Home Cerita & Kisah Islam

Cerita & Kisah Islam

Cerita & Kisah Islam merupakan kumpulan kisah-kisah para Rosul, Nabi, Ulama dan orang-orang yang memiliki kisah yang inspiratif

al buthi albani

Debat Syekh Al Buthi vs Albani

kalamulama.com- Debat Syekh Al Buthi vs Albani Inilah sebab kenapa murid2 Syekh Albani dendam kepada Syekh Al Buthi yang pernah mengalahkan Albani debat. Albani yg...
Doa Rindu Berjumpa Sang Kekasih - Doa KH Maimoen Zubair Menjelang Wafat

Doa Rindu Berjumpa Sang Kekasih – Doa KH Maimoen Zubair Menjelang Wafat

KalamUlama.com - Doa Rindu Berjumpa Sang Kekasih - Doa KH Maimoen Zubair Menjelang Wafat. Khidmah Mengurus Jenazah Mbah Maemun. Setelah mendengar KH Maimoen Zubair sedo...
KALAMULAMA.COM- MAYAT PECINTA SHOLAWAT Oleh: Habib Luthfi bin Yahya Waktu mondok di Kedung Paruk Purwkerto. Disana ada tukang kuli angkut bernama Darjo, pekerja kasar, ada beras ya ngangkut beras. Biasa setelah salat subuh tidur sebentar jam 7 keluar kerja kepasar rutin begitu sampai wafat

MAYAT PECINTA SHOLAWAT

KALAMULAMA.COM- MAYAT PECINTA SHOLAWAT Oleh: Habib Luthfi bin Yahya Waktu mondok di Kedung Paruk Purwkerto. Disana ada tukang kuli angkut bernama Darjo, pekerja kasar, ada beras...
(Kalam Ulama). Kisah Keajaiban Sholawat, Sang Pemakan Riba Selamat. Dalam kitab Irsyadul 'Ibad karya Syaikh Al-Malibari diriwayatkan bahwa ada seorang lelaki di musim haji yang senantiasa membaca sholawat dalam setiap kegiatan hajinya. Hingga seseorang bertanya kepadanya, "Mengapa kamu tidak menyibukkan diri dengan doa-doa yang ma'tsur (yang biasa dibaca orang lain dalam haji)?" Sedikit menyindir kelakuannya tersebut. Ia pun menjawab dengan bercerita: Awalnya aku berangkat haji bersama ayahku. Hanya saja beliau wafat saat kami baru sampai di kota Basrah. Tatkala orang-orang akan mengurus jenazahnya, aku pun menyingkap kain penutup wajah beliau. Alangkah kagetnya diriku. Wajah beliau berubah menjadi keledai. Aku sangat sedih dengan hal tersebut. (Baca Juga : Ijazah Habib Umar Bin Hafidz di Bulan Maulid : Membaca 3000x Sholawat Aku menangis hingga aku tertidur. Dalam tidurku aku bermimpi melihat Rasulullah SAW. Aku menghampiri beliau dan menceritakan kejadian yang menimpa ayahku. Beliaupun bersabda, "Sesungguhnya ayahmu adalah orang yang suka memakan riba, dan orang yang suka memakan riba akan dibalas oleh Allah semenjak di dunia hingga akhirat nanti. Tapi tenang, ayahmu adalah orang yang suka bersalawat kepadaku. Ia senantiasa bersalawat kepadaku seratus kali setiap malam sebelum tidur. Aku tahu itu, sebab setiap kali ia bersalawat seorang malaikat yang memang ditugaskan membawa amal umatku untuk diperlihatkan kepadaku datang membawa sholawat ayahmu. Aku akan memohon kepada Allah agar mengizinkan aku mensyafaati ayahmu." Akupun terbangun. Aku langsung melihat wajah ayahku dan kudapati wajahnya telah berubah kembali, bahkan kini ia bersinar bak bulan purnama. Saat beliau akan dimakamkan aku mendengar suara misterius. Katanya, "Sebab pertolongan bagi ayahmu adalah kebiasaannya membaca sholawat dan salam untuk Rasulullah SAW." Sejak saat itu aku tidak pernah meninggalkan bacaan sholawat kapanpun dan dimanapun aku berada. Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad. (Baca Juga Tanya Jawab Islam: Apakah Nabi Menjawab Shalawat Dan Salam Dari Umatnya?) Bogor, 22 November 2017 Oleh : Ustadz Adhli Alqarni

