Kajian Islam (Kalam Ulama). Ada sebuah hadist yang mengatakan bahwa perempuan sholehah itu menolong separuh agama, berikut hadistnya :

(من رزقه الله امرأة صالحة فقد أعانه على شطر دينه فليتق الله في الشطر الثاني (رواه الحاكم وصححه

“Seseorang yang diberikan rizqi oleh Allah berupa perempuan sholehah maka sungguh Allah telah menolong separuh agamanya dan bertaqwalah kepada Allah bagian yang kedua” (H.R Hakim dan mensohihkannya)

Maksut daripada hadist tersebut sebagai berikut:  sesungguhnya cobaan terbesar dalam agama yaitu (1) Syahwatul bathni (syahwatnya perut) dan (2) Syahwatul farji (syahwatnya kemaluan). Perempuan yang sholehah akan berhasil menjaga dari perbuatan zina (syahwatnya kemaluan).  Artinya separuh yang awal telah selesai. Adapaun separuh yang kedua tetap ada, maka Allah memerintahkan untuk taat kepada-Nya. Supaya sempurna ketaatannya dan keitiqomahannya. Seperti dalam kitab  “Faidhlu al-Qadir syarh Jami’ Shoghir” juz 6 halaman 188. (Baca Juga : Lelaki Beruntung dan Lelaki Malang)

Hadist tersebut diberikan qoyyid (batasan) perempuan sholehah bukan perempuan saja. Karena sesungguhnya selain perempuan sholehah walaupun bisa menjaga dari perbuatan zina namun terkadang sulit menghindari kerusakan-kerusakan dan serpihan-serpihan perbuatan haram.

Perempuan dijadikan sebagai rizki oleh Allah dalam hadist di atas. Maksutnya, ketika diucapkan rizki  adalah sesuatu yang bermanfaat seperti sebagian ulama yang memutlakannya maka telah jelas. Sedanglan ketika dikatan bahwa rizki itu perkara yang bermanfaat  untuk dimakan maka sungguh perkara yang dimakan menolak lapar. Seperti itu pula nikah menolak kerinduan kepada air mani (maksudnya terpenuhinya syahwat farji). Kesamaan dalam penolakan inilah perempuan dikatakan sebagai rizki (isti’aroh tabi’iyyah = tabiat yang serupa).

Oleh : Ustadz Hamzah Alfarisi