليه وسلم في بطن أمه آمنة ليلة رجب وكانت ليلة الجمعة أمر الله تعالى في تلك الليلة رضوان خازن الجنان أن يفتح الفردوس وينادي مناد في السموات والأرض ألا إن النور المخزون المكنون الذي يكون منه النبي الهادي في هذه الليلة يستقر في بطن أمه الذي يتم خلقه ويخرج للناس بشيرا ونذيرا.   Yang artinya kurang lebih; “Bahwa sesungguhnya manakala Alloh SWT menghendaki untuk mewujudkan Baginda Nabi Muhammad SAW dalam kandungan ibundanya pada malam Jumu’ah bulan Rojab, maka Alloh SWT perintahkan kepada malaikat Ridlwan (penjaga surga) agar membuka seluruh pintu surga dan berkumandanglah seruan di langit dan di bumi; ……….(Wahai seluruh makhluk, perhatikanlah oleh kalian semua)..Sesungguhnya Nur Agung Baginda Nabi Muhammad SAW sekarang telah berada dalam kandungan ibundanya. Kelak, Beliaulah yang akan muncul sebagai Nabi yang membawa petunjuk dan pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan kepada umat manusia”.   Maka, seketika itu juga seluruh binatang yang ada di laut, di daratan, dan di angkasa saling memberi kabar gembira kepada temannya masing-masing. Yang di barat lari ke timur, yang di timur lari ke barat, yang di utara lari ke selatan dan yang di selatan lari ke utara untuk saling membawa berita gembira. Yang lebih menakjubkan lagi adalah binatang-binatang yang ada di sekitar Makkah, seperti kuda, onta, rusa dan lain sebagainya bisa mengucapkan dengan bahasa arab yang fasih, sehingga orang-orang pada masa itu sangat takjub melihat peristiwa langka tersebut. Perkataan hewan-hewan tersebut adalah ; حمل برسول الله صلى الله عليه وسلم ورب الكعبة وهو أمان الدنيا وسراج أهلها   “Sungguh demi Alloh SWT Dzat yang menguasai Ka’bah, saat ini Baginda Rosululloh SAW telah berada dalam kandungan ibundanya. Beliaulah yang kelak akan membawa kedamaian di muka bumi ini dan Beliaulah yang akan menerangi umat dengan ajaran-ajarannya…” Dan saat itu pula, serentak seluruh singgasana para penguasa, raja dan kaisar sedunia, semuanya jatuh dan terjungkal ke bawah, sehingga para penguasa tersebut tercekat kebingungan, diam seribu bahasa dan tidak bisa berkata apa-apa seharian penuh. Begitu pula seluruh patung-patung sedunia terjungkal jatuh berantakan. Para dukun-dukun seketika lenyap ilmu mereka, tak bisa menebak/meramal sesuatu dengan benar. Dan dari bulan ke bulan senantiasa terdengar seruan malikat yang berkumandang di langit dan di bumi untuk memberi berita gembira kepada seluruh makhluk-makhluk Alloh SWT.    Baca Selanjutnya Kajian Maulid Diba’ #05 “Yub’atsu min Tihamah”   Wallahu a’lam bishshowaab  Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi

Qiila Huwa Adam – Kajian Maulid Diba dan Terjemahnya (04)

