Oleh: Ahmad Ishomuddin
Saat ulama yang otoritatif wafat dan langka, maka banyak orang bodoh mengangkat diri mereka sebagai tokoh agama. Mereka merasa telah menjadi ulama, bahkan merasa menjadi ulama besar hanya dengan modal satu dua ayat dan hadits, sorban, jubah dan sekedar bisa ceramah.

Jauh-jauh hari Rasulullah saw. telah mengingatkan bahwa ilmu agama akan lenyap dengan diwafatkannya ulama, sehingga orang-orang bodoh pun menjadi pemimpin, pemberi fatwa yang sesat dan menyesatkan umat.

عن عبد الله بن عمرو قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رءوسا جهالا فسءلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا ( متفق عليه )
Diriwayatkan dari Abdillah bin Amr, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, ” Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan mencabutnya sekali cabut dari para hamba, akan tetapi ilmu itu diambil dengan cara mengambil (mewafatkan) ulama itu, apabila tidak lagi ada orang berilmu (‘alim) maka manusia menjadikan orang-orang bodoh menjadi pemimpin. Sehingga bila mereka ditanya, maka mereka menjawab (berfatwa) tanpa ilmu, maka mereka itu sesat dan menyesatkan.” (Muttafaq ‘alaihi)

Ceramah agamanya yang “keras” pun tidak lepas dari mengecam dan menebar ujaran kebencian. Dengan alasan amar ma’ruf nahi munkar ia begitu lantang dan terang-terangan menyerang dengan menyebut satu persatu tokoh-tokoh ternama–baik tokoh agama atau tokoh pemerintah–yang tidak disukainya agar ia dianggap hebat dan pemberani di hadapan orang-orang yang awam agama dan politik.

Di tengah kerumunan itu, seolah ia adalah tokoh suci yang bisa menjamin dan menggaransi surga bagi setiap orang awam yang sudi menjadi pengekor fanatiknya.

Dalam suasana seperti di atas, maka celaan orang awam terhadap ulama ternama pun menjadi hal yang biasa terdengar. Bahkan, para imam mujtahid dalam berbagai madzhab fiqh pun tidak selamat dari caci maki mereka.

Keengganan mereka untuk “berendah hati” mengikuti madzhab fiqh yang ada adalah karena mereka telah merasa setara dengan ulama mujtahid yang bisa langsung merujuk al-Qur’an dan al-Sunnah dan menganggap adanya madzhab sebagai sebab perpecahan di kalangan umat Islam. Sehingga, dalam praktek beragama mereka menolak keras taklid dan bermadzhab.

Maka nyatalah bahwa fitnah yang menimpa umat dalam kehidupan beragama banyak disumbang oleh orang-orang yang tidak mampu mengukur kadar dirinya tersebut. Jika pun, di antara mereka sempat belajar agama itu pun dengan niat untuk mencari pengaruh, mengumpulkan harta benda dan untuk mengoreksi orang lain, dan bukan untuk memperbaiki diri sendiri dan mewujudkan kemaslahatan masyarakat banyak.