Home Berita Islam

Berita Islam

Kajian Maulid Diba’ #21 (Lanjutan)

Oleh: Ahmad Ulul Azmi Bismillaahirrohmaanirrohiim.. Ajaran Islam yang diajarkan Nabi Muhammad semakin menarik minat penduduk Mekkah. Sehingga jumlah yang mengaku beriman dari waktu ke waktu semakin...

Essay Competition “Syekh Nawawi Al-Bantani dan Pengaruhnya dalam Pembangunan Identitas Bangsa”

Syarat dan Ketentuan 1. Lomba penulisan essay terbuka untuk umum 2. Naskah merupakan karya asli penulis perseorangan dan belum pernah dipublikasikan atau dilombakan. 3. Satu peserta hanya...
TRAGEDI PENEMBAKAN BRUTAL  DI MASJID DAERAH CHRISTCHURCH, SELANDIA BARU Jumat 15 maret 2019, telah tejadi penembakan di dua masjid daerah CHRISTCHURCH, SELANDIA BARU. Masjid yang menjadi target penembakan adalah Masjid Al Noor, Deans Avenue dan Linwood Islamic Center, Linwood Avenue. Pelaku penembakan sempat mengunggah video sebelum melancarkan aksinya. Video tersebut merekam bagaimana si pelaku bersiap sejak di dalam mobil hingga melancarkan aksi penembakan secara brutal di dalam masjid. Akibat aksi tesebut, setidaknya 40 orang dikabarkan meninggal dan lebih dari 20 orang luka-luka. Sebanyak 10 orang meninggal di Masjid Linwood dan 30 orang meninggal di Masjid Al Noor, Dean Avenue. Diantaranya terdapat 2 orang WNI Ayah dan Anak yang terluka.  PM New Zealand Jacinda Ardern mengatakan, “Sudah jelas bahwa tindakan tersebut hanya bisa disebut sebagai serangan teroris”. Ardern juga menyampaikan bahwa kejadian tesebut adalah hari tergelap bagi warga New Zealand. Belakangan diketahui bahwa pelaku yang mengunggah video adalah Brenton Tarrant yang  lahir di Australia. Setelah kejadian ini Polisi setempat telah menangkap 3 orang laki – laki dan 1 perempuan dan sedang dalam tahap pemeriksaan.

TRAGEDI PENEMBAKAN BRUTAL DI MASJID DAERAH CHRISTCHURCH, SELANDIA BARU

Kalam Ulama - TRAGEDI PENEMBAKAN BRUTAL DI MASJID DAERAH CHRISTCHURCH, SELANDIA BARU Jumat 15 Maret 2019, telah terjadi penembakan di dua masjid daerah CHRISTCHURCH, SELANDIA...

Inilah Kadar Zakat Fitrah Tahun 2018

Kalam Ulama - Info Kadar Zakat Fitrah 1438 H / 2018, berdasarkan Hasil Musyawarah bersama Pengadilan Agama, Unsur Pemerintah Daerah, BAZNAS, MUI, BWI dan...

