[FOTO]: Makam Cyrus the Great (Koresh Agung) di kota Pasargadae, Iran. Tidak adanya lambang, patung, atau gambaran berhala dan dewa-dewa pada makamnya yang polos dan sederhana (untuk ukuran seorang raja besar dalam sejarah), menunjukkan bahwa Cyrus the Great adalah seorang penganut monotheisme (percaya pada Tuhan yang Esa).

Bukan tidak mungkin, nama suku “Quroisy” diambil dari nama raja Persia, Koresh yang memang “the Great” atau “Agung” dalam arti sebenarnya. Bukankah sayyidina Fihr bin Malik (Kakek Moyang baginda Nabi Muhammad SAW) bergelar “Quroisy” ? wAllohu a’lam 🙂

========================================

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Selama ribuan tahun, masyarakat Mekkah memahami agama warisan Nabi Ibrohim dan Nabi Ismail ‘alaihimassalam yang telah tercampur aduk dengan paganisme.

Sebagian tata cara ibadah peninggalan Nabi Ismail masih mereka lakukan, semacam thowaf dan haji, namun pada praktiknya telah melenceng dari yang semestinya.

Keyakinan mereka dalam hal ketuhanan juga telah bercampur aduk dengan paham paganisme. Patung-patung yang didesain dari batu, kayu, adonan tepung roti, dan bahan lainnya mereka gunakan sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Alloh. Mereka juga menempatkan ratusan patung di dalam ka’bah yang diyakini semakin mendekatkan mereka kepada Alloh dalam ritual ibadah.

Ketika baginda Nabi Muhammad SAW menyatakan dirinya sebagai Rosul sebagaimana Nabi Musa dan Nabi Isa yang diutus oleh Alloh untuk menyeru kepada ajaran monotheisme (Tuhan yang satu) peninggalan Nabi Ibrohim, maka para pembesar Mekkah mengirim utusan ke Yatsrib (Madinah) untuk menemui rabbi / rahib Yahudi guna menanyakan perihal kerosulan Muhammad SAW.

Para rabbi/rahib Yahudi Madinah memberitahu utusan Mekkah tersebut untuk menanyakan tiga hal yang hanya bisa dijawab dengan benar oleh seorang Rosul Alloh. Tiga hal tersebut telah dibahas pada bagian #2

Alloh-lah yan kemudian membuka tabir pertanyaan mereka. Nama Dzulqornain memiliki kesan tersendiri di hati kaum Yahudi. Nama ini tercantum dalam kitab mereka, dialah tokoh yang berjasa dalam pembebasan kaum Bani Israel dari perbudakan Babylonia (Irak). Tokoh ini juga yang membangun kembali kuil Sulaiman (Solomon temple) pasca dihancurkan oleh Babylonia pada tahun 587 SM.

Dalam bagian #2 yang lalu (Baca Juga : Kajian Akhir Zaman #2 : Dzulqornain dalam mimpi Nabi Danial), disebutkan bahwa Dzulqornain adalah seorang penguasa yang beriman pada Alloh, bijaksana, tidak memerangi negara lain kecuali diserang terlebih dahulu, menerapkan hukum dengan adil, menundukkan wilayah lain tanpa melakukan genosida atau pembantaian massal, tidak menerima pembayaran upeti atau upah atas kebijakan yang dilakukan, membebaskan kaum lain yang tertindas oleh penguasa dzholim.

Apakah benar semua sifat yang luar biasa tersebut kesemuanya ada pada diri raja Cyrus (Cyrus the great)?

Berbagai sifat yang luar biasa tersebut kesemuanya ada pada diri Cyrus the Great, sehingga menjadikannya sebagai satu-satunya kandidat yang pas untuk diidentifikasi sebagai Dzulqornain.

Bahkan ada pendapat yang menyebutkan bahwa Koresh (Cyrus) adalah seorang raja Muslim yang mengikuti agama Tauhid yang dibawa oleh seorang nabi Persia Zaratushtra yang sekarang agamanya menyimpang disebut dengan Zoroaster.

Cyrus the Great penganut yang taat dari agama Zarathustra. Di sekolah-sekolah diajarkan bahwa agama Zarathustra menyembah Dua Tuhan, yaitu Tuhan Terang “Ahura Mazda” (ormuzd) dan Tuhan Gelap, “Angra Manyu” (Ahriman).

