Wednesday, September 23, 2020

Popular Post Kalam ulama

Latest Articles Kalam Ulama

Shalawat Jibril : Ijazah dari Kiai Kholil dan Kiai Ihya

0
kalamulama.com- Shalawat Jibril : Ijazah dari Kiai Kholil dan Kiai Ihya Bismillaahir rohmaanir rohiim. Shalawat Jibril...

INILAH FAIDAH-FAIDAH KETIKA MINUM AIR PUTIH

0
kalamulama.com- FAIDAH-FAIDAH KETIKA MINUM AIR PUTIH Berkata Abah Sekumpul, "Apabila minum air putih atau minum obat...

Inilah Ayat-Ayat Kesembuhan (Ayat Syifa)

0
kalamulama.com- Inilah Ayat-Ayat Kesembuhan (Ayat Syifa) As-Syaikh Abul Qasim al-Qusyairi didalam kitabnya المغنم فى اسم...

PERBEDAAN PENDAPAT PUASA ASYURA

0
Kalam Ulama - Puasa asyura sunah dengan dalil bahwa Rasulullah SAW berpuasa dan memerintahkan untuk...

Jangan Lupa Bersyukur #445 KH Marzuki Mustamar

0
kalamulama.com–  Jangan Lupa Bersyukur #445 KH Marzuki Mustamar Jangan remehkan ucapan Alhamdulillah dari seorang hamba yang...

Berbicaralah dengan Bahasa Cinta #444 Syaikh Jalaluddin Ar- rumi

0
kalamulama.com–  Berbicaralah dengan Bahasa Cinta #444 Syaikh Jalaluddin Ar- rumi Mendengarlah dengan telinga yang toleran, melihatlah...

Inilah Lima Peran Kyai Menurut Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya

0
kalamulama.com - Lima Peran Kyai Menurut Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya. Kyai Tandur, Catur, Tutur, Sembur...

Bagaimana Hukum Upacara dan Hormat Bendera?

0
KalamUlama.com - Bagaimana Hukum Upacara dan Hormat Bendera? Diriwayatkan oleh At-Tirmidzî, An-Nasâ'î, Ibnu Mâjah, Ibnu...

Inilah Nasab Nabi Muhammad SAW Sampai Nabi Adam as

0
kalamulama.com - Inilah Nasab Nabi Muhammad SAW Sampai Nabi Adam as. Prof. Dr. KH. Said...

Cinta Lima Perkara dan Melupakan Lima Perkara Lainnya

0
kalamulama.com- Cinta Lima Perkara dan Melupakan Lima Perkara Lainnya. dalam sebuah riwayat diterangkan bahwa nabi...

