Popular Post Kalam ulama

Latest Articles Kalam Ulama

Manfaat Memakai Atau Menggunakan Warna Hijau

kalamulama.com- Manfaat Memakai Atau Menggunakan Warna Hijau. Warna Hijau Adalah Perlindungan Surgawi, Perlindungan dari Langit....

Tidak Melukai dan Sabar Saat Dilukai Kalam Ulama #435 Gus Baha

kalamulama.com– Tidak Melukai dan Sabar Saat Dilukai Kalam Ulama #435 Gus Baha. “Mencintai itu tidak cukup...

Kisah Pernikahan Guru Sekumpul

kalamulama.com- Kisah Pernikahan Guru Sekumpul Seorang pangeran di dunia ini dan selanjutnya. Cermin sayidina Mustafa Muhammad...

Kisah Bung Karno Meminta Fatwa KH. Wahab Chasbulloh 

kalamulama. com- Kisah Bung Karno Meminta Fatwa KH. Wahab Chasbulloh Setelah beberapa kali diadakan perundingan untuk...

Perbanyaklah Dzikrullah Sampai Orang-Orang Mengatakan Anda Gila

kalamulama. com - Perbanyaklah Dzikrullah Sampai Orang-Orang Mengatakan Anda Gila Dzikrullah adalah usaha membangun kesadaran terus-menerus...

Inilah Imam Masjidil Haram Pertama dari Indonesia

kalamulama.com- Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabawi, Imam Masjidil Haram Pertama dari Indonesia. Tak banyak orang...

Pandangan Habib Ali Jufry Tentang Hari Valentine

kalamulama. com- Habib Ali Jufry: Happy Valentine (Pandangan Habib Ali Jufry tentang Hari Valentine . ...

INILAH PESAN SUCI DARI SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI

kalamulama.com- PESAN SUCI SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Bagi orang-orang yang benar-benar jujur...

Inilah Amalan Untuk Melunasi Hutang dari Habib Ali Bungur

kalamulama.com- Inilah Amalan Untuk Melunasi Hutang. Al-Habib Ali bin Husein al-Attas atau lebih dikenal dengan Habib...

EKSPRESI ORANG TUA DI ALAM KUBUR KETIKA DI ZIARAHI ATAU DI DOAKAN ANAKNYA

kalamulama.com- EKSPRESI ORANG TUA DI ALAM KUBUR KETIKA DI ZIARAHI ATAU DI DOAKAN ANAKNYA Dalam penjelasan...

Kisah Nabi, Sahabat, dan Ulama

Habib Ali Hadromaut, Salam Shalatnya Langsung Dijawab Rasulullah

  kalamulama.com -Habib Ali bin Alwi Kholiq Qasam. Masyarakat Hadramaut mengenal betul ia memiliki banyak karomah. Salah satunya setiap beliau shalat, ucapan salamnya kepada Nabi Muhammad SAW di dalam tasyahud, konon, dijawab langsung oleh Nabi...
abah guru sekumpul

Kalam Abah Guru Sekumpul Tentang Kaya dan Shadaqah

kalamulama.com - Ujar Abah Guru Sekumpul : "Orang yg sugih itu orang yg banyak bershadaqah" "Orang pemurah itu kekasih Allah, walaupun dia jahil (bodoh), dan orang bakhil itu musuh Allah walaupun dia alim" "Orang pemurah disenangi Allah,...
Al Habib Jakfar bin Syaikhon Assegaf, Dialah Al Quran berjalan Al Habib Jakfar merupakan satu tanda daripada tanda-tanda kekuasaan Allah SWT dalam hal menghafalkan al Quran, menguasainya serta membacanya dengan cara yang paling sempurna.

