Home Cerita & Kisah Islam

Cerita & Kisah Islam

Cerita & Kisah Islam merupakan kumpulan kisah-kisah para Rosul, Nabi, Ulama dan orang-orang yang memiliki kisah yang inspiratif

abah guru sekumpul

Kalam Abah Guru Sekumpul Tentang Kaya dan Shadaqah

kalamulama.com - Ujar Abah Guru Sekumpul : "Orang yg sugih itu orang yg banyak bershadaqah" "Orang pemurah itu kekasih Allah, walaupun dia jahil (bodoh), dan orang...

Habib Ali Hadromaut, Salam Shalatnya Langsung Dijawab Rasulullah

  kalamulama.com -Habib Ali bin Alwi Kholiq Qasam. Masyarakat Hadramaut mengenal betul ia memiliki banyak karomah. Salah satunya setiap beliau shalat, ucapan salamnya kepada Nabi...
Anak Gus Baha'

CARA PANDANG GUS BAHA’ DALAM MENDIDIK ANAK

Berbicara soal anak, saya teringat ketika ngaji dengan Gus Baha' di Bedukan Wonokromo. Kira-kira di tahun 2017. Harta benda dan anak adalah (mengandung) fitnah. Begitu...
Doa Rindu Berjumpa Sang Kekasih - Doa KH Maimoen Zubair Menjelang Wafat