Kisah Keajaiban Sholawat, Sang Pemakan Riba Selamat

(Kalam Ulama). Kisah Keajaiban Sholawat, Sang Pemakan Riba Selamat. Dalam kitab Irsyadul 'Ibad karya Syaikh Al-Malibari diriwayatkan bahwa ada seorang lelaki di musim haji...
Kalam Ulama - Kisah Nabi Muhammad : Mengubur Wali Rajab Mantan Perampok Di zaman Nabi (saw), hidup seseorang perampok jalanan yang terkenal jahat. Ia biasa turun ke jalan setelah tengah malam. Jika ia menemukan seseorang yang berjalan sendirian, ia akan menangkapnya, merampoknya, kadang-kadang memukuli atau membunuhnya, kemudian ia akan kembali ke rumahnya. Tidak ada yang dapat menangkapnya. Nabi (saw) sering mengutuknya, dengan mengatakan ‘Ia adalah orang yang sangat jahat, aku tidak akan menyalatinya, dan aku tidak akan menguburinya di pemakaman Muslim. Setelah sekian tahun, perampok jalanan itu pun meninggal dunia. Karena Nabi (saw) biasa mengutuknya, anak-anak menyeretnya di jalan-jalan di Madinah kemudian melemparkannya ke dalam sebuah sumur yang kering. Segera setelah mereka melemparnya ke dalam sumur, Allah berbicara kepada Nabi (saw), “Wahai Nabi-Ku tercinta, pada hari ini salah satu di antara Wali-Ku telah meninggal dunia. Kau harus pergi dan memandikannya, membersihkannya, mengkafaninya, menyalatinya dan menguburkannya.” Nabi (saw) terkejut, karena sepanjang hidupnya beliau telah mengutuk orang itu. Sekarang ketika ia telah meninggal, Allah mengatakan bahwa ia adalah seorang Wali. [irp posts="3443" name="Kisah Datangnya Para Nabi Kepada Siti Aminah Saat Mengandung Nabi Muhammad"] Bagaimana mungkin ia menjadi Wali? Tetapi tidak ada yang dapat menggugat ilmu Allah, bahkan tidak pula Nabi-Nya (saw). Jika Allah ingin menjadikan seorang perampok menjadi wali, tidak ada orang yang dapat bertanya, “Mengapa?” Kita harus menerimanya. Itulah sebabnya menurut ajaran Sufi, termasuk ajaran Tarekat Naqsybandi, kalian harus memandang orang lain lebih baik daripada kalian. Kalian tidak tahu apakah Allah akan mengangkat derajat orang itu lebih tinggi daripada kalian, siapa yang bisa mengetahui? Tidak ada yang tahu. Oleh sebab itu tidak ada orang yang dapat menggugatnya. Jangan memandang rendah orang lain seolah-olah kalian lebih hebat daripada mereka. Kalian tidak tahu apakah dalam pandangan Allah orang itu adalah seorang Wali atau bukan. Siapa tahu? Oleh sebab itu senantiasa pandanglah orang lain lebih tinggi daripada kalian. Tunjukkan hormat kepada mereka dan bersikaplah tawaduk terhadap mereka. Jangan tunjukkan ego dan kesombongan. Rahmat Allah begitu besar sehingga kalian dilarang untuk melihat pada apa yang orang lakukan di sisi luarnya. Kalian tidak boleh menyebut mereka gila atau mengkritik perilaku buruk mereka. Biarkan mereka. Mereka mempunyai Tuhan yang akan menilai perbuatan mereka. Lihatlah diri kalian sendiri. Jadilah orang dengan perilaku yang baik. Jangan mencampuri urusan orang lain. Bukan tugas kalian untuk meluruskan mereka. Tugas kalian hanyalah memperbaiki diri kalian. Perbaiki diri kalian dan tinggalkan orang lain pada Tuhannya. Ini adalah pemahaman sejati dan merupakan ajaran Sufisme; tinggalkan orang lain pada Tuhannya dan ubahlah diri kalian sendiri. Jika kalian mengajari ego kalian untuk tidak mencampuri orang lain, kalian akan mendapati diri kalian hidup dalam kebahagiaan, karena pada saat kalian melihat orang lain, kalian hanya akan melihatnya sebagai hamba dari Tuhan yang sama dengan kalian sehingga Tuhan kadang-kadang akan mengampuni apa yang mereka lakukan. Jangan mengatakan, “Kau