Kalam Ulama #170 Grand Syekh Azhar Ahmad At-Thayyib tentang Takfir

"Mazhab Ahlu Sunnah wal Jama'ah sama sekali tidak pernah mengkafirkan ahlil qiblat dan sangat menghindari takfir" (Grand Syekh Azhar Ahmad At-Thayyib) ========================= Semoga bermanfaat… Like dan Sebarkan!!!! Rosululloh SAW...
Kalam Ulama-Inilah Terjemahan Wawancara Gus Yahya pada Forum AJC di Israel A : Moderator B : Gus Yahya A: selamat datang. Anda adalah salah satu murid terbaik dari salah satu guru terbaik yang pernah ada, presiden Abdurrahman Wahid. Dan AJC sudah berhubungan dgn Gus Dur sejak 20 tahun lalu. Gus Dur juga bicara di acara seperti ini, 16 tahun lalu. Beliau juga pernah mengunjungi Israel sebanyak 3 kali. Lalu anda sekarang mengikuti jejaknya. Bagaimana perasaan anda? B: terima kasih atas kesempatan ini. Adalah sebuah keberuntungan bagi NU bahwa Gus Dur meninggal dunia dengan meninggalkan murid-murid yang kemudian tumbuh dan mengikuti jejaknya. Apa yang selama ini saya saya dan rekan2 saya lakukan hanyalah sebatas melanjutkan pekerjaan dari Gus Dur. A: tapi ini bukan sekedar ketersambungan. Kehadiran anda di sini memiliki signifikasi tersendiri di mata dunia. Bagaimana anda memaknai hal ini? B: idealisme dan visi yang dimiliki oleh Gus Dur adalah keberlangsungan umat manusia dalam jangka waktu yang sangat panjang. Dan oleh karenanya tidak bisa dicapai secara instan. Gus Dur telah menjalankan perannya dalam mewujudkan visi tersebut, dan kini adalah giliran murid2 beliau di generasi ini untuk melanjutkan pekerjaan tersebut. Kami merasa beruntung, sebab berkat Gus Dur, kami telah mencapai titik tertentu di mana kami bisa melihat arah yang lebih jelas di depan kami. A: dalam pidatonya di forum AJC di Washington, Gus Dur bicara tentang hubungan yang istimewa antara Yahudi dan Islam yang telah berjalan ratusan tahun. Bagaimana anda memandang hubungan ini? B: hubungan antar Islam dan Yahudi adalah hubungan yang fluktuatif. Terkadang baik, terkadang konflik. Hal ini tergantung pada dinamika sejarah yang terjadi. Tapi secara umum kita harus mengakui bahwa ada masalah dalam hubungan dua agama ini. Dan salah satu sumber masalahnya terletak pada ajaran agama itu sendiri. Dalam konteks realitas saat ini, kaum beragama, baik Islam maupun Yahudi perlu menemukan cara baru untuk pertama-tama memfungsikan agama dalam kehidupan nyata, dan kedua menemukan interpretasi moral baru yang mampu menciptakan hubungan yang harmonis dengan agama2 lain. A: jadi, anda mengatakan bahwa melakukan intrepretasi ulang terhadap teks Quran dan Hadis—sebagai upaya untuk menghilangkan penghalang bagi terciptanya hubungan baik antara Islam dan Yahudi—adalah sesuatu yang mungkin dilakukan? B: bukan hanya “mungkin”, tapi ini sesuatu yang “harus” dilakukan. Karena setiap ayat dari Quran diturunkan dalam konteks realitas tertentu, dalam masa tertentu. Nabi Muhammad SAW dalam mengatakan sesuatu juga selalu disesuaikan dengan situasi yang ada pada saat itu. Sehingga Quran dan Hadits adalah pada dasarnya dokumen sejarah yang berisi panduan moral dalam menghadapi situasi tertentu. Ketika situasi dan realitasnya berubah, maka manifestasi dari moralitas tersebut sudah seharusnya berubah pula. A: lalu, anda dan Gus Dur selalu menekankan pentingnya memerangi ekstremisme dan mempromosikan pendekatan yang lebih humanis. Apakah menurut anda Indonesia memiliki sesuatu yang bisa diberikan pada dunia dalam kaitannya dengan hal ini? B: ini bukan tentang menawarkan sesuatu dari Indonesia. Karena Indonesia sendiri bukannya sudah terbebas dari masalah. Kami memiliki masalah kami sendiri. Kami memang memiliki semacam kearifan lokal yang membantu masyarakat untuk hidup secara harmonis dalam lingkungan yang heterogan, tapi kami masih punya banyak masalah terkait agama, termasuk Islam. Apa yang kita hadapi saat ini, apa yang seluruh dunia hadapi saat ini adalah sebuah situasi di mana konflik terjadi di seluruh dunia, dan di dalam konflik-konflik ini, agama hampir selalu digunakan sebagai senjata untuk menjustifikasi konflik. Sekarang saatnya kuta bertanya, “apakah kita ingin hal ini berlanjut? Atau kita ingin memiliki masa depan yang berbeda?” Jika kita ingin hal ini berlanjut, konsekuensinya jelas: tidak ada yang bisa bertahan hidup di dalam kondisi seperti ini. Jika kita ingin masa depan yang berbeda, kita harus merubah cara kita mengatasi persoalan. Saat ini, agama digunakan sebagai justifikasi dan senjata untuk berkonflik. Kita, kaum beragama, mesti bertanya pada diri kita sendiri, apakah ini benar-benar fungsi yang sebenarnya dari agama? Atau apakah ada cara lain yang memungkinkan agama berfungsi sebagai sumber inspirasi untuk menemukan solusi dari semua konflik ini? Dalam pandangan saya, juga pandangan NU, dunia perlu berubah. Semua pihak perlu berubah. Saya akan menggunakan metafora “obat macam apa pun tidak akan bisa menyembuhkan pasien diabetes atau jantung, selama si pasien tidak mau merubah gaya hidupnya”. Salah satu ayat dalam Quran juga menyebutkan “innallaha laa yughayyiru maa bi qaumin hatta yughayyiru maa bi anfusihim” yang artinya “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”. Selama ini kita selalu terlibat dalam konflik untuk memperebutkan barang, sumber daya, kekuasaan, apapun itu, dengan tujuan untuk mengalahkan pihak lain. Dan pada akhirnya, kita bahkan tidak mampu lagi membedakan bagaimana konflik ini bermula, dan bagaimana seharusnya konflik ini diselesaikan. Bagi saya, yang tersisa saat ini adalah sebuah pilihan. Sebuah pilihan mendasar yang bisa memberi kita solusi nyata. Pilihan itu adalah apa yang kita sebut dalam Islam sebagai “Rahmah”. Rahmah berarti kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama. Kita “harus” memilih Rahmah, karena ini adalah awal dari semua hal baik yang kita selalu idamkan. Jika kita memilih Rahmah, baru kita bisa berbicara soal keadilan. Karena keadilan bukan hanya merupakan sesuatu yang kita inginkan, tapi juga tentang kemauan untuk memberikan keadilan bagi orang lain. Jika seseorang tidak memiliki Rahmah, tidak memiliki kasih sayang dan kepedulian terhadap orang lain, orang ini tidak akan pernah mau memberi keadilan untuk orang lain. Jadi, jika saya harus berseru pada dunia, aku ingin menyerukan pada dunia: “Mari memilih Rahmah”. A: konsep Rahman dan Rahim memiliki kemiripan dalam Yahudi. Hal ini mengindikasikan bahwa Islam dan Yahudi sejatinya memiliki kedekatan dalam spirit dan tradisi keagamaan. Pak Yahya, kami berterimakasih banyak atas seruan anda untuk memilih Rahmah, dan kami harap anda mampu menjadi inspirasi bagi muslim di seluruh dunia, dan kita harap kita bisa mencapai rekonsiliasi dan membawa berkah bagi seluruh masyarakat. Dan AJC akan selalu berusaha menjalani peran untuk memfasilitasi rekonsiliasi dan perdamaian sejati.

