Kajian Islam (Kalam Ulama). Ada sebuah qoul ulama yang berbunyi: “Barang siapa belajar tanpa bimbingan seorang murobbi (guru), maka gurunya adalah syetan”. Apabila kita mencermati qoul ulama diatas, maka sudah barang tentu sangat mengerikan. Syetan menggoda orang yang belajar kurang lebih dapat dikelompokkan menjadi empat kondisi. Pertama, kondisi dimana syetan tidak menggoda manusia adalah saat manusia itu berbuat jahat dan maksiat. Saat seseorang berbuat jahat dan maksiat dia tidak akan digoda oleh syetan. Karena syetan telah berhasil menjerumuskan dia ke dalam jurang maksiat.

Keadaan kedua yaitu saat manusia digoda oleh syetan dengan cara yang kasar. Yaitu pada saat seseorang tersebut mencapai tahap taubat dan ibadah. Misalnya saat seseorang mulai rajin untuk sholat malam. Seseorang yang tinggal di kampung, seringkali mengambil air wudhu di sungai. Suatu malam saat dia ingin sholat tahajjud dan harus mengambil air wudhu di sungai, di sebrang sungai tiba-tiba ia melihat sesosok makhluk yang sangat besar dan hitam. Orang yang dalam kondisi baru saja mau taubat dan rajin ibadah malah menemukan hal yang seperti itu, sudah pasti ia akan lari dan tidak jadi mengambil air wudhu. Itu adalah cara paling kasar syetan menggoda manusia, yaitu dengan menakut-nakuti. (Baca Juga: Irtibath yang Kuat Dengan Guru)

Keadaan ketiga yaitu saat seseorang mencapai syari’at dan tarekat. Saat seseorang memasuki tahap ini ia akan digoda oleh syetan dengan cara yang halus yaitu dengan dijerumuskan pada sifat sombong dan merasa hebat. Seseorang jika amalnya sudah benar, ibadahnya sudah rajin maka ia akan mudah digoda oleh syetan dengan sifat berbangga diri. Contohnya seorang ustadz, sehari sudah mengisi pengajian dimana-mana. Pulang ke rumah jam 12 malam. Dan jam 2 malam adalah waktu rutinnya untuk sholat tahajjud. Dalam kondisi seperti itu ia harus bangun. Saat alarm berbunyi, masih ngantuk rasanya dan malas untuk bangun, tapi ada bisikan agar ia segera bangun. Akhirnya dia bangun dan berwudhu. Kemudian dia sholat, saat sholat ia terkantuk-kantuk, ada  bisikan lagi “ayoo yang khusyu sholatnya! Jangan seperti ini, kamu ini ustadz harusnya bisa sungguh sungguh beribadah”. Akhirnya dia khusyu-khusyukan dirinya. Setelah khusyu ada bisikan lagi, “Naaaah gitu dong. Hebat kamu. Sudah ngisi pengajian dimana-mana, tidur cuma sebentar, tapi dini hari kamu sudah bangun lagi untuk sholat tahajjud. Sementara orang-orang di sekelilingmu yang tidur lebih awal, tidak bangun malam untuk sholat”. Akhirnya ia mengiyakan bahwa dirinya memang hebat, lebih hebat dari yang lain, karena ia seorang ustadz. Begitulah syetan menggoda manusia yang beriman.

Keadaan keempat yaitu pada tingkat hakikat dan makrifat. Saat seseorang mencapat tahap ini ia akan digoda oleh syetan dengan disucikan dan dipuja-puja. Seperti banyak fenomena pengakuan diri sebagai nabi. Kasus Lia Eden dan juga Ahmad Mosaddeq adalah contohnya. Seperti itulah syetan menggoda manusia yang telah mencapai tahap yang cukup tinggi ini. Ada kalanya manusia yang telah mendalami ilmu agama, ia akan menembus alam yang lain. menembus batas ke alam yang tidak nyata. Alam yang dimana bukan makhluk-makhluk seperti kita saja yang ditemui disana. Tapi juga makhluk-makhluk lain. Sehingga dalam meniti jalan menuju Allah itulah seseorang membutuhkan guru, butuh mursyid yang membimbingnya. Jika ia tidak dibimbing ia akan terjerumus pada pengakuan-pengakuan yang tidak masuk akal. Dan dalam memilih seorang mursyid harus hati-hati. Karena mursyid adalah yang membimbing kita, maka kita harus pastikan  bahwa mursyid kita adalah orang yang benar yang dapat membimbing kita menuju jalan yang selamat.

Wah… kalau seperti itu beresiko sekali ya? Yasudahlah tidak perlu ikut tarekat-tarekat kalau berbahaya seperti itu. Mending ikut yang biasa-biasa aja. Aman kan. Tidak perlu banyak khawatir.

Eits, jangan lupa! Surga itu banyak tingkatannya. Dan untuk tingkatan yang paling rendah saja itu seleksinya kan luar biasa. Maka mau tingkatan yang mana kita? Itu dia, kalau kita ingin tingkatan yang tinggi ya harus berani ambil langkah juga untuk bisa membeli semua kenikmatan itu. Dengan cara mengikuti thariqoh.

  • Lalu mursyid seperti apa yang harus kita cari?

Seperti pada QS Al-Baqarah: 151. Mursyid harus bisa menyampaikan pada kita 3T. Maksud 3T yaitu tilawah, tazkiyah dan taklim. Tiga T tersebut tersambung dari guru kita ke gurunya guru kita dan terus bersambung hingga ke Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sendiri mendapat 3T dari Malakul* jibril. Kemudian Rasulullah SAW menyampaikan 3T itu pada para sahabatnya. Lalu sahabat menyampaikan pada para tabi’in, tabi’in menyampaikan pada tabiut tabi’in dan terus disampaikan ke generasi setelahnya, terus ke generasi setelahnya hingga sampai ke generasi kita saat ini.  Maksud tilawah adalah seorang mursyid harus bisa membacakan ayat-ayatNya pada kita. Tazkiyah adalah penyucian sehingga seorang mursyid harus bisa menyucikan jiwa muridnya. Taklim adalah mendidik, mengajarkan kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (sunnah).