KalamUlama.com - Maulid Dibai  #02: "Qiila Huwa Adam" اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad)   قِيْلَ هُوَ أَدَمُ، قَالَ...
 Kalamulama.com Kajian Maulid Diba' #05 "Yub'atsu min Tihamah"    اللهم صل وسلم وبارك عليه   Ya Allah tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad)    يُبْعَثُ مِنْ تِهَامَةَ بَيْنَ يَدَيِ الْقِيَامَةِ. فِيْ ظَهْرِهٖ عَلاَمَةٌ تُظِلُّهُ الْغَمَامَةُ تُطِيْعُهُ السَّحَآئِبُ. فَجْرِيُّ الْجَبِيْنِ لَيْلِيُّ الذَّوَآئِبِ. أَلْفِـيُّ الْأَنْفِ مِيْمِـيُّ الْفَمِ نُوْنِيُّ الْحَاجِبِ. سَمْعُهٗ يَسْمَعُ صَرِيْرَ الْقَلَمِ بَصَرُهٗ اِلٰى السَّبْعِ الطِّبَاقِ ثَاقِبٌ. قَدَمَاهٗ قَبَّلَهُمَا الْبَعِيْرُ فَأَزَالاَمَا اشْتَكَاهُ مِنَ الْمِحَنِ وَالنَّوَآئِبِ. اٰمَنَ بِهِ الضَّبُّ وَسَلَّمَتْ عَلَيْهِ الْأَشْجَارُ وَخَاطَبَتْهُ الْأَحْجَارُ وَحَنَّ إِلَيْهِ الْجِذْعُ حَنِيْنَ حَزِيْنٍ نَادِبٍ. يَدَاهُ تَظْهَرُ بَرَكَتُهُمَا فِي الْمَطَاعِمِ وَالْمَشَارِبِ. قَلْبُهٗ لاَيَغْفُلُ وَلاَ يَنَامُ وَلٰكِنْ لِلْخِدْمَةِ عَلىٰ الدَّوَامِ مُرَاقِبٌ. إِنْ أُوْذِيَ يَعْفُ وَلاَيُعَاقِبُ. وَإِنْ خُوْصِمَ يَصْمُتْ وَلاَيُجَاوِبُ. أَرْفَعُهٗ إِلىٰ أَشْرَفِ الْمَرَاتِبِ. فِي رَكْبَةٍ لاَتَنْبَغِـيْ قَبْلَهٗ وَلاَبَعْدَهٗ لِرَاكِبٍ. فِيْ مَوْكِبٍ مِنَ الْمَلَآئِكَةِ يَفُوْقُ عَلىٰ سَآئِرِ الْمَوَاكِبِ. فَإِذَا ارْتَقىٰ عَلىٰ الْكَوْنَيْنِ وَانْفَصَلَ عَنِ الْعَالَمَيْن وَوَصَلَ إِلىٰ قَابِ قَوْسَيْنِ كُنْتُ لَهٗ اَنَا النَّدِيْمَ وَالْمُخَاطِبَ ِ   Nabi SAW diutus oleh Allah di negeri Tihamah (Makkah) diantara saat menjelang datang hari kiamat. Pada punggungnya ada tanda  kenabian. Apabila berjalan, awan senantiasa melindunginya dan perintahnya dipatuhi oleh awan. Dahinya bercahaya cemerlang, rambutnya bagaikan malam gelap gulita atau hitam pekat. Bagaikan huruf alif bentuk mancung hidungnya, bagaikan huruf mim bulat mulutnya, bagaikan huruf nun lengkung alisnya. Pendengarannya dapat mendengar geritan qolam (di Lauhil Mahfuzh), penglihatannya sampai ke langit tujuh. Kedua telapak kakinya dicium unta, maka lenyaplah rasa sakit serta bala’ musibah yang diderita oleh unta itu. Binatang biawak dan lainnya beriman kepadanya dan bersalam kepadanya pepohonan, berbicara dengannya batu-batuan, batang kurma meratap kepadanya bagaikan rintihan kesedihan seorang pecinta. Kedua tangannya menatap menampakkan berkahnya pada makanan dan minuman. Hatinya tidak lalai dan tidak pula tidur, tetapi senantiasa mengabdi dan ingat kepada Alloh. Bila disakiti, beliau mengampuni dan tidak membalas dendam, Bila dihina, beliau hanya diam dan tidak menjawab, Allah mengangkatnya ke martabat yang lebih mulia atau tinggi, Dengan kendaraan yang tak pernah dipakai oleh siapapun, sebelum dan sesudahnya. Pada golongan malaikat, ketinggian derajatnya melebihi yang lain. Maka ketika Nabi naik melalui dua alam dan berpisah dari dua alam, sampailah ke tempat ketinggian yang bagaikan jarak dua busur panah, maka Aku-lah yang menghibur dan berbicara kepadanya.   اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad)    Baca Sebelumnya Kajian Maulid Diba' #04: "Qiila Huwa Adam" ========================   Keterangan : Dalam kitab KITAB AS SYAMAIL MUHAMMADIYAH IMAM TURMUDZI dijelaskan tentang ciri-ciri fisik Rosululloh SAW. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut: 1). Bentuk Tubuh Rasulullah.  «كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ليس بالطويل البائن، ولا بالقصير، ولا بالأبيض الأمهق، ولا بالآدم ولا بالجعد القطط ولا بالسبط، بعثه الله تعالى على رأس أربعين سنة، فأقام بمكة عشر سنين، وبالمدينة عشر سنين، وتوفاه الله تعالى على رأس ستين سنة، وليس في رأسه ولحيته عشرون شعرة بيضاء».  "Rasulullah SAW bukanlah orang yang berperawakan terlalu tinggi, namun tidak pula pendek. Kulitnya tidak putih bule juga tidak sawo matang. Rambutnya ikal, tidak terlalu keriting dan tidak pula lurus kaku. Beliau diangkat Allah (menjadi rasul) dalam usia empat puluh tahun. Beliau tinggal di Makkah (sebagai Rasul) sepuluh tahun dan di madinah sepuluh tahun. Beliau pulang ke Rahmatullah dalam usia permulaan enam puluh tahun. Pada kepala dan janggutnya tidak terdapat sampai dua puluh lembar rambut yang telah berwarna putih. "(diriwayatkan oleh Abu Raja' Qutaibah bin Sa'id, dari Malik bin Anas, dari Rabi'ah bin Abi `Abdurrahman yang bersumber dari Anas bin Malik r.a)  «ما رأيت من ذي لمة في حلة حمراء أحسن من رسول الله، له شعر يضرب منكبيه، بعيد ما بين المنكبين، لم يكنبالقصير ولا بالطويل». "Aku tak pernah melihat orang yang berambut panjang terurus rapi, dengan mengenakan pakaian merah, yang lebih tampan dari Rosululloh SAW. Rambutnya mencapai kedua bahunya. Kedua bahunya bidang. Beliau bukanlah seorang yang berperawakan pendek dan tidak pula terlampau tinggi." (diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki',dari Sufyan, Dari Abi Ishaq, yang bersumber dari al Bara bin `Azib r.a).  «لم يكن رسول الله بالطويل الممغط، ولا بالقصير المتردد، وكان ربعة من القوم، لم يكن بالجعد القطط، ولا بالسبط، كان جعدا رجلا، ولم يكن بالمطهم ولا بالمكلثم، وكان في وجهه تدوير أبيض مشرب، أدعج العينين، أهدب الأشفار، جليل المشاش والكتد، أجرد ذومسربة، شثن الكفين والقدمين، إذا مشى تقلع كأنما ينحط في صبب، وإذا التفت التفت معا، بين كتفيه خاتم النبوة، وهو خاتم النبيين، أجود الناس صدرا، وأصدق الناس لهجة، وألينهم عريكة، وأكرمهم عشرة، من رآه بديهة هابه، ومن خالطه معرفة أحبه، يقول ناعته: لم أر قبله ولا بعده مثله صلى الله عليه وسلم»  "Rasulullah SAW tidak berperawakan terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek. Beliau berperawakan sedang diantara kaumnya. Rambut tidak keriting bergulung dan tidak pula lurus kaku, melainkan ikal bergelombang. Badannya tidak gemuk, dagunya tidak lancip dan wajahnya agak bundar. Kulitnya putih kemerah-merahan. Matanya hitam pekat dan bulu matanya lentik. Bahunya bidang. Beliau memiliki bulu lebat yang memanjang dari dada sampai ke pusat. Tapak tangan dan kakinya terasa tebal. Bila Beliau berjalan, berjalan dengan tegap seakan-akan Beliau turun ke tempat yang rendah. Bila Beliau berpaling maka seluruh badannya ikut berpaling. Diantara kedua bahunya terdapat Khotamun Nubuwah, yaitu tanda kenabian. Beliau memiliki hati yang paling pemurah diantara manusia. Ucapannya merupakan perkataan yang paling benar diantara semua orang. Perangainya amat lembut dan beliau paling ramah dalam pergaulan.  Barangsiapa melihatnya, pastilah akan menaruh hormat padanya. Dan barangsiapa pernah berkumpul dengannya kemudian kenal dengannya tentulah ia akan mencintainya. Orang yang menceritakan sifatnya, pastilah akan berkata: "Belum pernah aku melihat sebelum dan sesudahnya orang yang seistimewa Beliau SAW". (Diriwayatkan oleh Ahmad bin `Ubadah ad Dlabi al Bashri, juga diriwayatkan oleh `Ali bin Hujr dan Abu Ja'far bin Muhammad bin al Husein, dari `Isa bin Yunus, dari `Umar bin `Abdullah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari salah seorang putera `Ali bin Abi Thalib k.w. yang bersumber dari `Ali bin Abi Thalib k.w.). «عرض علي الأنبياء، فإذا موسى عليه السلام ضرب من الرجال، كأنه من رجال شنوءة، ورأيت عيسى ابن مريم عليه السلام، فإذا أقرب من رأيت به شبها عروة بن مسعود، ورأيت إبراهيم عليه السلام، فإذا أقرب من رأيت به شبها صاحبكم، يعني نفسه، ورأيت جبريل عليه السلام فإذا أقرب من رأيت به شبها دحية». "Telah diperlihatkan kepadaku para Nabi. Adapun Nabi Musa a.s. bagaikan seorang laki laki dari suku Syanu'ah*. Kulihat pula Nabi `Isa bin Maryam a.s. ternyata orang yang pernah kulihat mirip kepadanya adalah `Urwah bin Mas'ud**, Kulihat pula Nabi Ibranim a.s. ternyata orang yang mirip kepadanya adalah kawan kalian ini (yaitu Nabi SAW sendiri). Kulihat jibril ternyata orang yang pernah kulihat mirip kepadanya adalah Dihyah***." *) Suku Syanu'ah terdapat di Yaman perawakan mereka sedang.  **) Urwah bin Mas'ud al-Tsaqofi adalah sahabat Rosululloh SAW, ia memeluk islam pada tahun 9 H.  ***) Dihyah adalah seorang sahabat Rasulullah SAW yang mengikuti jihad fi sabilillah setelah perang Badar. Ia pun merupakan salah seorang pengikut Bai'atur Ridhwan yang bersejarah. (Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa'ad dari Laits bin Sa'id, dari Abi Zubair yang bersumber dari Jabir bin `Abdullah r.a.). «كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أفلج الثنيتين، إذا تكلم رئي كالنور يخرج من بين ثناياه». "Rasulullah mempunyai gigi seri yang renggang. Bila Beliau berbicara terlihat seperti ada cahaya yang memancar keluar antara kedua gigi serinya itu." (Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari Ibrahim bin Mundzir al Hizami, dari`Abdul `Aziz bin Tsabit az Zuhri, dari Ismail bin Ibrahim, dari Musa bin `Uqbah, dari Kuraib yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.).   2). Bentuk Khotam (tanda atau cap) Nubuwwah «رأيت الخاتم بين كتفي رسول الله صلى الله عليه وسلم غدة حمراء مثل بيضة الحمامة». "Aku pernah melihat khotam (kenabian) Ia terletak antara kedua bahu Rasulullah SAW. Bentuknya seperti sepotong daging berwarna merah sebesar telur burung dara." (Diriwayatkan oleh Sa'id bin Ya'qub at Thalaqani dari Ayub bin Jabir, dari Simak bin Harb yang bersumber dari Jabir bin Samurah r.a.). كان علي، إذا وصف رسول الله صلى الله عليه وسلم- فذكر الحديث بطوله- وقال: «بين كتفيه خاتم النبوة، وهو خاتم النبيين». "Ketika `Ali k.w. menceritakan sifat Rasulullah SAW. Maka ia akan bercerita panjang lebar dan ia akan berkata: `Diantara kedua bahunya terdapat Khotam kenabian, yaitu khotam para Nabi”. (Diriwayatkan oleh Ahmad bin `Ubadah ad Dlabi `Ali bin Hujr dan lainnya, yang mereka terima dari Isa bin Yunus dari `Umar bin `Abdullah, dari `Ibrahim bin Muhammad yang bersumber dari salah seorang putera `Ali bin Abi Thalib k.w.). قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: «يا أبا زيد، ادن مني فامسح ظهري»، فمسحت ظهره، فوقعت أصابعي على الخاتم قلت: وما الخاتم؟ قال: «شعرات مجتمعات». Dalam suatu riwayat, Alba' bin Ahmar al Yasykuri mengadakan dialog dengan Abu Zaid Amr bin Akhthab al Anshari r.a. sbb: "Abu Zaid berkata: Rasulullah SAW bersabda kepadaku: Wahai Abu Zaid mendekatlah kepadaku dan usaplah punggungku'. Maka punggungnya kuusap, dan terasa jari jemariku menyentuh Khotam. Aku (alba' bin Ahmar al Yasykuri) bertanya kepada Abu Zaid: Apakah Khotam itu?' Abu Zaid menjawab: kumpulan bulu-bulu.  (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Abu `Ashim dari `Uzrah bin Tsabit yang bersumber dari Alba'bin Ahmar al Yasykuri).   3). Rambut Rasulullah  عَنْ أنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: كَانَ شَعَرُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِلَى نِصْفِ أُذُنَيْهِ. "Rambut Rasulullah SAW mencapai pertengahan kedua telinganya." (Diriwayatkan oleh `Ali bin Hujr, dari Ismail bin Ibrahim, dari Humaid yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.). عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَرْبُوعًا، بَعِيدَ مَا بَيْنَ الْمِنْكَبَيْنِ، وَكَانَتْ جُمَّتُهُ تَضْرِبُ شَحْمَةَ أُذُنَيْهِ. "Rasulullah SAW adalah seorang yang berbadan sedang, kedua bahunya bidang, sedangkan rambutnya menyentuh kedua daun telinganya." (Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani', dari Abu Qathan, dari Syu'bah dari Abi Ishaq yang bersumber dari al Bara' bin Azib r.a.). عَنْ قَتَادَةَ، قَالَ: قُلْتُ لأَنَسٍ: كَيْفَ كَانَ شَعَرُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم؟ قَالَ: لَمْ يَكُنْ بِالْجَعْدِ، وَلا بِالسَّبْطِ، كَانَ يَبْلُغُ شَعَرُهُ شَحْمَةَ أُذُنَيْهِ. "Rambut Rasulullah SAW tidak terlampau keriting, tidak pula lurus kaku, rambutnya mencapai kedua daun telingannya. "(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Wahab bin Jarir bin Hazim, dari Hazim yang bersumber dari Qatadah). 4). Cara Berjalan Rasulullah عن أبي هريرة قال: «ولا رأيت شيئا أحسن من رسول الله صلى الله عليه وسلم كأن الشمس تجري في وجهه، وما رأيت أحدا أسرع في مشيته من رسول الله صلى الله عليه وسلم كأنما الأرض تطوى له إنا لنجهد أنفسنا وإنه لغير مكترث».  "Tiada satupun kulihat lebih indah daripada Rosululloh SAW, seolah-olah mentari beredar di wajahnya. Juga tiada seorangpun yang kulihat lebih cepat jalannya daripada Rosululloh SAW, seolah-olah bumi ini dilipat-lipat untuknya. Sungguh, kami harus bersusah-payah melakukan hal itu, sedangkan Rasulullah SAW tidak mempehatikan". (Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa'id, dari Ibnu Luhai'fah, dari Abi Yunus, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.).  عن علي بن أبي طالب قال: «كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا مشى تكفأ تكفؤا كأنما ينحط من صبب» "Bila Nabi SAW berjalan, maka ia berjalan dengan merunduk seakan-akan jalanan menurun".   (Diriwayatkan oleh Shufyan bin Waki', dari ayahnya, dari al Masudi, dari Utsman bin Muslim bin Hurmuz, dari Nafi' bin Jubair bin Muth'im, yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib k.w.).   5). Cara Makan Rasulullah  عن أبيه، «أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يلعق أصابعه ثلاثا» "Sesungguhnya Nabi SAW menjilati jari jemarinya (sehabis makan) tiga kali". (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari Sa'id bin Ibrahim dari salah seorang anak Ka'ab bin Malik, yang bersumber dari bapaknya).  عن أنس قال: «كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا أكل طعاما لعق أصابعه الثلاث». ."Bila Nabi SAW selesai makan, beliau menjilati jari jemarinya yang tiga*". (Diriwayatkan oleh al Hasan bin Ali al Khilali, dari Affan, dari Hammad bin Salamah, dari Tsabit, yang bersumber dari Anas r.a.) *)Yang dimaksud jari yang tiga ,yakni jari tengah, jari telunjuk, dan ibu jari.   6). Lauk Pauk yang Dimakan Rasulullah  عن عائشة، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «نعم الإدام الخل» قال عبد الله بن عبد الرحمن، في حديثه: «نعم الإدام أو الأدم الخل». "Sesungguhnya Rasulullah bersabda: "Saus yang paling enak adalah cuka". Abdullah bin Abdurrahman berkata "Saus yang paling enak adalah cuka”.  (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Shal bin Askar dan Abdullah bin Abdurrahman,keduanya menerima dari Yahya bin Hasan, dari Sulaiman bin Hilal, Hisyam bin Urwah, dari bapaknya yang bersumber dari Aisyah r.a.)  عن أبي أسيد قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «كلوا الزيت وادهنوا به؛ فإنه من شجرة مباركة».  Rasulullah SAW bersabda: "Makanlah minyak zaitun dan berminyaklah dengannya. Sesungguhnya ia berasal dari pohon yang diberkahi". (Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, daari Abu Ahmad az Zubair, dan diriwayatkanpula oleh Abu Nu'aim, keduanya menerima dari Sufyan, dari Abdullah bin Isa, dari seorang laki-laki ahli Syam yang bernama Atha' yang bersumber dari Abi Usaid r.a.).  عن أنس بن مالك قال: «كان النبي صلى الله عليه وسلم يعجبه الدباء فأتي بطعام، أو دعي له فجعلت أتتبعه فأضعه بين يديه لما أعلم أنه يحبه».  "Nabi SAW menggemari buah labu. Maka (pada suatu hari) beliau diberi makanan itu atau diundang untuk makan makanan itu (labu). Aku pun mengikutinya, maka makanan itu (labu) kuletakkan dihadapannya, karena aku tahu beliau menggemarinya. (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Muhammad bin Ja'far dan diriwayatkan pula oleh Abdurrahman bin Mahdi, keduanya menerima dari Syu'bah dari Qatadah yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).  عن عائشة قالت: «كان النبي صلى الله عليه وسلم يحب الحلواء والعسل» "Nabi SAW menyenangi kue-kue manis (manisan) dan madu". (Diriwayatkan oleh Ahmad bin Ibrahim ad Daruqi, juga diriwayatkan oleh Salamah bin Syabib dan diriwayatkan pula oleh Mahmud bin Ghailan, mereka menerimanya dari AbuUsamah, dari Hisyam bin Urwah yang bersumber dari `Aisyah r.a.).  عن أبي هريرة قال: «أتي النبي صلى الله عليه وسلم بلحم فرفع إليه الذراع وكانت تعجبه فنهس منها».  "Nabi SAW diberi makan daging, maka diambilkan baginya bagian dzir'an* Bagian dzir'an kesukaannya. Maka Rosululloh SAW Mencicipi sebagian daripadanya" (Diriwayatkan oleh Washil bin Abdul A'la, dari Muhammad bin Fudlail, dari Abi Hayyan at Taimi, dari Abi Zar'ah, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.).  *)Dzir'an adalah bagian tubuh binatang dari dengkul sampai bagian kaki.  سمعت عبد الله بن جعفر يقول: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «إن أطيب اللحم لحم الظهر».  "Daging yang paling baik adalah punggung".  (Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Ahmad, dari Mis'ar, dari Syaikhan, dari Fahm,* yang bersumber dari Abdullah bin Ja'far r.a.).   7). Buah-Buahan yang Dimakan Rasulullah  عن عبد الله قال: «كان النبي صلى الله عليه وسلم يأكل القثاء بالرطب». "Nabi SAW memakan qitsa* dengan kurma (yang baru masak)".  (Diriwayatkan oleh Isma'il bin Musa al Farazi, dari Ibrahim bin Sa'id, dari ayahnya yang bersumber dari Abdullah bin Ja'far r.a.).  *) Qitsa adalah sejenis buah-buahan yang mirip mentimun tetapi ukurannya lebih besar (Hirbis).   عن عائشة: «أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يأكل البطيخ بالرطب». "Sesungguhnya Nabi SAW memakan semangka dengan kurma (yang baru masak)”.  (Diriwayatkan oleh Ubadah bin Abdullah al Khaza'i al Bashri, dari Mu'awiyah bin Hisyam, dari Sufyan, dari Hisyam bin Urwah, dari bapaknya, yang bersumber dari Aisyah r.a.).   8). Minuman Rasulullah  عن عائشة، قالت: «كان أحب الشراب إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم الحلو البارد». "Minuman yang paling disukai Rosululloh SAW adalah minuman manis yang dingin".   (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Umar, dari Sufyan, dari Ma'mar, dari Zuhairi, dari Urwah, yang bersumber dari Aisyah r.a.).   9). Cara Minum Rasululah  عن ابن عباس: «أن النبي صلى الله عليه وسلم شرب من زمزم وهو قائم». "Sesungguhnya Rasulullah SAW minum air zamzam sambil berdiri".  (Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani', dari Husyaim, dari Ashim al-Ahwal dan sebagainya, dari Sya'bi, yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a.).  عن جده قال: «رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يشرب قائما وقاعدا». "aku melihat Rasulullah SAW minum dengan berdiri dan duduk". (Diriwayatkan oleh qutaibah dari muhammad bin jakfar dari husain dari ma'mar dari ayahnya dari kakeknya).  عن أنس بن مالك، أن النبي صلى الله عليه وسلم: كان يتنفس في الإناء ثلاثا إذا شرب، ويقول: «هو أمرأ وأروى». "Sesungguhnya Rasulullah SAW menarik nafas tiga kali pada bejana bila Beliau minum. Beliau bersabda: "Cara seperti ini lebih menyenangkan dan menimbulkan kepuasan".  (Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa'id, dan diriwayatkan pula oleh Yusuf bin Hammad, keduanya menerima dari Abdul Warits bin Sa'id, dari Abi Ashim, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.). Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi   Baca Selanjutnya Kajian Maulid Diba' #06 "Tsumma Arudduhu minal Arsy & Sholatullahi Malahat Kawakib"      