Inilah Terjemahan Wawancara Gus Yahya pada Forum AJC di Israel

Kalam Ulama-Inilah Terjemahan Wawancara Gus Yahya pada Forum AJC di Israel A : Moderator B : Gus Yahya A: selamat datang. Anda adalah salah satu murid terbaik...
Kalam Ulama Guru Sekumpul #360 : Keutamaan Membaca Sholawat "Hidup di akhir zaman ini, jalan menuju Allah yang selamat adalah dengan memperbanyakn sholawat. Respon Kepada orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhannya" (baca juga: Kalam Ulama Habib Syech #359 : Keutamaan Membaca Sholawat) Rosululloh SAW bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya.” HR. Imam Muslim Ajak Sebanyaknya Sahabatmu untuk gabung, klik : Web : www.kalamulama.com Fanspage : @kalamulamaku Instagram : @kalamulamaku Twitter : @kalamulamaku Line ID : @eyd0088j Telegram : @kalamulamaku Subscribe Channel Kalam Ulama TV : https://www.youtube.com/c/KalamUlamaTV Semoga bermanfaat dan berkah, jangan lupa bagikan!!!

Kalam Ulama Guru Sekumpul #360 : Keutamaan Membaca Sholawat

Kalam Ulama Guru Sekumpul #360 : Keutamaan Membaca Sholawat "Hidup di akhir zaman ini, jalan menuju Allah yang selamat adalah dengan memperbanyakn sholawat. Respon Kepada...

Poin Penting Pidato Grand Shaikh Al-Azhar : Siapa Ahlussunah Wal Jamaah?

Kalam Ulama - Muktamar internasional dengan tema "Siapakah Ahlu Sunnah wal Jama'ah?" di Chechnya dibuka oleh Grand Syekh Ahmad Thayyib. Muktamar ini diselenggarakan 3...

