Home Cerita & Kisah Islam

Cerita & Kisah Islam

Cerita & Kisah Islam merupakan kumpulan kisah-kisah para Rosul, Nabi, Ulama dan orang-orang yang memiliki kisah yang inspiratif

Huumor Gus Dur

Humor Gus Dur Tentang Makam Wali

kalamulama.com -Humor Gus Dur Tentang Makam Wali. Suatu hari di tengah malam, Gus Dur menelpon Kang Muslim (almarhum, allah yarham) untuk ikut dalam rombongan...
Lima Malam Doa

Lima Malam Ijabah Do’a

kalamulama.com -Menurut KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al-Banjari atau yang lebih dikenal sebagai Guru Sekumpul, ada beberapa malam yang bagus untuk kita berdoa...
Kalam Ulama - Tokoh Besar Yang Tidak Ingin Terkenal. Diceritakan, seumur hidup beliau hanya mempunyai satu foto dan ketika akan meninggal beliau membakar fotonya tersebut karena takut identitasnya diketahui orang. Beliaulah sang Menantu Chadrotussyeh Hasyim, KH Maksum Ali Jombang. Kesederhanaannya membuat banyak orang tidak mengenal tokoh alim yang satu ini. Bahkan makam beliau yang terletak di komplek pemakaman Masyayih tebuireng pun pada nisannya tidak bernama. Padahal beliau adalah pengarang kitab Legendaris Al-Amtsilah At-Tashrifiyyah. Sebuah kitab ilmu sharaf yang amat masyhur di Nusantara, bahkan di luar negeri. Nama lengkapnya, Muhammad Ma’shum bin Ali bin Abdul Jabbar Al-Maskumambani. Lahir di Maskumambang, Gresik, tepatnya di sebuah pondok yang didirikan oleh sang kakek. Setelah belajar pada ayahnya, Ma’shum muda pergi menuntut ilmu di Pesantren Tebuireng Jombang. Ia termasuk salah satu santri generasi awal Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari. Pada masa itu, selain dituntut untuk belajar, para santri juga diharuskan ikut berjuang melawan penjajah. Kedatangannya ke Tebuireng disusul oleh adik kandungnya, Adlan Ali–kelak atas inisiatif Hadratus Syeikh, Kiai Adlan mendirikan pondok putri Wali Songo Cukir. Bertahun-tahun lamanya pemuda Ma’shum mengabdi di Tebuireng. kemampuannya dalam segala bidang ilmu, terutama bidang falak, hisab, sharaf, dan nahwu, membuat Hadratus Syeikh tertarik untuk menikahkan dengan putrinya, Khairiyah. Mendirikan Pondok Seblak adalah sebuah nama dusun yang terletak sekitar 300 m sebelah barat Tebuireng. Penduduk Seblak kala itu masih banyak yang melakukan kemungkaran, seperti halnya warga Tebuireng sebelum kedatangan Hadratus Syeikh. Melihat kondisi ini, Kiai Ma’shum merasa terpanggil untuk menyadarkan masyarakat setempat dan mengenalkan Islam secara perlahan. Jerih payahnya diridhai Allah SWT. Pada tahun 1913, ketika usianya baru 26 tahun, beliau mendirikan sebuah rumah sederhana yang terbuat dari bambu. Seiring berjalannya waktu, di sekitar rumah tersebut kemudian didirikan pondok dan masjid, yang berkembang cukup pesat. Meski sudah berhasil mendirikan pondok, Kiai Ma’shum tetap istiqamah mengajar di madrasah Salafiyah Syafiiyah Tebuireng, membantu Hadratus Syeikh mendidik santri. Pada tahun berikutnya, beliau diangkat menjadi Mufattis (Pengawas) di Madrasah tersebut. Karya Pena Meskipun jumlah karyanya tak sebanyak Hadratus Syeikh, akan tetapi hampir semua kitab karangannya sangat monumental. Bahkan, banyak orang yang lebih mengenal