Kajian Islam (Kalam Ulama). Siapakah lelaki beruntung dan lelaki malang ?

Tentunya di dunia ini semua bisa terjadi. Manusia hanya bisa berusaha semampunya sedangkan hasil adalah takdir dari Allah. Tapi bukan berararti manusia tidak mau berusaha, itu salah besar. Karena Allah telah memerintahkan kita untuk berusaha sehingga berusaha itu hukumnya wajib. Banyak orang yang usahanya sudah maksimal tapi tetap saja gagal, itu artinya Allah belum menakdirkan orang tersebut untuk berhasil. Adapula orang yang usahanya biasa saja namun malah orang tersebut berhasil, itu artinya Allah menakdirkan orang itu untuk berhasil. Kaidah ini hendaknya diterapkan dalam menjalani hidup ini, sehingga kita tidak akan terjermus di jurang kekecewaan akibat usaha kita yang belum membuahkan hasil. Dapat disimpulkan usaha itu wajib dan hasil itu takdir, keduanya bukanlah hubungan sebab akibat. Tetapi keduanya adalah suatu hal yang berbeda.

Usaha adalah ciptaan Allah, begitu juga dengan takdir. Keduanya sama-sama makhluk Allah sehingga usaha tidak bisa menentukan hasil. Karena makhluk tidak bisa menentukan berhasilnya makhluk. Hanya Khaliq yang bisa menentukan berhasilnya makhluk. Begitulah yang diajarkan oleh faham Ahlussunnah wal jam’ah. Pada kesempatan ini kita akan membahas siapakah lelaki yang beruntung dan lelaki yang bernasib malang. (Baca Juga: Siapakah Perempuan Terbaik ?)

Sebagian dari keberuntungan kaum adam yaitu mempunyai istri sholehah, anak-anaknya baik, saudara-saudaranya orang-orang sholeh, rizkinya berada di daerahnya yang di daerah itu terdapat keluarganya, lingkungannya baik, dan kendaraannya nyaman. Seperti diungkapkan oleh Umar bin Mun’im saliim dalam kitab “al-Adab as-Syar’iyyah” juz 3 halaman 435 :

 روي عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه ومنهم من يرفعه أنه قال من سعادة المرء أن تكون زوجته صالحة, وأولاده أبرارا, وإخوانه صالحين ورزقه في بلده الذي فيه أهله .

“Diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib RA : Sebagian dari sahabat menghubungkan kepada sumbernya  sesungguhnya dia berkata : Sebagian dari keberuntungan seseorang adalah istrinya sholehah, anak-anaknya baik, saudara-saudaranya sholeh, dan rizkinya berada di suatu daerah yang daerah itu terdapat keluarganya.”

Sedangkan dalam kitab “Asyratun an-Nisa” karya imam Nasa’i juz 1 halaman 198 :

عن سعد بن أبي وقاص رفعه من سعادة المرء المرأة الصا لحة والمسكن الصالح والمركب الهنيء

“Dari Sa’ad bin Abi Waqosh menghubungkan kepada sumbernya : Sebagian dari keberuntungan seseorang yaitu istrinya sholehah, lingkungannya baik, dan kendarannya nyaman,”

Tentunya kalau ada lelaki yang beruntung ada pula lelaki yang malang. Lelaki yang malang (tidak beruntung) yaitu istrinya buruk (tidak sholehah), lingkungannya buruk, dan kendaraannya buruk pula. Seperti dalam kitab “Asyratun an-Nisa” karya imam Nasa’i juz 1 halaman 198 :

عن سعد بن أبي وقاص رفعه من شقاوة المرء المرأة السوء والمسكن السوء والمركب السوء أخرجه أحمد.

“Dari Sa’ad bin Abi Waqosh menghubungkan kepada sumbernya : Sebagian dari kemalangan seseorang yaitu istrinya buruk, lingkungannya buruk, dan kendarannya buruk pula,” HR. Imam Ahmad.