Videotren Jadi Media Dakwah Santri Inspiratif

YOGYAKARTA  - Perkembangan teknologi digital dan media sosial menjadi tantangan bagi komunitas pesantren. Selama ini, komunitas pesantren tertinggal dalam bidah dakwah di media sosial....
Kajian Islam (Kalam Ulama). Shahabat Khalid Bin Walid, Saifullah Yang Selalu Menang Di Peperangan Pada perang Mu'tah setelah bendera jatuh dari Ja'far bin Abi Thalib, dilanjutkan oleh Abdullah bin Rawahah, pada akhirnya dipegang oleh Khalid bin Walid dan menang. Kemudian Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berdoa: " اﻟﻠﻬﻢ ﺇﻧﻪ ﺳﻴﻒ ﻣﻦ ﺳﻴﻮﻓﻚ ﻓﺎﻧﺼﺮﻩ ". ﻓﻤﻦ ﻳﻮﻣﺌﺬ ﺳﻤﻲ ﺧﺎﻟﺪ: ﺳﻴﻒ اﻟﻠﻪ "Ya Allah, sesungguhnya Khalid adalah pedang diantara pedang-pedang Mu. Maka berilah ia pertolongan" Sejak saat itu Khalid disebut dengan Saifullah Baca juga: Makna : Madad Ya Rasulallah! ﺭﻭاﻩ ﺃﺣﻤﺪ، ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ ﺭﺟﺎﻝ اﻟﺼﺤﻴﺢ ﻏﻴﺮ ﺧﺎﻟﺪ ﺑﻦ ﺳﻤﻴﺮ، ﻭﻫﻮ ﺛﻘﺔ. Hadis riwayat Ahmad, para perawinya sahih selain Khalid bin Sumair, ia terpercaya Namun harapan Shahabat Khalid untuk meraih predikat Syahid tidak pernah diperolehnya: ﻭﻟﻤﺎ ﺣﻀﺮﺕ ﺧﺎﻟﺪ ﺑﻦ اﻟﻮﻟﻴﺪ اﻟﻮﻓﺎﺓ، ﻗﺎﻝ: ﻟﻘﺪ ﺷﻬﺪﺕ ﻣﺎﺋﺔ ﺯﺣﻒ ﺃﻭ ﺯﻫﺎءﻫﺎ، ﻭﻣﺎ ﻓﻲ ﺑﺪﻧﻲ ﻣﻮﺿﻊ ﺷﺒﺮ ﺇﻻ ﻭﻓﻴﻪ ﺿﺮﺑﺔ، ﺃﻭ ﻃﻌﻨﺔ، ﺃﻭ ﺭﻣﻴﺔ، ﻭﻫﺎ ﺃﻧﺎ ﺃﻣﻮﺕ ﻋﻠﻰ ﻓﺮاﺷﻲ ﻛﻤﺎ ﻳﻤﻮﺕ اﻟﻌﻴﺮ، ﻓﻼ ﻧﺎﻣﺖ ﺃﻋﻴﻦ اﻟﺠﺒﻨﺎء، ﻭﻣﺎ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺃﺭﺟﻰ ﻣﻨﻪ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ، ﻭﺃﻧﺎ ﻣﺘﺘﺮﺱ ﺑﻬﺎ. Menjelang Khalid bin Walid wafat, ia berkata: "Aku telah mengikuti lebih dari 100 peperangan. Tidak tersisa sejengkal pun dari tubuhku kecuali ada bekas pukulan, tusukan dan busur panah. Aduhai kini diriku akan mati di atas ranjang tidur seperti onta akan mati. Tidak lah terpejam mata orang-orang penakut. Tidak ada amal yang paling aku harapkan melebihi kalimat "Tiada Tuhan Selain Allah". Aku berperisai diri dengan kalimat itu" (Syekh Ibnu Al-Atsir, Usd Al-Ghabah fi Ma'rifat Shahabah 2/140)

Shahabat Khalid Bin Walid, Saifullah Yang Selalu Menang Di Peperangan

Kajian Islam (Kalam Ulama). Shahabat Khalid Bin Walid, Saifullah Yang Selalu Menang Di Peperangan Pada perang Mu'tah setelah bendera jatuh dari Ja'far bin Abi Thalib,...