Dzin Nun Al Mishri bercerita :
“Aku pernah berjalan di suatu taman yang hijau,
Aku melihat pemuda sholat di bawah pohon apel,
Semula aku tidak tahu bahwa ia sedang sholat,
Maka aku ucapkan salam kepadanya,
Dia tidak menjawab salamku,
Maka aku mengulangi salamku kepadanya,
Dia pun tetap tidak menjawab salamku,
Rupanya dia mempercepat sholatnya,
Setelah selesai melakukan sholat,
Dia menulis syi’ir bahar kamil dengan jarinya di atas tanah :
مُنِعَ اللِّسَانُ مِنَ الْكَلَامِ لِأَنَّهُ سَبَبُ الرَّدٰى بَلْ جَالِبُ الْاٰفَاتِ
فَإِذَا نَطَقْتَ فَكُنْ لِرَبِّكَ ذَاكِرًا لَا تَنْسَهُ وَاحْمَدْهُ فِي الْحَالَات
Lidah ini terlarang berbicara,
Karna ia penyebab kehinaan, bahkan mendatangkan bahaya,
Maka jika anda berbicara hendaklah ingat Tuhan anda,
Jangan anda melupakan-Nya dan pujilah Dia dalam hal apapun”,
Dzin Nun Al Mishri melanjutkan bercerita :
“Ketika aku membaca tulisan itu aku menangis sampai lama,
Lalu aku menulis syi’ir bahar wafir dengan jariku di atas tanah :
وَمَا مِنْ كَاتِبٍ إِلَّا سَيَبْلٰى وَيَبْقٰى الدَّهْرَ مَا كَتَبَتْ يَدَاهُ
فَلَا تَكْتُبْ بِكَفِّكَ غَيْرَ شَئٍ يَسُرُّكَ فِي الْقِيَامَةِ أَنْ تَرَاهُ
Tidaklah orang yang menulis kecuali akan rusak,
Dan tetaplah sepanjang masa apa yang ditulis oleh tangannya,
Maka janganlah anda menulis dengan tangan anda kecuali sesuatu,
Yang menggembirakan anda di hari kiamat saat anda melihatnya,
Ketika pemuda itu membacanya maka ia menjerit tragis,
Lalu ia meninggal dunia pada saat itu pula,
Aku hendak mempersiapkan apa yang dibutuhkan,
Tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk dalam indra batinku :
“Tidak bisa menguasai persoalan ini kecuali Malaikat”,
Maka aku menuju ke bawah pohon,
Aku melakukan sholat beberapa roka’at,
Ketika telah selesai melakukan sholat,
Aku lihat tempat jenazah pemuda itu telah kosong,
Jenazah pemuda itu telah tiada entah kemana dia dibawa,
Aku tiada lagi melihat bekas,
Dan tidak pula mendengar beritanya.