Doa Rindu Berjumpa Sang Kekasih – Doa KH Maimoen Zubair Menjelang Wafat

KalamUlama.com - Doa Rindu Berjumpa Sang Kekasih - Doa KH Maimoen Zubair Menjelang Wafat. Khidmah Mengurus Jenazah Mbah Maemun. Setelah mendengar KH Maimoen Zubair sedo...
Kalam Ulama - "RASULULLAH MENETESKAN AIR MATA SAAT MENDENGAR CERITA SAHABATNYA" Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, terdapat seorang sahabat bernama Abu Dujanah. Setiap usai menjalankan ibadah shalat berjamaah shubuh bersama Baginda Nabi, Abu Dujanah selalu tidak sabar. Ia terburu-buru pulang tanpa menunggu pembacaan doa yang dipanjatkan Rasulullah selesai. Ada satu kesempatan, Rasulullah mencoba meminta klarifikasi pada pria tersebut. “Hai, apakah kamu ini tidak punya permintaan yang perlu kamu sampaikan pada Allah sehingga kamu tidak pernah menungguku selesai berdoa. Kenapa kamu buru-buru pulang begitu? Ada apa?” tanya Nabi. Abu Dujanah menjawab, “Anu Rasulullah, kami punya satu alasan.” “Apa alasanmu? Coba kamu utarakan!” perintah Baginda Nabi. “Begini,” kata Abu Dujanah memulai menguraikan jawabannya. “Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Nah, di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku tersebut saling berjatuhan, mendarat di rumah kami.” “Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anakku sering kelaparan, kurang makan. Saat anak-anak kami bangun, apa pun yang didapat, mereka makan. Oleh karena itu, setelah selesai shalat, kami bergegas segera pulang sebelum anak-anak kami tersebut terbangun dari tidurnya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami tersebut yang berceceran di rumah, lalu kami haturkan kepada pemiliknya. Satu saat, kami agak terlambat pulang. Ada anakku yang sudah terlanjur makan kurma hasil temuan. Mata kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam mulutnya. Ia habis memungut kurma yang telah jatuh di rumah kami semalam.” Mengetahui itu, lalu jari-jari tangan kami masukkan ke mulut anakku itu. Kami keluarkan apa pun yang ada di sana. Kami katakan, ‘Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak.’ Anakku menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat kelaparan. Wahai Baginda Nabi, kami katakan kembali kepada anakku itu, ‘Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak’.” Pandangan mata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sontak berkaca-kaca, lalu butiran air mata mulianya berderai begitu deras. Baginda Rasulullah Muhammad shallahu alaihi wa sallam mencoba mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksud Abu Dujanah dalam kisah yang ia sampaikan di atas. Abu Dujanah pun kemudian menjelaskan, pohon kurma tersebut adalah milik seorang laki-laki munafik. Tanpa basa-basi, Baginda Nabi mengundang pemilik pohon kurma. Rasul lalu mengatakan, “Bisakah tidak jika aku minta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu? Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari pohon kurma itu sendiri. Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada.” Begitu tawar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Pria yang dikenal sebagai orang munafik ini lantas menjawab dengan tegas, “Saya tak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji kapan-kapan.” Tiba-tiba Abu Bakar as-Shiddiq radliyallahu 'anhdatang. Lantas berkata, “Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari tumbuhan kurma milik Pak Fulan yang varietasnya tidak ada di kota ini (lebih bagus jenisnya).” Si munafik berkata kegirangan, “Oke, ya sudah, aku jual.” Abu Bakar menyahut, “Bagus, aku beli.” Setelah sepakat, Abu Bakar menyerahkan pohon kurma kepada Abu Dujanah seketika. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallamkemudian bersabda, “Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.” Mendengar sabda Nabi ini, Abu Bakar bergembira bukan main. Begitu pula Abu Dujanah. Sedangkan si munafik berlalu. Ia berjalan mendatangi istrinya. Lalu mengisahkan kisah yang baru saja terjadi. “Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit pun.” Malamnya, saat si munafik tidur, dan bangun di pagi harinya, tiba-tiba pohon kurma yang ia miliki berpindah posisi, menjadi berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Dan seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon tersebut tumbuh di atas tanah si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, rata dengan tanah. Ia keheranan tiada tara. Dalam kisah ini, dapat kita ambil pelajaran, betapa hati-hatinya sahabat Rasulullah tersebut dalam menjaga diri dan keuarganya dari makanan harta haram. Sesulit apa pun hidup, seberat apa pun hidup, seseorang tidak boleh memberikan makanan untuk dirinya sendiri dan keluarganya dari barang haram. Setiap kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah subhânahu wa ta’âlasepuluh kali lipat sebagaimana janji Baginda Nabi Muhammad. Adapun panen dari pada janji itu bukankan kontan sekarang, namun di akhirat kelak. Karena dunia ini adalah dâruz zar‘i (tempat bercocok tanam), bukan dârul hashâd (tempat memanen). Kisah di atas disarikan dari kitab I’anatuth Thâlibîn (Beirut, Lebanon, cet I, 1997, juz 3, halaman 293) karya Abu Bakar bin Muhammad Syathâ ad Dimyatîy (w. 1302 H). اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَی رُوْحِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ فِی الْأَرْوَاحِ وَعَلَی جَسَدِهِ فِی الْأَجْسَادِ وَعَلَی قَبْرِهِ فِی الْقُبُوْرِ وَعَلَی اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمِ Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada ruh Nabi Muhammad saw, diantara semua ruh, kepada jasadnya diantara semua jasad, kepada kuburnya diantara semua kubur, dan limpahkanlah pula rahmat dan keselamatan kepada keluarganya dan sahabatnya.... Aamiin yaa Robbal-aalamiin