melakukan perbuatan yan salah dengan minum, bermain wanita, melakukan ini itu.” Tinggalkan mereka pada Tuhannya. Ajari mereka secara umum. Jangan fokus dan spesifik pada seseoang. Allah mengatakan kepada Nabi (saw), “Wahai Rasulullah, bawa dia dan bersihkan dia.” Nabi (saw) segera memanggil Abu Bakr ash-Shiddiq (r) dan berkata, “Wahai Abu Bakar (r), kita harus pergi dan menguburkan perampok jalanan yang telah meninggal dunia.” Abu Bakar ash-Shiddiq (r) berkata, “Wahai Rasulullah (saw), kau berkata bahwa kau tidak ingin menguburkannya di pemakaman Muslim!” Nabi (saw) menjawab, “Tidak! Allah memberitahuku bahwa ia adalah seorang Wali!” Apa yang dilakukan oleh perampok itu selama hidupnya hingga ia menjadi seorang wali? Ia membunuh, merampok, dan mencuri sepanjang hidupnya. Nabi (saw) masuk ke dalam sumur lalu mengangkat jenazah orang itu dengan tangannya sendiri dan dibantu para Sahabatnya. Beliau lalu membawanya ke rumahnya. Beliau membersihkannya, memandikannya dan mengkafaninya. Beliau juga menyalatinya, kemudian membawanya dari masjid menuju Pemakaman Baqi, perjalanan sejauh lima belas menit berjalan kaki. Namun saat itu perlu dua jam bagi Nabi (saw) untuk membawanya dari masjid menuju pemakaman. Seluruh Sahabat terheran-heran dengan cara berjalan Nabi (saw). Beliau (saw) telah mengambilkan wudu untuk jenazah dengan tangannya sendiri, memandikan dan menyalatkannya. Sekarang beliau membawanya ke kuburnya dengan jalan berjinjit. Para Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah (saw), mengapa engkau berjalan berjinjit?” Beliau berkata, “Allah memerintahkan seluruh Wali dari Timur dan Barat, seluruh malaikat dari ketujuh Langit dan seluruh makhluk spiritual untuk hadir dan mengikuti perjalanan keranda wali itu. Begitu banyak yang memenuhi jalan sehingga aku tidak bisa menemukan tempat untuk meletakkan kakiku. Sepanjang hidupku, tidak pernah aku seheran ini.” Setelah mereka menguburinya, Nabi (saw) tidak berbicara dengan siapapun, beliau segera kembali ke rumahnya dengan gemetar dan menggigil. Beliau duduk bersama Abu Bakr ash-Shiddiq (r) bertanya pada dirinya sendiri, apa yang telah dilakukan oleh Wali itu, yang sepanjang hidupnya merupakan seorang perampok, tetapi pada akhir hayatnya mendapat kemuliaan begitu tinggi dari Allah. Abu Bakr ash-Shiddiq (r) berkata, “Wahai Rasulullah (saw), aku malu untuk bertanya mengenai apa yang kusaksikan hari ini. Itu begitu mengherankan.” Nabi (saw) menjawab, “Wahai Abu Bakr ash-Shiddiq (r), aku pun lebih terkejut daripada engkau. Aku menunggu Jibril (as) untuk datang dan mengabariku apa yang terjadi.” Ketika Jibril (as) datang, Nabi (saw) berkata, “Wahai Jibril apa yang terjadi?” Jibril (as) menjawab, “Wahai Nabi (saw), jangan bertanya kepadaku. Aku juga merasa heran. Namun demikian, jangan heran, karena Allah dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh seseorang. Dia mengatakan agar engkau bertanya pada putri orang itu apa yang dilakukan semasa hidupnya.” Nabi (saw) segera pergi bersama Abu Bakr ash-Shiddiq (r) ke rumah perampok itu. Sekarang menteri atau sekretaris negara, tidak, bahkan seorang manager dari sebuah perusahaan memperlakukan setiap orang seolah-olah mereka adalah perampok di depan pintunya. Mereka tidak menunjukkan hormat maupun kerendahan hati. Nabi (saw), tidak memandang kekuatan dan statusnya sebagai insan kamil, sebagai Habibullah, beliau dengan tawaduk pergi ke rumah wali itu untuk bertanya kepada putrinya apa yang telah dilakukan oleh ayahnya selama