Monday, September 28, 2020

Popular Post Kalam ulama

Latest Articles Kalam Ulama

Shalawat Jibril : Ijazah dari Kiai Kholil dan Kiai Ihya

0
kalamulama.com- Shalawat Jibril : Ijazah dari Kiai Kholil dan Kiai Ihya Bismillaahir rohmaanir rohiim. Shalawat Jibril...

INILAH FAIDAH-FAIDAH KETIKA MINUM AIR PUTIH

0
kalamulama.com- FAIDAH-FAIDAH KETIKA MINUM AIR PUTIH Berkata Abah Sekumpul, "Apabila minum air putih atau minum obat...

Inilah Ayat-Ayat Kesembuhan (Ayat Syifa)

0
kalamulama.com- Inilah Ayat-Ayat Kesembuhan (Ayat Syifa) As-Syaikh Abul Qasim al-Qusyairi didalam kitabnya المغنم فى اسم...

PERBEDAAN PENDAPAT PUASA ASYURA

0
Kalam Ulama - Puasa asyura sunah dengan dalil bahwa Rasulullah SAW berpuasa dan memerintahkan untuk...

Jangan Lupa Bersyukur #445 KH Marzuki Mustamar

0
kalamulama.com–  Jangan Lupa Bersyukur #445 KH Marzuki Mustamar Jangan remehkan ucapan Alhamdulillah dari seorang hamba yang...

Berbicaralah dengan Bahasa Cinta #444 Syaikh Jalaluddin Ar- rumi

0
kalamulama.com–  Berbicaralah dengan Bahasa Cinta #444 Syaikh Jalaluddin Ar- rumi Mendengarlah dengan telinga yang toleran, melihatlah...

Inilah Lima Peran Kyai Menurut Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya

0
kalamulama.com - Lima Peran Kyai Menurut Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya. Kyai Tandur, Catur, Tutur, Sembur...

Bagaimana Hukum Upacara dan Hormat Bendera?

0
KalamUlama.com - Bagaimana Hukum Upacara dan Hormat Bendera? Diriwayatkan oleh At-Tirmidzî, An-Nasâ'î, Ibnu Mâjah, Ibnu...

Inilah Nasab Nabi Muhammad SAW Sampai Nabi Adam as

0
kalamulama.com - Inilah Nasab Nabi Muhammad SAW Sampai Nabi Adam as. Prof. Dr. KH. Said...

Cinta Lima Perkara dan Melupakan Lima Perkara Lainnya

0
kalamulama.com- Cinta Lima Perkara dan Melupakan Lima Perkara Lainnya. dalam sebuah riwayat diterangkan bahwa nabi...

Kisah Nabi, Sahabat, dan Ulama

al buthi albani

Debat Syekh Al Buthi vs Albani

0
kalamulama.com- Debat Syekh Al Buthi vs Albani Inilah sebab kenapa murid2 Syekh Albani dendam kepada Syekh Al Buthi yang pernah mengalahkan Albani debat. Albani yg jadi tukang servis jam hingga umur 20 tahun kemudian jadi...
Huumor Gus Dur

