فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)

Kalimatnya pakai kata “مَعَ”, yang berarti bersama… bukan “بَعْدَ”, yang berarti sesudah.

Jadi, antara kesulitan dan kemudahan tergantung kita yang memposisikan. Kita mau ambil yang sulit atau mau ambil yang mudah, … semua tergantung kita.

Ambil yang sulit, jadinya sengsara atau kesengsaraan. Dan ambil yang mudah, jadinya bahagia atau kebahagiaan.
———

“Kalau kebahagiaan bisa dibeli, pasti orang-orang kaya akan membeli kebahagiaan itu, dan orang miskin akan sulit mendapatkan kebahagiaan karena sudah diborong oleh yang kaya.”

“Kalau kebahagiaan itu ada di suatu tempat, pasti belahan lain di bumi ini akan kosong karena semua orang akan kesana berkumpul dimana kebahagiaan itu berada .”

Syukurlah… kebahagiaan itu berada di dalam hati dan pikiran setiap manusia.

Jadi kita tidak perlu membeli atau pergi kemana-mana mencari kebahagiaan itu.

“Yang kita perlukan hanyalah hati yang BERSIH dan IKHLAS serta PIKIRAN YANG JERNIH …, maka kita bisa mendapatkan rasa bahagia itu kapanpun, dimanapun dan dengan kondisi apapun.”

Kenapa orang *IKHLAS* mampu menemukan KEBAHAGIAAN?
Karena orang yang ikhlas hanya mencari RIDHO ALLAH.

Mereka tidak butuh pujian manusia dan tidak takut celaan orang banyak.

APAPUN yang dilakukannya semata-mata hanya mencari ridho Allah. Kalau Allah suka dengan yang diperbuatnya, itu sudah cukup baginya.

Manusia tidak suka tidak jadi masalah baginya.
Pujian dan celaan manusia tidak pernah diperdulikannya.

Baginya… Allah sudah cukup.
Inilah yang membuatnya bahagia.

Kebahagiaan hanya dimiliki oleh “Orang-orang yang dapat *BERSYUKUR*.”

“JIKA kita TIDAK MEMILIKI APA YANG kita SUKAI, MAKA SUKAILAH APA YANG kita MILIKI SAAT INI”.

Karena apa yang kita miliki saat ini adalah KARUNIA ALLAH.

Semua karunia Allah kalau kita syukuri akan membahagiakan kita. Karena kebahagiaan itu hanya Allah yang mampu memasukkannya ke dalam hati kita. Bersyukur adalah suatu kemampuan yang bisa dipelajari oleh siapapun. Bersyukur bukanlah hasil dari suatu keadaan tertentu, melainkan hasil dari sebuah gaya hidup yang dilakukan secara berulang-ulang hingga berubah menjadi suatu kebiasaan.

“JANGANLAH MENGELUH KARENA TANGAN YANG BELUM DAPAT MENGGAPAI BINTANG, TAPI BERSYUKURLAH KARENA KAKI YANG MASIH DAPAT MENGINJAK BUMI”.