Kisah Sahabat Abu Dujanah yang Membuat Rasulullah Menangis

KalamUlama.com - "Kisah Sahabat Abu Dujanah yang Membuat Rasulullah Menangis". Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, terdapat seorang sahabat bernama Abu Dujanah. Setiap...
Kalam Ulama - Tokoh Besar Yang Tidak Ingin Terkenal. Diceritakan, seumur hidup beliau hanya mempunyai satu foto dan ketika akan meninggal beliau membakar fotonya tersebut karena takut identitasnya diketahui orang. Beliaulah sang Menantu Chadrotussyeh Hasyim, KH Maksum Ali Jombang. Kesederhanaannya membuat banyak orang tidak mengenal tokoh alim yang satu ini. Bahkan makam beliau yang terletak di komplek pemakaman Masyayih tebuireng pun pada nisannya tidak bernama. Padahal beliau adalah pengarang kitab Legendaris Al-Amtsilah At-Tashrifiyyah. Sebuah kitab ilmu sharaf yang amat masyhur di Nusantara, bahkan di luar negeri. Nama lengkapnya, Muhammad Ma’shum bin Ali bin Abdul Jabbar Al-Maskumambani. Lahir di Maskumambang, Gresik, tepatnya di sebuah pondok yang didirikan oleh sang kakek. Setelah belajar pada ayahnya, Ma’shum muda pergi menuntut ilmu di Pesantren Tebuireng Jombang. Ia termasuk salah satu santri generasi awal Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari. Pada masa itu, selain dituntut untuk belajar, para santri juga diharuskan ikut berjuang melawan penjajah. Kedatangannya ke Tebuireng disusul oleh adik kandungnya, Adlan Ali–kelak atas inisiatif Hadratus Syeikh, Kiai Adlan mendirikan pondok putri Wali Songo Cukir. Bertahun-tahun lamanya pemuda Ma’shum mengabdi di Tebuireng. kemampuannya dalam segala bidang ilmu, terutama bidang falak, hisab, sharaf, dan nahwu, membuat Hadratus Syeikh tertarik untuk menikahkan dengan putrinya, Khairiyah. Mendirikan Pondok Seblak adalah sebuah nama dusun yang terletak sekitar 300 m sebelah barat Tebuireng. Penduduk Seblak kala itu masih banyak yang melakukan kemungkaran, seperti halnya warga Tebuireng sebelum kedatangan Hadratus Syeikh. Melihat kondisi ini, Kiai Ma’shum merasa terpanggil untuk menyadarkan masyarakat setempat dan mengenalkan Islam secara perlahan. Jerih payahnya diridhai Allah SWT. Pada tahun 1913, ketika usianya baru 26 tahun, beliau mendirikan sebuah rumah sederhana yang terbuat dari bambu. Seiring berjalannya waktu, di sekitar rumah tersebut kemudian didirikan pondok dan masjid, yang berkembang cukup pesat. Meski sudah berhasil mendirikan pondok, Kiai Ma’shum tetap istiqamah mengajar di madrasah Salafiyah Syafiiyah Tebuireng, membantu Hadratus Syeikh mendidik santri. Pada tahun berikutnya, beliau diangkat menjadi Mufattis (Pengawas) di Madrasah tersebut. Karya Pena Meskipun jumlah karyanya tak sebanyak Hadratus Syeikh, akan tetapi hampir semua kitab karangannya sangat monumental. Bahkan, banyak orang yang lebih mengenal kitab karangannya dibanding pengarangnya. Ada empat kitab karya beliau; (1)Al-Amtsilah At-Tashrifiyyah. Kitab ini menerangkan ilmu sharaf. Susunannya sistematis, sehingga mudah difaham