kitab karangannya dibanding pengarangnya. Ada empat kitab karya beliau; (1)Al-Amtsilah At-Tashrifiyyah. Kitab ini menerangkan ilmu sharaf. Susunannya sistematis, sehingga mudah difaham dan dihafal. Lembaga-lembaga pendidikan Islam, baik di Indonesia atau di luar negeri, banyak yang menjadikan kitab ini sebagai rujukan. Kitab ini bahkan menjadi menjadi pegangan wajib di setiap pesantren salaf. Ada yang menjulukinya kitab ”Tasrifan Jombang”. Kitab yang terdiri dari 60 halaman ini, telah diterbitkan oleh banyak penerbit, diantaranya Penerbit Salim Nabhan Surabaya. Pada halaman pertamanya tertera sambutan berbahasa Arab dari (mantan) menteri Agama RI, KH. Saifuddin Zuhri. (2) Fathul Qadir. Konon, ini adalah kitab pertama di Nusantara yang menerangkan ukuran dan takaran Arab dalam bahasa Indonesia. Diterbitkan pada tahun 1920-an, ketika Kiai Ma’shum masih hidup, oleh penerbit Salim Nabhan Surabaya. Halamannya tipis tapi lengkap. Kitab ini banyak dijumpai di pasaran. (3) Ad-Durus Al-Falakiyah. Meskipun banyak orang yang beranggapan bahwa ilmu falak itu rumit, tetapi bagi orang yang mempelajari kitab ini akan berkesan ”mudah”, karena disusun secara sistematis dan konseptual. Di dalamnya termuat ilmu hitung, logaritma, almanak Masehi dan Hijriyah, posisi Matahari, dll. Kitab yang diterbitkan oleh Salim Nabhan Surabaya tahun 1375 H ini, terdiri dari tiga juz dalam satu jilid dengan jumlah 109 halaman. (4) Badi’atul Mitsal. Kitab ini juga menerangkan perihal ilmu falak. Beliau berpatokan bahwa yang menjadi pusat pereda (4) Badi’atul Mitsal. Kitab ini juga menerangkan perihal ilmu falak. Beliau berpatokan bahwa yang menjadi pusat peredaran alam semesta bukanlah Matahari sebagaimana teori yang datang kemudian, melainkan Bumi. Sedangkan Matahari, planet dan bintang yang jumlahnya sekian banyaknya, berjalan mengelilingi Bumi. Pribadi yang Sederhana Sebagai Kiai yang berilmu tinggi, Kiai Ma’shum dikenal sebagi Kiai yang akrab dengan kalangan bawah. Saking akrabnya, banyak diantara mereka yang tak mengetahui kalau sebetulnya beliau adalah ulama besar. Dalam pandangannya, semua orang lebih pintar darinya. Kiai Ma’shum pernah berguru kepada seorang nelayan di perahu, selama dalam perjalanan haji. Beliau tidak merasa malu, meski orang lain menilainya aneh. Hasilnya, dari situ beliau menulis kitab Badi’ah Al-Mitsal. Beliau juga dikenal sufi. Untuk menghindari sikap sombong di hadapan manusia, menjelang wafat, beliau membakar fotonya. Padahal itu adalah satu-satunya foto yang dimiliki. Hal ini tak lain karena beliau takut identitasnya diketahui oleh banyak orang, yang nantinya akan menimbulkan penyakit hati seperti riya’, ujub, dan sombong. Pada tangal 24 Ramadhan 1351 atau 8 Januari 1933, Kiai Ma’sum wafat setelah sebelumnya menderita penyakit paru-paru. Beliau wafat pada usia + 46 tahun. Wafatnya Kiai Ma’shum merupakan ”musibah besar” terutama bagi santri Tebuireng, karena beliaulah satu-satunya ulama yang menjadi rujukan dalam segala bidang keilmuan setelah Hadratus Syeikh. Semoga segala amalnya diterima oleh Allah SWT dan apa yang ditinggalkan bermanfaat. Allahummagfir lahu wa nafa’ana bihi wa bi ulumihi. Amin.

