Oleh: KH. Ahmad Ishomuddin

Banyak orang yang baru belajar agama Islam menyangka bahwa dalil-dalil fiqh itu hanyalah al-Qur’an dan al-Sunnah (hadits) saja. Pernyataan demikian itu biasanya muncul dari orang yang baru belajar agama dan terobsesi dengan slogan “kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadits.”

Slogan tersebut mungkin benar bagi ahlinya (para mujtahid), karena mereka telah memenuhi berbagai syarat kepribadian dan keilmuan untuk menafsirkannya dengan benar. Namun bagi yang bukan ahlinya (kaum awam) diharamkan karena bisa berakibat fatal, yakni sesat dan menyesatkan mereka.

Memerintahkan semua orang awam untuk langsung mengikuti slogan “kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadits” itu ibarat membebaskan semua pasien di semua rumah sakit untuk mengambil sendiri obatnya masing-masing di gudang obat tanpa resep dari dokter dan tanpa petunjuk dari apoteker. Bila yang demikian itu berlangsung, maka bisa dibayangkan akibatnya, bahwa ada di antara mereka yang keracunan obat karena over dosis, keliru mengambil obat yang sesuai bagi penyakitnya, dan akibat-akibat negatif lainnya.

Oleh sebab itu, banyak ulama mengecam orang-orang awam yang mengklaim mampu berijtihad dan merasa mampu mengembalikan persoalan hukum yang dihadapi dengan langsung merujuk langsung dan mencari jawabannya dalam al-Qur’an dan al-Sunnah tanpa memedulikan pendapat para imam madzhab. Al-Syaikh Sulaiman al-Kurdi (wafat: 1332 H.) dalam Tanwir al-Qulub halaman 75 menulis:

ومن لم يقلد واحدا منهم وقال أنا أعمل بالكتاب والسنة مدعيا فهم الأحكام فلا يسلم له بل هو مخطىء ضال مضل سيما في هذا الزمان الذي عم فيه الفسق وكثرت فيه الدعوى الباطلة لأنه استظهر على أءمة الدين وهو دونهم في العلم والعدالة والإطلاع

“Barangsiapa yang tidak mau bertaklid (mengikuti) kepada salah satu dari mereka (para imam madzhab) dan ia berkata, “Saya mengamalkan al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Sunnah”, sambil mengklaim dapat memahami hukum-hukum (secara langsung) dari keduanya, maka pengakuannya itu tidak bisa diterima. Sebaliknya, ia adalah orang yang bersalah, sesat lagi menyesatkan. Lebih-lebih lagi pada zaman sekarang ini yang di dalamnya banyak pengakuan yang batil, dan karena ia merasa lebih hebat dari para imam ahli agama, sedangkan ia berada jauh di bawah mereka dalam ilmu agama, keadilan, dan penelaahan.”

Ada konsensus ulama (al-ijma’), bahwa orang awam, yakni orang yang tidak mampu untuk berijtihad, wajib mengikuti (taklid) dibidang fiqh. Tentang alasan-alasan mengapanya dapat dirujuk penjelasannya hampir di setiap kitab Ilmu Ushul al-Fiqh.

Seorang pakar hadits asal India, al-Syaikh Waliyullah al-Dahlawi dalam ‘Iqd al-Jid fi Ahkam al-Ijtihad wa al-Taqlid, halaman 31 menyatakan,
اعلم أن في الأخذ بهذه المذاهب الأربعة مصلحة عظيمة وفي الإعراض عنها كلها مفسدة كبيرة

“Ketahuilah! Bahwa menganut (salah satu dari) madzhab yang empat adalah maslahat yang agung, sedangkan berpaling darinya, semuanya adalah mafsadah (kerusakan) yang besar.”

Semua pendapat dalam madzhab fiqh yang empat itu tidak ada yang keluar dan bertentangan dengan dalil, baik yang disepakati maupun yang tidak. Berikut ini adalah dalil-dalil yang digunakan dalam memeroleh kesimpulan fiqh dari empat madzhab fiqh.

1. AL-MADZHAB AL-HANAFI
Ada 7 (tujuh) dalil yang digunakan dalam madzhab ini, yaitu:
Al-Qur’an al-Karim
Al-Sunnah al-Nabawiyyah
Aqwal al-Shahabah
Al-Ijma’
Al-Qiyas
Al-Istihsan, dan
Al-‘Urf

2. AL-MADZHAB AL-MALIKI
Ada 11 (sebelas) dalil yang digunakan dalam madzhab ini:
Al-Qur’an al-Karim
Al-Sunnah al-Nabawiyyah
Al-Ijma’
Ijma’ Ahl al-Madinah
Al-Qiyas
Qaul al-Shahabiy
Al-Mashlahah al-Mursalah
Al-‘Urf wa al-‘Adat
Al-Istishhab
Al-Istihsan, dan
Sadd al-Dzarai’.

3. AL-MADZHAB AL-SYAFI’I
Dalil-dalil (ushul) al-madzhab al-Syafi’i ada 4 (empat), yaitu:
Al-Qur’an al-Karim
Al-Sunnah al-Nabawiyyah
Al-ijma’, dan
Al-Qiyas.

4. AL-MADZHAB AL-HANBALI
Dalam madzhab ini ada 8 (delapan) dalil fiqh sebagai berikut:
Al-Qur’an al-Karim
Al-Sunnah al-Nabawiyyah
Fatawa al-Shahabah
Al-Ijma’
Al-Qiyas
Al-Istishhab
Al-Mashalih al-Mursalah, dan
Sadd al-Dzarai’.

Demikianlah, cukup jelas bahwa dalil dalam merumuskan fiqh dalam ajaran Islam itu bukan hanya terbatas pada al-Qur’an dan al-Sunnah saja.

Barangsiapa menuntut ditunjukkannya dalil berupa keduanya saja atas setiap kasus hukum apa yang dilakukan mukallaf, maka sungguh orang tersebut tidak memahami ilmu agama dengan sebenar-benarnya dan karenanya ia tidak perlu diikuti oleh umat Islam.