Yub’atsu min Tihamah – Kajian Maulid Diba’ (05)

 Kalamulama.com Kajian Maulid Diba' #05 "Yub'atsu min Tihamah"  اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Allah tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad)    يُبْعَثُ مِنْ تِهَامَةَ...
Kalam Ulama - HADITS SHAHIH ANJURAN SHOLAT RABU WEKASAN (SHOLAT LIDAF'IL BALA' ATAU SHOLAT TOLAK BALA') - Hadits ini sering dikeluarkan oleh Maha Guru saya di Malang ketika acara shalat tolak bala' Rabu wekasan setiap tahunnya, beliau Samahatul Ustadz Ad Da'i Ilallah Al Habib Muhammad Bilfaqih pernah mendengar dari yang Mulia Samahahatul Imam Al Hafidz Al Musnid Al Quthub Al Habib Abdullah Bilfaqih Radhiyallahu Anhum dari Al IMAMUL HABR Radhiyallahu Anhu bahwasanya setiap tahun pada akhir Rabu bulan shafar Allah SWT menurunkan 720.000 ribu bala', barang siapa yang shalat empat raka'at dihari itu, insya Allah dijauhkan dari Mala petaka dan Musibah aamiin aamiin aamiin ya rabbal aalamiin... عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال ؛ قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلّم : " مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ يُصَلُّوْنَ فِيْ آخِرِ الْأَرْبِعَاءِ مِنْ صَفَرَ إِلاَّ نَجَّاهُمُ اللّٰهُ مِنَ الْكَوَارِثِ (هذا الحديث حسن صحيح) ← اَلْكَوَارِثُ اي اَلْبَلَايَا Artinya :" Dari Abi Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam bersabda :" Tidaklah berkumpul suatu kaum mereka shalat dihari akhir Rabu dari bulan Shafar terkecuali Allah SWT menyelamatkan mereka dari malapetaka-malapetaka/musibah2". وقد كتبت هذا الحديث عن بعض المعلمين ، وهو سمع من سماحة الأستاذ الإمام رضي اللَّه عنه قال ؛ واللّفظ للقضاعي من طريق ابن زكريا عن يحيى بن عياض عن أبي الدبّوس عن صالح بن أبي زكريا بن شميل عن أبيه عن جدّه قال ؛ قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلّم : " إِنَّ اللّٰهَ يُنْزِلُ فِيْ آخِرِ أَرْبِعَاءَ مِنْ صَفَرَ ثَمَانَمِائَةِ أَلْفٍ وَعِشْرِيْنِ مِنَ الْبَلاَيَا فَمَنْ صَلَّى صَلَاتَهُ عَصَمَهُ اللّٰهُ مِنَ الْبَلاَيَا" (في رواية الإمام عبد الرزّاق في المسند ج ٢ ص: ٢٠٧ والإمام إبن زيد بن علي في المسند ج ١ ص: ٣٤ والقضائي في التّاريخ ج ٩ ص: ٢٠٣ ، أخرجاه شيخنا رضي اللَّه عنه أو كما قال) Artinya :" Saya mencatat hadits ini dari sebagian Mu'allimin di Ma'had, beliau mendengar hadits dari yang Mulia Samahatul Imam Radhiyallahu Anhu, Lafadz hadits ini dari Imam Al Qudha'i dari jalan sanad Thariq bin Zakariya dari Yahya bin 'Iyadz dari Abi Ad Dabbus dari Shalih bin Abi Zakariya bin Syumail Dari Ayahnya dari Kakeknya berkata, Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam bersabda : " Sesungguhnya Allah SWT menurunkan dihari akhir Rabu dari bulan Shafar 820.000 ribu dari bala' (musibah), Barangsiapa yang shalat dihari Rabu itu maka Allah SWT menjaganya dari pada bala'-bala' dan bencana-bencana/ malapetaka/musibah" (Diriwayatkan Imam Abdur Razzaq didalam Musnad Juz 2 hal: 208, dan Imam Ibnu Zaid bin Ali didalam Musnad Juz 1 hal: 34 dan Al Imam Al Qudha'i didalam Kitab Tarikh Juz 9 hal: 203). Didalam sebuah hadits lain yang diriwayatkan oleh Sayyidatuna Fathimah Ra. bahwa Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi wasallam bersabda: مَنْ صَلىَّ لَيْلَةَ اْلأَرْبِعَاءِ رَكْعَتَيْنِ يَقْرَاءُ فِى اْلأُوْلَى فَاتِحَةَ اْلكِتَابِ وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ اْلفَلَقْ عَشْرَ مَرَّاتٍ وَفِى الثَّانِيَّةِ قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ عَشْرَ مَرَّاتٍ ثُمَّ إِذَا سَلَمَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ عَشْرَمَرَّاتٍ ثُمَّ يُصَليِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَشْرَمَرَّاتٍ نَزَل َمِنْ كُلِّ سَمَاءٍ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ يَكْتُبُوْنَ ثَوَابَهُ إِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ Artinya :"Barangsiapa yang berkenan mengerjakan shalat 2 rakaat di malam Rabu, pada rakaaat pertama membaca surat al-Fatihah dan al-Falaq 10 kali dan pada rakaat kedua membaca al-Fatihah dan an-Nas 10 kali, kemudian setelah salam membaca istighfar 10 kali dan shalawat 10 kali maka 70 malaikat turun dari langit yang bertugas mencatatkan pahalanya sampai hari kiamat."