Biografi Pengarang Kitab Al Amtsilah At tashrifiyyah : KH Maksum Ali

KalamUlama.com - Biografi Pengarang Kitab Al Amtsilah At tashrifiyyah : KH Maksum Ali. Tokoh Besar Yang Tidak Ingin Terkenal. Diceritakan, seumur hidup beliau hanya mempunyai...
Tirakat

Tirakat Ibu Syekh Mahfudz Termas

kalamulama.com - Tirakat Ibu Syekh Mahfudz Termas Oleh Dzulkifli Amnan ( Penulis buku Jalan Dakwah Ulama Nusantara) Saat berkesempatan sowan ke Gus Qayyum pada 7 syawal...
habib imam

Kisah Akhlak Al Habib Al Imam Al Quthub Abdul Qadir Bin Ahmad Assegaf

kalamulama.com Pernah suatu ketika Sayyidi Khalifatul Aslaf Al Habib Al Imam Al Quthub Abdul Qadir Bin Ahmad Assegaf. Pada suatu hari Habib keluar dari...
al buthy

Akhlak Antara Ulama: Habib Ali Al Jufri dan Syaikh Al Buthy

kalamulama.com- Akhlak Antara Ulama: Habib Ali Al Jufri dan Syaikh Al Buthy. "Semoga Allah membangkitkanku kelak bersama Fir'aun dan Haman jika aku memandang diriku lebih...
Kalam Ulama - Kisah Nabi Muhammad : Mengubur Wali Rajab Mantan Perampok Di zaman Nabi (saw), hidup seseorang perampok jalanan yang terkenal jahat. Ia biasa turun ke jalan setelah tengah malam. Jika ia menemukan seseorang yang berjalan sendirian, ia akan menangkapnya, merampoknya, kadang-kadang memukuli atau membunuhnya, kemudian ia akan kembali ke rumahnya. Tidak ada yang dapat menangkapnya. Nabi (saw) sering mengutuknya, dengan mengatakan ‘Ia adalah orang yang sangat jahat, aku tidak akan menyalatinya, dan aku tidak akan menguburinya di pemakaman Muslim. Setelah sekian tahun, perampok jalanan itu pun meninggal dunia. Karena Nabi (saw) biasa mengutuknya, anak-anak menyeretnya di jalan-jalan di Madinah kemudian melemparkannya ke dalam sebuah sumur yang kering. Segera setelah mereka melemparnya ke dalam sumur, Allah berbicara kepada Nabi (saw), “Wahai Nabi-Ku tercinta, pada hari ini salah satu di antara Wali-Ku telah meninggal dunia. Kau harus pergi dan memandikannya, membersihkannya, mengkafaninya, menyalatinya dan menguburkannya.” Nabi (saw) terkejut, karena sepanjang hidupnya beliau telah mengutuk orang itu. Sekarang ketika ia telah meninggal, Allah mengatakan bahwa ia adalah seorang Wali. [irp posts="3443" name="Kisah Datangnya Para Nabi Kepada Siti Aminah Saat Mengandung Nabi Muhammad"] Bagaimana mungkin ia menjadi Wali? Tetapi tidak ada yang dapat menggugat ilmu Allah, bahkan tidak pula Nabi-Nya (saw). Jika Allah ingin menjadikan seorang perampok menjadi wali, tidak ada orang yang dapat bertanya, “Mengapa?” Kita harus menerimanya. Itulah sebabnya menurut ajaran Sufi, termasuk ajaran Tarekat Naqsybandi, kalian harus memandang orang lain lebih baik daripada kalian. Kalian tidak tahu apakah Allah akan mengangkat derajat orang itu lebih tinggi daripada kalian, siapa yang bisa mengetahui? Tidak ada yang tahu. Oleh sebab itu tidak ada orang yang dapat menggugatnya. Jangan memandang rendah orang lain seolah-olah kalian lebih hebat daripada mereka. Kalian tidak tahu apakah dalam pandangan Allah orang itu adalah seorang Wali atau bukan. Siapa tahu? Oleh sebab itu senantiasa pandanglah orang lain lebih tinggi daripada kalian. Tunjukkan hormat kepada mereka dan bersikaplah tawaduk terhadap mereka. Jangan tunjukkan ego dan kesombongan. Rahmat Allah begitu besar sehingga kalian dilarang untuk melihat pada apa yang orang lakukan di sisi luarnya. Kalian tidak boleh menyebut mereka gila atau mengkritik perilaku buruk mereka. Biarkan mereka. Mereka mempunyai Tuhan yang akan menilai perbuatan mereka. Lihatlah diri kalian sendiri. Jadilah orang dengan perilaku yang baik. Jangan mencampuri urusan orang lain. Bukan tugas kalian untuk meluruskan mereka. Tugas kalian hanyalah memperbaiki diri kalian. Perbaiki diri kalian dan tinggalkan orang lain pada