hidupnya. Beliau (saw) berkata, “Wahai putriku, beritahukanlah kepadaku, bagaimana ayahmu hidup.” Ia berkata, “Wahai Rasulullah (saw), aku sangat malu terhadapmu. Apa yang akan kukatakan kepadamu? Ayahku adalah seorang pembunuh, seorang perampok. Aku tidak pernah melihatnya melakukan sesuatu yang baik. Ia merampok dan mencuri siang dan malam, kecuali selama satu bulan dalam setahun. Ketika bulan itu tiba, ia berkata, “Ini adalah bulan Allah,” karena ia mendengarmu berkata, “Rajab adalah bulan allah, Sya’ban adalan bulannya Nabi (saw) dan Ramadan adalah bulan umat.” Jadi ia berkata, “Aku tidak peduli dengan bulannya Nabi (saw), atau bulannya umat, aku hanya peduli dengan bulan Tuhanku. Oleh sebab itu, aku akan duduk di kamarku, menutupnya dan melakukan khalwat di bulan ini.” Nabi (saw) bertanya, “Khalwat seperti apa yang dilakukan olehnya?” Ia berkata, “Wahai Rasulullah (saw), pada suatu hari ia pergi ke jalan mencari orang yang akan dirampoknya. Ia menemukan seorang orang tua berumur sekitar tujuh puluh atau delapan puluh tahun. Ia memukulnya hingga tidak sadar dan merampoknya. Ia menemukan sehelai lipatan kertas di dalam kantongnya. Ia membukanya dan menemukan sebuah doa di sana. Ia sangat menyukai doa itu. Setiap tahun ketika bulan Rajab tiba–bulannya Allah, ayahku biasa duduk dan membaca doa itu siang dan malam sambil berurai air mata, ia terus membacanya, kecuali ketika ia mau makan atau mengambil wudu. Setelah bulan Rajab berlalu ia akan bangun dan berkata, “Bulan Allah telah berlalu. Sekarang gilirian kesenanganku,” ia lalu kembali merampok dan mencuri selama sebelas tahun lainnya.” Doa yang biasa dibaca oleh orang itu adalah doa yang sangat penting dan sangat dianjurkan untuk dibaca sebanyak tiga kali sehari di bulan Rajab. Mawlana Syekh Nazim berkata bahwa doa ini memurnikan diri kalian dari semua dosa dan menjadikan kelian bagaikan orang yang baru dilahirkan. Ini adalah doa yang sangat terkenal di kalangan Sufi. Ketika Nabi (saw) meminta anak itu membawakan kertas berisi doa tadi, beliau menciumnya dan menggosokkan kertas itu ke seluruh tubuhnya. Saya menasihati kalian semua agar tidak melupakan doa itu, bacalah selama bulan Rajab. Allah akan memberi kalian apa yang dikehendaki-Nya, sesuai dengan niat kalian. Allah (swt) mengatakan kepada Nabi (saw), “Wahai Nabi-Ku tercinta, orang itu datang dan bertobat kepada-Ku pada bulan yang paling berharga selama setahun. Untuk itulah, karena ia telah berkorban, paling tidak satu bulan dalam setahun untuk-Ku, Aku telah mengampuni seluruh kesalahannya dan aku telah mengubah seluruh dosanya menjadi hasanah. Karena ia mempunyai begitu banyak dosa, kini ia mempunyai begitu banyak hasanah, dan ia menjadi seorang wali besar. Oleh : Maulana Syaikh Hisyam Kabbani [irp posts="4866" name="Amalan dan Keutamaan Bulan Rajab Lengkap"] Do'a Wali Rajab اللهم اني استغفرك من كل ما تبت عنه اليك ثم عدت فيه، استغفرك من كل ما اردت به وجهك فخالطني فيه ما ليس فيه رضائك. واستغفرك للنعم التي تقويت بها على معصيتك، واستغفرك من الذنوب التي لا يعلمها غيرك ولا يطلع عليها احد سواك ولا تسعها الا رحمتك ولا تنجي منها الا مغفرتك وحلمك لا اله الا أنتَ سبحانك اني كنت من الظالمين اللهم اني استغفرك من كل ظلم ظلمت به عبادك فايما عبد من عبادك أو امة من امائك ظلمت في بدنه أو عرضه أو ماله فأعطه من خزائنك التي لا تنقص وأسألك ان تكرمني برحمتك التي وسعت كل شيء ولا تهينني بعذابك وتعطيني ما أسألك فاني حقيق برحمتك يا ارحم الراحمين. وصلى الله على سيدنا محمد وآله وصحبه أجمعين، ولا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم

Kisah Nabi Muhammad : Mengubur Wali Rajab Mantan Perampok

Kalam Ulama - Kisah Nabi Muhammad : Mengubur Wali Rajab Mantan Perampok Di zaman Nabi (saw), hidup seseorang perampok jalanan yang terkenal jahat. Ia biasa turun...
kalamulama.com- Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabawi, Imam Masjidil Haram Pertama dari Indonesia. Tak banyak orang yang mengenalnya terutama di tanah air ini. Meski tidak turut berjuang bersama para pahlawan di negeri ini, tapi ia turut berkontribusi dalam melahirkan pahlawan-pahlawan negeri. Mari berkenalan dengan salah-satu cendekia muslim mahsyur dari tanah Sumatera. Namanya Shaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Kenapa disebut Al Minangkabawi? Karena dia lahir di Koto Tuo, Agam, Sumatera Barat.Ahmad lahir bulan Dzul Hijjah 1276 H bertepatan dengan 26 Mei 1860 M. Pada tahun 1287 H, Ahmad kecil yang belum genap berusia 10 tahun diajak oleh sang ayah, ‘Abdul Lathif, ke Tanah Suci mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Setelah rangkaian ibadah haji selesai ditunaikan, ‘Abdullah kembali ke Sumatera Barat sementara Ahmad tetap tinggal di mekkah untuk menyelesaikan hafalan Al Qurannya dan menuntut ilmu dari para ulama-ulama mekkah terutama yang mengajar di Masjid Al Haram. Dimulailah perjalanan naik kapal berbulan-bulan menuju Mekah sana. Selain belajar agama, beliau juga belajar sejarah, aljabar, ilmu falak, berhitung, serta geometri. Di antara guru-guru Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah di mekkah adalah: Sayyid ‘Umar bin Muhammad bin Mahmud Syatha Al Makki Asy Syafi’I (1259-1330 H) Sayyid ‘Utsman bin Muhammad Syatha Al Makki Asy Syafi’i (1263-1295 H) Sayyid Bakri bin Muhammad Zainul ‘Abidin Syatha Ad Dimyathi Al Makki Asy Syafi’i (1266-1310 H) –penulis I’anatuth Thalibin. Dalam Ensiklopedi Ulama Nusantara dan Cahaya dan Perajut Persatuan mencatat beberapa ulama lain sebagai guru Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah, yaitu: Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (wafat 1304) –mufti Madzhab Syafi’i di mekkah- Yahya Al Qalyubi Muhammad Shalih Al Kurdi Mengenai bagaimana semangat Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah dalam thalabul ‘ilmi, seorang ulama yang sezaman dengannya, yaitu Syaikh ‘Umar ‘Abdul Jabbar rahimahullah dalam Siyar wa Tarajim hal. 38-39, menuturkan“…Ia adalah santri teladan dalam semangat, kesungguhan, dan ketekunan dalam menuntut ilmu serta bermudzakarah malam dan siang dalam pelbagai disiplin ilmu. Karena semangat dan ketekunannya dalam muthala’ah dalam ilmu pasti seperti mathematic (ilmu hitung), aljabar, perbandingan, tehnik (handasah), haiat, pembagian waris, ilmu miqat, dan zij, ia dapat menulis buku dalam disiplin ilmu-ilmu itu tanpa mempelajarinya dari guru alias otodidak.” Selain mempelajari ilmu Islam, Ahmad juga gemar mempelajari ilmu-ilmu keduniaan yang mendukung ilmu diennya seperti ilmu pasti untuk membantu menghitung waris dan juga bahasa Inggris sampai betul-betul kokoh. Salah satu kebiasaan beliau selama belajar adalah, sering pergi ke kedai buku di salah satu pojok kota Mekah. Lantas membaca di sana dengan tekun. Pemilik kedai buku, mungkin setelah hari yang kesekian, terpesona melihatnya. Anak muda ini, bukan orang Arab, tapi luas sekali ilmunya, baik sekali perangainya. Pemilik kedai buku tertarik dengan kecerdasan dan akhlak yang dimiliki Ahmad Al Minangkabawi. Suatu hari ia bertanya, “Anak muda, apakah kamu sudah menikah?” Al Minangkabawi menggeleng, dia anak perantauan, tidak punya uang, belajar saja sambil numpang, bagaimana mau menikah. “Maukah kamu menikah dengan salah-satu anak gadisku?” Wah, wah, beruntung sangat nasibnya, maka menikahlah anak muda ini dengan anak gadis pemilik kedai buku. Dari pernikahan ini, lahir satu anak. Tapi takdir berkata lain, beberapa tahun kemudian, istrinya meninggal karena sakit. Al Minangkabawi menikah lagi, adik istrinya. Pemilik kedai buku menikahkannya dengan anaknya lagi. Karena ketekunan yang luar biasa dalam belajar, paralel dengan berumah tangga, bertahun-tahun lagi berlalu, Al Minangkabawi tumbuh menjadi cendekia islam yang mumpuni. Ilmunya luas, pemahamannya dalam. Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah adalah tiang tengah dari mazhab Syafi’i dalam dunia Islam pada permulaan abad ke XX. Jadilah dia ulama yang sangat dihormati di tanah Mekah. Ribuan orang berguru padanya. Termasuk salah-duanya, Kyai Haji Hasyim Asy’ari yang mendirikan organisasi Nahdatul Ulama, dan Kyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Saat mereka naik haji, menimba ilmu di Mekah, Al Minangkabawi sempat menjadi gurunya. Beliau (bersama ulama Al Bantani) dikenal dengan sebutan, guru para ulama besar di Indonesia. Dan puncak dari kecendekia-annya, Al Minangkabawi diangkat menjadi Imam masjidil Haram. Masya Allah beliaulah imam pertama non-Arab di tanah Mekkah. Bukan main, anak rantau dari tanah Minang, dulu belum genap 10 tahun saat meninggalkan Teluk Bayur, menjadi imam di episentrum pergerakan Islam. Lihatlah wajah beliau sekali lagi. Terpisah waktu kita darinya, ratusan tahun lebih. Terpisah jauh kita darinya, belasan ribu kilometer, tapi inilah salah-satu ulama besar Indonesia. Beliau memang tidak berperang melawan penjajah Belanda, tidak mengangkat bambu runcing, atau rencong menghadapi penjajah. Tapi tak terbilang pemahaman, pendidikan tentang kemerdekaan, nilai-nilai kemanusiaan, gelora perjuangan yang dia berikan kepada murid-muridnya. Lantas, murid-muridnyalah yang kemudian hidup mati melawan penjajah. Beliau sangat penting bagi sejarah kemerdekaan Indonesia. Menulis ratusan buku–yang masih banyak dipakai di pesantren-pesantren. Menyebarkan pemahaman terbaik dari ujung ke ujung tanah Indonesia. Dialah, Al Minangkabawi. Sumber: dari wikipedia, FB

