Kajian Al-Hikam (Kalam Ulama). Kajian al-Hikam 14: Antara Pandangan Gelap dan Cahaya

“Semua benda material (di alam semesta) dalam kegelapan, adapun yang meneranginya yaitu (memandang wujud tersebut) sebagai kenyataan al-Haqq, maka barangsiapa melihat alam semesta tapi tidak melihat Allah di dalamnya atau didekatnya atau sebelumnya atau sesudahnya maka sesungguhnya ia telah disilaukan oleh wujud cahaya-cahaya dan terhijab oleh cahaya matahari ma’rifat sebab tebalnya hijab benda-benda di alam semesta ini.”

الكَونُ كلُّهُ ظُلمة ٌ واِنّمَا اَناَرَهُ ظُهُورُالحَقِّ فيه فمن رأى الكَوْنَ ولم يَشْهَدْهُ فيهِ اوعِندهُ اوقَبْله اوبَعْدهُ فقد اَعوزَهُ وجودُ الانوَرِ وحُجِبتْ عَنه شموس المعارفِ بِسُحُبِ الاثارِ

Maqalah diatas menjelaskan bahwa alam semesta sebagai obyek dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, sisi materialisme yaitu memandang wujud alam semesta sbg wujud material belaka. Ini yg disebut sbg pandangan kegelapan krn tidak mampu melihat sisi ketuhanannya. (Baca juga: Kajian al-Hikam (13) : Belenggu Menuju Allah)

Kedua, sisi ketuhanan yaitu memandang wujud alam semesta sebagai madhar dan tajalli al-Haqq (kenyataan al-Haqq). Wujud alam semesta sebagai makhluk (ciptaan Allah) berarti membuktikan adanya al-khaliq (pencipta). Dengan kata lain, bahwa alam semesta yang nyata ini dpt dipandang sebagai tajalli wujud al-Haqq. Jika mampu memandang yang demikian berarti telah mendapatkan anugerah cahaya kema’rifahan karena tersingkapnya tirai dalam memandang wujud alam.

Berbeda dengan orang yang terhijab pandangannya dalam melihat wujud alam semesta yang nampak hanya benda material belaka. Kenapa demikian ? Karena pandangannya terhijabi oleh pandangan materialisme. Ibarat seekor semut menempel di gelas menanyakan dimana gelas. Pandangan yg demikian adalah pandangan kegelapan karena begitu tebal hijabnya. Semoga Allah senantiasa mencahayai hati kita dengan cahaya kema’rifahan dan cahaya syuhud musyahadah.

oleh : Dr KH Ali M Abdillah

al-Rabbani, 25/4/17