Tuhannya. Ini adalah pemahaman sejati dan merupakan ajaran Sufisme; tinggalkan orang lain pada Tuhannya dan ubahlah diri kalian sendiri. Jika kalian mengajari ego kalian untuk tidak mencampuri orang lain, kalian akan mendapati diri kalian hidup dalam kebahagiaan, karena pada saat kalian melihat orang lain, kalian hanya akan melihatnya sebagai hamba dari Tuhan yang sama dengan kalian sehingga Tuhan kadang-kadang akan mengampuni apa yang mereka lakukan. Jangan mengatakan, “Kau melakukan perbuatan yan salah dengan minum, bermain wanita, melakukan ini itu.” Tinggalkan mereka pada Tuhannya. Ajari mereka secara umum. Jangan fokus dan spesifik pada seseoang. Allah mengatakan kepada Nabi (saw), “Wahai Rasulullah, bawa dia dan bersihkan dia.” Nabi (saw) segera memanggil Abu Bakr ash-Shiddiq (r) dan berkata, “Wahai Abu Bakar (r), kita harus pergi dan menguburkan perampok jalanan yang telah meninggal dunia.” Abu Bakar ash-Shiddiq (r) berkata, “Wahai Rasulullah (saw), kau berkata bahwa kau tidak ingin menguburkannya di pemakaman Muslim!” Nabi (saw) menjawab, “Tidak! Allah memberitahuku bahwa ia adalah seorang Wali!” Apa yang dilakukan oleh perampok itu selama hidupnya hingga ia menjadi seorang wali? Ia membunuh, merampok, dan mencuri sepanjang hidupnya. Nabi (saw) masuk ke dalam sumur lalu mengangkat jenazah orang itu dengan tangannya sendiri dan dibantu para Sahabatnya. Beliau lalu membawanya ke rumahnya. Beliau membersihkannya, memandikannya dan mengkafaninya. Beliau juga menyalatinya, kemudian membawanya dari masjid menuju Pemakaman Baqi, perjalanan sejauh lima belas menit berjalan kaki. Namun saat itu perlu dua jam bagi Nabi (saw) untuk membawanya dari masjid menuju pemakaman. Seluruh Sahabat terheran-heran dengan cara berjalan Nabi (saw). Beliau (saw) telah mengambilkan wudu untuk jenazah dengan tangannya sendiri, memandikan dan menyalatkannya. Sekarang beliau membawanya ke kuburnya dengan jalan berjinjit. Para Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah (saw), mengapa engkau berjalan berjinjit?” Beliau berkata, “Allah memerintahkan seluruh Wali dari Timur dan Barat, seluruh malaikat dari ketujuh Langit dan seluruh makhluk spiritual untuk hadir dan mengikuti perjalanan keranda wali itu. Begitu banyak yang memenuhi jalan sehingga aku tidak bisa menemukan tempat untuk meletakkan kakiku. Sepanjang hidupku, tidak pernah aku seheran ini.” Setelah mereka menguburinya, Nabi (saw) tidak berbicara dengan siapapun, beliau segera kembali ke rumahnya dengan gemetar dan menggigil. Beliau duduk bersama Abu Bakr ash-Shiddiq (r) bertanya pada dirinya sendiri, apa yang telah dilakukan oleh Wali itu, yang sepanjang hidupnya merupakan seorang perampok, tetapi pada akhir hayatnya mendapat kemuliaan begitu tinggi dari Allah. Abu Bakr ash-Shiddiq (r) berkata, “Wahai Rasulullah (saw), aku malu untuk bertanya mengenai apa yang kusaksikan hari ini. Itu begitu mengherankan.” Nabi (saw) menjawab, “Wahai Abu Bakr ash-Shiddiq (r), aku pun lebih terkejut daripada engkau. Aku menunggu Jibril (as) untuk datang dan mengabariku apa yang terjadi.” Ketika Jibril (as) datang, Nabi (saw) berkata, “Wahai Jibril apa yang terjadi?” Jibril (as) menjawab, “Wahai Nabi (saw), jangan bertanya kepadaku. Aku juga merasa heran. Namun demikian, jangan heran, karena Allah dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh seseorang. Dia mengatakan agar engkau bertanya pada putri orang itu apa yang dilakukan semasa hidupnya.” Nabi (saw) segera pergi bersama Abu Bakr ash-Shiddiq (r) ke rumah perampok itu. Sekarang menteri atau sekretaris negara, tidak, bahkan seorang manager dari sebuah perusahaan memperlakukan setiap orang seolah-olah mereka adalah perampok di depan pintunya. Mereka tidak menunjukkan hormat