dan dihafal. Lembaga-lembaga pendidikan Islam, baik di Indonesia atau di luar negeri, banyak yang menjadikan kitab ini sebagai rujukan. Kitab ini bahkan menjadi menjadi pegangan wajib di setiap pesantren salaf. Ada yang menjulukinya kitab ”Tasrifan Jombang”. Kitab yang terdiri dari 60 halaman ini, telah diterbitkan oleh banyak penerbit, diantaranya Penerbit Salim Nabhan Surabaya. Pada halaman pertamanya tertera sambutan berbahasa Arab dari (mantan) menteri Agama RI, KH. Saifuddin Zuhri. (2) Fathul Qadir. Konon, ini adalah kitab pertama di Nusantara yang menerangkan ukuran dan takaran Arab dalam bahasa Indonesia. Diterbitkan pada tahun 1920-an, ketika Kiai Ma’shum masih hidup, oleh penerbit Salim Nabhan Surabaya. Halamannya tipis tapi lengkap. Kitab ini banyak dijumpai di pasaran. (3) Ad-Durus Al-Falakiyah. Meskipun banyak orang yang beranggapan bahwa ilmu falak itu rumit, tetapi bagi orang yang mempelajari kitab ini akan berkesan ”mudah”, karena disusun secara sistematis dan konseptual. Di dalamnya termuat ilmu hitung, logaritma, almanak Masehi dan Hijriyah, posisi Matahari, dll. Kitab yang diterbitkan oleh Salim Nabhan Surabaya tahun 1375 H ini, terdiri dari tiga juz dalam satu jilid dengan jumlah 109 halaman. (4) Badi’atul Mitsal. Kitab ini juga menerangkan perihal ilmu falak. Beliau berpatokan bahwa yang menjadi pusat pereda (4) Badi’atul Mitsal. Kitab ini juga menerangkan perihal ilmu falak. Beliau berpatokan bahwa yang menjadi pusat peredaran alam semesta bukanlah Matahari sebagaimana teori yang datang kemudian, melainkan Bumi. Sedangkan Matahari, planet dan bintang yang jumlahnya sekian banyaknya, berjalan mengelilingi Bumi. Pribadi yang Sederhana Sebagai Kiai yang berilmu tinggi, Kiai Ma’shum dikenal sebagi Kiai yang akrab dengan kalangan bawah. Saking akrabnya, banyak diantara mereka yang tak mengetahui kalau sebetulnya beliau adalah ulama besar. Dalam pandangannya, semua orang lebih pintar darinya. Kiai Ma’shum pernah berguru kepada seorang nelayan di perahu, selama dalam perjalanan haji. Beliau tidak merasa malu, meski orang lain menilainya aneh. Hasilnya, dari situ beliau menulis kitab Badi’ah Al-Mitsal. Beliau juga dikenal sufi. Untuk menghindari sikap sombong di hadapan manusia, menjelang wafat, beliau membakar fotonya. Padahal itu adalah satu-satunya foto yang dimiliki. Hal ini tak lain karena beliau takut identitasnya diketahui oleh banyak orang, yang nantinya akan menimbulkan penyakit hati seperti riya’, ujub, dan sombong. Pada tangal 24 Ramadhan 1351 atau 8 Januari 1933, Kiai Ma’sum wafat setelah sebelumnya menderita penyakit paru-paru. Beliau wafat pada usia + 46 tahun. Wafatnya Kiai Ma’shum merupakan ”musibah besar” terutama bagi santri Tebuireng, karena beliaulah satu-satunya ulama yang menjadi rujukan dalam segala bidang keilmuan setelah Hadratus Syeikh. Semoga segala amalnya diterima oleh Allah SWT dan apa yang ditinggalkan bermanfaat. Allahummagfir lahu wa nafa’ana bihi wa bi ulumihi. Amin.