Humor Gus Dur Tentang Makam Wali

0
kalamulama.com -Humor Gus Dur Tentang Makam Wali. Suatu hari di tengah malam, Gus Dur menelpon Kang Muslim (almarhum, allah yarham) untuk ikut dalam rombongan mobil yang di dalamnya sudah ada dua atau tiga orang....
kalamulama.com- Kisah Penyesalan Salah Satu Guru Habib Umar. Kisah ini seringkali kami dengar dari Habib Umar ketika beliau mengenang salah satu guru utama sekaligus mertua beliau, Habib Muhammad Bin Abdullah Al-Haddar. Ceritanya : Suatu malam Habib Muhammad keluar dari Masjid Jami' di kota Baidho' untuk pulang ke rumahnya. Tiba-tiba di pintu masjid ada seseorang yang mencaci maki dan berkata buruk atas beliau. Habib Muhammad diam tidak membalas, ketika orang tersebut sudah selesai dengan cacian dan sumpah serapahnya, beliau berkata padanya : . " Jazakallah khair.. Semoga Allah membalasmu dengan segala kebaikan" Beliau lalu pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, terlihat raut penyesalan dari wajah beliau, beliau akhirnya bercerita : " aku baru saja membersihkan hatiku secara sempurna dari rasa benci kepada orang tersebut.. Baru saja aku telah memaafkannya sepenuh hati. Tapi yang aku sesalkan : mengapa aku baru sempurna memaafkannya sekarang ? Seharusnya sudah sejak tadi di pintu masjid aku telah menyempurnakan pemberian maafku " . . " Sekarang kalian tau seperti apa mereka para kekasih Allah ? " tanya Habib Umar setelah mengisahkan cerita itu.. Sebuah pertanyaan "menggelitik" yang jelas menunjukkan perbedaan antara kita dan mereka. Kita yang seringkali dengan "nyaman" memelihara rasa benci, dengki, dan kesal terhadap sesama tanpa rasa menyesal dan bersalah sama sekali.. Seakan Tak peduli dan acuh tak acuh bahwa dalam sabda-sabdanya Rasulullah sudah sering mengingatkan bahwa itu adalah rasa yang harus dihindari dan di buang jauh-jauh dari dalam hati. Sekali lagi, dari mereka kita harus banyak belajar, setuju dengan apa yang pernah disampaikan Bang Darwish "Tere Liye" : " Saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itusalah, dan kita benar. Apakah orang itu memang jahat atau aniaya. Bukan! Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati " . * Ismael Amin Kholil, 25 Januari, 2020

Kisah Penyesalan Salah Satu Guru Habib Umar bin Hafidz

0
kalamulama.com- Kisah Penyesalan Salah Satu Guru Habib Umar. Kisah ini seringkali kami dengar dari Habib Umar ketika beliau mengenang salah satu guru utama sekaligus mertua beliau, Habib Muhammad Bin Abdullah Al-Haddar. Ceritanya : Suatu malam...
Habib Umar

