Kajian Islam (Kalam ulama). Siapakah diri kita hakikatnya ?

Ada sebuah hadist qudsy yang artinya “Barangsiapa mengenal dirinya, maka sungguh ia telah mengenal Tuhannya”. Berdasarkan hadist di atas, sebagai makhluk Tuhan, sudah seharusnya kita mengenal betul siapakah Tuhan kita ? Namun, sebelum mengenal Tuhan, kita harus mengenal diri kita secara hakiki terlebih dahulu. Sehingga muncul pertanyaan, siapakah diri kita hakikatnya ? Untuk menjawab pertanyaan itu. Mari simak percakapan berikut,

Umar : Assalamu alaikum, bakar

Zaid : Waalaikum salam, umar

Umar : Zaid, aku mau tanya sama kamu

Ziad : Boleh, mau tanya apa emang ?

Umar : Sebenarnya yang namanya Zaid itu mana sih ?

Ziad : ini saya, zaid (sambil memegang dadanya)

Umar : Serius, itu zaid ? Kalau kataku sih bukan, itu yang kamu tunjuk adalah dadamu

Zaid : Bukan itu maksudku, mar ! Dasar kamu mah

Umar : Lha terus bagaimana maksudmu ?

Zaid : ini saya zaid (sambil menunjuk seluruh tubuhnya)

Umar : Serius, itu kamu zaid ? kalau kataku sih bukan , itu badanmu

Zaid : emmmm, maksudku ……(sambil mikir)

Umar : Baik, coba simak penjelasanku baik-baik ya…….

Coba kamu lihat Al-Qur’an QS. Al-insan (76) : 1 :

“Bukankah telah datang atas insan suatu masa dari waktu, yang pada masa itu, ia belum menjadi sesuatu yang dapat dikenali?”

“…Bukankah Aku Tuhanmu ? Betul Engkau (Tuhan kami), Kami menjadi saksi…” (QS. Al-A’raf (7): 172)

Dalam ayat tersebut, Allah SWT telah menerangkan bahwa kita dahulu hakikatnya (pada zaman azaly) sudah ada, tapi kita tapi belum dapat dikenali. Disisi yang lain, Kita juga telah bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan kita. (Dengan muka kaget Zaid menyela)

(Baca Juga : Kisah Sufi)

Ziad : Bagaimana mungkin, kita diciptakan tapi belum dikenali? Bahkan sudah bersaksi. Memangnya kita diciptakan dalam bentuk apa ? dan saya kok gak ingat ya…

Umar : Pertanyaan bagus, Mar. Kamu cerdas, aku lanjutin dulu ya.

Dalam surat dan ayat yang lain Allah berfirman :

“Sesungguhnya Aku menciptakan mansia dari sari pati tanah. ketika sudah Kusempurnakan lalu Kutiupkan ke dalamnya sebagian dari ruh-Ku (ruh koleksi Ku)…” (QS Shod : 71-72)

“Demi diri dan apa-apa yang menyempurnakannya” (QS As-Syams (91) : 7)

Sehingga dari ayat Alquran di atas dapat kita hubungkan bahwa hakikatnya kita sudah diciptakan dalam masa dari waktu (ini yang disebut zaman azaly, zaman ini diakhiri saat kita lahir di dunia) dan sudah bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan kita.

Setelah itu, Allah menciptakan tubuh berupa basyar dari sari pati tanah (komponen kimia, Carbon, Hidrogen, Oksigen dll). Nah, yang kamu tunjukkan tadi itu adalah basyar. Kemudian Allah meniupkan sebagin dari ruh koleksi Allah kedalam tubuh tersebut. Inilah yang disebut sebagai insan kamil (manusia sempurna) yang terdiri ruh dan basyar.

Apabila manusia sudah meninggal dan dikuburkan, maka basyar akan dihancurkan oleh pengurai. Dan ruh akan akan menghadap Allah. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa manusia hakikatnya itu adalah berbentuk Ruh.

Zaid : oh, gitu ya ?

Umar : yup, benar. Namun sebagian besar manusia lupa dan tidak menyadarinya kalau mereka sebenarnya adalah mahluk ruhani. Sehingga mereka sibuk mengurusi tubuhnya saja (basyar), namun ruhnya tidak dirawat. Maka sudah wajar mereka tidak mengenal Tuhannya seperti hadist qudsy : “Barang siapa telah mengenal dirinya, Maka ia telah mengenal Tuhannya”

Ziad : Memang cara merawat ruh itu bagaimana ?

Umar : Wah itu panjang lagi ceritanya, aku jelasin kalau ketemu lagi aja ya …. hehehe

Zaid : Yah, dasar kamu. Oke dah ditunggu……….

OLeh : Hamzah Alfarisi