Habib Jakfar bin Syaikhon Assegaf, Dialah Al Quran Berjalan

kalamulama.com- Al Habib Jakfar bin Syaikhon Assegaf, Dialah Al Quran berjalan Al Habib Jakfar merupakan satu tanda daripada tanda-tanda kekuasaan Allah SWT dalam hal menghafalkan al Quran, menguasainya serta membacanya dengan cara yang paling sempurna....
Kalam Ulama - Tokoh Besar Yang Tidak Ingin Terkenal. Diceritakan, seumur hidup beliau hanya mempunyai satu foto dan ketika akan meninggal beliau membakar fotonya tersebut karena takut identitasnya diketahui orang. Beliaulah sang Menantu Chadrotussyeh Hasyim, KH Maksum Ali Jombang. Kesederhanaannya membuat banyak orang tidak mengenal tokoh alim yang satu ini. Bahkan makam beliau yang terletak di komplek pemakaman Masyayih tebuireng pun pada nisannya tidak bernama. Padahal beliau adalah pengarang kitab Legendaris Al-Amtsilah At-Tashrifiyyah. Sebuah kitab ilmu sharaf yang amat masyhur di Nusantara, bahkan di luar negeri. Nama lengkapnya, Muhammad Ma’shum bin Ali bin Abdul Jabbar Al-Maskumambani. Lahir di Maskumambang, Gresik, tepatnya di sebuah pondok yang didirikan oleh sang kakek. Setelah belajar pada ayahnya, Ma’shum muda pergi menuntut ilmu di Pesantren Tebuireng Jombang. Ia termasuk salah satu santri generasi awal Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari. Pada masa itu, selain dituntut untuk belajar, para santri juga diharuskan ikut berjuang melawan penjajah. Kedatangannya ke Tebuireng disusul oleh adik kandungnya, Adlan Ali–kelak atas inisiatif Hadratus Syeikh, Kiai Adlan mendirikan pondok putri Wali Songo Cukir. Bertahun-tahun lamanya pemuda Ma’shum mengabdi di Tebuireng. kemampuannya dalam segala bidang ilmu, terutama bidang falak, hisab, sharaf, dan nahwu, membuat Hadratus Syeikh tertarik untuk menikahkan dengan putrinya, Khairiyah. Mendirikan Pondok Seblak adalah sebuah nama dusun yang terletak sekitar 300 m sebelah barat Tebuireng. Penduduk Seblak kala itu masih banyak yang melakukan kemungkaran, seperti halnya warga Tebuireng sebelum kedatangan Hadratus Syeikh. Melihat kondisi ini, Kiai Ma’shum merasa terpanggil untuk menyadarkan masyarakat setempat dan mengenalkan Islam secara perlahan. Jerih payahnya diridhai Allah SWT. Pada tahun 1913, ketika usianya baru 26 tahun, beliau mendirikan sebuah rumah sederhana yang terbuat dari bambu. Seiring berjalannya waktu, di sekitar rumah tersebut kemudian didirikan pondok dan masjid, yang berkembang cukup pesat. Meski sudah berhasil mendirikan pondok, Kiai Ma’shum tetap istiqamah mengajar di madrasah Salafiyah Syafiiyah Tebuireng, membantu Hadratus Syeikh mendidik santri. Pada tahun berikutnya, beliau diangkat menjadi Mufattis (Pengawas) di Madrasah tersebut. Karya Pena Meskipun jumlah karyanya tak sebanyak Hadratus Syeikh, akan tetapi hampir semua kitab karangannya sangat monumental. Bahkan, banyak orang yang lebih mengenal kitab karangannya dibanding pengarangnya. Ada empat kitab karya beliau; (1)Al-Amtsilah At-Tashrifiyyah. Kitab ini menerangkan ilmu sharaf. Susunannya sistematis, sehingga mudah difaham dan dihafal. Lembaga-lembaga pendidikan Islam, baik di Indonesia atau di luar negeri, banyak yang menjadikan kitab ini sebagai rujukan. Kitab ini bahkan menjadi menjadi pegangan wajib di setiap pesantren salaf. Ada yang menjulukinya kitab ”Tasrifan Jombang”. Kitab yang terdiri dari 60 halaman ini, telah diterbitkan oleh banyak penerbit, diantaranya Penerbit Salim Nabhan Surabaya. Pada halaman pertamanya tertera