Kajian Islam (Kalam Ulama). One Day One Hadits #5: Larangan seorang waria (banci) memasuki rumah wanita Ajnabi

بسم الله الرحمن الرحيم
 
كتاب السلام
باب منع المخنث من الدخول على النساء الأجانب

حدثنا أَبُو بَكُرِ بنُ أَبِي شَيْبَةَ أخبرنا وَكِيعٌ عن هِشَامِ ابنِ عُرْوَةَ عنْ أَبِيهِ عنْ زَيْنَبَ بِنْتِ أُمّ سَلَمَةَ عنْ أُمّ سَلَمَةَ: أَنّ النبي صلى الله عليه وسلم دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا مُخَنّثٌ وَهُوَ يَقُولُ لِعَبْدِ الله أَخِيهَا: إِنْ يَفْتَحِ الله الطّائِفَ غَداً دَلَلْتُكَ عَلَى امْرَأَةٍ تُقْبِلُ بِأَرْبعٍ وَتُدْبِرُ بِثَمَانٍ، فقَالَ النبي ّصلى الله عليه وسلم “أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ”. رواه مسلم

Artinya:
Dari Ummu Salamah (W. 61 H) : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam masuk ke rumahku sementara di sisiku ada seorang waria. Aku mendengar waria itu berkata kepada Abdullah bin Abi Umayyah (saudara laki-laki Ummu Salamah, pen): “Wahai Abdullah! Jika besok Allah membukakan/ memenangkan Thaif untuk kalian, maka hendaklah engkau berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan putri Ghailan, karena dari bagian depannya terdapat empat lipatan dan sisi belakangnya terdapat delapan lipatan”. Ucapannya yang demikian didengar oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam , maka beliau pun menetapkan:“Mereka (mukhannats) itu sama sekali tidak boleh masuk menemui kalian lagi.” (HR. Muslim W. 261 H)

Baca juga : One Day One Hadits #4 : Pelit untuk Bershalawat

Makna kalimat : “bagian depannya terdapat empat lipatan dan sisi belakangnya terdapat delapan lipatan” ini adalah penyifatan fisik wanita yang disukai pada saat itu yaitu lekukan itu sampai ke pinggangnya, pada masing-masing sisi (pinggang) empat sehingga dari belakang terlihat seperti delapan.

Istifadah :
Hadits ini menunjukkan bahwa waria yang dilarang untuk masuk ke tempat wanita ialah waria yang memiliki kecenderungan (bersyahwat) terhadap wanita, sebab ia bisa menceritakan keindahan tubuh wanita yang pernah dilihatnya kepada lelaki. Sehingga dikhawatirkan ia akan membongkar aurat wanita muslimah bila dibiarkan keluar masuk ke tempat mereka. Adapun waria (murni) yang sama sekali tidak bersyahwat terhadap wanita, tidak akan melakukan hal tersebut.

Masalah ini tidak lepas dari dua kondisi:
Pertama : Jika waria tersebut memiliki syahwat terhadap wanita, maka tidak ada perbedaan dalam hal ini bahwa ia diharamkan dan termasuk perbuatan fasik.
Kedua : jika seorang waria (murni) yang tidak memiliki syahwat terhadap wanita, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat:

1. Ulama Malikiyah, Hanabilah dan sebagian Hanafiyah memberi rukhsah (keringanan) baginya untuk berada di tengah kaum wanita dan memandang mereka. Dalilnya ialah firman Allah ketika menjelaskan siapa saja yang boleh melihat wanita, dan siapa saja kaum wanita yang boleh berhias di hadapannya, yaitu:

أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الِإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ

artinya: atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak bersyahwat (terhadap wanita)

2. Ulama Syafi’iyah dan mayoritas Hanafiyah, berpendapat bahwa waria meskipun tidak bersyahwat terhadap wanita, tetap tidak boleh memandang kepada wanita. Dalam hal ini ia tetap dihukumi sebagai lelaki normal.

Jumat, 19 Rabi’ul Awwal 1439 H/8 Desember 2017 M
[Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-sunnah]