Namun dewasa ini, ada aliran agama Zarathustra di Amerika yang bersemboyan: “Kembali ke Gatha”, mereka ini berkeyakinan Zarathustra tidak mengajarkan dua tuhan, melainkan Zarathustra mengajarkan Satu Tuhan, yaitu Ahura Mazda yang menciptakan Angra Manyu, seperti Alloh menciptakan iblis (dalam agama Yahudi, Nashrani dan Islam).

Ini mengisyaratkan bahwa Cyrus the Great bukanlah penyembah berhala atau dewa-dewa, melainkan beragama Tauhid, sehingga itulah sebabnya maka pada tahun (538 SM) Bani Israil semuanya dikembalikan ke Yerusalem oleh Cyrus the Great. wAllohu a’lam.

Lalu, benarkah Raja Cyrus pernah melakukan ekspedisi ke ujung barat (tempat terbenam matahari) dan ujung timur sebagaimana Dzulqornain yang diceritakan dalam Quran suroh al-Kahfi (ayat 85-94)?

Tidak salah lagi, dalam sejarah diketahui memang raja Cyrus menyerbu ke barat tepatnya kerajaan Lydia di Turki paling barat (terjadi pada tahun 547-546 SM). –(Ekspedisi Pertama)

Kemudian disebutkan pula menyerbu ke timur yaitu tempat matahari terbit. Jika dilihat dari lokasi ekspedisi awal, arah timur (meski sedikit ke selatan) adalah daerah Babylonia (Irak) tempat kaum Bani Israel berada dalam pengasingan dan perbudakan oleh Raja Nebukadnezar. –(Ekspedisi Kedua)

Identifikasi Babylonia sebagai lokasi ekspedisi kedua dikuatkan lagi dengan catatan sejarah penaklukan kota ini oleh Cyrus. Kejadiannya berlangsung sekitar enam tahun pasca penaklukan Lydia di Asia Minor (Turki), tepatnya pada tahun 540 SM.

Ada perbedaan pendapat mengenai lokasi yang dituju Dzulqornain pada ekspedisi kedua ini, ada yang berpendapat di wilayah Mongol, Mesir, Laut Caspia, dan sebagainya.

Yang berpendapat di wilayah Mesir, asumsinya bahwa disana terdapat kuil matahari terbit sebagai tempat ibadah kaum Mesir kuno. Asumsi ini diperkuat dengan meyakini bahwa Dzulqornain adalah Alexander the Great penguasa Macedonia (Dalam bahasa Arab disebut Iskandar al-Makduni) yang meluaskan wilayah penaklukannya hingga ke Mesir.

Namun untuk menentukan “link” atau hubungan antara Alexander dengan kaum Bani Israel akan berujung pada sebuah kejanggalan. Alexander bukanlah pahlawan bagi kaum Bani Israel, dan namanya tidak seharum Cyrus meski keduanya sama-sama memiliki gelar “the great”.

Lalu disebutkan ekspedisi berikutnya (Ekspedisi Ketiga) ke wilayah diantara gunung-gunung dimana terdapat bangsa pengacau Yakjuj dan Makjuj. Dalam sejarah pun diketahui bahwa raja Cyrus memang menyerbu wilayah Armenia di kaki pegunungan Kaukasus pada 537 SM (setelah penaklukan Babylonia pada 540 SM). Kemudian diketahui bahwa ia membangun tembok dari campuran besi dan tembaga yang diperkirakan berada di wilayah Georgia sekarang.

Setelah menemukan perkiraan lokasi pemukiman penduduk yang dituju Dzulqornain dalam ekspedisi ketiga. Penduduk tersebut meminta tolong pada Dzulqornain agar dibuatkan tembok/dinding (sadd) yang memisahkan mereka dengan bangsa Yakjuj Makjuj yang mendiami sebelah utara pegunungan sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut:

(al-Kahfi:92) Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi).

(al-Kahfi:93) Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.

(al-Kahfi:93) Mereka berkata: “Hai Dzulqornain, sesungguhnya Yakjuj dan Makjuj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”

Lalu, benarkah Dzulqornain membangun tembok pembatas tersebut di wilayah Georgia? Benarkah identifikasi ini?

Pembahasan selanjutnya, insyaAlloh akan memberi titik terang bahwa memang disitulah satu-satunya lokasi yang bisa memenuhi kriteria sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas… (bersambung)

wAllohu a’lam bishshowaab.

====================================

Disarikan oleh Ahmad Ulul Azmi dari berbagai sumber

[Jakarta Timur, 10 Februari 2016 | 22:51 UTC+7]