Serba Serbi Islam. kalamulama.com DAMAIKAH AGAMA KITA?

Seseorang mengatakan: “Agama saya adalah agama yang damai”. Beberapa menit kemudian dia kembali berkata: “Anda menghina agama saya? Saya penggal anda!”

Baca Juga Sumber Kehancuran Bangsa dan Kunci Perdamainnya

Dari titik ini, dalam ilmu mantiq disebut tanaqqudlat atau naqidl. Posisi dimana premis pertama bertentangan dengan premis kedua. Maka secara logika, harus ada salah satu dari kedua premis itu yang benar dan yang lainnya salah. Akibatnya, salah satu dari kedua premis tersebut harus menghapus yang lainnya.

Dalam ushul fiqh, jika ada yang nasikh (menghapus) dan mansukh (terhapus), maka yang nasikh harus datang belakangan dibanding mansukh. Jika tidak, maka tidak akan logis. Mana ada yang sesuatu yang terhapus datang setelah sesuatu yang menghapus? (Aku harap anda paham).

Premis apa yang terhapus? Jawabannya: Premis “Agama saya adalah agama yang damai”, sebab premis inilah yang datang duluan.

Premis apa yang menghapus? Jawabnya: Premis “Anda menghina agama saya? Saya penggal anda!”, sebab premis inilah yang datang belakangan.

Apa natijahnya? (sama seperti kesimpulan atau hasil). Anda berhasil menghapus premis: Agama saya adalah agama yang damai.

So, jangan melakukan hal yang sia-sia. Jangan hanya koar-koar bahwa agama anda adalah agama yang damai, tapi beberapa saat kemudian anda malah membatalkan pernyataan anda sendiri. Itu seperti orang yang membangun rumah, kemudian dia sendiri yang membakarnya. Tidak ada orang yang berbuat seperti itu kecuali orang yang gila.

Saya jadi teringat kisah Ji’ranah. Ya, Ji’ranah. Nama yang sekarang diabadikan menjadi nama sebuah kampung di Madinah. Tempat kaum muslimin, khususnya yang berasal dari Indonesia, mengambil miqat saat akan melaksanakan haji. Saya lupa (atau lebih tepatnya saya tidak tahu) di kitab mana cerita ini ditulis. Hanya saja, saya mendengar kisah ini dari nenek, Hajjah Mauriah (semoga Allah panjangkan usia beliau dalam sehat dan ibadah), dulu di Makassar. Beliau menceritakan sewaktu saya masih kecil saat akan tidur. Begini kisahnya.

Tersebutlah seorang wanita yang bernama Ji’ranah yang tinggal di pinggir kota Madinah. Ia hidup bahagia dengan suami dan anak-anaknya. Namun akibat suatu kejadian (sengaja tidak saya ceritakan agar tidak terlalu panjang), suami dan anak-anaknya wafat. Tinggallah ia seorang diri.

Singkat cerita, ia kesepian dan hampir gila. Oleh orang yang bijaksana, Ji’ranah disarankan agar melalukan kesibukan. Satu-satunya keahliannya adalah memintal benang. Jadilah kerjaan Ji’ranah memintal benang sepanjang hari.

Namun, tatkala malam tiba dan semua benang sudah terpintal dengan rapi ia pun kembali sedih. Untuk mengatasi hal itu, ia kembali membongkar hasil pintalannya. Hal itu ia lakukan agar besok pagi ia kembali ada kerjaan dan terhindar dari kesedihan.

Tiap hari ia melakukan hal yang sama. Memintal dipagi hingga sore hari, dan sibuk membongkar pintalan dimalam hari. Demikian yang dilakukan oleh Ji’ranah hingga wafatnya.

Diujung kisah, nenek biasanya menyitir surat An-Nahl ayat 92:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا.

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.”

Demikian tulisan saya kali ini. Semoga bisa dicerna dan dapat membawa manfaat.

Baca Juga Ketika Agama Kehilangan Tuhan

Bogor, Rabiul Akhir 1439
Ustadz @adhlialqarni