Oleh Asnawi Muallim Misan
Khadim Majelis Zikir Al Hikmah Depok
Dalam Kitab Ihya Ulumiddin,  Bab Adabul Kasbi wal Maasyi Sub Bab Fil Ihsan Fil Muamalah ada dua kisah menarik yang ingin saya sampaikan:
وروي أن الحسن البصري باع بلغة له بأربعمائة درهم، فلما استوجب المال قال له المشتري: اسمح يا أبا سعيد. قال: قد أسقطت عنك مائة، قال له: فأحسن يا أبا سعيد، فقال: قد وهبت لك مائة أخرى، فقبض من حقه مائتي درهم. فقيل له: يا أبا سعيد، هذا نصف الثمن، فقال: هكذا يكون الإحسان وإلا فلا.
Diriwayatkan bahwa Imam Al Hasan Al Bashri menjual seekor keledai kepada seseorang seharga 400 dirham.  Pada saat jatuh tempo, si pembeli  tadi datang kepada Hasan dan berkata: Wahai Abu Said, Maafkan aku, uangku belum cukup untuk membayar penuh, bisakah engkau memberikan keringanan. Imam Hasan Al Bashri menjawab: aku memaafkan kamu dan aku berikan keringanan kepadamu 100 Dirham. Lalu si pembeli ini berkata lagi: mungkin engkau mau melakukan ihsan (berbuat baik) kepadaku dengan mengurangi sedikit lagi saja. Al Hasan menjawab: Kalau begitu aku berikan  keringanan kepadamu 100 dirham lagi. Maka Al Hasan hanya menerima 200 Dirham. Giliran si pembeli yang tersentak, Ya Aba Said kok banyak sekali, malah jadi separuh harga? Lalu Al Hasan menjawab, Ya, Seperti inilah yang dinamakan Ihsan dalam perdagangan sebagaimana dikehendaki Allah dan RasulNya. Jika tidak seperti ini, maka tidak ada semangat Ihsan dalam perdagangan.
وروي عن محمد بن المنكدر أنه كان له شقق بعضها بخمسة وبعضها بعشرة، فباع غلامه في غيبته شقة من الخمسيات بعشرة، فلما عرف لم يزل يطلب ذلك الأعرابي المشتري طول النهار حتى ووجده،فقال له: إن الغلام قد غلط فباعك ما يساوي خمسة بعشرة، فقال: يا هذا قد رضيت، فقال: وإن رضيت فإنا لا نرضى لك إلا ما نرضاه لأنفسنا، فاختر إحدى ثلاث خصال: إما أن تأخذ شقة من العشريات بدراهمك،وإما أن نرد عليك خمسة، وإما أن ترد شقتنا وتأخذ دراهمك، فقال: أعطني خمسة، فرد عليه خمسة وانصرف الأعرابي يسأل ويقول: من هذا الشيخ? فقيل له: هذا محمد بن المنكدر، فقال: لا إله إلا الله، هذا الذي نستسقي به في البوادي إذا قحطنا
Diriwayatkan dari Muhammad Al Munkadir, bahwa beliau memiliki barang dagangan berupa beberapa potong kain sebagian dengan harga jual 5 dirham dan sebagian lagi dengan harga 10 dirham. Waktu ia sedang pergi ada seorang pembantunya yang menjual kain harga 5 dirham dengan harga 10 dirham kepada seorang badawi. Sepanjang hari ia berkeliling kampung badawi untuk mencari pembeli tadi dan akhirnya bertemu dengan si pembeli menjelang sore. Lalu Al Munkadir berkata: Pembantuku tadi salah, kain yang kamu beli harganya 5 dirham bukan 10 dirham. Pembeli menjawab: untuk hal ini aku sudah ridho. Al Munkadir lalu berkata: Meskipun kamu sudah ridho, kami belum ridho kepadamu kecuali sesuatu yang sudah kami ridhoi bagi diri kami. Maka pilihlah salah satu dari tiga opsi ini: pertama, ambil kain yang seharga 10 dirham, kedua, kami kembalikan 5 dirham uangmu, atau ketiga, kamu kembalikan kain itu dan aku kembalikan uangmu utuh 10 dirham. Maka pembeli tadi menjawab: berikanlah kepadaku 5 dirham. Berlalulah si pembeli sambil bertanya penasaran kepada orang di sekitar, siapakah syeikh itu? Lalu ada yang menjawab, beliau Muhammad Al Munkadir. Pembeli tadi kemudian berkata: La ilaha illa Allah inilah orang yang tepat untuk dimintai pertolongan saat musim kemarau.