HADITS SHAHIH ANJURAN SHOLAT RABU WEKASAN (SHOLAT LIDAF’IL BALA’ ATAU SHOLAT TOLAK BALA’)

Kalam Ulama - HADITS SHAHIH ANJURAN SHOLAT RABU WEKASAN (SHOLAT LIDAF'IL BALA' ATAU SHOLAT TOLAK BALA') - Hadits ini sering dikeluarkan oleh Maha Guru...

Kajian Kifayatul Atqiya’ #06: Pengertian dan Kedudukan Taqwa dalam Tasawwuf

Oleh : Ahmad Hanafi Seorang salik atau pengembara pencari jalan meraih Wushul ilallah,selayaknya senantiasa melakukan hal-hal baik, kebaikan dunia, mapun kebaikan akherat. Kebaikan-kebaikan tersebut tentunya manusia tidak...

Kajian Maulid Diba’ #09 “Al-Haditsul Awwal”

اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) اَلْحَدِيْثُ الْأَوَّلُ عَنْ بَحْرِ الْعِلْمِ الدَّافِقِ وَلِسَانِ الْقُرْآَنِ النَّاطِقِ أَوْحَدِ عُلَمَآءِ النَّاسِ سَيِّدِنَا عَبْدِ...
KalamUlama.com - Fasubhana man Khoshshohu - Kajian Maulid Diba (07) اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) فَسُبْحَانَ مَنْ خَصَّهٗ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَشْرَفِ الْمَنَاصِبِ وَالْمَرَاتِبِ Maka Maha suci Alloh yang mengkhususkan Nabi Muhammad SAW dengan kemuliaan pangkat dan martabat أَحْمَدُهٗ عَلىٰ مَا مَنَحَ مِنَ الْمَوَاهِبِ Aku menyanjungkan pujian kepada-Nya, atas segala nikmat anugerah dan pemberian-Nya. وَأَشْهَدُ أَنْ لَآإِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهٗ لاَشَرِيْكَ لَهٗ رَبُّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبْ Dan aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Alloh yang Maha Esa lagi tiada sekutu bagi-Nya, pemilik arah timur dan barat. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلٰى سَآئِرِ الْأَعَاجِمِ وَالْأَعَارِبِ Dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya penghulu kami Nabi Muhammad itu adalah seorang hamba Alloh dan utusan-Nya yang diutus kepada semua bangsa ‘Ajam dan Arab. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلىٰ اٰلِهٖ وَأَصْحَابِهٖ أُوْلِى الْمَآَثِرِ وَالْمَنَاقِبِ Semoga rahmat Alloh dan salam-Nya tetap dilimpahkan kepada Nabi dan keluarga serta sahabatnya yang mempunyai perilaku agung dan sebutan nama baik. صَلاَةً وَسَلاَمًا دَآئِمَيْنِ مُتَلاَزِمَيْنِ يَاتِيْ قَآئِلُهُمَايَوْمَ الْقِيَامَةِ غَيْرَ خَآئِبِ Dengan rahmat dan salam yang kekal, keduanya merata kepada para pembacanya yang datang kelak di hari kiamat tanpa merugi. اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) ------------------------------------------ Keterangan : Salah satu kekhususan Nabi Muhammad SAW adalah membayar hutang setiap muslim yang meninggal dalam keadaan miskin. Diriwayatkan dalam Shohih Bukhori, Rosul SAW bersabda, “Ana awla bil mu’minina min anfusihim”, Aku (Nabi SAW) lebih awla (lebih utama didahulukan) daripada orang mukmin atas diri mereka sendiri. Kok bisa Rosul SAW mengatakan “aku lebih awla daripada orang-orang mukmin atas diri mereka sendiri”. Kenapa? Karena Firman Alloh SWT “Annabiyyu awla bil mu’minina min anfusihim” (QS. Al-Ahzab:6). Nabi SAW itu lebih utama, lebih patut didahulukan dari orang mukmin atas diri mereka sendiri, Kalau tidak kita ikuti sabda Beliau (SAW) yang selanjutnya, ucapan diatas terkesan 'sombong'. Aku (Nabi SAW) yang lebih utama dari orang mukmin atas diri mereka sendiri, tapi lihat ucapan (hadits beliau saw) selanjutnya, “...barangsiapa yang wafat masih meninggalkan hutang dan dia tidak punya uang atau harta untuk membayar hutangnya, aku (Nabi SAW) yang akan menyelesaikan hutangnya”. Setelah terjadinya fatah makkah, Rosul SAW mengatakan, “siapa yang punya hutang, datang padaku kalau tidak bisa bayar hutang”. Berapa banyak orang – orang muslimin yang wafat dan tidak mampu membayar hutangnya, mereka datang kepada Nabi SAW. Rosululloh SAW yang membayar hutang mereka. Subhanalloh! Inilah orang yang paling dermawan dari semua yang dermawan. Al-Imam Ibn Hajar Al-Asqolani di dalam kitabnya Fathul Bari bisyarah Shohih Bukhori menjelaskan, menukil beberapa hadits lainnya bahwa sebelum Fatah Makkah, Rosul SAW tidak mau menyolatkan jenazah yang masih punya hutang. Jadi kalau jenazah seseorang yang wafat, Rosul SAW bertanya, “ini masih punya hutang?”, kemudian dijawab “masih ada”. Maka Rosul SAW tidak mau sholat. Kalau sudah selesai hutangnya, atau ada orang yang bilang “aku yang menanggung”, baru Rosul SAW mau menyolatkannya. Ini bukan karena Rosul SAW benci atau menghina jenazah itu, tapi Rosul SAW tidak mau ada satu jenazah masuk ke dalam kuburnya masih membawa hutang, karena ia akan dihimpit oleh bumi. Demikian indahnya Nabiyyuna Muhammad SAW, tidak rela beliau ada satu jenazah yang masuk ke dalam kubur dihimpit oleh bumi. Ya Hanana bi Muhammad (Betapa Beruntungnya Kami dengan adanya Nabi Muhammad SAW). Allohumma Sholli wa Sallim wa Baarik 'Alaihi wa 'ala aalih. ADAPUN KEKHUSUSAN LAIN DARI PRIBADI AGUNG NABI MUHAMMAD SAW YANG TIDAK UNTUK UMATNYA ADA 4 (EMPAT) PERKARA, DIANTARANYA: 1. Kekhususan Nabi SAW dalam kewajiban, antara lain : Sholat dhuha Sholat witir Berkurban (udl-hiyyah) Siwak Bermusyawarah dalam setiap perkara, namun menurut Imam Syafi'i, ini tidak wajib mencegah kemungkaran yang Beliau lihat secara mutlak, bahkan menurut Imam Ghozali termasuk juga kemungkaran yang beliau tidak lihat. Membayar hutang setiap muslim yang meninggal dalam keadaan miskin. Namun menurut Al-Imam, ini apabila Beliau punya keluasan harta. Menceraikan diantara istri-istri Beliau yang memilih kehidupan dunia dan mempertahankan istri-istri Beliau yang memilih kehidupan akhirat Menasakh (menghapus) kewajiban sholat tahajud bagi Beliau. Roudlotut Tholibin VI / 238 - 241 Cetakan Beirut ----------------- 2. Kekhususan Nabi SAW dalam keharaman, antara lain : Menerima zakat dan sedekah, namun boleh menerima hadiah. Mengetahui tulisan dan lagu, Kanjeng Nabi adalah bergelar Al-Ummy. Beliau juga diharamkan meletakkan pedang-Nya sebelum peperangan usai. Ingin memiliki harta. Memandang bebas sana sini (jelalatan, red). Dan juga Beliau diharamkan untuk menahan (tidak menceraikan) istri yang tidak suka kepada Beliau. Roudlotut Tholib VI / 241 - 244 Cetakan Beirut -------------------- 3. Kekhususan dalam keringanan dan kebolehan, antara lain : Nabi SAW boleh menikah sampai sembilan, atau bahkan lebih, karena Beliau adalah sosok yang adil. Nabi SAW boleh menikah tanpa wali dan saksi. Nabi SAW boleh menikahi istrinya (ijab) dengan lafadl hibah, bukan ketika qobulnya (menjawab wali yang menikahkan) dan juga tanpa mahar. Wanita yang disukai oleh Nabi SAW wajib memenuhi apabila Beliau menginginkan, dan bagi suami dari wanita tersebut wajib menceraikannya apabila wanita itu diinginkan oleh beliau. Namun demikian dalam sejarah tidak pernah terjadi, hal ini semata-mata adalah karena kemuliaan dari akhlaq Beliau SAW. Nabi SAW boleh menikahi wanita yang Beliau suka tanpa sepengetahuan dari wanita itu sendiri dan juga tanpa sepengetahuan walinya. Nabi SAW diperbolehkan puasa wishol (bersambung terus menerus). Nabi SAW diperbolehkan memilih harta rampasan perang sebelum dibagi dan juga khumusul khumus ghonimah dan barang faik (temuan), juga boleh mengambil 4/5 sisanya jika Beliau menginginkan, walaupun demikian Beliau tidak pernah mengambil yang 4/5. Nabi SAW diperbolehkan menghukumi suatu perkara berdasarkan ilmu Beliau dan juga menghukumi dan bersaksi untuk Beliau sendiri dan juga untuk putra-putri Beliau. Nabi SAW juga tidak batal wudlu sebab tidur. Dan lain lain masih banyak lagi. Namun demikian sebagian besar kebolehan ini Beliau SAW tidak melakukannya. (وَمُعْظَمُ هَذِهِ الْمُبَاحَاتِ لَمْ يَفْعَلْهُ) Roudlotut Tholib VI / 244 Cetakan Beirut. -------------------- 4. Keutamaan Nabi Muhammad SAW : Istri-istri Beliau yang telah diceraikan / ditinggal wafat, haram dinikahi oleh orang lain, sekaligus mulianya Istri-istri beliau mengalahkan wanita sedunia, Taubat dan siksa mereka dilipat gandakan, mereka adalah "ummahatul mukminin" Bagi wanita-wanita dilarang bertanya kepada beliau kecuali dari balik hijab / tabir. Beliau SAW bergelar "khotamun nabiyyin" nabi terakhir. Beliau SAW bergelar "sayyidu waladi Adam" tuan dari anak Adam. Beliau SAW adalah nabi pertama yang dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat. Beliau SAW adalah nabi yang pertama mengetuk pintu surga. Beliau adalah nabi yang pertama mensyafa'ati dan disyafa'ati. Umat beliau adalah sebaik-baik umat dibandingkan dengan umat nabi lain, umat yang selalu terhindar dari berkumpul dalam kesesatan, umat yang shofnya seperti shofnya para malaikat. Mu'jizat beliau tetap ada dan terjaga, yakni Al-Qur'an. Umat beliau dimuliakan dengan syafa'at istimewa. Beliau SAW diutus untuk seluruh alam. Hati Beliau tidak pernah tidur. Beliau SAW mengetahui orang yang ada di belakang tanpa menoleh. Ibadah Beliau sambil duduk sama dengan ibadah Beliau sambil berdiri nilai pahalanya Tidak diperkenankan meninggikan suara diatas suara Beliau SAW. Haram memanggil Beliau SAW dengan nama beliau. Dilarang memanggil dengan nama kuniyah Beliau SAW, yakni khusus pada zaman Beliau SAW masih hidup, adapun sekarang boleh, misal: Yaa Abal Qosim. Wajib memenuhi undangan/ panggilan Beliau SAW meskipun saat sholat, namun sholatnya tidak batal. Beliau SAW digunakan untuk “ngalap berkah” dan untuk mencari kesembuhan meskipun dengan kencing dan darah Beliau SAW. Orang yang berzina pada masa beliau dihukumi kafir. Semua putri Beliau bernasab kepada Beliau SAW. Beliau SAW diperbolehkan menerima hadiah, dan diharamkan bagi Beliau SAW zakat dan shodaqoh. Beliau SAW diberi keistimewaan mengerti semua bahasa. Beliau SAW ketika wafat dalam keadaan menerima wahyu, begitu juga dalam keadaan sadar / taklif. Beliau SAW tidak pernah gila / junun, begitu juga dengan para nabi lainnya Beliau SAW tidak pernah mimpi basah, karena mimpi basah berasal dari setan. Melihat Beliau SAW dalam mimpi adalah nyata dan benar adanya. Bumi tidak akan memakan jasad Beliau SAW dan juga para nabi lainnya. Berdusta atas nama Beliau SAW secara sengaja adalah dosa besar. Dan lain lain masih banyak lagi. Menceritakan keistimewaan Nabi Muhammad SAW adalah disunnahkan (وَذِكْرُ الْخَصَائِصِ مُسْتَحَبٌّ ), Bahkan disebutkan dalam kitan Roudloh Syaikh Imam Nawawi hukumnya mendekati wajib agar orang-orang awam mengerti keistiwaan keistimewaan Beliau SAW. Roudlotut Tholib VI / - Cetakan Beirut روض الطالب هامش أسنى المطالب للشيخ محمد الرملي ج ٦ ص ٢٣٨ ـ ٢٤٤ مكتبة دار الكتب العلمية بيروت النوع الأول من خصائص النبي الواجبات (وَفِيهِ أَبْوَابٌ) اثْنَا عَشَرَ : (الْأَوَّلُ فِي) بَيَانِ (خَصَائِصِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) وَإِنَّمَا ذَكَرُوهَا هُنَا ; لِأَنَّهَا فِي النِّكَاحِ أَكْثَرُ مِنْهَا فِي غَيْرِهِ وَالصِّيغَةُ الْمَذْكُورَةُ مُشْعِرَةٌ بِذِكْرِ جَمِيعِ خَصَائِصِهِ إذْ الْجَمْعُ الْمُضَافُ لِمَعْرِفَةٍ مُسْتَغْرِقٌ وَلَيْسَ مُرَادًا لِمَا سَيَأْتِي (وَهِيَ أَنْوَاعٌ أَرْبَعَةٌ: أَحَدُهَا الْوَاجِبَاتُ) وَخَصَّ بِهَا لِزِيَادَةِ الزُّلْفَى وَالدَّرَجَاتِ فَلَنْ يَتَقَرَّبَ الْمُتَقَرِّبُونَ إلَى