Setiap generasi ada yang berpredikat sebagai kekasih Allah, yang menerima warisan dari guru-guru sebelumya. Merekalah wali-wali Allah, pewaris para Nabi.  Orang seperti itu yang harus kita jadikan mursyid. Selama bumi ini masih ada yang menyebut nama Allah, insyaallah bumi ini tidak akan kiamat.

  • Bagaimana kalau belajarnya tidak secara langsung bertemu, misalnya lewat radio? Dan bagaimana jika memiliki lebih dari 1 murobbi atau apakah lebih baik 1 saja?

Kalau kita belajar dari media mungkin iya kita bisa mendapatkan pencerahan tentang suatu ilmu. Tapi apa hanya dengan media itu saja hati kita bisa tersucikan? Jawabannya tidak. Itulah fungsinya berguru dengan fisik secara langsung, agar hati kita jernih. Seorang murobbi harus bisa menjamin kita, menjaga kita. Lebih baik 1 saja tapi benar-benar menjaga kita.

  • Kalau murobbi yang di sekolah-sekolah itu bagaimana?

Kalau di sekolah-sekolah itu murobbi dirasah bukan murobbi ruhaniyah. Yang dimaksud disini adalah murobbi ruhaniyah. Murobbi yang bisa menuntun kita untuk lebih dekat pada Allah. Indikasi seseorang sampai kepada Allah adalah terlihat dari perilaku atau perbuatannya.

  • Maksudnya mensucikan ruh itu bagaimana?

Coba diperhatikan Al-Insan ayat 1. Artinya “bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”

Dari kalimat tersebut mana yang lebih dulu ada? Waktu ataukah manusia? Yang lebih dulu ada adalah manusia. Maka insan yang bagaimanakah yang ada pada saat itu? Pada saat itu insan yang dimaksud adalah yang sangat dekat dengan Allah, dia suci. Disebut dengan ruuhul quds. Dalam kitab Sirrul Asror-nya Syekh Abdul Qadir, dikatakan dalam kitab tersebut beliau mendapatkan ilham bahwa manusia mengalami penurunan alam. Terdapat empat alam, yaitu :

  1. Alam lahuut, alam keilahian. Dimana insan saat itu bernama ruuhul quds
  2. Alam jabaruut, alam kejadian. Di alam ini insan disebut sebagai ruuhul sulthoni, saat akan turun ke alam ini, ruuhul quds itu dibungkus, kalau tidak maka ia akan membakar alam setelahnya.
  3. Alam malakuut. Insan disini bernama ruh ruhaniyah. Saat akan turun ke alam ini, ruuhul sulthoni juga dibungkus, karena kalau tidak ia juga akan membakar alam ini.
  4. Alam mulki. Alam ini adalah alam yang kita tempati sekarang. Insan disini bernama ruh jismani. Pada alam inilah manusia akan mengalami degradasi nafsu.

Selain itu manusia juga disertai dengan hawa. Hawa adalah syahwat yang cenderung negatif. Yaitu syahwat untuk memenuhi keinginan perut, tidur, kalam (ngobrol), dan kemaluan. Semakin dewasa, manusia cenderung semakin menurutkan hawa nafsunya. Sehingga semakin dewasa ruhnya semakin tidak suci. Oleh sebab itu ia harus disucikan, kalau tidak maka ia akan terus maksiat.

  • Kita harus mendapatkan mursyid yang benar, ciri mursyid itu yang bagaimana?

Ciri mursyid yang baik adalah, :

  1. Dalam QS Yunus:62, disebutkan bahwa tidak ada rasa takut, khawatir ataupun sedih. Dia tetap tenang, tentram menghadapi berbagai peristiwa dalam kehidupannya. Sebagaimana kita tenang saat akan ujian jika kita menguasai materinya. Begitu pula orang-orang yang bersih hatinya, mereka tetap tenang menghadapi segala sesuatu dalam hidupnya karena mereka tau cara mengatasinya. Karena mereka selalu iman dan taqwa kepada Allah. Taqwa itu berasal dari kata waqo yang artinya waspada. Merasa selalu diawasi oleh Allah.
  2. Gemar beribadah. Mereka senang beribadah. Rabiatul Adawiyah mampu sholat 1000 rakaat sehari semalam.
  3. Supernatural power. Mereka memiliki karomah.
  4. Menyembunyikan karomah. Mereka memiliki karomah tapi mereka menyembunyikannya dan tidak dipamer-pamerkan.
  5. Tawhid yang murni
  6. Mewarisi akhlak Rasulullah SAW. QS At-Taubah:128, QS Al-Baqarah:151
  • Bagaimana Caranya agar dapat mursyid yang baik?

Sholat hajat, minta sama Allah agar diberikan guru yang tepat yang selamat, agar mendapat  pembimbing dari Allah. Cara cepatnya tanya saja pada yang sudah punya pembimbing. Biasanya jika mau ikut maka akan di bai’at atau di talqin. Seperti langsung tanyakan pada orang-orang di MATAN (Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyah).

Keterangan :

*malakul : maksudnya satu malaikat, yaitu malaikat jibril, jadi disebut malakul. Sedangkan malaikat merupakan kata yang bermak

Aih Rohmawati, MATAN IPB (Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah Institut Pertanian Bogor)