Maaf, cuma ngutip kalam Habibana Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan. Mudah-mudahan bermanfaat. Wallohu a’lam.

Ringkas aja..
Huzaifah ibnul yaman tidak mensholatkan orang yang munafiq, kenapa? Karena beliau adalah satu-satunya orang yang diberikan oleh nabi pengetahuan tentang individu orang-orang munafiq kala itu.

Selain beliau, sekalipun itu sayyidina Umar tidak mengetahui siapa individu munafiq. Sehingga semua sahabat mensholatkan setiap orang muslim yang meninggal tanpa mencari tahu apakah dia munafiq atau bukan.

Sebab ranah tersebut bukanlah ranah mereka, Nabi nyatakan bahwa urusan dzhohir lah yang menjadi patokan. Sedangkan batin dan hati, itu adalah urusan Alloh, baginda Nabi menegaskan hal itu.

Adapun tentang pendukung calon gubernur non muslim, apakah dia (otomatis dihukumi) munafiq?

Ada satu kisah dalam sohih al bukhori, seorang sahabat yang bernama HAATIB BIN ABI AL BALTA’AH.

Ketika nabi dengan 10.000 pasukannya ingin mengepung kota Makkah secara tiba2, Haatib bin abi balta’ah mengirim surat kepada orang2 kafir Quraisy di makkah yang isinya membocorkan rencana nabi dan pasukan tsb.

Hal itu melalui wahyu diketahui oleh nabi, maka nabi langsung memerintahkan beberapa sahabat untuk mengejar seorang wanita yang membawa surat haatib bin abi balta’ah tsb, sehingga apa yang hendak dilakukan oleh haatib dapat digagalkan.

Nabi memanggil haatib, dan haatib mengakui bahwa dia berbuat hal itu.
Sayyidina umar marah, dan mengatakan, “izinkan aku menebaskan pedangku di leher *si munafiq* ini ya rasulalloh.”

Nabi langsung melarang umar dengan tegas. Jangan wahai umar, tidakkah engkau sadar bahwa haatib telah ikut serta hadir bersama kita dalam perang badar? Dan Alloh telah menyatakan kepada setiap yang hadir perang badar, lakukan apa yang kalian sukai, karena sesungguhnya aku telah mengampuni dosa2 kalian, kemudian sayyiduna umar menangis.

Haatib juga menjelaskan kepada nabi tentang alasan pengkhianatan tersebut.

Dan nabi memaafkan haatib bin abi balta’ah.

Inilah perlakuan nabi kepada pengkhianat, bahkan nabi pun tidak rela kepada umar ketika menvonisnya sebagai seorang munafiq.

*Berkata syeikh Muhammad Said Ramadhan al Buthi: saya tidak tahu, Islam yang kita bela saat ini, apakah islam yang sama dengan yang dahulu dibela oleh para sahabat?*

Menjawab Habib Abdurrahman Bin Hasan Alhabsy:

Hendaknya kita jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan. Terutama dalam permasalahan yang saat ini sedang merebak yaitu tidak akan disholatkan dll bagi jenazah yang mendukung calon gubernur tertentu, karena mereka masuk kategori orang munafik.

Ketahui bahwa yang demikian adalah kesalahan besar. Karena salah satu kewajiban muslim dengan muslim lainnya adalah mengurus dan mensholatkan jenazahnya.

Adapun permasalahan munafik atau tidak seseorang, kita tidak berhak menghukuminya, karena kita tidak pernah tau apa yang ada dalam hatinya. Kalaupun mereka benar golongan munafik, bisa jadi sebelum matinya mereka bertaubat dan menjadi husnul khotimah.

Adapun sikap kita menghadapi saudara kita seagama yang mana mereka masih tidak mau menerima perintah ALLOH dan rosul-Nya tuk memilih pemimpin muslim, yang paling baik adalah DIAM.

Habib abdurahman juga menambahkan:

Mengenai jenazah pendukung kafir yang tak disholatkan kaum muslimin, Habib Abdurhaman Bin hasan Alhabsy menjelaskan: kita jangan terburu-buru mengambil hukum untuk tidak menyolatkan jenazah yang mendukung pemimpin dengan tuduhan munafik, (lalu ada yang bertanya) yaa habib, kan ada dalil-nya dalam alquran? Menjawab Habib Abdurahman: ketika itu rosul saw diperintah langsung oleh Alloh swt untuk tidak mensolatkan ubay bin salul pada ayat yang dimaksud.

Wallohu’alam

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala aalihi washohbihi wasallim