اللَّهِ تَعَالَى بِمِثْلِ أَدَاءِ مَا افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ قَالَ فِي الرَّوْضَةِ. قَالَ الْإِمَامُ: هُنَا قَالَ بَعْضُ عُلَمَائِنَا الْفَرِيضَةُ يَزِيدُ ثَوَابُهَا عَلَى ثَوَابِ النَّافِلَةِ أَيْ الْمُمَاثِلَةِ لَهَا بِسَبْعِينَ دَرَجَةً (وَهِيَ الضُّحَى وَالْوِتْرُ وَالْأُضْحِيَّةَ) لِخَبَرِ [ثَلَاثٌ هُنَّ عَلَيَّ فَرَائِضُ وَلَكُمْ تَطَوُّعٌ النَّحْرُ وَالْوِتْرُ وَرَكْعَتَا الضُّحَى] رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ وَضَعَّفَهُ وَيُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّ الْوَاجِبَ عَلَيْهِ أَقَلُّ الضُّحَى لَا أَكْثَرُهُ وَقِيَاسُهُ فِي الْوِتْرِ كَذَلِكَ وَاسْتَشْكَلَ وُجُوبَ الثَّلَاثَةِ عَلَيْهِ بِضَعْفِ الْخَبَرِ وَبِجَمْعِ الْعُلَمَاءِ بَيْنَ أَخْبَارِ الضُّحَى الْمُتَعَارِضَةِ فِي سُنِّيَّتِهَا بِأَنَّهُ كَانَ لَا يُدَاوِمُ عَلَيْهَا مَخَافَةَ أَنْ تُفْرَضَ عَلَى أُمَّتِهِ فَيَعْجِزُوا عَنْهَا وَبِأَنَّهُ قَدْ صَحَّ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يُوتِرُ عَلَى بَعِيرِهِ وَلَوْ كَانَ وَاجِبًا عَلَيْهِ لَامْتَنَعَ ذَلِكَ وَقَدْ يُجَابُ عَنْ الْأَوَّلِ بِاحْتِمَالِ أَنَّهُ اعْتَضَدَ بِغَيْرِهِ وَعَنْ الثَّانِي بِأَنَّ صَلَاةَ الضُّحَى وَاجِبَةٌ عَلَيْهِ فِي الْجُمْلَةِ وَعَنْ الثَّالِثِ بِاحْتِمَالِ أَنَّهُ صَلاهَا عَلَى الرَّاحِلَةِ وَهِيَ وَاقِفَةٌ عَلَى أَنَّ جَوَازَ أَدَائِهَا عَلَى الرَّاحِلَةِ مِنْ خَصَائِصِهِ أَيْضًا (وَالسِّوَاكُ) لِكُلِّ صَلَاةٍ ; لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِهِ لِكُلِّ صَلَاةٍ رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَغَيْرُهُ (وَالْمُشَاوَرَةُ) لِذَوِي الْأَحْلَامِ فِي الْأَمْرِ قَالَ تَعَالَى {وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ} لَكِنْ نَصَّ الشَّافِعِيُّ عَلَى عَدَمِ وُجُوبِهَا عَلَيْهِ حَكَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي الْمَعْرِفَةِ عِنْدَ اسْتِئْذَانِ الْبِكْرِ (وَتَغْيِيرُ مُنْكَرٍ رَآهُ) قَالَ الْغَزَالِيُّ وَلَمْ يَعْلَمْ أَوْ يَظُنَّ أَنَّ فَاعِلَهُ يَزِيدُ فِيهِ عِنَادًا (مُطْلَقًا) عَنْ التَّقْيِيدِ بِعَدَمِ الْخَوْفِ (وَمُصَابَرَةُ الْعَدُوِّ وَإِنْ كَثُرَ) وَلَوْ زَادَ عَلَى الضِّعْفِ وَلَوْ مَعَ الْخَوْفِ ; لِأَنَّهُ مَوْعُودٌ بِالْعِصْمَةِ وَالنَّصْرِ (وَقَضَاءُ دَيْنِ مُسْلِمٍ مَاتَ مُعْسِرًا) لِخَبَرِ الصَّحِيحَيْنِ [أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ فَمَنْ تُوُفِّيَ مِنْهُمْ فَتَرَك دَيْنًا فَعَلَيَّ قَضَاؤُهُ] وَقَيَّدَهُ الْإِمَامُ بِمَا إذَا اتَّسَعَ الْمَالُ. (وَلَا يَجِبُ عَلَى الْإِمَامِ) بَعْدَهُ (قَضَاؤُهُ مِنْ) مَالِ (الْمَصَالِحِ) كَمَا جَزَمَ بِهِ صَاحِبُ الْأَنْوَارِ وَغَيْرُهُ وَقِيلَ يَجِبُ عَلَيْهِ بِشَرْطِ اتِّسَاعِ الْمَالِ وَفَضْلِهِ عَنْ مَصَالِحِ الْأَحْيَاءِ وَالتَّرْجِيحُ مِنْ زِيَادَتِهِ (وَتَخْيِيرُ نِسَائِهِ) بَيْنَ مُفَارَقَتِهِ طَلَبًا لِلدُّنْيَا وَاخْتِيَارِهِ طَلَبًا لِلْآخِرَةِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى {يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِك} الْآيَتَيْنِ وَلِئَلا يَكُونَ مُكْرِهًا لَهُنَّ عَلَى الصَّبْرِ عَلَى مَا آثَرَهُ لِنَفْسِهِ مِنْ الْفَقْرِ وَهَذَا لَا يُنَافِي مَا صَحَّ أَنَّهُ تَعَوَّذَ مِنْ الْفَقْرِ ; لِأَنَّهُ فِي الْحَقِيقَةِ إنَّمَا تَعَوَّذَ مِنْ فِتْنَتِهِ كَمَا تَعَوَّذَ مِنْ فِتْنَةِ الْغِنَى أَوْ تَعَوَّذَ مِنْ فَقْرِ الْقَلْبِ بِدَلِيلِ قَوْلِهِ [لَيْسَ الْغِنَى بِكَثْرَةِ الْعَرَضِ وَإِنَّمَا الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ] وَلَمَّا خَيَّرَهُنَّ وَاخْتَرْنَهُ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ التَّزَوُّجَ عَلَيْهِنَّ وَالتَّبَدُّلَ بِهِنَّ مُكَافَأَةً لَهُنَّ فَقَالَ {لَا يَحِلُّ لَك النِّسَاءُ مِنْ بَعْدُ} الْآيَةَ ثُمَّ نُسِخَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى {إنَّا أَحْلَلْنَا لَك} الْآيَةَ لِتَكُونَ لَهُ الْمِنَّةُ بِتَرْكِ التَّزَوُّجِ عَلَيْهِنَّ ذَكَرَهُ الْأَصْلُ. (وَلَا يُشْتَرَطُ الْجَوَابُ) مِنْهُنَّ لَهُ (فَوْرًا) لِمَا فِي خَبَرِ الصَّحِيحَيْنِ مِنْ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا نَزَلَتْ آيَةُ التَّخْيِيرِ بَدَأَ بِعَائِشَةَ وَقَالَ إنِّي ذَاكِرٌ لَك أَمْرًا فَلَا تُبَادِرِينِي بِالْجَوَابِ حَتَّى تَسْتَأْمِرِي أَبَوَيْك (فَلَوْ اخْتَارَتْهُ) وَاحِدَةٌ مِنْهُنَّ (لَمْ يَحْرُمْ) عَلَيْهِ طَلَاقُهَا كَلَّمَتْهُ (أَوْ كَرِهَتْهُ) بِأَنْ اخْتَارَتْ الدُّنْيَا (تَوَقَّفَتْ الْفُرْقَةُ عَلَى الطَّلَاقِ) فَلَا تَحْصُلُ بِاخْتِيَارِهَا لِقَوْلِهِ تَعَالَى {فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ} (وَهَلْ قَوْلُهَا اخْتَرْت نَفْسِي طَلَاقٌ وَهَلْ لَهُ تَزَوُّجُهَا بَعْدَ الْفِرَاقِ) إذَا لَمْ تَكْرَه تَزَوُّجَهُ (أَوْ) لَهُ (تَخْيِيرُهُنَّ) فِيمَا مَرَّ (قَبْلَ مُشَاوَرَتِهِنَّ) فِي كُلٍّ مِنْ الثَّلَاثَةِ (وَجْهَانِ) أَوْجَهُهُمَا لَا فِي الْأُولَى وَتَعُمُّ فِي الْأَخِيرَتَيْنِ وَذِكْرُهُ الْأَخِيرَةَ مِنْ زِيَادَتِهِ عَلَى الرَّوْضَةِ وَتَعْبِيرُهُ فِي الْأُولَى بِالطَّلَاقِ أَوْلَى مِنْ تَعْبِيرِ أَصْلِهِ بِقَوْلِهِ صَرِيحٌ فِي الْفِرَاقِ (وَنَسَخَ وُجُوبَ التَّهَجُّدِ عَلَيْهِ) كَمَا نَسَخَ وُجُوبَهُ عَلَى غَيْرِهِ وَدَلِيلُ وُجُوبِهِ قَوْله تَعَالَى {وَمِنْ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَك} وَدَلِيلُ النُّسَخِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ (لَا) وُجُوبَ (الْوِتْرِ) عَلَيْهِ فَلَمْ يُنْسَخْ وَهَذَا يَقْتَضِي أَنَّ الْوِتْرَ غَيْرُ التَّهَجُّدِ وَهُوَ مَا صَرَّحَ الْأَصْلُ بِتَرْجِيحِهِ هُنَا لَكِنَّهُ رَجَحَ فِيمَا مَرَّ فِي صَلَاةِ التَّطَوُّعِ أَنَّهُ تَهَجَّدَ وَتَقَدَّمَ ثَمَّ الْجَمْعُ بَيْنَ الْكَلَامَيْنِ wAllohu a’lam Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi Sumber: Mau’idzoh hasanah al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB Baca Juga : Kajian Maulid Diba #08 Awwalu Maa Nastaftihu