Habib Umar Bin Hafidz dari Waktu Ke Waktu

0
Kalamulama.com- 1972 : Beliau hanyalah seorang anak yatim berusia 9 tahun yang baru saja kehilangan ayah dan pendidik utamanya (Habib muhammad bin Salim) yang diculik dan dibunuh oleh rezim komunis yang berkuasa di Yaman...
Kalam Ulama - "RASULULLAH MENETESKAN AIR MATA SAAT MENDENGAR CERITA SAHABATNYA" Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, terdapat seorang sahabat bernama Abu Dujanah. Setiap usai menjalankan ibadah shalat berjamaah shubuh bersama Baginda Nabi, Abu Dujanah selalu tidak sabar. Ia terburu-buru pulang tanpa menunggu pembacaan doa yang dipanjatkan Rasulullah selesai. Ada satu kesempatan, Rasulullah mencoba meminta klarifikasi pada pria tersebut. “Hai, apakah kamu ini tidak punya permintaan yang perlu kamu sampaikan pada Allah sehingga kamu tidak pernah menungguku selesai berdoa. Kenapa kamu buru-buru pulang begitu? Ada apa?” tanya Nabi. Abu Dujanah menjawab, “Anu Rasulullah, kami punya satu alasan.” “Apa alasanmu? Coba kamu utarakan!” perintah Baginda Nabi. “Begini,” kata Abu Dujanah memulai menguraikan jawabannya. “Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Nah, di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku tersebut saling berjatuhan, mendarat di rumah kami.” “Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anakku sering kelaparan, kurang makan. Saat anak-anak kami bangun, apa pun yang didapat, mereka makan. Oleh karena itu, setelah selesai shalat, kami bergegas segera pulang sebelum anak-anak kami tersebut terbangun dari tidurnya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami tersebut yang berceceran di rumah, lalu kami haturkan kepada pemiliknya. Satu saat, kami agak terlambat pulang. Ada anakku yang sudah terlanjur makan kurma hasil temuan. Mata kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam mulutnya. Ia habis memungut kurma yang telah jatuh di rumah kami semalam.” Mengetahui itu, lalu jari-jari tangan kami masukkan ke mulut anakku itu. Kami keluarkan apa pun yang ada di sana. Kami katakan, ‘Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak.’ Anakku menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat kelaparan. Wahai Baginda Nabi, kami katakan kembali kepada anakku itu, ‘Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak’.” Pandangan mata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sontak berkaca-kaca, lalu butiran air mata mulianya berderai begitu deras. Baginda Rasulullah Muhammad shallahu alaihi wa sallam mencoba mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksud Abu Dujanah dalam kisah yang ia sampaikan di atas. Abu Dujanah pun kemudian menjelaskan, pohon kurma tersebut adalah milik seorang laki-laki munafik. Tanpa basa-basi, Baginda Nabi mengundang pemilik pohon kurma. Rasul lalu mengatakan, “Bisakah tidak jika aku minta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu? Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari pohon kurma itu sendiri. Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada.” Begitu tawar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Pria yang dikenal sebagai orang munafik ini lantas menjawab dengan tegas, “Saya tak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji kapan-kapan.” Tiba-tiba Abu Bakar as-Shiddiq radliyallahu 'anhdatang. Lantas berkata, “Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari tumbuhan kurma milik Pak Fulan yang varietasnya tidak ada di kota ini (lebih bagus jenisnya).” Si munafik berkata kegirangan, “Oke, ya sudah, aku jual.” Abu Bakar menyahut, “Bagus, aku beli.” Setelah sepakat, Abu Bakar menyerahkan pohon kurma kepada Abu Dujanah seketika. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallamkemudian bersabda, “Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.” Mendengar sabda Nabi ini, Abu Bakar bergembira bukan main. Begitu pula Abu Dujanah. Sedangkan si munafik berlalu. Ia berjalan mendatangi istrinya. Lalu mengisahkan kisah yang baru saja terjadi. “Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit pun.” Malamnya, saat si munafik tidur, dan bangun di pagi harinya, tiba-tiba pohon kurma yang ia miliki berpindah posisi, menjadi berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Dan seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon tersebut tumbuh di atas tanah si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, rata dengan tanah. Ia keheranan tiada tara. Dalam kisah ini, dapat kita ambil pelajaran, betapa hati-hatinya sahabat Rasulullah tersebut dalam menjaga diri dan keuarganya dari makanan harta haram. Sesulit apa pun hidup, seberat apa pun hidup, seseorang tidak boleh memberikan makanan untuk dirinya sendiri dan keluarganya dari barang haram. Setiap kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah subhânahu wa ta’âlasepuluh kali lipat sebagaimana janji Baginda Nabi Muhammad. Adapun panen dari pada janji itu bukankan kontan sekarang, namun di akhirat kelak. Karena dunia ini adalah dâruz zar‘i (tempat bercocok tanam), bukan dârul hashâd (tempat memanen). Kisah di atas disarikan dari kitab I’anatuth Thâlibîn (Beirut, Lebanon, cet I, 1997, juz 3, halaman 293) karya Abu Bakar bin Muhammad Syathâ ad Dimyatîy (w. 1302 H). اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَی رُوْحِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ فِی الْأَرْوَاحِ وَعَلَی جَسَدِهِ فِی الْأَجْسَادِ وَعَلَی قَبْرِهِ فِی الْقُبُوْرِ وَعَلَی اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمِ Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada ruh Nabi Muhammad saw, diantara semua ruh, kepada jasadnya diantara semua jasad, kepada kuburnya diantara semua kubur, dan limpahkanlah pula rahmat dan keselamatan kepada keluarganya dan sahabatnya.... Aamiin yaa Robbal-aalamiin

Kisah Sahabat Abu Dujanah yang Membuat Rasulullah Menangis

0
KalamUlama.com - "Kisah Sahabat Abu Dujanah yang Membuat Rasulullah Menangis". Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, terdapat seorang sahabat bernama Abu Dujanah. Setiap usai menjalankan ibadah shalat berjamaah shubuh bersama Baginda Nabi, Abu...

Video kalam ulama