sambutan berbahasa Arab dari (mantan) menteri Agama RI, KH. Saifuddin Zuhri. (2) Fathul Qadir. Konon, ini adalah kitab pertama di Nusantara yang menerangkan ukuran dan takaran Arab dalam bahasa Indonesia. Diterbitkan pada tahun 1920-an, ketika Kiai Ma’shum masih hidup, oleh penerbit Salim Nabhan Surabaya. Halamannya tipis tapi lengkap. Kitab ini banyak dijumpai di pasaran. (3) Ad-Durus Al-Falakiyah. Meskipun banyak orang yang beranggapan bahwa ilmu falak itu rumit, tetapi bagi orang yang mempelajari kitab ini akan berkesan ”mudah”, karena disusun secara sistematis dan konseptual. Di dalamnya termuat ilmu hitung, logaritma, almanak Masehi dan Hijriyah, posisi Matahari, dll. Kitab yang diterbitkan oleh Salim Nabhan Surabaya tahun 1375 H ini, terdiri dari tiga juz dalam satu jilid dengan jumlah 109 halaman. (4) Badi’atul Mitsal. Kitab ini juga menerangkan perihal ilmu falak. Beliau berpatokan bahwa yang menjadi pusat pereda (4) Badi’atul Mitsal. Kitab ini juga menerangkan perihal ilmu falak. Beliau berpatokan bahwa yang menjadi pusat peredaran alam semesta bukanlah Matahari sebagaimana teori yang datang kemudian, melainkan Bumi. Sedangkan Matahari, planet dan bintang yang jumlahnya sekian banyaknya, berjalan mengelilingi Bumi. Pribadi yang Sederhana Sebagai Kiai yang berilmu tinggi, Kiai Ma’shum dikenal sebagi Kiai yang akrab dengan kalangan bawah. Saking akrabnya, banyak diantara mereka yang tak mengetahui kalau sebetulnya beliau adalah ulama besar. Dalam pandangannya, semua orang lebih pintar darinya. Kiai Ma’shum pernah berguru kepada seorang nelayan di perahu, selama dalam perjalanan haji. Beliau tidak merasa malu, meski orang lain menilainya aneh. Hasilnya, dari situ beliau menulis kitab Badi’ah Al-Mitsal. Beliau juga dikenal sufi. Untuk menghindari sikap sombong di hadapan manusia, menjelang wafat, beliau membakar fotonya. Padahal itu adalah satu-satunya foto yang dimiliki. Hal ini tak lain karena beliau takut identitasnya diketahui oleh banyak orang, yang nantinya akan menimbulkan penyakit hati seperti riya’, ujub, dan sombong. Pada tangal 24 Ramadhan 1351 atau 8 Januari 1933, Kiai Ma’sum wafat setelah sebelumnya menderita penyakit paru-paru. Beliau wafat pada usia + 46 tahun. Wafatnya Kiai Ma’shum merupakan ”musibah besar” terutama bagi santri Tebuireng, karena beliaulah satu-satunya ulama yang menjadi rujukan dalam segala bidang keilmuan setelah Hadratus Syeikh. Semoga segala amalnya diterima oleh Allah SWT dan apa yang ditinggalkan bermanfaat. Allahummagfir lahu wa nafa’ana bihi wa bi ulumihi. Amin.

Biografi Pengarang Kitab Al Amtsilah At tashrifiyyah : KH Maksum Ali

KalamUlama.com - Biografi Pengarang Kitab Al Amtsilah At tashrifiyyah : KH Maksum Ali. Tokoh Besar Yang Tidak Ingin Terkenal. Diceritakan, seumur hidup beliau hanya mempunyai satu foto dan ketika akan meninggal beliau membakar fotonya tersebut...
KalamUlama.com - Hari ini saya menyaksikan Akhlak Rasulullah yang diturunkan kepada para pewaris ilmu dan adab, beliaulah Al Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al Jufri dan KH. Anwar Manshur, Pengasuh Ponpes Lirboyo.video

Akhlak Rasulullah – Momen Menyejukkan Habib Ali Jufri dan KH Anwar Manshur

KalamUlama.com - Hari ini saya menyaksikan Akhlak Rasulullah yang diturunkan kepada para pewaris ilmu dan adab, beliaulah Al Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al Jufri dan KH. Anwar Manshur, Pengasuh Ponpes Lirboyo. Ketika KH....

Video kalam ulama