Biografi Pengarang Kitab Al Amtsilah At tashrifiyyah : KH Maksum Ali

KalamUlama.com - Biografi Pengarang Kitab Al Amtsilah At tashrifiyyah : KH Maksum Ali. Tokoh Besar Yang Tidak Ingin Terkenal. Diceritakan, seumur hidup beliau hanya mempunyai...
kalamulama.com / Kisah Hikmah Penjual Cemilan - Di Tepi Jln Ada bapak jualan cemilan. Aku beli 3 bungkus kripik. Kutanya, "berapa, Pak?"Sambil nunduk bapak

Kisah Hikmah Kehidupan dari Seorang Penjual Cemilan, Mengharukan!!

kalamulama.com / Kisah Hikmah Kehidupan dari Penjual Cemilan - Di Tepi Jln Ada bapak jualan cemilan. Aku beli 3 bungkus kripik. Kutanya, "berapa, Pak?" Sambil nunduk...
Kalam Ulama - Kisah Nabi Muhammad : Mengubur Wali Rajab Mantan Perampok Di zaman Nabi (saw), hidup seseorang perampok jalanan yang terkenal jahat. Ia biasa turun ke jalan setelah tengah malam. Jika ia menemukan seseorang yang berjalan sendirian, ia akan menangkapnya, merampoknya, kadang-kadang memukuli atau membunuhnya, kemudian ia akan kembali ke rumahnya. Tidak ada yang dapat menangkapnya. Nabi (saw) sering mengutuknya, dengan mengatakan ‘Ia adalah orang yang sangat jahat, aku tidak akan menyalatinya, dan aku tidak akan menguburinya di pemakaman Muslim. Setelah sekian tahun, perampok jalanan itu pun meninggal dunia. Karena Nabi (saw) biasa mengutuknya, anak-anak menyeretnya di jalan-jalan di Madinah kemudian melemparkannya ke dalam sebuah sumur yang kering. Segera setelah mereka melemparnya ke dalam sumur, Allah berbicara kepada Nabi (saw), “Wahai Nabi-Ku tercinta, pada hari ini salah satu di antara Wali-Ku telah meninggal dunia. Kau harus pergi dan memandikannya, membersihkannya, mengkafaninya, menyalatinya dan menguburkannya.” Nabi (saw) terkejut, karena sepanjang hidupnya beliau telah mengutuk orang itu. Sekarang ketika ia telah meninggal, Allah mengatakan bahwa ia adalah seorang Wali. [irp posts="3443" name="Kisah Datangnya Para Nabi Kepada Siti Aminah Saat Mengandung Nabi Muhammad"] Bagaimana mungkin ia menjadi Wali? Tetapi tidak ada yang dapat menggugat ilmu Allah, bahkan tidak pula Nabi-Nya (saw). Jika Allah ingin menjadikan seorang perampok menjadi wali, tidak ada orang yang dapat bertanya, “Mengapa?” Kita harus menerimanya. Itulah sebabnya menurut ajaran Sufi, termasuk ajaran Tarekat Naqsybandi, kalian harus memandang orang lain lebih baik daripada kalian. Kalian tidak tahu apakah Allah akan mengangkat derajat orang itu lebih tinggi daripada kalian, siapa yang bisa mengetahui? Tidak ada yang tahu. Oleh sebab itu tidak ada orang yang dapat menggugatnya. Jangan memandang rendah orang lain seolah-olah kalian lebih hebat daripada mereka. Kalian tidak tahu apakah dalam pandangan Allah orang itu adalah seorang Wali atau bukan. Siapa tahu? Oleh sebab itu senantiasa pandanglah orang lain lebih tinggi daripada kalian. Tunjukkan hormat kepada mereka dan bersikaplah tawaduk terhadap mereka. Jangan tunjukkan ego dan kesombongan. Rahmat Allah begitu besar sehingga kalian dilarang untuk melihat pada apa yang orang lakukan di sisi luarnya. Kalian tidak boleh menyebut mereka gila atau mengkritik perilaku buruk mereka. Biarkan mereka. Mereka mempunyai Tuhan yang akan menilai perbuatan mereka. Lihatlah diri kalian sendiri. Jadilah orang dengan perilaku yang baik. Jangan mencampuri urusan orang lain. Bukan tugas kalian untuk meluruskan mereka. Tugas kalian hanyalah memperbaiki diri kalian. Perbaiki diri kalian dan tinggalkan orang lain pada Tuhannya. Ini adalah pemahaman sejati dan merupakan ajaran Sufisme; tinggalkan orang lain pada Tuhannya dan ubahlah diri kalian sendiri. Jika kalian mengajari ego kalian untuk tidak mencampuri orang lain, kalian