Kisah Nabi, Sahabat, dan Ulama

Kalam Ulama - Tokoh Besar Yang Tidak Ingin Terkenal. Diceritakan, seumur hidup beliau hanya mempunyai satu foto dan ketika akan meninggal beliau membakar fotonya tersebut karena takut identitasnya diketahui orang. Beliaulah sang Menantu Chadrotussyeh Hasyim, KH Maksum Ali Jombang. Kesederhanaannya membuat banyak orang tidak mengenal tokoh alim yang satu ini. Bahkan makam beliau yang terletak di komplek pemakaman Masyayih tebuireng pun pada nisannya tidak bernama. Padahal beliau adalah pengarang kitab Legendaris Al-Amtsilah At-Tashrifiyyah. Sebuah kitab ilmu sharaf yang amat masyhur di Nusantara, bahkan di luar negeri. Nama lengkapnya, Muhammad Ma’shum bin Ali bin Abdul Jabbar Al-Maskumambani. Lahir di Maskumambang, Gresik, tepatnya di sebuah pondok yang didirikan oleh sang kakek. Setelah belajar pada ayahnya, Ma’shum muda pergi menuntut ilmu di Pesantren Tebuireng Jombang. Ia termasuk salah satu santri generasi awal Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari. Pada masa itu, selain dituntut untuk belajar, para santri juga diharuskan ikut berjuang melawan penjajah. Kedatangannya ke Tebuireng disusul oleh adik kandungnya, Adlan Ali–kelak atas inisiatif Hadratus Syeikh, Kiai Adlan mendirikan pondok putri Wali Songo Cukir. Bertahun-tahun lamanya pemuda Ma’shum mengabdi di Tebuireng. kemampuannya dalam segala bidang ilmu, terutama bidang falak, hisab, sharaf, dan nahwu, membuat Hadratus Syeikh tertarik untuk menikahkan dengan putrinya, Khairiyah. Mendirikan Pondok Seblak adalah sebuah nama dusun yang terletak sekitar 300 m sebelah barat Tebuireng. Penduduk Seblak kala itu masih banyak yang melakukan kemungkaran, seperti halnya warga Tebuireng sebelum kedatangan Hadratus Syeikh. Melihat kondisi ini, Kiai Ma’shum merasa terpanggil untuk menyadarkan masyarakat setempat dan mengenalkan Islam secara perlahan. Jerih payahnya diridhai Allah SWT. Pada tahun 1913, ketika usianya baru 26 tahun, beliau mendirikan sebuah rumah sederhana yang terbuat dari bambu. Seiring berjalannya waktu, di sekitar rumah tersebut kemudian didirikan pondok dan masjid, yang berkembang cukup pesat. Meski sudah berhasil mendirikan pondok, Kiai Ma’shum tetap istiqamah mengajar di madrasah Salafiyah Syafiiyah Tebuireng, membantu Hadratus Syeikh mendidik santri. Pada tahun berikutnya, beliau diangkat menjadi Mufattis (Pengawas) di Madrasah tersebut. Karya Pena Meskipun jumlah karyanya tak sebanyak Hadratus Syeikh, akan tetapi hampir semua kitab karangannya sangat monumental. Bahkan, banyak orang yang lebih mengenal kitab karangannya dibanding pengarangnya. Ada empat kitab karya beliau; (1)Al-Amtsilah At-Tashrifiyyah. Kitab ini menerangkan ilmu sharaf. Susunannya sistematis, sehingga mudah difaham dan dihafal. Lembaga-lembaga pendidikan Islam, baik di Indonesia atau di luar negeri, banyak yang menjadikan kitab ini sebagai rujukan. Kitab ini bahkan menjadi menjadi pegangan wajib di setiap pesantren salaf. Ada yang menjulukinya kitab ”Tasrifan Jombang”. Kitab yang terdiri dari 60 halaman ini, telah diterbitkan oleh banyak penerbit, diantaranya Penerbit Salim Nabhan Surabaya. Pada halaman pertamanya tertera sambutan berbahasa Arab dari (mantan) menteri Agama RI, KH. Saifuddin Zuhri. (2) Fathul Qadir. Konon, ini adalah kitab pertama di Nusantara yang menerangkan ukuran dan takaran Arab dalam bahasa Indonesia. Diterbitkan pada tahun 1920-an, ketika Kiai Ma’shum masih hidup, oleh penerbit Salim Nabhan Surabaya. Halamannya tipis tapi lengkap. Kitab ini banyak dijumpai di pasaran. (3) Ad-Durus Al-Falakiyah. Meskipun banyak orang yang beranggapan bahwa ilmu falak itu rumit, tetapi bagi orang yang mempelajari kitab ini akan berkesan ”mudah”, karena disusun secara sistematis dan konseptual. Di dalamnya termuat ilmu hitung, logaritma, almanak Masehi dan Hijriyah, posisi Matahari, dll. Kitab yang diterbitkan oleh Salim Nabhan Surabaya tahun 1375 H ini, terdiri dari tiga juz dalam satu jilid dengan jumlah 109 halaman. (4) Badi’atul Mitsal. Kitab ini juga menerangkan perihal ilmu falak. Beliau berpatokan bahwa yang menjadi pusat pereda (4) Badi’atul Mitsal. Kitab ini juga menerangkan perihal ilmu falak. Beliau berpatokan bahwa yang menjadi pusat peredaran alam semesta bukanlah Matahari sebagaimana teori yang datang kemudian, melainkan Bumi. Sedangkan Matahari, planet dan bintang yang jumlahnya sekian banyaknya, berjalan mengelilingi Bumi. Pribadi yang Sederhana Sebagai Kiai yang berilmu tinggi, Kiai Ma’shum dikenal sebagi Kiai yang akrab dengan kalangan bawah. Saking akrabnya, banyak diantara mereka yang tak mengetahui kalau sebetulnya beliau adalah ulama besar. Dalam pandangannya, semua orang lebih pintar darinya. Kiai Ma’shum pernah berguru kepada seorang nelayan di perahu, selama dalam perjalanan haji. Beliau tidak merasa malu, meski orang lain menilainya aneh. Hasilnya, dari situ beliau menulis kitab Badi’ah Al-Mitsal. Beliau juga dikenal sufi. Untuk menghindari sikap sombong di hadapan manusia, menjelang wafat, beliau membakar fotonya. Padahal itu adalah satu-satunya foto yang dimiliki. Hal ini tak lain karena beliau takut identitasnya diketahui oleh banyak orang, yang nantinya akan menimbulkan penyakit hati seperti riya’, ujub, dan sombong. Pada tangal 24 Ramadhan 1351 atau 8 Januari 1933, Kiai Ma’sum wafat setelah sebelumnya menderita penyakit paru-paru. Beliau wafat pada usia + 46 tahun. Wafatnya Kiai Ma’shum merupakan ”musibah besar” terutama bagi santri Tebuireng, karena beliaulah satu-satunya ulama yang menjadi rujukan dalam segala bidang keilmuan setelah Hadratus Syeikh. Semoga segala amalnya diterima oleh Allah SWT dan apa yang ditinggalkan bermanfaat. Allahummagfir lahu wa nafa’ana bihi wa bi ulumihi. Amin.