Inilah Imam Masjidil Haram Pertama dari Indonesia

kalamulama.com- Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabawi, Imam Masjidil Haram Pertama dari Indonesia. Tak banyak orang yang mengenalnya terutama di tanah air ini. Meski tidak...
kalamulama.com- PESAN SUCI SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Bagi orang-orang yang benar-benar jujur (shadiq), dia tidak dapat bergerak ke belakang. Dia selalu bergerak ke depan. Dia hanya memiliki depan, tanpa belakang. Dia tak pernah berhenti berprilaku jujur dan ikhlas sehingga setitik debunya  menjadi gunung, setetes airnya menjadi lautan, jatahnya yang kecil menjadi sangat besar, lampunya menjadi matahari, dan bungkusnya menjadi isi. Jika engkau beruntung bertemu dengan seseorang yang benar-benar jujur seperti itu, maka engkau harus selalu dekat dengannya kemanapun ia membawamu. Jika engkau beruntung bertemu dengan seseorang yang mempunyai obat untuk menyembuhkan penyakitmu, maka engkau harus mendekatinya sepanjang waktu. Jika engkau cukup beruntung bertemu dengan seseorang yang bisa menunjukkan kepadamu bagaimana cara menemukan kembali kesempatan yang telah engkau sia-siakan pada sesuatu yang tak lebih baik daripada sampah, maka engkau harus mendekatinya—benar-benar dekat! Tapi, boleh jadi, engkau tak akan pernah mengenal orang-orang yang seperti itu, sebab mereka tak lebih dari segelintir manusia yang langka. Bungkus luarnya mungkin banyak, tetapi isinya hanya sedikit. Cangkangnya mungkin berada di tempat-tempat pembuangan sampah umum, tetapi isinya berada di gudang pribadi sang pemilik tanah. Setiap kali hati diisi dengan hal-hal duniawi, syahwat, hawa nafsu badani, maka hati itu akan menjadi hanya sekadar cangkang, yang tak akan cocok untuk tujuan apa pun di luar dunia yang rendah ini. Selama engkau masih menemukan dalam hatimu sifat dan perbuatan kotoran makhluk, maka engkau akan merasa menderita karena hukuman. Allah SWT berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka, dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Pemberi rezeki, Yang Mahakuat lagi Mahakokoh.” (QS Adzariyat: 56-58) --Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Jala Al-Khathir Baca Juga: ASAL MULA TAWASULAN KEPADA SYEKH ABDUL QADIR JAILANY

