Jika ada orang meminta bantuan, Gus Dur tak pernah menolak sepanjang ia memilikinya. Ia ingin selalu memberi.

Jika tak ada lagi yang bisa diberikan Gus Dur, karena memang benar-benar sedang tak punya, ia akan menyampaikan kata-kata yang menggembirakan hati dan memberinya ketenangan. Gus Dur, selalu tak ingin membuat orang yang memintanya kecewa atau pulang ke rumahnya dengan wajah murung, tangan yang kosong dan hati yang berduka. Ia membayangkan jika orang yang mengharap pertolongannya itu pulang lalu menemui anak-anak dan isterinya yang tengah menantinya dalam keadaan menangis. Hati Gus Dur amat peka dan pilu mendengar orang lain yang sering susah, yang miskin dan yang menderita.

Ya, dalam keadaan tak bisa memberikan uang atau apa yang dibutuhkan orang itu, Gus Dur akan berpesan optimisme kepada mereka seperti nasehat Ibnu Athaillah al-Sakandari ini :

لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدُ الْعَطَاءِ مَعَ الْاِلْحَاحِ فِى الدُّعَاءِ مُوْجِبًا لِيَأْسِكَ فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْاِجَابَةَ فِيْمَا يَخْتَارُهُ لَكَ لَا فِيْمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ وَفِى اْلوَقْتِ الَّذِى يُرِيْدُ لَا فِى اْلوَقْتِ الَّذِى تُرِيْدُ
“Seyogyanya, tertundanya pemberian Allah sesudah engkau mengulang-ulang permintaan kepada-Nya, tidak membuatmu patah hati atau putus asa. Dia menjamin pemenuhan permintaanmu sesuai dengan apa yang Dia pilih bukan yang kamu pilih, dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada saat yang engkau kehendaki”.

 

Cirebon, 17/12/16
Oleh : KH. Husein Muhammad