Kajian Islam (Kalam ulama). Mar’atun Su’un : Perempuan Paling Dibenci Rasulullah

Tentang mar’atun sholihatun (perempuan sholehah) telah kita bahas pada tulisan-tulisan yang lalu. Bahasan tersebut mencakup, definisi, keistimewaan, tatakrama, kewajiban dan lain sebaginya. Silahkan baca postingan yang lalu jika ingin me-review-nya kembali. Setelah mengetahui perihal tentang perempuan sholehah secara detail, alangkah  baiknya jika kita mengetahui lawan dari mar’atun sholihatun yaitu mar’un su’un (perempuan buruk).

Perlu diketahui perempuan yang buruk adalah perempuan yang (1) menghina suamianya dengan kefakiran dan (2) memaksa suaminya untuk mencari harta yang membuat suaminya menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Ciri yang lain yaitu (3) perempuan tersebut keluar dari rumahnya, lalu dia menarik kehinaannya dan mengadu kepada suaminya. Seperti sabda Nabi SAW dalam kitab “ifshoh” dari hadist-hadist tentang pernikahan juz 1 halaman 30 ;

(Baca juga: Amanah yang Harus Dijaga Oleh Pasangan Suami Istri)

عن أنس وأبي هريرة رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : يأتي على الناس زمان يكون هلاك الرجل على يد زوجته وأبويه وولده يعيرونه بالفقر ويكلفونه مالا يطيق فيدخل التي يذهب فيها دينه فيهلك.

“Dari Anas dan Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW ; sesungguhnya Nabi bersabda : Akan datang atas manusia suatu zaman yang mana kerusakan suatu lelaki atas (ulah) tangan istrinya, kedua orang tuanya dan anaknya. Mereka menghina lelaki itu dengan kefakiran dan membebankannya (disuruh mencari) harta yang ia keberatan, sehingga lelaki tersebut keluar dari jalur agamanya. Maka rusaklah lelaki itu.”

 

عن ام سلمة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال :إني لأبغض المرأة تخرج من بيتها تجر ذيلها تشكو زوجها.

“Dari Ummu salamah RA : Sesungguhnya Nabi SAW bersabda ; Sungguh aku benci perempuan yang keluar dari rumahnya. Dia menarik kehinaannya dan mengadu kepada suaminya.”

Semoga kita dihindarkan dari ciri perempuan diatas. Ditengah perkembangan zaman yang semakin kacau memang harta diperlukan, namun bukanlah prioritas utama.  Karena urusan rizki bukan urusan kita, tapi urusan Tuhan yang Maha Pemberi rizki.

Oleh : Hamzah Alfarisi