maupun kerendahan hati. Nabi (saw), tidak memandang kekuatan dan statusnya sebagai insan kamil, sebagai Habibullah, beliau dengan tawaduk pergi ke rumah wali itu untuk bertanya kepada putrinya apa yang telah dilakukan oleh ayahnya selama hidupnya. Beliau (saw) berkata, “Wahai putriku, beritahukanlah kepadaku, bagaimana ayahmu hidup.” Ia berkata, “Wahai Rasulullah (saw), aku sangat malu terhadapmu. Apa yang akan kukatakan kepadamu? Ayahku adalah seorang pembunuh, seorang perampok. Aku tidak pernah melihatnya melakukan sesuatu yang baik. Ia merampok dan mencuri siang dan malam, kecuali selama satu bulan dalam setahun. Ketika bulan itu tiba, ia berkata, “Ini adalah bulan Allah,” karena ia mendengarmu berkata, “Rajab adalah bulan allah, Sya’ban adalan bulannya Nabi (saw) dan Ramadan adalah bulan umat.” Jadi ia berkata, “Aku tidak peduli dengan bulannya Nabi (saw), atau bulannya umat, aku hanya peduli dengan bulan Tuhanku. Oleh sebab itu, aku akan duduk di kamarku, menutupnya dan melakukan khalwat di bulan ini.” Nabi (saw) bertanya, “Khalwat seperti apa yang dilakukan olehnya?” Ia berkata, “Wahai Rasulullah (saw), pada suatu hari ia pergi ke jalan mencari orang yang akan dirampoknya. Ia menemukan seorang orang tua berumur sekitar tujuh puluh atau delapan puluh tahun. Ia memukulnya hingga tidak sadar dan merampoknya. Ia menemukan sehelai lipatan kertas di dalam kantongnya. Ia membukanya dan menemukan sebuah doa di sana. Ia sangat menyukai doa itu. Setiap tahun ketika bulan Rajab tiba–bulannya Allah, ayahku biasa duduk dan membaca doa itu siang dan malam sambil berurai air mata, ia terus membacanya, kecuali ketika ia mau makan atau mengambil wudu. Setelah bulan Rajab berlalu ia akan bangun dan berkata, “Bulan Allah telah berlalu. Sekarang gilirian kesenanganku,” ia lalu kembali merampok dan mencuri selama sebelas tahun lainnya.” Doa yang biasa dibaca oleh orang itu adalah doa yang sangat penting dan sangat dianjurkan untuk dibaca sebanyak tiga kali sehari di bulan Rajab. Mawlana Syekh Nazim berkata bahwa doa ini memurnikan diri kalian dari semua dosa dan menjadikan kelian bagaikan orang yang baru dilahirkan. Ini adalah doa yang sangat terkenal di kalangan Sufi. Ketika Nabi (saw) meminta anak itu membawakan kertas berisi doa tadi, beliau menciumnya dan menggosokkan kertas itu ke seluruh tubuhnya. Saya menasihati kalian semua agar tidak melupakan doa itu, bacalah selama bulan Rajab. Allah akan memberi kalian apa yang dikehendaki-Nya, sesuai dengan niat kalian. Allah (swt) mengatakan kepada Nabi (saw), “Wahai Nabi-Ku tercinta, orang itu datang dan bertobat kepada-Ku pada bulan yang paling berharga selama setahun. Untuk itulah, karena ia telah berkorban, paling tidak satu bulan dalam setahun untuk-Ku, Aku telah mengampuni seluruh kesalahannya dan aku telah mengubah seluruh dosanya menjadi hasanah. Karena ia mempunyai begitu banyak dosa, kini ia mempunyai begitu banyak hasanah, dan ia menjadi seorang wali besar. Oleh : Maulana Syaikh Hisyam Kabbani [irp posts="4866" name="Amalan dan Keutamaan Bulan Rajab Lengkap"] Do'a Wali Rajab اللهم اني استغفرك من كل ما تبت عنه اليك ثم عدت فيه، استغفرك من كل ما اردت به وجهك فخالطني فيه ما ليس فيه رضائك. واستغفرك للنعم التي تقويت بها على معصيتك، واستغفرك من الذنوب التي لا يعلمها غيرك ولا يطلع عليها احد سواك ولا تسعها الا رحمتك ولا تنجي منها الا مغفرتك وحلمك لا اله الا أنتَ سبحانك اني كنت من الظالمين اللهم اني استغفرك من كل ظلم ظلمت به عبادك فايما عبد من عبادك أو امة من امائك ظلمت في بدنه أو عرضه أو ماله فأعطه من خزائنك التي لا تنقص وأسألك ان تكرمني برحمتك التي وسعت كل شيء ولا تهينني بعذابك وتعطيني ما أسألك فاني حقيق برحمتك يا ارحم الراحمين. وصلى الله على سيدنا محمد وآله وصحبه أجمعين، ولا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم

Kisah Nabi Muhammad : Mengubur Wali Rajab Mantan Perampok

Kalam Ulama - Kisah Nabi Muhammad : Mengubur Wali Rajab Mantan Perampok Di zaman Nabi (saw), hidup seseorang perampok jalanan yang terkenal jahat. Ia biasa turun...
Kalam Ulama - Bacaan Sholawat yang Pendek tapi Sangat Besar Berkah dan Manfaatnya - Pada suatu hari seorang lelaki dari Syam mendatangi Baginda Rosulullah صلى الله عليه وسلم bertanya kepada beliau : yaa Rosulullah aku punya ayah yg sudah lanjut usia dan ia ingin sekali berjumpa denganmu" "Beliau berkata :"kalau begitu suruh dia untuk memperbanyak membaca صلى الله على محمد selama 7 hari 7 malam, maka dia akan bertemu aku dalam mimpi. Bacaan sholawat nya : صلى الله على محمد Lelaki itupun lalu bergegas pulang dan menyampaikan pesan Baginda Rosulullah صلى الله عليه وسلم kepada ayahnya, lalu ayahnya mengamalkan pesan tersebut hingga beliau bertemu Baginda Rosulullah lewat mimpinya." ۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞

Manfaat Sholawat yang Pendek tapi Sangat Besar Berkahnya

Kalam Ulama - Manfaat Sholawat yang Pendek tapi Sangat Besar Berkahnya - Pada suatu hari seorang lelaki dari Syam mendatangi Baginda Rosulullah صلى الله عليه وسلم bertanya...
kalamulama.com / Kisah Hikmah Penjual Cemilan - Di Tepi Jln Ada bapak jualan cemilan. Aku beli 3 bungkus kripik. Kutanya, "berapa, Pak?"Sambil nunduk bapak

Kisah Hikmah Kehidupan dari Seorang Penjual Cemilan, Mengharukan!!