akan mendapati diri kalian hidup dalam kebahagiaan, karena pada saat kalian melihat orang lain, kalian hanya akan melihatnya sebagai hamba dari Tuhan yang sama dengan kalian sehingga Tuhan kadang-kadang akan mengampuni apa yang mereka lakukan. Jangan mengatakan, “Kau melakukan perbuatan yan salah dengan minum, bermain wanita, melakukan ini itu.” Tinggalkan mereka pada Tuhannya. Ajari mereka secara umum. Jangan fokus dan spesifik pada seseoang. Allah mengatakan kepada Nabi (saw), “Wahai Rasulullah, bawa dia dan bersihkan dia.” Nabi (saw) segera memanggil Abu Bakr ash-Shiddiq (r) dan berkata, “Wahai Abu Bakar (r), kita harus pergi dan menguburkan perampok jalanan yang telah meninggal dunia.” Abu Bakar ash-Shiddiq (r) berkata, “Wahai Rasulullah (saw), kau berkata bahwa kau tidak ingin menguburkannya di pemakaman Muslim!” Nabi (saw) menjawab, “Tidak! Allah memberitahuku bahwa ia adalah seorang Wali!” Apa yang dilakukan oleh perampok itu selama hidupnya hingga ia menjadi seorang wali? Ia membunuh, merampok, dan mencuri sepanjang hidupnya. Nabi (saw) masuk ke dalam sumur lalu mengangkat jenazah orang itu dengan tangannya sendiri dan dibantu para Sahabatnya. Beliau lalu membawanya ke rumahnya. Beliau membersihkannya, memandikannya dan mengkafaninya. Beliau juga menyalatinya, kemudian membawanya dari masjid menuju Pemakaman Baqi, perjalanan sejauh lima belas menit berjalan kaki. Namun saat itu perlu dua jam bagi Nabi (saw) untuk membawanya dari masjid menuju pemakaman. Seluruh Sahabat terheran-heran dengan cara berjalan Nabi (saw). Beliau (saw) telah mengambilkan wudu untuk jenazah dengan tangannya sendiri, memandikan dan menyalatkannya. Sekarang beliau membawanya ke kuburnya dengan jalan berjinjit. Para Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah (saw), mengapa engkau berjalan berjinjit?” Beliau berkata, “Allah memerintahkan seluruh Wali dari Timur dan Barat, seluruh malaikat dari ketujuh Langit dan seluruh makhluk spiritual untuk hadir dan mengikuti perjalanan keranda wali itu. Begitu banyak yang memenuhi jalan sehingga aku tidak bisa menemukan tempat untuk meletakkan kakiku. Sepanjang hidupku, tidak pernah aku seheran ini.” Setelah mereka menguburinya, Nabi (saw) tidak berbicara dengan siapapun, beliau segera kembali ke rumahnya dengan gemetar dan menggigil. Beliau duduk bersama Abu Bakr ash-Shiddiq (r) bertanya pada dirinya sendiri, apa yang telah dilakukan oleh Wali itu, yang sepanjang hidupnya merupakan seorang perampok, tetapi pada akhir hayatnya mendapat kemuliaan begitu tinggi dari Allah. Abu Bakr ash-Shiddiq (r) berkata, “Wahai Rasulullah (saw), aku malu untuk bertanya mengenai apa yang kusaksikan hari ini. Itu begitu mengherankan.” Nabi (saw) menjawab, “Wahai Abu Bakr ash-Shiddiq (r), aku pun lebih terkejut daripada engkau. Aku menunggu Jibril (as) untuk datang dan mengabariku apa yang terjadi.” Ketika Jibril (as) datang, Nabi (saw) berkata, “Wahai Jibril apa yang terjadi?” Jibril (as) menjawab, “Wahai Nabi (saw), jangan bertanya kepadaku. Aku juga merasa heran. Namun demikian, jangan heran, karena Allah dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh seseorang. Dia mengatakan agar engkau bertanya pada putri orang itu apa yang dilakukan semasa hidupnya.” Nabi (saw) segera pergi bersama Abu Bakr ash-Shiddiq (r) ke rumah perampok itu. Sekarang menteri atau sekretaris negara, tidak, bahkan seorang manager dari sebuah perusahaan memperlakukan setiap orang seolah-olah mereka adalah perampok di depan pintunya. Mereka tidak menunjukkan hormat maupun kerendahan hati. Nabi (saw), tidak memandang kekuatan dan statusnya sebagai insan kamil, sebagai