Kajian Islam (Kalam Ulama). Nasehat Pernikahan #4: Suami adalah Pengontrol Istri.

Ada yang berpendapat bahwa cinta itu ada batasnya, sehingga cinta kepada orang yang kita cintai itu harus dibatasi dalam beberapa kasus. Diantaranya seperti, istri sedang sakit dan dilarang oleh dokter untuk memakan makanan tertentu. Maka terhadap orang yang kita cintai, kita harus melarangnya. Ini adalah bentuk cinta yang terbatas. Namun, menurut kami ini bukan cinta yang terbatas. Justru pelarangan itu adalah suatu bentuk ekspresi cinta dengan wajah yang lain (pelarangan) untuk memperoleh tujuan yang lebih tinggi, yaitu kesehatan. Karena cinta terkadang terlihat buruk di mata orang yang kita cintai, namun hakikatnya terbaik untuknya.

Diantara bentuk ekspresi cinta dengan wajah yang lain adalah seyogyanya seorang suami tidak membiarkan istrinya mengikuti hawa nafsunya sampai melebihi batas dalam bersendau-gurau, sehingga merusak akhlaknya dan menjatuhkan martabat suami dihadapan istrinya. Namun, suami harus menjaga keseimbangan (mengontrol) dalam bersendau-gurau dan tidak meninggalkan kewibawaan, serta mencegahnya ketika melihat kemungkaran. Yang lebih penting, suami tidaklah menolong istri dalam kemungkaran. Apabila melihat kemungkaran, suami hendaknya membenci kemungkaran tersebut. (Baca juga: Nasehat Pernikahan #3: Candaan Mesra Rasulullah dengan Aisyah)

Syaikh Hasan pernah berkata: “Tidaklah lelaki yang taat kepada istrinya dalam kemaksiatan kecuali Allah mengekangnya dalam neraka”. Perkataan Syaikh Hasan mengisyaratkan betapa buruknya lelaki yang menuruti istrinya dalam kemaksiatan.

Sayyidina Umar RA juga berkata: “Berbedalah kalian dengan perempuan, karena sesungguhnya dalam menyelisihinya terdapat keberkahan” atau dalam riwayat lain “bermusyawarahlah dan berselisihlah dengannya”. Sayyidia Umar RA memberikan isyarat bahwa apabila perempuan sudah dibawah kendali hawa nafsunya, maka berbedalah dengannya.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Celaka, hambanya istri.” Nabi berkata demikian, karena apabila suami taat kepada istrinya dalam menuruti hawa nafsunya, maka ia adalah hambanya. Sungguh ia celaka, karena sesungguhnya Allah memberikan milik perempuan kepada suaminya, suami memilikinya, kemudian sugguh ia membalik keputusan itu dan ia mengikuti setan. Setan berkata: “Sungguh aku akan memerintahkah mereka, kemudian mereka menggantinya. Allah menciptakan, bahwa hak-hak lelaki adalah orang yang diikuti (Matbuu’), bukan orang yang mengikuti (Taabi’).

Ayat al-Qur’an yang memperkuat karakter lelaki sebagai Matbu’ adalah firman Allah surat An-Nisa ayat 34: “Lelaki adalah pemimpin bagi para perempuan”, dan Allah dalam Al-Qur’an memberikan sebutan “sayyid” untuk suami, dalam firman Allah surat yusuf ayat 25: “…dan keduanya mendapati sayyid-nya (suami perempuan) itu di depan pintu…”

Karakter perempuan itu bergantung karakter dirimu:

  1. Jika kamu melepas kendalinya sedikit, maka ia akan berbuat nakal banyak
  2. Jika kamu mengendorkan kendalinya sebentar saja, maka ia akan menarik berhasta-hasta ( 1 hasta = panjang dari siku sampai ujung jari) (jika dikendorkan sedikit, maka berbuatnya lebih banyak daripada kadar yang dikendorkan tersebut)
  3. Jika kamu mencegahnya dan mengikatkan kepada tanganmu di tempatnya, maka kamu memilikinya.

Sehingga Imam As-Syafi’i mengilustrasikan karakter perempuan dalam perkataan beliau: “Ada tiga perkara, apabila kamu memuliakannya, maka mereka akan merendahkanmu, dan apabila kamu merendahkannya, mereka memuliakanmu, Mereka adalah (1) perempuan, (3) pembantu dan (4) orang yang menggarap sawah”. Maksud dari kata perkataan tersebut yaitu apabila kamu memurnikan kemuliaan dan kamu tidak mencampurkan kekasaranmu dengan kelembuatanmu.

Perempuan bangsa Arab mengajarkan kepada anak-anak perempuannya tentang suami. Mereka berkata kepada anak perempuannya: “cobalah suamimu dengan maju dan berani. Cabutlah besi diujung tombaknya, apabila ia diam maka potonglah daging atas perisainya. Apabila ia diam maka pecahlah tulang belulang dengan pedangnya. Apabila dia diam, maka jadikanlah pelana atas punggungnya dan tunggangilah. Karena sesungguhnya ia adalah khimarmu”. Perkataan perempuan arab kepada anak perempuannya ini menggambarkan bahwa istri akan semakin berani dengan suami jika suami membiarkan/melonggarkannya. Apalagi dalam kata terakhir “Dia adalah khimarmu” menggambarkan bahwa suamimu adalah orang yang dapat ditunggangi dibawah kontrolnya.

oleh : Hamzah Alfarisi