kalamulama.com / Kisah Hikmah Kehidupan dari Penjual Cemilan - Di Tepi Jln Ada bapak jualan cemilan. Aku beli 3 bungkus kripik. Kutanya, "berapa, Pak?" Sambil nunduk...
Kalam Ulama - Sholawat Badriyah atau lebih dikenal dengan Sholawat Badar adalah “Lagu Wajib” Nahdlatul Ulama. Berisi puji-pujian kepada Rosululloh SAW dan Ahli Badar (Para Sahabat yang mati syahid dalam Perang Badar). Berbentuk Syair, dinyanyikan dengan lagu yang khas. Sholawat Badar digubah oleh Kiai Ali Mansur Banyuwangi, salah seorang cucu dari KH. Muhammad Shiddiq Jember tahun 1960. Kiai Ali Mansur saat itu menjabat Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi, sekaligus menjadi Ketua PCNU di tempat yang sama. Proses terciptanya Sholawat Badar penuh dengan misteri dan teka-teki. Konon, pada suatu malam, beliau tidak bisa tidur. Hatinya merasa gelisah karena terus-menerus memikirkan situasi politik yang semakin tidak menguntungkan NU. Orang-orang PKI semakin leluasa mendominasi kekuasaan dan berani membunuh kiai-kiai di pedesaan. Karena memang kiai-lah pesaing utama PKI saat itu. Sambil merenung, Kiai Ali Mansur terus memainkan pena-nya diatas kertas, menulis syair-syair dalam bahasa arab. Beliau memang dikenal mahir membuat syair sajak ketika masih belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri. Kegelisahan Kiai Ali Mansur berbaur dengan rasa heran, karena malam sebelumnya bermimpi didatangi oleh para habib berjubah putih-hijau. Semakin mengherankan lagi, karena pada saat yang sama istrinya mimpi bertemu Rosululloh SAW. Keesokan harinya, mimpi itu ditanyakan pada Habib Hadi al-Haddar Banyuwangi. Habib Hadi menjawab, “ Itu Ahli Badar, ya Akhy.” Kedua mimpi aneh dan terjadi secara bersamaan itulah yang mendorong dirinya menulis syair, yang kemudian dikenal dengan Sholawat Badar. Keheranan muncul lagi karena keesokan harinya banyak tetangga yang datang kerumahnya sambil mebawa beras, daging, dan lain sebagainya, layaknya akan mendatangi orang yang akan punya hajat mantu. Mereka bercerita, bahwa pagi-pagi buta pintu rumah mereka didatangi orang berjubah putih yang memberitahukan bahwa di rumah Kiai Ali Mansur akan ada kegiatan besar. Mereka diminta untuk membantu. Maka mereka pun membantu sesuai dengan kemampuannya. “Siapa orang yang berjubah putih itu?” Pertanyaan itu terus mengiang-ngiang dalam benak Kiai Ali Mansur tanpa jawaban. Namun malam harinya banyak orang bekerja di dapur untuk menyambut kedatangan tamu, yang mereka sendiri tidak tahu siapa, dari mana dan untuk apa? Menjelang matahari terbit, serombongan habib berjubah putih-hijau yang dipimpin oleh Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi dari Kwitang Jakarta, datang kerumah Kiai Ali Mansur. “Alhamdulillah………,” ucap kiai Ali Mansur ketika melihat rombongan yang datang adalah para habaib yang sangat dihormati keluarganya. Setelah berbincang basa-basi sebagai pengantar, membahas perkembangan PKI dan kondisi politik nasional yang semakin tidak menguntungkan, Habib Ali menanyakan topik lain yang tidak diduga oleh Kiai Ali Mansur: “ Ya Akhy! Mana Syair yang ente buat kemarin? Tolong ente bacakan dan lagukan di hadapan kami-kami ini!” Tentu saja Kiai Ali Mansur terkejut, sebab Habib Ali mengetahui apa yang dikerjakannya semalam. Namun beliau memaklumi, mungkin itulah karomah yang diberikan Alloh kepada Habib Ali. Sebab dalam dunia kewalian, pemandangan seperti itu bukanlah perkara aneh yang patut dicurigai. Segera saja Kiai Ali Mansur mengambil kertas yang berisi Sholawat Badar hasil gubahannya semalam, lalu melagukannya di hadapan Habib Ali beserta rombongan. Secara kebetulan Kiai Ali Mansur pun memiliki suara yang bagus. Ditengah alunan suara Sholawat Badar, para Habaib mendengarkannya dengan khusyuk. Tak lama kemudian mereka meneteskan air mata karena haru. Selesai mendengarkan Sholawat Badar yang dikumandangkan oleh Kiai Ali Mansur, Habib Ali segera bangkit, “Ya Akhy….! Mari kita perangi genjer-genjer PKI itu dengan Sholawat Badar…!” serunya dengan nada mantap. Setelah Habib Ali memimpin doa, lalu rombongan itu mohon diri. Sejak saat itu terkenallah Sholawat Badar sebagai bacaan warga NU untuk membangkitkan semangat melawan orang-orang PKI. Kemudian untuk lebih mempopulerkannya, Habib Ali mengundang para habaib dan ulama (termasuk Kiai Ali Mansur dan KH. Ahmad Qusyairi, paman Kiai Ali Mansur) ke Majelis Ta’lim Kwitang, Jakarta. Pada forum istimewa itulah Sholawat Badar dikumandangkan secara luas oleh Kiai Ali Mansur. Sumber : Antologi NU Jilid I. Pengantar KH. Abdul Muhith Muzadi Oleh : Ahmad Ulul Azmi Baca Juga : Teks Sholawat Badar dan Terjemahnya

Kisah Ulama Indonesia : Proses Terciptanya Sholawat Badar penuh dengan Misteri

Kalam Ulama - Sholawat Badar atau disebut Sholawat Badriyah adalah “Lagu Wajib” Nahdlatul Ulama. Berisi puji-pujian kepada Rosululloh SAW dan Ahli Badar (Para Sahabat yang...