Habibullah, beliau dengan tawaduk pergi ke rumah wali itu untuk bertanya kepada putrinya apa yang telah dilakukan oleh ayahnya selama hidupnya. Beliau (saw) berkata, “Wahai putriku, beritahukanlah kepadaku, bagaimana ayahmu hidup.” Ia berkata, “Wahai Rasulullah (saw), aku sangat malu terhadapmu. Apa yang akan kukatakan kepadamu? Ayahku adalah seorang pembunuh, seorang perampok. Aku tidak pernah melihatnya melakukan sesuatu yang baik. Ia merampok dan mencuri siang dan malam, kecuali selama satu bulan dalam setahun. Ketika bulan itu tiba, ia berkata, “Ini adalah bulan Allah,” karena ia mendengarmu berkata, “Rajab adalah bulan allah, Sya’ban adalan bulannya Nabi (saw) dan Ramadan adalah bulan umat.” Jadi ia berkata, “Aku tidak peduli dengan bulannya Nabi (saw), atau bulannya umat, aku hanya peduli dengan bulan Tuhanku. Oleh sebab itu, aku akan duduk di kamarku, menutupnya dan melakukan khalwat di bulan ini.” Nabi (saw) bertanya, “Khalwat seperti apa yang dilakukan olehnya?” Ia berkata, “Wahai Rasulullah (saw), pada suatu hari ia pergi ke jalan mencari orang yang akan dirampoknya. Ia menemukan seorang orang tua berumur sekitar tujuh puluh atau delapan puluh tahun. Ia memukulnya hingga tidak sadar dan merampoknya. Ia menemukan sehelai lipatan kertas di dalam kantongnya. Ia membukanya dan menemukan sebuah doa di sana. Ia sangat menyukai doa itu. Setiap tahun ketika bulan Rajab tiba–bulannya Allah, ayahku biasa duduk dan membaca doa itu siang dan malam sambil berurai air mata, ia terus membacanya, kecuali ketika ia mau makan atau mengambil wudu. Setelah bulan Rajab berlalu ia akan bangun dan berkata, “Bulan Allah telah berlalu. Sekarang gilirian kesenanganku,” ia lalu kembali merampok dan mencuri selama sebelas tahun lainnya.” Doa yang biasa dibaca oleh orang itu adalah doa yang sangat penting dan sangat dianjurkan untuk dibaca sebanyak tiga kali sehari di bulan Rajab. Mawlana Syekh Nazim berkata bahwa doa ini memurnikan diri kalian dari semua dosa dan menjadikan kelian bagaikan orang yang baru dilahirkan. Ini adalah doa yang sangat terkenal di kalangan Sufi. Ketika Nabi (saw) meminta anak itu membawakan kertas berisi doa tadi, beliau menciumnya dan menggosokkan kertas itu ke seluruh tubuhnya. Saya menasihati kalian semua agar tidak melupakan doa itu, bacalah selama bulan Rajab. Allah akan memberi kalian apa yang dikehendaki-Nya, sesuai dengan niat kalian. Allah (swt) mengatakan kepada Nabi (saw), “Wahai Nabi-Ku tercinta, orang itu datang dan bertobat kepada-Ku pada bulan yang paling berharga selama setahun. Untuk itulah, karena ia telah berkorban, paling tidak satu bulan dalam setahun untuk-Ku, Aku telah mengampuni seluruh kesalahannya dan aku telah mengubah seluruh dosanya menjadi hasanah. Karena ia mempunyai begitu banyak dosa, kini ia mempunyai begitu banyak hasanah, dan ia menjadi seorang wali besar. Oleh : Maulana Syaikh Hisyam Kabbani [irp posts="4866" name="Amalan dan Keutamaan Bulan Rajab Lengkap"] Do'a Wali Rajab اللهم اني استغفرك من كل ما تبت عنه اليك ثم عدت فيه، استغفرك من كل ما اردت به وجهك فخالطني فيه ما ليس فيه رضائك. واستغفرك للنعم التي تقويت بها على معصيتك، واستغفرك من الذنوب التي لا يعلمها غيرك ولا يطلع عليها احد سواك ولا تسعها الا رحمتك ولا تنجي منها الا مغفرتك وحلمك لا اله الا أنتَ سبحانك اني كنت من الظالمين اللهم اني استغفرك من كل ظلم ظلمت به عبادك فايما عبد من عبادك أو امة من امائك ظلمت في بدنه أو عرضه أو ماله فأعطه من خزائنك التي لا تنقص وأسألك ان تكرمني برحمتك التي وسعت كل شيء ولا تهينني بعذابك وتعطيني ما أسألك فاني حقيق برحمتك يا ارحم الراحمين. وصلى الله على سيدنا محمد وآله وصحبه أجمعين، ولا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم

Kisah Nabi Muhammad : Mengubur Wali Rajab Mantan Perampok

Kalam Ulama - Kisah Nabi Muhammad : Mengubur Wali Rajab Mantan Perampok Di zaman Nabi (saw), hidup seseorang perampok jalanan yang terkenal jahat. Ia biasa turun...
Kalam Ulama - Bacaan Sholawat yang Pendek tapi Sangat Besar Berkah dan Manfaatnya - Pada suatu hari seorang lelaki dari Syam mendatangi Baginda Rosulullah صلى الله عليه وسلم bertanya kepada beliau : yaa Rosulullah aku punya ayah yg sudah lanjut usia dan ia ingin sekali berjumpa denganmu" "Beliau berkata :"kalau begitu suruh dia untuk memperbanyak membaca صلى الله على محمد selama 7 hari 7 malam, maka dia akan bertemu aku dalam mimpi. Bacaan sholawat nya : صلى الله على محمد Lelaki itupun lalu bergegas pulang dan menyampaikan pesan Baginda Rosulullah صلى الله عليه وسلم kepada ayahnya, lalu ayahnya mengamalkan pesan tersebut hingga beliau bertemu Baginda Rosulullah lewat mimpinya." ۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞

Manfaat Sholawat yang Pendek tapi Sangat Besar Berkahnya

Kalam Ulama - Manfaat Sholawat yang Pendek tapi Sangat Besar Berkahnya - Pada suatu hari seorang lelaki dari Syam mendatangi Baginda Rosulullah صلى الله عليه وسلم bertanya...
Serba Serbi Islam (Kalam Ulama). 10 Jaminan Penggemar Bagi Sholawat Nabi Muhammad SAW. Salah satu diantara mutiara hikmah dan nasihat Al-Imam al-Quthub Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf Jeddah adalah: من أكثر الصلاة والسلام على النبي صلى الله عليه وآله وسلم كانت له عشر ضمانات: ضمان بنجاح مطلبه. ضمان بالموت على لاإله إلا الله . ضمان برؤياء النبي صلى الله عليه وآله وسلم. ضمان بالسعادة في الدنيا. ضمان بالبركة في اﻷولاد. ضمان بتيسير المعاش. ضمان بالحفظ من عناء الدنيا ونصبها. ضمان بالقرب منه صلى الله عليه وآله وسلم. ضمان بالرعاية الكبرى من المولى سبحانه وتعالى. ضمان بالرضا من المولى سبحانه وتعالى ومن النبي صلى الله عليه وآله وسلم." Ada 10 jaminan bagi orang yang gemar membaca shalawat Nabi ﷺ: 1. Harapan dan keinginannya akan terwujud. 2. Matinya akan mendapatkan husnul khatimah. 3. Mempermudah baginya untuk mimpi bertemu Nabi ﷺ. 4. Bahagia hidupnya. 5. Barokah anak-anaknya. 6. Lancar rizkinya. 7. Selamat dari himpitan dan kesusahan dunia. 8. Dekat dengan Nabi ﷺ. 9. Mendapat perlindungan khusus dari Allah ﷻ. 10. Mendapat ridha Allah ﷻ dan Nabi ﷺ. Semoga kita digolongkan oleh Allah ﷻ salah satu dari hamba-hambaNya yang gemar membaca shalawat kepada Baginda Nabi ﷺ. (Baca Juga Karena Sholawat, Sang Pemakan Riba Selamat)  Amin. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد براك الله فيكم...

10 Jaminan Bagi Penggemar Sholawat Nabi Muhammad SAW

Serba Serbi Islam (Kalam Ulama). 10 Jaminan Penggemar Bagi Sholawat Nabi Muhammad SAW. Salah satu diantara mutiara hikmah dan nasihat Al-Imam al-Quthub Habib Abdul Qadir...