Sejarah Mencatat, Tiga Kali Pandemik Terjadi Akibat Wabah Mematikan
Warga Thailand mengenakan masker untuk menjaga diri dari risiko terpapar virus corona, awal Februari 2020.(Shutterstock) || via kompas.com

kalamulama.comSejarah Mencatat, Tiga Kali Pandemik Terjadi Akibat Wabah Mematikan. Wabah Yustinianus (plague of Justinian) 541-542 M, Maut Hitam (Black Death) 1347-1351, dan Wabah Bombay (Bombay plague) 1896-1897. Pandemik abad 6 terkait dengan kematian kl. 25 ribu sahabat Nabi. #BersamaLawanCorona

Sumber-sumber Arab mencatat dengan baik bagaimana Nabi Muhammad Saw dan para sahabat sikapi pandemic, bukan dengan menantangnya atas nama tauhid, atau atas nama “hanya takut pada Allah”, tapi justru dengan ajarkan bahwa esensi agama adalah menjaga kemanusiaan. Itulah tauhid yang sesungguhnya.
Eropa pernah kelam akibat sikap fanatik sebagian umat beragama menyikapi the Black Death. Saat otoritas Eropa kehabisan ide atasi Wabah, masyarakat putus asa, dan mulai mengaitkan bahwa umat Yahudi adalah penyebabnya hingga Tuhan murka. Konflik terjadi, ribuan Yahudi dipersekusi. Sebagian sarjana besar Muslim abad pertengahan alami wabah atau tha’un mematikan. Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 1449 M) kehilangan 3 putrinya akibat tha’un: Fatimah, ‘Aliyah, dan Zin Khatun si sulung yg bahkan sedang hamil. Apa yang ia lakukan? Menulis karya untuk jaga nyawa sesama. Al-Asqalani tulis kitab “Badzl al-Ma’un fi Fadhl al-Tha’un”. Ia jauh dari sikap “pasrah” menyerah pada takdir Allah. Pandangan dan sikap beragamanya rasional. Karya ini telah ditahqiq oleh Ahmad Ishom Abd al-Qadir al-Katib, yang mengulas detil tentang tha’un: definisinya secara metafisis dan medis, jenis-jenisnya termasuk Black Death di Eropa, pandangan ahli medis, cara menghindarinya, hukum syahid bagi korban, dan tentang bagaimana Muslim harus menyikapi wabah. Al-Asqalani bukan satu-satunya ulama besar yang terdampak tha’un pandemic. Abu Aswad al-Duwali (w. 688 M), penggagas ilmu nahwu terkemuka, bahkan wafat akibat tha’un. Ini bukti bahwa wabah pandemic tidak mengenal agama, ras, usia, gender, dan kelas sosial. Kita pun perlu #BersamaMelawanCorona. Pemerintah sudah memutuskan Indonesia darurat bencana akibat Korona. Social distancing sudah diterjemahkan oleh Presiden jokowi sebagai “Bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan bekerja di rumah”. Berbagai tokoh agama sudah berijtihad menunda ritual agama, tapi bukan menunda beragama. Mari belajar dari sejarah, mari berguru dari para suhu masa lalu. Beragama yang paripurna bukan dengan cara mengabaikan keselamatan sesama, melainkan dengan menjaganya melalui berbagai cara. Bertauhid adalah meyakini bahwa Dia Maha Mutlak, Dia Mencipta, Dia juga Meniada. Jumah Berkah #SalamNgariksa

Prof Dr Oman Fathurrahman, M. Hum (Guru Besar Filologi FAH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here