Biografi Pengarang Kitab Al Amtsilah At tashrifiyyah : KH Maksum Ali

0
KalamUlama.com - Biografi Pengarang Kitab Al Amtsilah At tashrifiyyah : KH Maksum Ali. Tokoh Besar Yang Tidak Ingin Terkenal. Diceritakan, seumur hidup beliau hanya mempunyai satu foto dan ketika akan meninggal beliau membakar fotonya tersebut...
kalamulama.com- Nabi pun Bercanda. Benarkah semakin dalam penguasaan seseorang terhadap agama maka semakin serius dia dalam sikap dan tingkah lakunya? Tak ada

Nabi pun Bercanda

0
kalamulama.com- Nabi pun Bercanda. Benarkah semakin dalam penguasaan seseorang terhadap agama maka semakin serius dia dalam sikap dan tingkah lakunya? Tak ada senyum lebar apalagi tawa. Mereka menjelma menjadi manusia suci yang tidak lagi...
kalamulama.com- PESAN SUCI SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Bagi orang-orang yang benar-benar jujur (shadiq), dia tidak dapat bergerak ke belakang. Dia selalu bergerak ke depan. Dia hanya memiliki depan, tanpa belakang. Dia tak pernah berhenti berprilaku jujur dan ikhlas sehingga setitik debunya  menjadi gunung, setetes airnya menjadi lautan, jatahnya yang kecil menjadi sangat besar, lampunya menjadi matahari, dan bungkusnya menjadi isi. Jika engkau beruntung bertemu dengan seseorang yang benar-benar jujur seperti itu, maka engkau harus selalu dekat dengannya kemanapun ia membawamu. Jika engkau beruntung bertemu dengan seseorang yang mempunyai obat untuk menyembuhkan penyakitmu, maka engkau harus mendekatinya sepanjang waktu. Jika engkau cukup beruntung bertemu dengan seseorang yang bisa menunjukkan kepadamu bagaimana cara menemukan kembali kesempatan yang telah engkau sia-siakan pada sesuatu yang tak lebih baik daripada sampah, maka engkau harus mendekatinya—benar-benar dekat! Tapi, boleh jadi, engkau tak akan pernah mengenal orang-orang yang seperti itu, sebab mereka tak lebih dari segelintir manusia yang langka. Bungkus luarnya mungkin banyak, tetapi isinya hanya sedikit. Cangkangnya mungkin berada di tempat-tempat pembuangan sampah umum, tetapi isinya berada di gudang pribadi sang pemilik tanah. Setiap kali hati diisi dengan hal-hal duniawi, syahwat, hawa nafsu badani, maka hati itu akan menjadi hanya sekadar cangkang, yang tak akan cocok untuk tujuan apa pun di luar dunia yang rendah ini. Selama engkau masih menemukan dalam hatimu sifat dan perbuatan kotoran makhluk, maka engkau akan merasa menderita karena hukuman. Allah SWT berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka, dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Pemberi rezeki, Yang Mahakuat lagi Mahakokoh.” (QS Adzariyat: 56-58) --Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Jala Al-Khathir Baca Juga: ASAL MULA TAWASULAN KEPADA SYEKH ABDUL QADIR JAILANY

INILAH PESAN SUCI DARI SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI

0
kalamulama.com- PESAN SUCI SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Bagi orang-orang yang benar-benar jujur (shadiq), dia tidak dapat bergerak ke belakang. Dia selalu bergerak ke depan. Dia hanya memiliki depan, tanpa belakang. Dia...
Hasan Bashri

Kisah Hasan Al Bashri Melamar Rabiah Al Adawiyah

0
kalamulama.com- Kisah Hasan Al Bashri Melamar Rabiah Al-Adawiyah, Diterima atau Ditolak ? Oleh :Ustadz Alfarisi Hamzah Kedua tokoh sufi ini sangat terkenal di zamannya. Banyak kisah hidupnya diabadikan dalam hasanah kitab klasik. Hasan Al-Bashri merupakan pembesar...
Anak Gus Baha'

CARA PANDANG GUS BAHA’ DALAM MENDIDIK ANAK

0
Berbicara soal anak, saya teringat ketika ngaji dengan Gus Baha' di Bedukan Wonokromo. Kira-kira di tahun 2017. Harta benda dan anak adalah (mengandung) fitnah. Begitu kata Alquran. Lantas fitnah yang bagaimana? Secara sederhana, fitnah di sini...

Video kalam ulama