INILAH PESAN SUCI DARI SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI

kalamulama.com- PESAN SUCI SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Bagi orang-orang yang benar-benar jujur (shadiq), dia tidak dapat bergerak ke belakang. Dia selalu...
habib imam

Kisah Akhlak Al Habib Al Imam Al Quthub Abdul Qadir Bin Ahmad Assegaf

kalamulama.com Pernah suatu ketika Sayyidi Khalifatul Aslaf Al Habib Al Imam Al Quthub Abdul Qadir Bin Ahmad Assegaf. Pada suatu hari Habib keluar dari...
Kalam Ulama - Sholawat Badriyah atau lebih dikenal dengan Sholawat Badar adalah “Lagu Wajib” Nahdlatul Ulama. Berisi puji-pujian kepada Rosululloh SAW dan Ahli Badar (Para Sahabat yang mati syahid dalam Perang Badar). Berbentuk Syair, dinyanyikan dengan lagu yang khas. Sholawat Badar digubah oleh Kiai Ali Mansur Banyuwangi, salah seorang cucu dari KH. Muhammad Shiddiq Jember tahun 1960. Kiai Ali Mansur saat itu menjabat Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi, sekaligus menjadi Ketua PCNU di tempat yang sama. Proses terciptanya Sholawat Badar penuh dengan misteri dan teka-teki. Konon, pada suatu malam, beliau tidak bisa tidur. Hatinya merasa gelisah karena terus-menerus memikirkan situasi politik yang semakin tidak menguntungkan NU. Orang-orang PKI semakin leluasa mendominasi kekuasaan dan berani membunuh kiai-kiai di pedesaan. Karena memang kiai-lah pesaing utama PKI saat itu. Sambil merenung, Kiai Ali Mansur terus memainkan pena-nya diatas kertas, menulis syair-syair dalam bahasa arab. Beliau memang dikenal mahir membuat syair sajak ketika masih belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri. Kegelisahan Kiai Ali Mansur berbaur dengan rasa heran, karena malam sebelumnya bermimpi didatangi oleh para habib berjubah putih-hijau. Semakin mengherankan lagi, karena pada saat yang sama istrinya mimpi bertemu Rosululloh SAW. Keesokan harinya, mimpi itu ditanyakan pada Habib Hadi al-Haddar Banyuwangi. Habib Hadi menjawab, “ Itu Ahli Badar, ya Akhy.” Kedua mimpi aneh dan terjadi secara bersamaan itulah yang mendorong dirinya menulis syair, yang kemudian dikenal dengan Sholawat Badar. Keheranan muncul lagi karena keesokan harinya banyak tetangga yang datang kerumahnya sambil mebawa beras, daging, dan lain sebagainya, layaknya akan mendatangi orang yang akan punya hajat mantu. Mereka bercerita, bahwa pagi-pagi buta pintu rumah mereka didatangi orang berjubah putih yang memberitahukan bahwa di rumah Kiai Ali Mansur akan ada kegiatan besar. Mereka diminta untuk membantu. Maka mereka pun membantu sesuai dengan kemampuannya. “Siapa orang yang berjubah putih itu?” Pertanyaan itu terus mengiang-ngiang dalam benak Kiai Ali Mansur tanpa jawaban. Namun malam harinya banyak orang bekerja di dapur untuk menyambut kedatangan tamu, yang mereka sendiri tidak tahu siapa, dari mana dan untuk apa? Menjelang matahari terbit, serombongan habib berjubah putih-hijau yang dipimpin oleh Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi dari Kwitang Jakarta, datang kerumah Kiai Ali Mansur. “Alhamdulillah………,” ucap kiai Ali Mansur ketika melihat rombongan yang datang adalah para habaib yang sangat dihormati keluarganya. Setelah berbincang basa-basi sebagai pengantar, membahas perkembangan PKI dan kondisi politik nasional yang semakin tidak menguntungkan, Habib Ali menanyakan topik lain yang tidak diduga oleh Kiai Ali Mansur: “ Ya Akhy! Mana Syair yang ente buat kemarin? Tolong ente bacakan dan lagukan di hadapan kami-kami ini!” Tentu saja Kiai Ali Mansur terkejut, sebab Habib Ali mengetahui apa yang dikerjakannya semalam. Namun beliau memaklumi, mungkin itulah karomah yang diberikan Alloh kepada Habib Ali. Sebab dalam dunia kewalian, pemandangan seperti itu bukanlah perkara aneh yang patut dicurigai. Segera saja Kiai Ali Mansur mengambil kertas yang berisi Sholawat Badar hasil gubahannya semalam, lalu melagukannya di hadapan Habib Ali beserta rombongan. Secara kebetulan Kiai Ali Mansur pun memiliki suara yang bagus. Ditengah alunan suara Sholawat Badar, para Habaib mendengarkannya dengan khusyuk. Tak lama kemudian mereka meneteskan air mata karena haru. Selesai mendengarkan Sholawat Badar yang dikumandangkan oleh Kiai Ali Mansur, Habib Ali segera bangkit, “Ya Akhy….! Mari kita perangi genjer-genjer PKI itu dengan Sholawat Badar…!” serunya dengan nada mantap. Setelah Habib Ali memimpin doa, lalu rombongan itu mohon diri. Sejak saat itu terkenallah Sholawat Badar sebagai bacaan warga NU untuk membangkitkan semangat melawan orang-orang PKI. Kemudian untuk lebih mempopulerkannya, Habib Ali mengundang para habaib dan ulama (termasuk Kiai Ali Mansur dan KH. Ahmad Qusyairi, paman Kiai Ali Mansur) ke Majelis Ta’lim Kwitang, Jakarta. Pada forum istimewa itulah Sholawat Badar dikumandangkan secara luas oleh Kiai Ali Mansur. Sumber : Antologi NU Jilid I. Pengantar KH. Abdul Muhith Muzadi Oleh : Ahmad Ulul Azmi Baca Juga : Teks Sholawat Badar dan Terjemahnya

