Oleh: Adhli Al-Qarni

Adapun untuk anak-anak jika mereka sudah mencapai usia tamyiz, walau belum dibebankan syariat, hanya saja kedua orang tua dibebankan kewajiban untuk menyuruh sang anak melakukan perintah agama, baik yang wajib maupun sunnah, juga melarang sang anak melakukan larangan agama, baik yang haram maupun makruh.

Contoh, hal yang wajib adalah salat lima waktu. Termasuk dalam hal ini kewajiban meng-qadla salat (membayar utang salat) jika tertidur atau karena sebab lainnya. Orang tua wajib mengingatkan anak yang sudah tamyiz untuk meng-qadla salat jika tertidur. Contoh hal yang sunnah seperti bersiwak (gosok gigi). Contoh hal yang haram seperti gibah, fitnah, dan berdusta. Contoh hal yang makruh seperti minum sambil berdiri.

Kewajiban ini bersifat fardlu kifayah, yakni cukup seorang saja yang melakukan. Jika diantara orang tidak ada yang memerintahkan atau melarang sang anak, maka mereka semua berdosa. Adapun jika orang tuanya tidak ada maka kewajiban ini berpindah pada susur garis keluarga ke atas, yakni paman-bibi, lalu kakek-nenek, saudara-saudari kakek-nenek, dan seterusnya ke atas. Baik dari jalur ayah maupun jalur ibu. Jika tidak ada, maka berpindah pada orang yang diberi wasiat. Adapun jika anak itu adalah budak, maka yang wajib melakukannya adalah sang tuan dari anak tersebut. Semua orang tersebut bisa melakukan sendiri atau bisa pula mengamanahkan orang lain melakukannya.

Apa itu tamyiz?

Tamyiz adalah keadaan seseorang yang sudah mampu makan, minum, dan beristinja’ sendiri. Secara pasti ini terjadi jika sang anak sampai pada usia tujuh tahun.

Bagaimana jika tamyiz terjadi sebelumnya usia tujuh tahun? Apakah tetap ada kewajiban untuk menyuruh sang anak melaksanakan perintah dan menjauhi larangan?

Nah, dalam hal ini ulama mazhab Asy-Syafi’i berbeda pendapat. Mayoritas berpendapat, tidak wajib tapi sunnah. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Majmu’ Syarh Muhadzzab.

Bagaimana pula jika sang anak belum tamyiz padahal usianya sudah melampaui tujuh tahun?

Sebuah pandangan dalam mazhab Asy-Syafi’i mengatakan bahwa tidak wajib menyuruh anak sebelum tamyiz walau usianya melampaui tujuh tahun, sebab ibadah seseorang yang tidak tamyiz hukumnya tidak sah.

Persoalan Khusus

Jika seorang anak sedang salat, kemudian dalam salatnya itu usia sang anak genap usia mu’tabarah (yakni 15 tahun) atau ia merasa mani telah mencapai saluran ureter namun tidak sampai keluar, maka sang anak wajib menyempurnakan sisa salatnya. Tidak wajib atasnya mengulang bagian salat sebelum ia baligh. Hal serupa berlaku juga pada puasa. Berbeda dengan haji, ia wajib mengulangnya. Sebab kewajiban haji hanya sekali seumur hidup, maka disyaratkan untuk dilakukan sesempurna mungkin. Termasuk sempurna dalam umur. Demikian persoalan khusu ini.

Menurut Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, wajib bagi orang tua atau wali mengajarkan sebelas hal.
1. Rasulullah SAW adalah orang Arab.
2. Beliau suku Quraisy.
3. Kulit beliau putih kemerah-merahan.
4. Nama beliau adalah Muhammad.
5. Ayahanda beliau bernama Abdullah.
6. Ibunda beliau bernama Aminah.
7. Beliau lahir di Mekah.
8. Beliau diangkat menjadi Rasul sewaktu di Mekah.
9. Beliau hijrah ke Madinah.
10. Beliau wafat dan dimakamkan di Madinah.
11. Beliau diutus sebagai Nabi untuk seluruh makhluk.

Hanya saja menurut Imam Ar-Ramli hal ini dianjurkan saja, tidak wajib.