Kalam Ulama. HUKUM PUJIAN SETELAH ADZAN

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apa hukum puji-pujian setelah adzan? Terima kasih.

Jawaban:

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Puji-pujian disebut puji-pujian karena dua hal. Pertama, karena berisi tsana’ (pujian) kepada Allah. Kedua, karena berisi selawat, salam, dan pujian kepada Rasulullah SAW. Sampai di sini hukum keduanya adalah sunah.

Hanya saja jika memilih untuk dilaksanakan selepas azan secara rutin maka hukumnya menjadi dua. Jika diiktikadi bagian dari azan, yang mana azan tidak sempurna tanpanya, maka hukumnya haram. Sebab merupakan tambahan dalam hal-hal ubudiyah tanpa dalil. Namun, jika memilih untuk dilaksanakan setelah azan tanpa iktikad bagian azan maka hukumnya mubah.

Kebiasan pujian tidak hanya ada di Indonesia, bahkan juga di Maroko. Shahibul Jalalah Amirul Mukminin Raja Muhammad VI ibn Jalalah Al-Marhum Al-Maghfurlah Hasan II Al-Alawi Al-Hasani memberi izin untuk masjid-masjid dan zawiyah-zawiyah untuk mengumandangkan tahlil dan tsana’ selepas azan.

Sependek pengetahuan saya, kebiasaan ini pertama kali muncul di zaman Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi dengan tujuan menyeru dan mengingatkan untuk memperbanyak tahlil serta menghidupkan sunah selawat selepas azan. Berdasarkan hadis riwayat Muslim dalam shahih beliau:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ الْمُرَادِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ عَنْ حَيْوَةَ وَسَعِيدِ بْنِ أَبِي أَيُّوبَ وَغَيْرِهِمَا عَنْ كَعْبِ بْنِ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah Al-Muradi, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahab dari Haiwah dan Sa’id bin Abi Ayyub serta selain keduanya, dari Ka’ab bin Alqamah dari Abdurrahman bin Jubair dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian mendengar mu’adzdzin maka ucapkanlah seperti yang di ucapkan mu’adzin, kemudian bershalawatlah untukku, karena seseorang yang bershalawat untukku dengan satu shalawat, niscaya Allah akan bershalawat atasnya sepuluh kali. Mohonlah kepada Allah wasilah untukku, karena wasilah adalah kedudukan yang tinggi di surga, tidaklah layak tempat tersebut kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan aku berharap aku hamba tersebut. Dan barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka syafa’at halal untuknya.”

Para ulama telah berfatwa memgenai kebolehan hal ini, bahkan di antara mereka ada yang menyetakan kesunahan, di antaranya Al-Hafidz As-Sakhawi, Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari, Ibnu Hajar, dan lain-lain. Sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafidz Abdullah ibn Ash-Shiddiq Al-Ghumari Al-Hasani dalam Al-Hawi.

Sebagai kesimpulan, hukum puji-pujian adalah sunah. Pelaksananya mendapat pahala. Memilih waktu melakukan puji-pujian selepas azan tanpa beriktikad bagian dari azan hukumnya mubah.

Demikian, wallahu a’lam.

Maroko, 7 Januari 2019
Ustadz Adhli Al-Qarni