Fasubhana man Khoshshohu – Kajian Maulid Diba dan Terjemahnya (07)

KalamUlama.com - Fasubhana man Khoshshohu - Kajian Maulid Diba (07) اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) فَسُبْحَانَ...

BEBERAPA KEMULIAAN DAN KEAMPUHAN DARI RATIB AL HADDAD

KalamUlama.com - BEBERAPA KEMULIAAN DAN KEAMPUHAN DARI RATIB AL HADDAD. Al-Imam Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad ra. terkenal sebagai seorang Arif billah atau waliyullah...

Kajian Maulid Diba’ #15 “Wawulida Shollallohu ‘Alaihi Wasallam”

اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) وَوُلِدَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَخْتُوْنًا بِيَدِ الْعِنَايَةِ Nabi Muhammad...
Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #17 : Muslim Yang Sempurna بسم الله الرحمن الرحيم كتاب الإيمان باب الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ. رواه الترمذي Artinya : Dari Abu Hurairah (w. 58 H) dia berkata, Rasulullah shalallah 'alaih wa sallam bersabda: "Muslim (yang sempurna) adalah seseorang yang selamat muslim yang lain dari gangguan lisan dan tangannya". H.R. al-Tirmidzi (w. 279 H) Baca Juga One Day One Hadits #16 : Menghargai Sesama Istifadah Hadits di atas menganjurkan bagi setiap muslim agar berbuat baik kepada muslim yang lainnya. Baik itu lewat lisan, ataupun lewat tangannya. Artinya seorang muslim harus sadar bahwa menyakiti muslim lainnya itu dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Baik itu menyakiti lewat lisan dengan ucapan-ucapan yang tidak baik, dan juga lewat perbuatan yang tidak baik. Minggu 06 Rabi'ul Akhir 1439 H/ 24 Desember 2017 M [Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-Sunnah]

One Day One Hadits #17 : Muslim Yang Sempurna

Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #17 : Muslim Yang Sempurna بسم الله الرحمن الرحيم كتاب الإيمان باب الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ...

Kajian Maulid Diba’ #10 “Al-Hadistu Tsaniy”

اللهم صل وسلم وبارك عليه Ya Alloh tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad) اَلْحَدِيْثُ الثَّانِيُّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ كَعْبِ الْأَحْبَارِ...