Selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian namun banyak orang tak menyadarinya. Begitupula dibalik kesibukan istri melakukan pekerjan rumah yang serba ribet. Harus bangun pagi menyiapkan sarapan bagi keluarganya. Apalagi kalau bulan Ramadhan harus menyiapkan makanan untuk sahur. Ada hikmah apakah dibalik kesibukan itu. Mari kita simak cerita berikut yang diceriatakan dalam kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini  karya Imam Nawai al-Bantani.

Tersebut dalam riwayat dari Abu Hurairah Ra, diceritakan, suatu hari Rasulullah SAW menjenguk putrinya, Fathimah. Setelah sampai di rumahnya, Rasulullah melihat putrinya sedang menggiling tepung sambil menangis. (Baca Juga : Pesan Gusdur dalam Mendidik Anak)

Rasulullah bertanya: ”Kenapa menangis, Fathimah? Mudah mudahan Allah tidak membuat matamu menangis lagi”. Fathimah menjawab: ”Abi, aku menangis hanya karena batu penggiling ini, dan lagi aku hanya menangisi kesibukanku di rumah yang datang silih berganti”. Rasulullah kemudian mengambil tempat duduk disisinya. Fathimah berkata: ”Abim, demi kemulyaanmu, mintakanlah kepada Alli (suami Fathimah) supaya membelikan seorang budak untuk membantu pekerjaan-pekerjaanku untuk membuat tepung dan menyelesaikan pekerjaan rumah”.

Manakala Rasulullah SAW selesai mendengar perkataan putrinya, beliau bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tempat penggilingan. Beliau memungut segenggam biji-bijian gandum dimasukkan kepenggilingan. Rasulullah membaca “BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIIMI” Maka berputarlah alat penggilingan itu karena izin Allah. Beliau terus memasukkan biji-bijian itu sementara alat penggiling itu terus berputar dengan sendirinya, seraya memuji Allah dengan bahasa yang tidak di pahami manusia. Hal itu terus berajalan hingga biji-bijian itu habis.

Rasululah SAW bersabda kepada alat penggilingan itu: ”Berhentilah dengan ijin Allah”. Seketika alat itu berhenti. Ia berkata seraya mengutip ayat Al Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

”Hai orang orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargam dari api neraka, Yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras yang tidak pernah mendurhakai Allah terhadap yang diperintahkanNya, dan mereka selalu mengerjakan segala apa yang diperintah”. (Qs At Tahrim 6)

Merasa takut jika menjadi batu kelak akan masuk neraka, demikian tiba tiba batu itu berbicara dengan ijin Allah. Ia berbicara menggunakan bahasa Arab yang fasih. Selanjutnya batu itu Berkata: ”Wahai Rasulullah, demi dzat yang mengutusmu dengan hak menjadi Nabi dan rasul, seandainya engkau perintahkan aku untuk menggiling biji-bijian yang ada diseluruh jagat Timur dan Barat, niscayaakan kugiling seluruhnya’. Dan aku mendengar pula bahwa Nabi SAW bersabda: ”Hai batu, bergembiralah kamu sesungguhnya kamu termasuk batu yang kelak digunakan untuk membangun gedung Fathimah disorga”. Seketika itu batu penggiling itu sangat bahagia dan berhenti.

Nabi SAW bersabda kepada putrinya, Fathimah : ”Kalau Allah berkehendak, hai Fathimah, niscaya batu penggiling itu akan bergerak dengan sendirinya untukmu. Tetapi Allah berkehendak mencatat kebaikan-kebaikan untuk dirimu dan menghapus keburukan-keburukanmu serta mengangkat derajatmu.

Subhanallah, dari hikayat dan hadist diatas dapat kita ambil hikmah bahwa istri yang melakukan  pekerjaan rumah maka Allah akan menghapus keburukannya dan mengangkat deratnya.

Oleh : Ustadz Hamzah Alfarisi