(Kalam ulama) – Bagaimana Hukum Mendoakan dan Berteman dengan Non Muslim?

Pertanyaan:

Assalamualaikum Wr Wb

  1. Mau bertanya mengenai batasan berteman dengan non-islam. Bagaimana ya?
  2. Bagaimana hukum mendoakan non-muslim? Bolehkah? (M Azizah – Bogor)

Baca Juga : Bagaimana Batasan Aurat Perempuan Muslimah terhadap Perempuan Non-muslim?

Jawaban 1 :

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh.

Pada dasarnya berteman dengan non-muslim sama saja dengan berteman dengan muslim. Hanya ada hal-hal yang menjadi batasan tertentu karena perbedaan ajaran, namun batasan tersebut tidak boleh menjadi jurang pemisah dalam pertemanan. Batasan tersebut adalah:

1. Dalam aqidah: Tidak boleh mencela atau menjadikan bahan ejekan Tuhan orang lain. (QS. Al-An’am: 108)

2. Dalam fiqh: Tidak boleh menampakkan aurat kecuali yang dibolehkan. Menurut jumhur, batasan aurat wanita muslimah di depan wanita non-muslim adalah seluruh badan (tidak termasuk wajah dan telapak tangan) kecuali bagian-bagian yang memang lazim tampak saat melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Mazhab Imam Ahmad berbeda dalam masalah ini. Menurut beliau batasannya sama seperti aurat dihadapan lelaki mahram, yaitu antara pusar dan lutut.

3. Dalam tasawuf atau akhlak: Tidak menjadikan mereka tempat menyimpan rahasia atau orang yang memiliki pengaruh terhadap agama. (QS. Al-Maidah: 51)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin) menjadi ikutanmu dan kamu cintai. (Sebagian mereka menjadi pemimpin bagi sebagian lainnya) karena kesatuan mereka dalam kekafiran. (Siapa di antara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka dia termasuk di antara mereka) artinya termasuk golongan mereka. (Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang aniaya) karena mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin mereka.” (Al Maidah 5:51)

Jawaban 2 :

Menurut mazhab Asy-Syafi’i, sebagaimana dalam Al-Azkar Imam An-Nawawi dan Hasyiyah Al-Qalyubi, boleh mendoakan kebaikan untuk non-muslim selama tidak mendoakan ampunan atas kekafirannya sedang non-muslim tersebut sudah wafat.

( فَرْعٌ ) يَجُوزُ إجَابَةُ دُعَاءِ الْكَافِرِينَ ، وَيَجُوزُ الدُّعَاءُ لَهُ وَلَوْ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ ، خِلَافًا لِمَا فِي الْأَذْكَارِ إلَّا مَغْفِرَةَ ذَنْبِ الْكُفْرِ مَعَ مَوْتِهِ عَلَى الْكُفْرِ فَلَا يَجُوزُ .

“orang-orang Muslim boleh menjawab doanya orang-orang non-Muslim (kafir), dan boleh mendoakannya, walaupun doa memohon ampunan (maghfirah) dan kasih sayang (rahmat). Berbeda dengan keterangandalam kitab al-Adzkaar kecuali mendoakan orang kafir dalam memintakan ampunan atas kekafirannya, sedangkan orang yang didoakan sudah mati dalam keadaan kafir, maka tidak diperbolehkan”. (Hasyiyah Al-Qalyubi juz 4 halaman 274)

Demikian jawaban kami. Wallahu a’lam.

Baca Juga : Siapakah Perempuan Terbaik ?