Kisah Ulama Indonesia : Proses Terciptanya Sholawat Badar penuh dengan Misteri

Kalam Ulama - Sholawat Badar atau disebut Sholawat Badriyah adalah “Lagu Wajib” Nahdlatul Ulama. Berisi puji-pujian kepada Rosululloh SAW dan Ahli Badar (Para Sahabat yang...
kalamulama.com- Inilah Enam Wasiat Wali Abdal قال بعض الصالحين : نزل عندي waوعلمت أنهم أبدال، فقلت لهم : Berkata sebagian orang Sholeh : "Singgah dirumahku beberapa tamu dan aku tau mereka adalah golongan Wali Abdal, aku katakan kepada mereka : أوصوني بوصية بالغة حتى أخاف الله مثل خوفكم. فقالوا ؛ نوصيك بستة أشياء : "Berilah aku wasiat sehingga aku takut kepada Allah seperti takutnya kalian kepadanya." Mereka menjawab, "Kami menasehatimu dengan 6 perkara : ١. من أكثر النوم فلا يطمع في رقة قلبه. 1. Barangsiapa banyak tidur, maka tidak diharap hatinya lembut. ٢. من أكثر الأكل فلا يطمع في قيام الليل. 2. Barangsiapa banyak makan, maka dapat dipastikan tidak akan bangun malam untuk ibadah. ٣. من أكثر صحبة جاهل أو ظالم فلا يطمع في استقامة دينه. 3. Barangsiapa banyak/sering berteman dengan orang bodoh atau dholim maka sangat kecil kemungkinannya dia akan istiqomah dalam agamanya. ٤. من كانت الغيبة والكذب عادته فلا يطمع أنه يخرج من الدنيا ومعه الإيمان. 4. Barangsiapa menjadikan ghibah dan berbohong sebagai kebiasaannya, maka sangat kecil kemungkinannya dia akan mati dengan membawa iman ٥. من كثر اختلاطه بالناس فلا يطمع في حلاوة العبادة. 5. Barangsiapa banyak bergaul dengan manusia, maka sangat kecil kemungkinannya dia merasakan manisnya ibadah. ٦. من طلب رضا الناس فلا يطمع في رضا الله عز وجل. ~التذكير المصطفى ص١٤٣ 6. Barangsiapa mencari ridha (pengakuan/disenangi/dihormati/dll) manusia, maka sangat kecil kemungkinannya dia mendapatkan ridha Allah."

Inilah Enam Wasiat Wali Abdal

kalamulama.com- Inilah Enam Wasiat Wali Abdal قال بعض الصالحين : نزل عندي أضياف وعلمت أنهم أبدال، فقلت لهم : Berkata sebagian orang Sholeh : "Singgah dirumahku...