Imam Al Hasan dan Imam Muhammad Al Munkadir memang dikenal sebagai sosok Tabiin yang berakhlak mulia. Mereka berdua berdakwah tidak hanya dengan untaian kata dan kalimat santun berbalut retorika, Tapi dengan penuh ketulusan dan kerendahan hati melakukan aksi nyata, memperlihatkan akhlak mulia yang menyentak kesadaran ruhani kita bahkan menampar wajah keislaman kita yang semakin hari semakin jauh dari nilai nilai Ihsan yang diajarkan rasul. Meminta bayaran penuh adalah hak Al Hasan. Uang 10 dirham yang diterima Al Munkadir pun sah secara fikih. Tapi keduanya mengambil pilihan untuk tidak memberatkan dan merugikan orang lain.
Ketika ditanya, kenapa engkau melakukan hal ini Ya Al Hasan, jawaban Al Hasan, karena hatiku tergerak untuk mengamalkan Ihsan sebagaimana firman Allah:
واحسن كما أحسن الله إليك”
Berbuat Ihsanlah kepada orang lain sebagaimana Allah memperlakukanmu dengan Ihsan (Al Qashas: 77)
“إن الله يأمر بالعدل والإحسان”
Sesungguhnya Allah menyuruhmu berlaku adil dan berbuat Ihsan (Annahl 90)
إن رحمة الله قريب من المحسنين”
Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang orang yang berbuat Ihsan. (Al Araf 56)
Bagi Al Hasan, ayat ayat Alquran bukan hanya untuk dinikmati keindahannya oleh telinga  melalu alunan merdu seorang penghafal dan pelantun Alquran. Bukan hanya dikagumi keindahan tata bahasanya melalui  goresan tinta para sastrawan. Bukan hanya untuk memenuhi dahaga intelektual keagamaan melalui argumentasi para penafsir Alquran. Bukan juga untuk diobral demi kekuasaan atau kekayaan. Apalagi untuk melegitimasi kekerasan dan penindasan atas nama Tuhan.
Tapi Bagi Al Hasan, saat ayat-ayat alquran terbaca oleh lisan atau terbersit dalam pikiran,  di luar kuasanya, ayat ayat itu mengalir ke dalam hati yang selalu rindu untuk disapa oleh pemilikNya. Bagi hati Al Hasan, Ayat alquran bagaikan titah Sang Raja yang tak terbantahkan. Bagi hati Al Hasan Ayat alquran bagaikan bisikan Sang Kekasih yang sekuat tenaga harus dipenuhi. Inilah jawaban mengapa Al Hasan dan Al Munkadir mampu melampaui batas batas nalar manusia pada umumnya. Padahal Al Hasan  bukan seorang kaya raya, beliau hidup dalam kesederahanaan dan penghasilan yang pas pasan. Saat beliau memberikan keringanan 200 dirham atau hampir 50% saat jatuh tempo, bagi seorang Al Hasan itu jumlah uang yang sangat besar.
Keterbatasan ekonomi tidak menghijab pandangan hati Al Hasan untuk tetap berbuat Ihsan dalam berdagang. Al Hasan tidak menjadikan kemiskinan sebagai alasan untuk bersikap keras hati kepada pembeli, apalagi untuk menghalalkan praktek kecurangan dan penipuan.
Semoga kisah Al Hasan dan Al Munkadir bukan sekedar dongeng menjelang tidur. Tetapi mampu menggerakan hati kita untuk mengukur diri dan merekontruksi posisi ke-ihsan-an kita di antara batas-batas halal dan haram yang mengelilingi hidup kita.
Penutup Khotbah, suatu hari ada seorang eksekutif muda menemui Syeikh As Sya’rawi (seorang ulama Al Azhar) dan mengadu bahwa hatinya sangat gelisah karena bekerja di perusahaan yang di dalamnya banyak terjadi praktik syubhat. Syeikh menyarankan, berhentilah dari perusahaan itu dan carilah pekerjaan lain yang halal. Eksekutif muda itu berkata: Ya nanti kalau masalahku sudah selesai. Saat ini aku masih memiliki cicilan rumah, kendaraan dan biaya hidup keluargaku. Kalau aku berhenti bagaimana semua itu? Syeikh kemudian membacakan ayat Alquran.
ومن يتق الله يجعل له مخرجا
Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah pasti Allah akan memberikan jalan keluar untuknya.
Lalu syeikh bertanya, menurut ayat ini, bertakwa dulu (meninggalkan perkara syubhat dan haram) atau mencari jalan keluar dulu? Anak muda itu terdiam. Lalu syeikh melanjutkan: jangan takut  kepada selain Allah dan hanya takutlah kepada Allah, itulah esensi takwa. Saat takut dan tundukmu hanya kepada Allah, yakinlah Allah akan memberikan jalan keluar yang terbaik untukmu berdasarkan pilihan Allah. Menjalani hidup berdasarkan pilihan Allah dan membebaskan diri dari pilihan-pilihan sendiri adalah puncak ketenangan batin yang akan dicapai manusia. Beberapa tahun kemudian, Syeikh mendapat kabar bahwa kehidupan anak muda itu jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here