Tuntunan dan Adab Bergaul dengan istri : Kasihi dia seperti mengasihi kedua orang tuamu*

-“Menikah itu bukan untuk saling memiliki, karena pada hakikatnya memiliki itu cenderung menjajah. Namun lebih tepatnya menikah itu untuk saling menjaga”- (Baca Juga : KEWAJIBAN ORANG TUA TERHADAP ANAK YANG SUDAH TAMYIZ)

Mencermati quote di atas, lebih tepatnya tujuan menikah adalah untuk saling menjaga, tidak untuk saling memiliki. Menjaga disini yang dimaksud adalah menjaga dari gangguan manusia sampai menjaga dari siksaan api neraka. Sedangkan yang dimaksud dengan menjajah adalah ada pihak yang diuntungkan dan dirugikan. Rasa memiliki itulah yang terkadang membuat penjalin hubungan cenderung mengekang pasangannya. Sehingga buanglah jauh-jauh rasa memiliki dan gantilah dengan rasa tanggung jawab untuk menjaga. Karena hakikatnya semua adalah milik Allah, tugas kita adalah hanya untuk menjaga sebagai representasi wakil Allah di muka bumi (khalifatullah fil ardhi).

Sebagai seorang suami hendaknya mengerti tata cara/adab ber-muasyaroh (bercengkrama) dengan istrinya, apalagi menyangkut keharmonisan rumah tangganya. Sehingga adab-adab ber-muasyaroh ini mutlak diperlukan bagi pasangan suami istri untuk menghindari perkara yang dibenci oleh Allah, yaitu perceraian. Tidak hanya suami, namun istri juga wajib tahu akan hal ini.

Berperilaku yang baik (husnul khulqi) merupakan salah satu adab bercengkrama dengan istri. Yang tak kalah penting yaitu menahan rasa sakit hati akibat perkataan yang menyakitkan ataupun sebab lain dengan cara melupakan rasa sakit itu dalam hatinya. Tindakan itu hendaknya dilakukan atas dasar rasa kasih dan sayang kepada istri. Hendaknya bagi suami memahami bahwa perempuan khususnya istrinya jika telah dikuasi oleh syahwat (emosi) makan akan menutup cara berfikir logisnya, seperti dalam hadist shohih disebutkan bahwa perempuan itu kurang akalnya.

Sungguh Allah SWT telah memiripkan berperilaku baik kepada istri seperti berperilaku baik kepada kedua orang tua. Firman Allah

“…dan pergaulilah keduanya (kedua orang tua) di dunia dengan baik (ma’ruf) ..” (Qs. Luqman: 15)

Dalam ayat lain Allah berfirman tentang perempuan :

“ … dan pergaulilah mereka (istri) dengan baik (ma’ruf) …” (Qs. An-Nisa: 19)

“ … dan bagi perempuan seperti perkara yang bagi mereka baik (ma’ruf) ..” (Qs. Al-baqarah: 228)

“…dan mereka mengambil dari kalian janji yang berat (mitsaqan gholidza)..” (Qs. An-Nisa: 21)

Menurut Muhajid dalam menafsirkan kata “janji yang berat” adalah kalimat nikah yang menghalalkan baginya bersetubuh yang dinukil oleh Thobari dalam kitab “al-Manasik”.

“…maka ketika mereka (istri) menikam kalian, maka janganlah mecari jalan..” (An-Nisa: 34).

Maksud dari ayat ini adalah mencari-cari jalan untuk berpisah dan tidak pula caci maki yang hukumnya makruh. Kemudian, apabila ia berhasil meredam ini, maka ia masuk dalam golongan Nafsul Muthmainnah (diri yang tenang).

*Oleh : Ustadz Hamzah Alfarisi

*Disarikan dari kitab Adaab al-Mu’asyaroh baina al-Zaujaini li tahshili al-Sa’adah al-Zaujiyyah al-haqiqiyyah