Kajian Islam (Kalam Ulama). Pembaca yang dirahmati Allah, kriteria mengenai perempuan sholehah telah kita bahas pada tulisan yang lalu, sehingga kita tidak perlu bertanya-tanya kembali siapa perempuan sholehah itu. Pembahasan lalu telah dijelaskan pula  bahwa salah satu tujuan menikah yaitu mendapatkan anak sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya. Rasanya akan lebih afdhol kalau kita membahas faktor-faktor yang menjadi penyebab anak itu menjadi sholeh.

Sesuatu yang baik tentunya muncul dari perkara yang baik pula, begitu pula dengan seorang anak. Anak yang sholeh berasal dari ibu yang sholehah juga, karena perempuan yang sholehah makan makanan yang hahal maka air susu ibu (ASI) yang dihasilkanpun ikut halal dan berkah. Air susu tersebut akan memunculkan anak yang mempunyai tabiat/watak yang condong kepada kebaikan. Berbeda dengan air susu yang yang dihasilkan dari perkara yang haram yang mana air susu tersebut dihasilkan oleh perempuan yang tidak sholehah, sehingga air susunya pun tidak mengandung berkah. Oleh karenanya jika air susu tersebut diminum oleh si anak maka akan memenculkan tabiat yang jelek, yaitu tabiat yang condong kepada keburukan. (Baca Juga : Kajian Wanita Sholihah dan Lelaki Sholih #09 : Niat Nikah, Pintu Menuju Sakinah)

Seperti disebutkan dalam kitab “Madkhol lil ‘abdary” juz 4 halaman 295 :

بنبغي أن يراقبه من أول أمره فلا يشغل في حضانته وإرضاعه إلا امرأة صالحة متدينة تأكل الحلال فإن البن الحاصل من الحرم لابركة فيه فإذا وقعت عليه نشأة الصبي عجنت طينته فيميل طبعه إلى ما يناسب الخبائث

Artinya :”Seyogyannya orang tua menjaga anak diawal perkaranya. Maka orang tua tidak menyibukkan dalam persusuannya (tidak memberikannya susu) kecuali dengan (air susu) perempuan sholehah yang beragama, yang (perempuan tersebut) memakanan (perkara yang) halal. Maka sungguh air susu yang dihasilkan dari makanan haram tidak mengandung keberkahan didalamnya, maka ketika air susu tersebut dimakan oleh anak akan memunculkan anak yang tabiatnya condong kepada perkara yang jelek-jelek”

Imam nas’i dalam kitabnya “Asyratu al-nisa” juz 1 halaman 104 berkata bahwa anak yang sholeh merupakan penerus bagi amal kedua orang tuanya setelah wafat.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إذا مات ابن ادم انقطع عمله إلا ثلاث : صدقة جارية أو علم بنتفع به أو ولد صالح يدعو له .رواه المسلم .

Artinya : “ Rasulullah SAW bersabda : ketika anak cucu adam meninggal maka amalnya putus kecuali tiga perkara : shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya.”

Dari pembahasan diatas dapat diambil pelajaran, jika mempunyai anak tidak sembarang seoarang anak disusui oleh orang lain apalagi yang tidak dikenal. Kalaupun disusui oleh orang lain harus dikataui betul bahwa perempuan yang menyusui tersebut  makan makanan yang halal dan berperilaku baik. Sehingga anak yang didambakan yaitu anak sholeh dapat terwujud bi’idznillah. Amiin.

oleh : Ustadz Hamzah Alfarisi